JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 4. April 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 PELATIHAN PEMBUATAN SABUN DAN MINYAK GOSOK SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN EKONOMI JEMAAT GBI KARANG ALIT. SALATIGA Community Economic Empowerment Through Training in Soap and Herbal Massage Oil Production for GBI Karangalit Congregation in Salatiga November R. Aminu*. Cucun Alep Riyanto. Sarawinda Hutagalung. Dewi Kurnianingsih Arum Kusumahastuti. Margareta Novian Cahyanti. Suryadi Joyopranoto. Tiffany Octavia Kusumawijaya. Gabriel Amadeo Vito. Vincentia Nandita Putri Kristianti. Rima Angelika Dwi Putri Program Studi Kimia. Fakultas Sains dan Matematika. Universitas Kristen Satya Wacana Gedung Y. Jalan Diponegoro 52-60. Salatiga. Jawa Tengah *Alamat Korespondensi: november. aminu@uksw. (Tanggal Submission: 4 Desember 2025. Tanggal Accepted : 27 April 2. Kata Kunci : Abstrak : Pemberdayaan Masyarakat. Pelatihan Kewirausahaan. Pembuatan Sabun. Minyak Gosok. Peningkatan Pendapatan Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Karang Alit. Salatiga, melalui pelatihan pembuatan sabun dan minyak gosok. Banyak anggota jemaat menghadapi tantangan ekonomi dan kurangnya keterampilan wirausaha. Sabun dan minyak gosok adalah produk dengan nilai jual tinggi dan permintaan pasar yang stabil. Kegiatan ini mencakup pemberian materi dasar kimia, demonstrasi langsung, dan sesi praktik pembuatan produk, didukung oleh modul pelatihan dan sesi Dosen dan mahasiswa dari Prodi Kimia FSM UKSW berperan aktif dalam membimbing peserta. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi peserta, koordinasi dengan pengurus GBI, persiapan bahan, serta tiga kali pertemuan pelatihan dan praktik. Evaluasi dan pembinaan keberlanjutan juga dilakukan untuk memastikan pengembangan usaha mikro peserta. Dengan kegiatan ini, diharapkan jemaat memiliki keterampilan baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan mengurangi ketergantungan pada pekerjaan tidak Key word : Abstract : Community Empowerment. Entrepreneurshi p Training. Soap Production. Liniment Oil. This community service aims to empower the congregation of Gereja Bethel Indonesia (GBI) Karang Alit. Salatiga, through training in soap and liniment oil Many congregation members face economic challenges and lack entrepreneurial skills. Soap and liniment oil are products with high commercial value and stable market demand. This activity includes providing basic chemistry material, live demonstrations, and practical product-making sessions, supported by training modules and consultation sessions. Lecturers Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 189 Income Generation and students from the Chemistry Department of FSM UKSW actively participate in guiding the participants. The implementation methods include participant identification, coordination with GBI management, material preparation, and three training and practical sessions. Evaluation and sustainable mentoring are also carried out to ensure the development of participants' micro-enterprises. Through this activity, it is hoped that the congregation will acquire new skills to increase family income and reduce dependence on unstable jobs Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Aminu. Riyanto. Hutagalung. Kusumahastuti. Cahyanti. Joyopranoto, . Kusumawijaya. Vito. Kristianti. , & Putri. Pelatihan Pembuatan Sabun Dan Minyak Gosok Sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Jemaat GBI Karang Alit. Salatiga. Jurnal Abdi Insani, 13. , https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Pengabdian kepada masyarakat (PkM) merupakan salah satu dari tri dharma perguruan tinggi yang memegang peranan krusial dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Melalui PkM, institusi pendidikan tinggi diharapkan dapat berkontribusi secara langsung dalam mengatasi permasalahan di komunitas sekitar (Putri & Santoso, 2. Program PkM bukan hanya sekadar transfer pengetahuan akademis, melainkan juga implementasi ilmu pengetahuan untuk menciptakan solusi praktis yang bermanfaat bagi masyarakat (Situmorang, 2. Gereja Bethel Indonesia (GBI) Karang Alit. Salatiga, merupakan komunitas yang heterogen, terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan lansia. Mayoritas jemaat dihadapkan pada tantangan ekonomi yang signifikan, di mana banyak di antaranya belum memiliki keterampilan khusus yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan tambahan. Ketergantungan pada pekerjaan yang tidak stabil dan pendapatan yang tidak menentu menjadi masalah utama yang membatasi peningkatan kualitas hidup mereka. Situasi ekonomi yang semakin sulit semakin memperkuat urgensi untuk memberdayakan jemaat melalui pengembangan keterampilan yang bernilai ekonomis (Wibowo & Kartini, 2. Salah satu solusi yang relevan dan memiliki potensi ekonomi tinggi adalah pelatihan pembuatan produk rumah tangga seperti sabun dan minyak gosok. Produk-produk ini memiliki nilai jual yang stabil dan permintaan pasar yang konsisten. Pembuatan sabun, misalnya, telah lama dikenal sebagai kegiatan yang dapat dikembangkan menjadi usaha mikro atau rumahan dengan modal relatif terjangkau (Utami & Suryadi, 2. Demikian pula, minyak gosok, dengan kandungan minyak atsiri (Smith & Anderson, 2. , memiliki manfaat terapeutik dan pasar yang spesifik. Dengan memberikan pelatihan produksi sabun dan minyak gosok, jemaat diharapkan dapat memperoleh keterampilan praktis yang dapat segera diaplikasikan untuk memulai usaha mandiri, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga mereka. Tinjauan pustaka menunjukkan bahwa program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan terbukti efektif dalam meningkatkan kapabilitas ekonomi individu dan kelompok (Ardiansyah, 2. Keberlanjutan usaha mikro sangat penting dan memerlukan pembinaan manajemen produksi, perhitungan biaya, penetapan harga jual, serta strategi pemasaran yang tepat (Widodo, 2. Selain itu, dukungan dalam akses permodalan dan jaringan pemasaran juga menjadi faktor penentu keberhasilan (Dinas Koperasi dan UMKM, 2. Rencana pemecahan masalah dalam kegiatan ini berfokus pada dua permasalahan utama: kurangnya keterampilan khusus dan keterbatasan informasi. Untuk mengatasi kurangnya keterampilan, akan diselenggarakan pelatihan praktis pembuatan sabun dan minyak gosok. Untuk keterbatasan informasi, akan disediakan modul pelatihan dan sesi konsultasi berkelanjutan. Tujuan kegiatan PkM ini adalah. Meningkatkan keterampilan jemaat GBI Karang Alit dalam pembuatan sabun dan minyak gosok. Memberikan pengetahuan dasar kimia yang relevan serta teknik produksi sabun dan minyak gosok yang berkualitas. Mendorong munculnya usaha mikro Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 190 baru di kalangan jemaat yang mandiri dan berkelanjutan. Meningkatkan pendapatan keluarga jemaat melalui diversifikasi sumber penghasilan. Adanya pelatihan keterampilan dan pendampingan yang intensif, diharapkan jemaat GBI Karang Alit akan mampu memproduksi sabun dan minyak gosok secara mandiri, mengembangkan usaha mikro, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. METODE KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini mengikuti pendekatan yang terstruktur, meliputi tiga tahap utama: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi serta pembinaan. Strategi yang diterapkan berpusat pada partisipasi aktif jemaat, pendampingan intensif oleh dosen dan mahasiswa, serta penyediaan materi yang praktis dan mudah diimplementasikan. Tahap Persiapan A Identifikasi Peserta: Pengurus GBI Karang Alit berperan aktif dalam mengidentifikasi jemaat yang memiliki minat dan komitmen tinggi untuk mengikuti pelatihan. Prioritas diberikan kepada bapak dan ibu yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan keterampilan baru untuk usaha mandiri (Putri & Santoso, 2. A Koordinasi dengan Pengurus GBI Karang Alit: Tim pelaksana dari Prodi Kimia FSM UKSW mengadakan pertemuan dengan pengurus GBI untuk membahas detail teknis pelaksanaan, termasuk jadwal, lokasi, dan logistik kegiatan. Koordinasi ini memastikan keselarasan antara harapan tim pelaksana dengan kebutuhan komunitas. A Persiapan Bahan dan Alat: Tim Prodi Kimia FSM UKSW bertanggung jawab penuh dalam menyiapkan semua bahan baku . eperti minyak, alkali, pewangi untuk sabun. minyak atsiri, minyak pembawa untuk minyak goso. dan peralatan . etakan, pengaduk, timbangan, alat pelindung dir. yang diperlukan. Selain itu, modul dan panduan praktis pembuatan sabun dan minyak gosok juga disiapkan. Tahap Pelaksanaan Kegiatan inti dilaksanakan dalam empat kali pertemuan yang masing-masing berdurasi satu Setiap pertemuan dirancang untuk memberikan pengetahuan teoretis dan praktik langsung. Pertemuan Pertama : Teori dan Praktek Pembuatan Minyak Gosok Pertemuan Kedua : Teori dan Praktek Pembuatan Sabun Pertemuan Ketiga : Diskusi Pengembangan Produk Tahap Evaluasi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan: Penilaian dilakukan terhadap hasil praktik peserta berdasarkan kriteria kualitas produk. Feedback dari peserta mengenai materi, bimbingan, dan keseluruhan pelatihan dikumpulkan. Diskusi mengenai kesulitan dan tantangan juga dilakukan. Program Unggulan Program unggulan dari kegiatan pengabdian ini adalah "Modul Praktis dan Konsultasi Berkelanjutan". Modul pelatihan yang didesain dengan bahasa sederhana dan langkah-langkah yang jelas menjadi panduan utama bagi peserta. Keunggulan program ini terletak pada pendekatan holistik: tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan manajemen usaha dasar dan dukungan pasca-pelatihan. Sesi konsultasi berkelanjutan menjadi kunci untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul saat peserta memulai usaha, memastikan mereka mendapatkan bimbingan yang dibutuhkan. Ini selaras dengan prinsip pemberdayaan yang menekankan transfer pengetahuan dan dukungan jangka panjang untuk kemandirian ekonomi. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 191 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan pembuatan sabun dan minyak gosok di GBI Karang Alit. Salatiga (Gambar . , telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam pemberdayaan ekonomi jemaat. Dari empat pertemuan yang telah dilaksanakan, peserta menunjukkan antusiasme dan komitmen yang tinggi. Gambar 1. Pelatihan Pembuatan Sabun dan Minyak Gosok di GBI Karangalit. Salatiga Peningkatan Keterampilan dan Pengetahuan: Kemampuan Produksi: Seluruh peserta pelatihan berhasil memproduksi sabun padat dan minyak gosok secara mandiri (Gambar . Keterampilan ini tidak hanya terbatas pada mengikuti instruksi, tetapi juga pemahaman akan tahapan krusial seperti pencampuran bahan, proses saponifikasi . ntuk sabu. , dan formulasi minyak atsiri . ntuk minyak goso. Produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, ditandai dengan tekstur, aroma, dan stabilitas yang sesuai standar Gambar 2. Peserta Memamerkan Produk Hasil Buatannya Sendiri A A Pemahaman Teoretis: Melalui sesi materi dasar kimia, peserta memperoleh pemahaman tentang prinsip-prinsip di balik pembuatan produk. Meskipun disajikan dalam bahasa sederhana, pengetahuan ini penting untuk inovasi produk di masa depan dan pemecahan masalah (Smith & Anderson, 2. Penggunaan Modul Praktis: Modul pelatihan yang disediakan terbukti sangat membantu. Peserta dapat mengikuti langkah-langkah produksi secara mandiri setelah pelatihan, yang mengindikasikan efektivitas modul sebagai panduan praktis. Potensi Pengembangan Usaha Mikro: A Minat Berwirausaha: Sebagian besar peserta menyatakan minat untuk mengembangkan produk mereka, terutama sabun, menjadi usaha mikro. Hal ini terlihat dari pertanyaanpertanyaan selama sesi konsultasi yang berfokus pada aspek bahan baku, pemasaran, perizinan, dan penetapan harga (Gambar . Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 192 Gambar 3. Sesi Diskusi dan Tanya Jawab dengan Pemateri A A Diversifikasi Produk: Peserta mulai berinovasi dengan menambahkan bahan alami lokal seperti ekstrak tumbuhan atau minyak esensial yang berbeda untuk menciptakan variasi Ini menunjukkan adanya inisiatif untuk memenuhi preferensi pasar yang beragam. Peningkatan Kepercayaan Diri: Adanya keterampilan baru dan dukungan dari tim pengabdi meningkatkan kepercayaan diri peserta untuk memulai usaha mandiri, yang merupakan indikator keberhasilan program pemberdayaan (Ardiansyah, 2. Partisipasi dan Kolaborasi: A Peran Pengurus GBI Karang Alit: Peran pengurus GBI dalam mengidentifikasi peserta dan menyediakan tempat pelatihan sangat vital. Kolaborasi ini memastikan bahwa program tepat sasaran dan mendapatkan dukungan penuh dari komunitas. A Sinergi Dosen dan Mahasiswa: Keterlibatan dosen dan mahasiswa dari Prodi Kimia FSM UKSW tidak hanya memberikan keahlian teknis tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang interaktif. Mahasiswa mendapatkan pengalaman lapangan yang berharga, yang dapat direkognisi sebagai SKS (Situmorang, 2. Tantangan dan Pembelajaran: Salah satu tantangan adalah memastikan keberlanjutan usaha mikro setelah pelatihan Meskipun minat tinggi, transisi dari "membuat produk" menjadi "menjual produk" memerlukan dukungan lebih lanjut dalam hal manajemen bisnis, branding, dan akses pasar. Oleh karena itu, sesi pembinaan pasca-pelatihan menjadi sangat krusial. Selain itu, beberapa peserta menghadapi kendala dalam pengadaan bahan baku dalam jumlah kecil dengan harga terjangkau, yang menjadi perhatian untuk fase pembinaan selanjutnya. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan jemaat GBI Karang Alit dalam pembuatan sabun dan minyak gosok, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan dapat menjadi motor penggerak ekonomi di tingkat komunitas (Wibowo & Kartini, 2. Tahapan Evaluasi Dan Monitoring Evaluasi dan monitoring adalah tahapan krusial untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program pengabdian kepada masyarakat. Tahapan ini dilakukan secara berjenjang dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan: A Penilaian Hasil Praktik Peserta: Penilaian dilakukan berdasarkan kriteria kualitas produk sabun dan minyak gosok yang dihasilkan oleh peserta. Aspek yang dinilai meliputi konsistensi tekstur, aroma, berat, kebersihan, dan penampilan produk. Hasil penilaian ini memberikan gambaran langsung tentang penguasaan keterampilan teknis oleh peserta. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 193 Pengumpulan Feedback: Sesi diskusi terstruktur digunakan untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta mengenai relevansi materi, kualitas penyampaian, efektivitas bimbingan dari dosen dan mahasiswa, serta fasilitas pelatihan. Umpan balik ini sangat penting untuk perbaikan program di masa mendatang. Diskusi Kendala dan Tantangan: Sesi tanya jawab diadakan untuk mengidentifikasi kesulitan dan tantangan yang dihadapi peserta selama proses pelatihan, baik terkait teknis produksi maupun potensi pengembangan usaha. Monitoring dan Pembinaan Keberlanjutan: A Pembinaan Usaha: Setelah pelatihan teknis selesai, tim pengabdi melanjutkan monitoring melalui sesi pembinaan terfokus pada aspek manajemen usaha. Ini mencakup bimbingan dalam: Manajemen Produksi: Optimalisasi proses produksi, standarisasi kualitas, dan efisiensi bahan baku. Perhitungan Biaya: Membantu peserta menghitung harga pokok produksi (HPP) secara akurat. Penetapan Harga Jual: Membantu menentukan harga jual yang kompetitif namun tetap menguntungkan. Strategi Pemasaran: Memberikan masukan tentang branding sederhana, strategi penjualan . nline/offlin. , dan promosi produk (Widodo, 2. A Sesi Konsultasi Lanjutan: Sesi ini diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan peserta, mengatasi masalah yang muncul, dan memberikan motivasi berkelanjutan. Peserta dapat mengontak pelatih jika ada masalah atau ahal yang ingin didiskusikan terkait pengembangan produk. Hal ini memastikan bahwa peserta tidak merasa "ditinggalkan" setelah pelatihan awal. Melalui tahapan evaluasi dan monitoring ini, diharapkan program pengabdian tidak hanya berhenti pada transfer keterampilan, tetapi juga mampu menciptakan dampak jangka panjang berupa kemandirian ekonomi bagi jemaat GBI Karang Alit. KESIMPULAN DAN SARAN Program pelatihan pembuatan sabun dan minyak gosok di GBI Karang Alit. Salatiga, telah sukses besar dalam memberdayakan jemaat secara ekonomi. Jemaat yang sebelumnya menghadapi tantangan finansial kini telah dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk memulai usaha mikro mandiri. Kualitas produk yang dihasilkan sangat baik, didukung oleh antusiasme tinggi peserta serta bimbingan komprehensif dari dosen dan mahasiswa Prodi Kimia FSM UKSW. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar untuk keberlanjutan program dalam meningkatkan pendapatan keluarga Untuk keberlanjutan program, diperlukan beberapa langkah penting. Pertama, perlu ada pembinaan yang lebih intensif setelah pelatihan, terutama dalam manajemen keuangan, branding, dan strategi pemasaran agar usaha mikro yang dirintis bisa berkembang. Kedua, tim pengabdi dapat membantu memfasilitasi akses pasar dengan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga seperti UMKM lokal atau platform e-commerce. Ketiga, dorong jemaat untuk terus berinovasi dan mengembangkan varian produk sabun serta minyak gosok menggunakan bahan alami lokal untuk meningkatkan daya Keempat, perluasan kolaborasi dengan pemerintah daerah atau lembaga non-profit lain akan memperkuat ekosistem kewirausahaan. Terakhir, studi dampak jangka panjang perlu dilakukan untuk mengukur sejauh mana program ini benar-benar meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan ekonomi jemaat GBI Karang Alit. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Aminu et al. , 194 DAFTAR PUSTAKA