SYAHADAH: JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN KEISLAMAN Vol. No. 2 2025 hal. https://ejournal. id/index. php/syahadah/about Riwayat Artikel: Dikirim: 30-09-2. Diterima: 08-10-2025 | Diterbitkan: 30-10-2025 | PENAFSIRAN KATA NAFS MENURUT ASY-SYAUKAN DALAM TAFSIR FATH AL-QADR Siti Nur Asiah1. Amaruddin2. Nasrullah3 Universitas Islam Indragiri E-mail: sn. asiah86@gmail. com, amaruddin. asra@gmail. com , anas. banjar@gmail. Abstrak Kata nafs adalah salah satu kata yang sering muncul dalam Al-Qur'an, tepatnya sebanyak 298 kali dalam 267 ayat, yang menunjukkan pentingnya kata ini. Karena kata ini memiliki makna yang berbeda, maka banyak orang melakukan penelitian untuk memahami arti dan turunan kata tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tematik tokoh, khususnya dengan menganalisis kitab tafsir besar Fath al-Qadr yang ditulis oleh Imam Asy-Syaukani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata nafs memiliki 35 bentuk turunan yang berbeda. Bentuk-bentuk ini terdapat di 36 surah, terdiri dari 43 surah Makkiyah dan 20 surah Madaniyah, yang menunjukkan bahwa kata ini tetap relevan dan muncul sepanjang masa turunnya wahyu. Menariknya, ada 15 ayat yang masing-masing mengandung dua kata nafs dengan bentuk yang berbeda. Menurut penafsiran Imam AsySyaukani, makna dari kata nafs sangat luas dan bergantung pada konteks. Kata ini bisa berarti diri (QS. Ali-Imran: . , diri manusia (QS. Al-AnAoam: . , seseorang (QS. Al-AnAoam: , ruh (QS. Al-AnAoam: . , dan jiwa (QS. Al-Fajr: . Selain itu, ia juga memaknai "nafs" sebagai seluruh manusia secara utuh (QS. Al-Maidah: . , bahkan sebagai bagian dalam diri manusia yang menjadi sumber munculnya perilaku (QS. Ar-RaAod: . Analisis ini menunjukkan bahwa nafs bukanlah konsep yang tunggal, melainkan istilah yang memuat berbagai aspek dari keberadaan manusia. Kata Kunci: Nafs. Kitab Tafsir Fath al-Qadr. Imam Asy-SyaukAn. Abstract The word nafs is one of the words that often appears in the Qur'an, precisely as many as 298 times in 267 verses, which shows the importance of this word. Since this word has different meanings, many people do research to understand the meaning and derivatives of the word. This research uses a thematic qualitative approach of figures, especially by analyzing the great tafsir book Fath al-Qadr written by Imam Ash-Syaukani. The results of the study show that the word nafs has 35 different derivative forms. These forms are found in 36 surahs, consisting of 43 Makkiyah surahs and 20 Madaniyah surahs, which shows that this word remained relevant and appeared throughout the time of revelation. Interestingly, there are 15 verses that each contain two words nafs with different forms. According to the interpretation of Imam Ash-Syaukani, the meaning of the word nafs is very broad and depends on the context. This word can mean self (QS. Ali-Imran: . , the human being (QS. Al-An'am: . , a person (QS. Al-An'am: . , ruh (QS. Al-An'am: . , and the soul (QS. Al-Fajr: . In addition, he also interprets "nafs" as the whole of humanity (QS. Al-Maidah: . , even as a part of the human being that is the source of the emergence of behavior (QS. Ar-Ra'd: . This analysis shows that nafs is not a single concept, but a term that contains various aspects of human existence. Keywords: Nafs. Kitab Tafsir Fath al-Qadr. Imam Ash-Shaykh Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr Pendahuluan Al-QurAoan menempati posisi sentral sebagai sumber ajaran Islam yang paling primer dan otentik, yang diyakini oleh umat Muslim sebagai firman Allah SWT yang 1 Kitab suci ini diwahyukan secara gradual melalui perantaraan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun, bukan sebagai sebuah produk budaya atau pemikiran manusia, melainkan sebagai petunjuk . yang abadi untuk seluruh umat manusia. Proses penurunannya yang bertahap . anzlun munajja. bukanlah suatu kebetulan, melainkan mengandung hikmah yang profound, seperti untuk meneguhkan hati Nabi, menjawab dinamika sosial yang muncul, serta memudahkan proses penghafalan dan pemahaman bagi para sahabat. Oleh karena itu, setiap ayatnya tidak dapat dilepaskan dari konteks asbabun nuzul-nya, yang menjadi kunci penting dalam penafsiran. Keotentikan Al-QurAoan, yang terjaga melalui isnad yang mutawatir, menjadikannya rujukan utama dalam menetapkan hukum . yari'a. , akidah, dan akhlak, sekaligus sebagai landasan spiritualitas yang menyeluruh. Sebagai bukti keilahiannya. Al-QurAoan merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang abadi, yang kemukjizatannya . 'ja. tidak hanya terletak pada aspek metafisik semata, tetapi sangat menonjol pada dua dimensi utama: kandungan . dan bahasa . Dari segi kandungan. Al-QurAoan menghadirkan kebenaran ilmiah yang baru dapat diverifikasi oleh sains modern berabad-abad kemudian, narasi sejarah yang akurat tentang umat-umat terdahulu, serta sistem hukum dan etika yang komprehensif dan relevan sepanjang masa. Sementara dari segi bahasa, keindahannya yang tak tertandingi menjadi tantangan terbuka bagi bangsa Arab yang mahir bersastra pada masa turunnya. Keindahan bahasa ini dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi keindahan lafadz . eperti i'rab, fashahah, dan keharmonisan buny. serta keindahan makna . eperti kedalaman filosofis, metafora, dan universalitas pesa. 2 Kombinasi antara kedalaman makna dan keagungan bentuk bahasanya inilah yang menjadikan studi stilistika . ad') Al-QurAoan sebagai disiplin ilmu yang sangat kaya. Lebih spesifik lagi, kekayaan linguistik Al-QurAoan termanifestasi dalam penggunaan diksi yang precise dan multi-dimensi, di mana satu lafadz dapat menyimpan ragam makna yang luas, tergantung pada konteks kalimat . iyaq al-AyA. dan hubungannya dengan ayat Fenomena semantik ini dapat diamati secara jelas pada