SIPISSANGNGI Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. lppm-unasman. id/index. php/sipissangngi SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. ISSN. : 2775-2054 PELATIHAN ANALISIS BUTIR SOAL DENGAN PENERAPAN TEORI KLASIK Article history Received: 24 Juli 2025 Revised: 23 Agustus 2025 Accepted: 5 September 2025 DOI: 10. 35329/jp. 1Indrabayu, 1Muhammad Abdillah Rahmat, 2Dwiana Fajriati Dewi, 1Rafiqa Nurcahyani Ibrahim, 1Siti Nur Anisah, 1Mutiah Arinil Fayza Nusar, 1Nadia Indriani Sumardi, 1Intan, 1Mahdaniar 1Departemen Teknik Informatika Universitas Hasanuddin 2Departemen Psikologi Universitas Hasanuddin *Corresponding author indrabayu@unhas. Abstrak Rendahnya literasi digital masyarakat menjadi tantangan serius dalam menghadapi era informasi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan literasi digital melalui pelatihan berbasis pendekatan partisipatif. Metode yang digunakan adalah Program Kemitraan Masyarakat (PK-M) dengan melibatkan Komunitas Sampan Institute di Parepare sebagai mitra aktif. Data dikumpulkan melalui observasi. FGD, dan instrumen pre-test serta post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan, dengan rata-rata nilai peserta meningkat dari 56,3 menjadi 91,3. Peningkatan juga terlihat pada tiap butir soal, termasuk soal yang sebelumnya banyak dijawab salah. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya berhasil memperkuat aspek teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis terhadap keamanan dan etika digital. Intervensi ini terbukti efektif dan relevan untuk pemberdayaan komunitas secara berkelanjutan. Kata kunci: Literasi Digital. Komunitas Baca. Pemberdayaan Masyarakat. Pelatihan Partisipatif Gambar 1. Foto bersama dengan anggota Komunitas Sampan Institute Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A PENDAHULUAN Tingkat literasi masyarakat Indonesia hingga saat ini masih menjadi persoalan serius, baik dari sisi membaca tradisional maupun literasi digital. Data UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001%, atau setara dengan 1 dari 1000 orang yang memiliki kebiasaan membaca secara aktif. Laporan PISA 2022 oleh OECD pun menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 80 negara dalam aspek kemampuan membaca, menegaskan bahwa persoalan ini telah menyentuh akar pendidikan dan kebudayaan. Dalam konteks digital, masalah ini semakin kompleks karena masyarakat cenderung menggunakan gadget untuk hiburan semata daripada mengakses informasi edukatif, sehingga membuka celah terhadap penyebaran hoaks dan misinformasi. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominf. mencatat terdapat sebanyak total 547 hoaks yang ditangani selama lima tahun terakhir . 8 Ae 2. Sejalan dengan fenomena tersebut, aktivitas daring juga menunjukkan pola penggunaan yang bervariasi antar kelompok usia, di mana penggunaan internet sangat tinggi di kalangan remaja usia 13-18 tahun . ,16%) dan 19-34 tahun . ,64%), namun menurun pada kelompok usia 35-54 tahun . ,3%) dan di atas 55 tahun . ,73%) (Katadata. id, 2. Fakta-fakta tersebut menunjukkan perlunya intervensi berbasis komunitas yang tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga menjembatani kesenjangan antar usia dan sosial dalam pemanfaatan teknologi secara kritis dan produktif. Literatur-literatur terdahulu tentang literasi digital seringkali hanya berfokus pada aspek penguasaan teknologi secara teknis tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan kultural komunitas pengguna. Teori literasi digital konvensional lebih menekankan pada kompetensi teknis, seperti kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau menjelajah Tetapi, teori-teori tersebut belum cukup memberikan perhatian terhadap realitas kesenjangan digital yang terjadi di masyarakat, terutama di kota-kota kecil dan komunitas. Tantangan seperti maraknya penipuan daring, disinformasi dan hoaks, rendahnya kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, serta lemahnya pemahaman mengenai etika dan keamanan digital, menjadi aspek yang kerap terabaikan. Beberapa studi telah menyoroti pentingnya penggunaan platform digital untuk peningkatan literasi, namun belum banyak yang mengintegrasikan pendekatan partisipatif dan edutainment yang sesuai dengan kebutuhan komunitas lokal. Selain itu, intervensi literasi digital juga biasanya tidak berkelanjutan karena tidak adanya mekanisme pemberdayaan masyarakat pascapelatihan. Untuk itu, konsep community-based design thinking dapat membantu mengatasi masalah ini, walaupun aplikasinya belum banyak diterapkan dalam konteks pengabdian Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan antara teori yang ada dengan situasi nyata di