Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan Melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Deva Pramudya. Yosafat Hermwawan Trinugraha. Dwi Astutik Universitas Sebelas Maret devapramudya246@gmail. com , yosafathermawan@staff. dwiastutik@staff. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the empowerment process and the impact of economic empowerment in improving welfare and changing the mindset carried out by the Family Hope Program (PKH) Beneficiary Group (KPM) through the Joint Business Group (KUBE) in Laweyan District. Surakarta City. The type of research used is a descriptive research method with a qualitative approach. Data sources in this study were obtained from observation, interviews, and documentation. Sampling using purposive sampling. The empowerment carried out by Jajar Cemerlang and Kerten Berkah kube is in terms of managing e-stalls which are used as distribution points for disbursement of basic food aid. KUBE is an empowerment carried out in groups and under the supervision of PKH assistants in their respective regions. In the run. KUBE can improve the welfare both in terms of economic and social of its members. In Laweyan sub-district the running . In Laweyan District, the empowerment process is still limited when the schedule for food disbursement alone has not been developed through KUBE. However, when empowerment is carried out, every KUBE member can increase their income so that their daily needs can be fulfilled properly. In addition, the existence of KUBE can change the mindset of the community to no longer expect assistance from the government because the results obtained through KUBE are greater than the government assistance obtained. Keywords: Empowerment. Joint Business Group (KUBE). Family Hope Program (PKH) ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pemberdayaan dan dampak dari pemberdayaan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengubah pola pikir yang dilakukan oleh Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pemberdayaan yang dilakukan oleh KUBE Jajar Cemerlang dan Kerten Berkah yakni dalam hal pengelolaan e-warung yang dijadikan sebagai titik distribusi pencairan bantuan sembako. KUBE merupakan pemberdayaan yang dilakukan secara berkelompok dan di bawah pengawasan dari pendamping PKH wilayah masing-masing. Dalam berjalannya KUBE dapat meningkatkan kesejahteraan baik dari segi ekonomi hingga sosial para anggotanya. Di Kecamatan Laweyan keberjalanan pemberdayaan masih terbatas ketika jadwal pencairan sembako saja belum ada usaha lain yang dikembangkan melalui KUBE. Meskipun demikian, ketika pemberdayaan 1801 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. terlaksana setiap anggota KUBE dapat menambah penghasilan sehingga kebutuhan seharihari dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu dengan adanya KUBE ini dapat merubah pola pikir masyarakat untuk tidak lagi mengharapkan bantuan dari pemerintah karena hasil yang didapatkan melalui KUBE lebih besar jika dibandingkan bantuan pemerintah yang didapatkan. Kata Kunci: Pemberdayaan. Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Program Keluarga Harapan (PKH) PENDAHULUAN Kehidupan dalam bermasyarakat tidak terlepas dari adanya suatu kelompok salah satunya adalah kelompok miskin. Kelompok yakni kumpulan manusia, dua orang atau lebih yang menunjukkan adanya ketergantungan pada pola interaksi Sedangkan kemiskinan menurut Bhinadi . merupakan kondisi rendahnya pendapatan seseorang dan ketiadaan kepemilikan dan tidak mampu terpenuhinya kebutuhan dasar manusia mulai dari sandang, pangan, dan papan. Indonesia masih fokus dengan masalah kemiskinan, kemiskinan di Indonesia merupakan akibat dari kepadatan penduduk yang menjadikan penyerapan tenaga kerja tidak maksimal sehingga jumlah pengangguran terus meningkat. Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah makro yang harus segera diatasi oleh pemerintah. Sumber daya manusia sangat mempengaruhi dalam penggunaan sumber daya alam. Adapun aspek yang mempengaruhi sumber daya manusia di antaranya adalah kesehatan dan pendidikan. Tabel 1. Persentase dan Jumlah Penduduk Miskin Menurut Pulau No. Pulau Presentase Jumlah Jawa 8,79% 13,62 Juta Orang Bali Ae Nusa Tenggara 13,29% 2,09 Juta Orang Sumatera 9,27% 2,04 Juta Orang Kalimantan 5,67% 970 Ribu Orang Sulawesi 2,04 Juta Orang Maluku - Papua 19,68% 1,51 Juta Orang Sumber: Berita Resmi Statistik No, 47/07/Th. XXVI Badan Pusat Statistik (BPS) 17 Juli 2023 Program Keluarga Harapan atau biasa disebut dengan PKH merupakan program yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2007 sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yakni dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Program ini disalurkan dalam bentuk bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM). Program Keluarga Harapan (PKH) dimaksudkan untuk mengembangkan sistem jaminan sosial bagi masyarakat miskin. PKH mengambil konsep dari pelaksanaan Conditional Cash Transfer di mana program tersebut telah berhasil dilaksanakan di beberapa negara seperti Amerika Latin. Afrika, bahkan Asia. Dari beberapa penelitian sejenis memperlihatkan bahwa PKH mampu untuk mengatasi kemiskinan meningkatkan konsumsi keluarga, bahkan dapat mendorong pemangku kepentingan pusat serta daerah untuk melakukan perbaikan pada 1802 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. infrastruktur kesehatan dan pendidikan (Habibullah dkk. , 2. Tak hanya dalam bidang pendidikan. Isdijoso, dkk . menunjukkan bahwa PKH tidak hanya membantu dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan melainkan juga membantu dalam bidang kesehatan, konsumsi, dan juga kehidupan yang lebih layak. PKH selain untuk pendidikan dan kesehatan juga dipergunakan untuk kebutuhan yang menunjang dalam keberlangsungan kehidupan sehari-hari seperti membayar sewa rumah, listrik, dan air bersih. Isnani . menunjukkan bahwa implementasi PKH di Desa Karang Rejo, ditemukan beberapa perubahan yang dialami oleh Keluarga Penerima Manfaat atau KPM yakni dalam bidang pendidikan dan kesehatan walaupun dinilai hanya bersifat sementara. Pendamping PKH selalu memberikan motivasi kepada KPM untuk meningkatkan kualitas hidup, namun hanya sedikit masyarakat yang memiliki kesadaran untuk benar-benar memperbaiki kualitas hidup mereka. PKH dinilai efektif dalam hal program perlindungan sosial namun dalam penelitian Ekardo, dkk . ditemukan kasus dimana KPM belum tepat sasaran sehingga di masyarakat masih ditemukan masyarakat dengan golongan menengah ke atas ditetapkan sebagai KPM. Ketika bantuan tidak tepat sasaran maka seperti yang ditemukan dalam penelitian Nainggolan, dkk . terdapat indikasi penyalahgunaan bantuan PKH oleh KPM yakni untuk memenuhi keinginan konsumtif, untuk mabuk, judi, serta membeli rokok. Tidak semua masyarakat miskin mengetahui bagaimana agar dana yang diberikan pemerintah dapat dimanfaatkan secara efektif. Oleh karena itu dalam memberantas kemiskinan tidak maksimal jika hanya diberikan melalui pencairan dana yang kemudian tidak dapat memanfaatkannya dengan efektif. Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu cara yang dilakukan agar mampu membangun pola pikir masyarakat yang lebih maju. Menurut Kaputra . pemberdayaan masyarakat adalah proses membangun masyarakat melalui pengembangan, perubahan perilaku masyarakat, serta dalam pengorganisasian masyarakat. Melalui pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dapat dijadikan ide awal bagi masyarakat miskin untuk dapat menambah penghasilan agar kebutuhan mampu terpenuhi dengan baik. Dalam Program Keluarga Harapan (PKH) terdapat salah satu program sebagai wujud pemberdayaan masyarakat yakni Kelompok Usaha Bersama atau yang biasa disebut KUBE. KUBE sendiri merupakan program yang dapat diikuti oleh KPM untuk memberdayakan kelompok masyarakat miskin dengan memberikan modal usaha melalui program Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) untuk mengelola Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Departemen Sosial RI 2009 menjelaskan bahwa kelompok pengurus KUBE terdiri atas 5-10 KK atau lebih guna melaksanakan usaha kegiatan ekonomi produktif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial. Pengurus KUBE dipilih dari anggota kelompok yang dapat mendukung KUBE, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan anggotanya, serta pengetahuan dan pengalaman yang cukup. Penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan . menunjukkan bahwasanya pemberdayaan yang dilakukan melalui KUBE dikatakan berhasil. Melalui KUBE tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan namun juga bisa untuk mengembangkan 1803 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. kebebasan mobilitas dalam masyarakat. Dalam KUBE terdapat kegiatan- kegiatan yang mengharuskan mereka berkumpul di suatu tempat, sehingga dengan sering berkumpulnya masyarakat di dalamnya akan terbentuk perbincangan- perbincangan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan wawasan dan sebagai ajang untuk bertukar pikiran. KUBE dijadikan dana cadangan ketika ekonomi keluarga belum Program KUBE di Nagari tidak semata-mata diberikan untuk modal usaha melainkan dikelola dengan bentuk simpan pinjam sehingga setiap anggota KUBE memiliki tanggung jawab atas pinjaman tersebut, selain itu dibentuk semacam pinjaman supaya setiap anggota memiliki motivasi dalam menjalankan usahanya. Hasil dari Program KUBE menurut penelitian yang dilakukan tidak dapat untuk mengukur secara kuantitatif tetapi jika dilihat secara kualitatif melalui Kelompok Usaha Bersama terdapat perbaikan ekonomi keluarganya. Dilansir dari berita radarmagelang. KUBE dilaksanakan dengan harapan KPM dapat terlepas dari bantuan PKH sehingga dapat bergantian dengan keluarga miskin yang saat ini belum mendapatkan bantuan PKH. Pemkab Temanggung tidak hanya semata-mata memberikan uang modal agar Kelompok Usaha Bersama dapat mengembangkan usahanya melainkan Pemkab Temanggung juga memberikan pembinaan seputar kewirausahaan dan entrepreneurship. Dari evaluasi yang telah dilakukan Pemkab Temanggung menyatakan keberjalanan KUBE mendapatkan hasil yang cukup bagus, terdapat beberapa anggota KUBE mampu menghasilkan untung sebesar satu juta sampai dua juta per bulan dengan berbagai usaha yang telah dilaksanakan. Pemberdayaan KPM PKH dalam penelitian terfokus pada peran KUBE dalam PKH. Beberapa alasan pemberdayaan sosial masyarakat miskin yang dilaksanakan melalui program KUBE tertulis dalam Pedoman Umum Pelaksanaan Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial RI tahun 2009 yakni dengan adanya KUBE masyarakat yang awalnya melakukan kegiatan usaha secara mandiri lantas dapat dikembangkan dalam bentuk kelompok maka akan mempermudah akses pendamping dalam melaksanakan pembinaan dan monitoring. Yang kedua, pembinaan dalam KUBE diharapkan masing-masing anggota dapat saling membantu dalam berbagai hal baik keterampilan, kemampuan, dan hal lain yang berkaitan dengan KUBE yang sedang Ketiga. KUBE dapat dijadikan wadah KPM PKH dalam menumbuhkan rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan kepedulian satu sama lain. Dan yang terakhir KUBE dapat berfungsi sebagai kelompok yang mampu menggerakkan keswadayaan, menguatkan, serta mengembangkan usaha setiap anggota. Dari latar belakang yang telah dituliskan disertai dengan beberapa penelitian terdahulu, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana peran dan proses Kelompok Usaha Bersama dalam pemberdayaan KPM PKH di Kecamatan Laweyan. Kota Surakarta. PKH tidak hanya memberikan bantuan kepada keluarga miskin tetapi juga ingin mengubah pola pikir masyarakat miskin yang diwujudkan melalui pemberdayaan KUBE. Dari hal tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah pemberdayaan yang dilakukan melalui program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dapat meningkatkan perekonomian Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dan mengubah pola pikir masyarakat untuk mengubah 1804 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. nasibnya untuk tidak terus berada dalam lingkar kemiskinan melalui usaha yang Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan yakni menjelaskan peran dan proses pemberdayaan ekonomi Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta dan mengetahui dampak pemberdayaan ekonomi melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengubah pola pikir Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif yang berisi kumpulan kata, gambar, bukan angka-angka. Penelitian deskriptif kualitatif ini ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena yang ada dalam pemberdayaan KUBE. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari observasi dan wawancara kepada informan yang telah ditentukan meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dalam Program Keluarga Harapan. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen yang didapatkan ketika peneliti terjun ke dalam lapangan dan penelitian terdahulu yang relevan dengan pemberdayaan masyarakat PKH. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan uji validitas yang dipakai ialah teknik triangulasi untuk mengetahui kevalidan data yang diperoleh peneliti. Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori pemberdayaan masyarakat oleh Kartasasmita dalam (Mardikanto 2. yang menyatakan bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dalam berbagai proyek pembangunan melainkan masyarakat sebagai subjek dalam upaya pembangunan itu Adapun pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat, yakni pemberdayaan harus terarah, program pemberdayaan harus mengikutsertakan atau dilakukan langsung oleh masyarakat yang menjadi sasaran, dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan secara kelompok, karena jika dilaksanakan secara individu masyarakat miskin lambat dalam berkembang karena masyarakat miskin sulit dalam memecahkan masalah. Dalam hal ini sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan dimana pemberdayaan dilakukan secara kelompok untuk mempermudah jalannya pemberdayaan bagi KPM PKH. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelompok Usaha Bersama (KUBE) merupakan program pemberdayaan yang berasal dari penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Dalam Kementerian Sosial Republik Indonesia khususnya Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan. KUBE dibentuk dengan tujuan memberdayakan Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga 1805 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Harapan (PKH) dengan memberikan bantuan modal usaha melalui Program Bantuan Langsung Sosial (BLPS) untuk mengelola Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Tidak semua KPM PKH tergabung ke dalam KUBE hal tersebut dikarenakan dalam satu kelurahan hanya memerlukan satu hingga dua titik distribusi sedangkan satu KUBE beranggotakan maksimal 10 KPM. Pembentukan KUBE diawali dengan para pendamping PKH dalam setiap wilayah yang ketika pendampingan memberikan berbagai informasi tentang akan dibentuknya KUBE. Ketika ditawarkan seluruh KPM memiliki kesempatan yang sama untuk andil di dalamnya. KUBE yang ada di Surakarta khususnya Kecamatan Laweyan Kota Surakarta berfokus pada KUBE jasa sehingga KUBE yang ada di Kecamatan Laweyan bergerak dalam e-warung. Laweyan terdapat dua KUBE yang saat ini masih berdiri e-warung yakni KUBE Jajar Cemerlang dan Kerten Berkah. Pemberdayaan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) E-warung sendiri merupakan warung yang dijadikan sebagai titik distribusi penyaluran bantuan sembako, para penerima bantuan hanya bisa mencairkan bantuan yang didapatkan melalui agen-agen distribusi yang memiliki mesin EDC. KUBE merupakan kelompok yang mengelola E-warung tersebut. Karena KUBE di kecamatan Laweyan Kota Surakarta bergerak dalam e-warung sehingga ketika awal pembentukan KUBE, pendamping mendata KPM yang memiliki rumah pribadi dan bisa dijadikan usaha. Hal tersebut berkaitan dengan tempat yang akan di dirikannya e-warung. Setelah mendapatkan tempat yang akan dijadikan e-warung. KPM yang terpilih rumahnya kemudian mengurus surat-surat dengan didampingi oleh pendamping daerah masing-masing. Setelah itu proses yang dilakukan dalam pembentukan KUBE yakni pelatihan keterampilan dalam berusaha yang dilakukan oleh pendamping, pemberian bantuan stimulan untuk mendirikan e-warung, dan pendampingan yang dilakukan untuk memantau perkembangan setiap kelompok. KUBE yakni wujud dari strategi yang dilakukan oleh Kementerian Sosial guna memberdayakan KPM atau keluarga miskin untuk meningkatkan pendapatan setiap keluarga melalui kegiatan ekonomi produktif dan juga pembentukan keuangan yang sifatnya mikro. Di dalam KUBE terdapat susunan kepengurusan mulai dari ketua, bendahara, sekretaris, dan juga anggota. Yang menjadi ketua dari KUBE merupakan KPM yang rumahnya dijadikan tempat untuk e-warung. Sedangkan bendahara dan