Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer di SMK Negeri 1 Sukoharjo Vivi Zahrotun Khasanah1. Trisno Martono2 Universitas Sebelas Maret Surakarta. Indonesia Email: vivizahrotun@student. Abstrak Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis proyek sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila melalui konsep merdeka belajar. Hal tersebut menjadi tantangan bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik melalui proyek yang memberikan pengalaman belajar bermakna. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer di SMK Negeri 1 Sukoharjo dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, metode deskriptif, jenis studi kasus. Pengumpulan data melalui studi dokumen, wawancara, dan Teknik analisis data penelitian menggunakan teknik analisis interaktif Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dapat merencanakan pembelajaran dengan baik sesuai tahapan perencanaan pembelajaran mulai dari analisis capaian, asesmen diagnostik, penyusunan modul ajar, penyesuaian capaian, pelaksanaan asesmen, dan evaluasi, namun guru perlu melaksanakan asesmen diagnostik sebagai tahap yang berdiri sendiri, bukan termasuk dalam modul ajar, serta melengkapi komponen yang belum ada dalam modul ajar, sementara pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan modul ajar yang dibuat oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek, metode diskusi, presentasi, dan praktik dengan berbantu media PPT, gambar, dan video pembelajaran yang meningkatkan keaktifan belajar dan kreativitas peserta didik. Guru dan sekolah harus bekerja sama dalam mengembangkan bahan ajar untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer, sehingga peserta didik memiliki pedoman belajar yang Keywords: Implementasi Kurikulum Merdeka. Perencanaan Bisnis. Event Organizer PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka berawal dari pengembangan kurikulum darurat yang diterapkan saat pandemi Covid-19 dalam rangka melakukan pemulihan pembelajaran untuk menghindari ketertinggalan peserta didik (Cholilah. Tatuwo. Rosdiana, & Fatirul, 2023, hlm. Kurikulum Merdeka pada pada dasarnya bukanlah kurikulum yang benar Ae benar baru, melainkan merupakan pengembangan dan pelengkap dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang menekankan pada filosofi merdeka yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi sekolah, guru, serta peserta didik dalam mengembangkan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran sehingga dapat mengembangkan potensi, minat, serta bakat yang ada pada diri peserta didik secara optimal (Lestari. Wahyuni. Lasmawan. Suastra. Dewi, & Astuti, 2023, . Kurikulum Merdeka merupakan program yang memiliki ciri khas teori belajar konstruktivisme yang berkaitan erat dengan metode pembelajaran penemuan . iscovery learnin. dan belajar bermakna . eaningful learnin. , sehingga model pembelajaran yang Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index digunakan adalah model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama, dan berpikir kreatif (NafiAoah. Faruq, & Mutmainah, 2023, hlm. Pembelajaran seperti ini memberikan kesempatan peserta didik untuk membangun pemahaman sendiri, menciptakan karya, serta menampilkan hasilnya di depan umum. Dengan demikian, guru harus menguasai cara penyampaian materi yang menyenangkan dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran melalui teknologi yang relevan zaman sekarang. Penerapan Kurikulum Merdeka membutuhkan berbagai persiapan dan harus memenuhi kriteria aspek tertentu. Salah satu sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka adalah SMK Negeri 1 Sukoharjo untuk seluruh tingkatan. Penerapan Kurikulum Merdeka juga didukung dengan pengembangan mata pelajaran pilihan dalam rangka melaksanakan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dan potensi peserta didik, seperti yang dilaksanakan oleh Program Keahlian Pemasaran SMK Negeri 1 Sukoharjo. Pada Konsentrasi Keahlian Bisnis Ritel, peserta didik dilatih untuk menguasai keterampilan yang berkaitan dengan bisnis ritel, sehingga mereka dapat bekerja di bidang ritel setelah lulus nantinya. Namun. SMK Negeri 1 Sukoharjo berupaya mengembangkan mata pelajaran baru yang diharapkan dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan peserta didik melalui Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer. Secara bahasa. Perencanaan Bisnis Event Organizer berasal dari kata AueventAy yang artinya suatu acara atau kegiatan, dan AuorganizerAy yang berati pengelola atau pengorganisasi. Event Organizer adalah upaya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi acara yang merupakan bagian dari penerapan manajemen yang merencanakan kegiatan untuk mengumpulkan orang Ae orang di suatu tempat pada acara tertentu. Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer pada dasarnya merupakan pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar mengelola suatu kegiatan atau event. Pembelajaran ini tentunya dilaksanakan dalam bentuk proyek yang mendorong peserta didik menumbuhkan ide kreatif dan memacu keterampilan berpikir kritis. Pada pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer, peserta didik dilatih untuk memiliki keberanian dalam memulai dan mencoba usaha baru. Banyak di antara peserta didik yang memiliki ide, konsep, dan modal tetapi belum memiliki keberanian untuk memulai, sehingga ide yang dimiliki tidak direalisasikan (Dewi, 2023, hlm. Perencanaan Bisnis Event Organizer menjadi ciri khas SMK Negeri 1 Sukoharjo karena belum terdapat di sekolah lain, terutama di Kabupaten Sukoharjo, dan belum banyak penelitian yang membahas terkait pembelajaran event organizer. Mata pelajaran tersebut merupakan penguatan agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemandirian belajar seperti harapan Kurikulum Merdeka, sehingga setelah lulus nantinya tidak hanya menjadi karyawan atau pegawai, tetapi juga dapat menciptakan peluang usaha event organizer. Hal ini menjadi penting karena relevan dengan tujuan sekolah dan tujuan Kurikulum Merdeka, dan belum terdapat penelitian terkait, sehingga peneliti ingin melakukan penelitian guna mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer di SMK Negeri 1 Sukoharjo. Ketika Kurikulum Merdeka diterapkan, tentunya terdapat hambatan dan tantangan yang dihadapi baik guru maupun peserta didik. Hasil observasi dan wawancara pra penelitian menunjukkan bahwa guru Perencanaan Bisnis Event Organizer sudah menerapkan Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index pembelajaran berbasis proyek . roject based learnin. , sehingga peserta didik belajar dengan melaksanakan proyek yang telah disepakati dengan hasil akhir berorientasi pada produk. Salah satu hal yang menjadi hambatan pembelajaran adalah kurangnya sumber belajar yang memadai bagi peserta didik. Sumber belajar utama yang digunakan peserta didik adalah Buku Perencanaan Bisnis dari pemerintah yang belum lengkap untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar materi event organizer. Selain sumber belajar, satu hal yang menjadi tantangan bagi guru dalam pembelajaran adalah peserta didik yang beragam. Berdasarkan pengamatan peneliti, peserta didik memiliki karakteristik dan latar belakang yang beragam, terdapat peserta didik yang sangat aktif, banyak berbicara dan mendominasi suasana di kelas, namun terdapat juga peserta didik yang cenderung diam dan pemalu, sehingga guru harus memberikan perhatian khusus bagi peserta didik tersebut. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh research gap pada penelitian Ae penelitian terdahulu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mustajab. Ahman, & Disman . 3, hlm. di SMA Negeri 30 Tangerang menunjukkan pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada pembelajaran ekonomi berjalan dengan baik dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai Pada tahap perencanaan, guru mampu mengidentifikasi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dengan baik kemudian dapat menyusun modul ajar sesuai dengan ATP yang Perencanaan yang telah disusun dalam modul ajar tersebut dapat dilaksanakan dengan sistematis. Sementara penelitian lain yang dilakukan Windayanti. Afnanda. Agustina. Kase. Safar, & Mokodenseho . 3, hlm. menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 3 Sungai Penuh belum sepenuhnya berjalan efektif dan masih menemui beberapa kendala. Guru mengalami kesulitan dalam menentukan atau memilih jenis asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan dapat mengintegrasikan kemampuan peserta didik. Selain itu, guru mengalami kesulitan dalam merencanakan pembelajaran yaitu menentukan metode dan model pembelajaran yang cocok dengan materi serta peserta didik. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Oktavia. Maharani, & Qudsiyah . 3, hlm. menunjukkan bahwa pembelajaran di SMK Negeri 2 Pacitan masih kurang sesuai dengan konsep merdeka belajar dalam Kurikulum Merdeka. Pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru sehingga peserta didik menjadi pasif. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dari segi lokasi Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang belum pernah diteliti sebelumnya yaitu di SMK Negeri 1 Sukoharjo. Selain itu, objek yang dijadikan fokus penelitian adalah Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer yang menjadi pembeda penelitian ini dari segi Mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang dikembangkan sendiri oleh SMK Negeri 1 Sukoharjo, sehingga tidak terdapat pada sekolah lain. Belum terdapat penelitian serupa mengenai implementasi Kurikulum Merdeka di lokasi dan objek tersebut. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer di SMK Negeri 1 Sukoharjo. METODE Penelitian ini merupakan penelitian berdasarkan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, jenis studi kasus. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik fase F tahun ajaran 2023/2024 pada Program Keahlian Pemasaran di Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index SMK Negeri 1 Sukoharjo yang terdiri dari kelas XI (XI Pemasaran 1 dan XI Pemasaran . dan XII (XII Pemasaran 1 dan XII Pemasaran . Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Kriteria pengambilan sampel yang digunakan yaitu peserta didik yang menempuh mata pelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer pada tahun ajaran 2023/2024. Peneliti mengambil sampel dengan menggunakan satu kelas yaitu XI Pemasaran 1. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara yaitu studi dokumen, wawancara, dan Sumber data berupa catatan hasil observasi, dokumen modul ajar, dan informan (Wakil Kepala Bidang Kurikulum. Guru Penggerak. Guru Perencanaan Bisnis Event Organizer, dan peserta didi. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer Perencanaan pembelajaran pada Kurikulum Merdeka memiliki enam prosedur seperti yang dijabarkan oleh Kemendikbudristek . , yaitu . analisis capaian pembelajaran untuk merumuskan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran, . perencanaan dan pelaksanaan asesmen diagnostik, . pengembangan modul ajar, . menyesuaikan capaian pembelajaran dengan tahap capaian dan karakteristik peserta didik, . perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan asesmen, serta . evaluasi pembelajaran dan asesmen. Berdasarkan hasil penelitian, tahapan yang dilaksanakan oleh Guru Perencanaan Bisnis Event Organizer dalam merancang perencanaan pembelajaran. Analisis Capaian Pembelajaran (CP) untuk Menyusun Tujuan Pembelajaran (TP) dan ATP (Alur Tujuan Pembelajara. Pada tahapan ini guru telah melaksanakan perumusan dan analisis capaian pembelajaran. Guru memodifikasi CP Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis dari tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang kemudian tujuan pembelajaran dan materi disesuaikan pada bisnis event. Adapun CP Perencanaan Bisnis Event Organizer yaitu pada akhir fase F peserta didik mampu menganalisis lingkungan bisnis dengan berbagai model analisis, merencanakan strategi bisnis, menganalisis usaha, menyusun proposal usaha, dan mengembangkan usaha event. Pengembangan Modul Ajar Perencanaan Bisnis Event Organizer Pada tahap ini, guru merancang modul ajar berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah Modul ajar Kurikulum Merdeka terdiri atas komponen umum, komponen inti, dan lampiran. Berdasarkan hasil analisis modul ajar Perencanaan Bisnis Event Organizer yang dirancang guru, masih ditemukan beberapa aspek yang belum sesuai. Pertama, komponen informasi umum memuat 4 dari 6 indikator yang disarankan Kemendikbudristek. Modul ajar telah memuat identitas modul. Profil Pelajar Pancasila, sarana dan prasarana, serta model pembelajaran, namun belum mencantumkan kompetensi awal dan target peserta didik. Kedua, pada komponen inti guru telah mencantumkan 3 aspek sesuai saran Kemendikbudristek, yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran melalui langkah Ae langkah pembelajaran berbasis proyek secara lebih konkret dengan alokasi waktu yang disesuaikan, dan terakhir rencana asesmen yang meliputi asesmen diagnostik, asesmen formatif, dan asesmen sumatif yang dilampirkan. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Ketiga, lampiran pada modul ajar terdiri atas glosarium dan daftar pustaka, sementara guru belum mencantumkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Penyesuaian Capaian Pembelajaran dengan Tahap Capaian dan Karakteristik Peserta DidiK Guru tahap ini melakukan identifikas terhadap capaian, kondisi, dan pemahaman awal peserta didik sehingga guru dapat menyesuaikan capaian pembelajaran dari materi atau elemen yang mudah ke sulit. Pada materi perencanaan event, guru memberikan materi mulai dari pengenalan bisnis beserta ruang lingkup dan jenisnya, analisis pasar, kemudian dilanjutkan dengan materi khusus event. Perencanaan. Pelaksanaan, dan Pengelolaan Asesmen Pada tahap ini guru tidak