Kompetensi Mahasiswa Profesi Ners dalam Menghadapi Tindakan Kekerasan di Wahana Praktik Mahasiswa Sultan Gultom1. Gilny Aileen Joan Rantung2* Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Advent Indonesia. Bandung. Indonesia *gilnyaileen@unai. Abstract Nursing students have the potential for violence in places where they carry out their clinical practice, both in hospitals and in communities. Nursing studentsAo competencies in managing workplace violence need to be reviewed to see their readiness before, during, and after the event. The purpose of the study was to measure the competence of nursing students (Ner. in facing violence at hospitals. This was a descriptive quantitative study with a sample number of 55 Ners students. The Management of Workplace Violence Competence Scale (MWVCS) analysis indicated that Nurs students had a very high and a high level of competence. The factors that signified very high competence were 'after the violence in the hospital 'which scored 4. 032 and 'the interactions between nurses and patientsAo which scored 4. While the factors that suggested high competence were 'response to violence' scored 4. 141, 'cognitive to violence' scored 3. 855, 'exploiting facilities of protection' scored 3. 605, 'improving knowledge' scored 194, and 'risk assessment' scored 4. Nursing education needs to prepare the student to anticipate a violent episode and teach them how to prevent the violence. Keywords: Competency factors, nursing students, workplace violence Abstrak Mahasiswa keperawatan memiliki potensi mengalami kekerasan di tempat mereka melaksanakan praktik klinisnya, baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kompetensi mahasiswa perawat perlu dikaji untuk melihat kesiapan mereka sebelum, saat dan sesudah kejadian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kompetensi mahasiswa profesi Ners dalam menghadapi tindakan kekerasan di rumah Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan jumlah sampel 55 orang mahasiswa profesi Ners. Hasil analisis dengan menggunakan kuesioner Management of Workplace Violence Competence Scale (MWVCS) menunjukkan bahwa mahasiswa profesi Ners memiliki tingkat kompetensi tinggi dan sangat tinggi. Faktor yang menunjukkan kompetensi sangat tinggi adalah faktor Aosetelah terjadi kekerasan di rumah sakitAo dengan nilai 4,032 dan Aointeraksi antara perawat dan pasienAodengan nilai 4,57. Sedangkan faktor yang menunjukkan kompetensi tinggi adalah faktor Aorespon terhadap kekerasanAo dengan nilai 4,141. Aokognitif terhadap kekerasanAo dengan nilai 3,855. Aopemanfaatan fasilitas perlindunganAo dengan nilai 3,605. Aopembaharuan pengetahuanAo dengan nilai 4,194, dan Aopengkajian risikoAo dengan nilai 4,024. Pendidikan keperawatan perlu mempersiapkan mahasiswanya dalam mengantisipasi kejadian kekerasan dan mengajarkan mereka cara mencegah kejadian kekerasan Kata kunci: Faktor kompetensi, kekerasan di tempat kerja, mahasiswa perawat ______________________________________________________________________________ JurnalKeperawatanRaflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 ISSN: . 2656-6222, . 2657-1595 DOI 10. 33088/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 22 | JurnalKeperawatanRaflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 PENDAHULUAN Tindakan kekerasan merupakan sebuah bentuk perilaku yang tidak dapat diterima dan ditoleransi dimanapun perilaku ini dilakukan, khususnya apabila terjadi di tempat kerja (Lanthier et al. , 2. Namun demikian, kekerasan yang terjadi di tempat kerja saat ini merupakan masalah global yang makin hari makin berkembang dan memiliki dampak negatif pada mereka yang mengalami dampak kekerasan (Lanthier et , 2. Terdapat berbagai jenis dampak pada kejadian tindakan kekerasan ditempat Dampaknya tidak hanya menyerang pada fisik seseorang melainkan dapat menyerang psikologis juga kepada yang mengalami tindakan kekerasan, dan tentunya bila hal ini terjadi di tempat kerja akan mempengaruhi kualitas kerja seseorang (Minton et al. , 2. Kekerasan di tempat kerja adalah dimana seseorang disakiti bukan hanya dengan kontak fisik melainkan dapat juga dilakukan secara verbal. Kekerasan di tempat kerja juga didefinisikan sebagai kejadian dimana penyerangan, atau pengancaman (Sachdeva et al. , 2. Sektor kesehatan merupakan tempat kerja dengan risiko terjadinya tindakan kekerasan yang sangat tinggi dibandingkan dengan sektor kerja lainnya (Mento et al. , 2. Berdasarkan hasil perhitungan statistik di Amerika Serikat, kejadian kekerasan di sektor kesehatan mengalami peningkatan secara drastis, dari 6. 