lafadz "nafs" yang disebutkan berulang kali dalam Al-QurAoan, baik dalam bentuk tunggal . seperti "nafs" maupun jamak . am') seperti "anfus" atau "nufus". Pengulangan ini bukanlah redundansi, melainkan penekanan pada berbagai aspek dari suatu entitas yang kompleks. Sebagai contoh, dalam satu konteks, "nafs" dapat merujuk pada jiwa atau esensi diri manusia, sementara dalam konteks lain, ia dapat berarti hawa nafsu, nyawa, atau bahkan substansi kolektif dari suatu Kajian semantik terhadap perjalanan makna lafadz "nafs" ini membuka cakrawala pemahaman yang lebih holistik tentang konsep manusia dalam Al-QurAoan, yang mencakup dimensi spiritual, psikologis, dan sosial. Merujuk pada penafsiran ulama klasik seperti Asy-SyaukAn, kompleksitas makna "nafs" menjadi semakin nyata. Dalam menafsirkan QS. Ar-RaAod: 11, ia memahami frasa "angfusihim" sebagai "diri mereka sendiri," yang menegaskan prinsip sunnatullah bahwa Salim Said Daulay, dkk. AuPengenalan Al-QurAoanAy. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. Vol. No. 5, h. Manna Al-Qathan. Pengantar Studi Ilmu Al-QurAoan. Terjemahan Aunur Rafiq El-Mazni. Cet. Ke-19 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2. , h. Huzaemah Tahido Yanggo. AuAl-QurAoan Sebagai Mukjizat TerbesarAy. Jurnal Waratsah. Vol. No. 2019, h. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah perubahan nasib suatu komunitas, baik berupa nikmat keselamatan maupun musibah, sangat bergantung pada upaya dan perubahan . yang mereka lakukan pada diri mereka sendiri, khususnya dalam ketaatan kepada Allah. Kemudian, dalam QS. At-Takwir: 7, yang membahas peristiwa hari Kiamat. Asy-SyaukAn mengartikan "nufus" dengan "ruhruh," yang mengindikasikan makna nyawa atau jiwa yang dicabut dan dikumpulkan. Sementara itu, penafsirannya terhadap QS. Asy-Syams: 7 memberikan dimensi yang berbeda lagi, di mana "nafs" dalam konteks sumpah Allah diartikan sebagai jiwa primordial Nabi Adam AS, mewakili asal-usul penciptaan seluruh umat manusia. Interpretasi yang beragam ini menunjukkan kedalaman tafsir yang lahir dari pendalaman terhadap siyaq alkalam. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kajian leksikal terhadap lafadz kunci dalam Al-QurAoan, seperti "nafs," bukanlah pekerjaan yang sederhana, melainkan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan multidisiplin. Keragaman makna yang dimiliki oleh lafadz "nafs" mencerminkan kekayaan konseptual Al-QurAoan dalam mendefinisikan hakikat manusia, yang meliputi aspek individual dan kolektif, jasmani dan rohani, serta potensi baik dan buruk. Pemahaman terhadap semantik Al-QurAoan seperti ini sangat penting bagi seorang peneliti tafsir untuk menghindari penafsiran yang simplistik dan reduktif. Dengan demikian, setiap lafadz dalam Al-QurAoan ibarat permata yang memancarkan cahaya makna yang berbeda dari setiap sudut pandang, dan tugas kitalah sebagai akademisi untuk terus menggali dan mengkontekstualisasikan khazanah keilmuan yang tak pernah kering ini bagi kehidupan kontemporer. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian kepustkanaan atau disebut dengan Library Research yaitu penelitian yang membatasi kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan dan studi dukumen saja tanpa memerlukan penelitian 5 Dengan menggunakan dua sumber data yakni data primer atau sumber utama yang langsung dari subjek yang diteliti dan data sekunder yang merupakan data pendukung selain dari data primer yang dapat menambah wawasan ataupun pengetahuan mengenai pembahasan ini. Adapaun yang menjadi data primernya adalah kitab tafsir Fath al-Qadtr karya Imam Asy-SyaukAn. Sedangkan data sekundernya ialah kamus, buku-buku, skripsi, tesis, serta artikel dan jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dan mendukung dengan pembahasan yang diteliti. Hasil dan Diskusi Definisi Nafs Nafs adalah salah satu kata, yang banyak disebutkan dalam kalam Allah. Penyebutan kata nafs yang beragam pada berbagai ayat dalam Al-QurAoan menimbulkan banyak pemaknaan yang berbeda antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Belum lagi intepretasi dari setiap mufassir dalam penafsiran ayat-ayat tersebut. Kata nafs dalam Al-QurAoan memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung dari konteks ayat yang digunakannya. Secara etimologi, nafs berarti jiwa, diri, atau ruh manusia. Al-QurAoan sangat memperhatikan bagian jiwa manusia, seperti terlihat dari banyaknya penjelasan tentang nafs, yaitu sebanyak 297 kali dalam berbagai ayat. Menariknya, kata nafs termasuk dalam kategori lafe al-musytarak, yaitu kata yang memiliki lebih dari satu makna, tergantung pada konteks penggunaannya. Dalam penggunaannya, nafs bisa berarti manusia secara keseluruhan, yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari tubuh dan pikiran. Selain Nasruddin Baidan. Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. 5 Fakultas Ilmu Agama Islam UNISI. Panduang Penelitian Karya Ilmiah. Tembilahan. FIAI UNISI, 2013. 