n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 659-670 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan MAJALAH DINDING SEBAGAI SARANA PENINGKATAN LITERASI SAINS SISWA SEKOLAH DASAR Maria Goreti Kui1. Ngurah Mahendra Dinatha2. Afrianus Gelu3. Maria Yuliana Kua4 1,2,3,4 Progam Studi Pendidikan IPA. STKIP Citra Bakti. Ngada. Nusa Tenggara Timur, 86413. Indonesia *Email korespondensi: ngurahm87@gmail. Diterima Maret 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: This research aims to improve students' reading literacy at UPTD SDI Waewaru through the implementation of science wall magazine media. The method used is Classroom Action Research (CAR) which consists of two cycles, where each cycle includes the stages of planning, implementation, observation, and The subjects of the study are 30 students selected as respondents. Data were collected using observations and tests in the form of multiple-choice questions to measure the students' reading literacy levels. The research results show a significant improvement in students' reading literacy after the implementation of the science wall magazine program. In the first cycle, as many as 20 students had a low reading literacy level. However, after the implementation of cycle II, the number decreased to only 8 students. This shows that the science wall magazine media is effective in improving students' reading literacy skills. The conclusion of this study is that the implementation of science wall magazines can be an effective solution to improve students' reading literacy in elementary schools. Therefore, this program is recommended as a learning medium that can be applied to support literacy improvement efforts in schools Keywords : literacy, wall magazine, science Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi membaca siswa di UPTD SDI Waewaru melalui implementasi media majalah dinding sains. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, di mana setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Subjek penelitian adalah 30 siswa yang dipilih sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan tes berupa soal pilihan ganda untuk mengukur tingkat literasi membaca siswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi membaca siswa setelah implementasi program majalah dinding sains. Pada siklus I, sebanyak 20 siswa memiliki tingkat literasi membaca rendah. Namun, setelah pelaksanaan siklus II, jumlah tersebut menurun menjadi hanya 8 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa media majalah dinding sains efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah implementasi media majalah dinding sains dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan literasi membaca siswa di sekolah dasar. Kata kunci : Literasi. Majalah Dinding. Sains PENDAHULUAN Pendidikan adalah tumpuan kemajuan suatu bangsa, dengan kualitas pendidikan akan menentukan mutu sumber daya manusia. Pemerintah Indonesia telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui perubahan kurikulum untuk menghasilkan generasi yang lebih baik. Minat baca memiliki peran penting dalam penguasaan IPTEK dan kemajuan bangsa, karena membaca menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan. (Kui. Dinatha. Gelu, & Kua, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 659-670 http://jurnal. id/index. php/dedikasi daya manusia di era perkembangan zaman yang pesat. Wahyudin & Zohriah . Implementasi literasi sains sangat penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan revolusi industri. Salah satu upaya yang efektif adalah melalui media majalah dinding di sekolah dasar, yang berfungsi meningkatkan kemampuan siswa dalam mengakses dan memahami pengetahuan. Di Indonesia, literasi sains diatur dalam Permendikbud No. 22 Tahun 2019 yang menekankan pentingnya pendekatan saintifik dalam pembelajaran, meliputi kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan Implementasi literasi sains dalam pembelajaran IPA diharapkan dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa, seperti pemahaman konsep ilmiah, kemampuan menjawab pertanyaan berbasis rasa ingin tahu, identifikasi isu ilmiah, evaluasi informasi dan argumen, serta kemampuan menjelaskan dan memprediksi fenomena (Lambayu et al. , 2. Kegiatan literasi sejak dini, termasuk membaca, sangat penting untuk melatih otak memproses informasi, sehingga membantu siswa terbiasa berpikir kritis dan kreatif. Proses ini perlu didukung dengan kegiatan belajar di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai fasilitator dan mentor yang membimbing