COGNITIVE: JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN http://ejournal. org/index. php/cognitive ISSN: 3026-1686 (Onlin. PSIKOLOGI HUMANISTIK: TELAAH AKTUALISASI MINAT. BAKAT DAN POTENSI ANAK DIDIK DI SEKOLAH RAMAH ANAK Roro Kurnia Nofita Rahmawati SMK Negeri 3 Pamekasan. Indonesia Kurnia. nofita31@gmail. Keywords Abstract Psychology. Humanism. Child Friendly Schools This research aims to determine the basic concept of child-friendly education and examine the humanistik psychological aspects of this education program. The method used in this research is qualitative with a literature review type. The data sources used are primary and secondary The data analysis used is descriptive qualitative by reducing data, collecting data, presenting data and drawing conclusions. The results of this research show that: first, the basic concept of child-friendly education is an education model that guarantees safety and gives students freedom to carry out the learning process while still being facilitated by the teacher. These guarantees and freedoms are carried out to develop students' interests, talents and potential through self-actualization. Second, the childfriendly education pattern fulfills elements of humanistik psychological aspects seen from the similarity of minimum paradigms in the aspect of students' freedom in determining learning styles and learning models. Kata Kunci Abstrak Psikologi. Humanisme. Sekolah Ramah Anak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep dasar dari Pendidikan ramah anak serta telaah aspek psikologi humanistik pada program Pendidikan tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis kajian Pustaka. Sumber data yang digunakan berupa data primer dan sekunder. Analisis data yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan mereduksi data, pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwasanya: pertama, konsep dasar dari Pendidikan ramah anak adalah model Pendidikan yang menjamin keselamatan dan memberikan kebebasan anak didik menjalankan proses pembelajaran dengan tetap difasilitasi oleh guru. Jaminan dan kebebasan tersebut dilakukan untuk mengembangkan minat, bakat dan potensi anak didik melalui aktualisasi diri. Kedua, pola Pendidikan ramah anak memenuhi unsur aspek psikologi humanistik dilihat dari kesamaan pradigma minimal pada aspek kebabasan anak didik dalam menentukan gaya belajar dan model pembelajaran. ACognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License. PENDAHULUAN Anak didik merupakan salah satu dari komponen Pendidikan yang senantiasa diperhatikan keberadaannya. Artinya adalah anak didik tidak lain merupakan obyek 57 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. edukatif yang harus dikembangkan dari berbagai segi kemampuan baik aspek kognitif, edukatif maupun psikomotorik. Tiga kemampuan diatas merupakan domain yang bagi seorang pendidik menjadi Kompas dalam merumuskan suatu pola pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Konsep tersebut merupakan Amanah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan di dalam pasal 3 yang berbunyi bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung Keberhasilan pendidik mencapai tujuan dimaksud tidak lepas dari etensitas serta format intraksi dengan anak didik dalam kehidupan di sekolah baik berbentuk intraksi komunikatif maupun pola-pola kegiatan yang menjamin keselamatan anak didik dalam proses belajar. Pola keselamatan tersebut tidak lain merupakan format Pendidikan yang berorientasi pada ramah anak. Konsep sekolah ramah anak muncul dari berbagai factor yan melatarbelakangi salah satunya adalah maraknya Tindakan-tindakan kekerasan yan menimpa anak didik di lingkungan Pendidikan baik berupa kekerasan fisik maupun Pendidikan ramah anak mengedepankan proses intraksi dalam lingkungan belajar berbasis humanistik. Artinya, segala bentuk penyampaian materi ajar sangat harus berorientasi pada anak didik. Sekolah ramah anak bukan hanya merupakan konsep abstrak atau metodologi semata, namun konsep sekolah ramah anak merupakan prinsip pendidikan yang mengakui bahwa pendidikan yang berpusat pada anak merupakan bagian dari hak asasi Sekolah Ramah Anak pada prinsipnya merupakan hal penting yang harus diciptakan setiap saat. Konsep sekolah ramah anak menurut UNICEF dalam Wuryandani. Fathurrohman, & Anwar Senen . diciptakan