Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 4 . ISSN : 2615-0883 (Media Onlin. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Hindu Dalam Tradisi Ngendar Di Banjar Sekarmukti Desa Pangsan Heny Perbowosari*. I Made Rudiadnyana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia *henysari74@uhnsugriwa. Abstract The cultivation of character values is a very important matter in the development of a child's personality. Religious tradition is one way to teach the process of instilling character values in Hinduism. This is demonstrated by the Ngendar tradition in Sekarmukti Village. Pangsan Village. Badung Regency. The Ngendar tradition carried out by children in the Banjar Sekarmukti area, starts from H-2 Piodalan which is carried out on the day of Buda Umanis wuku Julungwangi or exactly 15 days before Galungan. The research approach is a naturalistic approach that answers research problems that require in-depth understanding and produces conclusions related to the Ngendar Tradition. The Ngendar tradition during the piodalan at Penataran Agung Sekarmukti Temple in Petang Badung Bali carried out by children as a source of learning will encourage the appreciation of character values based on Hindu religious teachings. The cultivation of character values carried out in the Ngendar tradition includes . Gratitude (Ktajyat. , . Maintaining Purity and cleanliness (Sauca. , . Friendship (Maitr. , and . Care. Broadly speaking, the implementation of this Ngendar tradition has a positive impact on children such as increasing sraddha and bhakti, growing a sense of solidarity and cooperation and creating discipline in children. Keywords: Value. Character. Ngendar Tradition Abstrak Penanaman nilai-nilai karakter merupakan perihal yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian anak. Tradisi keagamaan sebagai salah satu untuk mengajarkan proses penanaman nilai-nilai karakter dalam ajaran agama Hindu. Ini ditunjukkan oleh tradisi Ngendar di Desa Sekarmukti. Desa Pangsan. Kabupaten Badung. Tradisi Ngendar yang dilakukan oleh anak-anak di wilayah Banjar Sekarmukti, dimulai dari H-2 Piodalan yang dilakukan pada hari Buda Umanis wuku Julungwangi atau tepatnya 15 hari sebelum hari raya Galungan. Adapun pendekatan penelitian adalah pendekatan naturalistik yang menjawab permasalahan penelitian yang memerlukan pemahaman secara mendalam serta menghasilkan kesimpulan terkait dengan Tradisi Ngendar. Tradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung Sekarmukti Petang Badung Bali yang dilakukan oleh anak-anak sebagai sumber belajar akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai karakter yang berdasarkan ajaran agama Hindu. Penanaman nilai-nilai karakter yang yang dilakukan dalam tradisi Ngendar antara lain . Rasa terima kasih (Ktajyat. , . Menjaga Kesucian dan kebersihan (Sauca. , . Pertemanan (Maitr. , dan . Kepedulian. Secara garis besar dalam pelaksanaan tradisi Ngendar ini memiliki dampak yang positif terhadap anak-anak seperti meningkatnya sraddha dan bhakti, tumbuhnya rasa solidaritas dan kerjasama serta terciptanya kedisiplinan pada anak. Kata Kunci: Nilai. Karakter. Tradisi Ngendar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Dalam era globalisasi saat ini untuk mengelola suatu negara yang cukup luas merupakan hal yang sangat sulit. Tantangan globalisasi tidak hanya termasuk dalam tantangan eksternal, tetapi juga merupakan ancaman dari keanekaragaman budaya dan suku di dalam negara. Semakin cepat perubahan masyarakat disebabkan oleh kemajuan teknologi Untuk mengatasi tantangan ini diperlukan adanya pembentukan nilai-nilai Pembentukan karakter sebaiknya dimulai sejak kecil. Apabila karakter seseorang telah dibentuk dari sejak usia dini maka akan sangat sulit untuk mengubahnya (Sadeli et al. Penanaman nilai-nilai karakter yang baik pada anak menjadi prioritas utama. Pada usia ini, merupakan usia dimana tahap perkembangan anak memerlukan informasi yang tepat terkait dengan perkembangan kepribadian anak. Dengan kepribadian yang baik akan mempengaruhi interaksi anak di masyarakat. Memiliki karakter yang baik memudahkan anak untuk diterima di lingkungannya. Dalam mengkomunikasikan nilai serta mengembangkan kepribadian diperlukan adanya keterlibatan unsur sosial dengan tujuan agar perkembangan dapat berjalan secara optimal (Baginda, 2. Nilai-nilai yang dimaksud menyangkut pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai, yang diwujudkan dalam bentuk pola pikir yang memungkinkan seseorang secara sah menjalankan nilai-nilai yang diakui masyarakat. Sehingga mampu memahami diri sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai leluhur yang kuat dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter tidak hanya dapat berlangsung di lingkungan sekolah, namun juga di lingkungan masyaraka, misalnya melalui kegiatan budaya tradisional. Sebagaimana kita ketahui, indonesia mempunyai berbagai macam tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat dan diwariskan secara turun temurun. Peninggalan tradisi budaya dapat dijadikan sarana penyampaian nilai-nilai pendidikan, karakter, dan jati diri suatu daerah (Asyari et al. Berbagai tradisi dan budaya masyarakat sebenarnya memiliki potensi dalam pembentukan sikap, prilaku serta karakter mulia pada anak-anak. Membiasakan anak-anak terlibat dalam aktivitas keagamaan serta aktivitas kebudayaan merupakan salah satu bentuk pengenalan budaya masyarakat kepada anak, yang tentunya budaya tersebut mengajarkan hal-hal yang bersifat positif. Pengenalan nilai kebudayaan yang diberikan kepada anak-anak yang dilakukan secara rutin atau terus-menerus akan menjadi sebuah kebiasaan pada anak, dan akan menjadi karakter dalam diri anak. Sehingga melibatkan anak dalam aktivitas kemasyarakatan sangat penting dilakukan, karena selain mampu menanamkan nilai moral, juga mampu mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Proses penanaman nilai-nilai karakter dalam ajaran agama Hindu dapat diajarkan melalui proses tradisi keagamaan. Hal ini terlihat dalam kegiatan tradisi Ngendar di Desa Sekarmukti Desa Pangsan Kabupaten Badung. Sementara itu, pengertian Ngendar yang dalam Kamus Bali-Indonesia Anom . disebutkan bahwa Ngendar berarti bubur. Ngendar berasal dari akar kata endar yang artinya bubur, diberikan awalan Ng sehingga menjadi kata Ngendar yang akhirnya memiliki pengertian membuat bubur. Jadi dari pengertian diatas, dapat ditangkap bahwa arti dari tradisi Ngendar adalah suatu perbuatan/ pekerjaan/ aktivitas-aktivitas manusia untuk mengucapkan rasa syukur dengan mempersembahkan sebuah hasil yang didapatkan dari aktivitas yang dilakukan dengan menghaturkan atau mempersembahkan bubur sebagai rasa terima kasih karena telah dianugrahkan kehidupan dan kesejahteraan hidup kepada manusia. Aktivitas utama yang berlangsung dalam tradisi ini adalah memasak bubur serta memasak kelengkapan lainnya seperti lauk pauk berupa olahan ayam dan bebek, beberapa jenis tipat serta kacang-kacangan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan saur . Adapun keunikan dalam tradisi ini, bahwasannya para pelaku tradisi ini hanya anak-anak yang belum akil balik atau disebut dengan juru endar. Serta pada saat pelaksanaan tradisi ini tidak boleh orang dewasa wanita yang membantu kecuali hanya saye teruna . yang menemani kegiatan tersebut (Wawancara, 3 Agustus 2. Dalam tradisi ini memberikan kesan bahwa anak-anak harus diajarkan untuk dapat melakukan kegiatan secara mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab selama melakukan prosesi kegiatan ini. Dengan demikian penanaman karakter dapat dilakukan melalui tradisi. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Dozan dimana masyarakat sasak mengenal tradisi perang Timbung sebagai wujud nilai solidaritas dari orang dewasa kepada generasi muda dan anak-anak. Tradisi perang Timbung dapat membangun karakter anak khususnya pada anak usia dini (Dozan & Fitriani, 2. Tradisi Perang Timbung erat kaitannya dengan nilai-nilai Islam dan secara tidak langsung mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan kepribadian anak usia dini. Tradisi Perang Timbung mengandung beberapa nilai antara lain nilai syukur, nilai persahabatan, nilai gotong royong, dan nilai kasih sayang. Nilai-nilai tersebut sangat membantu dalam pengembangan karakter masyarakat Sasak desa Pejangik khususnya pada anak usia dini. Berdasarkan paparan diatas maka dalam hal ini penulis akan membahas tentang penanaman nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pelaksanaan tradisi Ngendar serta dampak dari penanaman nilai-nilai karakter Hindu tersebut pada anak khususnya di Banjar Sekarmukti, desa Pangsan Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana berupaya menggali informasi tentang masalah yang diteliti sedalam-dalamnya dan menyajikan temuannya dalam format deskriptif, yaitu berupa uraian dan gambaran yang berkaitan dengan masalah yang Pendekatan penelitian adalah pendekatan naturalistik yang menjawab permasalahan penelitian memerlukan pemahaman secara mendalam untuk menghasilkan kesimpulankesimpulan penelitian dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan. Penelitian dilakukan di Pura Penataran Agung Banjar Sekarmukti Desa Pangsan Kecamatan Petang Kabupaten Badung Bali. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan berperan serta dan data hasil wawancara langsung dengan informan. Data ini berupa hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti dengan masyarakat yang mengetahui serta terlibat dalam tradisi Ngendar. Sedangkan sumber sekunder data dalam penelitian ini adalah buku-buku, dokumen, artikel, lontar-lontar dan buku-buku yang relevan dengan tema penelitian ini, teks-teks yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai karakter Hindu dalam tradisi Ngendar. Pengumpulan datanya melalui beberapa teknik antara lain observasi, wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Dalam teknik observasi dilaksanakan secara langsung ke lokasi penelitian, sedangkan wawancara dengan menggunakan wawancara semiterstruktur. Sedangkan penentuan informan berdasarkan teknik Puposive Sampling, antara lain Kelihan Dinas maupun Adat Sekarmukti. Jero Mangku, serta sesepuh/ tokoh masyarakat banjar sekarmukti. Adapun teknik analisis datanya melalui beberapa tahapan sebagai berikut . Tahap mereduksi data yang telah dikumpulkan . ata reductio. , . Tahap menyajikan data hasil . ata displa. Tahap perumusan kesimpulan sebagai hasil dari verifikasi verification (Sugiyono, 2. Tahap yang dilakukan dalam mereduksi data adalah dimulai dengan deskripsi, pemilihan apa yang paling penting, dan memfokuskan pada apa yang penting terhadap isi data yang berasal dari lapangan. Hal ini memungkinkan data yang direduksi memberikan gambaran pengamatan yang lebih jelas. Kemudian tahap https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penyajian data, peneliti menyajikan data dalam bentuk naratif-deskriptif terkait dengan kajian penelitian tentang penanaman nilai-nilai karakter Hindu pada tradisi Ngendar. Pada tahap terakhir peneliti berusaha menyimpulkan dan menyajikan temuan dari hasil penelitian. Hasil dan Pembahasan Prosesi Tradisi Ngendar di Pura Penataran Agung Banjar Sekarmukti Desa Pangsan Kecamatan Petang Kabupaten Badung Tradisi Ngendar yang dilakukan oleh anak-anak di wilayah Banjar Sekarmukti, dimulai dari H-2 Piodalan yang dilakukan pada hari Buda Umanis wuku Julungwangi atau tepatnya 15 hari sebelum hari raya Galungan. Dalam kegiatan persiapan maupun proses pelaksanaan upacara dilakukan di satu tempat yang disebut Pura Puseh Pingit . real suci, berdampingan dengan Pura Luhur Penataran Agun. Pura Puseh Pingit merupakan bagian dari Pura Penataran Agung dan terletak di utara mandala utama Penataran Agung, selain itu juga merupakan tempat yang sangat sakral dan tidak semua orang diperbolehkan memasuki kawasan pura, sedangkan yang diperbolehkan masuk kawasan untuk beraktivitas adalah Jro Mangku, anak belum memasuki masa pubertas, saya teruna . , para krama pria serta perempuan yang sudah menopause. Pura Puseh Pingit memiliki areal yang luas dan terdiri dari tiga bangunan yang disucikan antara lain Palinggih Gedong. Palinggih Paruman dan Perantenan. Gambar 1. Pura Puseh Pingit (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2. Pelaksanaan tradisi Ngendar yang dilakukan oleh anak-anak merupakan aktivitas dalam pembuatan upakara yang bentuk utamanya berupa bubur atau Endar. Menurut Satia Putra salah satu saya teruna bahwa Berbagai sarana yang digunakan anak-anak dalam tradisi Ngendar ini dipersiapkan oleh ayah desa . ro des. melalui Saya Teruna yang selanjutnya Saya Teruna ini akan membantu memfasilitasi anak-anak atau Juru Endar dalam pelaksanaan tradisi Ngendar. Peran Saya Daha Teruna dalam penyelenggaraan tradisi Ngendar ini adalah membantu mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan. Beberapa hal dikeluarkan Saya Teruna dalam mendukung tradisi Ngendar yaitu seperti kayu bakar, buah peji, daun kelapa muda . , semat, base . dan air bersih (Wawancara, 3 Agustus 2. Dalam mengawali prosesi ini yang dilakukan anak-anak . uru enda. adalah ngayah majejaitan dengan membuat beberapa perlengkapan tetandingan Endar. Beberapa janur yang disiapkan oleh saya teruna mulai untuk dikerjakan oleh anak-anak dengan membuat taledan sebagai alas tetandingan atau banten endar. Setelah taledan ini selesai, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH beberapa jenis tipat yang digunakan sebagai upakara mulai dikerjakan, dan dilanjutkan dengan membuat sarana lainnya seperti canang, kojong gadungan, gantal tubungan. Selain itu mereka juga mempersiapkan tempat yang terbuat dari janur sebagai wadah dari bubur Antusias anak-anak . uru enda. mempersiapkan sarana tradisi gendar dengan melakukan ngayah majejaitan. Dalam hal ini anak-anak saling membantu dengan memberi tahu atau mengajarkan teman-temannya yang belum mampu untuk mengerjakan kegiatan Anak-anak juga terlihat tanpa beban melaksanakan kegiatan ngayah yang dilandasi dengan rasa yang tulus iklas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa seperti terlihat pada dokumentasi dibawah ini. Gambar 2. Juru Endar Ngayah