siswa untuk berpikir lebih mendalam dan kritis. Melalui implementasi literasi sains yang terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar, siswa tidak hanya memahami teori ilmiah, tetapi juga mampu mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, literasi sains menjadi salah satu pondasi penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi era digital dan tantangan masa depan (Irma, 2. Literasi sains sebagai sebagai jembatan yang menghubungkan antara pendidikan dan dunia nyata siswa. Menurut Wahyudin & Zohriah . bahwa implementasi literasi sains dalam pembelajaran IPA sebaiknya dilakukan sedini mungkin,jika siswa dilatih secara terus menerus maka akan menjadi sebuah pembiasaan. Pada akhirnya kelak akan menjadi sistem nilai dalam hidupnya, karakteristik siswa SD rasa ingin tahunya besar, zaman sekarang siswa memiliki banyak informasi dari media sosial, internet. Keterampilan literasi memiliki pengaruh penting bagi keberhasilan seseorang. Keterampilan literasi memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena pengetahuan akan diperoleh melalui membaca. Berdasarkan hal tersebut, maka setiap peserta didik wajib untuk memiliki keterampilan membaca sejak dini. Membaca bagi kebanyakan orang yang tidak menyukainya, merupakan kegiatan yang membosankan padahal banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari membaca. Manfaat tersebut tidak terbatas hanya pada sisi intelektual seseorang, melainkan juga pada sisi afektif dan nurani. Dalam kehidupan, penguasaan literasi sangat penting dalam mendukung kompetensi-kompetensi yang dimiliki. Kompetensi tersebut dapat saling mendukung apabila seseorang dapat menguasai literasi serta dapat memilah informasi yang dapat mendukung keberhasilan hidup mereka (Afriatama & Sapri, 2023. Oktariani & Ekadiansyah, 2020. Rahmadhani & Dahlan, 2. Kemampuan membaca pada peserta didik menjadi masalah serius yang harus dihadapi setiap sekolah terutama pada siswa SD. Menumbuhkan minat baca pada siswa belum banyak dilaksanakan pada saat ini. Rendahnya minat baca peserta didik, pembelajaran yang kurang diajarkan oleh guru kepada peserta didik dan tidak adanya kewajiban siswa untuk membaca buku merupakan halangan dalam menumbuhkan minat baca ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 659-670 peserta didik. Kemampuan untuk membaca serta tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Kemampuan membaca yang masih sangat rendah pada seseorang dapat menjadi sumber daya manusia yang tidak kompetitif dikarenakan minimnya ilmu pengetahuan serta teknologi (Teguh, 2. Keterampilan menulis dan membaca menjadi hal terpenting yang perlu diperhatikan dan dikuasai siswa dalam menempuh pendidikan. Akan tetapi, bahwasannya mengajak siswa untuk dapat mengembangkan literasi masih sulit untuk dilakukan. Dikarenakan umur siswa pada jenjang pendidikan dasar belum dapat memusatkan perhatian, apalagi mengenai literasi, mereka lebih cenderung bermain untuk mengisi waktu yang kosong daripada duduk dan membaca. Buku teks tidak lagi menjadi teman setia siswa saat ini. Budaya membaca dan menulis bukan lagi menjadi ciri khas yang sering dikatakan sebagai generasi penerus bangsa ini (Pratama et al. Siswa lebih cenderung mengetahui budaya populer, dan buku tidak pernah menjadi prioritas. Padahal pengembangan literasi merupakan langkah untuk memperoleh sebuah informasi penting dari seorang penulis untuk pembaca. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah dan guru pamong di UPTD SDI, diketahui bahwa masih banyak anak usia sekolah belum mahir membaca. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat baca anak-anak, sikap malas yang masih sangat tinggi, dan kurangnya perhatian orang tua dalam memberikan pendidikan untuk membaca di rumah. Rendahnya dari segala keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan di UPTD SDI belum mengembangkan kompetensi dan minat membaca anak- anak. Sebab kegiatan pendidikan membaca yang dilaksanakan di sekolah dasarnya kurang mendapat perhatian terutama untuk kegiatan membaca di sekolah dasar. Maka dari itu keterlibatan sekolah dan orang tua dalam membangun dan menciptakan minat baca anak-anak sangatlah penting terutama saat mereka masih berusia dini. Dengan menumbuhkan terus minat membaca pada mereka, maka akan menjadi suatu kebiasaan untuk mereka kedepannya (Kurniawan et al. , 2. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mahasiswa program kampus mengajar membuat salah satu program kerja yang dapat meningkatkan literasi membaca siswa yaitu dengan membuat implementasi media majalah dinding sains . Adanya program pembuatan majalah dinding ini adalah salah satu bentuk cara atau jalan untuk dapat membantu mengembangkan literasi yaitu pada kemampuan membaca siswa. Pembuatan majalah dinding . ini dipilih karena di sekolah belum memiliki majalah dinding. Majalah dinding . sekolah adalah media pembelajaran kreatif yang berfungsi menggali potensi siswa dalam menulis, berorganisasi, dan sebagai sarana guru memberikan tugas mata pelajaran. Mading merupakan jenis media komunikasi yang berisi informasi seperti majalah, namun dikemas pada papan yang dipajang di dinding di tempat strategis untuk menarik perhatian pembaca (Tiara et al. , 2. Menurut Suriyanto, mading mudah diimplementasikan di sekolah karena bentuknya yang sederhana dan murah, sehingga dapat diadakan di berbagai tempat. Melalui mading, siswa dapat dilatih untuk mengembangkan keterampilan menulis serta memupuk kecintaan mereka terhadap membaca. Selain itu, mading mendorong siswa untuk memanfaatkan bahan pustaka di perpustakaan sekolah sebagai referensi, yang pada gilirannya menumbuhkan kebiasaan membaca (Umar, 2. Dengan demikian, keberadaan mading di sekolah diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan. (Kui. Dinatha. Gelu, & Kua, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 659-670 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Dari pendapat diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa majalah dinding merupakan bentuk majalah sekolah yang sederhana dengan biaya yang murah, sehingga akan lebih memungkinkan untuk diimplmentasikan di mana saja. Oleh karena itu, dengan adanya majalah dinding diharapkan siswa memiliki kebiasaan membaca yang lebih tinggi lagi. Majalah dinding . adalah media penyajian informasi yang menarik perhatian pembaca melalui berbagai konten seperti informasi, opini, cerita pendek, dan lain-lain (Mehmory et al. , 2. Menurut Amelia et al . mading berfungsi sebagai media komunikasi yang mudah diakses dan terjangkau, memungkinkan peserta didik mengembangkan keterampilan menulis mereka melalui media pembelajaran ini. Mading juga menjadi alat komunikasi yang efektif, yang dapat diciptakan oleh guru dan siswa untuk berbagi informasi dan Sebagai solusi untuk meningkatkan literasi sains, mading digunakan sebagai media bagi siswa untuk membuat karya kreatif seperti poster, cerpen, puisi, dan cerita bergambar dengan tema sains, misalnya pentingnya menjaga alam, planet di tata surya, atau kehidupan bakteri. Aktivitas ini tidak hanya memungkinkan siswa belajar tentang topik IPAS, tetapi juga mendorong mereka berkreasi, menyalurkan imajinasi, dan mengungkapkan gagasan mereka. Memanfaatkan mading sebagai media pembelajaran, siswa tidak hanya belajar sains secara menyenangkan dan bermakna, tetapi juga memperoleh pengalaman berharga dalam menyampaikan ide (Nurbaiti & Yusrianti. Berdasarkan alasan tersebut, penelitian ini mengangkat judul AuImplementasi Media Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan Literasi Sains Siswa Sekolah DasarAy. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan mengkaji efektivitas penggunaan mading sebagai media alternatif dalam meningkatkan literasi sains, sekaligus menjawab kebutuhan akan pembelajaran yang kreatif dan kontekstual di lingkungan sekolah dasar. KAJIAN PUSTAKA Majalah Dinding Majalah Dinding adalah media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi, artikel, gambar, atau karya kreatif lainnya (Qosim, 2. Mading biasanya ditemukan di sekolah, kampus, atau komunitas sebagai sarana edukasi, informasi, hiburan, dan kreativitas. Sebagai media informasi, mading dapat menyampaikan berita, pengumuman, atau materi edukatif yang bermanfaat. Selain itu, mading juga berfungsi sebagai media hiburan dengan menampilkan cerita pendek, komik, puisi, atau humor, sekaligus menjadi wadah bagi para siswa atau anggota komunitas untuk menyalurkan bakat menulis, menggambar, atau mendesain. Mading dapat dibuat dalam berbagai bentuk, seperti mading konvensional yang menggunakan kertas dan ditempel di papan, mading digital yang dirancang dengan perangkat lunak desain dan ditampilkan secara online, atau mading interaktif yang menggabungkan elemen fisik dan digital. Proses pembuatannya meliputi persiapan tema, pengumpulan materi, perancangan tata letak, produksi konten, penyuntingan, hingga publikasi. Agar menarik, mading perlu memadukan warna yang harmonis, font yang mudah dibaca, serta gambar atau ilustrasi yang menarik. Partisipasi pembaca juga bisa ditingkatkan dengan menambahkan elemen interaktif seperti kuis atau kolom saran. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 659-670 Majalah dinding memiliki banyak manfaat, antara lain mengembangkan keterampilan menulis dan desain, memperluas wawasan pembaca, serta meningkatkan kerja sama dalam tim. Selain itu, mading juga dapat menjadi pengikat komunitas karena proses pembuatannya melibatkan kolaborasi banyak pihak. Dengan kreativitas dan perencanaan yang baik, mading dapat menjadi media yang tidak hanya informatif, tetapi juga menginspirasi pembaca untuk terus belajar dan berkarya. Literasi Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk untuk berkomunikasi dengan efektif (Muttaqin & Rizkiyah, 2. Literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir kritis, memahami teks kompleks, serta mengaplikasikan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Di era modern, literasi meluas ke berbagai bidang, termasuk literasi digital yang berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi, literasi media yang berkaitan dengan pemahaman dan analisis isi media, serta literasi finansial yang mencakup pengelolaan keuangan. Jenis literasi lain seperti literasi informasi dan literasi sains juga penting untuk membantu seseorang memahami dan memanfaatkan informasi secara lebih efektif. Pentingnya literasi tidak bisa diabaikan, karena literasi adalah fondasi dalam berbagai aspek kehidupan. Literasi mendukung peningkatan kualitas pendidikan, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, literasi digital sangat membantu dalam menghadapi era teknologi yang terus berkembang, sementara literasi informasi dan media penting untuk memilah fakta dari opini serta menghindari Dalam dunia kerja, kemampuan literasi informasi, digital, dan finansial menjadi aset berharga untuk bersaing di pasar global. Lebih dari itu, literasi juga mendorong seseorang untuk terlibat dalam kehidupan sosial, memahami isu-isu global, dan berkontribusi pada masyarakat. Untuk meningkatkan literasi, seseorang dapat membaca buku, artikel atau jurnal secara rutin, berlatih, serta memanfaatkan media digital untuk belajar. Diskusi dengan orang lain dan mengikuti pelatihan yang relevan juga dapat membantu mengasah keterampilan literasi di berbagai bidang. Dengan literasi yang baik, individu tidak hanya dapat menjalani hidup dengan lebih efektif, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan pada kemajuan masyarakat. Literasi adalah kunci untuk membuka peluang dan menghadapi masa depan yang lebih Materi Sains Sains adalah bidang ilmu yang mempelajari fenomena alam dan dunia fisik melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis sistematis. Tujuan utama sains adalah memahami bagaimana alam semesta bekerja, mengungkap hukum-hukum alam, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup manusia (Mursalin & Setiaji, 2. Sains mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti fisika yang mempelajari energi dan materi, kimia yang mengkaji struktur dan interaksi zat, biologi yang fokus pada kehidupan makhluk hidup, serta ilmu bumi dan astronomi yang mengeksplorasi planet dan kosmos. Pentingnya sains terletak pada perannya dalam membentuk kemajuan teknologi, menyelesaikan tantangan global seperti perubahan iklim, penyakit, dan kelangkaan sumber daya, serta mendorong inovasi di berbagai Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan. (Kui. Dinatha. Gelu, & Kua, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 659-670 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Sains juga membantu manusia memahami proses-proses alamiah, seperti evolusi, siklus air, dan interaksi ekosistem, yang merupakan dasar untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Proses pembelajaran sains melibatkan metode ilmiah yang meliputi pengamatan, formulasi hipotesis, eksperimen, pengumpulan data, dan analisis hasil untuk menarik kesimpulan. Melalui pendekatan ini, sains melatih keterampilan berpikir kritis, logis, dan kreatif, yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami materi sains, individu tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman tentang dunia sekitar, tetapi juga berkontribusi pada solusi inovatif untuk tantangan di masa depan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu observasi dan tes berupa pilihan ganda (Nuryaningsih, 2. Desain yang dipilih adalah model Kemmis dan MC. Taggart yang terdiri dari dua siklus. Dimana siklus I dilakukan sebelum membuat program majalah dinding dan siklus II dilakukan setelah membuat program majalah dinding. Dari setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: planning . enyusun rencana tindaka. , acting . elaksanaan tindaka. , observing . , dan reflecting . (Subekti, 2. Subjek dari penelitian ini adalah siswa UPTD SDI yang berjumlah 30 orang. Objek dari penelitian ini adalah peningkatan literasi membaca siswa dengan melakukan program majalah dinding di UPTD SDI. Pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada gambar 1. Refleksi Siklus I Pelaksanaan Pengamatan Siklus II Refleksi Pelaksanaan Pengamata Gambar 1. Penelitian Tindakan Kelas Sumber: Diolah Peneliti, 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam dua siklus pada siswa sekolah dasar untuk mengetahui literasi membaca siswa. Sebelum melakukan tes pada siklus satu, terlebih dahulu melakukan observasi yang berkaitan dengan keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas. Dari hasil observasi yang dilakukan ditemukan bahwa literasi membaca siswa masih sangat rendah. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 659-670 Siklus I Untuk mengetahui literasi membaca siswa peneliti melakukan tes berupa soal pilihan ganda. Tes dilakukan di akhir pembelajaran. Berdasarkan tes yang dilakukan pada siklus I diketahui bahwa literasi membaca siswa masih sangat rendah. Hasil tes pada siklus I dapat dilihat pada gambar 2. Nilai 20 Nilai 30 Nilai 40 Nilai 50 Nilai 60 Nilai 70 Jumlah Siswa Gambar 2. Hasil Pre-test Untuk menghitung nilai literasi membaca siswa peneliti menggunakan rumus sebagai berikut: ya ) y 100 = ycI ycN Dimana L adalah jumlah siswa yang melek huruf. T adalah jumlah siswa dan R adalah tingkat melek huruf. Berdasarkan rumus diatas skor jawaban yang diperoleh dari hasil pre-test siswa adalah . umlah siswa yang melek huruf : jumlah sisw. x 100 = R. Sehingga dari hasil pre-test diperoleh masih ada 66,6 % siswa yang memiliki tingkat literasi rendah. Dengan melihat hasil pre-test pada siklus I dapat disimpulkan bahwa literasi membaca siswa masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih ada 20 siswa yang memperoleh nilai di bawah 60. Siklus II Dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I, maka peneliti mencoba melakukan perubahan pada siklus II. Pada siklus II ini peneliti mencoba membuat suatu program yaitu majalah dinding. Hasil post-test siklus II dapat dilihat pada gambar 3 Nilai 40 Nilai 50 Nilai 60 Nilai 70 Nilai 80 Jumlah Siswa Gambar 4. Hasil Post-test Untuk menghitung nilai literasi membaca siswa peneliti menggunakan rumus sebagai berikut: Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan. (Kui. Dinatha. Gelu, & Kua, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 659-670 http://jurnal. id/index. php/dedikasi ya ( ) ycu 100 = ycI ycN Dimana L adalah jumlah siswa yang melek huruf. T adalah jumlah siswa dan R adalah tingkat melek huruf. Berdasarkan rumus diatas skor jawaban yang diperoleh dari hasil post-test siswa adalah . umlah siswa yang melek huruf : jumlah sisw. x 100 = R. Dengan membuat program majalah dinding maka dapat dilihat jumlah siswa yang melek huruf menurun menjadi 20% saja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa program majalah dinding dapat meningkatkan literasi membaca siswa di UPTD SDI. PEMBAHASAN Kegiatan literasi secara umum di UPTD SDI sebenarnya sudah dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, yaitu di pagi hari 15 menit sebelum pembelajaran berlangsung. Namun di luar itu tidak terlihat kegiatan literasi yang khusus dikembangkan di sekolah ini. Di setiap kelas sebenarnya sudah tersedia lemari buku yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan baca siswa, namun keragaman buku yang tersedia hampir tidak ada, hanya ada buku paket mata pelajaran saja yang ada di lemari tersebut. Maka untuk memenuhi kebutuhan buku, peneliti mengupayakan terpenuhinya pojok baca secara lebih maksimal. Namun dengan melihat literasi siswa yang masih sangat rendah maka peneliti membuat beberapa program kerja yang dapat meningkatkan literasi membaca siswa di antaranya adalah program majalah dinding. Hasil analisis pre-test dan post-test literasi membaca siswa melalui majalah dinding menunjukkan peningkatan yang signitif. Dapat diketahui bahwa hasil pre-test pada siklus I terdapat 20 orang siswa yang masih memiliki tingkat literasi membaca rendah dan setelah membuat program majalah dinding jumlah siswa yang melek huruf menurun menjadi 8 orang saja. Maka dapat disimpulkan, bahwa program majalah dinding dapat meningkatkan literasi membaca siswa. Merealisasikan budaya literasi dalam lingkaran pendidikan siswa di tengah kemasifan serta kecanggihan teknologi digital tetap dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara non digital tetapi dikemas secara menarik dan kekinian tanpa mengurangi esensi dari literasi tersebut. Beragam informasi tetap dapat dibagikan dan diperoleh siswa lewat narasi tulisan-tulisan yang disajikan dengan penerapan bahasa yang mudah dipahami (Triyono, 2. Mading merupakan sarana komunikasi yang paling murah untuk menciptakan komunikasi interpersonal bagian dalam keliling tertentu. Hasilnya membuat majalah dinding terlihat seperti sebuah tempat. Pikirkan banyak ide berbeda, tanamkan kebiasaan membaca, isi waktu Anda membuang waktu luang, membangkitkan pemikiran cerdas melalui membaca dokumen, perwujudan semangat tim sesuai dengan kesepakatan bersama, aturan yang ditetapkan. Disiplin diri serta keseriusan dalam bekerja, latihan menulis, dan networking komunikasi antara siswa, guru, dan administrator sekolah (Kristiawan et al. , 2. Majalah Dinding terdiri dari beberapa tulisan yang ditempelkan pada bidang datar, seperti kertas karton atau gabus. Kemudian kumpulan tulisan itu dihiasi dengan berbagai macam pernak pernik, renda, dan alat tulis warna warni hingga lukisan. Sehingga, majalah dinding terlihat menarik dan membuat pembaca tertarik untuk membaca. Majalah Dinding diletakkan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 659-670 ditempat yang strategis sehingga menjadi perhatian bagi pembaca (NafiAoin & Amrulloh, 2. Gerakan mading kelas yang dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan serta melibatkan semua unsur sekolah yaitu siswa, guru, karyawan, orang tua, dan masyarakat terbukti dapat menjadi solusi atas masalah rendahnya minat baca siswa yang selama ini terjadi di UPTD SDI. Siswa sebagai subyek atau pelaku utama nampak semakin antusias dalam mengikuti gerakan mading kelas dari setiap semester. Keinginan siswa ingin menampilkan mading yang terbaik mendorong mereka untuk suka membaca buku lebih banyak dan rutin agar memiliki pengetahuan yang luas untuk dituangkan dalam mading sesuai tema yang menjadi tugasnya. Keberadaan guru, karyawan, orangtua, dan masyarakat sangat memberikan motivasi yang besar kepada siswa untuk melakukan hasil karya yang terbaik. Arahan dan bimbingan guru menjadi jalan penerang bagi siswa untuk membuat karya yang lebih inovatif dan kreatif. Dukungan karyawan dalam hal penyiapan bahan dan sarana mading sangat membantu dan memperlancar tugas-tugas mereka. Apresiasi dan dukungan dari orang tua dan masyarakat berupa sumbangan buku dan kunjungan terhadap hasil karya mading yang dipajang/dipamerkan menambah siswa lebih bangga, percaya diri, dan merasa dihargai. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Program majalah dinding . di UPTD SDI Waewaru telah menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan literasi siswa sekaligus menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif dan kreatif. Melalui mading, siswa diperkenalkan pada berbagai jenis teks dan kosakata baru, yang secara langsung memperkaya pemahaman dan kemampuan membaca mereka. Kegiatan ini tidak hanya mendorong siswa untuk lebih aktif dalam membaca, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis serta kreativitas mereka dalam menyusun tulisan yang nantinya akan dipublikasikan. Ketika hasil karya siswa dipajang di mading, mereka merasa dihargai, yang kemudian meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi untuk terus berkarya. Selain itu, majalah dinding berperan sebagai sarana interaksi antarsiswa, di mana karya yang dipublikasikan dapat menginspirasi siswa lain untuk ikut berkontribusi. Antusiasme siswa terlihat dari semangat mereka saat membuat karya, memilih bahan bacaan, hingga proses menempelkan hasil tulisan mereka di mading. Mading juga memberikan alternatif positif untuk mengisi waktu luang siswa dengan kegiatan membaca atau menulis, yang secara tidak langsung membantu mereka mengembangkan keterampilan literasi. Dengan dukungan semua pihak, serta strategi yang tepat dalam pelaksanaannya, mading telah menjadi alat yang efektif dalam membangun budaya literasi di sekolah. Melalui program ini, sekolah tidak hanya berhasil meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, kreatif, dan penuh semangat. Saran Penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan dan belum sempurna, sehingga perlu adanya kelanjutan bagi peneliti dalam mengembangkan penelitian ini sesuai dengan kebutuhan. Majalah Dinding Sebagai Sarana Peningkatan. (Kui. Dinatha. Gelu, & Kua, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 659-670 http://jurnal. id/index. php/dedikasi DAFTAR PUSTAKA