Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2427-2436 Dinamika Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Tradisional: Studi Kasus di Kabupaten Situbondo Economic Dynamics of Traditional Fishermen's Households: A Case Study in Situbondo Regency Dona Wahyuning Laily*. Noor Rizkiyah. Ika Sari Tondang. Fatchur Rozci. Nisa Hafi Idhoh Fitriana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Surabaya *Email: dona. agribis@upnjatim. (Diterima 08-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui . Faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan rumah tangga nelayan tangkap, dan . faktor-faktor yang memengaruhi pengeluaran rumah tangga nelayan, dan untuk mengetahui menganalisisnya, . Kemungkinan timbulnya kemiskinan disebabkan oleh faktor-faktor yang memengaruhi kemiskinan pada kalangan nelayan tangkap di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. Sampel yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah para nelayan tangkap dengan menggunakan sample random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . karakteristik nelayan berjumlah 42,86% nelayan berusia antara 40 dan 49 tahun, sedangkan sebagian besar tingkat pendidikan nelayan berada pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu sebesar 42,86%. Berdasarkan pengalaman melaut, sekitar 53,06% mempunyai pengalaman sekitar 11 sampai 20 tahun, dan jumlah keluarga nelayan sebanyak 69,39%, dengan mayoritas berjumlah 3 sampai 4 orang. Sedangkan status pekerjaan nelayan sekitar 43,76%, . faktor yang memengaruhi pendapatan nelayan tangkap adalah jumlah Pendidikan nelayan, dan umur nelayan, . faktorfaktor yang memengaruhi konsumsi rumah tangga nelayan adalah jumlah tanggungan keluarga dan umur Penuaan nelayan tangkap meningkatkan risiko kemiskinan, namun pelatihan dan pengalaman dalam Semakin bertambahnya umur nelayan tangkap maka akan meningkatkan peluang kemiskinan, namun meningkatnya factor Pendidikan nelayan tangkap dan pengalaman dalam bekerja sebagai nelayan akan menurunkan Tingkat kemiskinan dalam rumah tangga nelayan tangkap. Kata kunci: kemiskinan, rumah tangga nelayan tangkap, pendapatan melaut, pengeluaran rumah tangga ABSTRACT The purpose of this study was to determine . Factors that affect the income of fishing households, and . factors that affect the expenditure of fishing households, and to analyze them, . The possibility of poverty caused by factors that affect poverty among fishing communities in Jangkar District. Situbondo Regency. The samples collected in this study were fishing communities using random sampling. The results of the study showed that . the characteristics of fishermen were 42. 39% of fishermen aged between 41 and 50 years, while the majority of fishermen's education level was at elementary school (SD) level, which was 35. Based on fishing experience, around 36. 9% were aged between 21 and 30 years, and the number of fishing families was 51. 80%, with the majority consisting of 3 people or less. While the employment status of fishermen was around 43. 76%, . factors that affect fishing income are education, fishing experience, and fishing boat engines, . factors that affect fishing household expenditure are the number of family members. Factors that influence the risk of poverty in fishermen are the age of fishermen, education, and The aging of fishermen increases the risk of poverty, but training and experience at sea. The increasing age of fishermen will increase the chances of poverty, but increasing the education factor of fishermen and experience in working as fishermen will reduce the level of poverty in fishermen's households. Keywords: poverty, fishing households, fishing income, household expenditure PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia, yang terletak di antara dua Samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta dua benua. Asia dan Australia. Secara geografis Indonesia memiliki lebih dari 17. 000 pulau dengan garis Pantai sepanjang 99. 