lapangan, yang menuntut strategi literasi digital yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Komunitas baca dapat berperan sebagai simpul literasi nonformal yang menjembatani kesenjangan antara informasi dan masyarakat. Dalam praktiknya, komunitas baca bukan hanya menyediakan ruang fisik untuk membaca, tetapi juga berfungsi sebagai ruang dialog, edukasi, serta penguatan nilai-nilai sosial berbasis pengetahuan dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal, praktik literasi nonformal, dan pendekatan partisipatif. Komunitas ini biasanya beranggotakan pegiat literasi, guru, mahasiswa, atau tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap isu literasi, dan menggerakkan kegiatan seperti bedah buku, diskusi, pelatihan, dan pelestarian budaya literasi (Momuat et al. , 2. Salah satu komunitas yang relevan dengan konteks tersebut adalah Komunitas Sampan Institute di Kota Parepare. Komunitas ini telah menunjukkan komitmen dalam membangun budaya literasi melalui penyediaan ruang baca, pelaksanaan kegiatan edukatif, serta pelibatan masyarakat secara sukarela. Namun, dalam menghadapi tuntutan literasi abad ke-21 dan transformasi digital, komunitas ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti: . rendahnya keterampilan digital dalam mendukung aktivitas literasi. Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A kesenjangan akses dan partisipasi antargenerasi. minimnya pelatihan dan pendampingan literasi digital secara berkelanjutan. Merespons tantangan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan intervensi berbasis masyarakat partisipatif terstruktur. Program ini dirancang untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan anggota Komunitas Sampan Institute. Kota Parepare, dalam literasi digital serta menumbuhkan kesadaran kritis terhadap etika, keamanan, dan kredibilitas informasi digital, memperkuat kompetensi penyesuaian diri seiring dengan transformasi digital yang berkelanjutan, sekaligus memberdayakan kesadaran literasi digital masyarakat di sekitarnya. Selain itu, penguatan komunitas dilakukan dengan membentuk fasilitator internal dan pelatihan berkelanjutan agar literasi digital tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, melainkan tumbuh menjadi budaya belajar mandiri. METODE Kegiatan ini menggunakan pendekatan Program Kemitraan Masyarakat (PK-M) yang menempatkan komunitas mitra sebagai subjek aktif dalam keseluruhan proses kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi hasil. Mitra kegiatan PK-M ini adalah Komunitas Sampan Institute di Parepare. Sulawesi Selatan. Tipe pengabdian ini bersifat partisipatif, edukatif, dan kontekstual, dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat dalam penguasaan literasi digital berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Pendekatan ini sangat relevan dalam menjawab tantangan literasi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan budaya. Jenis data yang digunakan dalam pengabdian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui sesi diskusi kelompok terfokus (FGD), wawancara informal dengan fasilitator komunitas, serta hasil pengamatan kegiatan literasi yang telah berlangsung sebelumnya. Selain itu, hasil pre-test dan post-test dari peserta pelatihan literasi digital menjadi bahan analisis utama dalam mengukur keberhasilan Kegiatan akan dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut: Gambar 2. Tahapan Kegiatan yang Dilaksanakan Analisis data dalam kegiatan ini dilakukan melalui kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, diskusi, serta catatan lapangan dianalisis dengan pendekatan tematik. Peneliti mengidentifikasi pola-pola pengalaman peserta selama pelatihan, hambatan yang muncul, serta strategi penyelesaian yang dilakukan secara spontan di lapangan. Di sisi lain, data kuantitatif dianalisis dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test peserta untuk mengetahui tingkat peningkatan literasi digital secara numerik. Skor dari masing-masing peserta dihitung, kemudian diratarata untuk menggambarkan perubahan keterampilan kolektif komunitas. Tabel berikut menyajikan daftar soal yang digunakan dalam pre-test dan post-test sebagai evaluasi Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A Tabel 1. Daftar Pertanyaan Pre-Test dan Post-Test Kode Soal Bunyi Soal Pengetahuan Dasar & Konsep (Pilihan Gand. Manakah yang termasuk dalam Empat Pilar Literasi Digital yang digagas oleh Kemkominfo? Apa tujuan utama dari metode penipuan Phishing? Manakah yang merupakan salah satu ciri utama dari berita hoaks atau disinformasi? Dalam metode CRAAP Test, kriteria "C" (Currenc. merujuk pada apa? Apa manfaat utama dari penggunaan Password