berdasarkan prinsip demi terealisasinya hak anak atas pendidikan yang berkualitas. Dalam hal ini ditekankan bahwa menciptakan sekolah yang layak adalah hal penting untuk dilakukan. Rahmawati - Psikologi Humanistik 58 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. Bila melihat dari sisi tujuan, sekolah ramah anak dengan penerapan Pendidikan menjamin hak-hak anak adalah untuk memenuhi, menjamin, dan melindungi, serta mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan anak, sehingga dapat tumbuh dan Mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa dan jauh dari rasa takut akan kekerasan. Beberapa tujuan diatas bila dicermati secara seksama sangat menitik beratkan pada pengembangan dimensi psikologi pada diri anak seperti menjamin atau melindungi minat, bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak yang tujuan utamanya agar tidak direnggut oleh praktik-praktik kekerasan sehingga menyebabkan jatuhnya mental serta psikis pada diri mereka. Dimensi tujuan tersebut merupakan bagian kecil dari manfaat yang ditimbulkan dari pola penjaminan keselamatan anak di sekolah. Memperhatikan psikologi anak sama halnya dengan menjaga keberlangsungan potensi dan minat anak untuk terus berkembang di masa depan. Artinya, penting kiranya untuk dikupas secara mendalam program Pendidikan ramah anak yang selama ini telah diatur oleh pemerintah melalui kacamata psikologi Pendidikan agar memberikan penjelasan lebih lanjut bagi segenap aktivitas Pendidikan di Indonesia terkait urgensi program tersebut. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka (Evanirosa & et al. , 2. Metode kepustakaan adalah metode penelitian yang melibatkan pengumpulan data dari data atau artikel ilmiah yang berkaitan dengan masalah Buku, publikasi ilmiah, dokumen, dan internet, serta bahan-bahan lain yang berkaitan dengan penelitian ini, digunakan sebagai sumber (Dzakiyyah, 2. Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Metode kepustakaan merupakan proses penelitian yang dilakukan secara mandiri melalui kajian literasi-literasi terkait dengan topic besar penelitian. Literature tersebut diperoleh dari berbagai sumber yang kredibel dan terpercaya. Tinjauan pustaka merupakan kegiatan yang wajib dilakukan dalam penelitian. Tinjauan pustaka khususnya ditemukan dalam kajian ilmiah yang berupaya mengembangkan aspek teoritis atau memberikan manfaat yang efisien. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui studi pustaka yaitu dengan analisis data dan pemeriksaan data penelitian (Darmalaksana, 2. Informasi dikumpulkan dengan Rahmawati - Psikologi Humanistik 59 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. mengevaluasi dan meninjau jurnal, buku, artikel, dan makalah yang terkait dengan Sekolah Ramah Anak, psikulogi Pendidikan dan kaitannya dengan Teori Belajar Humanistik (Sukardi, 2. Klasifikasi leteratur yang kredibel menjadi konsesntrasi utama bagi peneliti pada penelitian ini. Jurnal artikel, buku serta makalah yang dipilih harus mengacu pada standarisi naskah yang terpercaya. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari jurnal dan Penelitian ini menggunakan rumusan penelitian untuk mengklasifikasikan data dan pengolahan data dan/atau kutipan referensi dilakukan untuk ditampilkan sebagai temuan studi, diabstraksikan untuk mendapatkan informasi yang komprehensif, dan (Darmalaksana, 2. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang dikembangkan oleh mels dan heberman yang berpandangan bahwa proses dalam menganalisis data pada penelitian kualitatif diskriptif dengan tahapan utama yaitu mereduksi data, pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Helaluddin & Wijaya, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Pendidikan Ramah anak Pada dasarnya ramah anak sudah diatur dalam undang-undang, karena contoh pada pasal 1 ayat 2 UUD No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu Auperlindungan anakAy adalah segala tindakan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi berdasarkan nilai dan martabat kemanusiaan, dan menjadi dilindungi dari kekerasan dan diskriminasiAy (Afnibar, 2. Kekerasan menjadi boomerang bagi anak di lingkungan sekolah. Kekerasan dimaksud memiliki pembagian yang tiodak hanya terpusat pada tidakan Namun juga segala benturan yang bersifat psikis. Bagian kedua ini menjadikan kebijakan pola