Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 1-8 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb FORMULASI SABUN CAIR EKSTRAK ETANOL KULIT ALPUKAT (Persea american. TERHADAP BAKTERI Sthapylococcus aureus Ade Irma Suryani*. Hasna Dewi Program Studi Di Farmasi. Politeknik Tiara Bunda. Depok. Indonesia email: irmaade06@gmail. Riwayat Artikel: Diterima: 2 Januari 2025, direvisi: 26 Januari 2025, dipublikasi: 28 Februari 2025 ABSTRACT Avocado peels contain Flavanoid compounds and alkaloids as antibacterial. In this study, the ethanol extract of Avocado peels was formulated as a liquid soap using concentrations of FI . %). FII . %) and Fi . %). The aim of this study was to formulate a liquid soap from a sample of Avocado peel extract against the antibacterial activity of Staphylococcus aureus using the agar diffusion method in wells. Physical evaluation of liquid soap preparations includes several parameters, namely organoleptic tests including odor, shape and color, pH test, foam stability test, viscosity test and homogeneity test. The results obtained from testing liquid soap using ethanol extract of Avocado peels with varying concentrations of 1%, 3% and 5% can inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria, namely 1% = 19. 6, 3% = 21. 6 and 5% = 25. Based on the results of this study it can be concluded that the ethanol extract of Avocado peels (Persea american. can be formulated in the form of liquid soap and is effective against inhibition of Staphylococcus aureus bacteria. And in this study Fi fulfilled the physical quality evaluation test and had activity as an antibacterial, with the resulting inhibition zone at a concentration of 5% = 26. 6 mm, very strong category. Keywords: Liquid soap. Staphylococcus aureus. ABSTRAK Kulit alpukat memiliki kandungan senyawa Flavanoid dan alkaloid sebagai antibakteri. Pada penelitian ini ekstrak etanol kulit alpukat diformulasikan sebagai sediaan sabun cair menggunakan konsentrasi FI . %) FII . %) dan Fi . %). Tujuan dari penelitian ini yaitu memformulasikan sediaan sabun cair dari sampel ekstrak kulit alpukat terhadap aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode difusi agar secara sumuran. Evaluasi fisik sediaan sabun cair meliputi beberapa parameter yaitu uji organoleptik diantaranya Bau, bentuk dan warna , uji pH, uji stabilitas busa, uji viskositas dan uji homogenitas. Hasil yang diperoleh dari pengujian sabun cair dengan menggunkan ekstrak etanol kulit alpukat dengan variasi konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu 1% = 19,6 3% = 21. 6 dan 5%= 25,8. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit alpukat (Persea american. dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan sabun cair dan efektif terhadap penghambatan pada bakteri Staphylococcus aureus. Dan pada penelitian ini Fi memenuhi uji evaluasi mutu fisik dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri, dengan zona hambat yang dihasilkan yaitu pada konsentrasi 5% = 26,6 mm kategori sangat kuat. Kata Kunci: Sabun cair. Staphylococcus aureus. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang begitu Salah satu sumber daya alam yang di manfaatkan adalah tumbuh-tumbuhan yang di jadikan sebagai bahan baku obat Masyarakat Indonesia pun telah lama menggunakan bahan baku obat dari tanaman yang ada di sekitarnya yang khasiatnya di buktikan secara empiris atau turun-temurun. Banyaknya jenis tanaman yang digunakan sebagai tanaman obat, salah satunya yaitu Kulit alpukat. Kulit alpukat selain di kenal sebagai tanaman obat kulit alpukat juga di manfaatkan sebagai sayuran yang di konsumsi seharihari oleh masyarakat Indonesia bahkan luar Kulit alpukat memliki banyak khasiat yaitu dapat mengurangi kadar gula darah, antiinflamasi, antioksidan dan antimikroba (Fitriana, 2. Infeksi pada kulit yang diakibatkan oleh berbagai bakteri termasuk bakteri Page - 1 Journal