Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. DIVERSIFIKASI PRODUK TANAMAN RUMPUT MENDONG GUNA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MASYARAKAT DAN MENCIPTAKAN PRODUK UNGGULAN DI DESA LENEK Muh. Makhrus. Danang Indra Nugraha1. Yuni Septina2. Firda Aulia3. Neli4. Baiq Inayang Wulandari5. Sulthan Abdullah5. Intan Hardiani Zahara7. I Gusti Ayu Made Suarmini5. Ega Nurul Suci1. Deni Saputra8 Program Studi Ilmu Hukum, 2Program Studi Hubungan Internasional, 3Program Studi Akuntansi, 4Program Studi Agribisnis, 5Program Studi Manajemen, 6Program Studi Ekonomi Pembangunan, 7Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, 8Program Studi Teknik Mesin Universitas Mataram. Jl. Majapahit No. 62 Mataram. Alamat corespondensi : makhrus@gmail. ABSTRAK Jumlah usaha mikro kecil dan menengah berdasarkan jenisnya menurut Kabupaten Kota tahun 2020 di Kabupaten Lombok Timur terdapat sebanyak 4. 297 unit. Salah satu industri mikro yang ada di Lombok Timur tepatnya di Desa Lenek. Kecamatan Lenek terdapat industri kerajinan yang diberi nama tikar mendong. Anyaman tikar mendong ini seiring berjalannya waktu dengan beberapa permasalahan yang ada membuat minat para perajin untuk membuat anyaman ini mulai Mahasiswa KKN-Tematik Universitas Mataram Desa Lenek memiliki inisiatif untuk berkontribusi dalam penyelesaian masalah yang ada, yaitu dengan mengadakan pelatihan diversifikasi anyaman tikar mendong menjadi produk-produk yang dibutuhkan konsumen dan berdaya jual tinggi. Pelatihan dilakukan selama tiga hari berturut-turut dan dapat dikatakan berhasil, dengan pencapaian yaitu kemampuan para perajin dalam membuat beberapa produk dari bahan dasar tanaman mendong. Dengan kemampuan tersebut, diharapkan para perajin tetap semangat dalam melestarikan budaya-budaya yang ada di Desa Lenek. Kata Kunci: anyaman tikar mendong, pelatihan, budaya PENDAHULUAN Berlandaskan pada kenyataan bahwasannya industri kecil dan industri rumah tangga memiliki peran penting dalam perekonomian, membuat banyak dari masyarakat Indonesia mulai termotivasi untuk menciptakan produk-produk yang dibutuhkan oleh para konsumen dan memiliki daya jual yang tinggi. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, jumlah usaha mikro kecil dan menengah berdasarkan jenisnya menurut Kabupaten Kota tahun 2020 sebanyak 48. 091 unit, dan khusus di Kabupaten Lombok Timur terdapat sebanyak 4. 297 unit (Statistik, 2. Salah satu industri mikro yang ada di Lombok Timur tepatnya di Desa Lenek. Kecamatan Lenek terdapat industri kerajinan Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. yang diberi nama tikar mendong. Kerajinan tikar mendong ini merupakan anyaman yang berbahan dasar tanaman mendong dengan proses pembuatannya yang disebut nyesek. Adapun anyaman tikar mendong sudah diproduksi oleh masyarakat desa Lenek khususnya di Dusun Paok Pondong dan Dusun Paok Pondong Daya selama berpuluh-puluh tahun lamanya yang menjadikan anyaman tikar mendong ini memiliki nilai budaya tersendiri di kalangan masyarakat Lenek, dan keahlian dalam hal menyesek (Penyebutan untuk proses pembuatan tikar mendon. bersifat turun temurun. Sehingga, hampir di setiap rumah yang ada di Dusun Paok Pondong dan Dusun Paok Pondong Daya dapat dijumpai alat nyesek dengan masyarakat yang sudah ahli dalam pembuatan tikar mendong. Namun di beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk membuat kerajinan tikar mendong sudah mulai redup dan terjadinya peralihan profesi yang tentu saja hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Alasan dibalik perpindahan profesi yang terjadi pada masyarakat Lenek yang awalnya merupakan perajin tikar mendong kemudian beralih sebagai buruh tani, buruh bangunan, tukang ojek, dan beberapa profesi lainnya adalah ketidakseimbangan antara hasil penjualan dari anyaman tikar mendong, dengan modal, waktu, maupun