pendidikan ramah anak sangat urgen karena sering terlacak dalam aktifitas pembelajaran di sekolah. Alasan diatas melahirkan Tujuan dikeluarkannya kebijakan program sekolah ramah anak adalah untuk memenuhi, menjamin, dan melindungi, serta mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan anak, sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa dan jauh dari rasa takut akan Rahmawati - Psikologi Humanistik 60 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. Negara hak-hak kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya (Fahmi, 2. Kehadiran kebijakan tersebut tidak lain hanya untuk menjaga hak-hak anak didik agar senantiasa berjalan pada garis yang diinginkan oleh undang-undang yang segala bentuk pelayanan publik untuk mencerdaskan anak bangsa sehingga untuk mencapai tujuan tersebut secara bersama memunculkan berbagai prinsip dari system sekolah ramah anak. Menurut Dewi dkk mengatakan bahwa prinsip dimaksud seperti: . Nondiskriminasi, artinya hak setiap anak dapat diperoleh tanpa diskriminasi. kepentingan terbaik anak, yang berarti bahwa setiap kebijakan atau keputusan yang diambil setelahnya sebenarnya adalah yang terbaik untuk pendidikan anak. kehidupan, kelangsungan hidup, dan pertumbuhan. Artinya lingkungan pendidikan menghormati harkat dan martabat anak dan menjamin tumbuh kembang setiap anak. Menghormati sudut pandang anak, yaitu menghormati setiap sudut pandang anak yang mempengaruhi tumbuh kembangnya. Manajemen yang baik, artinya di sekolah terjamin keterbukaan, akuntabilitas, keterlibatan, dan supremasi hukum. (Dewi. Sunarsi, & Khoiri, 2. Penjelasan prinsip diatas dipahami sebagai suatu bentuk lingkaran bulat yang terhubung antara satu komponen dengan komponen lainnya. Artinya prinsip non diskriminatif dalam penerapan pendidikan bermuara terhadap hasil dari mementingkan kehidupan anak didik yang berkelanjutan. Pola dan praktik yang tidak memanusiakan anak didik akan berimplikasi pada pemutusan rantai keberlanjutan potensi anak sebagai bentuk investasi SDM di masa depan. Maka sangat diharapkan bagi lembaga pendidikan yang pada esensinya merupakan ruang berkembangnya potensi anak menyadiakan segala macam intrumen yang lebih terbuka, akuntabel dan representatif bagi anak didik. Adapun metode pembelajaran yang digunakan dalam sekolah ramah anak adalah: . Terjadi proses pembelajaran yang beragam sehingga siswa merasa senang setelah mengikuti kelas, tidak ada rasa takut, atau khawatir, siswa aktif dan kreatif, serta tidak merasa minder untuk bersaing dengan teman sebaya lainnya. Proses pembelajaran yang efektif terjadi sebagai akibat dari penggunaan pendekatan pembelajaran yang beragam dan inovatif. Untuk memudahkan daya serap siswa, proses belajar mengajar didukung oleh media pengajaran seperti buku teks dan alat Rahmawati - Psikologi Humanistik 61 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. Sebagai fasilitator, guru melakukan proses pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif, interaktif baik secara individu maupun kelompok, . Terjadi proses belajar aktif. Siswa lebih terlibat, dan guru sebagai fasilitator, memotivasi dan membantu siswa dalam menemukan solusi mereka sendiri untuk suatu masalah. Siswa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang membantu mereka meningkatkan keterampilan mereka . elajar sambil melakukan, berlatih, dll. ) (Sudirjo, 2. Pemilihan memaksimalkan gerak belajar di dalam kelas. Metode untuk ramah anak sangat meminimalisir dominasi guru yang hanya diperuntukan sebagai fasilitator bukan actor utama dalam pembelajaran. Namun meskipun demikian, guru tetap menjadi pengendali dan pengatur system yang ada dalam aktivitas pembelajaran. Guru sebagai pemegang kunci keberhasilan aktivitas anak didik sehingga sangat direkomendasikan penggunaan media yang menarik dan menyenangkan serta menghibur bagi anak didik. Pada bagian ini metode yang sewajarnya dipilih oleh guru berupa model pembelajaran koopratif yang membebaskan anak mengekplorasi bahan, materi bahkan mungkin media pembelajaran secar mandiri ataupun kelompok dengan tetap dibawah pantauan guru. Pembahasan diatas menjelaskan bahwasanya Pendidikan ramah anak adalah model Pendidikan yang memperhatikan keselamatan anak didik baik secara fisik, psikis maupun kemampuan. Anak didik diberikan kebebasan menjalani proses pembelajaran berdasarkan