Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Peningkatan Kemampuan Kognitif Melalui Eksperimen Sains Hujan Buatan pada Anak Kelompok B: Studi Quasi Eksperimen di RA Ahnan Heri Hidayat1. Arih Salma Putri Dwi Utami2. Dzakiyyah Hasanie3. Sabrina Putri Amelia4. Fadilla Ayuningtiyas5 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Email: herihidayat@uinsgd. id 1 ,arihslmap@gmail. com 2, hasaniejack@gmail. com 3, sabrinaputriamelia88@gmail. com 4, fadillaayuningtyas@uinsgd. Abstrak Kemampuan kognitif merupakan pondasi penting bagi perkembangan anak usia dini, namun praktik pembelajaran di RA Ahnan Bandung masih didominasi ceramah dan lembar kerja sehingga anak kurang mendapat stimulasi kognitif yang aktif dan konkret. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksperimen sains hujan buatan terhadap peningkatan kemampuan kognitif, khususnya pemahaman hubungan sebab-akibat, pada anak Kelompok B di RA Ahnan Bandung. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen tipe one group pretest-post-test design. Subjek penelitian berjumlah 10 anak . perempuan dan 4 laki-lak. yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan rubrik penilaian berbasis indikator STPPA usia 5Ae6 tahun, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas . hi-kuadra. , uji homogenitas . ji F), dan uji hipotesis . aired sample t-tes. pada taraf signifikansi 1%. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata nilai kognitif anak dari 40,8 pada tahap pretest menjadi 55,8 pada tahap post-test. Uji hipotesis menghasilkan nilai t hitung sebesar 25,862 yang jauh melampaui T tabel sebesar 3,250, sehingga HCA ditolak dan HCa diterima. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan dari eksperimen sains "hujan buatan" terhadap kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA Ahnan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa kegiatan eksperimen berbasis pengalaman langsung layak dijadikan strategi pembelajaran sains yang rutin dan inklusif di pendidikan anak usia dini. Kata Kunci: Eksperimen Sains. Hujan Buatan. Kemampuan Kognitif. Anak Usia Dini. Quasi Eksperimen. PAUD PENDAHULUAN Rentang usia 0Ae6 tahun merupakan periode kritis dalam tumbuh kembang manusia yang dikenal sebagai golden age atau masa keemasan. Pada fase ini, otak anak mengalami perkembangan yang luar biasa pesat, mencapai sekitar 80 persen dari kapasitas otak orang dewasa sehingga, setiap stimulasi yang diberikan akan meninggalkan jejak yang relatif permanen dalam struktur neurologis anak (Suryana, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memegang peran strategis dalam menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal tersebut, mencakup aspek fisik-motorik, bahasa, sosial-emosional, nilai agama dan moral, seni, serta kognitif. Di antara berbagai aspek tersebut, perkembangan kognitif mendapat perhatian khusus karena menjadi fondasi bagi kemampuan belajar, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan di sepanjang kehidupan anak (Fardiah. Murwani, & Dhieni, 2. Karena itu, memberikan stimulasi kognitif yang sesuai sejak anak masih kecil bukan hanya sekedar pilihan dalam metode mengajar, melainkan suatu kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Hal ini penting karena dampaknya akan terasa dalam jangka panjang bagi perkembangan anak. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Piaget menyatakan bahwa anak usia 5Ae6 tahun sudah mampu berpikir simbolik, mulai bernalar secara intuitif, dan suka belajar dengan cara mengeksplorasi lingkungan secara langsung (Santrock, 2. Kemampuan kognitif anak usia dini secara operasional mencakup keterampilan mengamati, membandingkan, mengelompokkan, meramal, dan memahami hubungan sebab-akibat berdasarkan pengalaman langsung (Fardiah et al. , 2. Kemampuan ini tumbuh bukan karena anak menerima informasi begitu saja, melainkan dari interaksi aktifnya dengan benda dan peristiwa di sekitar. Sains menjadi wahana belajar yang Pembelajaran sains di PAUD membantu anak mengenal, mengamati, dan memahami gejala alam melalui kegiatan yang eksploratif dan menyenangkan. Melalui kegiatan eksplorasi dan eksperimen, anak diajak untuk aktif menggunakan indera, membangun pertanyaan, menguji dugaan, dan menarik kesimpulan proses yang secara langsung merangsang perkembangan fungsi kognitif tingkat tinggi sesuai dengan prinsip belajar aktif (Vygotsky. Dengan cara ini, anak dapat membangun pemahaman yang konkret dan bermakna (Widadiyah & Andrayani, 2. Secara lebih rinci, eksperimen sains "hujan buatan" adalah kegiatan sederhana di mana anak mengamati proses jatuhnya titik-titik air yang melewati lapisan kapas yang digambarkan menyerupai awan, mirip seperti hujan. Bahan yang digunakan mudah ditemukan, seperti air, kapas, pewarna makanan, dan wadah bening. Dari percobaan ini, anak bisa melihat langsung perbedaan massa jenis, mencoba menebak apa yang akan terjadi, serta menghubungkan antara tindakan yang dilakukan dengan hasil yang Pengembangan kemampuan kognitif anak tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan cara belajar yang abstrak atau