tenaga yang dikeluarkan, semakin langkanya tanaman mendong dikarenakan area sawah yang dijadikan untuk menanam tanaman ini diganti dengan tanaman lain seperti padi dan juga tembakau dikarenakan sulitnya proses penanaman dan juga perawatan dari tanaman ini, dan alasan yang terakhir adalah rendahnya minat konsumen terhadap anyaman tikar mendong yang disebabkan oleh tergesernya fungsi dari anyaman tikar mendong ini dengan karpet maupun tikar plastik lainnya . Alhasil dari catatan pada tahun 1985, yang semulanya jumlah dari perajin tikar mendong sebanyak 500 orang perajin, menurun drastis jika dibandingkan dengan catatan pada tahun 2020 yang berjumlah sebanyak 150 orang dengan hanya 30 perajin yang menjadikan pekerjaan ini menjadi mata pencaharian utama mereka (Jufri et , 2. Hal ini menandakan adanya penurunan minat masyarakat desa Lenek untuk memproduksi anyaman tikar mendong yang jika terus berlanjut, maka nilai budaya yang dimiliki oleh tikar mendong juga akan ikut punah. Sehingga, dibutuhkan adanya koordinasi dari banyak pihak untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada. Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan ini, dikutip dari pernyataan salah satu Kader desa Lenek pada saat diwawancarai oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik Universitas Mataram Desa Lenek menyatakan bahwa memang sudah ada rencana dari pemerintah setempat untuk menangani hal ini dengan menciptakan kelompok usaha khusus anyaman tikar mendong yang nantinya juga akan dibantu oleh pemerintah dari segi tunjangan biaya produksi maupun bantuan penyediaan alat nyesek. Namun, rencana ini baru hanya sekedar rancangan kerja yang belum sempat direalisasikan. Mahasiswa Kuliah Kerja NyataTematik Universitas Mataram yang bertempat di Desa Lenek memiliki inisiatif untuk ikut serta berkontribusi dalam usaha penyelesaian masalah ini. Adapun upaya yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Universitas Mataram desa Lenek adalah pengadaan pelatihan diversifikasi Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. anyaman tikar mendong menjadi produk-produk lain seperti pot bunga, cover tissue, tas, piring, dan banyak produk lainnya yang dibutuhkan oleh para konsumen. Pelatihan ini ditujukan kepada para perajin anyaman tikar mendong dengan tujuan supaya masyarakat desa Lenek mampu membuat produk lain dari bahan dasar tanaman mendong yang bisa bersaing di pasaran dengan daya jual yang tinggi. Sehingga, masalah kurangnya pendapatan dari hasil jual anyaman tikar mendong dapat teratasi dengan penambahan hasil jual dari produkproduk lain yang berbahan dasar tanaman mendong. Tujuan lain dari diadakannya pelatihan ini oleh KKN-Tematik Universitas Mataram adalah untuk menumbuhkan kembali rasa semangat dari para perajin tikar mendong, bahwa dengan bahan dasar tanaman mendong produk yang bisa dibuat bukan hanya tikar saja, melainkan juga banyak produk lain yang dibutuhkan para konsumen. Sehingga, semangat para perajin untuk tetap memproduksi tikar mendong maupun produk-produk lain dari tanaman mendong tetap ada, dan sekaligus menghilangkan kekhawatiran akan punahnya salah satu budaya Lenek yang ditemui dalam bentuk anyaman tikar mendong. METODE KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk pelatihan diversifikasi anyaman tikar mendong yang bertempat di Sekolah Dasar 4 Negeri Lenek dengan jumlah 40 peserta yang merupakan para perajin anyaman tikar mendong yang ada di Dusun Paok Pondong dan Dusun Paok Pondong Daya. Pelatihan ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, yang dimulai pada hari Senin, 25 Juli 2022 sampai dengan hari Rabu, 27 Juli 2022. Adapun bentuk penilaian keberhasilan dari pelaksanaan pelatihan ini adalah kemampuan para perajin dalam membuat produk lain dari bahan dasar tanaman mendong. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan pelatihan diversifikasi anyaman tikar mendong berlangsung Selama 3 hari yang mulai dilakukan pada hari Senin, 25 Juli 2022 dan berakhir di hari Rabu, 27 Juli 2022. Adapun peserta dari pelatihan ini berjumlah 40 orang yang merupakan para perajin anyaman tikar mendong yang berasal dari desa Lenek tepatnya di Dusun Paok Pondong dan Dusun Paok Pondong Daya. Antusias dari para perajin sangat tinggi, terlihat dari ketepatan waktu mereka datang ke lokasi pelatihan dengan didampingi juga oleh Kepala Dusun masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa para perajin juga tidak menginginkan budaya khas Lenek seperti anyaman tikar mendong punah hanya dengan beberapa masalah yang bisa diatasi. Sehingga, yang mereka butuhkan hanyalah dukungan baik itu dari pemerintah setempat maupun pemerintah daerah dalam menunjang proses pembuatan anyaman tikar mendong dan produk lain yang berbahan dasar tanaman mendong. Pelatihan diversifikasi anyaman tikar mendong yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-Tematik Universitas Mataram mendatangkan langsung orang yang ahli dalam bidang kerajinan, yaitu salah satu perajin asal Sukamulia yang memiliki keterampilan membuat berbagai macam anyaman dari bahan pokok yang berbeda-beda seperti misalnya rotan, bambu, dan lain Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Pada hari pertama pelatihan, fokus yang diajarkan kepada para perajin adalah bagaimana cara mengepang tanaman mendong untuk nantinya digunakan sebagai bahan dasar dari produk-produk yang akan dibuat. Dan dihari pertama ini, para perajin sudah bisa langsung mahir dalam mengepang tanaman mendong dan juga dalam menyambung, yang menandakan adanya keterampilan yang dimiliki oleh para perajin yang hanya tertutup oleh tidak adanya akses ataupun wadah untuk mengembangkan hal tersebut. Setelah pelatihan terkait mengepang tanaman mendong, selanjutnya para perajin disuruh untuk mengepang sendiri dirumah dengan ukuran sepanjang mungkin yang nantinya akan memudahkan para perajin dalam membuat produk lain dari tanaman mendong. Dalam hal ini, mahasiswa KKN-Tematik Universitas Mataram Desa Lenek berkontribusi langsung dalam penyediaan tanaman mendong yang dibagikan kepada 40 para peserta pelatihan. Gambar 1 dan 2. Pemberian Pelatihan Cara Mengepang Tanaman Mendong Dan Pembagian Tanaman Mendong Pada hari kedua pelatihan, para perajin datang kembali ke tempat pelatihan dengan membawa hasil kepangan tanaman mendong masing-masing. Dan dihari kedua ini, pelatih mengajarkan pada para peserta pelatihan untuk mulai membuat produk-produk yang diinginkan dengan tanaman mendong yang sudah mereka kepang. Pelatih dalam hal ini menjelaskan pada para peserta pelatihan tentang bagaimana langkah awal yang menjadi point utama dalam pembuatan produk apapun yang ingin dibuat. Pelatih juga memberikan pilihan kepada para peserta pelatihan untuk memilih produk pertama yang ingin mereka buat. Dan pilihan mayoritas jatuh pada pembuatan piring, yang dimulai dengan arahan dari pelatih untuk menyiapkan piring sebagai Kemudian langkah kedua adalah mulai membentuk piring dari kepangan tanaman mendong yang dihasilkan, dengan memutar kepangan tanaman mendong tersebut dan merekatkannya menggunakan lem tembak. Pelatihan hari kedua berjalan lancar dengan kemampuan para peserta pelatihan dalam membentuk dan merekatkan kepangan dari tanaman mendong. Dan dilanjutkan dengan pembagian kelompok di sesi terakhir pertemuan kedua yang bertujuan untuk memudahkan mahasiswa KKNTematik Universitas Mataram Desa Lenek dalam membagikan lem tembak beserta dengan alatnya Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. kepada masing-masing kelompok. Jumlah peserta pelatihan yang sebanyak 40 orang dibagi menjadi 6 kelompok dengan 4 kelompok berjumlah 7 orang, dan 2 kelompok berjumlah 6 orang. Adapun tugas yang diberikan oleh pelatih