minat, bakat dan potensi yang terdapat pada diri. Hal tersebut dapat dicapai dengan pemaksimalan kegiatan yang berpusat pada anak melalui pemilihan media yang menyenangkan dan menghibur serta representatif terhadap berbagai kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Serta juga penentuan metode yang memberikan peluang bagi anak sebagai pemeran utama dalam proses pembelajaran. Aspek Psikologi Humanistik dalam Pendidikan Ramah Anak Berdasarkan pemaparan Pendidikan ramah anak menitikberatkan pada aktualisasi diri siswa, yaitu siswa harus mampu memahami dirinya dan lingkungannya. Guru dapat membantu siswa dalam mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa dengan menggunakan metode, strategi dan model pembelajaran yang sesuai dengan teori belajar humanistik. Selain itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator Rahmawati - Psikologi Humanistik 62 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. dalam proses pembelajaran dan pembelajaran berpusat pada siswa. Karena pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pemahaman diatas merupakan pola pikir humanistik yang memanusiakan anak didik dengan cara mengembangkan minat dan bakat. Teori belajar humanistik berkaitan dengan isi dan metode pembelajaran, teori ini juga berkaitan dengan pendidikan dan proses pembelajaran dalam bentuk yang ideal. Psikologi humanistik menganggap guru sebagai fasilitator. Ada banyak metode untuk memudahkan siswa dalam pembelajaran, serta atribut fasilitator yang bervariasi. Fasilitator harus fokus pada pembentukan suasana awal belajar, keadaan kelompok, atau pengalaman kelas. Pendidik melihat keinginan setiap siswa untuk mencapai tujuan yang bermakna bagi dirinya sendiri sebagai faktor pendorong di balik pembelajaran yang bermakna. Berusaha merespon secara tepat ekspresi kelompok kelas, baik intelektual maupun emosional, baik secara individu maupun kelompok. Jika lingkungan kelas cocok, fasilitator dapat secara progresif berperilaku sebagai siswa yang berpartisipasi atau anggota kelompok, mengekspresikan ide-idenya sebagai individu, sama seperti siswa lainnya (Nurjan. Psikologi humanistik sangat bertumpu pada prinsip memanusiakan anak didik dengan cara mengembangkan potensi yang dimiliki. Bagi anak, potensi yang tertanam pada diri merupakan asset penting untuk menghadapi kehidupan di masa depan. Berdasarkan pradigma tersebut psikologi model ini beranggapan potensi anak harus dijaga serta dikuatkan melalui pola-pola serta model yang menjamin keselamatan. satunya melalui jalan pendidikan ramah anak. Kesesuaian prinsip ini menjadikan pendidikan ramah anak sangat digandromi oleh paham psikologi humanistik. Pendidikan ramah anak yang bertujuan memasilitasi anak semaksimal mungkin dalam mengembangkan potensi diri merupakan antonym dari konsep humanistik. Artinya, praktik Pendidikan ramah anak telah mengadopsi aspek psikologi dalam pembelajaran humanistik. Penjaminan dan pengembangan minat, bakat serta potensi keberlangsungan hidup anak didik di sekolah maupun di luar sekolah. Praktik humanisme sangat menjauhi Tindakan-tindakan yan menjatuhkan martabat anak didik. Terdapat tiga aspek Pendidikan ramah anak yang relevan dengan pola pikir humanistik yaitu gaya belajar, metode belajar dan model pembelajaran. Rahmawati - Psikologi Humanistik 63 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. Pertama, gaya belajar Pendidikan ramah anak berada pada asumsi bebas dan Artinya, anak didik diberikan kemerdekaan untuk menentukan pola dan bentuk belajar yang diinginkan. Pendidik pada konteks ini merupakan fasilitator yang berfungsi sebagai Kompas belajar anak didik agar tetap pada ketercapaian tujuan pembelajaran. Hal ini merupakan ciri khas dari belajar humanistik yang sangat memperhatikan potensi. Menurut aliran psikologi ini bahwa anak-anak memiliki gaya belajarnya sendiri. Seperti contoh Beberapa mungkin belajar terbaik melalui mendengarkan guru, membaca dan mencatat . aya belajar auditor. , orang lain melalui bahan visual, dan yang lain lagi melalui tubuh gerakan . ermain game, olahrag. atau aktivitas musik . Menurut Reid dalam (Saija, 2. Aliran psikologi humanistik melihat proses pembelajaran harus berdasarkan kodrat dan kemauan anak didik yang berada pada garis-garis kewajaran. Media dan sumber belajar senantiasa diselaraskan dengan krakteristik usia dan potensi anak didik. Hal ini merupakan bagian dari pola pikir pembelajaran ramah anak yang memberikan kebebasan pada anak mengekplorasi sumber balajar secara mandiri. Kedua. Metode Belajar pada Pendidikan ramah anak dan psikologi humanistik memiliki keserasian. Teori pembelajaran humanistik dan sekolah ramah anak melihat anak sebagai subjek yang memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Siswa diajarkan untuk bertanggung jawab penuh atas kehidupan mereka sendiri serta kehidupan orang lain di sekitar mereka. Cara-cara dialogis, kontemplatif, dan ekspresif merupakan beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam strategi ini. Metode dialogis mendorong siswa untuk berkolaborasi dan berpikir kritis dan kreatif. Guru tidak berperan sebagai guru tradisional yang hanya menawarkan masukan konten untuk semua siswa, melainkan sebagai fasilitator dan mitra diskusi (Qodir, 2. Pada bagian ini, guru tidak lain hanya untuk memfasilitasi anak melalui pengaturan, pembimbingan dan pengontrolan secara berkelanjutan. Sifat tersbeut harus tertanam bagi setiap guru yang berorientasi pada pembelajaran ramah anak. Artinya, system yang dibangun pada pola dan model ini sangat mengadopsi pola kerja Dari pembahasan ditas dapat disimpulkan bahwasanya program Pendidikan ramah anak merupakan bagian dari aspek psikologi belajar humanistik yang menerapkan pradigma belajar bebas dan terarah. Anak didik diberikan peluang untuk Rahmawati - Psikologi Humanistik 64 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. menentukan gaya dan metode serta model belajar yang dikehendaki dengan tetap didampingi atau difasilatasi oleh guru. Prinsip-prinsip tersebut merupakan pokok padigma belajar humanistik yang menjunjung tinggi asumsi memanusiakan anak didik. Sistem yang dibangun pada pola pembelajaran ramah anak sangat mendukung psikologi humanisme pada tahapan pembelajaran ramah anak di dalam maupun di luar kelas. Anti kekerasan fisik maupun psikis, kebabasan menyampaian ekpresi, keterbukaan manajemen, peningkatan potensi diri merupakan gambaran umum dari proses pembelajaran ramah anak yang berada di lingkungan sekolah ramah anak sudah pasti tentu bagian yang relevan dengan prinsip-prinsip humanistik. KESIMPULAN Pendidikan ramah anak merupakan model Pendidikan yang memperhatikan keselamatan anak didik baik secara fisik, psikis maupun kemampuan. Anak didik diberikan kebebasan menjalani proses pembelajaran berdasarkan minat, bakat dan potensi yang terdapat pada diri. program Pendidikan tersebut merupakan bagian dari aspek psikologi belajar humanistik yang menerapkan pradigma belajar bebas dan Anak didik diberikan peluang untuk menentukan gaya dan metode serta model belajar yang dikehendaki dengan tetap didampingi atau difasilatasi oleh guru. Prinsipprinsip tersebut merupakan pokok padigma belajar humanistik yang menjunjung tinggi asumsi memanusiakan anak didik. DAFTAR RUJUKAN Darmalaksana. Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 5. Dewi. Sunarsi. , & Khoiri. Pendidikan Ramah Anak. Surabaya: Cipta Media Nusantara. Ekawati. , & Yarni. Teori Belajar Berdasarkan Aliran Psikologi Humanistik Dan Implikasinya Pada Proses Pembelajaran. JurnalReview Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 2. , 267. Qodir. Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Pedagogik, 4. , 193. Saija. Analisis Terhadap Gaya Belajar Siswa Sekolah Menengah Di Bandung. Jurnal Padegogik, 3. , 57Ae70. Saputri. Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar. EduBase : Journal of Basic Education, 3. Sudirjo. Model Pembelajaran Inovatif Berbasis Konsep Sekolah Ramah Anak. EduHumaniora:Jurnal Pendidikan Dasar, 2. , 5Ae6. Rahmawati - Psikologi Humanistik 65 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 2 (Desember, 2. Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara. Nurjan. Psikologi Belajar. Ponorogo: CV. Wade Group. Sulaiman. , & S. Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Humanistik Serta Implikasinya Dalam Proses Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Sikola: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Pembelajaran, 2. , 223Ae224. Yuyun. Zarkasih, & Sapriati. Implementasi Program Sekolah Ramah AnakDi Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Marpoyan DamaiKota Pekanbaru. JPBD, 6. , 11. Rahmawati - Psikologi Humanistik