sekretaris dipilih melalui kesepakatan antar anggota KUBE. Setiap anggota KUBE memiliki kewajiban yang sama yakni mengelola E-Warung. KUBE AuJajar CemerlangAy memiliki e-warung yang sangat lengkap barang dagangannya terutama kebutuhan sembako yang diperuntukkan dalam penyaluran bantuan. Saat ini KUBE AuJajar CemerlangAy hanya ketua yang mengelola e-warung tersebut, hal tersebut dikarenakan sedang tidak ada penyaluran bantuan yang dapat disalurkan melalui e-warung. Bantuan PKH pada awalnya hanya bisa dicairkan melalui e-warung sekitar yang sudah dibentuk, namun sekarang bantuan tersebut dapat dicairkan dimana saja bahkan juga bisa Ketika tidak ada bantuan yang disalurkan melalui e-warung, banyak KUBE yang menjadi vakum bahkan e-warungnya juga tutup dikarenakan kesibukan 1806 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. masing-masing anggota. Tetapi ketika bantuan ada yang harus disalurkan melalui EWarung, para anggota KUBE bisa dipastikan aktif kembali melayani para KPM PKH. Pemberdayaan KUBE yakni dengan melayani para KPM PKH dalam mencairkan bantuan yang didapatkan. Sebelum adanya e-warung yang diurus sendiri oleh KPM PKH bantuan dicairkan melalui agen-agen yang tanpa pengawasan pendamping sehingga terdapat agen-agen yang bermain curang dengan menaikkan harga ketika berlangsungnya pencairan bantuan. Banyak KPM PKH yang mengeluhkan hal tersebut. Dengan adanya KUBE yang dikelola oleh sesama KPM dan juga terdapat pendampingan menjadikan penyaluran bantuan lebih efektif dan lebih Dalam setiap kelurahan sudah ada e-warung yang dikelola oleh KUBE sehingga ketika penyaluran terutama bagi lansia sudah tidak perlu menempuh jarak yang jauh dan juga mengantre karena sudah ada pembagian dalam setiap wilayahnya dan dalam satu e-warung tidak hanya dilayani oleh satu orang saja. Seperti yang dilakukan oleh KUBE AuJajar CemerlangAy ketika sudah ada penjadwalan pencairan bantuan sembako maka semua anggota akan mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan mulai dari mendatangkan stok sembako yang dibutuhkan, memastikan mesin EDC yang akan dipakai dalam keadaan baik, mengatur strategi dan pembagian tugas antar anggota dengan harapan tidak terjadi antrean yang membuat para KPM yang akan mencairkan bantuan menunggu lama. Adapun yang dilakukan KUBE ketika penyaluran bantuan yakni ada anggota melakukan absensi, kemudian ada anggota yang tugasnya meng-handle mesin EDC, menimbang sembako, dan juga membagikan kepada KPM. E-warung yang dikelola langsung oleh KPM menjual dengan harga yang relatif murah dan ketika KPM yang akan mencairkan bantuan namun memiliki kendala akan cepat teratasi karena akan disampaikan langsung oleh pendamping. Dalam pemberdayaan KUBE, masyarakat atau KPM berperan langsung dalam kegiatan-kegiatan yang ada. Sehingga dalam pemberdayaan KUBE masyarakat yang berperan sudah dapat dikatakan sebagai subjek bukan lagi sebagai objek. Dengan masyarakat dilibatkan sebagai subjek maka masyarakat akan lebih banyak mendapatkan pengalaman. Pemberdayaan KUBE merupakan pemberdayaan yang sifatnya terarah, karena keberjalanan KUBE di bawah pengawasan pendamping PKH dan Kementerian Sosial. KUBE juga terdapat pelaporan keuangan yang dituliskan dalam buku besar yang meliputi pendapatan dan pengeluaran setiap harinya. Buku tersebut setiap berkala akan dicek oleh pendamping guna melihat keberjalanan KUBE. Jika dirasa terdapat masalah di tengah keberjalanan KUBE, maka pendamping akan mencoba membantu menguraikan masalah yang ada. KUBE merupakan pemberdayaan keluarga miskin yang dilakukan secara berkelompok sehingga dengan demikian pemberdayaan yang dilakukan akan lebih mempermudah bagi masyarakat miskin dalam melakukan setiap kegiatannya. Kartasasmita dalam (Mardikanto 2. menjelaskan bahwasanya secara individu masyarakat miskin lebih cenderung sulit dalam memecahkan masalah namun jika secara berkelompok akan lebih membantu masyarakat miskin. Dalam ruang gerak kelompok, masyarakat miskin akan lebih berkembang sama halnya dengan KUBE 1807 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. pemberdayaan yang dilakukan secara berkelompok. Dengan berkelompok melalui KUBE, ketua KUBE AuJajar CemerlangAy dan AuKerten BerkahAy menyetujui bahwasanya masyarakat