6 Nabella Dananier. AuKajian Nafs Dalam Al-QurAoan Serta Implementasinya Dalam Konsep Bimbingan Dan Konseling IslamAy. Jurnal Al-Mabsut. Vol. No. 2, 2020, h. 3 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr itu, kata nafs juga bisa berarti keinginan . , hati nurani . , serta jiwa atau ruh yang menjadi pusat kehidupan manusia. Dengan berbagai makna tersebut, konsep nafs dalam Al-QurAoan mencerminkan keberagaman dimensi rohani dan psikologis manusia. Secara bahasa dalam kamus al-munjid, nafs jamaknya nufus dan anfus yang memiliki arti sebagai roh dan diri sendiri. Sedangkan dalam kamus al-munawir disebutkan bahwa kata nafs jamaknya anfus dan nufus itu adalah roh dan jiwa, juga berarti al-jasad . adan atau tubu. , as-syakhs . , as-syahks al-insan . iri oran. , al dzat atau al-ain . iri sendir. Dalam Ensiklopedia Al-QurAoan disebutkan kata nafs berasal dari kata nafasa yang berarti bernafas, artinya nafas keluar dari rongga. Belakangan, arti kata tersebut berkembang sehingga ditemukan arti-arti yang beraneka ragam seperti menghilangkan, melahirkan, bernafas, jiwa, ruh, darah, manusia, diri, dan hakikat. Dalam kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia, nafs juga dipahami sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat jelek. Istilah nafs yang dimaksud disini adalah istilah bahasa Arab yang dipakai dalam Al-QurAoan. Sedangkan dalam kamus lisan al-Aoarab. Ibn Manzur menjelaskan bahwa kata nafs dalam bahasa Arab digunakan dalam dua pengertian yakni nafs dalam pengertian nyawa dan nafs yang mengandung makna keseluruhan dari sesuatu dan hakikatnya menunjuk kepada diri pribadi. Setiap manusia memiliki dua nafs, nafs akal dan nafs ruh. Hilangnya nafs akal menyebabkan manusia tidak dapat berpikir namun ia tetap hidup, ini terlihat ketika manusia dalam keadaan tidur, sedangkan hilangnya nafs ruh, menyebabkan hilangnya kehidupan. Ibn AoAbd Bar mengartikan nafs bisa bermakna ruh dan bisa juga bermakna sesuatu yang membedakannya dari yang lain. Sedangkan menurut Ibn AoAbbas dalam setiap diri manusia terdapat dua unsur nafs, yaitu nafs Aoaqliyyah yang bisa membedakan sesuatu dan nafs ruhiyyah yang menjadi unsur kehidupan. Quraish Shihab mengatakan nafs dalam konteks pembicaraan Al-QurAoan tentang manusia menunjukkan kepada sisi-dalam diri manusia yang memiliki potensi baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk dapat melakukan kebaikan dan keburukan. Menurut Ibnu Sina, nafs adalah kesempurnaan awal bagi jasad . amal al-awwal lin Selain kesempurnaan bagi jasad. Ibnu Sina mendefenisikan dengan makna lain bahwa nafs merupakan substansi rohani yang memancarkan kepada raga dan menghidupkan lalu menjadikannya alat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu, sehingga dengan keduannya ia bisa menyempurnakan dirinya dan mengenal Tuhannya. Lebih detail lagi Achmad Mubarak menjelaskan bahwa nafs berarti jiwa, dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik, sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan buruk, sesuatu didalam diri manusia yang menggerakkan tingkah laku dan sisi dalam manusia yang diciptakan secara sempurna dimana didalamnya terkandung potensi baik dan buruk. Dari sekian banyak pengertian tersebut. Rafy Sapuri menggaris bawahi bahwa nafs . 7 Murni, dkk. AuKonsep Al-Nafs dalam Al-QurAoan menurut Kitab Ibnu KatsirAy, al-Munir. Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Vol. No. Desember 2024, h. 8 Muh. Aidil Sudarmono. AuPemikiran Islam Tentang NafsAy. Jurnal Tajdid: Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan. Vol. No. April 2017, h. 9 Sahabuddin dan M. Quraish Shihab. Ensiklopedia Al-QurAoan: Kajian Kosakata. Jilid 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2. , h. 10 Paisol Burlian. AuKonsep Al-Nafs Dalam Kajian Tasawuf Al-GhazaliAy. Jurnal Teologia. Vol. No. Juli-Desember 2013, h. 11 Zulfatmi. AuAl-Nafs Dalam Al-QurAoan (Analisi Term Al-Nafs sebagai Dimensi Psikis Manusi. Jurnal Mudarrisuna. Vol. No. April-Juni 2020, h. 12 Syah Reza. AuKonsep Nafs Menurut Ibnu SinaAy. Jurnal Kalimah. Vol. No. September 2014. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah memiliki dua kecenderungan yaitu. baik dan buruk, dorongan dan tingkah laku. Keduannya adalah indikasi manusia yang tidak selamanya baik atau selamanya buruk. Dalam Al-QurAoan kata nafs digunakan dalam berbagai bentuk dan aneka makna. Kata nafs dijumpai sebanyak 297 kali, masing-masing dalam bentuk mufrad . sebanyak 140 kali. Sedangkan dalam bentuk jamak terdapat dua versi yaitu, nufus sebanyak 2 kali dan anfus sebanyak 153 kali dan dalam bentuk fiAoil ada 2 kali. Klasifikasi Lafaz Nafs dan turunya ayat dalam Al-QurAoan Jika kita perhatikan setiap kata dalam Al-Qur'an, terlihat jelas bahwa pemilihan katanya sangat tepat dan teliti. Cara menempatkan, bentuk, serta jenis kata yang digunakan sangat sesuai dengan tujuan penyampaian pesan tersebut. Oleh karena itu, dalam usaha memahami Al-Qur'an, diperlukan penguasaan kosakata yang luas dan dalam. Pemahaman ini tidak hanya dilihat dari susunan katanya dalam ayat, tetapi juga dari jenis, bentuk, serta berbagai aspek lainnya yang harus diketahui oleh seorang mufassir. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kata "nafs" muncul sebanyak 297 kali dalam 267 ayat dalam Al-Qur'an. Kata "nafs" dikelompokkan menjadi 35 bentuk turunan dari kata tersebut yang muncul dalam 63 surah dalam Al-Qur'an. Surah-surah dalam Al-Qur'an yang mengandung kata "nafs" ternyata sebagian besar berasal dari surah-surah Makkiyah. Jumlahnya mencapai 43 surah. Sementara itu, hanya 20 surah yang termasuk dalam golongan Madaniyah. Dalam surah-surah Makkiyah, tema-tema seperti iman, kebenaran, kehidupan di akhirat, serta pengembangan kesadaran diri manusia sangat terasa. Karenanya, tidak aneh jika kata "nafs" sering muncul dalam surah-surah Makkiyah. Di sisi lain, meskipun jumlahnya lebih sedikit, kata "nafs" tetap digunakan dalam surah-surah Madaniyah untuk menjelaskan berbagai hal terkait tanggung jawab individu, hukum, dan kehidupan sosial umat Islam. Penafsiran Ayat Al-QurAoan Tentang Nafs Menurut Imam Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr Berikut pemaparan beberapa ayat mengenai lafadz nafs dalam kitab tafsir Fath al-Qadr menurut Imam Asy-SyaukAn. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna sebagai diri [QS. Ali-Imran: . a a a ca a a a a a a a a a aa a a a a a a aa a a a e a aa a a AA aII eE aAONa aII a a aI aeE aI aI E aE aI ACE EO I IeI OIeEI O aIeI O aIeEI OIAIA a a ca a a ca a a a a a caa a a a a a a AacEE EO EE a aOIA a AOIAEI I I aNE AIE EI A Artinya: AuSiapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu . ang meyakinkan kam. Maka Katakanlah . : "Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu. kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang Ay Makna dalam ayat ini adalah diri kami dan diri kamu. Jabir mengatakan: yang dimaksud diri kami dan diri kamu diayat ini adalah Rasullah dan Ali. Turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dan ia menshahihkannya. Ibnu Marduwaih dan Abu NuAoaim didalam Ad-Dalail, dari Jabir, ia menuturkan. AuAl-Aqib dan As-Sayyid datang menemui Nabi Saw, lalu beliau mengajak keduannya memeluk Islam, keduanya berkata. AuKami telah memeluk Islam wahai Muhammad. Beliau bersabda: AuKalian berdua telah berdusta. Jika kalian mau, aku akan beritahukan kepada kalian berdua tentang apa yang menghalangi kalian untuk memeluk Islam. Ay Keduannya menjawab. AuSilahkanAy. Beliau bersabda: 13 Dedi Sahputra Napitupulu. AuElemen-elemen Psikologi Dalam Al-QurAoan Studi Tentang Nafs. AoAql. Qalb. Ruh dan FitrahAy. Psikoislamedia Jurnal Psikologi. Vol. No. 1, 2019, h. 14 Zulfatmi. AuAl-Nafs Dalam Al-QurAoan (Analisi Term Al-Nafs sebagai Dimensi Psikis Manusi. 5 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr Au. mencintai salib, minum khamar dan makan daging babiAy. Jabir melanjutkan. AuLalu beliau mengajak mereka untuk mulaAoanah, maka keduannya pun berjanji untuk melaksanakannya esok hari. Maka . ada waktu yang telah ditentuka. Rasululah Saw pun memegang tangan Ali. Fatimah. Al-Hasam dan Al-Husain, kemudian mengirim utusan untuk kedua orang tersebut, namun keduanya menolak memenuhi dan keduannya mengakui beliau, maka beliau pun bersabda: AuDemi dzat yang telah mengutusku dengan kebenaran, seandainya mereka berdua melalukannya, niscaya lembah itu akan menghuni keduanya dengan apiAy. Berkenaan dengan mereka itu turunlah ayat ayat: (Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kam. Jabir mengatakan: (Diri kami dan diri kam. adalah Rasullah dan Ali. nak-anak kam. adalah Al-Hasan dan Al-Husain. stri-istri kam. adalah Fathimah. Makna kata "diri kami" . dalam penjelasan tersebut khusus merujuk kepada Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Penekanan pada Ali sebagai "diri" Nabi bukan berarti mereka adalah dua orang yang sama secara fisik, melainkan untuk menunjukkan hubungan yang sangat dekat dan kedudukan spiritual Ali yang sangat istimewa di sisi Nabi. Pada masa itu. Nabi hanya membawa keluarga terdekat dan paling suci, yaitu Ahlul Bayt, dan Ali dianggap sebagai bagian dari diri Nabi. Secara ringkas, istilah "diri kami" dalam ucapan Jabir menunjukkan kedudukan dan keistimewaan spiritual Ali bin Abi Thalib di sisi Nabi Muhammad SAW. [QS. Yusuf: . ae a e a a U e a a e a a e a e a ca a a a caa ca a a e e a a e e a e a AaOCE E aI aEE e aOI eO a eN aEAN aEIA aOoe AEI EEIN CE aIE EOOI EOI I aEOIA Ue a u A aIOIA Artinya: Audan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu . hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". Firman-Nya: . an raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku") Makna kalimat: . gar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kcpadak. adalah agar aku menjadikannya khusus bagiku selain diriku. Sebelum itu orang khusus baginya adalah AlAziz. Kata artinya adalah meminta pembebasan sesuatu dari kaitan penyekutuan. Raja berkata seperti itu karena Yusuf sangat berharga, dan kebiasaan raja adalah menjadikan halhal yang berharga sebagai sesuatu yang khusus tanpa yang lain. [QS. Az-Zariyat: . a e a e a a aa e a aea a AAOIA a AO aA eOe IA aEI AE A Artinya: Audan . pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?Ay Maksudnya adalah dan di dalam diri kalian juga terdapat tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah serta kebenaran apa-apa yang dibawa oleh para rasul, karena Allah menciptakan mereka dari air mani, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian 15 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 2, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , 16 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 5, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah menjadi segumpal daging, kemudian menjadi tulang yang dibungkus daging, hingga ditiupkan roh kepadanya. Setelah itu beragamlah bentuk, warna, tabiat, dan bahasa mereka. Kemudian kondisi ciptaan mereka juga dengan sifat yang menakjubkan itu, yaitu berupa daging, darah, tulang, anggota tubuh, indra, saluran-saluran darah dan napas. Tanda-tanda keagungan Allah bisa kita lihat dalam diri manusia sendiri. Cara Allah menciptakan manusia, mulai dari air mani hingga menjadi tubuh yang sempurna, lengkap dengan bagian-bagian tubuh, akal, dan indra, menunjukkan keesaan-Nya. Hal ini juga menjadi bukti bahwa pesan para rasul benar. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna sebagai diri Tuhan [QS. Al-AnAoam : ayat . a Aa e cNA a ca a e a a e a ae a a AE aIA ca AaC eE cE aI eIA ca AacEE E a a aEO aI eA aNA AE aI E aO aIIE eIA AEA ACA AEA AOA AOA AOA a AA AIA a a a a e a e a a e a a e a a a e a e a a a e ca e a e a a a a e e a a AaEO OO aI E aCOI a E O aAO aN E aOI a eO IANI ANI E O aIIOIA Artinya. AuKatakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi. Katakanlah: "Kepunyaan Allah. " Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak berimanAy. (Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayan. Yakni, telah menjanjikan kasih sayang sebagai anugerah dan pemuliaan dari-Nya. Disebutkannya nafs . di sini adalah sebagai ungkapan tentang penegasan janjiNya dan penepisan akan penghalang-penghalangnya. Dalam redaksi kalimat ini terkandung anjuran bagi yang berpaling dari-Nya untuk berbalik kepada-Nya dan menenteramkan kekhawatiran mereka, bahwa Allah Maha Penyayang terhadap para hamba-Nya, tidak menyegerakan siksaan kepada mereka dan Allah menerima