pada 6 kelompok tersebut adalah untuk membuat produk apa saja yang diinginkan dengan bahan dasar tanaman mendong yang sudah mereka kepang, dan direkatkan menggunakan lem tembak. Gambar 3 dan 4. Pemberian Pelatihan Cara Membuat Piring dari Kepangan Tanaman Mendong dan Pembagian Bahan Untuk Pembuatannya Pelatihan hari ketiga yang merupakan hari terakhir adalah pengumpulan produk-produk hasil diversifikasi anyaman tikar mendong yang dibuat oleh para perajin dari Desa Lenek Dusun Paok Pondong dan Paok Pondong Daya. Di hari ketiga ini, diluar ekspektasi semua orang, baik itu dari pelatih maupun mahasiswa KKN-Tematik Universitas Mataram sebagai panitia pelaksana yang melihat keterampilan para peserta pelatihan dalam membuat banyak produk dari bahan dasar tanaman mendong. Produk-produk yang dihasilkan di hari ketiga pelatihan ini adalah piring, mangkuk, cangkir, dan pot bunga dari masing-masing kelompok. Gambar 5 dan 6. Pengumpulan dan Pameran Hasil Diversifikasi Tanaman Mendong Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. KESIMPULAN Pelatihan diversifikasi anyaman tikar mendong yang dilakukan selama tiga hari berturutturut, yang di hari pertama pelatihan diisi dengan fokus yang diajarkan oleh pelatih mengenai bagaimana mengepang tanaman mendong. Di hari kedua adalah pemberian pelatihan dalam membuat produk dari bahan dasar kepangan tanaman mendong yang sudah dibuat, dan hari terakhir adalah pengumpulan sekaligus pameran produk hasil para peserta pelatihan. Pelatihan ini dapat dikatakan berhasil dilihat dari kemampuan dan keterampilan para peserta pelatihan dalam pembuatan beberapa produk berbahan dasar tanaman mendong. Dan juga adanya peningkatan progress setiap harinya yang diperlihatkan pada tiga hari pelaksanaan pelatihan. Adapun harapan dari mahasiswa KKN-Tematik Universitas Mataram Desa Lenek yang berperan sebagai panitia pelaksana pelatihan yaitu kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus Dan juga harapan untuk adanya aksi cepat terutama dari pemerintah setempat dalam membantu melestarikan anyaman tikar mendong yang merupakan budaya bersama. Dan terakhir, harapan untuk masyarakat Desa Lenek yang berprofesi sebagai perajin anyaman tikar mendong hendaknya terus semangat dalam melestarikan budaya-budaya yang sudah ada dan lebih baik lagi apabila budaya tersebut tetap di kembangkan dengan mengikuti zaman namun tetap menjaga keaslian dari budaya itu sendiri. Untuk Pemerintah setempat dan Karang Taruna agar tetap meneruskan apa yang sudah kami usahakan tumbuh kembali di Desa Lenek. Salah satunya adalah semangat masyarakat setempat untuk tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Lenek, baik itu kebudayaan yang sifatnya tarian ataupun kebudayaan dalam bentuk UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram yang telah memberikan akses untuk mahasiswa KKN-Tematik Desa Lenek menjalankan program kerja yang bertempat di Desa Lenek. Kecamatan Lenek. Ucapan terima kasih kedua ditujukan penulis untuk seluruh anggota kelompok KKN-Tematik Desa Lenek, yang sudah berkontribusi dari mulai awal pelatihan sampai dengan hari terakhir. Kemudian ucapan terima kasih selanjutnya ditujukan penulis kepada pelatih yaitu bang Opik, yang sudah bersedia memberikan pelatihan kepada para perajin. Selanjutnya, ucapan terima kasih kepada kedua Kepala Dusun yaitu Kepala Dusun Paok Pondong dan Paok Pondong Daya, yang sudah memberikan akses dan membantu dalam pelaksanaan pelatihan. Ucapan terima kasih kelima ditujukan kepada Kepala Desa Lenek dan juga Bapak Camat Lenek, beserta pemerintah setempat lainnya yang sudah mendukung jalannya pelatihan. Dan ucapan terima kasih terakhir ditujukan penulis kepada para peserta pelatihan, yang sudah meluangkan waktu untuk hadir dan mengikuti pelatihan selama tiga Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. DAFTAR PUSTAKA