Manager? Penerapan & Keterampilan Praktis (Ya/Tida. Saya sudah mengaktifkan Otentikasi Dua Faktor . FA) pada beberapa akun penting saya . isalnya, email atau media sosia. untuk menambah keamanan. Saya tahu cara menggunakan platform pengecek fakta seperti CekFakta. com atau TurnBackHoax. id untuk memverifikasi informasi yang saya terima. Saya bisa mengecek pengaturan privasi di akun online saya . Akun Googl. untuk mengontrol data yang disimpan atau dibagikan. Saya tahu cara mengenali ciri-ciri situs web palsu atau email phishing dan tidak akan mengklik tautan yang mencurigakan. Saya merasa sudah memiliki kemampuan untuk membedakan antara konten yang dibuat manusia dan yang dihasilkan oleh AI palsu seperti deepfake. Poin HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Focus Group Discussion (FGD) di tahap awal program, ditemukan bahwa Komunitas Sampan Institute menghadapi tantangan signifikan dalam literasi digital, yang menjadi dasar penting bagi perancangan intervensi ini. Diskusi mendalam dengan anggota komunitas secara jelas mengungkap adanya pemahaman dan keterampilan digital yang masih rendah, mengakibatkan kerentanan terhadap maraknya hoaks dan disinformasi. Selain itu, hasil pembahasan juga menyoroti kesenjangan partisipasi antargenerasi dalam pemanfaatan teknologi, di mana kelompok usia lebih tua cenderung kurang terlibat dalam aktivitas digital edukatif. Anggota komunitas juga mengungkapkan minimnya pelatihan literasi digital yang berkelanjutan dan relevan dengan konteks lokal mereka, serta kebutuhan mendesak akan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik dan partisipatif. Temuan-temuan ini secara kolektif menegaskan bahwa masalah literasi digital di Komunitas Sampan Institute bukan sekadar isu teknis, melainkan juga mencakup aspek kesadaran kritis, etika digital, dan keamanan daring, yang pada akhirnya memerlukan strategi intervensi yang holistik, partisipatif, dan berkelanjutan. Untuk mengukur kondisi awal pemahaman literasi digital peserta berdasarkan temuan di atas, dilakukan evaluasi awal berupa pre-test. Kegiatan ini diikuti oleh 30 partisipan, yang terdiri dari anggota Komunitas Sampan Institute. Gambar berikut menyajikan diagram hasil pre-test yang menggambarkan distribusi nilai peserta sebelum pelatihan Seperti terlihat pada gambar 3, hasil pre-test menunjukkan bahwa tingkat pemahaman peserta terhadap literasi digital belum merata, baik dalam konseptual maupun praktikal. Pada bagian A, sebagian besar peserta mampu menjawab dengan benar soal tentang tujuan phishing (A2 = 93%), ciri berita hoaks (A3 = 90%), dan manfaat password manager (A5 = 93%). Temuan ini mengindikasikan bahwa peserta cukup memahami isu-isu digital yang Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pemahaman terhadap kerangka konseptual literasi digital masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari rendahnya persentase jawaban benar pada soal A1 tentang pilar literasi digital . %) dan soal A4 yang berkaitan dengan metode CRAAP Test . %). Persentase Jawaban Benar di Pre-Test Gambar 3. Diagram Persentase Jawaban Benar di Pre-Test Pada bagian B yang berisi lima pernyataan reflektif terkait penerapan keterampilan digital, hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sudah terbiasa dengan beberapa praktik dasar keamanan digital seperti menerapkan Two-Factor Authorization di akun mereka dan mengecek pengaturan privasi. Tetapi, kurang dari 30% peserta masih belum tahu cara menggunakan platform verifikasi informasi digital dan bagaimana membedakan konten yang dihasilkan oleh AI. Selain itu, meskipun sebagian besar peserta cukup memahami konsep penipuan online secara teori, hanya 43% peserta yang yakin dapat mengenali situs web palsu atau email phishing. Hal di atas menunjukkan bahwa masih banyak peserta yang belum menerapkan langkah-langkah keamanan digital secara konsisten, meskipun beberapa sudah memiliki kesadaran awal terhadap pentingnya perlindungan data pribadi. Data tersebut menjadi dasar penting dalam merancang program pelatihan yang tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran kritis serta praktik penggunaan teknologi digital yang aman, etis, dan Setelah seluruh sesi pelatihan dilaksanakan, dilakukan post-test guna mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Gambar berikut menyajikan diagram hasil post-test yang menggambarkan distribusi nilai peserta setelah pelatihan dilakukan. Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terhadap literasi digital, baik dari segi pengetahuan konseptual maupun keterampilan Pada bagian A, seluruh peserta mampu menjawab dengan benar soal A2. A3, dan A5 . %), yang menguji pemahaman mereka tentang phishing, ciri berita hoaks, dan manfaat penggunaan password manager. Peningkatan juga terlihat pada soal A1 mengenai pilar literasi digital yang sebelumnya hanya dijawab benar oleh 27% peserta pada pre-test, kini meningkat drastis menjadi 97%. Sementara itu, pemahaman terhadap metode CRAAP Test (A. juga mengalami peningkatan dari 13% menjadi 83%. Temuan ini menunjukkan bahwa setelah pelatihan, peserta tidak hanya memperkuat pemahaman terhadap isu digital populer, tetapi juga mulai memahami kerangka konsep literasi digital yang lebih mendalam. Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A Persentase Jawaban Benar di Post-Test 100% 100% Gambar 4. Diagram Persentase Jawaban Benar di Post-Test Pada bagian B, hasil post-test juga memperlihatkan peningkatan yang positif. Seluruh peserta . %) menyatakan mampu mengecek pengaturan privasi akun mereka (B. , sementara mayoritas peserta juga mengaku telah mengaktifkan autentikasi dua faktor (B1 = 90%). Selain itu, kemampuan menggunakan platform verifikasi informasi (B. meningkat menjadi 70%, dan kemampuan mengenali situs phishing (B. serta membedakan konten buatan manusia dan AI (B. masing-masing mencapai 87%. Untuk melihat lebih detail peningkatan pemahaman peserta pada masing-masing soal, dilakukan perbandingan persentase jawaban benar antara hasil pre-test dan post-test. Gambar berikut menyajikan data perbandingan tersebut berdasarkan sepuluh butir soal yang diujikan. Perbandingan Persentase Jawaban Benar untuk Tiap Soal Pre-Test Post-Test Gambar 5. Diagram Perbandingan Persentase Jawaban Benar untuk Tiap Soal Gambar di atas memperlihatkan peningkatan yang signifikan pada hampir seluruh butir soal, baik dalam aspek pengetahuan dasar (A1AeA. maupun keterampilan praktis (B1AeB. Soal A1 dan A4 yang sebelumnya memiliki persentase jawaban benar rendah . asingmasing 27% dan 13%), meningkat tajam menjadi 97% dan 83% pada post-test. Soal B1 dan B5 yang sebelumnya juga memiliki skor rendah . %) meningkat menjadi 90% dan 87%. Peningkatan pada soal-soal dengan tingkat kesulitan awal yang tinggi ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya memperkuat pemahaman pada materi yang relatif mudah, tetapi juga berhasil menjangkau konsep-konsep yang sebelumnya kurang dikuasai oleh Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Indrabayu, dkk. / Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Partisipatif Pada A Untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh, perbandingan juga dilakukan terhadap nilai total peserta pada pre-test dan post-test. Nilai dihitung dari akumulasi seluruh butir soal, baik itu aspek pengetahuan dasar dan konsep, maupun penerapan keterampilan praktis. Perbandingan Rata-Rata Total Nilai Pre-Test dan Post-Test Rata-Rata Total Nilai Pre-Test Rata-Rata Total Nilai Post Test Gambar 6. Diagram Perbandingan Rata-Rata Total Nilai Pre-Test dan Post-Test Seperti terlihat pada grafik di atas, rata-rata nilai pre-test peserta adalah 56,3, sedangkan nilai rata-rata post-test mencapai 91,3. Kenaikan sebesar 35 poin ini mencerminkan efektivitas pelatihan dalam meningkatkan kompetensi literasi digital peserta, baik dari sisi konseptual maupun praktikal. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa pendekatan pelatihan yang digunakan berhasil mendorong partisipan untuk memahami sekaligus mengadopsi praktik literasi digital yang lebih aman, kritis, dan bertanggung SIMPULAN Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa di Komunitas Sampan Institute, literasi digital belum sepenuhnya dipahami atau diterapkan. Sebelum pelatihan, banyak peserta belum mengenal konsep dasar seperti pilar literasi digital atau CRAAP Test, serta belum terbiasa memverifikasi informasi secara mandiri. Namun setelah intervensi partisipatif dan kontekstual, rata-rata nilai peserta meningkat dari 56,3 menjadi 91,3. Temuan ini menegaskan bahwa keterampilan literasi digital dapat ditingkatkan secara signifikan apabila difasilitasi dengan pendekatan yang relevan dan memberdayakan. Secara keilmuan, kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi digital tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga konstruksi sosial yang tumbuh melalui interaksi dan pengalaman kolektif. Model pelatihan yang berbasis komunitas dan partisipatif terbukti efektif membangun kesadaran dan keterampilan digital secara berkelanjutan. Meski masih terbatas pada satu komunitas dan durasi pendek, hasil ini membuka peluang pengembangan lebih luas, seperti pembuatan modul lintas generasi dan replikasi ke wilayah Dengan dukungan yang berkesinambungan, model ini berpotensi menjadi kerangka strategis dalam menjawab tantangan kesenjangan digital di tingkat komunitas lokal. DAFTAR PUSTAKA