000 km dan sekitar Dinamika Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Tradisional: Studi Kasus di Kabupaten Situbondo Dona Wahyuning Laily. Noor Rizkiyah. Ika Sari Tondang. Fatchur Rozci. Nisa Hafi Idhoh Fitriana 70% wilayahnya merupakan perariran, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan wilayah laut terluas di dunia. Hal ini memberikan potensi besar dalam hal sumberdaya laut, seperti ikan, mineral, dan energi laut serta jalur transportasi internasional (Huda, 2. (Sari & Khoirudin, 2. mengatakan sektor perikanan berkontribusi signifikan terhadap ekonomi Indonesia melalui ikan tangkap dan ikam budidaya. Indonesia adalah salah satu produsen ikan terbesar di dunia. Menurut Kementerian Maritim dan Perikanan, sektor ini menyumbang lebih dari 2,6% dari total produk Indonesia (PDB) pada tahun 2022. Menurut Kementerian Maritim dan Perikanan. Selain itu, perikanan adalah sumber mata pencaharian bagi jutaan komunitas pesisir, dan sebagai kepulauan yang terletak di antarmuka keamanan gizi dan ekspor dan rute perdagangan internasional. Indonesia adalah kepulauan strategis dengan ekonomi geopolitik dan global. Salah satu jalan laut tersibuk di dunia. Selat Malaka terletak di perbatasan Indonesia. Oleh karena itu. Indonesia memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas keamanan maritim di wilayah Asia Tenggara (Manulang, 2. Menurut Direktur Umum Pulau Pesisir dan Kecil (India Raswali, 2. , salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pulau pesisir adalah kemiskinan pada keluarga nelayan Indonesia. Sektor perikanan memiliki potensi ekonomi yang besar, dan Indonesia adalah kepulauan dengan banyak sumber daya laut, tetapi keluarga nelayan sering mengalami kesulitan ekonomi yang cukup besar. Beberapa faktor berkontribusi pada masalah kemiskinan di rumah tangga nelayan, termasuk akses yang terbatas ke sumber daya, harga jual perikanan tangkap rendah, dan tantangan lingkungan serta Daerah pesisir adalah pusat produksi ikan, tetapi juga dapat diklasifikasikan sebagai daerah dengan Tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan (Soecahyo. Irwantono & Romadona. Menurut Halim, et al. , . Sebagian besar nelayan tradisional di Indonesia masih menggeluti usaha perikanan berskala kecil, mengoperasikan kapal kecil dengan teknologi yang sederhana, dan ajtivitas perikanannya dilakukan di sekitar wilayah pesisir. Nelayan tradisional biasanya melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan yang dekat dengan pantai atau pesisir, karena keterbatasan kapal dan teknologi mereka tidak memungkinkan untuk melaut lebih jauh ke perairan yang lebih dalam. Ini membuat mereka sangat bergantung pada sumber daya ikan di daerah pesisir yang lebih rentan terhadap overfishing. Untuk itu dalam memahami berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangga nelayan tradisional diperlukan pendekatan yang memperhatikan pola pengambilan keputusan rumah tangga (Assagaf. Barcinta. Ukratalo, & Rijoly, 2. Hasil produksi nelayan tradisional dipengaruhi oleh faktor musim dan penggunaan teknologi yang sederhana serta memiliki dampak langsung terhadap fluktuasi pendapatan. Ketergantungan pada musim dan keterbatasan alat tangkap menyebabkan pendapatan nelayan sangat tidak stabil, sehingga dapat membuat mereka terjebak dalam siklus kemiskinan. Pendapatan yang diperoleh akan dialokasikan untuk mencukupi segala kebutuhan primer maupun sekundernya baik konsumsi pangan maupun non pangan (Andriani & Nuraini, 2. Namun dengan terbatasnya pendapatan yang diperoleh, maka tidak menutup kemungkinan pemenuhan kebutuhan pangan dan non pangan pun dalam rumah tangganya pun akan mengalami kendala. Pada saat musim paceklik, dimana hasil produksi sangat minim maka pendapatan yang akan diperoleh sangat kecil maka nelayan dalam hal ini berpeluang untuk miskin (Lein & Setiawina, 2. Keadaan tersebut juga didukung jika dalam rumah tangganya, sumber pendapatan hanya bertumpu pada pendapatan satu anggota keluarga. Sehingga dapat dikatakan bahwa minimnya kontribusi anggota keluarga untuk mencari tambahan pendapatan dalam rumah tangga nelayan dapat menambah peluang kemiskinan nelayan (Lassa. Paulus, & Soewarlan, 2. Kecamatan Jangkar merupakan salah satu dari delapan kecamatan di Kabupaten Situbondo yang mempunyai produksi perikanan tangkap yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan lain. Maka hal ini memungkinkan tingkat pendapatan nelayan di wilayah Kecamatan Jangkar melihat dari produksi yang terus meningkat tetapi hal itu belum dapat mensejahterakan kehidupan rumah tangga nelayan di Kecamatan Jangkar. Hal ini mengakibatkan nelayan atau sebagian dari anggota rumah tangga memilih alternatif lain atau pekerjaan lain. Secara umum, perekonomian di daerah pesisir Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo itu berfluktuasi karena bergantung pada tinggi rendahnya produksi nelayan. Jika produksi tinggi maka tingkat pendapatan nelayan meningkat, sehingga daya beli rumah tangga nelayan juga Begitu pula sebaliknya, apabila produksi rendah maka tingkat pendapatan nelayan juga menurun sehingga mengakibatkan daya beli rumah tangga nelayan juga rendah. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2427-2436 Dari uraian latar belakang, penulis tertarik untuk menganalisis Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo dan untuk mengetahu faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menganalisis tujuan pertama mengenai karakteristik nelayan responden dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan melaut dan nilai pengeluaran rumah tangga (Umar, 2. Penentuan Lokasi dari penelitian ini ditentukan secara sengaja . di Kecamatan Jangkar. Kabupaten Situbondo dan merupakan daerah pesisir dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juli-September 2024. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel random sederhana atau simple random sampling (Marzuki, 2. Untuk pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan relevan. Adapun teknik pengambilan data adalah sebagai berikut: Wawancara Wawancara dalam penelitian ini dilakukan langsung terhadap obyek penelitian yaitu keluarga nelayan juragan. Wawancara dengan responden dilakukan dengan bantuan kuesioner secara langsung oleh peneliti dan menggali informasi secara mendalam agar memperoleh hasil yang Sehingga dalam penelitian ini, peneliti mengarahkan responden untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan oleh peneliti sesuai kuesioner. Observasi Dalam penelitian ini, observasi dilakukan terhadap perilaku ekonomi rumah tangga nelayan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dokumentasi Untuk teknik dokumentasi dimaksudkan sebagai teknik pengumpulan data melalui dokumen atau arsip-arsip dari pihak terkait dengan penelitian. Dengan demikian, dokumen tersebut nantinya dapat dipergunakan sebagai bukti untuk suatu penelitian. Jenis dan Sumber Data Data Primer Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui wawancara langsung dengan nelayan dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Dengan wawancara ini diharapkan akan mendapatkan data yang relevan dan akurat yang sesuai dengan tujuan penelitian (Meleong, 2. Data Sekunder Adapun data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari: C Survey instansi, survey instansi yang dilakukan kepada instansi-instansi yang terkait dengan penelitian seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Situbondo. Kantor Desa Jangkar dan Gedingan, maupun Badan Pusat Statistik Kabupaten Situbondo. C Studi Literatur, yang berupa laporan-laporan hasil penelitian sebelumnya, studi literatur dari browsing internet, maupun data-data jumlah nelayan. Metode Analisis Data Analisis Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional Analisis pendapatan nelayan tangkap tradisional dari usaha penangkapan yaitu selisih antara biaya yang diterima nelayan dengan total biaya yang dikeluarkan nelayan pada saat melakukan kegiatan melaut, sedangkan pendapatan dari non usaha diperoleh dari kegiatan usaha lainnya selain dari hasil melaut yang dilakukan oleh anggota keluarga (Sugiyono, 2. Dirumuskan dalam persamaan Dinamika Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Tradisional: Studi Kasus di Kabupaten Situbondo Dona Wahyuning Laily. Noor Rizkiyah. Ika Sari Tondang. Fatchur Rozci. Nisa Hafi Idhoh Fitriana PendRTNTT = PendUNTT PendNUNTT Keterangan: PendRTNTT = Total Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional PendUNTT = Pendapatan Usaha Nelayan Tangkap Tradisional PendNUNTT = Pendapatan nonusaha Nelayan Tangkap Tradisional Adapun model analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh jumlah tanggungan keluarga, pengalaman kerja, pendidikan nelayan dan jumlah anggota keluarga yang bekerja terhadap pendapatan rumah tangga nelayan di Kecamatan