COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 1-11 id/index. php/CIJGC INTERNALISASI NILAI-NILAI INDIGENOUS LAMPUNG DALAM PRAKTIK KONSELING MULTIKULTURAL Nedi Kurnaedi Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung email: nedikurnaedi22@gmail. Info Artikel ________________ Riwayat Artikel Diterima: Juni 2020 Disetujui: Juni 2020 Publikasi: Juni 2020 ________________ DOI : Abstrak ___________________________________________________________________ Isu multikultur menjadi sebuah isu yang sangat digandrungi dan penting dalam perkembangan dunia Bimbingan Konseling, terutama dalam praktik konseling Keberagaman budaya yang ada di Indonesia menjadi suatu hal yang sangat tepat ketika konselor mampu mengembangkan dan memasukkan nilai-nilai budaya dalam praktik konseling multikultural. Salah satu nilai budaya yang bisa digunakan adalah memadukan konsep nilai budaya Lampung . yang mencakup 4 hal yaitu pasenggiri, nemui nyimah, nengah nyapur dan sakai sambayan. Konselor sebagai pelaksana konseling harus benar-benar mempunyai kesadaran . akan keberagaman budaya yang ada. Maka selayaknya konselor harus mempunyai kompetensi yang baik dalam cakupan multikultural, yaitu kesadaran . , pengetahuan . dan keterampilan . Kata Kunci: Indigineous. Konseling Multikultural. Piil. Kompetensi Konselor Abstract The issue of multiculture is an issue that is very loved and important in the development of the world of Counseling Guidance, especially in the practice of multicultural counseling. Cultural diversity in Indonesia is a very appropriate thing when counselors are able to develop and incorporate cultural values into the practice of multicultural counseling. One of the cultural values that can be used is to integrate the concept of Lampung cultural values . which includes 4 things, namely pasenggiri, nemui nyimah, nengah nyapur and sakai sambayan. Counselors as implementators of guidance counseling must truly have awareness of the diversity of cultures that exist. So the counselor should have good competence in multicultural scope, namely awareness, knowledge and skills. Keyword: Indigenous. Multikultural Counseling. Piil. Counselor Competences A 2020 Universitas Tunas Pembangun Surakarta e-ISSN Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . PENDAHULUAN Perkembangan zaman yang memasuki era revolusi industri 4. 0 mendorong setiap individu untuk mampu berkembang dan beradaptasi dengan baik terhadap tantangan dan tuntutan yang ada. Untuk menghadapi tantangan dan tuntutan tersebut maka diperlukan inovasi, sebagaimana disruption itu adalah sebuah inovasi (Kasali, 2. Tantangan dan tuntutan tersebut juga dirasakan oleh para profesional yang bergelut di bidang pendidikan terutama bimbingan dan konseling. Maka untuk menjawab tantangan tersebut konselor sebagai pelaksana bimbingan dan konseling dituntut untuk mampu berinovasi dalam memberikan bantuan kepada konseli yang membutuhkan, dari berbagai aspek pelayanan baik itu pribadi, sosial, belajar dan karir (Prayitno, 2. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh konselor adalah terus berinovasi untuk memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan konseli, sehingga terciptalah bantuan yang efektif dan efisien. Inovasi-inovasi yang dilahirkan tentunya harus sesuai dengan tujuan utama dari bimbingan konseling yaitu menghasilkan pribadi yang mandiri dan berkembang sesuai tugas perkembangannya masing-masing. Banyaknya konseli yang akan dihadapi oleh konselor dalam pemberian layanan bimbingan konseling, tentunya akan banyak juga ragam karakteristik yang dihadapi. Maka tentu konselor harus peka dan tanggap terhadap adanya keragaman budaya dan adanya perbedaan budaya antar kelompok klien yang satu dengan kelompok klien lainnya, dan antara konselor sendiri dengan kliennya (Marhamah. Murtadlo&Awalya, 2. Keberagaman latar belakang konseli tentu harus menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh para konselor, karena dengan memahami hal tersebut akan sangat membantu dalam pemberian layanan kepada konseli. Salah satu inovasi yang bisa dilakukan oleh konselor dalam hal ini adalah dengan memasukkan . nilai-nilai budaya dalam pelayanan konseling. Budaya menjadi suatu hal yang sangat erat dalam kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah produk budaya. Sedangkan