melaksanakan asesmen formatif, namun mengamati proses keberjalanan proyek dan produk yang dihasilkan. Sementara asesmen sumatif dilaksanakan oleh guru di akhir semester setelah seluruh pembelajaran selesai. Asesmen sumatif yang dilaksanakan berupa soal atau pertanyaan yang berkaitan dengan proyek pengembangan event bazar yang telah dilaksanakan di akhir semester dua sebagai refleksi atas pembelajaran dan hasil yang berhasil diperoleh peserta didik. Evaluasi Pembelajaran dan Asesmen Evaluasi dilakukan guru melalui penilaian pribadi guru dan refleksi peserta didik terhadap proses pembelajaran yang terlaksana, teknik asesmen yang digunakan, dan hasil belajar yang diperoleh. Evaluasi dilakukan mengetahui efektivitas modul ajar dan asesmen, sehingga guru dapat melakukan perbaikan sehingga modul ajar dan asesmen yang disusun ke depannya menjadi lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil penelitian di atas, tahapan perencanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru kurang sesuai dengan tahapan yang disarankan Kemendikbudristek. Guru belum melaksanakan asesmen diagnostik sebagai suatu tahap yang berdiri sendiri. Tahap tersebut dilewati oleh guru karena guru menganggap bahwa asesmen diagnostik merupakan salah satu komponen pada modul ajar, sehingga lebih efektif jika guru memasukkan dalam modul ajar. Asesmen diagnostik merupakan tahap penting dalam perencanaan pembelajaran, sehingga hal yang menjadi evaluasi guru dalam melakukan perencanaan pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer adalah guru harus melaksanakan asesmen diagnostik sebagai tahapan yang berdiri sendiri sebagai dasar dalam merancangan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Asesmen diagnostik tidak cukup dilakukan melalui pengamatan dan pendekatan secara personal saja, tetapi harus melibatkan partisipasi peserta didik di Asesmen diagnostik dapat dilakukan pada setiap awal dan akhir pembelajaran materi baru berupa asesmen diagnostik kognitif dan non-kognitif. Asesmen diagnostik kognitif berupa pemberian soal di awal pembelajaran untuk memetakan pemahaman awal peserta didik. Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan dengan bantuan media dan teknologi seperti WordWall. Quizizz. Mentimeter, dan sebagainya sesuai kreativitas guru. Sementara asesmen non-kognitif dapat memberikan informasi terkait gaya belajar, kepribadian, kondisi sosial dan psikologis, serta latar belakang peserta didik. Asesmen diagnostik non-kognitif juga dapat dilaksanakan melalui berbagai teknologi, seperti Google Formulir, dan Akupintar. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Pembelajaran secara sistematis disusun dalam bentuk modul ajar. Guru memahami cara penyusunan modul ajar melalui kegiatan workshop dan In House Training (IHT) yang diadakan oleh sekolah, diskusi teman sejawat dengan tim MGMP, serta belajar secara mandiri melalui internet, salah satunya melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Guru memodifikasi contoh modul ajar Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis yang diperoleh dari Tim MGMP Kabupaten, kemudian membuat modul ajar dengan format penyusunan modul ajar yang telah disediakan oleh SMK Negeri 1 Sukoharjo. Berdasarkan analisis dokumen yang dilakukan peneliti, beberapa komponen modul ajar yang disarankan oleh Pemerintah belum dicantumkan dalam modul ajar yang disusun guru, diantaranya kompetensi awal, target peserta didik, dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Hal ini menjadi evaluasi bahwa guru harus melengkapi komponen Ae komponen tersebut dalam modul ajar agar sesuai dengan komponen modul ajar Kurikulum Merdeka. Modul ajar yang dirancang oleh guru sebaiknya tidak diterapkan begitu saja dalam pembelajaran, namun harus melalui proses konfirmasi dan persetujuan dari Kepala Program Keahlian dan Wakil Kepala Bidang Kurikulum. Pihak Ae pihak tersebut dapat melakukan pengecekan dan konfirmasi terhadap kelengkapan perencanaan pembelajaran yang dirancang guru dan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, tujuan sekolah, serta tujuan Kurikulum Merdeka. Pelaksanaan Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer Pelaksanaan pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer sudah sesuai dengan modul ajar yang direncanakan oleh guru dan sesuai dengan prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka oleh pemerintah, yaitu mendukung perkembangan kompetensi dan karakteri peserta didik melalui metode pembelajaran yang bervariasi dengan berbasis pada proyek. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran secara urut meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer di semester genap ini, guru berfokus pada pengaplikasian materi event organizer yang telah disampaikan pada semester ganjil kelas XI Pemasaran 1 yaitu mengembangkan usaha bisnis dengan mewujudkan suatu event, sehingga guru menggunakan model Project Based Learning (PjBL). Model PjBL tidak hanya dilaksanakan dalam satu kali pertemuan, tetapi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui 18 kali pertemuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan adalah diskusi, presentasi, dan praktik. Desain dan metode pembelajaran yang digunakan guru mengarah pada metode resitasi, yaitu guru menyajikan bahan pembelajaran melalui tugas, kemudian peserta didik akan belajar melalui penugasan tersebut. Pelaksanaan metode tersebut menuntut peserta didik untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Keaktifan peserta didik terlihat pada saat mereka berdiskusi dan presentasi di depan kelas, serta saat kegiatan praktik peserta didik saling memberikan arahan dan umpan balik dalam menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Guru tidak lagi menyampaikan materi dengan metode ceramah dengan berpegang pada buku seperti yang dilaksanakan pada semester ganji, namun lebih banyak menyampaikan materi melalui media berupa video pembelajaran, gambar, dan contoh Ae contoh event sebagai referensi peserta didik dalam membuat konsep suatu event. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Penggunaan media pembelajaran juga membantu guru dalam menampilkan materi Ae materi yang tidak terdapat dalam buku pegangan peserta didik. Hal tersebut merupakan upaya guru dalam mengatasi hambatan kurangnya ketersediaan sumber belajar bagi Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer. Materi pada buku peserta didik tidak cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan materi event organizer, sementara peserta didik juga mengalami kesulitan dalam menemukan materi karena terbatasnya sumber belajar event organizer di Guru mengatasinya dengan mencari materi dari buku lain, serta mencari contoh aktual mengenai event melalui sosial media dan mendokumentasikan secara langsung event Ae event yang diselenggarakan di sekitar Kota Solo. Guru memberikan materi tambahan tersebut kepada peserta didik dalam bentuk PDF berisi materi. PPT, atau mengirimkan gambar Ae gambar event melalui Whatsapp Group dan ditampilkan di depan kelas sebagai bahan diskusi Pada pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer, guru juga menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sebagai upaya untuk menyesuaikan karakteristik peserta didik yang beragam, sehingga pembelajaran dapat menyenangkan sesuai minat peserta didik. Pertama, guru melaksanakan diferensiasi konten dengan menyajikan materi pembelajaran dalam berbagai bentuk, yaitu gambar dan video pembelajaran, bagi peserta didik audio-visual, serta bermain peran untuk peserta didik kinestetik. Kedua, pada diferensiasi proses, peserta didik akan belajar pada bidang sesuai minatnya. Pada pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer, peserta didik terbagi dalam divisi Ae divisi dengan tugas yang berbeda. Diferensiasi proses mencerminkan kebebasan peserta didik dalam memilih divisi sesuai bakat dan minat yang mereka miliki. Pada karakteristik peserta didik yang berbeda Ae beda, guru melakukan pendekatan secara personal dengan peserta didik yang kurang aktif untuk mengetahui bakat dan minatnya, sehingga dapat lebih dimaksimalkan melalui proses pembelajaran. Ketiga, diferensiasi produk terlihat dari produk yang dihasilkan masing Ae masing divisi, artinya peserta didik menghasilkan produk yang berbeda sesuai tugasnya masing Ae masing meskipun tujuannya sama yaitu menyelenggarakan event bazar. Pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer pada semester dua dimulai dari guru menyampaikan materi pengantar mengenai event organizer diantaranya jenis event, bagian Ae bagian event organizer, dan event bazar, kemudian guru dan peserta didik membuat kesepakatan untuk mengembangkan event bazar sebagai topik proyek. Kelas dibagi menjadi tiga kelompok besar untuk berdiskusi menentukan konsep event bazar yang terbagi atas tiga tema yaitu art market, beauty and fashion, dan food and baverage, sehingga setiap kelompok mendapatkan satu tema sebagai bahan diskusi, kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas untuk dievaluasi bersama. Ketika konsep acara telah ditentukan, peserta didik membentuk susunan panitia dan pembagian tugas masing Ae masing. Pembelajaran dilaksanakan pada tahap pengerjaan proyek, sehingga setiap pertemuan guru akan memberikan target yang harus dicapai peserta didik di awal pembelajaran kaitannya dengan persiapan acara, kemudian menyampaikan hasilnya di depan kelas. Hasil akhir dari pembelajaran adalah penyelenggaraan event bazar. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Gambar 1. Kegiatan pembelajaran berbasis proyek Event bazar yang dilaksanakan oleh kelas XI Pemasaran 1 sebagai event organizer merupakan suatu kegiatan bazar yang terdiri atas stand Ae stand yang memasarkan produknya, dan dikolaborasikan dengan kegiatan seni berupa seni tari dan musik. Kegiatan bazar bertajuk Gastronomi tersebut dibuka oleh Master of Ceremony (MC) dari panitia dengan menyerukan slogan AuYoung Enterpreneur: Berani Bermimpi. Berani Mewujudkan!Ay, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala SMK Negeri 1 Sukoharjo. Kepala Program Keahlian Pemasaran, dan Ketua Panitia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penampilan tari kreasi dan kegiatan inti, yaitu bazar penjualan produk kepada pengunjung. Acara bazar diselingi dengan penampilan musik yang disajikan oleh panitia. Kegiatan tersebut terlaksana sebagai bentuk asesmen kerja sama antara mata pelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer dengan mata pelajaran Pengemasan dan Pendistribusian Produk sebagai pengguna event, sementara pengunjung bazar adalah bapak ibu guru serta peserta didik dari program keahlian lain di SMK Negeri 1 Sukoharjo yaitu Akuntansi. TKJ, dan MPLB. Kolaborasi asesmen merupakan salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka yang tidak terdapat pada kurikulum Gambar 2. Penyelenggaraan event bazar Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Konteks dalam pembelajaran ini adalah teori konstruktivisme, yang mengembangkan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. dengan metode pembelajaran resitasi melalui diskusi, presentasi, dan praktik dengan untuk mewujudkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Pembelajaran dalam lingkup konstruktivisme seperti ini bertujuan mendorong peserta didik untuk belajar pada hal yang mereka kerjakan sehingga dapat membangun pemahaman melalui setiap pengalaman yang dilalui. Pada setiap pengalaman baru, mereka akan mengonstruksikan dengan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Metode resitasi membuat peserta didik belajar dari tugas yang mereka kerjakan pada masing Ae masing divisi dengan menciptakan ide dan inovasi, serta mencari alternatif solusi terhadap masalah yang dihadapi. Hal ini relevan dengan harapan Kurikulum Merdeka yang menekankan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran dengan tujuan mendorong keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Perencanaan Bisnis Event Organizer berjalan dengan efektif, meskipun dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa faktor penghambat, tetapi faktor yang memberhasilkan lebih dominan. Seluruh peserta didik kelas XI Pemasaran 1 SMK Negeri 1 Sukoharjo dinyatakan tuntas karena dapat mengikuti pembelajaran dan menguasai kompetensi yang tercantum dalam capaian pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran tersebut dapat dilihat dari perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik, misalnya peserta didik yang pendiam sudah mulai berani bertanya dan berbicara di depan kelas, selain itu pembelajaran mendorong peserta didik menjadi pribadi yang lebih kreatif dan inovatif. Penyelenggaraan bazar tentunya menuntut peserta didik untuk mengolaborasikan berbagai pemahaman dan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Bisnis Event Organizer di SMK Negeri 1 Sukoharjo, peneliti dapat menarik dua Kesimpulan. Pertama, tahapan perencanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru belum sesuai dengan tahapan perencanaan Kemendikbudristek. Guru masih harus melaksanakan asesmen diagnostik dan melengkapi komponen dalam modul ajar. Kedua, pelaksanaan pembelajaran sudah sesuai dengan modul ajar yang dirancang guru dengan menggunakan project based learning dan metode resitasi, serta berbantu media pembelajaran berupa PPT, gambar, dan video pembelajaran. Penggunaan model, metode, dan media tersebut mendorong peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila sesuai dengan konteks teori konstruktivisme. Keaktifan peserta didik terlihat pada saat mereka berdiskusi dan presentasi di depan kelas, serta saat kegiatan praktik peserta didik saling memberikan arahan dan umpan balik dalam menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Hal tersebut didukung hasil belajar yang baik Dimana seluruh peserta didik kelas XI Pemasaran 1 dinyatakan tuntas karena telah mencapai capaian pembelajaran yang ditentukan. DAFTAR PUSTAKA