miskin menjadi lebih terbuka dari segi wawasan dan lebih menambah semangat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui usaha-usaha yang dapat dilakukan bersama. Sudah lebih dari satu periode E-warung yang dikelola oleh KUBE vakum dari kegiatan pokoknya yakni sebagai titik distribusi pencairan bantuan sembako. Hal tersebut menjadikan banyak E-warung yang vakum karena masih banyak para anggota KUBE yang masih terbatas fungsinya pada saat pencairan bantuan saja. Meskipun demikian e-warung yang dikelola KUBE AuJajar CemerlangAy masih tetap berjalan dan barang dagangan yang ada terlihat lengkap. E-warung yang dikelola oleh KUBE di bawah pengawasan Dinas Sosial ini tidak harus para anggota KPM yang membeli di warung tersebut melainkan sistemnya jika sedang tidak ada pencairan bantuan maka keberjalanan warung sama dengan warung-warung biasa jadi siapa saja boleh membeli di e-warung tersebut. E-warung yang dikelola oleh KUBE AuJajar CemerlangAy, sebelum dijadikan e-warung sebelumnya juga sudah berdiri warung yang hanya menjual aneka minuman. Setelah menjadi e-warung barang dagangan menjadi lengkap layaknya toko kelontong. Meskipun sedang tidak ada pencairan bantuan yang disalurkan melalui e-warung KUBE AuJajar CemerlangAy tetap buka setiap hari layaknya warung yang lengkap dengan berbagai barang dagangannya. Tidak banyak e-warung yang tetap buka dengan barang dagangan lengkap seperti AuJajar CemerlangAy. Ketekunan dari anggota KUBE AuJajar CemerlangAy terutama dari ketuanya yang kebetulan menjadi tuan rumah sekaligus penanggung jawab yang menjadikan ewarung tetap berdiri. Selain ketua yang menjadi tuan rumah, anggota dan pengurus yang lain ketika tidak ada penjadwalan pencairan bantuan tidak ikut berperan aktif dalam menghidupkan e-warung. Sama halnya KUBE AuKerten BerkahAy saat ini yang mengelola E-warung hanya yang menjadi ketua saja atau yang menjadi tuan rumah AuKerten BerkahAy merupakan KUBE susulan jadi bisa dikatakan belum lama berdirinya, selain itu AuKerten BerkahAy memulai semuanya dari awal jadi tidak seperti Jajar Cemerlang yang awalnya sudah ada warung. Dan kebetulan ketika AoKerten BerkahAy didirikan setelah itu tidak ada pencairan bantuan melalui e-warung. AuKerten BerkahAy hanya mengalami dua kali pencairan bantuan. Hal tersebut menjadikan ewarung yang dikelola oleh KUBE AuKerten BerkahAy sekarang ini sedikit terbengkalai terlihat dari barang dagangan yang ada hanya seadanya saja. Selain itu lokasi dari AuKerten BerkahAy ini dapat dikatakan kurang strategis dan di tempat tersebut banyak warung-warung yang jauh lebih lengkap. Menurut Bourdieu, di dalam satu kawasan akan terdapat pertarungan yang memunculkan konsekuensi berupa dominasi. Ewarung KUBE pada awalnya dibentuk dengan tujuan mengurangi angka kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat miskin dengan usaha secara berkelompok. Tetapi, pada kenyataannya yang dihadapi saat ini tidak hanya kemiskinan melainkan persaingan-persaingan yang lain seperti saat ini mulai merebak minimarket dan tokotoko yang menawarkan berbagai kemudahan para konsumennya, sehingga di tengah 1808 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. keadaan yang seperti itulah para anggota KUBE harus bisa mempertahankan setiap eksistensi yang telah dibuat. Dampak Pemberdayaan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) KUBE dapat dilihat keberhasilannya dari tingkatan graduasi para pengurus dan anggota KUBE. Tidak hanya satu atau dua KPM yang sudah tidak mendapatkan PKH. Hal tersebut dikarenakan para KPM sudah merasa terbantu dengan KUBE sehingga dirasa tidak perlu lagi untuk mendapatkan bantuan PKH. KPM dengan adanya pemberdayaan KUBE jika dilihat dari kacamata pendamping dan koordinator PKH Kota Surakarta. KUBE membawa banyak perubahan bagi para anggotanya. Yang pertama kali dilihat adalah ketika para anggota KUBE itu bertemu dengan pendamping yang dibahas tidak lagi mengenai bantuan yang akan didapatkan. Dengan tidak lagi menggantungkan kebutuhan hidupnya melalui bantuan berarti sudah ada usaha- usaha yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehariharinya. Dengah tergabung ke dalam KUBE sebagian para anggotanya ternyata sudah bisa merasakan hasilnya. Dari segi