budaya itu sendiri merupakan sekumpulan sikap, nilai, keyakinan dan prilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Sue&Sue, 2. Indonesia sebagai suatu negara yang begitu kaya akan budaya, dimana keragaman budaya tersebut terbentang dari Sabang sampai Merauke yang meliputi pulau Sumatra. Jawa. Sulawesi. Kalimantan dan Papua. Kekayaan dan keragaman tersebut tentu saja akan sangat berdampak dalam setiap sendi kehidupan masyarakat yang ada. Nilai-nilai yang telah dilakukan dan dijaga dari mulai generasi terdahulu hingga saat ini tentu mempunyai dampak tersendiri. Terkait dengan hal ini konselor multikultural harus dengan sigap melihat kondisi yang ada. Konseli sebagai bagian dari budaya tersebut tentu mempunyai nilai yang dipegang teguh. Maka salah satu hal yang bisa dilakukan konselor multikultural adalah dengan memasukkan nilai-nilai budaya dari setiap layanan yang diberikan, sehingga dengan memasukkan nilai budaya tersebut akan membantu konselor dalam menghasilkan bantuan yang efektif. Salah satu nilai budaya yang bisa dimasukkan dalam praktik konseling multikultural adalah budaya Lampung. Lampung merupakan sebuah daerah yang terletak di pulau Sumatera, sebagai gerbang masuk Pulau Sumetera. Lampung mempunyai kekayaan budaya yang unik, dikenal dengan sebutan Sang Bumi Khua Jurai. Perpaduan dua kelompok budaya yang menjadi satu yaitu pepadun dan sai batin (Yusuf, 2. Nilai yang kemudian menjadi panduan hidup . ay of lif. dan juga identitas budaya lampung. Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai budaya menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pada dasarnya setiap kita adalah produk dari budaya itu sendiri. Setiap daerah mempunyai ciri khas budaya masing-masing yang berbeda dengan yang lainnya, yang kemudian sering kita kenal dengan local wisdom . earifan loka. Karena nilai-nilai budaya melekat dalam kehidupan setiap individu, maka tentu akan menjadi efektif ketika nilai-nilai tersebut dimasukkan dalam paraktik konseling multikultural yang dilakukan oleh konselor. Nilai-nilai Budaya Lampung Setiap budaya mempunyai ciri khas serta identitas masing-masing, dimana hal tersebutlah yang menjadikan satu budaya berbeda dengan budaya lain. Lampung merupakan sebuah daerah yang mempunyai ciri khas tersendiri, dimana para masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya mereka dalam setiap aktivitas Nilai-nilai budaya yang dilakukan dalam setiap aktivitas sehari-hari akan menjadi kepribadian yang melekat pada diri mereka yang kemudian dengan menjadi kepribadian tentu akan mendorong orang-orang tersebut untuk berprilaku,berfikir, merasa, gerak hati, usaha, aksi, tanggapan terhadap kesempatan dan tekanan, serta cara berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Lampung mempunyai nilai-nilai serta prinsip yang harus dilakukan dan diterapkan dalam kehidupan mereka, yang kemudian dikenal dengan prinsip hidup ulun Lampung . (Irianto&Margaretha, 2. Secara lebih lanjut Irianto&Margaretha . menyebutkan bahwa identitas ulun lampung tersebut terdiri atas lima hal utama, yaitu dignity . , keramahtamahan . emui nyima. , nama besar . uluk ado. , kemampuan berbaur dengan semua . engah nyappo. , dan gotong royong . akai Setiap nilai dari piil tersebut mempunyai kandungan dan makna yang sangat berharga bagi masyarakat Lampung karna menjadi ciri khas mereka yang membedakan dengan budaya lain. Pesenggiri Makna dari prinsip hidup yang pertama ini adalah harga diri/ martabat. Bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia ini setiap orang harus mempunyai harga diri serta martabat di hadapan orang lain, sehingga dengan hal tersebut kita akan dihargai. Pada dasarnya setiap individu mampu menumbuhkan harga diri serta martabatnya dihadapan orang lain, yaitu dengan terlebih dahulu mengenal dan memahami dengan baik kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, karena dengan mengetahui keduanya maka indvidu tersebut akan menjadi lebih baik. Dimana ia akan menutupi kekurangan yang ada pada dirinya dengan meningkatkan kelebihan yang dimiliki. Setiap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari akan selalu berhubungan dengan orang lain, dimana setiap individu yang ditemui mempunyai karakteristik yang berbeda . , sehingga dalam menghadapinyapun membutuhkan keterampilan Dalam kaitannya harga diri dan