Membuat Sarana Upakara (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2. Pembuatan upakara selanjutnya dengan mempersembahkan berbagai hasil bumi berupa pembuatan bubur. Upacara ini dilakukan oleh sekelompok anak yang belum menstruasi yang dinamakan juru endar serta dibantu oleh Saya Daha Teruna yaitu para pemuda pemudi yang belum menikah. Saya Daha Teruna ini membantu juru endar dengan mempersiapkan alat-alat ngendar seperti beras, ketan, ayam dan lain sebagainya. Dalam aktivitas membersihkan beras ini, dilakukan sebelas . kali, yaitu sebelas kali ditumbuk dan sebelas kali diayak. Angka sebelas ini dianggap suci masyarakat setempat yang bertujuan menyucikan berbagai sarana yang digunakan untuk melaksanakan tradisi ngendar. Berbagai peralatan juga dibersihakan, ketupat atau tipat yang dikerjakan sebelumnya juga mulai diisi oleh anak-anak (Juru enda. Tepat dini hari juru endar dibangunkan untuk melakukan upacara ini. Dengan diawali memasak bubur serta lauk pauknya. Proses memasak berlangsung seperti aktivitas memasak biasa yang dilakukan anak-anak tanpa adanya upcara khusus terlebih dahulu sebelum proses memasak berlangsung. Anak-anak akan otomatis bisa melakukan cara-cara memasak dan tahu akan tugasnya dalam tradisi tersebut. Memasak sarana yang telah disiapkan sebelumnya. Proses memasak dimulai dengan memarut kelapa yang digunakan sebagai saur . Sebelum kelapa diparut, anak-anak membersihkannya terlebih dahulu yang kemudian sebagian anak akan mulai memarut. Sembari memarut kelapa, anak-anak lainnya mengerjakan pekerjaan lain, ada yang mencuci kacang merah, memotong bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai serta sebagian anak lainnya mempersiapkan peralatan memasak. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Meskipun demikian, kesakralan sangat terasa saat proses memasak ini berlangsung, yang anak-anak tidak diperbolehkan untuk bertindak sembarangan dan harus mengikuti norma-norma yang berlaku, seperti menggunakan bahasa yang halus, tidak diperbolehkan mencicipi masakan dan sebagainya. Tidak hanya itu, dalam proses memasak ini, berbagai aktivitas yang mencerminkan kesucian juga ditekankan. Seperti halnya sarana dan prasarana yang digunakan tidak boleh sembarangan diambil disembarang tempat. Salah satu janur yang digunakan, dalam pengambilannya di pohon, janur ini tidak boleh dijatuhkan, melainkan harus dijunjung hingga ke bawah. Selain itu, sarana lainnya seperti beras, beras merah dan ketan yang digunakan harus ditumbuk dan diayak sebanyak 11 kali terlebih dahulu. Gambar 3. Juru Endar Mempersiapkan Upakara Tradisi Ngendar (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2. Setelah semua upakara selesai dipersiapkan dimana terdiri dari 7 taledan antara lain taledan dengan bubur beras merah, 1 taledan dengan ketupat dampulan, 1 taledan dengan 6 buah ketupat sirikan, 1 taledan dengan 6 buah ketupat blayag, 1 taledan dengan nasi putih . , 1 taledan dengan jajanan kukus ketan dan satu taledan dengan geti-geti. Pada setiap Banten Endar ini kemudian diisi kojong gadungan, daun pisangmas dan canang sari Ketujuh banten yang diletakkan dalam satu nampan ini dinamakan banten endar. Banten Endar ini kemudian dihaturkan kehadapan Dewa-Dewa yang berstana pada pelinggih di Pura Penataran Agung, termasuk pula di pelinggih Pura Puseh Pingit. Gambar 4. Bentuk Tetandingan Banten Endar (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Nilai-Nilai Karakter Hindu Yang Terkandung Dalam Tradisi Ngendar Karakter merupakan suatu sistem nilai yang diyakini dan tertanam dalam sanubari seseorang serta secara keseluruhan dipergunakan untuk berfikir, bersikap dan berperilaku baik secara moral. Karakter merupakan totalitas nilai yang mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan (Suparlan, 2. Selain itu juga karakter merupakan nilai-nilai tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungannya yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan serta tindakannya dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari berupa pembiasaan (Baginda, 2. Karakter manusia dibentuk dengan mengulangi perilaku tertentu. Karakter juga dibentuk oleh perilaku sebagai respon terhadap situasi dan sering diungkapkan kepada orang lain. Karakter tersebut menjadi kebiasaan dan melekat langsung pada orang tersebut, dan orang tersebut tidak lagi memperhatikan karakternya (Awhinarto & Suyadi, 2. Dalam tradisi Ngendar ini terdapat beberapa nilai-nilai karakter yang ditanamkan pada anak-anak. Nilainilai karakter tersebut antara lain: Rasa Terima Kasih/ Bersyukur (Ktajyaty ) Emmons mengatakan bahwa bersyukur itu merupakan bentuk emosi yang berkembang dalam sikap serta moral sehingga menjadikan suatu kebiasaan yang membentuk Dan pada akhirnya mempengaruhi individu dalam melakukan tindakan untuk merespon situasi yang sedang dialami (Shobihah, 2. Orang yang bersyukur merasa lebih baik sepanjang hidup mereka dan kemudian didorong untuk terlibat dalam perilaku prososial, yang cenderung bertahan, sehingga mengarahkan mereka untuk menghindari perilaku Pelaksanaan tradisi ngendar ini bertujuan untuk mempersembahkan hasil kehidupan masyarakat yang diperoleh dari pertanianya baik berupa buah-buahan, sayursayuran dan sebagainya yang dipersembahkan sebagai rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam hal ini anak-anak diajarkan untuk mengucapkan rasa syukur atas karunia yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu dalam prosesi pembuatan upakara anak-anak tidak diperbolehkan untuk bertindak sembarangan dan harus mengikuti normanorma yang berlaku, seperti menggunakan bahasa yang halus. Anak-anak melaksanakan kegiatan ngayah yang dilandasi dengan rasa yang tulus iklas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Anak-anak diajarkan untuk memiliki rasa terima kasih atas karunia yang telah diberikan Tuhan serta mengembangkan rasa hormat dan menghargai diri, hidup dan segala seluk beluknya sebagai anugerah dari Tuhan, hal ini terlihat pada gambar dibawah ini. Gambar 5. Anak-Anak Ngayah Di Pura (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar diatas terlihat bahwa anak-anak dengan sepenuh hati dan antusias melakukan ngayah membuat sarana upakara tradisi Ngendar sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa berstana di Pura Penataran Agung atas anugerahnya. Kesucian Dan Kebersihan (Sauca. Kesucian atau kebersihan dimana dalam ajaran agama Hindu yang lebih dikenal dengan Saucam atau Sauca yang berasal dari kata suc yang artinya suci secara lahir dan batin. Kebersihan dianggap sebagai salah satu faktor kesehatan, meskipun ilmu kesehatan kontemporer tetap percaya bahwa kebersihan adalah kunci kesehatan. Karena itu anak-anak harus dibiasakan untuk membersihkan diri mereka sendiri, pakaian mereka, dan lingkungan sekitarnya (Perbowosari, 2. Selain itu juga dalam agama Hindu juga mengajarkan kita untuk menyucikan tiga hal yang sering disebut dengan Tri Kaya Parisudha yaitu menyucikan pikiran . , perkataan . dan perbuatan . Sehingga dengan melakukan ketiga hal tersebut maka akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pada pelaksanaan tradisi Ngendar sangat ditekankan adanya kesucian dan kebesihan, dimana anak-anak diajarkan untuk menjaga kesucian dipura. Hal ini terlihat dalam proses pelaksanaan tradisi Ngendar yang diawali dengan kegiatan memasak yang dilakukan di Pura Puseh Pingit yang merupakan areal yang sangat disucikan dan disakralkan. Karena yang dapat memasuki arel ini hanya anak-anak yang belum menstruasi dan didampingi para pemangku, serta saya teruna. Dalam membuat bubur ini harus dikerjakan oleh anak-anak dan dibantu oleh pemangku serta tidak boleh dibantu oleh Saya daha, apabila hal ini dilanggar maka bubur itu akan gosong. Selain itu juga anak-anak juga diajarkan untuk menjaga kebersihan di areal pura. Setelah membuat perlengkapan upakara . , anak-anak membersihkan areal pura. Selain itu anak-anak juga mencuci semua bahan-bahan yang akan dimasak untuk perlengkapan upakara, serta setelah selesai memasak, anak-anak diajarkan untuk mencuci perabotan yang telah dipakai. Hal ini dilakukan agar anak-anak selau menjaga kesucian pura serta kebersihan yang ada di areal pura. Pertemanan (Maitr. Pelaksanaan tradisi ngendar ini anak-anak dibimbing dengan baik, melalui nilai-nilai keagamaan yang kental, sehingga pembentukan emosi anak akan berjalan dengan baik. Pada usia ini anak-anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial serta tingkah lakunya dipengaruhi oleh standar kelompoknya . danya suatu pertemana. Anak memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi, sosialisasi, dan bermain. Interaksi langsung ini merupakan bagian penting dalam pengembangan diri dan perkembangan moral anak. Dimanapun anak berinteraksi, termasuk lembaga pendidikan, menjadi tempat mereka menerima bimbingan intelektual dan emosional (Perbowosari, 2. Dengan demikian sosialisasi dilingkungan yang kental akan nilai-nilai agama dalam pelaksanaan tradisi Ngendar tentunya mendukung perkembangan anak-anak terutama dalam etika bertingkah Proses interaksi tersebut terjadi karena manusia merupakan mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Sehingga secara singkat pengertian interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau beberapa individu, dimana perilaku setiap individu akan saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki perilaku masing-masing. Dalam interaksi sosial di dalamnya akan terdapat nilai-nilai sosial yang disampaikan. Nilai-nilai sosial adalah nilai-nilai yang selama ini dijadikan landasan atau standar dalam menilai kebaikan, seperti ketika masyarakat menganggap menolong orang lain adalah nilai yang baik dan berbohong adalah nilai yang buruk. Oleh karena itu, nilai-nilai sosial memungkinkan manusia berpikir dan berbuat baik dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial mendorong https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat untuk mewujudkan keinginan dan perannya, saling membantu dan menjadi instrumen solidaritas kelompok masyarakat (Imam Subqi, 2. Proses interaksi sosial hanya dapat terjadi jika memenuhi dua syarat yaitu adanya komunikasi dan kontak sosial, tidak bisa dilepaskan dari komunikasi verbal dan nonverbal serta komunikasi persuasive (Soekanto, 2. Hal ini juga terjadi dalam interaksi sosial anak dalam tradisi Ngendar di Banjar Sekarmukti. Desa Pangsan. Kecamatan Petang. Kabupaten Badung. Pada dasarnya setiap perilaku dan aktivitas manusia adalah komunikasi, baik komunikasi verbal maupun non verbal yang mengandung dimensi antarbudaya. Apabila kita sepakat dengan asumsi ini, maka sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap individu untuk mempelajari dan mengenal setiap perilaku budaya dari individu dan kelompok (Dikhorir. Komunikasi verbal inilah yang dipakai tradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung yang dilakukan oleh anak-anak di Banjar Sekarmukti Komunikasi dilakukan oleh Juru Endar dengan sesama anak, ini merupakan bagian dari interaksi sosial yang ditimbulkan dalam tradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung yang dilakukan oleh anak-anak di Banjar Sekarmukti. Kepedulian Lingkungan Peduli lingkungan di sini merujuk pada sikap dan tindakan mengenai kewajiban menjaga, mencintai, dan melestarikan alam. Kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan suatu sikap umum terhadap mutu lingkungan hidup dan dinyatakan sebagai kesediaan untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat meningkatkan dan memelihara mutu lingkungan hidup dalam segala tindakan yang berkaitan dengan lingkungan hidup (Santika et al. , 2. Kelestarian alam merupakan salah satu warisan yang akan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Oleh karena itu kepedulian terhadap lingkungan harus ditanamkan kepada anak-anak dari sejak dini. Apapun perilaku menjaga lingkungan dapat berdampak baik terhadap keberlangsungan bumi. Sikap peduli terhadap lingkungan merupakan sikap yang harus ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan lingkungan yaitu melalui pembentukan karakter yang dimulai sejak usia dini. Pembentukan karakter ini dapat dilakukan melalui pembelajaran yang berwawasan lingkungan hidup. Dengan adanya pembelajaran sikap peduli lingkungan, diharapkan dapat menyadarkan siswa agar memiliki kepedulian terhadap alam dan lingkungan disekitarnya. Tradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung yang dilakukan oleh anak-anak di Banjar Sekarmukti dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. Kegemaran belajar sejak usia dini merupakan modal dasar yang sangat diperlukan dalam rangka penyiapan masyarakat belajar . earning societe. dan sumber daya manusia di masa mendatang. Pengaruh lingkungan positif bagi individu sebaiknya diberikan dari sejak dini, sehingga akan tercipta sikap positif pada diri individu. Seperti halnya tradisi Ngendar yang dilakukan oleh anak-anak, begitu banyak memberikan nilai positif bagi anak-anak yang berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Pelaksanaan tradisi Ngendar yang dilakukan oleh anak-anak juga menunjukan sikap peduli lingkungan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, setelah anak-anak selesai melaksanakan aktivitas ngayah, yang tentunya areal Pura Puseh Pingit dipenuhi dengan sampah dari janur, anak-anak segera membersihkan janur-janur tersebut agar areal pura akan nampak bersih kembali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dampak Dari Pembelajaran Agama Hindu Terhadap Anak Pada Tradisi Ngendar Meningkatkan Sradha dan Bhakti Tradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung yang dilakukan oleh anakanak di Banjar Sekarmukti. Desa Pangsan. Kecamatan Petang. Kabupaten Badung sebagai sarana meningkatkan sradha dan bhakti bagi. Sradha memiliki pengertian adanya suatu keyakinan atau kepercayaan umat Hindu yang selalu menjiwai tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila umat beragama tidak memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap agama yang dianutnya maka akan terjadi kerapuhan pada ajaran agama. Oleh karena itu sebagai pemeluk agama seharusnya memahami dan meyakini ajaran agama. Dalam agama Hindu mengenal adanya keyakinan yang disebut dengan Panca Sradha . ima keyakinan/ kepercayaa. yang terdiri dari percaya kepada Tuhan (Sang Hyang Widi Was. , percaya kepada atman, percaya kepada hukum karma phala, percaya kepada punarbhawa, percaya kepada moksa. Sedangkan bhakti merupakan wujud cinta, sayang, sujud kepada yang lebih dihormati seperti Tuhan, leluhur, sesama, makhluk serta lingkungan (Surada, 2. Tradisi ini memiliki posisi penting sehingga digunakan sebagai sarana meningkatkan sradha dan bhakti terhadap Tuhan. Pembentukan nilai-nilai Sradha pada anak dapat dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan, dimana hal ini diperlukan adanya kesadaran dan pengalaman dalam beragama serta melalui proses bimbingan yang terpadu. Upacara ini dijadikan media untuk mempermudah anak-anak dalam memuja Tuhan. Seperti itulah Ttradisi Ngendar saat piodalan di Pura Penataran Agung yang dilakukan oleh anak-anak di Banjar Sekarmukti. Desa Pangsan. Kecamatan Petang. Kabupaten Badung sebagai sarana meningkatkan sradha dan bhakti. Anak-anak untuk menghargai dan menghormati orang lain. Adapun bentuk adanya Sradha dan bhakti pada anak-anak pada tradisi ini dengan melakukan kegiatan seperti menari rejang, dimana hal ini merupakan wujud rasa terima kasih kepada Tuhan yang bersthana di Pura Penataran Agung. Gambar 6. Anak-Anak Menari Rejang (Sumber: Dokumentasi peneliti 2. Tari rejang yang ditampilkan oleh anak-anak dalam tradisi Ngendar merupakan sebuah persembahan . kepada Tuhan yang bersthana di Pura Penataran Agung. Tari rejang ini sebagai sebuah persembahan yang dihaturkan oleh anak-anak dalam bentuk gerak tari yang dijiwai dengan ketulusan serta adanya pemusatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana hal ini disamakan dengan persembahan seperti upakara banten (Pastika & Sugita, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menumbuhkan Rasa Solidaritas Dan Kerjasama Rasa solidaritas atau Empati adalah kemampuan mengenali, atau merasakan, keadaan yang tengah dialami orang lain. Empati memungkinkan kita keluar dari kulit kita dan masuk ke kulit orang lain. Empati merupakan sisi emosional dari pengambilan prosfektif (Lickona. Keadaan yang mampu memahami apa yang dialami orang lain, membuat diri kita ataupun anak-anak akan melakukan sebuah tindakan untuk menenangkan atau mencari solusi untuk orang lain yang sedang mengalami permasalahan. Selain itu, rasa empati kepada orang lain akan menimbulkan suatu tindakan yang tidak akan mau merugikan orang lain, karena paham akan bagaimana perasaa orang lain atau merasakan pula kerugian yang dialami orang Hal ini sejalan dengan ajaran agama Hindu yaitu konsep tat twam asi. Tat twam asi memiliki pengertian itu adalah kamu, yang secara lebih luas jiwa orang lain merupakan jiwa yang ada pula dalam diri kita. Dengan demikian, apa yang dirasakan orang lain, bisa juga kita rasakan. Sehingga pemahaman akan konsep tattwam asi ini mengajarkan kita untuk tidak melakukan hal buruk kepada orang lain yang bisa merugikan orang tersebut. Pelaksanaan tradisi Ngendar yang dilakukan anak-anak mengajarkan anak-anak untuk mampu memahami perasaan orang lain, sehingga terjadi sebuah kekompakan dalam mensukseskan pelaksanaan tradisi tersebut. Perbedaan pendapat serta perbedaan kemampuan tentu saja terjadi dalam aktivitas yang dilakukan secara berkelompok dalam tradisi ini. Terlebih lagi anak-anak dibesarkan dengan cara dan situasi yang berbeda oleh keluarganya masing-masing. Dalam hal ini akan ada anak yang masih memiliki sikap manja, yang tidak terbiasa melakukan kegiatan sendiri, namun ada pula juga anak-anak yang sudah paham akan apa yang dilakukan dan mampu secara mandiri yang melakukan pekerjaan. Begitu pula kemampuan yang dimiliki anak-anak yang senantiasa memiliki perbedaan. Dalam hal ini anak-anak diajarkan untuk saling mengerti dan memahami perbedaan pendapat serta memahami kekurangan dan kelebihan teman-temannya. Demikian juga anak-anak diajarkan untuk menjaga perasaan teman lainnya sehingga tidak terjadi perselisihan dan terwujud sebuah kekompakan untuk melaksanakan tradisi Ngendar secara seksama. Terciptanya Kedisiplinan Anak Secara alamiah respon atau tindakan timbul setelah otak atau pikiran bekerja. Namun tindakan tersebut hanya sebuah tindakan yang belum bisa dinilai benar atau salahnya, menurut norma yang ada. Sedangkan perilaku beragama merupakan output dari pengetahuan tentang perilaku beragama dan kesadaran untuk melakukan tindakan beragama yang telah dipahami oleh individu sebagai sebuah perilaku kebaikan. Tindakan atau perilaku beragama merupakan hasil dari pengetahuan dan perasaan tentag perilaku beragama, dimana pengetahuan dan perasaan akan medorong manusia untuk melakukan tindakan yang dianggapnya benar. Setelah manusia memahami dan memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya benar, maka akan muncul pula tindakan yang sesuai dengan pengetahuan dimiliki. Tindakan moral adalah produk dari dua bagian karakter lainnya. Jika orang memiliki kualitas moral intelektual dan emosional yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, maka akan besar kemungkinan anak untuk melakukan tindakan menurut pengetahuan dan perasaan moral mereka adalah perbuatan yang benar (Lickona. Pelaksanaan tradisi Ngendar, tindakan moral yang dikemas dalam perilaku beragama terjadi mengikuti aturan yang berlaku, baik aturan di areal Pura Penataran Agung, termasuk juga peraturan yang ada dalam pelaksanaan tradisi Ngendar. Hal ini yang mendorong terjadinya perubahan perilaku anak, dari yang tidak mampu menjadi mampu dan dari yang tidak terbiasa mandiri menjadi terbiasa. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendidikan moral pada anak-anak membutuhkan banyak kesempatan untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik dan banyak berlatih menjadi anak yang disiplin. Dengan ini anak-anak bahkan bisa menentukan pilihan benar secara tidak sadar. Artinya, mereka melakukan hal yang benar karena sebuah kebiasaan yang disiplin. Dengan demikian, anak-anak harus memiliki banyak pengalaman menolong orang lain, berbuat jujur, bersikap santun dan adil itulah bagian sikap disiplin. Dengan demikian, kebiasaan baik ini akan selalu siap melayani mereka dalam keadaan sulit apapun. Hal ini pula yang tertuang dalam Susastra Bhagawad Gita, i. na karmanAm anArambhAn naikarmyaA puruso Aounute na ca saAnyasanAd eva siddhiA samadhigacchati Terjemahannya: Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghidari kegiatan kerja (Pudja & Tjok Rai Sudartha, 1. Pemaparan sloka diatas menjelaskan jika perbuatan yang telah menjadi kebiasaan anak-anak akan melekat pada diri seseorang yang akan terus mendorong orang tersebut untuk melakukan hal yang telah menjadi aktivitas rutin sehingga menjadi anak yang disiplin. Dalam sloka tersebut dijelaskan tanpa kerja orang tak akan mencapai kekebebasan, artinya ketika orang sudah terbiasa dengan perilaku yang diajarkan, maka jika tidak melakukannya sekali akan membuat ada sesuatu yang kurang yang belum dilakukan. Dalam hal ini, seseorang akan memiliki rasa bersalah yang begitu besar ketika tidak melakukan apa yang sudah terbiasa Dengan demikian kebiasaan akan perbuatan positif akan mendorong seseorang untuk terus berbuat dan menjadikan perbuatan itu sesuatu yang harus dikerjakan. Perilaku atau tindakan positif sangatlah penting untuk dipahami terlebih dahulu guna mewujudkan suatu kebiasaan yang memiliki nilai positif pula serta meningkatkan Tindakan ini menjadi sebuah kebiasaan membuat anak-anak disiplin, sehingga anak-anak paham apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan ketika berada di areal suci yang terbawa hingga dewasa. Hal ini menjadi sebuah tindakan yang memang harus dilakukan oleh masyarakat terlebih lagi anak-anak dalam menjalani aktivitas di Pura Penataran Agung. Pemahaman dan kesadaran terhadap perilaku Beragama terus tertanam dalam diri anak-anak ketika telah berada di areal pura. Demikian juga tata tertib yang telah dipahami anak-anak yang melandasi kesucian akan diaktulaisasikan pada kegiatan di lingkungan lainnya seperti rumah, sekolah bahkan lingkungan bermain karena telah menjadi sebuah kebiasan. Kesimpulan Tradisi Ngendar merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh anak-anak yang belum akil balik yang sering disebut dengan juru endar. Pelaksanaan tradisi ini dilakukan di Pura Puseh Pingit yang berdampingan dengan Pura Penataran Agung di Banjar Sekarmukti Desa Pangsan Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Dalam tradisi ini memberikan kesan bahwa anak-anak diajarkan untuk melakukan kegiatan secara mandiri serta memiliki tanggung jawab selama melakukan prosesi tradisi. Penanaman nilai-nilai karakter yang yang dilakukan dalam tradisi Ngendar antara lain . Rasa terima kasih (Ktajyat. , . Menjaga Kesucian dan kebersihan (Sauca. , . Pertemanan (Maitr. , dan . Kepedulian. Sehingga dengan menanamkan nilai-nilai karakter tersebut maka akan memberikan dampak yang sigfinikan terhadap anak seperti dampak yang positif terhadap anak-anak seperti meningkatnya sraddha https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan bhakti, tumbuhnya rasa solidaritas serta kerjasama pada anak sehingga memiliki kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, serta terjalin sebuah kekompakan dalam mensukseskan pelaksanaan tradisi tersebut serta membangun kebiasaan-kebiasaan baik dan banyak berlatih menjadi anak yang disiplin. Daftar Pustaka