Jangkar Kabupaten Jangkar dirumuskan dalam fungsi: PendRTNTT = F(JTK. PK. PN. UN. DmMPK) Keterangan: PendRTNTT = Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional = Jumlah Tanggungan Keluarga Nelayan Tangkap Tradisional JTK = Pengalaman Nelayan Tangkap Tradisional = Pendidikan Nelayan Tangkap Tradisional = 1 untuk Desa Jangkar, 0 untuk desa lainnya DmMPK Dari fungsi persamaan ini kemudian diubah ke dalam bentuk linear berganda dengan cara melogaritmakan sebagai berikut : Keterangan: PendRTNTT = Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional JTK = Jumlah Tanggungan Keluarga Nelayan Tangkap Tradisional = Pengalaman Kerja Nelayan Tangkap Tradisional = Pendidikan Nelayan Tangkap Tradisional = Umur Nelayan Tangkap Tradisional 0 = Konstanta 1 2 3 4 5 = Koefisien Regresi = Error (Kesalahan pengangg. Analisis Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional Model analisis konsumsi rumah tangga dalam penelitian ini yaitu konsumsi rumah tangga untuk pangan dan non pangan. ConsRTNTT = ConsPngnRTNTT ConsNonPngnRTNTT Keterangan: ConsRTNTT = Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional ConsPngRTNTT = Konsumsi Pangan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisonal ConsNonPngnRTNTT = Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional Dalam penelitian ini untuk melakukan analisis pengaruh pendapatan rumah tangga nelayan tangkap terhadap konsumsi rumah tangga maka digunakan rumus regresi linear sederhana : ConsRTNTT = 0 1 PendRTNTT 2 JTK 3 UN 4 DmMPK AA Keterangan: ConsRTNTT : Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional 0 : Konstanta 1, 2, 3, 4 : Koefisien Regresi PendRTNTT : Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional JTK : Jumlah Tanggungan Keluarga Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2427-2436 DmMPK : Umur Nelayan : 1 untuk Desa Jangkar, 0 untuk desa lainnya : Error . esalahan penggangg. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Nelayan Responden Karakteristik nelayan responden, dilihat dari komposisi umur kisaran tertinggi pada umur 40-49 tahun sebesar 42,86%. Dalam hubungannya dengan kelompok umur produktif, rata-rata umur nelayan responden termasuk usia produktif . mur produktif antara 15-65 tahu. , dimana pada kelompok umur tersebut merupakan kelompok umur yang potensial untuk bekerja bagi seorang tenaga kerja (Febianti. Shulthoni. Masrir, & Safi'i, 2. Pendidikan pada rumah tangga nelayan responden, prosentase terbesar 42,86% pada tingkat SMP. Tidak semua nelayan pada Tingkat pendidikan tersebut lulus atau tamat. Ada beberapa responden yang hanya bersekolah sampai kelas 1 atau kelas 2. Faktor tidak adanya atau kekurangan biaya merupakan masalah yang masih sering ditemui saat itu, selain hal tersebut dari hasil wawancara dengan responden bahwa pendidikaIkn bukan hal yang utama karena bagi mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih penting (Nugraha, 2. Sehingga motivasi mereka untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi masih sangat minim (Sali, 2. Pengalaman melaut dalam sektor perikanan merupakan hal yang penting bagi nelayan, karena dari pengalaman inilah diperoleh keahlian dan keterampilan dalam hal penangkapan ikan sehingga dapat diukur bagaimana cara nelayan tersebut memperoleh penghasilan (Konoralma. Samuel. Masinambow, & Londa, 2. Dengan pengalaman ini pula, nelayan dapat mengetahui kelemahan maupun kekurangan serta peluangpeluang baru bagi profesinya dan bertambahnya pengalaman maka nelayan akan lebih mudah menemukan fishing ground. Rata-rata nelayan memiliki pengalaman melaut berkisar antara 11-20 tahun dengan prosentasi tertinggi 53,06%. Lamanya pengalaman tersebut tentu bukan merupakan waktu yang singkat. Dari kondisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat pada lokasi penelitian sudah lama bertumpu pada sektor Jumlah anggota dalam penelitian ini meliputi kepala keluarga, istri, dan anak yang tinggal dibawah satu atap dan makan dari satu dapur. Rata-rata jumlah anggota keluarga yang terdiri dari 3-4 orang daerah penelitian mencapai 69,39%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa rata-rata keluarga responden di daerah responden termasuk keluarga kecil. Kegiatan menangkap ikan di pesisir Desa Jangkar merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat lokal. Dari hasil observasi penelitian, pekerjaan alternatif bagi nelayan tersebut tidak Jika melaut merupakan mata pencaharian utama maka pendapatan yang diperoleh pun hanya dari hasil melaut. Pengeluaran rumah tangga nelayan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu pengeluran konsumsi pokok pangan dan pengeluaran konsumsi non pokok pangan (Fielnanda & Sahara, 2. Nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga nelayan sebagian besar dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Sebesar 80,7% dari jumlah seluruh pengeluarannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan bagi nelayan juragan di daerah pesisir Desa Jangkar. Sedangkan sisanya baru untuk memenuhi kebutuhan pokok non pangan. Hasil Estimasi Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pandapatan Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional di Kecamatan Jangkar Tabel 1. Hasil Estimasi Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Pendapatan Jumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo Variabel Bebas H t hit Sig. VIF Jumlah Tanggungan Keluarga 0,088911ns 0,65983 0,5928 1,817392 Pengalaman Nelayan 0,003794ns 0,209676 0,8437 2,442920 Pendidikan Nelayan -0,097443** -2,848756 0,0130 1,529783 Umur Nelayan -0,23879ns -1,937658 0,0882 2,48294 Dummy Desa Jangkar 0,574398** 2,78345 0,0287 1,620937 Dinamika Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Tradisional: Studi Kasus di Kabupaten Situbondo Dona Wahyuning Laily. Noor Rizkiyah. Ika Sari Tondang. Fatchur Rozci. Nisa Hafi Idhoh Fitriana Konstanta Adjusted R F Hitung Prob. Chi square 15,42038 0,2918467 3,394824 0,2892 Sumber: Data Primer. Diolah . Keterangan: H : Tanda Harapan : Taraf signifikan dan kesalahan 0,05 . %) atau tingkat kepercayaan 95% : Non signifikan VIF : Jika nilai VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terdapat multikolinearitas, sebaliknya jika nilai VIF lebih besar maka terjadi multikolinearitas Berdasarkan hasil estimasi regresi Tabel 1 maka dihasilkan persamaan regersi fungsi pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo sebagai Nilai intersep/konstanta sebesar 15,42038 pada fungsi pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional menunjukkan bahwa tanpa variabel bebas . umlah tanggungan keluarga, pengalaman nelayan, pendidikan nelayan, umur nelayan dan dummy desa jangka. maka 15,42038. Uji Asumsi Klasik (Uji Multikolinearitas dan Uji Heteroskedastisita. Hasil uji multikolinearitas dengan metode variance inflaction factor (VIF) menunjukkan atau mengidentifikasi bahwa tidak terjadi multikolinearitas, atau menjelaskan bahwa tidak ada variabel yang saling berpengaruh antara variabel satu dengan variabel lain karena nilai VIF masing-masing variabel lebih besar pada 0,1 hal ini dapat dilihat pada Tabel 1. Pengujian heteroskedastisitas dengan aplikasi E-views menggunakan metode Breusch-PaganGodfrey, dengan melihat nilai Prob. Chi-square apabila lebih besar dari alpha maka dapat dinyatakan bahwa H0 diterima atau model yang digunakan tidak bersifat heteroskedastisitas. Dilihat pada tabel 3. 6 nilai Prob. Chi-square sebesar 0,2892 > 0,05 maka dinyatakan bahwa model yang kita gunakan tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengukuran Ketepatan Model Pada uji ketepatan model atau kesesuaian model dari nilai Adjusted R2 menunjukkan bahwa variabel bebas pada fungsi pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional dapat menjelaskan bahwa mempunyai pengaruh sebesar 0,183164 yang berarti bahwa pengaruh jumlah tenaga kerja, pengalama nelayan, pendidikan nelayan, umur nelayan dan dummy Desa Jangkar memberikan kontribusi sebesar 18% terhadap pendapatan rumah tangga nelayan sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan kedalam model (Tabel . Uji Simultan (Uji F-test Statisti. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana variabel bebas secara bersama-sama atau secara simultan berpengaruh terhadap variabel terikat. Pengujian ini menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5% . Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat nilai F hitung sebesar 3,394824 lebih besar dari nilai F tabel yaitu sebesar 2,43 pada tingkat kepercayaan 5% sehingga dapat dinyatakan hasil pengujian H0 ditolak dan H1 diterima. Dari hasil uji ini maka variabel bebas yaitu jumlah tanggungan keluarga, pengalaman nelayan, pendidikan nelayan, umur nelayan dan dummy Desa Jangkar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. Uji Individual (Uji t-test Statisti. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel jumlah tanggungan keluarga, pengalaman nelayan, pendidikan nelayan, umur nelayan dan dummy Desa Jangkar secara parsial atau sendiri-sendiri berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Desa Jangkar Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2427-2436 Jumlah Tanggungan Keluarga Berdasarkan Tabel 3. 6 diketahui bahwa t hitung variabel jumlah tanggungan keluarga yaitu 0,65983 lebih kecil dari nilai t tabel maka dapat diartikan bahwa jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai signifikan pada Tabel 3. 6 yaitu 0,8437 lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat kesalahan 1% . , 5% . atau 10% . maka diartikan bahwa jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Selanjutnya nilai koefisien regresi yaitu sebesar 0,088911 yang berarti bahwa setiap penambahan satu jumlah tanggungan keluarga maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional sebesar 0,088911. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Jumlah tanggungan keluarga merupakan beban tanggungjawab kepala rumah tangga hal ini mendorong agar nelayan lebih meningkatkan pendapatannya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahim dan Hastuti . di pesisir pantai barat Kabupaten Barru bahwa jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan berpengaruh positif terhadap pendapatan rumah tangga nelayan. Pengalaman Nelayan Berdasarkan Tabel 3. 6 diketahui bahwa t hitung variabel pengalaman nelayan yaitu 0,209676 lebih kecil dari nilai t tabel maka dapat diartikan bahwa pengalaman nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai signifikan pada Tabel 3. 6 yaitu 0,8437 lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat kesalahan 1% . , 5% . atau 10% . maka diartikan bahwa pengalaman nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Selanjutnya nilai koefisien regresi yaitu sebesar 0,003794 yang berarti bahwa setiap penambahan satu tahun pengalaman nelayan maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional sebesar 0,003974. Pengalaman nelayan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Pengaruh pengalaman nelayan sangat kecil terhadap pendapatan rumah tangga karena peningkatan lebih kecil dari peningkatan Hal ini sejalan dengan penelitian Arliman . di Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar bahwa pengalaman berpengaruh positif terhadap pendapatan Pendidikan Nelayan Berdasarkan Tabel 3. 6 diketahui bahwa t hitung variabel pendidikan nelayan yaitu -2,848756 lebih besar dari nilai t tabel maka dapat diartikan bahwa pendidikan nelayan berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai signifikan pada Tabel 3. 6 yaitu 0,0130 lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat kesalahan 5% . atau jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat kesalahan 10% . maka diartikan bahwa pendidikan nelayan berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Selanjutnya nilai koefisien regresi yaitu sebesar -0,097443 yang berarti bahwa setiap penambahan satu tahun pendidikan nelayan maka akan menurunkan pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional sebesar 0,086553. Pendidikan nelayan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini sejalan dengan penelitian Rahim dan Hastuti . di wilayah pesisir pantai barat Kabupaten Barru bahwa pendidikan kepala rumah tangga berpengaruh negatif terhadap pendapatan rumah tangga nelayan. Umur Nelayan Berdasarkan Tabel 3. 6 diketahui bahwa t hitung variabel umur nelayan yaitu -1,937658 lebih kecil dari nilai t tabel maka dapat diartikan bahwa umur nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai signifikan pada Tabel 3. 