martabat seorang individu harus mampu menampilkannya secara langsung dalam kehidupan, baik dalam perbuatan, perkataan serta rasa serta serta fikiran. Keselarasan antara semua hal tersebut akan menjadikan orang lain menghargai kita serta menjadikan kita bermartabat dihadapan orang lain. Sakai Sambayan Prinsip kedua adalah sakai sambayan yang berarti gotong royong. Manusia dalam menjalani kehidupannya akan selalu membutuhkan bantuan serta campur tangan orang lain, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial . oon politico. (Wardati & Jauhar, 2011: . Gotong royong dalam arti disini adalah bahu membahu dan saling Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . meringankan beban antar sesama manusia, sehingga seberat apapun beban serta masalah yang ditemui akan terasa ringan ketika dikerjakan bersama-sama. Dalam praktik keseharian di tengah masyarakat hal ini sangat terasa, dimana antar warga masyarakat satu sama lain saling meringankan dan mengulurkan tangan. Dapat disimpulkan bahwa prinsip sakai sambayan . otong royon. harus dimiliki dan dilakukan oleh seluruh individu, tidak hanya budaya Lampung akan tetapi juga budaya lain, karena dengan melaksanakan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari akan tercipta masyarakat yang produktif dan mempunyai kepedulian yang baik antar . Nemui Nyimah Prinsip ketiga adalah bermakna bermurah hati dan penerimaan yang baik. Kehidupan manusia yang semakin kompleks dan heterogen menjadikan kebanyakan individu sibuk akan urusan mereka masing-masing, sehingga mengabaikan untuk hidup bersama, tidak peduli terhadap lingkungan serta menjadikan mereka pribadi yang tertutup dan sulit menerima perbedaan. Sebagai makhluk multi-budaya kita menyadari bahwa setiap individu mempunyai perbedaan baik dalam agama, suku, ras, budaya, dan etnis. Begitupun dalam status dan strata sosial di masyarakat terdapat perbedaan antara kaya dan miskin, strata rendah-menengah dan berlebih. Sebagai insan yang mempunyai nilai-nilai kehidupan tentu kita akan tersentuh dan tergerak hati kita untuk bermurah hati, berempati terhadap perbedaan strata dan status sosial yang Penerimaan yang baik terhadap latar belakang yang berbeda tersebut juga harus diperhatikan, karna dengan penerimaan yang baik tersebut akan tercipta masyarakat yang harmonis, saling menghargai antar sesama walaupun berbeda suku, ras, agama, budaya dan etnis. Masyarakat lampung telah sejak lama menerapkan nilai Nemui Nyimah ini dalam kehidupan mereka. Sehingga dengan hal tersebut kita ketahui terdapat banyak suku, ras, budaya, agama dan etnis yang berada di Lampung. Keberagaman yang ada dengan didasari penerimaan yang baik antar mereka, menjadikan kemajemukan yang indah, saling memahami dan menghargai atas perbedaan dan keberagaman itu sendiri. Nengah Nyapur Prinsip hidup terakhir yang dimiliki oleh orang Lampung adalah nengah nyapur yang berarti berbaur dan hidup bersama . ife togethe. Sebagai makhluk sosial yang selalu bergantung pada manusia lain, individu harus mempunyai kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dan diaplikasikan dalam kehidupan, karena individu dengan berbagai macam suku, agama dan budaya akan saling bertemu dan melakukan aktivitas kehidupan bersama. Keberagaman yang ada akan terasa sangat indah ketika antara satu individu dengan individu yang lain mempunyai kepekaan budaya yang baik, dimana mereka bisa saling memahami dan mengerti. Kebersamaan dalam menjalani kehidupan,dimana antar individu mempunyai kepedulian terhadap sesama dan menerima perbedaan merupakan bentuk dari warga yang sadar akan nilai-nilai pluralitas dalam kehidupan. Warga lampung menyadari akan pentingnya hal ini, dimana mereka mampu dan mau berbaur dengan orang lain yang mempunyai suku, agama dan budaya yang berbeda. Hidup saling berdampingan, saling membantu satu dengan yang lain, sebagai kesadaran bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa campur tangan orang lain. Maka amat sangat penting kiranya dalam kehidupan kita menerapkan prinsip nengah nyapur ini, sehingg dengan menerapkan prinsip ini akan muncul pribadi yang mempunyai kompetensi sosial yang tinggi. Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . kepedulian antar sesama yang tinggi dan toleransi dalam menerima perbedaan yang ada, dari mulai perbedaan suku, budaya, agama, ras dan etnis Urgensi Konseling Multikultural Konseling merupakan pemberian bantuan dari seorang konselor kepada konseli yang sedang menjalani tahapan perkembangan. Konseling adalah sebuah aktivitas yang sederhana sekaligus kompleks. Konseling mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis,pencegahan dan pemecahan masalah. Tugas konseling adalah memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengeksplorasi,menemukan,dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu. Konseling didesain untuk menolong konseli memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan,dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri . elf-determinatio. mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka,dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal. Konseling tidak mungkin terjadi dan terlepas dari kehidupan bermasyarakat dimana individu-individu yang dilayani hidup dalam lingkungan masyarakat yang berbudaya dan beragam budaya . Oleh karena itu setiap masyarakat mempunyai kebudayaannya, maka konseling merupakan suatu kegiatan budaya, karena dalam proses konseling akan terjadi perjumpaan budaya antara budaya konselor dan budaya klien. Namun, konsep maupun praksis mengenai konseling dan kebudayaan belum semuanya melihat keterkaitan yang organis antara konseling dan kebudayaan. Konseling adalah proses pemberdayaan dan pembudayaan manusia yang sedang berkembang menuju kepribadian mandiri untuk dapat membangun dirinya sendiri dan Konsekuensinya adalah proses konseling itu harus mampu menyentuh dan mengendalikan berbagai aspek perkembangan manusia. Terkandung makna disini bahwa melalui proses konseling diharapkan manusia berkembang ke arah bagaimana dia harus menjadi dan berada. Jika konseling ini dipandang sebagai suatu upaya untuk membantu manusia menjadi apa yang bisa diperbuat dan bagaimana dia harus menjadi dan berada, maka konseling harus bertolak dari pemahaman tentang hakikat manusia. Konselor perlu memahami manusia dalam segala hal aktualisasinya, kemungkinannya, dan pemikirannya, bahkan memahami perubahan yang dapat diharapkan terjadi pada diri manusia. Konseling adalah pembudayaan, tanpa kebudayaan manusia tidak memiliki wujud dan tidak memiliki arah. Seluruh spektrum kebudayaanAisistem kepercayaan, bahasa, seni, sejarah,dan ilmu serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya dialihkan dari satu generasi ke generasi lalin melalui proses pendidikan dalam arti luas, dan proses konseling dalam arti sempit. Konseling sebagai proses pengalihan pengetahuan dan keterampilan dengan nilai-nilai budaya. Orientasi nilai-nilai budaya pada gilirannya menjelmakan perilaku manusia sebagai anggota masyarakat dengan peradabannya yang khas. Konseling adalah pembudayaan, yaitu proses pemberian . nilai-nilai budaya dan agama kepada seseorang, sehingga yang bersangkutan memiliki perilaku yang sopan, berbudaya, bermoral dan beretika. Konseling merupakan kegiatan yang esensial di dalam setiap kehidupan klien yang sedang berkembang mencapai perkembangan optimal dan Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Konselor yang berusaha berkomunikasi dengan Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . individu-individu yang berbeda budaya akan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, dan membuktikan bahwa budaya itu dipelajari untuk menjadikan dirinya berbudaya. Kefektifan suatu konseling bergantung pada banyak faktor, salah satu faktor yang terpenting adalah hubungan satu sama lain,dan saling mengerti antara konselor dan Hubungan seperti itu biasanya akan lebih mudah tercapai jika konselor dan konseli berasal dari buaday yang sama atau tidak asing dengan latar belakang masingmasing. Bagaimanapun juga,sangatlah penting bagi seorang konselor untuk peka terhadap latar belakang konseli dan kebutuhan khususnya. Jika tidak,konselor akan salah memahami dan membuat konseli frustasi,bahkan dapat menyakiti konseli. Memahami dan menghadapi keberagaman dan perbedaan budaya dengan positif, adalah masalah mengembangkan kesadaran diri dan mengembangkan kesadaran akan diri orang Perbedaan antara konselor dengan konseli jangan sampai berpengaruh negatif terhadap proses konseling. Konselor Multikultural Konselor sebagai tenaga profesional yang dipersiapkan untuk melaksanakan tugastugas pelayanan bimbingan konseling mempunyai peran yang sangat besar dalam suksesi pelaksanaan pelayanan konseling. Banyak hal yang perlu diperhatikan oleh konselor agar dapat menghasilkan pelayanan yang efektif dan diterima oleh berbagai kalangan masyarakat sehingga tercipta pelayanan komprehensif yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh seorang konselor multikultural adalah Kompetensi menjadi sangat penting untuk dimiliki karena akan sangat membantu konselor dalam pelaksanaan konseling. Kompetensi dalam hal ini adalah kompetensi yang terkait dengan budaya, mengingat bahwa manusia adalah makhluk budaya maka konseling akan selalu sarat akan nilai-nilai budaya. Sue&Sue . menyebutkan ada tiga kompetensi multikultural yang perlu dimiliki oleh setiap konselor, yaitu kesadaran . , pengetahuan . , dan keterampilan . Kesadaran . Kesadaran dalam hal ini adalah konselor memahami asumsi, nilai-nilai,dan bias-biasnya sendiri. Keyakinan yang dipegang oleh konselor yang terampil secara budaya termasuk sensitif pada warisan budayanya sendiri, merasa nyaman dengan perbedaan klien dari berbagai budaya dan ras yang berbeda, dan menyadari keterbatasan kompetensi dan keahliannya sendiri. Keterampilan-keterampilan itu termasuk mencari pengalaman pendidikan dan pelatihan yang relevan, memahami secara aktif dirinya sebagai makhluk kultural dan rasial, dan mencari identitas nonrasial (Falah, 2. Dengan ini konselor akan mempunyai kesadaran tentang asumsi, nilai dan biasnya sendiri. Pengetahuan . Pemahaman konselor terhadap budaya konseli yang berbeda-beda dan berbeda dengan dirinya merupakan sikap dan keyakinan untuk konselor yang terampil secara kultural termasuk menyadari reaksi negatif emosionalnya sendiri dan tentang stereotip dan praduga yang dimilikinya terhadap kelompokkelompok yang berbeda secara kultural dan rasial. Konselor seharusnya memahami tentang pengalaman kultural, warisan budaya, dan latar belakang historis kelompok maupun individua tertentu yang ditanganinya, mengakui bagaimana budaya dan ras dapat mempengaruhi assesmen dam pemilihan serta implementasi intervensi-intervensi terapeutik, dan tahu tentang Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . pengaruh politis dan lingkungan yang opresif yang menimpa kehidupan minoritas etnis dan rasial. Keterampilan . Sikap dan keyakinan konselor yang terampil secara budaya termasuk menghargai keyakinan religius dan budaya dari konseli. Keterampilan konselor termasuk kemampuan untuk mengirimkan komunikasi verbal dan nonverbal secara akurat, berinteraksi dengan bahasa konseli atau membuat ketetapan rujukan, memastikan hubungan dan solusi terapeutik dengan tahap perkembangan identitas budaya dan rasial konseli, dan terlibat dalam berbagai macam peran bantuan. Konselor multikultural dalam memberikan intervensi kepada konseli harus benarbenar sadar, faham dan memilih intervensi yang tepat sehingga benar-benar memberikan dampak positif bagi klien dalam mengoptimalisasikan tugas perkembangannya. Implementasi piil dalam Praktik Konseling Multikultural Perkembangan dunia bimbingan dan konseling di negara asalnya yaitu Amerika bergerak secara Multidimensional yaitu dimana pelaksanaan konseling bergerka dalam berbagai setting kehidupan manusia yang pada awalnya pada masa Parsonian hanya pada dimensi karir melalui program kejuruan yang dikembangkan. Sedangkan konseling di Indonesia dari awal perkembangannya berada pada setting pendidikan dan sampai saat ini masih terus memperbaiki diri terutama dalam setting pendidikan tersebut. Walaupun tidak kita pungkiri saat ini konseling di Indonesia juga memberikan pelayanan di luar setting Sesuai dengan motto bimbingan dan konseling di Indonesia atau disebut dengan motto konselor bermartabat (Prayitno, 2012: . A Konselor di sekolah mantab. A Konselor di luar sekolah sigap. A Konselor dimana-mana siap. Seiring perkembangannya tersebut konselor sebagai pelaksana praktik konseling akan dihadapkan pada tantangan yang semakin besar, dimana perkembangan di eraglobalisasi yang semakin kompleks menghadirkan banyak sekali permasalahan. Sehingga konselor dituntut untuk mampu berinovasi dan menjadi lebih kreatif dalam menjalankan profesi konseling itu sendiri. Konselor harus benar-benar menjadi tenaga profesional yang menerapkan kompetensi-kompetensi yang dimiliki, dari mulai kompetensi pedagogik, pribadi, sosial dan profesional. Konseling merupakan pemberian bantuan yang dinamis oleh seorang ahli dengan norma-norma yang mengatur pelaksanaan konseling tersebut. Konseling diberikan agar individu mampu mengeksplorasi dirinya, sehingga benar-benar menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal, menuju kehidupan efektif sehari-hari (KES) dan mengatasi kehidupan efektif sehari-hari terganggu (KES-T) (Prayitno, 2. Keberagaman yang ada di dalam kehidupan yang heterogen di Indonesia ini menjadi salah satu isu yang benar-benar harus difahami oleh konselor. Karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk budaya yang akan selalu memegang teguh nilainilai budaya mereka. Keberagaman tersebut seringkita kenal dengan istilah multikultural. Multikulutal merupakan kata sifat yang dalam bahasa inggris berasal dari dua kata, yaitu AumultiAy dan AucultureAy. Secara umum, kata AumultiAy berarti banyak, ragam, dan atau aneka. Sedangkan kata AucultureAy dalam bahasa inggris mempunyai beberapa makna, yaitu kebudayaan, kesopanan dan atau pemeliharaan. Atas dasar ini, kata multikultural dapat diartikan sebagai keragaman budaya sebagai bentuk dari keragaman latar belakang Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . Setiap budaya mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang membedakan dengan budaya lain. Dan nilai-nilai budaya tersebut bisa kita terapkan dan aplikasikan dalam kehidupan kita. Sebagaimana budaya Lampung yang mempunyai prinsip-prinsip hidup kemudian kita kenal dengan piil. Dimana di dalam piil tersebut terdapat empat nilai pokok sebagaimana kita paparkan di atas. Kaitannya dalam praktik konseling multikultural, kita bisa menerapkan kearifan lokal . sebuah budaya tertentu. Dengan internalisasi nilai tersebut diharapkan praktik pelayanan konseling yang dilaksanakan akan semakin berwarna dan semakin kaya akan keberagaman nilai dalam praktik konseling itu sendiri. Empat nilai yang merupakan prinsip hidup masyarakat/budaya Lampung tersebut adalah: pesenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah dan nengah nyapur. Ketika nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dalam praktik konseling, maka konselor sebagai pelaksana praktik konseling menjadi objek utama dalam internalisasinilai tersebut. Dimana konselor benar-benar harus memahami terlebih dahulu kandungan dari nilia-nilai tersebut sebelum diterapkan dalam praktik konseling. Sebagaimana dipaparkan di atas bahwa nilai-nilai tersebut memiliki makna yang cukup urgen dan mendalam terkait dengan landasan dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani setiap aktivitas kehidupannya sehari-hari. Adapun internalisasi nilai-nilai tersebut dalam praktik konseling multikultural adalah sebagai berikut Pesenggiri: konselor sebagai pelaksana utama konseling benar-benar harus menerapkan nilai kemartabatan, sehingga menghasilkan pelayanan yang bermanfaat bagi konseli dan menumbukan kepercayaan publik . ublic trus. Konselor harus menguasai kompetensi-kompetensi utama dalam menjalankan profesinya, dimana terdapat empat kompetensi yang kemudian terdapat di dalamnya 17 kompetensi inti atau dikenal dengan AuKompetensi Pola 17Ay (Prayitno, 2009: 59-. Empat kompetensi tersebut mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Penguasaan dan pemenuhan kompetensi tersebut bagi konselor menjadi sangat penting, karena dengan penguasaan kompetensi tersebut akan terbentuklah tenaga konselor profesional yang menjalankan profesinya sesuai dengan dasar keilmuan yang baik, mempunyai kepribadian yang anggun, mempunyai hubungan sosial yang baik antar sesama konselor maupun ahli lain dan konselor yang melaksanakan praktik sesuai dengan kaidah keilmuan bimbingan dan konseling sehingga pemberian bantuan akan sesuai dengan kebutuhan . eed assesmen. konseli yang dilayani. Konseling diberikan untuk dapat memberikan kebermanfaatan yang besar baik bagi konselor maupun konseli. Konselor dalam melaksanakan praktik konseling mengikuti kode etik yang telah ditetapkan oleh oraganisasi profesi, dalam lingkup Indonesia ini adalah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Dengan mengikuti dan mentaatikode etik profesi diharapkan akan terciptanya profesi yang bermartabat (Prayitno, 2. , yang dalam hal ini memenuhi tiga unsur inti, yaitu: C