of Pharmacy Tiara Bunda Sthapylococcus aureus merupakan salah menyebabkan kesakitan dan kematian di negara berkembang dan negara maju. Bakteri Sthapylococcus aureus merupakan patogen utama untuk manusia, hampir setiap orang mengalami beberapa infeksi Sthapylococcus aureus sepanjang hidup, seperti keracunan makanan dan infeksi pada kulit akibat polusi dan debu dari luar. Salah satu upaya untuk terhindar dari infeksi kulit akibat bakteri yaitu dengan mandi, menggunakan sabun sebagai pembersih mikroba pada kulit akan tetap berkembang biak, untuk itu di buat sediaan sabun mandi cair antibakteri sebagai upaya untuk meminimalisir bakteri pada kulit (Yulianti dkk, 2. Sabun cair merupakan salah satu produk kosmetik yang di gunakan sebagai pembersih tubuh yang di gunakan seharihari. Dengan berkembangnya zaman masyarakat lebih menyukai sabun dalam bentuk cair karena bentuknya yang mudah di bawa kemana-mana di simpan dalam wadah yang tertutup rapat dan lebih higienis. Berdasarkan khasiat dari tanaman kulit alpukat sebagai antibakteri, maka pada penelitian ini akan dibuat suatu sediaan sabun mandi cair dari ekstrak kulit alpukat untuk melihat aktivitasnya terhadap infeksi pada kulit akibat dari bakteri Staphylococcus Pada penelitian yang dilakukan oleh (Dima dkk, 2. menggunakan ekstrak etanol kulit alpukat dengan menggunakan kosentrasi tinggi yaitu 5%, 10%, 20%, 40% dan 80% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dimana semakin tinggi konsentrasinya maka semakin besar pula aktivitas antibakterinya, sehingga pada formulasi ini di gunakan konsetrasi rendah yaitu 1%, 3% dan 5% untuk melihat aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang diujikan pada medium agar dalam bentuk sedian sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat. CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Metode Alat Alat-alat yang digunakan meliputi Autoklaf. Blender, batang pengaduk, cawan petri. Erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, inkubator, jarum ose, kaca arloji, mistar berskala, mikro pipet, pipet tetes, rak tabung, spritus, termometer, timbangan Bahan Bahan yang digunakan meliputi aquadest, ekstrak etanol kulit Alpukat, etanol 96%, asam sterat. BHT, gliserin. HPMC. KOH. NaCL. VCO. MHA (Mueller Hinton Aga. , bakteri Staphylococcus aureus, sabun cair Dettol . ontrol positi. Prosedur Kerja Pengambilan sampel Sampel yang digunakan adalah kulit alpukat Sampel diambil di daerah kecamatan Lede proponsi Maluku Utara secara langsung dari pohonnya. Pengolahan sampel Kulit alpukat yang telah dikumpulkan dibersihakan dari kotoran, dicuci di bawah air mengalir sampai bersih . ortasi basa. , dipotong-potong kecil lalu di keringkan dengan cara di angina-anginkan sampai kandungan air pada kulit berkurang. Sampel yang telah di keringkan siap untuk di Pembuatan ekstrak kulit alpukat Sampel kulit alpukat yang telah di keringkan atau telah melalu proses maserasi di buat serbuk dengan cara di blender sampel kering sampai halus. Sebanyak 500 gram serbuk sampel kulit alpukat kemudian dimasukan ke dalam wadah maserasi lalu ditambahkan pelarut etanol 96%, dibiarkan selama 3 hari dari bejana tertutup dan terhindar dari cahaya matahari langsung sambil di aduk secara Setelah 3 x 4 jam dilakukan Page - 2 Journal of Pharmacy Tiara Bunda CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Tabel 1. Rancangan Formulasi Sabun Cair Ekstrak Kulit Alpukat Nama Baham Eks Kulit Alpukat Asam Stearat KOH BHT VCO Gliserin HPMC Aquadest Kegunaan Zat aktif Penetral Surfaktan Antioksidan Basis minyak Pelembut Pengikat ad 60 ml ampasnya dimaserasi kembali sebanyak 2 kali dan diperoleh ektrak etanol cair. Hasil yang diperoleh kemudian diuapkan dengan cara didingin-dinginkan sampai diperoleh ekstrak kental. Penyiapan formulasi sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat Pembuatan sediaan sabun mandi Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan Ditimbang seluruh bahan yang akan digunakan secara seksama, kemudian VCO dimasukan kedalam gelas kimia, ditambahkan dengan asam sterat yang penangaa air sedikit demi sedikit hingga Formulasi dan Komposisi % b/v aquades panas dimasukan dalam campuran Ditambahkan gliserin yang telah dilarutkan lalu masukan ekstrak kulit alpukat aduk hingga tercampur homogeny lalu di tambahkan BHT , add kan aquadest 60 ml, masukan kedalam wadah (Yulianti et al. Evaluasi sediaan cair Uji organoleptik Uji ini dilakukan untuk melihat sediaan secara fisik meliputi bau, warna dan bentuk. Pengujian ini dilakukan dengan melihat secara langsung pada sediaan sabun mandi cair secara bentuk, warna dan bau yang dihasilkan (Lailiyah & Rahayu. Tabel 2. Hasil Formulasi Sediaan Sabun Cair Ekstrak Kulit Alpukat Formula 1 Formula 2 Formula 3 Ekstrak 1% Ekstrak 3% Ekstrak 5% larut kemudiaan tambahkan KOH sedikit Uji pH demi sedikit dipanaskan pada suhu 50-60AC Pengujian ini dilakukan untuk melihat sampai terbentuk basis sabun. HPMC yang tingkat keasaaman sediaan sehingga tidak sebelumnya telah dikembangkan dalam dapat menimbulakn iritasi pada kulit dengan Page - 3 Journal of Pharmacy Tiara Bunda CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. & Rahayu, 2. menggunakan pH meter. pH sediaan sabun mandi cair berdasarkan persyaratan SNI yaitu kisaran pH 8-11. Secara umum sediaan sabun mandi cair cenderung basa. Hal ini disebabkan oleh bahan dasar penyusun sabun cair tersebut yaitu KOH yang digunakan untuk menghasilkan reaksi saponifikasi (Lailiyah & Rahayu, 2. Pengujian antibakteri Sterilisasi alat Alat yang digunakan pada penelitian ini dibersihakan terlebih dahulu, setelah itu dibungkus dengan kertas, kemudian dimasukan alat yang telah dibungkus dimasukan ke dalam autoklaf pada suhu 121AC tekanan 1 atm selama 15 menit. Dimasukan dalam oven pada suhu 100AC selama satu jam untuk mengeringkan alat. Pembuatan Diambil menggunakan ose steril sebanyak 2 ose, lalu disupensikan kedalam larutan NaCL 0,9 sampai diperoleh kekeruhan sesuai dengan standar 0,5 macFarland atau sebanding dengan jumlah bakteri 10 CFU/ml. Uji Stabilitas busa Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tinggi busa yang dihasilkan oleh sediaan sabun mandi cair dengan cara sediaan sabun mandi cair sebanyak 1 ml di masukan kedalam tabung reaksi kemudian di kocok lalu didiamakan selama 5 menit. Syarat tinggi busa sabun cair yaitu 13-220 mm dan stabilitas yang baik adalah diatas 70% (Lailiyah & Rahayu, 2. Uji Viskositas Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui keketalan sediaan sabun mandi cair dengan cara menggunakan alat viscometer VT- pada spindle nomor 4 dengan kecepatan 60rpm (Yulianti et al. Uji homogenitas Uji ini dilakukan untuk melihat tingkat Pembuatan MHA (Mueller Hinton Aga. Ditimbang sebanyak 3,8 gram Muller Hinton Agar . gr/L). komposisi medium (Beef infusion 300gr. Casamino acid 17,5 gr. Agar 17 g. Dilarutkan dalam 100 ml Dipanaskan hingga mendidih, sterilkan selama 15 menit di autoklaf dengan tekanan udara 1 atm 121A C (Yulianti dkk. Tabel 1. Evaluasi Fisika Kimia No. Uji Organoleptik Bentuk Aroma Warna Viskositas Stabilitas Busa TB Awal TB Akhir Homogenitas Keterangan: FII Fi Khas Bening 8660 mPas Khas Hijau Muda 8400 mPas Khas Hijau Tua 8410 mPas Khas Hijau Pekat 8530 mPas Homogen Homogen Homogen Homogen : Formula sabun mandi cair tanpa menggunkan ekstrak : Formula sabun mandi cair dengan konsentrasi 1% : Formula sabun mandi cair dengan konsentrasi 3% : Formula sabun mandi cair dengan konsentrasi 5% homogenya atau zat terdistribusi secara merata pada sedian sabun mandi (Lailiyah Page - 4 Journal of Pharmacy Tiara Bunda CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Tabel 2. Uji Daya Hambat Formula FII Fi Replikasi 19, 7 mm 20,5 mm 26,6 mm 26,9 mm Replikasi 19,2 mm 22,0 mm 25,6 mm 30,2 mm Replikasi 19,9 mm 22,4 mm 25,3 mm 28, 4 