Vol 20 No 1 Jun 2025 Page: 31-50 E-ISSN: 2540-9204 P-ISSN: 1907-1191 DOI: 10. 37680/adabiya. Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Research article Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan yang Berkelanjutan The Perspective of Mbah Demang the Puppeteer in Pursuing Community Welfare and Sustainable Development Vanisa Nakita Purwandhanto1*. Hanif Budiman2. Putu Ayu Pramansari3 Universitas Islam Indonesia. Indonesia * 23922012@students. Abstract This study explores the Mbah Demang Tradition's role in achieving community welfare and sustainable development in Banyuraden Village. Using qualitative methods and a case study approach, this study focuses on the sustainability values contained in the tradition and their impact on the local community's social, cultural, and economic life. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, which were then analyzed thematically. The study results indicate that the Mbah Demang Tradition significantly strengthens social solidarity, maintains the balance of nature, and preserves local cultural values that support long-term welfare. Keywords Mbah Demang. Sustainable. Tradition. Article history Submitted: 08/08/2024. revised: 02/10/2024. accepted: 09/05/2025. A 2025 by the author. This is an open- access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY SA) license, https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Published by Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Indonesia https://ejournal. id/index. php/adabiya/index Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan PENDAHULUAN Berbagai kebudayaan tersebar luas di berbagai negara di dunia. Tradisi kebudayaan dibentuk dan diwariskan secara turun-temurun. Setiap tradisi kebudayaan memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing. Kebudayaan merupakan konsep yang bersifat fundamental. Menurut E. Tylor, dalam bidang antropologi, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan pengalaman yang diciptakan oleh manusia. Dengan demikian, budaya dapat dipahami sebagai hasil karya manusia yang turut berperan dalam membentuk kehidupan sehari-hari (Larasati, 2. Pengaruh globalisasiyang mencakup arus media massa, teknologi informasi, serta penyebaran budaya global yang semakin intensif dapat memberikan dampak signifikan terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi lokal, seperti budaya Mbah Demang (Jadidah et al. , 2. Tradisi Mbah Demang merupakan sebuah upacara untuk mengenang Ki Demang Cokrodikromo. Tradisi tersebut dilaksanakan di Dusun Modinan. Desa Banyuraden setiap bulan Suro pada kalender Jawa (Habib, 2. Upacara Tradisi Mbah Demang bertujuan untuk mengenang perjuangan Ki Demang Cokrodikromo. Upacara tersebut diawali dengan pembagian Kendil Ijo yang kemudian dilanjutkan dengan acara tahlilan di area makam Mbah Demang. Kemudian, malam harinya dilanjutkan dengan tradisi kirab budaya dan diakhiri dengan berselawat di area pendopo petilasan Mbah Demang. Masyarakat setempat memandang bahwa tradisi tersebut memberikan dampak positif, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial. Dalam aspek keagamaan, masyarakat menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya pengalaman nilai-nilai keagamaan. Selain itu, penghargaan terhadap tradisi yang diimbangi dengan penerimaan terhadap modernisasi dinilai mampu mendukung pelestarian budaya sekaligus mendorong kemajuan teknologi. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat mempertahankan kekayaan nilai-nilai tradisional sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman (Khoiroh, 2. Dalam aspek sosial, nilainilai kebersamaan dan semangat saling membantu antaranggota masyarakat semakin Seiring dengan dinamika perubahan zaman, tradisi Mbah Demang juga mengalami perkembangan, namun tetap mempertahankan tata cara upacara tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya (Patel, 2. Budaya global yang kerap didominasi oleh arus modernisasi dan pola pikir konsumerisme cenderung lebih menarik perhatian, khususnya bagi generasi muda yang lebih terbuka terhadap pengaruh budaya luar (Masyarakat, n. Kondisi ini dapat menyebabkan menurunnya minat terhadap tradisi lokal, yang kerap Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno atau kurang relevan dengan kehidupan Seiring dengan dominasi