ceramah searah. Penelitian di bidang neurosains dan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak usia dini belajar paling baik melalui pengalaman nyata, yang melibatkan banyak indera dan memberi kesempatan untuk bereksplorasi sendiri . ands-on activit. (Hasibuan & Suryana, 2. Ketika anak terlibat langsung dalam percobaan, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui kegiatan bertanya, mencoba, mengamati perubahan, dan menarik kesimpulan. Proses seperti ini melatih keterampilan berpikir dari tingkat dasar hingga menengah, misalnya kemampuan mengelompokkan, memperkirakan, dan memahami hubungan sebab-akibat. Kemampuan-kemampuan ini merupakan inti dari kognitif anak usia dini seperti yang tercantum dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) pada Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 dan sesuai dengan prinsip belajar aktif yang dikemukakan oleh Vygotsky. Hasil observasi awal di RA Ahnan menunjukkan bahwa sebagian besar anak Kelompok B sudah cukup berkembang dalam beberapa aspek kognitif, seperti mengelompokkan benda dan memprediksi hasil dari tindakan sederhana. Namun, sebagian kecil anak masih kesulitan menjelaskan alasan terjadinya suatu peristiwa. Sayangnya, kegiatan belajar di kelas masih didominasi ceramah, tanya jawab, dan lembar kerja anak. Sehingga, anak-anak jarang mendapat kesempatan untuk bereksplorasi langsung dengan benda atau fenomena nyata. Kondisi ini berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berpikir anak secara optimal, karena anak tidak mendapatkan cukup stimulasi kognitif yang bersifat aktif, konkret, dan memicu rasa ingin tahunya. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Beberapa penelitian terdahulu mendukung efektivitas pembelajaran sains dan metode eksperimen dalam meningkatkan kognitif anak usia dini. Fardiah dkk. menemukan bahwa pembelajaran sains sistematis mampu meningkatkan kognitif anak secara bertahap, sekaligus melatih logika dan sistematika berpikir. Hasibuan & Suryana, . dengan quasi eksperimen pada anak usia 5Ae6 tahun menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat eksperimen sains . elembung sabun berwarna, botol musi. memiliki skor kognitif yang jauh lebih tinggi dari kelompok kontrol. Yaswinda dkk . , membuktikan bahwa pembelajaran sains berbasis lingkungan meningkatkan capaian kognitif anak dari 33,5% (Belum Berkemban. pada pra-siklus menjadi 80,83% (Berkembang Sangat Bai. pada siklus kedua. Ini memperkuat argumen bahwa sains berbasis pengalaman nyata dan lingkungan sekitar sangat berdampak pada perkembangan kognitif anak. Eksperimen sains "hujan buatan" dipilih dalam penelitian ini karena memenuhi sejumlah kriteria yang relevan dengan kebutuhan stimulasi kognitif anak Kelompok B. Eksperimen ini menyajikan simulasi siklus air ke dalam bentuk yang konkret sehingga fenomena alam yang awalnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh anak. Pemilihan fenomena hujan didasarkan pada kedekatannya dengan pengalaman sehari-hari, yang terbukti lebih efektif memantik rasa ingin tahu anak secara alami (Khaeriyah et al. Pada saat pelaksanaannya, anak-anak dilibatkan secara langsung untuk mempraktikkan dan mengamati perubahan material, seperti air yang meresap ke dalam kapas hingga akhirnya menetes. Proses pembelajaran yang eksploratif ini sangat potensial untuk mempertajam keterampilan observasi anak sekaligus menanamkan pemahaman logika sebab-akibat sederhana, yang menjadi pilar utama dalam perkembangan kognitif sains usia dini (Melati. Astini, & Sriwarthini, 2. Berdasarkan uraian latar belakang, identifikasi masalah, dan kajian penelitian terdahulu diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksperimen sains "hujan buatan" terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA Ahnan. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan One Group Pretest-post-test Design, yakni dengan mengukur kemampuan kognitif anak sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada satu kelompok yang sama, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai perubahan yang terjadi sebagai dampak dari kegiatan eksperimen sains "hujan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pendidik PAUD, pengelola RA, dan pengambil kebijakan dalam merancang program pembelajaran berbasis sains yang bermakna dan sesuai usia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu . uasi experimen. Desain penelitian yang diterapkan berfokus pada pengamatan perbandingan kondisi subjek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan intervensi pendidikan (Sugiyono, 2. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk mengukur secara presisi efektivitas dan signifikansi pengaruh metode eksperimen sains "hujan buatan" terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak usia dini. Prosedur pelaksanaan penelitian dikonstruksi melalui tiga tahapan utama, yaitu: . Pretest . es awa. , yang bertujuan untuk mengukur dan mengetahui gambaran kemampuan kognitif dasar anak sebelum diberikan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 . Treatment . , yaitu pemberian intervensi pembelajaran melalui kegiatan eksperimen sains "hujan buatan". Post-test . es akhi. , yang dilakukan untuk menilai kembali kemampuan kognitif anak setelah perlakuan selesai diberikan. Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-post-test Design, yaitu desain penelitian yang melibatkan satu kelompok subjek yang diberikan pretest, kemudian diberi treatment, dan selanjutnya post-test dengan desain penelitian OCA Ie X Ie OCC. Dalam penelitian ini adalah semua anak usia dini yang berada di Kelompok B 1 RA Ahnan Bandung, yaitu tempat penelitian dilaksanakan. Sampel penelitian berjumlah 10 anak yang terdiri atas 6 anak perempuan dan 4 anak laki-laki. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian karena jumlah populasi relatif kecil (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai kemampuan kognitif anak sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (Sugiyono, 2. Observasi dilaksanakan secara terstruktur untuk mengamati secara langsung respons, aktivitas, dan perkembangan kognitif anak khususnya, pemahaman konsep sebab-akibat selama proses eksperimen Untuk menjamin validitas pengukuran, instrumen penelitian dikembangkan dalam bentuk lembar observasi terstruktur . ubrik penilaia. yang difokuskan pada kemampuan kognitif anak yang disusun berdasarkan indikator perkembangan kognitif anak usia 5Ae6 tahun. Indikator pada instrumen ini disesuaikan dengan STPPA usia 5-6 tahun yang dijabarkan ke dalam skala penilaian capaian perkembangan seperti Belum Berkembang. Mulai Berkembang. Berkembang Sesuai Harapan, dan Berkembang Sangat Baik (Permendikbud RI, 2. Penilaian dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh guru kelas sebagai observer Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pelaksanaan pretest, yaitu pengukuran awal kemampuan kognitif anak sebelum kegiatan pembelajaran dengan APE hujan buatan diberikan dengan melihat video edukasi proses terjadinya hujan. Tahap kedua adalah pemberian treatment, berupa kegiatan eksperimen sains "hujan buatan" yang dilaksanakan dalam beberapa sesi pembelajaran. Dalam kegiatan ini, anak dilibatkan secara langsung dalam proses mengamati, memprediksi, melakukan percobaan, dan menyimpulkan hasil dari fenomena yang terjadi. Tahap ketiga adalah pelaksanaan post-test, yakni pengukuran kembali kemampuan kognitif anak menggunakan instrumen yang sama dengan pretest, guna mengetahui perubahan yang terjadi setelah perlakuan diberikan. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui tiga uji statistik. Pertama, uji normalitas menggunakan uji Chi-Kuadrat (NA) untuk memastikan bahwa data pretest dan post-test berdistribusi normal, sebagai prasyarat penggunaan statistik parametrik. Kedua, uji homogenitas menggunakan uji-F (Levene's tes. untuk memverifikasi keseragaman varians Ketiga, uji hipotesis dilakukan menggunakan uji-T berpasangan . aired sample t-tes. guna mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Seluruh pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 1% ( = 0,. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut: Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 a HCe: Tidak terdapat pengaruh eksperimen sains "hujan buatan" terhadap kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA Ahnan. a HCa: Terdapat pengaruh eksperimen sains "hujan buatan" terhadap kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA Ahnan. Kriteria pengambilan keputusan adalah apabila thitung > ttabel pada taraf signifikansi yang ditetapkan, maka HCe ditolak dan HCa diterima. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data penelitian menunjukkan adanya perubahan nilai dari tahap pre-test ke tahap posttest pada anak. Pada tahap pretest, rata-rata nilai anak adalah 40,8. Kemudian, setelah diberikan treatment berupa kegiatan pembelajaran menggunakan APE membuat hujan buatan, nilai ratarata anak pada tahap post-test meningkat menjadi 55,8. Dengan demikian, terdapat peningkatan hasil belajar yang menunjukkan bahwa setelah anak mengikuti pembelajaran dengan media tersebut, kemampuan kognitif khususnya pada aspek sebab-akibat mengalami Berdasarkan temuan tersebut, perlu dilakukan pengujian terhadap asumsi data melalui uji normalitas agar analisis berikutnya dapat dilakukan secara tepat. Hasil uji normalitas untuk data pretest menunjukkan nilai yue 2 hitung = 4,790 dan nilai yue 2 tabel = 9,210 pada taraf signifikansi 1%. Karena nilai yue 2 hitung lebih kecil daripada nilai yue 2 tabel . ,790 < 9,. , maka dapat disimpulkan bahwa data pretest berdistribusi normal. Kesimpulan ini memperlihatkan bahwa sebaran data pada tahap awal memenuhi syarat normalitas yang diperlukan dalam pengolahan statistik. Selanjutnya, hasil uji normalitas untuk data post-test juga menunjukkan hasil yang Data post-test memperoleh nilai yue 2 hitung = 4,790, sedangkan yue 2 tabel = 9,210 pada taraf signifikansi 1%. Karena nilai yue 2 hitung masih lebih rendah daripada nilai yue 2 tabel . ,790 < 9,. , maka data post-test dinyatakan juga normal. Dengan demikian, baik data pretest maupun post-test memenuhi asumsi normalitas. