RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 E-ISSN: 2775-2267 Email: ristansi@asia. https://jurnal. id/index. php/ristansi POTRET NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DI BALIK PRAKTIK AKUNTANSI OLEH PEDAGANG TAKJIL Mohamad Anwar Thalib. Anggun Fitra N. Mohamad. Amelia Ijini. Khairunnisa Ibahim Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo mat@iaingorontalo. DOI: 10. 32815/ristansi. Informasi Artikel Tanggal Masuk Tanggal Revisi Tanggal diterima Keywods: takjil traders local culture Kata Kunci: pedagang takjil budaya lokal November. Desember. Desember. Abstract: This research aims to capture the local wisdom values behind accounting practices by takjil traders. This research uses a purposive sampling technique to determine There were three research informants. The type of method used is qualitative. The results of the research show that there are three accounting practices by takjil Capital accounting practices require local cultural values in the form of huyula . lease hel. , profits based on local cultural values in the form of mutual sharing, and losses that are lived with a spirit of gratitude to the Creator. This research concludes that the accounting implemented by takjil sellers is not limited to material things but lives with the values of Gorontalo's local wisdom. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memotret nilai-nilai kearifan lokal di balik praktik akuntansi oleh pedagang takjil. Penelitian ini menggunakan teknik purposif sampling untuk menentukan informan. Terdapat tiga informan penelitian. Jenis metode yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga praktik akuntansi oleh pedagang takjil yaitu praktik akuntansi modal yang syarat dengan nilai budaya lokal berupa huyula . olong menolon. , keuntungan berbasis nilai budaya lokal berupa saling berbagi, dan kerugian yang hidup dengan semangat rasa syukur kepada Sang Pencipta. Kesimpulan penelitian ini adalah akuntansi yang diimplementasikan oleh pedagang takjil bukanlah terbatas materi namun hidup dengan nilai kearifan lokal Gorontalo. PENDAHULUAN Menggali studi akuntansi dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal menjadi suatu aspek yang esensial. Hal ini penting karena penelitian tersebut merupakan usaha untuk menjaga tradisi praktik akuntansi yang berakar pada nilai-nilai budaya setempat, di tengah dominasi penerapan akuntansi modern yang didasarkan pada RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 norma-norma Barat (Kamayanti, 2015, 2017. Triyuwono, 2. Pada dasarnya, akuntansi modern mencerminkan nilai-nilai seperti materialisme, egoisme, sekularisme, dan utilitarianisme (Kamayanti, 2011, 2016, 2018. Triyuwono, 2. Materialisme tercermin dalam pendekatan akuntansi yang hanya mengakui aspek teknis, perhitungan, dan aspek material . (Triyuwono, 2. Egoisme nilai-nilai akuntansi modern tercermin melalui laporan laba rugi yang hanya memperhatikan kepentingan pemegang saham (Sylvia, 2. Selain itu, sekularisme tercermin dalam ketiadaan unsur-unsur keagamaan dalam konteks akuntansi modern (Kamayanti, 2. Sementara nilai utilitarian tercermin melalui pemberian bonus kepada manajer yang didasarkan pada seberapa besar laba yang dihasilkan, meskipun bisa jadi proses untuk mencapai laba tersebut tidak selaras dengan nilai-nilai etika atau agama (Triyuwono, 2. Penerapan dan pelaksanaan akuntansi modern semakin sulit karena minimnya penelitian mengenai akuntansi yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Fakta ini didasarkan pada data Sinta Ristekdikti, yang menunjukkan bahwa dari 3. 692 artikel akuntansi yang diterbitkan dalam jurnal terakreditasi nasional pada tahun 2020, hanya ada 17 penelitian akuntansi yang benar-benar berfokus pada nilai-nilai budaya lokal. Sisanya, sebanyak 3. 676 artikel merupakan penelitian akuntansi yang tidak memperhatikan warisan budaya bangsa (Thalib & Monantun, 2022b, 2022. Keadaan ini sangat disayangkan mengingat Indonesia sebagai sebuah negara yang kaya akan tradisi, namun jarang dieksplorasi dalam bidang penelitian akuntansi. Kondisi tersebut menjadi alasan utama untuk mengeksplorasi tema penelitian akuntansi yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Meskipun jumlahnya terbatas, sejumlah peneliti telah mengeksplorasi aspek akuntansi yang kaya dengan unsur budaya lokal. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh (Pertiwi & Ludigdo, 2. fokus pada implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan landasan budaya Tri Hita Karana. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa CSR terpadu mencakup upaya perusahaan untuk mengintegrasikan lebih baik kegiatan bisnisnya, memadukan tujuan perusahaan sebagai entitas bisnis dengan harmonisasi hubungan bersama masyarakat, lingkungan, dan aspek spiritual. Implementasi CSR terpadu tercermin dalam berbagai aspek, termasuk di perusahaan, dalam masyarakat, terhadap lingkungan, dan dalam konteks spiritual. Selanjutnya, penelitian oleh (Wahyuni, 2. mengenai penyesuaian konsep bagi hasil dalam RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 kerangka adat syariah menemukan bahwa penyesuaian tersebut melibatkan pengangkatan nilai-nilai positif dari kearifan budaya lokal yang disempurnakan dengan prinsip-prinsip syariah. Penyesuaian ini bertujuan untuk menerapkan nilai keadilan bagi petani penggarap. Serupa dengan studi sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilainilai budaya lokal yang tercermin dalam praktik akuntansi. Perbedaan utama antara penelitian ini dengan beberapa riset sebelumnya terletak pada lokasinya, yang dilakukan di daerah Gorontalo. Saat ini, kajian mengenai akuntansi berbasis budaya lokal di Gorontalo masih jarang dilakukan, meskipun provinsi ini memiliki keunikan budaya yang didasarkan pada nilai-nilai syariat agama Islam (Baruadi & Eraku, 2. Selain itu, perbedaan lain dari penelitian ini dengan riset terdahulu adalah fokus khusus pada praktik akuntansi yang dijalankan oleh para pedagang takjil. Dengan merinci penjelasan sebelumnya, pertanyaan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pedagang takjil melaksanakan praktik akuntansi, dan apa saja nilai-nilai kearifan lokal serta religiusitas yang mendasari cara mereka mempraktikkan akuntansi? Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi dasar dari praktik akuntansi yang diimplementasikan oleh pedagang takjil. METODE PENELITIAN Paradigma yang diadopsi dalam penelitian ini adalah paradigma Islam. Pemilihan paradigma ini oleh peneliti didasarkan pada asumsi bahwa dalam konsepsi realitasnya, paradigma Islam mengakui eksistensi realitas tidak hanya terbatas pada dimensi materi, tetapi juga mencakup realitas non-materi, seperti dimensi emosional dan spiritual, yang hakikatnya tercipta atas kehendak Tuhan Kamayanti, 2016, 2020. Triyuwono, 2. Keputusan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yang adalah untuk menggambarkan praktik akuntansi oleh pedagang takjil yang tidak hanya berfokus pada dimensi materi, melainkan juga diperkaya dengan nilai-nilai kearifan lokal dan aspek religiusitas. Penelitian ini mengadopsi pendekatan etnometodologi Islam, yang dipilih oleh peneliti karena tujuan etnometodologi Islam sejalan dengan tujuan penelitian ini, yakni menggambarkan cara pedagang takjil menjalankan akuntansi dengan berbasis pada nilainilai kearifan lokal. Etnometodologi Islam merupakan perkembangan dari pendekatan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 etnometodologi modern. Etnometodologi Islam adalah studi yang mempelajari gaya hidup anggota kelompok, yang dianggap tercipta dengan izin Tuhan (Thalib, 2. sisi lain, etnometodologi modern adalah pendekatan yang meneliti cara hidup anggota kelompok yang diciptakan melalui kreativitas sesama anggota kelompok, tanpa campur tangan Tuhan (Garfinkel, 1967. Kamayanti, 2. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Peneliti memilih metode ini karena hasil yang diinginkan dalam penelitian bukanlah untuk generalisasi, melainkan untuk mendalami pemahaman atas situasi sosial, khususnya aktivitas sosial dalam praktik akuntansi pedagang takjil yang kaya akan unsur budaya lokal. (Sugiyono, 2. menjelaskan bahwa metode kualitatif adalah pilihan yang tepat ketika tujuan penelitian adalah memahami atau memberikan makna terhadap realitas sosial. Dalam penelitian ini, digunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu observasi partisipasi pasif dan wawancara terstruktur . Observasi partisipasi pasif merupakan metode di mana peneliti hanya melakukan pengamatan terhadap aktivitas sosial tanpa ikut terlibat dalam kegiatan tersebut (Yusuf, 2. Dalam konteks penelitian ini, peneliti hanya mengamati bagaimana pedagang takjil menjalankan praktik akuntansi tanpa terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Teknik pengumpulan data lainnya adalah wawancara terstruktur. (Sugiyono, 2. menjelaskan bahwa wawancara terstruktur melibatkan penyusunan daftar pertanyaan rinci sebelum wawancara terjadi, yang kemudian digunakan untuk menggali informasi selama wawancara. Dalam penelitian ini, sebelum mewawancarai pedagang takjil, peneliti menyusun daftar pertanyaan terperinci tentang cara mereka menjalankan akuntansi yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Wawancara dilakukan berdasarkan panduan pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Tiga informan berpartisipasi dalam penelitian ini, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu, di mana pemilihan ini didasarkan pada tingkat pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh informan (Sugiyono, 2. Peneliti memilih ketiga informan karena mereka memiliki pengalaman dalam berjualan takjil selama lebih dari 10 tahun. Selain itu, ketiga informan menunjukkan kesiapan untuk menyisihkan waktu dan berbagi informasi terkait dengan tema penelitian ini. Informasi terperinci mengenai ketiga informan dapat ditemukan dalam Tabel 1. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 Tabel 1 Informan Penelitian Nama Nama Panggilan Umur Pengalaman Berdagang (Takji. Alamat Yusna Hamsah Ibu Yusna 49 Tahun Lebih dari 10 Tahun Kayumerah. Gorontalo Surayati Koi Ibu Surayati 45 Tahun Lebih dari 10 Tahun Alo, desa iloponu. Gorontalo Febrianti Henga Ibu Febriyanti 42 Tahun Lebih dari 10 Tahun Kayumera. Sumber: hasil olah data peneliti, 2023 Tabel 1 sebelumnya mencakup informasi mengenai informan yang terlibat dalam penelitian ini. Informan pertama dikenal sebagai Ibu Yusna Hamsah, yang akrab dipanggil sebagai Ibu Yusna. Ibu Yusna saat ini berusia 49 tahun dan telah terlibat dalam kegiatan dagang, termasuk berjualan takjil selama lebih dari 10 tahun. Beliau adalah penduduk asli Kayumerah. Gorontalo. Informan kedua adalah Ibu Surayati Koi, atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Surayati, berusia 45 tahun dan tinggal di Desa Iloponu. Gorontalo. Sementara itu, informan ketiga adalah Ibu Febrianti Henga, atau biasa dipanggil Ibu Febriyanti, yang saat ini berusia 42 tahun dan beralamat di Kayumera. Gorontalo. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dari etnometodologi Islam. Berikut merupakan gambaran alur dari tahapan analisis data tersebut: Gambar 1 Analisis data etnometodologi Islam Amal Ilmu Informasi Wahyu Iman Ihsan Sumber: (Thalib, 2. Langkah awal dalam analisis data adalah amal. Dalam konteks etnometodologi Islam, amal merujuk pada segala ekspresi dan tindakan yang dilakukan oleh anggota kelompok, mencerminkan gaya hidup mereka (Thalib, 2. Dalam penelitian ini, analisis amal bertujuan untuk mengidentifikasi ungkapan dan tindakan yang dilakukan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 oleh pedagang takjil terkait dengan pelaksanaan akuntansi yang didasarkan pada nilainilai budaya lokal. Langkah analisis data kedua adalah ilmu. Dalam konteks etnometodologi Islam, ilmu merujuk pada makna rasional dari ekspresi dan tindakan anggota kelompok, yang dipahami bersama oleh mereka (Thalib, 2. Dalam penelitian ini, analisis ilmu bertujuan untuk menggali makna rasional dari cara pedagang takjil menjalankan akuntansi yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal. Langkah analisis data ketiga adalah iman. Dalam kerangka etnometodologi Islam, iman merujuk pada nilai-nilai non-materi . eperti nilai emosional dan spiritua. yang menjadi semangat dari cara hidup anggota kelompok (Thalib, 2. Dalam konteks penelitian ini, analisis iman dimaksudkan untuk mengidentifikasi nilai-nilai non-materi, termasuk nilai budaya lokal dan religiusitas, yang mendorong cara pedagang takjil menjalankan praktik akuntansi. Tahap analisis keempat adalah informasi wahyu. Dalam konteks etnometodologi Islam, analisis ini bertujuan untuk menghubungkan nilai-nilai non-materi dari gaya hidup anggota kelompok dengan nilai-nilai yang terdapat dalam syariat agama Islam, seperti Alquran dan hadist (Thalib, 2. Dalam penelitian ini, analisis informasi wahyu dimaksudkan untuk menautkan nilai-nilai yang mendasari cara pedagang takjil menjalankan praktik akuntansi dengan nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran dan Langkah analisis kelima adalah ihsan. Dalam kerangka etnometodologi Islam, analisis ini bertujuan untuk menyatukan hasil dari empat tahapan analisis data sebelumnya menjadi satu kesatuan (Thalib, 2. Proses ini menjadi penting dalam upaya memahami secara menyeluruh mengapa metode tertentu diimplementasikan oleh para pedagang takjil. HASIL PENELITIAN Praktik Akuntansi Modal Modal yang dibutuhkan oleh pedagang takjil pada saat pertama kali berjualan lebih besar dibandingkan hari-hari berikutnya. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Yusna Hamsah berikut ini: RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 AuOh kalau pertama berdagang itu modal yang saya keluarkan sebesar Rp iya itu jumlah modal awal yang saya keluarkan. Kemudian modal berikutnya jumlahnya sudah menurun tidak lagi Rp 400. Hal ini disebabkan pertama kali berjualan di bulan puasa itu kan harus membeli perlengkapan jualan. Nanti di hari kedua modal yang dikeluarkan hanya berkisar Rp 200. saya sebelum berdagang takjil di hari-hari biasa memang berdagang jugaAy. Bertolak dari penuturan ibu Yusna Hamsah sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa modal awal yang beliau keluarkan untuk berdagang takjil adalah Rp 400. modal tersebut selain beliau gunakan untuk membeli bahan baku makanan Ibu Yusna mengungkapkan bahwa di hari berikutnya berjualan beliau hanya mengeluarkan modal sekitar Rp 200. hal ini disebabkan beliau tidak perlu membeli lagi perlengkapan jualan karena perlengkapannya sudah dibeli terlebih dahulu di awal beliau berdagang Berangkat dari penuturan ibu Yusna sebelumnya ditemukan praktik akuntansi modal berupa sumber moda. Praktik tersebut terdapat pada amal Ausaya keluarkan sebesar Rp 400. 000Ay. Ilmu dari amal tersebut adalah modal awal yang dikeluarkan oleh ibu Yusna untuk berdagang takjil adalah Rp 400. modal tersebut diperoleh dari keuntungan beliau ketika berdagang sebelum bulan suci ramadhan. Pada hari-hari selanjutnya dibulan suci ramadhan, modal yang beliau keluarkan di bawah Rp 400. hal tersebut disebabkan beliau tidak membeli perlengkapan dagangannya diawal, sehingga di hari-hari berikutnya, beliau hanya perlu mengeluarkan modal untuk membeli bahan makanan untuk beliau jual sebagai menu buka puasa. Lebih lanjut, ibu Surayati Koi menjelaskan bahwa modal yang beliau gunakan ketika berdagang takjil berbeda dengan ketika beliau berdagang di hari-hari biasanya. Berikut merupakan penjelasan dari ibu Surayati: AuModal untuk berjualan takjil ini antara Rp 200. 000 sampai Rp 300. kalau untuk hari-hari biasa saya hanya mengeluarkan modal lebih kurang Rp uangnya akan saya kumpulkan sehingga dijadikan modal untuk berdagang takjil di bulan puasaAy. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 Berdasarkan penjelasan sebelumnya oleh ibu Surayani Koi, peneliti memahami bahwa investasi awal yang dia keluarkan untuk memulai usaha takjil berkisar antara Rp 000 hingga Rp 300. Dari penuturan ibu Surayani, terlihat praktik akuntansi modal yang mencerminkan sumber dana. Dalam konteks ini, praktik tersebut dapat dijelaskan melalui amal yang menyatakan bahwa "modal untuk berjualan takjil ini antara Rp 200. 000 sampai Rp 300. " Ilmu dari amal ini adalah bahwa ibu Surayani mengeluarkan modal sebesar Rp 200. 000 hingga Rp 300. 000 untuk berdagang takjil, dan modal tersebut diperoleh dari keuntungan saat berdagang sebelum bulan suci Ramadhan. Selanjutnya, berbeda dengan dua informan sebelumnya, informan ketiga mengungkapkan bahwa pada saat berjualan takjil beliau bisa mengeluarkan modal sampai jutaan rupiah. Lebih jelasnya berikut merupakan penuturan dari ibu Febriyanti AuModal yang dikeluarkan sebesar Rp 1. jumlah tersebut baru modal untuk membeli bahan kue. Jumlah tersebut diluar dari modal berjualan nasi Kalau berdagang nasi kuning kan membutuhkan beras dengan harga Rp 700. untuk membangun tempat makan sederhana ini membutuhkan uang sebesar Rp 2. modal ini sebagian diberikan oleh suami sebagian lagi merupakan keuntungan dari usaha sebelumnyaAy. Dari penjelasan sebelumnya yang diberikan oleh ibu Febrianti, peneliti memahami bahwa investasi awal yang dia keluarkan untuk memulai usaha takjil melebihi jumlah Rp 1. Jumlah modal tersebut mencakup biaya untuk berdagang kue saja, di luar modal yang digunakan untuk berdagang nasi kuning. Ibu Febrianti menjelaskan bahwa biaya untuk bahan pokok pembuatan nasi kuning, seperti beras, mencapai Rp 700. Dalam konteks ini, terdapat praktik akuntansi modal yang mencerminkan sumber dana. Praktik tersebut terungkap melalui amal yang menyatakan bahwa "modal yang dikeluarkan sebesar Rp 1. " Ilmu dari amal ini adalah bahwa ibu Febrianti mengeluarkan modal sebesar Rp 1. 000 untuk berdagang takjil, yang terdiri dari sumbangan dari suaminya ditambah dengan keuntungan yang diperoleh dari usaha dagang sebelum bulan suci Ramadhan. Lebih lanjut para pedagang takjil mengungkapkan bahwa salah satu tujuan dari mereka berdagang adalah untuk bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Yusna berikut ini: RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 AuSaya memang sudah merencanakan untuk berdagang takjil di bulan puasa. Saya memang aktivitas sehari-harinya adalah berjualan makanan. Misalnya saja berjualan nasi kuning di pagi hari. Tapi kalau bulan puasa, saya menjual minuman dingin, nasi bulu, dan sate. Jadi saya berjualan takjil maupun berdagang di hari-hari biasa sebelum saya mempunyai cucu. Saya berjualan sekitar tahun 1991. Tujuan berjualan tentu saja agar bisa membantu perekonomian keluarga. Jadi saya dan suami sama-sama bekerja untuk menghidupi anak-anak, membiayai pendidikan, akhirnya sampai sekarang sudah menjadi kebiasaan, setiap bulan suci ramadhan pasti berjualan takjilAy. Pada penuturan ibu Yusna sebelumya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa berdagang takjil merupakan agenda rutin beliau setiap bulan suci ramadhan. Aktivitas keseharian dari ibu Yusna adalah pedagang, pada hari-hari biasa, beliau berjualan nasi kuning di pagi hari. Pada saat bulan suci ramadhan, beliau berdagang takjil berupa minuman dingin, nasi bulu, dan sate. Aktivitas tersebut telah beliau lakukan sejak tahun 1991. Beliau berjualan dengan tujuan untuk bisa membantu suaminya dalam menghidupi keluarga mereka. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh ibu Surayati bahwa tujuan beliau untuk berdagang takjil adalah untuk bisa mengisi waktu luang serta bisa membantu perekonomian keluarganya. Berikut merupakan penjelasan dari beliau: AuSaya senang berjualan. Awalnya ada tetangga yang berjualan takjil, kemudian saya diajak untuk berjualan juga, akhirnya saya coba untuk berjualan takjil dan akhirnya bertahan sampai sekarang. Saya sehari-hari memang aktivitasnya berdagang. Sudah lama saya berdagang. Saya sekarang sudah mempunyai cucu. Saya berjualan dari anak saya berumur 3 tahun sampai sekarang saya mempunya cucu. Dari pada saya hanya duduk diam di rumah, tidak menghasilkan apa-apa. Lebih baik saya berdagang. Bisa membantu suami juga kanAy. Berdasarkan pada penjelasan dari ibu Surayati sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa beliau memang senang untuk jualan. Sebelumnya, beliau hanya berdagang di hari-hari biasa, dan tidak berjualan takjil di bulan suci Namun beliau disarankan oleh tetangganya untuk berdagang takjil juga, dan akhirnya hal tersebut sudah menjadi kebiasaan mulai dari anak beliau berumur 3 tahun. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 sampai sekarang memiliki cucu. Aktivitas berdagang takjil telah menjadi kebiasaan yang beliau lakukan setiap kali bulan suci ramadhan. Tujuan beliau berdagang adalah untuk mengisi waktu luang dan juga membantu perekonomian keluarganya. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh ibu Febriyanti bahwa berdagang takjil ditujukan untuk bisa membantu perekonomian keluarganya. Berikut merupakan penjelasan dari ibu Febriyanti: AuIya sudah lama saya berjualan. Sejak tahun 2009. Waktu itu anak saya masih di Sekolah Dasar. Sekarang mereka sudah berumur 20 tahunan. Saya berdagang bukan saja di bulan suci ramadhan, namun berdagang juga di hari-hari biasanya. Tujuan berdagang tentu saja supaya bisa memperoleh Keuntungan itu bisa digunakan sebagai tambahan biaya pendidikan anak, uang jajan anak, kalau suami juga bekerja, alhamdulillah sama-sama bekerja saya dengan suami. Jadi selain suami ada pendapatan saya juga ada, pendapatan itu digunakan sama-sama untuk kebutuhan Tapi yang paling banyak itu tentu dari suami. Bahkan modal ini juga kan dibantu oleh suami. Jadi saling bekerja samaAy. Pada penjelasan dari ibu Febriyanti sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa berdagang sudah menjadi aktivitas keseharian dari beliau. Ibu Febriyanti telah memulai berdagang sejak tahun 2009. Saat itu anak beliau masih berada di sekolah Setiap bulan puasa beliau rutin berjualan takjil. Beliau mengungkapkan bahwa berdagang takjil ditujukan untuk bisa bersama-sama membantu menghidupi perekonomian keluarga mereka. Ibu Febriyanti dan suami sama-sama memiliki penghasilan yang mereka gunakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan anak dan kebutuhan keluarga mereka. Modal yang digunakan untuk berdagang takjil bersumber dari pemberian suami dan keuntungan dari dagangannya sebelumnya Praktik Akuntansi Keuntungan Pedagang takjil mengungkapkan bahwa mereka memperoleh lebih banyak keuntungan ketika berdagang di bulan suci ramadhan dibandingkan dengan berdagang di hari-hari biasa lainnya. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Yusna berikut RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 AuSaya merasakan bahwa keuntungan dari berdagang takjil ini lumayan. Kalau dagangan takjil saya habis terjual maka keuntungannya bisa mencapai ratusan ribu. Kalau misalnya tidak habis terjual maka keuntungannya hanya puluhan rupiah. Keuntungan berjualan nasi kuning dan berjualan kue tidak Lebih banyak keuntungan berjualan kue dibandingkan dengan berjualan nasi kuning. Kalau dibandingkan dengan berdagang sehari-hari maka berdagang takjil lebih banyak memperoleh keuntunganAy. Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh ibu Yusna sebelumnya, peneliti memahami bahwa beliau mengalami peningkatan keuntungan saat berdagang takjil dibandingkan dengan berdagang pada hari-hari biasa. Jika seluruh dagangan takjilnya habis terjual, beliau bisa memperoleh keuntungan ratusan ribu rupiah, tetapi jika tidak habis terjual, keuntungannya bisa mencapai puluhan ribu rupiah saja. Dalam konteks ini, terdapat praktik akuntansi keuntungan yang tercermin dalam amal "berdagang takjil lebih banyak memperoleh keuntungan. " Ilmu dari amal ini adalah bahwa pada hari-hari biasa, ibu Yusna berdagang makanan, sementara pada bulan suci Ramadhan, beliau berdagang takjil. Keuntungan yang diperoleh oleh ibu Yusna saat berdagang takjil pada bulan suci Ramadhan lebih besar dibandingkan dengan berdagang makanan pada harihari biasanya. Peningkatan pendapatan saat berdagang takjil juga dialami oleh ibu Suryati Koi. Berikut merupakan cuplikan penuturan beliau: AuSaya memperoleh keuntungan dari berdagang takjil bisa mencapai Rp hal ini berbeda jika saya berjualan di hari-hari biasa maka keuntungan yang saya dapatkan tidak sampai dengan jumlah tersebutAy. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh ibu Suryati sebelumnya, peneliti memahami bahwa keuntungan yang diperolehnya saat berdagang takjil dapat mencapai Rp 500. Beliau menyatakan bahwa jika berdagang pada hari-hari biasa, keuntungan yang diperolehnya tidak mencapai jumlah tersebut. Pada pernyataan ibu Suryati sebelumnya, terlihat praktik akuntansi keuntungan yang tercermin dalam amal "keuntungan dari berdagang takjil bisa mencapai Rp 500. " Ilmu dari amal ini adalah bahwa keuntungan yang diperoleh oleh ibu Suryati saat berdagang takjil lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperolehnya di hari-hari biasa. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 Selanjutnya, hal yang senada diungkap juga oleh ibu Febriyanti bahwa beliau merasa keuntungan berdagang takjil lebih besar dibandingkan berdagang di hari-hari Hal ini sebagaimana yang beliau ungkapkan berikut ini: AuSaya sudah tidak mengetahui berapa jumlah pasti dari keuntungan yang saya peroleh ketika berdagang takjil. Hal ini disebabkan ketika memperoleh keuntungan maka langsung saya gunakan untuk modal lagi berjualan di keesokan harinya. Lalu ketika mendapatkan keuntungan maka saya gunakan untuk membeli kebutuhan anak saya. Kalau berdagang bukan di bulan puasa, saya bisa mengetahui keuntungannya sekitar Rp 300. 000 sampai Rp Intinya keuntungan itu saya rasa lebih banyak pada saat berjualan takjil dibandingkan berjualan hari-hari biasanyaAy. Bertolak dari penuturan ibu Febriyanti sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa keuntungan yang diperoleh dari berdagang tajik secara rinci tidak diketahui oleh ibu Febriyanti. Hal tersebut disebabkan ketika telah memperoleh keuntungan maka beliau langsung menggunakan keuntungan tersebut untuk berbelanja bahan dagangan serta memberikan jajan kepada anak-anaknya. Namun beliau meyakini bahwa jumlah keuntungan yang diperoleh ketika berdagang takjil lebih besar dibandingkan berdagang di hari-hari biasanya. Pada penjelasan ibu Febriyanti sebelumnya, peneliti menemukan praktik akuntansi keuntungan. Praktik tersebut terdapat pada amal Aukeuntungan itu saya rasa lebih banyak pada saat berjualan takjilAy. Ilmu dari amal ini adalah ibu Febriyanti tidak mengetahui secara pasti keuntungan yang beliau peroleh dari berdagang takjil. Namun beliau meyakini bahwa keuntungan dari berdagang takjil jauh lebih besar dibandingkan keuntungan berdagang di luar bulan suci ramadhan Lebih lanjut, keuntungan yang diperoleh oleh pedagang takjil bukan saja digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka, namun juga berbagi diantara Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Yusni beriktu ini: AuKeuntungan yang saya peroleh biasanya saya bagikan kepada pengemis kemudian ada juga anak-anak di sekitar sini yang sering bermain, saya membagikan itu biasanya makanan atau uang. Saya memang suka dengan anak-anakAy. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 Berdasarkan penjelasan sebelumnya yang disampaikan oleh ibu Yusni, peneliti memahami bahwa beliau meluangkan sebagian kecil dari keuntungan yang diperolehnya untuk berbagi kepada sesama. Selain memberikan uang, ibu Yusni juga kerap membagikan dagangannya secara cuma-cuma, terutama kepada anak-anak yang sering bermain di sekitar lokasi berjualan. Kebiasaan ini muncul karena ibu Yusni memiliki kecenderungan untuk memberikan dukungan kepada anak-anak dan merasa senang melakukannya. Pada penjelasan ibu Yusni sebelumnya, peneliti menemukan praktik akuntansi keuntungan berupa penggunaan keuntungan. Praktik tersebut terdapat pada amal Ausaya membagikan itu biasanya makanan atau uang. AyIlmu dari amal ini adalah keuntungan yang diperoleh oleh ibu Yusni bukan saja digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, namun beliau menyisihkan sedikit dari keuntungan tersebut untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Menggunakan diimplementasikan oleh ibu Surayati. Berikut merupakan penuturan beliau: AuOh iya kasihan, saya kalau ada pengemis yang datang tentu berbagi dengan mereka, meskipun hanya Rp 2. 000 saya tetap berikan kasihan. Memberikan itu didorong oleh rasa empati jugaAy. Pada penjelasan ibu Suryati sebelumnya mendeskripsikan bahwa keuntungan yang beliau peroleh digunakan bukan saja untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, namun juga berbagi diantara sesama. Ibu Suryati biasanya berbagi dengan para pengemis yang mendatangi tempat beliau berdagang. Bertolak dari penjelasan ibu Surayati sebelumnya, terdapat praktik akuntansi keuntungan berupa penggunaan Praktik tersebut terdapat pada amal berupa Auberbagi dengan merekaAy. Ilmu dari amal ini adalah ibu Surayati menggunakan sedikit keuntungan yang beliau peroleh dari berdagang takjil untuk berbagi diantara sesama. Hal tersebut digerakkan atas dasar rasa empati diantara sesama Hal ini sejalan dengan yang dilakukan juga oleh ibu Febriyanti bahwa ketika berdagang beliau sering menyisihkan beberapa dagangannya untuk dibagikan kepada orang yang kurang mampu. Berikut merupakan penjelasan beliau: RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 AuKalau ada pengemis yang datang, saya tetap akan memberikan kasihan. Saya biasanya memberikan dua bungkus nasi. Mereka juga kan manusia, pasti merasakan lapar. Saya tidak sampai hati tidak memberikan beberapa dagangan takjil ketika mereka meminta. Begitu juga dengan para pedagang takjil yang lain, mereka biasanya memberikan beberapa dagangan mereka kepada para pengemis yang datang meminta. Kalau saya tidak memberikan uang, saya memberikan beberapa kue atau makanan yang saya jual. Saya memberikan dalam bentuk uang kepada orang yang meminta sumbangan, bukan pada para pengemis. Hal ini disebabkan para pengemis menurut saya membutuhkan makananAy. Pada penuturan ibu Febriyanti sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa ketika berdagang takjil maka beliau telah menyisihkan sedikit dari dagangannya untuk diberikan secara gratis kepada para pengemis yang datang meminta makanan di tempat beliau berjualan. Sementara itu, beliau juga menyisihkan sedikit dari keuntungan yang diperolehnya untuk diberikan kepada para peminta sumbangan. Tindakan tersebut dilakukan oleh ibu Febriyanti atas dasar rasa kemanusiaan. Beliau mengungkapkan bahwa para pengemis juga merupakan manusia yang pasti merasakan Sehingga beliau tergerak untuk memberikan beberapa dari dagangan beliau kepada mereka. Bertolak dari penjelasan tersebut ditemukan praktik akuntansi berupa penggunaan keuntungan. Praktik tersebut terdapat pada amal AuSaya memberikan dalam bentuk uang kepada orang yang meminta sumbanganAy. Ilmu dari amal ini adalah ibu Febriyanti menyisihkan keuntungan yang beliau peroleh untuk berbagi diantara Praktik Akuntansi Kerugian Dalam berdagang takjil, penjualan tidak selalu memperoleh keuntungan, namun kadang juga memperoleh kerugian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Yusna berikut ini: AuSaya pernah mengalami kerugian saat berdagang takjil. Kerugian itu saya alami ketika dagangan yang saya jual tidak habis terjual. Berjualan pasti mengalami keuntungan dan kerugian. Semuanya tergantung pada pembeli. Kalau misalnya musim hujan seperti saat ini biasanya dagangan takjil ada yang tersisa atau tidak habis terjual. Kalau musim hujan hanya jualan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 makanan yang akan habis terjual, tetapi kalau minuman dingin tidak akan habis terjual. Kalau misalnya masih ada dagangan yang tersisa maka saya akan membagikan secara gratis kepada orang-orangAy. Berdasarkan pada penjelasan ibu Yusna sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa selama berdagang takjil beliau bukan saja memperoleh keuntungan, namun sesekali mendapatkan kerugian. Kerugian tersebut beliau alami disebabkan ketika dagangannya tidak habis terjual akibat musim hujan. Biasanya pembeli hanya akan membeli dagangan makanan dibandingkan minuman dingin. Ibu Yusna menyikapi kerugian tersebut dengan cara membagikan sisa dagangannya secara gratis kepada orang-orang sekitar tempat beliau berjualan. Berpijak pada penuturan ibu Yusra sebelumnya ditemukan praktik akuntansi kerugian berupa menghindari kerugian dari berdagang takjil. Praktik tersebut terdapat pada amal Audagangan yang tersisa maka saya akan membagikan secara gratis kepada orang-orang. Ay Ilmu dari amal ini adalah hidangan takjil yang tidak habis terjual merupakan sebuah kerugian bagi ibu Yusna, namun beliau merasa lebih rugi jika harus membuang makanan yang masih layak dikonsumsi. Oleh sebab itu, untuk menghindari kerugian tersebut, maka ibu Yusna memilih untuk membagikan dagangan takjil yang masih layak dimakan tersebut kepada orang-orang sekitar. Hal ini senada dengan yang dialami oleh ibu Suryani bahwa pada saat berjualan beliau bukan saja memperoleh keuntungan, namun beberapa kali mengalami kerugian. Berikut merupakan penjelasan detailnya: AuIya kalau jualan, ketika hujan, maka saya biasanya mengalami kerugian. Kadang dagangan saya tidak habis terjual. kalau mengalami kerugian, maka sisa dagangan yang tidak habis terjual akan saya berikan kepada tetangga Saya berikan sisa dagangan itu secara gratisAy. Berdasarkan penjelasan dari ibu Surayani sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa ketika berdagang takjil di musim hujan, maka biasanya beliau mengalami kerugian. Untuk mengantisipasi kerugian tersebut maka ibu Surayani memutuskan untuk memberikan dagangan tersebut secara gratis kepada tetangga Menurut beliau hal tersebut lebih baik dibandingkan jika beliau harus membuang sisa dagangannya yang masih layak untuk dikonsumsi. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 Pada penjelasan ibu Surayani sebelumnya ditemukan praktik akuntansi kerugian berupa cara menghindari kerugian. Praktik tersebut terdapat pada amal berupa AuSaya berikan sisa dagangan itu secara gratis. Ay Ilmu dari amal ini adalah ibu Surayani membagikan sisa dagangan takjil kepada para tetangga ataupun keluarganya secara Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerugian berupa membuang makanan yang masih layak untuk dikonsumsi. Lebih lanjut, ibu Febriyanti mengungkapkan hal yang senada bahwa biasanya kerugian yang dialami oleh pedagang takjil apabila pada saat beliau berdagang pada musim hujan. Berikut merupakan cuplikan wawancaranya: AuIya pernah mengalami kerugian pada saat berdagang takjil. Misalnya saja dagangan saya per bungkusnya harganya adalah Rp 5. kalau misalnya 10 buah yang tidak habis terjual, maka saya tidak memperoleh uang sebanyak Rp 50. biasanya sudah jam setengah 7 malam ini sudah habis terjual, namun ini dagangan saya masih banyak yang belum habis terjual. Saya akan tetap berjualan meskipun mengalami kerugian. Jadi pedagang tidak boleh mudah untuk merasa kecewa. Hari ini saya mengalami kerugian, besok saya akan tetap berjualan. Hal ini disebabkan keyakinan saya bisa jadi hari ini tidak habis terjual, namun besok bisa habis terjual. rezeki kan tidak ada yang Jadi lapak saya tetap akan saya buka meskipun hari ini mengalami Kadang dagangannya habis terjual namun kadang juga tidak. Biasanya kalau musim hujan seperti ini dagangan tidak akan habis terjual. namun dua hari yang lalu dagangan saya habis terjual. kalau misalnya dagangan saya tidak habis terjual saya sudah akan bagi secara gratis kepada orang-orang sekitar. kepada ibu-ibu yang sedang mengaji di masjid. Begitu juga kue-kue yang dititipkan di tempat saya untuk dijual. Biasanya kalau saya infokan tidak habis terjual, mereka langsung meminta saya untuk membagikan saja kepada orang-orang sekitar. hal ini disebabkan jika dagangan tersebut disimpan maka akan busukAy. Berdasarkan penjelasan dari ibu Febriyanti sebelumnya memberikan pemahaman pada peneliti bahwa harga dagangan per porsinya adalah Rp 5. jika sebanyak 10 bungkus tidak habis terjual maka beliau mengalami kerugian sebesar Rp 50. biasanya beliau mengalami kerugian pada saat berdagang di musim hujan. Sebagaimana RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 saat ini, biasanya dagangannya sudah habis terjual sebelum magrib, namun sampai mendekati isya dagangan beliau masih banyak tersisa. Beliau menegaskan meskipun mengalami kerugian namun beliau akan terus berdagang. Bagi beliau menjadi seorang pedagang takjil tidak boleh mudah merasa putus asa. Ibu Febriyanti meyakini bahwa rezeki telah diatur oleh Sang Pencipta. Bisa jadi hari ini dagangan beliau tidak habis terjual, namun siapa tahu besok atau beberapa hari kemudian beliau akan memperoleh keuntungan dari berdagang. Ketika mengalami kerugian, biasanya ibu Febriyanti memilih untuk membagikan dagangannya secara gratis kepada orang sekitar. beliau melewati masjid, biasanya beliau akan memberikan sisa dagangan yang tidak habis terjual tersebut kepada jamaah masjid yang sementara melakukan pengajian di Sementara itu, beliau juga menjelaskan. Tindakan beliau ini juga dilakukan oleh para pedagang takjil yang menitipkan kue dagangan mereka di tempat dagangan ibu Febriyanti. Jika dagangan kue yang mereka titipkan tersebut tidak habis terjual. memutuskan untuk membagikan secara gratis kepada orang-orang sekitar. hal ini dirasa lebih baik dibandingkan membuang makanan yang masih layak untuk dimakan. Pada penuturan ibu Febriyanti sebelumnya ditemukan praktik akuntansi kerugian berupa cara menghindari kerugian. Praktik tersebut terdapat pada amal Aumisalnya dagangan saya tidak habis terjual saya sudah akan bagi secara gratis kepada orangorang sekitar. Ay. Ilmu dari amal ini adalah sisa dagangan takjil yang tidak habis terjual akan dibagikan secara gratis oleh ibu Febriyanti. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerugian dari membuang makanan yang masih layak untuk dikonsumsi. PEMBAHASAN Nilai budaya huyula, berbagi di antara sesama, dan syukur di balik praktik akuntansi oleh pedagang takjil Dalam pembahasan sebelumnya, ditemukan praktik akuntansi modal, yaitu sumber modal yang berasal dari keuntungan usaha dagangan di luar bulan suci Ramadhan dan bantuan dari suami. Memahami praktik akuntansi modal ini membuka wawasan bagi peneliti terhadap nilai . kerjasama yang terkandung dalamnya. Kerjasama ini tercermin melalui tindakan pedagang yang memilih berdagang dengan tujuan bersama untuk menyokong kehidupan keluarga mereka. Dalam budaya lokal Gorontalo, nilai kerjasama dalam keluarga sering ditekankan oleh para tetua melalui pepatah atau ungkapan seperti "delo tombowata lo tabu walu labiya", yang artinya RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 seperti campuran lemak dan sagu. Ungkapan ini menyiratkan makna kehidupan rumah tangga yang harmonis (Daulima, 2. Dalam masyarakat Gorontalo, terdapat jenis masakan bernama " yilabulo", yang terbuat dari campuran lemak ayam/sapi dengan sagu, bumbu, dan dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus dan dibakar. Setelah dimasak, rasanya lezat dan sulit untuk membedakan mana yang lemak dan mana yang sagu. Pasangan suami istri dalam sebuah rumah tangga diharapkan seperti pasangan sagu dan lemak, yaitu penuh kasih sayang, pengertian, dan bekerja sama sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan demikian, terbentuk rumah tangga yang rukun, damai, dan dipenuhi dengan iman serta taqwa, yang dalam Islam disebut sebagai sakinah. Konsep ini tercermin dalam ungkapan lokal "delo tombowata lo tabu walu labiya" (Daulima, 2. Tindakan dari pedagang takjil berupa saling membantu dalam membangun usaha merupakan cerminan dari nilai budaya lokal tersebut. Nilai berupa tolong menolong berlaku di mana saja, dan setiap individu/ pedagang lain juga melakukannya, namun diimplementasikan dengan cara yang berbeda. Dalam konteks budaya lokal Gorontalo, nilai tolong menolong dalam istilah Audelo tombowata lo tabu walu labiyaAy diimplementasikan oleh pedagang takjil melalui saling membantu antara sepasang suami istri dalam membangun usaha yaitu berjualan takjil. Selanjutnya, semangat nilai tolongmenolong yang tercermin dalam praktik pedagang takjil sejalan dengan ajaran agama Islam, khususnya yang terdapat dalam informasi wahyu seperti Al-Maidah ayat 2. Kesesuaian nilai yang menjadi semangat pedagang takjil dalam menerapkan akuntansi dengan nilai-nilai dalam syariat agama Islam memberikan pemahaman kepada peneliti bahwa esensi . dari praktik akuntansi yang diadopsi oleh pedagang takjil tidak hanya bersifat materi . , tetapi juga mencakup nilai-nilai budaya dan keimanan. Praktik akuntansi yang berakar pada budaya lokal dan religiusitas ini sejalan dengan beberapa temuan penelitian sebelumnya. Sebagai contoh, (Musdalifa & Mulawarman, 2. dalam penelitian mereka mengenai budaya sibaliparriq dalam praktik household accounting menemukan bahwa budaya sibaliparriq, yang mencerminkan kerja sama antara suami dan istri, menjadikan pendapatan sebagai rezeki dan membangun kepercayaan antara pasangan suami-istri dalam pengelolaan Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Rahmawati & Yusuf, 2. yang mengkaji budaya sipallambiAo dalam praktik bagi hasil. Mereka menemukan bahwa sistem RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 pembagian hasil panen yang dilakukan oleh petani penggarap tidak hanya bertujuan untuk memberikan atau membantu agar mendapatkan keuntungan semata. Sistem ini lebih ditujukan untuk kemaslahatan kedua belah pihak yang terlibat dalam perjanjian, dengan keadilan menjadi prinsip utama dalam pembagian hasil. Budaya sipallambiAo . olong-menolon. menjadi dasar etika bagi masyarakat dalam konteks ini. Pada pembahasan sebelumnya, telah teridentifikasi praktik akuntansi keuntungan. Selanjutnya, merenungkan temuan tersebut memberikan wawasan kepada peneliti bahwa praktik akuntansi keuntungan yang diterapkan oleh pedagang takjil menunjukkan semangat . berbagi di antara sesama. Nilai ini tercermin melalui tindakan pedagang yang tidak hanya menggunakan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga menyisihkan sebagian kecil dari keuntungan tersebut untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dalam budaya lokal Gorontalo, berbagi di antara sesama merupakan salah satu nilai yang sering diteruskan oleh para orang tua melalui ungkapan " delo tutumulo lambi," yang secara harfiah berarti seperti kehidupan pisang (Daulima, 2. Makna dari ungkapan ini adalah pernyataan bahwa kehidupan yang memberikan manfaat kepada banyak orang. Ungkapan ini menyiratkan ide bahwa dalam menjalani kehidupan, penting untuk memberikan manfaat kepada sesama. Pisang, sebagai tanaman yang dikenal luas di masyarakat Gorontalo, digunakan sebagai analogi. Pohon pisang, meskipun ditebang atau bahkan dibakar, tetap mampu menghasilkan anak pisang. Tanaman ini tidak akan mati sebelum memberikan buahnya kepada manusia. Ungkapan ini juga mengandung pesan moral "ngohi layaAoo dipomongohi hunaliyo to manusia, dipo mohumate," yang berarti selama belum memberikan manfaat kepada manusia, maka ia belum siap untuk mati. Ungkapan lain yang serupa adalah " PoduduAoo delo tutumulo lambi," yang mengajarkan untuk mengikuti kehidupan pisang (Daulima, 2. Tindakan pedagang takjil yang menyisihkan sebagian kecil dari keuntungan mereka untuk membantu orang-orang yang membutuhkan mencerminkan nilai yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Dengan kata lain, akuntansi keuntungan yang diterapkan oleh pedagang takjil tidak hanya berkaitan dengan aspek materi . , melainkan juga melibatkan nilai kearifan lokal seperti berbagi di antara sesama. Lebih lanjut, nilai berbagi ini sejalan dengan ajaran dalam syariat agama Islam, seperti yang termaktub dalam informasi wahyu (Qs. Al Hadid: . Keselarasan nilai berbagi, yang menjadi semangat para pedagang takjil dalam menerapkan akuntansi keuntungan, memberikan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 