mm Uji aktivitas antibakteri Pembuatan medium Mueller Hinton Agar . Ditimbang sebanyak 2,3 gram MHA Erlenmeyer dilarutkan dalam 100 ml Dipanaskan sempurna, kemudian larutan MHA yang masih hangat dituang kedalam tabung reaksi yang masing-masing diisi sebanyak 10 ml lalu disterilkan selama 15 menit di autoklaf dengan tekanan udara 1 atm 121A C (Yulianti et al. , 2. Pengujian sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pada proses ini dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar dengan memasukan larutan MHA yang steril, kemudian sebanyak 0,2 ml bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri yang berbeda yang telah disterilkan. Kemudian cawan petri yang telah berisi tadi digoyang-goyang memutar agar bakteri dan media tercampur merata, dibiarkan beberapa menit hingga mengeras, setelah mengeras maka dilubang pada cawan petri dimasukan sediaan yang akan diujikan dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda kedalam lubang tersebut, lalu tutup cawan petri kemudian dibungus menggunakan kertas bersih di inkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam. Setelah itu dilakukan pengamatan yang dapat dilihat berdasarkan terbentuknya daerah hambat yang berupa zona bening disekeliling lubang sumuran Setelah itu dilakukan pengukuran diameter zona bening yang terbentuk. Dilakukan juga terhadap pengujian tanpa zat Nilai rata-rata Daya hambat 19,6 mm 21,6 mm 25,8 mm 28,5 mm Keterangan Daya hambat kuat Daya hambat sangat kuat Daya hambat sangat kuat Daya hambat sangat kuat Daya hambat lemah aktif atau ekstrak etanol sebagai control negative (-) dan sediaan pebanding yang ada di pasaran sebagai control positif ( ) yaitu digunakan sabun cair Detol (Yulianti dkk, 2. Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini dibuat sediaan yaitu Sediaan Sabun Mandi cair dari ekstrak etanol kulit alpukat sebagai antibakteri yang Staphylococcus aureus. Ekstrak yang digunakan yaitu ekstrak kental etanol kulit alpukat dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 1%, 3% dan 5% dengan zat pembanding atau kontrol positif yaitu Dettol. Pengujian terhadap uji secara kimia dan fisik meliputi uji organoleptik hasil yang diperolah dengan melihat bau, bentuk dan Berdasarkan SNI bahwa dalam pengujian organoleptik sediaan sabun mandi cair harus memiliki bentuk cairan kental, mamiliki bau dan warna yang khas. Dalam penelitian ini memiliki bentuk cairan kental, bau khas yaitu bau ekstrak kulit alpukat dan warna hijau tua. Berdasarkan penelitian(Lailiyah & Rahayu, 2. sediaan sabun mandi cair yang sesuai dengan SNI yaitu memiliki bau yang khas, warna sesuai dengan ekstrak yang digunakan dan berbentuk cair. PEMBAHASAN Pengujian terhadap pH sediaan sabun mandi cair pada konsentrasi 1% yaitu pH 9,8. Pada konsentrasi 3% yaitu pada pH 8, konsentrasi 5% konsentrasi pH 8,5 dan kontrol negatif atau tidak menggunakan zat aktif yaitu pH 9,1. (Lailiyah & Rahayu, 2. dalam hal ini pH yang dihasilkan sesuai dengan SNI di mana standar pH untuk sediaan sabun mandi cair yaitu 8-11 yaitu Page - 5 Journal of Pharmacy Tiara Bunda bersifat basa. Secara umum hal ini disebabkan bahan dasar penyusun sabun cair tersebut yaitu KOH yang digunakan untuk menghasilkan reaksi sponifikasi. Busa merupakan hal penting dalam suatu produk khususnya dalam sediaan sabun cair. Untuk menentukan mutu sabun tersebut maka dilakukan pengujian stabilitas Pengujian ini dilakukan untu melihat tinggi busa sabun pertama dengan tinggi busa sabun setelah 5 menit di diamkan. Adapun hasil dari pengujian stabilitas sabun ini di peroleh dengan persentase busa sabun yaitu FI ( 71,42% ) FII ( 76,92%) dan Fi ( 78,57%) dalam hal ini sediaan sabun yang dibuat memenuhi standar, yang adalah >70%. Berdasarkan (Amin,2. karakteristik dari busa sabun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu adanya bahan surfaktan, penstabil busa dan bahan-bahan penyusun sabun cair lainya. Pengujian viskositas dapat dilihat perbedaan viskositas dalam setiap formula. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan konsetrasi dari ekstrak yang digunakan. Berdasarkan penelitian (Yulianti dkk, 2. penurunan viskositas pada sediaan sabun mandi cair kemungkinan dipengaruhi oleh suhu dan konsentrasi ekstrak yang Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui homogenitas dari suatu sediaan, dalam pengujian ini dilakukan dengan menggunakan 2 buah kaca objek, kemudian di tetesi sediaan sabun cair di atas kaca pertama sebanyak satu tetes kemudian diletakan kaca kedua ditas kaca pertama kemudian diamati. Dalam hal ini hasil yang didapatkan adalah dalam sediaan sabun mandi cair tersebut homogen hal ini ditandai dengan tidak adanya butiran kasar dalam kaca tersebut. Pada penelitian (Yulianti dkk, 2. sediaan cair homogen ketika tidak terdapat butiran pada kaca objek Pengujian antibakteri sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pengujiaan ini dilakukan dengan metode difusi agar dengan cara sumuran. Medium yang digunakan yaitu MHA, medium MHA dimasukan terlebih dahulu sebanyak 7 ml CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. sebagai media dasar dan ditanamkan pipetbulat, kemudiaan dimasukan larutan MHA dalam tabung reaksi yang telah disuspensikan bakteri kedalam cawan petri digoyang secara perlahan agar bakteri tersebar secara merata. Kemudian di masukkan sediaan sabun mandi cair konsentrasi 1%,3%,5% kontrol positif/Dettol dan control negatif . anpa ekstra. , medium di masukkan dalam inkubator dengan suhu 37A C selama 1x24 jam, setelah di incubator dilakukan pengamatan dengan melihat zona bening yang terbentuk di sekitar sediaan kemudian di ukur dengan menggunakan jangka sorong. Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa sediaan sabun mandi cair memiliki Staphylococcus aureus. Hal ini dapat dilihat dari masing-masing sediaan sabun mandi cair dengan konsentrasi yang berbeda yaitu konsentrasi 1% = 19,7 mm, konsentrasi 3% = 20,5 mm, dan konsentrasi 5%=26,6 mm. sedangkan pada Kontrol positif yaitu 26,9 mm dan kontrol negatif 0 mm atau tidak memiliki daya hambat. Adanya dihasilkan dari sediaan sabun mandi cair ini adalah dilihat dari kandungan senyawasenyawa yang terdapat pada ekstrak kulit Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan oleh (Dima dkk, 2. ekstrak kulit alpukat memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Sthapylococcus aureus senyawa alkaloid yang terdapat pada kulit alpukat merupakan zat tumbuhan sekunder yang terbesar sehingga alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Data menunjukkan bahwa sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat memiliki Staphylococcus aureus. Dari hasil 3 replikasi nilai rata-rata daya hambat bakteri dari ketiga variasi konsentrasi tersebut yang memiliki daya hambat paling besar yaitu 5% . ,8 m. dan termaksud kategori kuat. Namun pada konsentrasi 1% dan 3% juga memiliki daya sebar baik dan termaksud dalam kategori kuat, hal ini karena zona hambat yang didapatkan dari konsentrasi 1% =19,6 m. kuat dan 3% = . >20 mm sangat kuat. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Dima dkk, 2. ekstrak etanol kulit Page - 6 Journal of Pharmacy Tiara Bunda alpukat dengan konsentrasi 5% sudah Staphylococcus Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit alpukat (Persea american. dapat dibuat dalam bentuk sediaan sabun mandi cair, sediaan sabun mandi cair dari ekstrak etanol kulit alpukat memenuhi uji mutu fisik, sediaan sabun mandi cair ekstrak etanol kulit alpukat memiliki aktivitas sebagai antibakteri dengan zona hambat yang dihasilkan yaitu pada konsentrasi 5% = 25,8 mm kategori sangat kuat. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih atas dana yang diterima dari Politeknik Tiara Bunda yang memungkinkan penelitian ini berjalan dengan baik dan berhasil. Daftar Pustaka