Pelayanan bermanfaat yaitu pelayanan yang sesuai dengan arah, tujuan dan fungsi pelayanan profesional. Sehingga pelayanan menghasilkan kebermanfaatan yang sebesar-besarnya bagi konseli yang dilayani C Petugas bermandat yaitu pelayanan konseling dilakukan oleh tenaga profesional yang telah disiapkan dengan matang melalui pendidikan profesi dan mendapatkan kewenanagan dalam melaksanakan pelayanan profesional C Pengakuan yang sehat dan kuat yaitu pelayanan konseling diakui dengan sehat dan kuat oleh masyarakat dan pemerintah. Dengan kebermanfaatan yang tinggi Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . dan dilakukan oleh petugas bermandat maka masyarakat dan pemerintah tidak ragu-ragu untuk mengakui dan memanfaatkan pelayanan profesional konseling. Sakai Sambayan: Praktik konseling dilaksanakan oleh konselor denganpenuh tanggung jawab dan profesional, dimana setiap hal yang didapati akan dicarikan solusi dan jalan keluar semaksimal dan seoptimal mungkin agar mendatangkan kebermanfaatan yang Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa konselor dalam melaksanakan tugasnya tidak akan lepas dari bantuan pihak lain. Keterlibatan pihak lain baik konselor lain maupun ahli selain konselor menjadi suatu hal mungkin terjadi dan pasti terjadi. Sehingga kolaborasi antar sesama ahli menjadi hal yang amat penting agar masalah yang dihadapi dapat terentaskan sesuai dengan harapan yang diinginkan. Alih tangan kasus dari satu ahli kepada ahli lain yang dianggap mampu mengentaskan masalah menjadi salah satu bentuk kolaborasi. Dalam hal ini konselor menyadari bahwa dirinya tidak sanggup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi konseli karna beberapa hal, seperti masalah yang dihadapi oleh konseli merupakan masalah yang sudah menyangkut ranah profesilain seperti medis, sehingga kolaborasi dengan petugas medis seperti dokter, maupun ketika menyangkup hal-hal kriminal maka kolaborasi dengan pihak penegak hukum menjadi suatu hal yang mungkin terjadi. Tujuan dari semua itu adalah agar diperolehnya pelayanan yang optimal, setuntas mungkin, atas masalah yang dialami klien (Prayitno, 2012: . Prinsip sakai sambayan ketika diinternalisasikan dalam praktik konseling maka akan mengarahkan kepada kolaborasi antara konselor dengan pihak-pihak lain, yang salah satu bentuk nyatanya adalah melalui salah satu kegiatan pendukung dalam bimbingan dan Sakai sembayan mempunyai makna kerja sama/ gotong royong, dimana dalam makna ini diketahui bahwa dalam menjalankan segala sesuatu manusia akan membutuhkan bantuan dari pihak lain agar apa yang dilakukan mendapatkan hasil maksimal. Begitu juga dalam praktik konseling, kerjasama menjadikan pelayanan konseling menjadi lebih mudah dan pengentasan masalah menjadi lebih otpimal karena menyertakan pihak lain untuk dilibatkan dalam penyelesaian masalah klien. Nemui Nyimah: Pelaksanaan konseling yang dilakukan oleh konselor harus melihat dan memperhatikan banyak faktor, salah satunya adalah latar belakang klien. Klien dengan latar belakanga yang beragam baik dari agama, suku, budaya, ras dan etnis perlu mendapatkan perhatian khusus dari konselor. Konselor sebagai tenaga profesional bermandat harus mampu memahami perbedaan latar belakang tersebut dan tidak boleh melakukan diskriminasi karena perbedaan latar belakang tersebut. Konsep penerimaan tanpa syarat . nconditional positive regar. menjadi sangat penting dalam pelaksanaan konseling (Lubis, 2011: . Konselor harus dapat menerima dengan baik kondisi klien dengan berbagai latar belakang, masalah dan kondisi diri. Penerimaan yang baik dari konselor akan menjadi pemicu bagi klien untuk mengutarakan permasalahan yang dimilikinya dan akan menjadikan klien lebih terbuka dalam proses konseling . sas keterbukaa. Menurut Rodgers setiap klien mempunyai tendensi untuk mengaktualisasikan diri kearah yang lebih baik, maka konselor harus menerima klien dengan berbagai macam kondisi dan latar Hal ini sesuai dengan prinsip piil nemui nyimah, karena pada dasarnya makna dari prinsip ini adalah penerimaan yang baik kepada orang lain. Selain penerimaan yang baik terhadap klien, konselor harus melaksanakan konseling atas dasar dorongan hati . untuk membantu klien yang membutuhkan Artinya adalah bahwa konselor menjalankan praktik konseling dengan penuh keikhlasan, atas kesadaran diri