tobat mereka. Di antara bentuk kasih sayang-Nya adalah mengutus para rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab dan menunjukkan bukti-bukti. Ayat ini menyatakan bahwa dalam diri Allah terdapat sifat kasih sayang yang Allah sendiri menetapkan rasa rahmat kepada diri-Nya sebagai janji dan hadiah bagi para hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa sifat utama Allah adalah Maha Penyayang, yang memandu manusia melalui para nabi, kitab-kitab, tanda-tanda, serta memberi kesempatan untuk bertobat tanpa terburu-buru dan tanpa penderitaan berlebihan. Dengan demikian, kasih sayang merupakan bagian mendasar dari sifat Allah yang bisa memberikan ketenangan dan memperkuat iman para hamba-Nya. [QS. Al-AnAoam : Ayat . e a a a e a ca a a a a e a e a a U a a e a a a a a a e a e a a e ca a a a a a a a e ca AIA AEA ANA a a a AOa E E aOI O aIIOI aO aI ACE EI EOEI E EI EO IA ao a a caa a a a e a a e a e a a caa a a U e a e a e a a e a caa ca u AIN II aIE aIIEI O aNE s I aII aN OAE AIN AO aOIA Artinya: Auapabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu. Maka Katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, . bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian 17 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 10, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , 18 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 3, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , 7 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan. Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha PenyayangAy. Firman-Nya: (Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayan. , maksudnya adalah Allah mewajibkan itu sebagai bentuk pewajiban keutamaan dan kebaikan. Ada yang berkata. AuMaksudnya adalah. Allah menetapkan itu dalam Lauh Mahfuzh. AyAda yang mengatakan bahwa ini termasuk salah satu perintah Allah SWT. beliau untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang dikehendaki, sebagai kabar gembira tentang kekuasan ampunan Allah dan besarnya rahmat Allah. Firman Allah itu menjelaskan bahwa dalam diri-Nya ada sifat kasih sayang yang sangat besar dan merupakan bagian dari ketentuan-Nya. Allah memberi rahmat kepada diri-Nya sendiri sebagai bentuk keutamaan, kebaikan, dan kasih sayang-Nya kepada makhluk ciptaan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang sangat pengampun dan penyayang, serta memberi kabar baik kepada hamba-hamba-Nya tentang luasnya ampunan dan besar rahmat-Nya. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna seseorang [QS. Al-Furqan: . a ca eAaOa a eO I eI a eOIN E aN UacE aOe aE aC eO aI a eO UiA acO aN eI aOe aE aC eO aI aO aE aO eIEE eO aI E a eI aANIA a e a a a a a U ea a a a aa a U a a U A Uc acOE IA acOE aO eI aEE eOI aI eO acOE aOO acOE I eO UA Artinya: Aukemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya . ntuk disemba. , yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk . sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak . ula untuk mengambi. suatu kemanfaatanpun dan . tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak . membangkitkanAy. Selanjutnya Allah mensifati tuhan-tuhan kaum musyrik dengan kelematran yang sangat, . an tidak kuasa untuk . sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak . ula untuk mengambi. sesuatu kemanfaatan pu. , yakni tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka dan tidak pula mencegah mudharat dari diri mereka. Didahulukannya penyebutan mudharat karena mencegahnya adalah lebih penting daripada mendatangkan manfaat, dan karena tuhan-tuhan itu tidak mampu mencegah mudharat dari diri mereka dan tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri, maka bagaimana bisa mereka berkuasa atas para penyembah mereka?20 Ayat ini mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh bergantung pada sesuatu selain Allah. Karena selain-Nya tidak mampu memberi manfaat atau mencegah kerugian, bahkan bagi diri sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia harus menyadari ketidakmampuan makhluk lain, dan hanya kepada Allah yang Maha Kuasa, manusia seharusnya menyampaikan doa, beribadah, serta memohon perlindungan dalam segala hal. Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr. Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 8, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah [QS. Al-AnAoam: . a a a e aa eAaO aI e a a E cI aO eEIe E eI aOE eI a a UE cI eIE eI aO aC acA eO aI a aE eOE eI aO eO aO aO eI a eOIaEIA a a a a e a e a a a a e ca a a a e a a e ca a a a a e a e a a e a e a a a a e a e a a a AaEC OO aIEI NCEO aNI EO IA aI ONI EOO EIO O aNO EOA a a a aea a caa AIA a aN eI IN eI EI eO E aA a eO aIA Artinya: AuHai golongan jin dan manusia. Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri Kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafirAy. Firman-Nya: . ereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri. "), adalah pernyataan dari mereka bahwa hujjah Allah berlaku atas mereka dengan diutusnya para rasul kepada mereka. Redaksi ini adalah jawaban atas pertanyaan yang diperkiraan, jadi ini merupakan redaksi kalimat permulaan. (Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafi. Ini merupakan kesaksian lainnya dari mereka mengenai diri mereka sendri, bahwa sewaktu di dunia mereka adalah orang-orang yang mengingkari para rasul yang diutus kepada mereka. Demikian juga dengan bukti-bukti yang didatangkan kepada mereka. Penjelasan seperti ayat ini telah dipaparkan, pada pemyataan mereka yang mengakui kekufuran mereka sendiri, seperti perkataan mereka: (Demi Allah. Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Alla. (QS. AI An'am 16:. Hal ini diartikan bahwa mereka pada sebagian sisi mangakui Hari Kiamat, namun pada sebagian sisi lainnya mengingkari, karena panjangnya hari tersebut, kacau balaunya hati dan akal pada saat itu serta tertutup dan buntunya pemahaman mereka pada saat itu. Ayat ini menjelaskan bahwa suatu saat seseorang akan menjadi saksi atas perbuatan dan kepercayaannya sendiri. Mereka tidak bisa menyangkal lagi kesalahan dan ketidakpercayaan yang pernah mereka lakukan di dunia ini, bahkan meskipun dulu mereka menolak para rasul dan mengabaikan tanda-tanda kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia akan dihadapkan pada pertanggungjawaban, dan pengakuan akan kebenaran itu muncul secara alami dari hati mereka sendiri, menjadi bukti yang tidak bisa ditolak di hadapan Allah. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna ruh [QS. Al-AnAoam: . a Aa e a ac e a a a a NA eAacEE E U a eO aC aE a eO aO EaacO aO aE eI aO eO a aE eON a eO U acO aIIA e aa a a a a AOII EI aaI aI AO EOA a a a ea a ea a a a aa aANA ANA AOE eO eO a a E aE aI eOI aA eO aI a a E aI eO aA ACE aI aE aIE aIe I aE acEEA e a a e a e a e a a a e a e a e a e e e a e a a a a a e a a A a eO aI a aA A E aN eO aI aIA AOe O aO aNIoe aOe IAEI EOOIA a AOEIEOaiE A a e a e a e a a a e a e a e a a c a e a e a Aa e a e a a e a e a a a NA AacEE O E aC OEII I O aN E aOIA a AEII COEOI EOA Artinya: Audan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya". Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah. 21 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr. 9 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, . ambil berkat. : "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah . yang tidak benar dan . kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNyaAy. Firman-Nya, (. ambil berkat. , "Keluarkanlah nyawamuA. , maksudnya adalah sambil berkata AuKeluarkanlah nyawa kalian dari tekanan-tekanan yang kalian hadapi. " Atau, "Keluarkan nyawa kalian dari tangan kami dan lepaskanlah dari siksaan ini. " Atau. Au. eluarkanlah nyawa kalian dari jasad kalian dan serahkanlah kepada Kami untuk Kami "22 Ayat ini menjelaskan bahwa ruh sepenuhnya berada di tangan Allah. Manusia tidak bisa mengendalikan atau melepaskan ruhnya sendiri. Ketika saat ajal tiba, ruh hanya bisa pergi dengan izin-Nya, yang menunjukkan bahwa hidup dan mati semuanya diatur oleh Allah. [QS. At-Takwir: . a ca a e a a enAaOa EIA eO a caOA Artinya: Audan apabila ruh-ruh dipertemukan . engan tubu. Ay (Dan apabila ruh-ruh dipertemukan . engan tubu. ) Yakni: disatukan antara orang yang shalih dengan orang yang shalih di surga dan orang yang jahat dengan orang yang jahat di Atha berkata: Ruh-ruh orang-orang beriman dikawinkan dengan para bidadari, dan ruh-ruh orang-orang kafir disatukan dengan syaitan-syaitan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa disatukan semua jenis dengan jenis lainnya dalam kekuasaan, sebagaimana di dalam firman Allah, "Kumpulkanlah orang-orang yang lalim beserta teman sejawat rnerekaAy (QS. Ash-Shaaffaat: . Ikrimah berkata: Firman A1lah, "Dan apabita ruh-ruh dipertemuftan . engan tubu. ," yakni: ruh-ruh disatukan dengan badan. Al-Hasan berkata: Setiap manusia dipertemukan dengan kelompoknya, yahudi dengan yahudi, nasrani dengan nasrani, majusi dengan majusi, semua yang menyembah selain Allah disatukan dengan kelompok lainnya yang sejalan dengan mereka, orang munafik dengan orang munafik dan orang-orang yang beriman dengan kalangan orang-orang yang beriman. Ada pendapat lain yang menyatakan maksudnya disatukan antara yang menyesatkan dengan yang disesatkannya, dari kalangan syaitan maupun manusia, dan disatukan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang mengajaknya kepada ketaatan, dari kalangan para nabi dan orang-orang yang beriman. Ada pula yang mengatakan maksudnya disatukan antara jiwa-jiwa dengan amal perbuatannya. Ayat ini menjelaskan bahwa setiap ruh akan dipertemukan sesuai dengan kondisi dan perbuatan manusia tersebut. Ruh orang yang beriman akan bergabung dengan orangorang beriman lainnya dan mendapatkan kehormatan. Sementara itu, ruh orang yang kafir dan berdosa akan berkumpul dengan sesama orang kafir serta para setan. Beberapa ruh juga akan dipertemukan dengan perbuatan dan hasil amalnya. Hal ini menunjukkan bahwa ruh tidak akan terlepas dari akibat perbuatan seseorang di dunia, melainkan akan kembali ke kelompok, amal, dan balasan yang sesuai dengan ketentuan Allah. 22 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr. 23 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 12, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah Penafsiran lafaz nafs yang bermakna jiwa [QS. Al-Fajr: . e ca a a a ca e e aoAOeacO aN EIA a E aI aIOaiIA Artinya: AyHai jiwa yang tenangAy. Patron "wahai jiwa yang tenangAy. AoYang tenangAo adalah . yang tenang dan kokoh dengan keimanannya serta tauhid kepada Allah, yang menghubungkan dengan keteguhan keyakinan karena keraguan tidak mencampurinya dan kebimbangan tidak mencemari Al-Hasan berkata: "Ia adalah . yang beriman, yang yakin . engan " Dan Mujahid berkata: Au. yang rela dengan segala ketetapan Allah yang menyadari bahwa segala sesuatu yang keliru tidak akan menimpanya, begitu juga apa yang menimpanya bukanlah atas kekeliruan-Nya" Muqatil berkata: "bahwa . iwa it. adalah yang beriman dan yang tenang. " Ibnu Kaysan berpendapat: Au. yang tenang dengan menyebut . Allah. " Al-Mukhlishah berkata: "(Jiw. yang tenang karena ia telah diberi kabar gembira dengan adanya surga ketika kematiannya dan ketika kebangkitannya. "24 Jiwa yang tenang adalah jiwa yang percaya dan yakin sepenuhnya kepada Allah. tidak terganggu oleh keraguan, tidak gentar oleh kekhawatiran, dan selalu bersyukur atas ketetapan Allah. Jiwa ini merasa tenang ketika mengingat Allah, sabar menghadapi keputusan-Nya, dan mendapatkan berita gembira tentang surga ketika meninggal dunia dan saat bangkit kembali. [QS. Asy-Syams: . a AaO aI eA acO aI a NOA enAONA Artinya: Audan jiwa serta penyempurnaannya . Ay. Pembahasan mengenai "may di sini ayat tersebut sama dengan yang sebelumnya. Yang bermakna menciptakannya, membentuknya, menyempurnakan anggota-anggota Atha mengatakan: Aumakna umumnya adalah kumpulan apa-apa yang diciptakan dari jenis jin dan manusia, adapun nakiroh adalah sebagai tafkhim, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah jiwa Adam. Kata Aumay dalam ayat tersebut mengacu pada penciptaan jiwa, yaitu proses Allah yang membentuk dan menyempurnakan manusia sejak awal, terutama jiwa Nabi Adam. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa manusia merupakan ciptaan Allah yang sempurna, sebagai sumber kehidupan dan dasar bagi semua makhluk, baik manusia maupun jin. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna totalitas manusia [QS. Al-Maidah: . a a a a a a a e a a a ea a ea a a a caa a AaI eI aE aEEu E eI EO a aI e eO a a a eOE IN aI eI CE IA U a eO a IA s eO A a sA ca a e a a caa a a a a e a e a a U e a a ca a a a a caa a a a AEIA aO E e a AEII CE EI aIO OII ON AEIIe OA ae a a a e a e a e c U e a ca caa a c a e a a a a e a e a a e a a a U e a A aIOOEC NI EI aE aOI a I aI E aO aIINI aEE aAO E aA a a e a AE aI aA eOIA Artinya: Auoleh karena itu Kami tetapkan . uatu huku. bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu . orang lain, atau bukan karena Asy-SyaukAn. Fath Al-QadrA h. Asy-SyaukAn. Fath Al-QadrA h. 11 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr membuat kerusakan dimuka bumi. Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia. Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan . keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguhsungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumiAy. Patron . ahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusi. , maksudnya adalah satu jiwa di antara jiwa-jiwa ini. ukan karena orang itu . orang lai. , maksudnya adalah bukan karena orang itu membunuh orang lain yang mengharuskan qishash. Berarti ini tidak mencakup pembunuhan seseorang yang telah membunuh orang lain sebagai qishash. 26 Ayat ini mengatakan bahwa membunuh seseorang tanpa alasan yang benar memiliki dampak sama beratnya dengan membunuh seluruh umat manusia. Ini menunjukkan betapa berharganya nyawa manusia menurut Allah, sehingga setiap jiwa harus dijaga dan dihormati secara penuh sesuai dengan nilai kemanusiaannya. [QS. Al-Qasas: . ca ca a a a eaEacIe eI a a eI acO e a E a eO aN aO a a UcO E aN aIoa aCE aO aI eO eO a eO a eI a eC aEIOA ae a e U ea a e a a a a ae a aa a a e a a e a ca a e a e ca AEI CE IA aEI ane aI aO aE e I EOI aAO E a OI aOA a a a e a e e AI E eOI aI aI E aIA aE a eOIA Artinya: AoMaka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: "Hai Musa. Apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri . , dan Tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang Mengadakan perdamaian". Patron Au. usuhnya berkata, "Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?)Ay. Orang yang mengatakan ini adalah orang Israil itu, ketika mendengar Musa mengatakan kepadanya. esungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata . ) dan melihatnya hendak memegang orang Qibthi kemarin mengiranya akan memukulnya, maka dia berkata kepada Musa, . pakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?). Ketika orang Qibthi tersebut mendengar itu, dia menyebarkannya, padahal sebelumnya tidak seorang pun dari orang-orang Fir'aun yang mengetahui bahwa Musalah yang telah membunuh orang Qibthi kemarin, sampai orang Israil itu menyebarkannya. Demikianlah yang dikatakan oleh mayoritas mufassir. Ada juga yang mengatakan bahwa yang mengatakan . pakah kamu bermaksud hendak membunuh, sebagaimana kamu kemarin telah membmuh seorang manusia?) adalah orang Qibthi itu, dan dia telah mengetahui berita tersebut dari orang Israil itu. Ini penafsiran yang benar, karena oramg Qibthi ini telah disebutkan sebelum ini tanpa adanya pemisah, karena memang dia itulah yang dimaksud dengan . usuh keduany. , yakni musuh Musa dan orang Israil itu, dan tidak ada hal yang mengharuskan untuk menyelisihi zhahirnya, maka tidak perlu menafsirkan bahwa orang yang beriman kepada Musa yaitu yang meminta tolong kepadanya pada kali yang pertama dan pada kali yang kedua dia juga yang menyebarkan berita itu. Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr, jilid 3A h. 27 Asy-SyaukAn. Fath Al-QadrA h. Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah Kisah ini menunjukkan bahwa satu kata atau tindakan seseorang bisa berdampak besar terhadap kehidupan orang lain. Dalam peristiwa Musa, kabar tentang pembunuhan yang menyebar akhirnya mengungkapkan rahasia dan memengaruhi keamanannya. Hal ini mengajarkan bahwa manusia saling terhubung satu sama lain, sehingga setiap ucapan atau perbuatan perlu dijaga, karena bisa memengaruhi kehidupan seseorang secara menyeluruh. [QS. Al-Qasas: . aa e e a a a a a ea e a e a a c ACE a a c a aI eO CE aII aN eI IA U AA IacOCE eO aIA Artinya: AuMusa berkata: AuYa Tuhanku sesungguhnya aku telah membunuh seseorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhkuAy. Setelah Musa mendengar firman Allah SWT, bahwa itu adalah dua mukjizat. akan ditunjukkan kepada Fir'aun, dia memohon kepada-Nya agar meneguhkan hatinya, maka (Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah mernbunuh seseorang manusia dari golongan mereka. "), yakni orang Qibthi yang dibunuhnya. 