6 yaitu 0,1882 lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat kesalahan 1% . , 5% . atau 10% . maka diartikan bahwa umur nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Selanjutnya nilai koefisien regresi yaitu sebesar -0,023879 yang berarti bahwa setiap penambahan satu tahun umur nelayan maka akan menurunkan pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional sebesar 0,023879. Umur nelayan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Dinamika Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Tradisional: Studi Kasus di Kabupaten Situbondo Dona Wahyuning Laily. Noor Rizkiyah. Ika Sari Tondang. Fatchur Rozci. Nisa Hafi Idhoh Fitriana pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini sejalan dengan penelitian Rahim dan Hastuti . di wilayah pesisir pantai barat Kabupaten Barru bahwa umur kepala rumah tangga berpengaruh negatif terhadap pendapatan rumah tangga nelayan. Perbedaan Wilayah Dummy Desa Jangkar berpengaruh positif terhadap pendapatan nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar pada tingkat kesalahan 5% . Pengaruh positif dummy Desa Jangkar dengan tingkat kesalahan 5% telah sesuai dengan tanda harapan, yaitu dapat diartikan bahwa pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Desa Jangkar lebih besar dari pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Desa lainnya. Hasil Analisis Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional Tabel 2. Hasil Estimasi Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Tangkap Tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo Variabel Bebas t hit Sig. VIF Pendapatan Rumah Tangga 0,028471ns 0,447532 0,8539 1,173297 Jumlah Tanggungan Keluarga 0,285403* 5,747231 0,000 1,309712 Umur Nelayan 0,006499ns 1,740287 0,1300 1,206734 Dummy Desa Jangkar 0,383297* 2,804328 0,0099 1,563498 Konstanta 13,49820 Adjusted R 0,420542 F Hitung 9,823086 Prob. Chi square 0,5041 Sumber: Data Primer. Diolah . Keterangan: H : Tanda Harapan : Taraf signifikan dan kesalahan 0,01 . %) atau tingkat kepercayaan 99% : Non signifikan VIF : Jika nilai VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terdapat multikolinearitas, sebaliknya jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka terjadi multikolinearitas Berdasarkan hasil estimasi regresi Tabel 2 maka dihasilkan persamaan regresi fungsi konsumsi rumah tangga tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo sebagai berikut: LnConsRTNTT=13,49820 0,028471LnPendRTNTT 0,285403JTK 0,006499UN 0,383297DmMPK AA Nilai intersep/konstanta sebesar 13,49820 pada fungsi konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional menunjukkan bahwa tanpa variabel bebas . endapatan rumah tangga, jumlah tanggungan keluarga, umur nelayan dan dummy Desa Jangka. maka konsumsi rumah tangga nelayan tetap sebesar 13,49820. Pendapatan rumah tangga berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini sejalan dengan penelitian (Nurhayati. Baruwadi, & Rauf, 2. di Desa Bintalahe Kecamatan Kabila Bone bahwa pendapatan rumah tangga nelayan berpengaruh positif terhadap konsumsi rumah tangga nelayan. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini sejalan dengan penelitian (Untari. Malino. Ginting, & Fachrizal, 2. di wilayah pesisir Pantai Desa Payum. Kabupaten Merauke. Papua bahwa jumlah anggota keluarga yang ditanggung berpengaruh positif terhadap konsumsi rumah tangga Umur nelayan berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Hal ini sejalan dengan penelitian (Sujarwo. Maulidah, & Setiawan, 2. di Kabupaten Jember bahwa umur nelayan berpengaruh positif terhadap konsumsi rumah tangga Pengaruh positif dummy Desa Jangkar dengan Tingkat kesalahan 5% telah sesuai dengan tanda harapan, yaitu dapat diartikan bahwa konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2427-2436 Desa Jangkar lebih besar dari konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Desa KESIMPULAN Pendidikan nelayan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional sedangkan dummy Desa Jangkar berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional. Jumlah tanggungan keluarga, pengalaman nelayan dan umur nelayan tidak berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. Jumlah tanggungan keluarga dan dummy Desa Jangkar berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional sedangkan pendapatan rumah tangga nelayan tangkap tradisional dan umur nelayan tidak berpengaruh terhadap konsumsi rumah tangga nelayan tangkap tradisional di Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo. DAFTAR PUSTAKA