kesejahteraan, para anggota KUBE mendapatkan hasil dari keuntungan penjualan ketika adanya pencairan bantuan sembako. Walaupun e-warung yang dikelola oleh KUBE menjual dengan harga yang relatif rendah jika dibandingkan dengan yang lainnya, e-warung tersebut masih bisa mendapatkan keuntungan yang dapat dirasakan oleh semua anggota KUBE. Para anggota KUBE bisa menjual dengan harga yang relatif murah dikarenakan sudah melakukan survei harga-harga sembako yang murah. Tidak hanya satu atau dua toko saja yang dikunjungi untuk mendapatkan harga yang murah melainkan berbagai toko dan berbagai tempat sudah dikunjungi. Hal itu diakui oleh para anggota KUBE ketika awal terbentuknya e-warung mencari harga sembako yang relatif murah cukup memakan waktu dan tenaga. Di Surakarta, terdapat KUBE yang kini telah berkembang pesat dikarenakan para anggotanya sudah menemukan keahliannya. Yang awalnya KUBE tersebut hanya bergerak di E-warung saja kini salah satu KPM sudah mampu berkarya dengan menghasilkan lampion-lampion unik di setiap tema hari perayaan. Hal tersebut salah satu bentuk motivasi yang berhasil dari pendamping dimana pendamping tidak hanya mendampingi ketika pencairan bantuan saja, tetapi tugas pendamping juga memotivasi dan mendorong para KPM untuk bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Memotivasi yang dilakukan pendamping ialah dengan mencari dan melihat keahlian dari setiap KPM yang sekiranya dapat dikembangkan. Melalui KUBE jika anggotanya memiliki potensi yang dapat dikembangkan ke depannya dapat menjadi embrio baru KUBE. Kelompok Usaha Bersama AuJajar CemerlangAy dan AuKerten BerkahAy sebagian besar sudah mampu mengubah pola pikirnya untuk berkembang melalui usahausaha yang dapat dilakukan. Seperti tergabung ke dalam KUBE tidak hanya mampu meningkatkan perekonomian tetapi dengan adanya kelompok tersebut KPM menjadi lebih terbuka kembali wawasannya untuk melakukan sesuatu hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan KPM. Dalam KUBE terdapat kegiatan-kegiatan yang 1809 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1801-1812 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. mengharuskan mereka berkumpul di suatu tempat, sehingga dengan sering berkumpulnya masyarakat di dalamnya akan terbentuk perbincangan- perbincangan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan wawasan dan sebagai ajang untuk bertukar pikiran. Tidak sedikit KPM yang sudah tidak lagi menggantungkan dirinya pada bantuan-bantuan pemerintah melalui pemberdayaan KUBE. Bahkan, terdapat KPM yang mengundurkan diri penerima bantuan PKH karena hasil yang didapatkan melalui pemberdayaan KUBE dapat mengentaskan dari lingkar kemiskinan. KESIMPULAN DAN SARAN Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang dibentuk guna memberdayakan Kelompok Penerima Manfaat (KPM) dalam pelaksanaannya di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta khususnya AuJajar CemerlangAy dan AuKerten BerkahAy mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. KUBE di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta masih terbatas fungsinya pada pengelolaan E-Warung belum sampai pada tahap adanya embrio baru dari kemampuan-kemampuan para anggotanya. E-warung merupakan titik distribusi pencairan bantuan sembako yang dikelola sendiri oleh KPM. Anggota KUBE berperan langsung menjadi subjek yang melakukan seluruh kegiatan yang ada di dalamnya, seperti ketika pencairan bantuan sembako semuanya dilakukan langsung oleh anggota KUBE. Melalui KUBE. KPM dapat merasakan uang lelah yang merupakan keuntungan dari penjualan ketika pencairan bantuan sembako di e-warung tersebut. Pola pikir KPM sudah mulai berubah yakni tidak menggantungkan dirinya pada bantuan-bantuan pemerintah melainkan dari usahausaha yang telah dilakukan melalui KUBE. Sangat disayangkan para anggota KUBE, ketika e-warung yang dikelola oleh KUBE sudah mulai berjalan dan dapat meningkatkan perekonomian bagi para anggota justru pemerintah mengganti kebijakan dimana bantuan yang didapatkan tidak harus dicairkan melalui e-warung yang ada melainkan bantuan yang diperoleh dapat dicairkan dimana saja dan dalam bentuk apa pun. Hal itulah yang menjadikan beberapa KUBE tidak aktif lagi. DAFTAR PUSTAKA