budaya global yang turut membentuk pola hidup, cara pandang, serta preferensi masyarakat, tradisi seperti Mbah Demang berisiko semakin terpinggirkan dan kehilangan peran strategisnya dalam kehidupan sosial maupun spiritual masyarakat setempat (Lazarus, 2. Akibatnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi iniAiyang selama ini menjadi fondasi identitas budaya dan moral masyarakatAiberisiko terdegradasi, atau bahkan hilang sepenuhnya, apabila tidak disertai dengan upaya pelestarian yang serius, sistematis, dan berkelanjutan (Mubarok, 2. Di era modernisasi saat ini, popularitas budaya lokal mengalami penurunan yang signifikan, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang lebih terpapar oleh budaya global dan gaya hidup modern (Nahak, 2. Perubahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh globalisasi, urbanisasi yang pesat, serta kurangnya edukasi dan apresiasi terhadap warisan budaya lokal di tengah-tengah Akibatnya, tradisi, seni, dan praktik-praktik budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun menjadi semakin terpinggirkan, digantikan oleh budaya populer dari luar yang lebih mendominasi kehidupan sehari-hari, khususnya di kota-kota besar (Yudabakti, 2. Tantangan yang dihadapi terdiri dari adanya pengaruh media massa, modernisasi, migrasi, serta interaksi antar budaya (Globalisasi & Irman, 2. Upaya untuk menjaga keberlangsungan tradisi budaya dapat dilakukan melalui pengkajian nilainilai yang terkandung di dalamnya serta penanaman nilai-nilai tersebut kepada generasi muda, agar mereka memiliki kesadaran untuk terus melestarikan warisan budaya tersebut (Kurniawan et al. , 2. Kearifan lokal adalah warisan budaya yang mencakup tradisi, nilai, dan keyakinan yang diwariskan turun-temurun (Satino et al. , 2. Nilai-nilai ini menjadi pedoman hidup masyarakat dan tercermin dalam adat, ritual, seni, serta bahasa. Selain sebagai identitas budaya, kearifan lokal juga berperan dalam membentuk etika dan norma sosial dalam kehidupan sehari-hari (Winarva et al. , 2. Tradisi kearifan lokal sendiri tidak terlepas dari konteks kebudayaan maupun Kebudayaan adalah warisan sosial yang dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat (Boli, 2. Tradisi budaya telah menjadi salah satu sarana strategis dalam proses dakwah Islam sejak masa Walisongo pada abad ke-16 (Sholihah et al. Pendekatan tradisi budaya yang digunakan oleh Walisongo dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa sangat kental dengan nilai-nilai kultural lokal yang diintegrasikan Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan dengan ajaran Islam. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk dikomparasikan secara langsung dengan aspek ibadah normatif, seperti tata cara shalat. Namun, melalui unsur-unsur kebudayaan yang mencakup seni dan hiburan, dakwah dapat disampaikan secara kontekstual dan inklusif, sekaligus merepresentasikan misi Islam sebagai rahmatan lil Aoalamin (Nirwan Wahyudi Ar & Asmawarni, 2. Pada awal penyebaran Islam di Indonesia, proses tersebut telah melalui berbagai dinamika dalam konteks tradisi budaya lokal. Secara konseptual. Islam memberikan norma-norma dan aturan-aturan yang mengatur kehidupan manusia (Ridwan et al. , yang kemudian berinteraksi dengan budaya Jawa. Dalam konteks ini. Islam berkembang secara selaras dengan kebudayaan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, yang dikenal memiliki karakter religius, non-doktriner, serta menjunjung tinggi nilai toleransi. Oleh karena itu, akulturasi antara ajaran Islam dan budaya Jawa berlangsung secara harmonis, dan menghasilkan bentuk-bentuk kebudayaan Islami yang 'njawani' yakni berakar pada nilai-nilai lokal Jawa yang turut memperkuat moderatisme Islam hingga saat ini (Faris, 2. Salah satu tradisi kebudayaan yang masih dilestarikan terdapat di Desa Banyuraden. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu tradisi Mbah Demang. Tradisi ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap arwah leluhur, yakni Ki Demang Cakradikrama. Rangkaian kegiatan tradisi ini meliputi kirab budaya, upacara adat, serta doa bersama yang dikenal dengan sebutan 'Srokalan' (Tobing, 2. Kebudayaan yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia sangat beragam, salah satunya adalah tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden. Kabupaten Sleman. Tradisi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi Mbah Demang diterima dengan baik oleh warga setempat, sebagaimana terlihat dari tingginya partisipasi dan antusiasme masyarakat dalam mengikuti setiap rangkaian Masyarakat Banyuraden juga masih memegang teguh nilai gotong royong dalam upaya pelestarian tradisi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Mbah Demang memiliki nilai sosial dan budaya yang masih kuat hingga saat ini. Pelestarian tradisi ini mencerminkan bentuk keberlanjutan budaya, yang tidak hanya mempertahankan warisan leluhur secara turun-temurun, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal serta membuka ruang regenerasi bagi generasi mendatang untuk terus melestarikannya (Bakri, 2. Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden. Kecamatan Gamping. Kabupaten Sleman, merupakan ritual budaya yang dilaksanakan setiap bulan Suro (Muharra. sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Demang, leluhur yang berperan penting Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A dalam sejarah desa tersebut (Gamping et al. , 2. Rangkaian kegiatan tradisi Mbah Demang biasanya diawali dengan ziarah ke makam Mbah Demang untuk mendoakan arwahnya, kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional, seperti reog dan jathilan. Sebagai penutup, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sering diselenggarakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral serta memperkuat nilai-nilai budaya Jawa. Tradisi ini juga ditandai dengan pembagian nasi berkat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan antarwarga. Melalui pelaksanaan Suran Mbah Demang, masyarakat tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial yang dilandasi nilai-nilai keagamaan dan penghormatan terhadap leluhur. Tradisi Mbah Demang memiliki keterkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan yang berkelanjutan di Desa Banyuraden. Melalui ritual ini, masyarakat secara kolektif menjaga warisan budaya dan menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan yang kuat, yang menjadi fondasi penting dalam membangun solidaritas sosial dan memperkuat ketahanan komunitas (Abdullah & Nurlaena, 2. Melalui rangkaian kegiatan seperti ziarah, kirab budaya, dan pembagian nasi berkat, masyarakat desa memperoleh kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, mengurangi potensi konflik sosial, serta membangun rasa persatuan yang lebih kuat. Praktik-praktik ini berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan sosial yang harmonis, yang merupakan salah satu unsur penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, tradisi Mbah Demang juga berpotensi mendukung pembangunan yang berkelanjutan dengan mendorong pelestarian budaya sekaligus peningkatan ekonomi lokal (Adolph, 2. Misalnya, kegiatan kirab budaya dan pertunjukan kesenian mampu menarik perhatian wisatawan, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata serta memperkenalkan produk lokal seperti kerajinan tangan dan kuliner tradisional. Dengan demikian, tradisi ini berfungsi tidak hanya sebagai media pelestarian warisan budaya, tetapi juga sebagai katalisator pembangunan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan sosial. Tradisi ini mendukung kesejahteraan jangka panjang dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat serta mendorong nilai-nilai kebersamaan dalam menghadapi tantangan pembangunan. Pelestarian dan pengembangan tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden tidak hanya memperkuat komunitas yang berkelanjutan, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian pendidikan yang berkualitas serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini menekankan pentingnya mempertahankan tradisi Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan yang holistik, yang mencakup aspek sosial, budaya, dan ekonomi dalam komunitas. Faris . menekankan bahwa interelasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal, khususnya budaya Jawa, dapat berlangsung secara harmonis karena budaya Jawa cenderung akomodatif terhadap nilai-nilai baru. Dalam konteks ini, tradisi lokal tidak bertentangan dengan ajaran Islam, terutama dalam aspek akidah dan syariah, melainkan saling melengkapi dan memperkuat. Indikator kesejahteraan masyarakat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, mencakup aspek material dan non-material, dengan penekanan utama pada kesejahteraan non-material. Salah satu bentuk kesejahteraan non-material tersebut adalah pemenuhan kebutuhan akan nilai-nilai budaya, sebagaimana tercermin dalam tradisi Mbah Demang yang memuat unsur spiritual, sosial, dan identitas kultural masyarakat (Studies & Sukmasari, 2. Tradisi Mbah Demang berhubungan erat dengan konsep kesejahteraan yang didefinisikan oleh berbagai perspektif. Sesuai dengan prinsip Bentham, tradisi ini berkontribusi pada kebahagiaan kolektif masyarakat melalui aktivitas yang mempererat ikatan sosial dan memperkuat identitas budaya. Menurut UNDP, partisipasi dalam perayaan ini memperluas pilihan hidup warga dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan budaya. Selain itu, tradisi ini juga mendukung pemenuhan hak-hak dasar untuk hidup dengan martabat, sebagaimana didefinisikan oleh BAPPENAS dan UUD 1945, dengan menyediakan ruang bagi ekspresi budaya dan solidaritas sosial. Dengan demikian. Tradisi Mbah Demang mencerminkan kesejahteraan sebagai kebahagiaan bersama, pengembangan kapasitas individu, dan pemenuhan hak-hak dasar yang mendukung kehidupan yang bermartabat (Anwar, 2. Tradisi budaya Jawa sangat berpengaruh terhadap keyakinan serta praktik Tradisi kebudayaan sendiri muncul dari adanya cipta, rasa, dan karsa yang merupakan suatu keseluruhan yang kompleks dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala cakupan yang diperoleh anusia dalam masyarakat (Ningsih, 2. Menurut Mooren dalam Marcyn . , setiap kebudayaan memiliki seperangkat nilai dan keyakinan bersama yang membentuk makna dan harapan dalam konteks lingkungan sosialnya masing-masing. Pernyataan ini menunjukkan bahwa budaya bersifat ideasional, yakni mencerminkan sistem ide dan nilai yang diyakini serta diwariskan oleh masyarakat. Dalam kajian hukum Islam . , nilai-nilai tradisi, adat istiadat, dan budaya yang dikenal secara umum sebagai kearifan lokal dikategorikan dalam konsep 'urf'. Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A Urf merujuk pada kebiasaan atau praktik sosial yang dikenal luas dan diterima masyarakat setempat karena mengandung nilai-nilai kebaikan yang bersifat Dalam perspektif fiqh, urf memiliki legitimasi apabila tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat. Oleh karena itu, urf dapat dipandang sebagai konsep akomodatif yang membuka ruang dialog antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal yang hidup di tengah masyarakat (Di et al. , n. Kebudayaan memiliki nilai yang selaras dengan hukum Islam dan tradisi lokal, keselarasan yang ada dapat memberikan nilai-nilai atau prinsip hukum islam guna menciptakan kehidupan yang berdampingan dan bersinergi dengan nilai-nilai praktik tradisi lokal tanpa adanya permasalahan atau konflik. Hat tersebut menunjukan bagaimana nilai yang berbeda tetap dapat dijaga dan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat dan menciptakan suatu prinsip yang berkelanjutan (Oktavia et al. , 2. Kegiatan festival dan pelestarian warisan budaya memiliki potensi untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lingkungan. Festival tersebut juga berperan dalam mengeksplorasi peran budaya Islam di Indonesia dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat lokal yang Studi kasus Festival Ya Qowiyyu merupakan salah satu contoh nyata yang menunjukkan bagaimana kegiatan budaya berbasis keagamaan mampu memberikan kontribusi positif terhadap penyelesaian masalah sosial, peningkatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan temuan Marcyn . yang menegaskan bahwa festival budaya dapat menjadi instrumen strategis dalam mengatasi tantangan multidimensi di tingkat lokal (Marcyn, 2. Dalam penelitiannya (Nirwan Wahyudi Ar & Asmawarni, 2. juga menjelaskan bahwasannya melalui tradisi masyarakat tidak hanya sebatas seremonial saja, namun juga dapat menjadikannya berkelanjutan untuk tetap menjalankan misi dakwah kulturan melalui tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami bentuk atau manifestasi tradisi Mbah Demang serta menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang relevan dengan konsep kehidupan berkelanjutan. Fokus utama dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai peran tradisi lokal sebagai faktor penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan yang Diharapkan, penelitian ini dapat memberikan kontribusi akademis dalam kajian budaya dan keberlanjutan tradisi lokal, sekaligus memberikan manfaat praktis dalam upaya pelestarian warisan budaya di Desa Banyuraden. Salah satu upaya strategis dalam pelestarian budaya tersebut adalah dengan menjadikan tradisi Mbah Demang sebagai daya tarik budaya melalui penonjolan nilai historis serta Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan penguatan nilai-nilai kesejahteraan dan keberlanjutan di tengah Masyarakat (Zurinani & Rohman, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai keberlanjutan dalam Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden. Kajian ini berlandaskan pada teori keberlanjutan yang mencakup tiga aspek utama, yaitu keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial (Ii, 2. Penelitian ini berfokus pada pengumpulan data empiris yang didasarkan pada pengalaman langsung, pengamatan, dan wawancara mendalam dengan partisipan, serta dengan pengumpulan data (Dawis et al. , 2. Penggunaan metode kualitatif dalam penelitian mengenai Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden memiliki signifikansi yang tinggi, karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai dan praktik budaya lokal yang tidak dapat dijelaskan secara memadai melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta pengalaman langsung di lapangan. Pendekatan ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pelaksanaan tradisi, sekaligus memungkinkan fleksibilitas dalam menyesuaikan arah penelitian sesuai dengan dinamika temuan di lapangan (Muhammad Hasan et al. , 2. Interaksi langsung dengan partisipan juga membantu menggali makna simbolis dan praktis dari tradisi, yang memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Dengan demikian, metode kualitatif menawarkan wawasan yang sangat berharga dalam memahami peran Tradisi Mbah Demang dalam konteks kesejahteraan dan pembangunan berkelanjutan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan dengan Bapak Adi Sukirman atau yang dikenal sebagai Ki Hadi Sukirman, seorang dalang dalam tradisi Mbah Demang sekaligus generasi ketiga dari garis keturunan Kyai Rojidikromo, pemimpin ritual Srokalan yang dipilih langsung oleh Ki Demang. Selain itu, wawancara juga dilakukan dengan Bapak Subariyanto, salah satu warga Desa Nogotirto. Gamping, untuk mendapatkan perspektif masyarakat mengenai tradisi tersebut. Teknik observasi partisipatif dilakukan dengan cara peneliti terlibat secara langsung dalam pelaksanaan tradisi guna mengamati proses, dinamika, serta interaksi sosial yang berlangsung selama kegiatan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman kontekstual dan mendalam Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A terkait praktik dan makna dari tradisi Mbah Demang. Sementara itu, dokumentasi dilakukan secara langsung oleh peneliti selama pelaksanaan kegiatan tradisi, sebagai pelengkap data empiris yang dapat memperkuat temuan penelitian. Dalam penelitian kualitatif tentang Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden, validitas dan reliabilitas dijamin melalui beberapa strategi. Validitas ditingkatkan dengan triangulasi data, penyelidikan mendalam terhadap konteks, dan pembuatan catatan lapangan yang detail (Susanto et al. , 2. Sementara itu, reliabilitas diperkuat dengan audit trail, konsistensi teknik pengumpulan data, refleksivitas terhadap bias pribadi, dan peer review untuk umpan balik. Strategi-strategi ini memastikan hasil penelitian yang akurat dan kredibel (Tampubolon, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penulis melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan tokoh kunci yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan Tradisi Mbah Demang, yaitu Bapak Adi Sukirman, yang berperan sebagai dalang dalam tradisi kebudayaan Mbah Demang di Desa Banyuraden. Kecamatan Gamping. Wawancara dilaksanakan pada hari Jumat, 31 Mei 2024, bertempat di kediaman narasumber yang berlokasi di Kwarasan. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Bapak Adi Sukirman. Tradisi Mbah Demang dilaksanakan setiap tanggal 8 Suro dalam penanggalan Jawa. Prosesi tradisi ini terdiri dari dua rangkaian utama, yaitu kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat Desa Banyuraden dan sekitarnya, serta kegiatan berselawat yang dikenal dengan istilah Srokalan, yang menjadi bagian dari doa bersama sebagai penutup prosesi. Kirab Budaya Kirab Suran Mbah Demang diawali dengan keluarnya dua gunungan yang disusun sedemikian rupa dengan berisikan hasil bumi, seperti daun pisang, cabai merah, kacang panjang, wortel, dan sebagainya. Di bagian atas gunungan tersebut ditambahkan buah nanas sebagai lambang mahkota. Gunungan ini melambangkan rasa syukur kepada alam atau yang dikenal sebagai sedekah bumi. Sedekah bumi merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas berkah alam yang telah memberikan hasil bumi sebagai sumber kehidupan (Dini et al. , 2. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Gambar 1. Gunungan Mbah Demang Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024 Kirab tersebut tidak hanya menampilkan gunungan, tetapi juga dikawal oleh pasukan bergada yang berasal dari berbagai padukuhan di wilayah Kapanewon Gamping. Di barisan terdepan kirab Mbah Demang, turut diarak sejumlah pusaka peninggalan Mbah Demang, seperti kitab Aboya, tombak, bende . ejenis gong keci. , serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permana Patran. Keikutsertaan pusaka-pusaka ini dalam kirab menunjukkan penghormatan terhadap leluhur dan simbol kontinuitas nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turuntemurun. Srokalan Seusai kirab Mbah Demang, sekitar pukul 23. 00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi tradisi yang rutin dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian acara Mbah Demang, yaitu pembacaan selawat di pendopo dan ritual Srokalan, yakni mandi jamas bagi Trah Mbah Demang yang dilaksanakan di sumur petilasan Mbah Demang. Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A Gambar 2. Gate Pendopo Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024 Srokalan merupakan salah satu dari sepuluh pupuh dalam tembang Jawa yang secara khusus ditujukan untuk mengisahkan kejayaan Nabi Muhammad saw. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh Ki Cokrodikromo, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Demang (Leadership et al. , 2. Prosesi pembacaan selawat diawali setelah Ki Demang membagikan kendi ijo, yakni sepincuk nasi bungkus dengan sedikit sayur tholo dan ikan asin, sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat. Srokalan sendiri berisi narasi tentang masa kejayaan Nabi Muhammad yang disampaikan dalam bahasa Arab dengan irama yang khas dan dinamis, serta diselingi dengan tembangtembang Jawa sebagai bentuk akulturasi budaya dan ekspresi keagamaan lokal (Takari, 2. Srokalan dilantunkan dalam waktu satu malam. Pada intinya Srokalan adalah cara bertutur orang Jawa, yang menceritakan era kejayaan Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Narasumber yang dilakukan wawancara yaitu Bapak Adi Sukirman atau disebut Ki Hadi Sukirman adalah gerasi ke tiga, cucu dari Kyai Rojidikromo yang merupakan pemimpin Srokalan yang dipilih langsung oleh Ki Demang. Gambar 3. Kegiatan Srokalan Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024 Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Kegiatan Srokalan dalam Tradisi Mbah Demang merupakan upacara adat yang berfungsi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, khususnya Mbah Demang, melalui doa dan persembahan sesaji sebagai wujud rasa syukur serta penghormatan Ritual ini melibatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam semangat gotong royong, sehingga turut memperkuat ikatan sosial dan solidaritas Selain memiliki makna sosial. Srokalan juga mengandung dimensi spiritual, di mana masyarakat merasa terhubung dengan alam dan dunia spiritual, serta berupaya menjaga keharmonisan di antara keduanya. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana penting dalam pelestarian budaya serta media pembelajaran nilai-nilai adat bagi generasi muda, guna menjaga kesinambungan warisan budaya lokal. Nilai Keberlanjutan Nilai keberlanjutan yang dapat diidentifikasi dari Tradisi Mbah Demang terletak pada keterlibatan aktif masyarakat sekitar dalam setiap pelaksanaannya serta proses pewarisan yang berlangsung secara turun-temurun, mulai dari para leluhur, kemudian diteruskan kepada orang tua, dan dilanjutkan ke generasi berikutnya. Proses regenerasi ini mencerminkan praktik keberlanjutan kultural yang konsisten. Selain aspek pewarisan. Tradisi Mbah Demang juga memiliki fungsi sebagai sarana promosi budaya lokal yang secara aktif mendorong pelestarian kebudayaan, penguatan jaringan sosial antardaerah maupun antar komunitas, serta penggerak roda perekonomian lokal melalui kegiatan budaya. Berdasarkan data empiris yang diperoleh. Tradisi Mbah Demang mengandung sejumlah aspek penting yang dapat dianalisis, antara lain nilai-nilai keberlanjutan yang melekat, peran serta masyarakat atau komunitas lokal di Desa Banyuraden, tantangan dan peluang yang dihadapi dalam pelaksanaan tradisi, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan, serta rekomendasi untuk memastikan keberlanjutan tradisi di masa depan. Peran keberlanjutan dari Tradisi Mbah Demang ini mencakup aspek kemasyarakatan, sosial, budaya serta ekonomi (Febriana & Pangestuti, 2. Dari segi kemasyarakatan, masyarakat di Desa Banyuraden meyakini bahwa tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur serta roh-roh penjaga desa. Dalam aspek nilai sosial. Tradisi Mbah Demang memperkuat ikatan antarmasyarakat melalui praktik gotong royong dan kebersamaan dalam pelaksanaan berbagai ritual. Sementara itu, dari segi nilai budaya. Tradisi Mbah Demang menjadi simbol identitas budaya yang khas bagi masyarakat Banyuraden, yang diwariskan secara turuntemurun dari generasi ke generasi. Dari aspek ekonomi, tradisi ini memiliki potensi Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A besar dalam mendukung keberlanjutan ekonomi lokal. Melalui pengembangan pariwisata budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, industri kreatif, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta dukungan kebijakan yang tepat. Tradisi Mbah Demang dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga sebagai sarana strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan (ZINA & BAHTIAR, 2. Selain itu. Tradisi Mbah Demang memiliki peran yang sangat penting dalam upaya meraih kesejahteraan masyarakat. Adapun peran Tradisi Mbah Demang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan tercermin melalui berbagai aspek, antara lain: 1 Ekonomi Berdasarkan hasil wawancara dengan dalang Tradisi Mbah Demang serta masyarakat setempat, di antaranya Bapak Subariyanto selaku warga Desa Nogotirto. Kapanewon Gamping. Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Tradisi ini membuka peluang bagi warga untuk meningkatkan pendapatan melalui penyediaan sarana berjualan selama acara berlangsung, seperti menjual makanan, minuman, dan cenderamata kepada pengunjung dari dalam maupun luar desa. Selain itu, kegiatan ini turut mendorong pengembangan usaha kecil dan mikro, meningkatkan sirkulasi ekonomi di dalam komunitas, serta mengurangi tingkat pengangguran sementara dengan menyediakan kesempatan kerja bagi warga yang belum memiliki pekerjaan tetap. Tradisi Mbah Demang juga berperan sebagai ajang promosi produk-produk lokal, memperkenalkan kekhasan desa kepada audiens yang lebih luas, sehingga membuka peluang pemasaran jangka panjang. Secara keseluruhan, tradisi ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi lokal, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan di wilayah mereka. 2 Kemasyarakatan Tradisi Mbah Demang memainkan peran krusial dalam membentuk dan memperkuat hubungan kemasyarakatan di Desa Banyuraden. Tradisi ini tidak hanya Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan kebersamaan, solidaritas, serta identitas kolektif yang kuat di antara warga. Lebih dari itu, tradisi ini berfungsi sebagai sarana interaksi antargenerasi, memperkuat peran sosial individu dalam komunitas, dan menyediakan mekanisme bantuan serta dukungan sosial yang bersifat partisipatif di dalam masyarakat. 3 Pemerintah Tradisi Mbah Demang memainkan peran penting dalam mempererat hubungan antara masyarakat setempat dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Tradisi ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang efektif, di mana pemerintah daerah terlibat secara aktif dalam mendukung dan mengawasi pelaksanaan acara. Partisipasi pemerintah menunjukkan komitmen mereka terhadap pelestarian budaya lokal, sementara masyarakat merespons dengan sikap kooperatif dan semangat gotong Kolaborasi ini menciptakan hubungan yang harmonis antara warga desa dan mengembangkan warisan budaya yang telah menjadi bagian penting dari identitas 4 Infrastruktur Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden juga memainkan peran penting dalam mendorong pengembangan infrastruktur desa. Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas umum, peningkatan aksesibilitas, pengembangan sarana pendukung pariwisata, perbaikan lingkungan, serta penyediaan ruang publik dan infrastruktur komunikasi merupakan beberapa aspek infrastruktur yang berkembang seiring dengan pelaksanaan tradisi ini. Salah satu dampak nyata dari pengembangan tersebut adalah peningkatan kualitas jalan antar desa dan kampung, yang bertujuan untuk mendukung kelancaran kegiatan tahunan tradisi Mbah Demang. Dampak positif dari pengembangan infrastruktur ini tidak hanya mempermudah pelaksanaan tradisi, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat desa secara keseluruhan. 5 Partisipasi Masyarakat Luar Daerah Tradisi Mbah Demang memiliki dampak sosial yang luas, tidak hanya bagi masyarakat Desa Banyuraden, tetapi juga bagi komunitas di sekitarnya. Partisipasi warga dari luar desa menciptakan rasa kebersamaan dan memperkuat nilai guyub Vanisa Nakita Purwandhanto. Hanif Budiman, & Putu Ayu Pramansari | Perspektif Dalang Mbah Demang dalam Upaya Meraih A rukun atau kerukunan. Tradisi ini menjadi simbol persatuan yang mempererat hubungan antarwarga serta melestarikan nilai gotong royong dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Peran ekonomi, masyarakat, pemerintah, dan infrastruktur sangat penting dalam mencapai kesejahteraan masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutan. Ekonomi yang kuat menciptakan peluang kerja dan meningkatkan taraf hidup, sementara partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan serta melestarikan tradisi lokal mendukung terciptanya pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah memiliki peran penting dalam merumuskan kebijakan yang adil, mendorong investasi ramah lingkungan, serta menyediakan layanan dasar seperti pendidikan dan Infrastruktur yang memadai dan berkelanjutan akan meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok, sehingga memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan jangka panjang. SIMPULAN Tradisi Mbah Demang di Desa Banyuraden terbukti memiliki nilai-nilai keberlanjutan yang signifikan dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas kolektif masyarakat, mempererat solidaritas sosial, serta membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Meskipun dihadapkan pada tantangan modernisasi dan pergeseran nilai-nilai budaya, antusiasme masyarakatAi terutama generasi mudaAimasih menunjukkan kecenderungan positif terhadap pelestarian tradisi ini. Pelaksanaan tradisi secara rutin setiap tanggal 8 Suro dalam penanggalan Jawa melalui prosesi kirab budaya dan kegiatan Srokalan menjadi wujud konkret praktik budaya yang berakar kuat di masyarakat. Keberlanjutan tradisi ini ditopang oleh keterlibatan aktif masyarakat lokal, dukungan pemerintah daerah, serta regenerasi kultural yang terus berlangsung. Untuk memperkuat keberlangsungan tradisi Mbah Demang ke depan, penulis merekomendasikan beberapa langkah strategis: pertama, mengintegrasikan nilai-nilai budaya Mbah Demang dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, khususnya pada mata pelajaran yang terkait dengan kebudayaan lokal. Kedua, meningkatkan promosi dan dokumentasi tradisi melalui media digital untuk memperluas jangkauan dan menarik minat publik, terutama generasi muda. Ketiga, mendorong formulasi kebijakan yang mendukung pelestarian budaya melalui pendanaan, program pemberdayaan masyarakat, serta pelibatan komunitas dalam Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan pengembangan kegiatan kebudayaan. Keempat, mengadakan kegiatan edukatif dan partisipatif seperti festival budaya, lokakarya, dan pelatihan sebagai upaya membangun kedekatan emosional generasi muda terhadap warisan tradisi lokal. Dengan penerapan strategi tersebut. Tradisi Mbah Demang dapat terus menjadi bagian vital dalam upaya pembangunan yang berkelanjutan serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sleman, sekaligus menjadi contoh bagaimana kearifan lokal mampu menjawab tantangan zaman. REFERENSI