4 kasus per 10,000 tenaga kesehatan di tahun 2011 menjadi 4 kasus per 10,000 tenaga kesehatan di tahun 2018 (U. Bureau of Labor Statistics. Perawat adalah tenaga Kesehatan yang paling sering mengalami tindakan kekerasan dibandingkan tenaga kesehatan lainnya (Mento et al. , 2020. Vento et al. Selanjutnya, sebuah penelitian di Korea melaporkan bahwa perawat sering kali mengalami tindakan kekerasan dari anggota keluarga pasien . ,8%), sesama perawat . ,6%), dan dokter . 9%) (Park. Hasil tersebut sama dengan hasil penelitian Christlevica et al. yang melaporkan bahwa perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sebuah rumah sakit swasta di Indonesia pernah mengalami kekerasan verbal dari keluarga pasien, pasien, dokter, dan juga teman sejawatnya. Bentuk tindakan kekerasan tesebut adalah dimarahi, dibentak, dan dihina (Christlevica et al. , 2. Para mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan praktik kerja di rumah sakit juga tidak lepas dari potensi mengalami kejadian kekerasan di tempat kerja (Jeong & Lee. Beberapa penelitian melaporkan bahwa mahasiswa perawat mengalami kekerasan secara verbal dan fisik yang kemudian berdampak pada masalah psikologis, seperti ansietas, ketakutan, penurunan kepercayaan diri, marah dan rasa benci yang berlebihan (Hallett et al. , 2021. Hopkins et al. , 2018. Samadzadeh & Aghamohammadi. Warshawski. Tidak sedikit juga dari para mahasiswa yang mengalami tindakan keperawatan (Bakker et al. , 2021. Tee et al. Sultandkk. Kompetisi Mahasiswa Profesi Ners | 23 Penelitian di ranah keperawatan yang mengeksplorasi masalah kekerasan ditempat kerja khususnya di negara maju semakin meningkat pada 10 tahun terakhir (Budden et al. , 2017. Cheung et al. , 2. Namun, penelitian tentang kesiapan mahasiswa perawat dalam menghadapi kekerasan ditempat kerja tidak banyak dilaporkan, khususnya di Indonesia. Para mahasiswa keperawatan melakukan praktik klinis mengetahui bahwa mereka memiliki kemungkinan besar mengalami kekerasan di tempat kerja, maka penelitian terkait dengan kompetensi mahasiswa perawat sangat perlu Hal ini penting sebagai dasar informasi bagi institusi pendidikan terkait mengenai kesiapan mahasiswa dilapangan praktiknya dalam menghadapi hal-hal yang tidak diharapkan, hal ini juga dapat menjadi pertimbangan dalam perancangan kurikulum dan prosedur persiapan mahasiswa turun dalam melaksanakan praktik klinis di rumah sakit maupun di komunitas. METODE Sampel dari penelitian ini adalah mahasiswa profesi Ners yang sedang aktif berkuliah di Universitas Advent Indonesia dan berjumlah sebanyak 55 orang. Penelitian ini merupakan Pengambilan sampel menggunakan teknik Random sampling (Probabilit. Adapun kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang tidak aktif berkuliah dalam program studi Profesi Ners. Pengumpulan data melalui kuesioner dilakukan satu kali dan dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2022. Kuesioner Management of Workplace Violence Competence Scale (MWVCS) yang terdiri dari 40 item pernyataan dengan 5 poin skala Likert dan telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Lu et al. , 2. Nilai AlphaCronbach kuesioner tersebut adalah 0,96 dengan tiap faktornya memiliki nilai 80 sampai 0. 92 (Lu et al. , 2. Kuesioner tersebut bahasakan kedalam Bahasa Indonesia dan kembali di uji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa nilai hitung tiap itemnya lebih besar dari 0. ignifikansi 5%) sehingga semua item dalam angket dinyatakan valid. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner yang telah dialihbahasakan ini adalah reliabel atau konsisten dengan nilai Cronbach 0. Skor untuk masingmasing faktor kompetensi kemudian dibagi menjadi 5 kriteria berdasarkan nilai rata-rata skor: Sangat rendah . ,00-1,. , rendah . ,81 -2,. , cukup . ,61 Ae 3,. , tinggi . ,41-4,. , dan sangat tinggi . ,21-5,. Undangan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dikirimkan kepada semua mahasiswa Profesi Ners yang berjumlah 55 orang melalui aplikasi WhatsApp. Para mahasiswa Profesi Ners yang telah membaca undangan dan informasi penelitian kemudian memberikan respons persetujuan dengan membalas undangan tersebut dan kemudian dilanjutkan dengan pengisian kesukarelaannya dalam berpartisipasi di penelitian ini. Kuesioner yang ditampilkan dalam bentuk Google form kemudian dikirimkan kepada semua responden 24 | JurnalKeperawatanRaflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 Data selanjutnya di analisis dengan menggunakan SPSS versi 26. HASIL Berikut ini merupakan hasil penelitian mengenai karakteristik responden. Tabel 1 Karakteristik responden mahasiswa Karakteristik Pria 23,60 Wanita 76,40 3,60 69,10 >24 27,30 Jenis Kelamin Usia . Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas sampel berjenis kelamin perempuan, yaitu sebesar 76,40% dan didominasi oleh mahasiswa yang mempunyai rentan usia di umur 21-23 tahun sebesar 69,10%. Tabel 2. Analisis faktor kompetensi Faktor Kompetensi Setelah terjadi kekerasan di rumah sakit Mean 4,023 Interpretasi Sangat tinggi Interaksi perawat dan pasien Respons terhadap kekerasan Kognitif tentang kekerasan Pemanfaatan fasilitas 4,57 4,141 3,855 3,605 Sangat tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Pembaharuan Pengetahuan 4,194 Tinggi Pengkajian risiko 4,024 Tinggi Hasil penelitian pada Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor kompetensi pada saat setelah terjadi kekerasan di Rumah Sakit menunjukkan bahwa mahasiswa profesi Ners memiliki kompetensi yang sangat tinggi dengan nilai mean 4,023 karena skor tertinggi untuk kategori sangat tinggi adalah 4,21-5,00. Pada faktor interaksi perawat dan pasien, mahasiswa profesi Ners juga memiliki kompetensi yang sangat tinggi, dengan nilai mean 4,57. Untuk faktor respons terhadap kekerasan, mahasiswa profesi Ners memiliki kompetensi tinggi dengan nilai mean 4,141. Begitupula untuk kompetensi mahasiswa profesi Ners berada pada tingkatan tinggi, yaitu dengan nilai mean 3,855. Faktor pemanfaatan fasilitas perlindungan pada kompetensi mahasiswa profesi Ners memiliki nilai mean 3,605, yang artinya tingkat kompetensi mereka berada pada kategori tinggi. Nilai mean untuk faktor pembaharuan pengetahuan 4,194, kompetensi untuk faktor ini adalah tinggi. Pengkajian risiko sebagai faktor kompetensi terakhir, menunjukkan nilai mean 4,141, yang interpretasinya adalah pada tingkat kompetensi tinggi. PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur sejauh mana tingkat kompetensi mahasiswa perawat profesi Ners dalam tindakan kekerasan di tempat kerja. Dalam penelitian ini terdapat tujuh faktor kompetensi yang dinilai, yaitu faktor kompetensi setelah terjadi kekerasan, interaksi perawat dan pasien, respons terhadap kekerasan, kognitif tentang Sultandkk. Kompetisi Mahasiswa Profesi Ners | 25 perlindungan, pembaharuan pengetahuan, dan pengkajian risiko. Hasil evaluasi faktor kompetensi setelah terjadinya kekerasan dan faktor interaksi perawat dan pasien pada mahasiswa perawat profesi Ners adalah sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa profesi Ners telah memahami apa yang perlu mereka lakukan setelah mengalami tindakan kekerasan di lahan praktiknya. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Maquibar . semakin banyak para perawat berlatih dan meningkatkan pengetahuan maka mereka mengindentifikasi kasus (Maquibar et al. Martinez . menekankan pentingnya keterampilan berdasarkan bukti dalam menghadapi kekerasan di lapangan kerja atau lahan praktik bagi para mahasiswa Keterampilan ini bisa didapatkan melalui program simulasi yang dilakukan di Selanjutnya, simulasi dapat membantu para mahasiswa keperawatan untuk dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, empati, kemampuan untuk menghadapi pasien yang agresif secara verbal, mampu membuat batasan-batasan personal, dan mampu untuk mencari bantuan dari orang lain saat dan setelah terjadinya tindakan kekerasan (Martinez, 2. Selain itu, penelitian lain oleh Chan dan Lai . menekankan bahwa pengalaman dan keterampilan komunikasi para mahasiswa bermanfaat untuk mencegah kebersinggungan yang dapat mengakibatkan terjadinya pertikaian di lahan praktik. Mahasiswa profesi Ners menunjukkan kompetensi tinggi untuk beberapa faktor berikut: faktor respons terhadap kekerasan, kognitif tentang kekerasan, pemanfaatan pengetahuan, dan pengkajian risiko. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tee et al. yang melaporkan bahwa mahasiswa keperawatan di Inggris umumnya sudah dapat untuk melaporkan kejadian kekerasan yang terjadi di tempat kerja, artinya mereka sudah dapat untuk merespons kekerasan yang terjadi kepada mereka, walaupun dampak dari kejadian tersebut tetap berpengaruh secara negatif bagi para mahasiswa keperawatan (Tee et al. , 2. Penelitian oleh Fetherson et al. melaporkan bahwa kurikulum yang tepat akan membantu mahasiswa perawat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menghadapi situasi dan kondisi yang kompleks dan tidak terduga (Fetherston et al. , 2. Morphet et . mengatakan bahwa langkahlangkah yang dilakukan untuk mengurangi kekerasan di tempat kerja adalah dukungan pasca insiden, pembentukan pembekalan kelompok, dan peningkatan akan pentingnya Langkah-langkah penting untuk dipahami dan dilaksanakan oleh institusi pendidikan, khususnya dalam mengkaji risiko kekerasan dan mengurangi kejadian kekerasan di tempat kerja ataupun di lahan praktik (Morphet et al. , 2. Penelitian lain juga mendukung tentang pengkajian risiko, penelitian oleh PyrezFuentes et al. mengatakan bahwa efikasidiri . elf-efficac. adalah yang paling berpengaruh dalam mengkaji risiko di 26 | JurnalKeperawatanRaflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 tempat kerjanya tersebut adalah yang paling mempengaruhi untuk meningkatkan efikasi diri dan partisipasi perawat dalam tempat kerjanya walau stres dapat mengurangi efek dari efikasi diri ini (Pyrez-Fuentes et al. Penelitian oleh Sanner-Stiehr . melaporkan bahwa intervensi latihan kognitif yang mereka lakukan terhadap 129 mahasiswanya yang dilakukan selama 3 bulan efektif dalam meningkatkan efikasi diri mereka. Hasil tersebut mendukung penelitian ini bahwa para mahasiswa sudah dapat merespons kognitif mereka dan dapat memasuki tempat bekerja mereka (SannerStiehr, 2. Kingston et al. dalam penelitiannya mengatakan bahwa para pendidik memiliki peranan untuk menyadari para mahasiswa untuk pengembangan dan perlindungan diri, mahasiswa sudah mengetahui cara melindungi diri sendiri dalam pemenuhan perlindungan diri ini berarti sesuai dengan penelitian ini bahwa para mahasiswa sudah bisa memanfaatkan fasilitas yang digunakan untuk melindungi dirinya sendiri (Kingston et al. , 2. Penelitian oleh Tobase et al. mengatakan bahwa metode baru seperti kursus online untuk mengajar para mahasiswa perawat mengenai Basic Life Support (BLS) ini terbukti efektif karena para mahasiswa yang diajari mampu untuk menerapkan prosedur. Hal ini berarti bahwa pembaharuan pengetahuan sudah terpenuhi dan selaras dengan penelitian ini. Metode diperbaharui agar para mahasiswa dapat menerima dan menerapkannya ilmu dengan lebih baik (Tobase et al. , 2. Pendidikan mempertimbangkan adanya kurikulum yang menunjang kesiapan mahasiswa perawat dalam menghadapi kejadian kekerasan, dan menggunakan metode simulasi sebagai cara untuk mengajarkan dan mengevaluasi kompetensi, agar dapat mengimplementasi apa yang mereka dapat dengan baik. Selain itu, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mahasiswa keperawatan terkait dengan faktor-faktor kompetensi yang harus mereka miliki dalam menghadapi kejadian tak terduga, dalam hal ini kekerasan. Kami para peneliti menyadari bahwa penelitian ini Salah kekurangan dari penelitian ini adalah cara pengukuran kompetensi yang hanya dinilai berdasarkan kuesioner, dan hasil yang didapatkan dari kuesioner tersebut belum tentu dapat menggambarkan kompetensi mahasiswa secara realitas bila menghadapi tindak kekerasan tak terduga yang terjadi di tempat kerja. KESIMPULAN Kekerasan di tempat kerja merupakan peristiwa tidak dapat diduga dan dapat sewaktu-waktu. Mahasiswa keperawatan, khususnya mereka yang sedang melaksanakan praktik klinis mengalami tindakan kekerasan. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, mahasiswa profesi Ners telah memiliki kompetensi yang sangat tinggi dan tinggi di tiap faktor-faktor kompetensi yang dinilai. Hal ini menunjukkan bahwa secara tertulis, mereka siap dalam menghadapi kejadian kekerasan di wahan praktiknya, dan mampu untuk mengatasi dan menanggulangi Sultandkk. Kompetisi Mahasiswa Profesi Ners | 27 kejadian tersebut sesaat ataupun setelah menghadapi tindakan kekerasan. Penelitian lanjutan terkait dengan kompetensi dan kesiapan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi kekerasan perlu dilakukan, khususnya dengan melihat hubungan dari tiap-tiap faktor kompetensi yang ada dan karakteristik dari tiap partisipannya. DAFTAR PUSTAKA