sendiri untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain dan bukan Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . karena paksaan atau karena imbalan yang akan didapatkan. Karena ketika pelayanan hanya didasarkan pada materi yang akan didapat, maka pelayanan tidak akan berjalan dengan efektif, malah justru hanya akan menjadikan masalah klien bertambah. Maka dalam menjalani praktik konseling, konselor harus benar-benar mempunyai niat dan tujuan yang baik yang di dasarkan pada dorongan altruistik dalam diri. Nengah Nyapur: Praktik pelayanan konseling dilaksanakan dalam berbagai setting, baik individual, kelompok, klasikal dan lapangan. Semua setting tersebut dilakukan sesuai dengan kebutuhan siswa yang akan menjadi objek layanan. Konselor sebagai tenaga profesional pelaksana konseling memberikan layanan kepada klien dengan penuh kasih sayang dan kepedulian tingkat tinggi. Konselor memberika pengayoman kepada klien baik sebelum terjadinya konseling, saat proses konseling dan juga pasca Pengayoman dan kepedulian tersebut diberikan agar klien mendapatkan porsi yang tepat dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang konselor. Hubungan yang baik menjadi amat sangat penting dalam konseling, karena dengan hubungan yang baik itulah akan tercipta pelayanan yang efektif, dimana konselor mampu menggali sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan dari klien dan klien sebagai penerima layanan terbuka dalam menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Pengayoman konselor terhadap konselimenjadi sangat penting agar klien bisa mengekplorasi dirinya sehingga terhindar dari KES-T. Selain pengayoman, makna lain yang terkandung pada prinsip terkahir dari piil ini adalah memberikan dukungan. Dalam internalisasi pada diri, seorang konselor harus memberikan dukungan dan dorongan positiv pada diri klien, terutama pasca konseling. Sehingga dengan dorongan konselor agar klien terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang optimal klien dapat mencapai nilai-nilai BMB3. Dimana BMB3 tersebut mempunyai arah yang disebut dengan lima-As. Makna dari BMB3 dan Lima-As adalah berfikir untuk menjadi Cerdas. Merasa dalam kondisi Terkemas. Bersikap melalui kemantapan aktivitas Mawas. Bertindak dengan Tangkas. Bertanggung Jawab secara Tuntas (Prayitno, 2. Simpulan Keberagaman budaya di Indonesia menjadi perhatian tersendiri dalam pelaksanaan praktik bimbingan dan konseling. Dimana dalam perkembangannya semakin hari konselor dituntut untuk semakin kreatif, inovatif dan mandiri dalam pelaksanaan konseling itu Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu bergantung dengan orang lain dalam setiap aktivitas mereka dan tentu dalam aktivitas keseharian tersebut akan bertemu satu budaya dengan budaya yang lain. Pertemuan antar budaya tersebut tidak ayal akan menghadirkan masalah tersendiri dalam kehidupan mereka, karena kurang faham dan mengertinya mereka antar nilai-nilai budaya yang dianut oleh masing-masing individu. Salah satu budaya yang terdapat di Indonesia ini adalah budaya Lampung. Dimana dalam budaya Lampung ini terdapat prinsip hidup yang dikenal dengan fiil. Konselor sebagai pelaksana konseling dalam hal ini adalah konseling multikultural harus memahami dan menangkap dengan baik nilai serta prinsip dari setiap budaya yang ada. Internalisasi fiil dalam praktik bimbingan dan konseling akan membantu konselor menjadi lebih baik dan kaya akan wawasan kebudayaan. Terdapat empat nilai dalam fiil itu sendiri, yaitu: pasenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah dan nengah nyapur. Konseling multikultural yang saat ini menjadi perhatian para praktisi konseling, harus benar-benar di implementasikan dalam praktik nyata dilapangan. Sehingga latar belakang budaya yang berbeda tidak menjadi penyebab timbulnya masalah dalam kehidupan klien dan juga konselor. Konseling yang bertujuan untuk membantu klien baik Nedi Kurnaidi COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . yang sifatnya pencegahan . , pengentasan . , pengembangan (Developmenta. dan juga pemberdayaan . harus benar-benar dirasakan kebermanfaatannya oleh klien. Kebermanfaatan tersebut akan terlihat nyata ketika klien mempu memiliki nilai-nilai BMB3, yaitu: berfikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab. DAFTAR PUSTAKA