28 Peristiwa Musa yang pernah terjadi dan membunuh seorang Qibti menunjukkan seberapa berharganya sebuah nyawa manusia. Hanya membunuh satu orang saja sudah menjadi beban yang berat dan terus dirasakan sepanjang hidup. Hal ini membuktikan bahwa setiap jiwa memiliki nilai yang sangat tinggi, dan sesuai dengan semangat kemanusiaan, kita harus selalu menjaga dan hormati kehidupan manusia secara utuh. Penafsiran lafaz nafs yang bermakna sebagai sisi dalam manusia yang melahirkan [QS. Ar-Rad: . a e ae a a ea e a e ANA a a e a e c U a c a a a acEE aE aO a cO a IA a AacEEacI NA a a AEN I aC aII O aI OO aN O aII E aAN OAOIN aII I aA a A aC eOI a NO aO a cO a eO aI a eI aAN eI aOa ae a a NA a AacEE aC eOI a eO U aA aE aI aac E NA AoeO aI E aN eIA a a a s a s a ca e e a e c AEA s AaII O aIN aII OA Artinya: Aubagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain DiaAy. Maksudnya adalah, sampai mereka menaati Allah. Maknanya adalah, tidak ada yang dapat mengambil nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum hingga mereka sendiri yang merubah kebaikan dan amal shalih yang ada pada mereka atan merubah fitrah yang telah Allah fitrahkan kepada mereka. Ada juga yang mengatakan, bahwa maksudnya bukan berarti tidak akan ada adzab yang menimpa seseorang hingga dia berdosa, akan tetapi terkadang turun musibah karena dosa-dosa orang lain, sebagaimana disebutkan di dalam hadits, bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, dia berkata, "Apakah kami bisa binasa padahal di antara kami terdapat orang-orang shalih?" Beliau menjawab:AyYa, jika banyak terjadi keburukanAy. Nikmat Allah tidak akan lenyap sendiri, tapi bisa hilang karena manusia yang merusaknya dari dalam dirinya sendiri. Ketika hati dan jiwa mulai menjauh dari fitrah dan amal yang baik, maka timbul perilaku yang buruk, yang akhirnya membawa musibah. Bahkan, keburukan seseorang bisa memengaruhi seluruh masyarakat jika tidak diatasi. Hal 28 Asy-SyaukAn. Fath Al-QadrA h. 29 Asy-SyaukAn. Fath Al-QadrA h. 13 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Penafsiran Kata Nafs Menurut Asy-SyaukAn Dalam Tafsir Fath Al-Qadr ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hati dan perbuatan manusia agar nikmat Allah tetap terjaga. [QS. Al-Anfal: . caa a e a e a a e a c a a Aa a aac N a a e a a a a c U c e a U a e a a a a a a e a NA A aEE aI acEE EI OE I aO aII IIN EO CO sI O O aOO I aIA a aNIoa OIA aANA u aoAacEE a aI eO U aE eO UIA Artinya: Au. yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahuiAy. Patron . ingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendir. yang berupa perihal dan moral dengan mengingkari nikmat-nikmat Allah, tidak mensyukuri kebaikanNya serta meremehkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Demikian ini sebagaimana yang diberlakukan terhadap Fir'aun beserta para pengikutnya dan umat-umat sebelum mereka, serta Quraisy dan kaum musyrikin yang seperti mereka. Karena Allah telah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan di dunia dan menganugerahi mereka dengan mengirimkan para rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada Namun mereka justru menyikapi nikmat-nikmat ini dengan kekufuran, maka mereka berhak mendapat perubahan nikmat karena mereka telah merubahnya sendiri, padahal semestinya itu dijalani dan diamalkan dengan mensyukuri dan menerimanya. Ibnu Abu Hatim dan Abu Asy-syaikh meriwayatkan dari As-Suddi mengenai firman-Nya: Au(. yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendir. Ia berkata. AuNikmat Allah adalah Muhammad SAW. Allah menganugrahkan beliau kepada suku Quraisy, namun mereka kufur sehingga Allah memindahkan beliau kepada golongan Anshar. Ay31 Ayat ini menyatakan bahwa perubahan keberkahan dari Allah terjadi karena kondisi hati seseorang. Ketika hati seseorang penuh dengan ketidakpatuhan, tidak bersyukur, dan meremehkan perintah Allah, maka timbul perbuatan buruk yang menghilangkan kebaikan. Contohnya seperti FirAoaun. Quraisy, dan umat-umat sebelumnya, mereka diberi nikmat besar berupa para nabi dan kitab, namun justru menolaknya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia berasal dari kondisi hatinya: jika hati bersyukur dan taat, nikmat tetap ada tetapi jika tidak bersyukur, nikmat akan lenyap. Kesimpulan Makna nafs dalam Al-QurAoan secara umum bisa diartikan sebagai jiwa dan ruh, meskipun terkadang nafs digunakan dengan arti yang lebih dekat pada diri manusia. Nafs bisa merujuk pada diri seseorang secara utuh, yang mencakup tubuh, ruh, akal, dan hati. Dalam konteks ini, nafs menggambarkan individu secara lengkap, termasuk segala kemampuan baik dan Al-QurAoan juga menyebutkan bahwa nafs adalah tempat berkembangnya pikiran, gagasan, keinginan, dan tekad yang selanjutnya mendorong seseorang untuk bertindak. Lafaz nafs dikelompokkan menjadi 35 bentuk derivasi. Terdapat pada 63 surah dalam Al-QurAoan, 30 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-Tafsr. Penerjemah Tim Pustaka Azzam. Tafsir Fath Al-Qadir, cet 1. Jilid 4, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , 31 Asy-SyaukAn. Fath Al-Qadr Al-JAmiAo Baina Fann Ar-RiwAyah wa Ad-DirAyah min AoIlm At-TafsrA Siti Nur Asiah. Amaruddin. Nasrullah 43 surah makkiyah dan 20 surah madaniyah serta ada 15 ayat yang masing-masing mengandung dua lafaz nafs sekaligus dalam satu ayat dengan bentuk yang berbeda. Lafaz nafs dalam AlQurAoan yang menjelaskan berbagai macam makna sesuai pada konsepnya. Imam AsySyaukAn didalam tafsir Fath Al-Qadr. Kata nafs memiliki ragam makna seperti diri diantaranya sebagaimana yang terdapat dalam QS. Ali-Imran: 61. QS. Yusuf: 54 dan QS. AzZariyat: 21. Bermakna diri manusia diantaranya terdapat dalam QS. Al-AnAoam: 12 dan 54. Bermakna seseorang diantaranya terdapat dalam QS. Al-Furqan: 3 dan QS. Al-AnAoam: 130. Bermakna ruh diantaranya terdapat dalam QS. Al-AnAoam: 93. Bermakna jiwa diantaranya terdapat dalam QS. Al-Fajr: 27 dan QS. Asy-Syams: 7. Bermakna totalitas manusia diantaranya terdapat dalam QS. Al-Maidah: 32 dan QS. Al-Qasas: 19 & 33. Bermakna sebagai sisi dalam manusia yang melahirkan perilaku diantaranya terdapat dalam QS. Ar-Rad: 11 dan Al-Anfal: 53. Daftar Pustaka