pemahaman kepada peneliti bahwa esensi . dari akuntansi keuntungan yang diterapkan oleh pedagang takjil melibatkan nilai-nilai kearifan lokal dan religiusitas. Praktik akuntansi keuntungan yang berbasis pada nilai budaya lokal dan religiusitas tersebut sejalan dengan penemuan yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Sebagai contoh, (Amaliah, 2. dalam studi mengenai nilai-nilai budaya Tri Hita Karana dalam penetapan harga jual menemukan bahwa komunitas transmigran Bali di Bolaang Mongondow tidak hanya menetapkan harga jual untuk mencapai keuntungan materi, melainkan juga mengandung nilai budaya Tri Hita Karana yang mencerminkan ketundukan kepada Sang Pencipta, pelestarian lingkungan, dan gotong royong. Selanjutnya, (Harkaneri. Triyuwono, & Sukoharsono, 2. dalam penelitian mengenai praktik bagi hasil kebun karet masyarakat Kampar Riau menemukan bahwa praktik bagi hasil gotah mengandung nilai-nilai keadilan, kesosialan, kejujuran, dan keamanahan. Praktik ini merupakan tradisi adat yang diwariskan secara turun temurun dan berakar pada nilai-nilai syariah dalam agama Islam. Lebih lanjut, (Arena. Herawati, & Setiawan, 2. dalam penelitian tentang praktik akuntansi oleh pengusaha UMKM menemukan bahwa praktik akuntansi yang diterapkan oleh pelaku UMKM merupakan akuntansi luar Praktik tersebut diwarnai oleh filosofi budaya religius yang menyatakan bahwa rezeki bukanlah sesuatu yang dapat dihitung matematis. Berdasarkan uraian sebelumnya, telah diidentifikasi praktik akuntansi kerugian yang melibatkan pemberian sisa dagangan takjil yang tidak terjual kepada keluarga, tetangga, atau jamaah masjid yang sedang melakukan pengajian. Merenungkan praktik akuntansi kerugian ini memberikan pemahaman kepada peneliti mengenai adanya nilai . rasa syukur atau usaha untuk menghindari kufur nikmat dengan tidak membuang makanan yang masih layak dikonsumsi. Dalam konteks budaya Islam Gorontalo, nilai tersebut sering ditanamkan oleh para sesepuh melalui ungkapan " diila oAoonto, bo wolu-woluwo," yang secara harfiah berarti tidak kelihatan tetapi ada (Daulima, 2. Makna dari ungkapan ini adalah mengajarkan bahwa dalam kehidupan, tidak hanya perlu mengejar hal-hal yang terlihat, tetapi juga mencari sesuatu yang mungkin tidak terlihat tetapi sebenarnya ada. Istilah " oAoonto" atau kelihatan dalam konteks ini mencerminkan hal-hal materi, sedangkan yang tidak terlihat tetapi ada adalah Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ungkapan ini sering digunakan oleh para mubaligh RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 dalam dakwah sebagai pengingat untuk bersyukur, berzikir, dan beramal ibadah secara berimbang, tidak hanya fokus pada aspek yang terlihat, melainkan juga menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat (Daulima, 2. Semangat nilai syukur yang mendasari praktik akuntansi kerugian yang diterapkan oleh pedagang takjil tersebut sejalan dengan ajaran dalam syariat agama Islam, terutama yang terdapat dalam informasi wahyu. Sebagai contoh, dalam sebuah hadits . nformasi wahy. Nabi Muhammad SAW disebutkan: "Sesungguhnya Allah membenci kalian karena 3 hal, kata-kata . , menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta" (Hadits riwayat Imam Bukhar. Tindakan para pedagang takjil yang menghindari kerugian dengan memberikan sisa dagangan kepada orang sekitar, daripada membuang makanan tersebut, dapat dianggap sebagai manifestasi dari nilai-nilai seperti syukur atas nikmat atau ketidakpemborosan harta. Dengan kata lain, ihsan dari praktik akuntansi kerugian yang diadopsi oleh pedagang takjil tidak hanya melibatkan pertimbangan materi . , tetapi juga memperhatikan nilai-nilai non-materi, seperti rasa syukur dan keimanan kepada Sang Pencipta. Praktik akuntansi kerugian yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal dan spiritualitas tersebut sejalan dengan temuan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Sebagai contoh, (Niswatin. Noholo. Tuli, & Wuryandini, 2. menemukan bahwa pengusaha mikro betawi perantauan meyakini bahwa tidak semua pengeluaran dapat dianggap sebagai biaya yang harus dihindari, khususnya dalam hal sedekah, zakat, dan Pedagang dalam konteks ini justru berupaya memaksimalkan pengeluaran tersebut, yang didorong oleh keimanan kepada Sang Pencipta. (Amaliah & Sugianto, 2. menemukan bahwa nilai religi yang tercermin melalui sedekah dan nilai sosial turut berperan dalam penetapan harga jual yang dilakukan oleh masyarakat betawi yang hijrah ke Gorontalo. Selain itu, (Purnamawati, 2. meneliti akuntabilitas pengelolaan batu dan menemukan bahwa, mempertahankan integritas dan keterikatan pada nilai-nilai ketuhanan dalam praktik akuntansi tersebut. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal yang mendasari praktik akuntansi pedagang takjil. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 4. Nomor 2. Desember 2023. Hal 217 - 240 bentuk praktik akuntansi, yaitu praktik akuntansi modal yang diterapkan dengan landasan nilai kerja sama, atau dalam konteks budaya lokal Gorontalo disebut huyula. Kerja sama antara suami dan istri untuk saling mencukupi kebutuhan keluarga sejalan dengan nasihat yang sering diungkapkan oleh para tua-tua melalui lumadu Audelo tombowata lo tabu walu labiya,Ay yang mengandung makna kehidupan rumah tangga yang Temuan berikutnya mencakup praktik akuntansi keuntungan yang didasarkan pada nilai saling berbagi. Dalam kebudayaan Islam Gorontalo, semangat berbagi menjadi nilai yang ditanamkan oleh para tua-tua melalui lumadu Audelo tutumulo lambi,Ay yang menggambarkan kehidupan pisang sebagai pernyataan tentang memberikan manfaat kepada banyak orang. Selanjutnya, terdapat praktik akuntansi kerugian yang disertai dengan nilai kearifan lokal dalam bentuk mensyukuri nikmat. Dalam kebudayaan Gorontalo, nilai ini tercermin dalam lumadu Audiila oAoonto, bo wolu-woluwo,Ay yang mengajarkan untuk tidak hanya mengejar yang terlihat tetapi juga mencari hal-hal yang mungkin tidak terlihat namun sebenarnya ada. Implikasi penelitian ini adalah hasil kajian ini bisa berkontribusi pada perkembangan teori akuntansi yang lebih fokus dan mendukung nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap konsep akuntansi takjil yang berakar pada budaya lokal daerah Gorontalo. REFERENSI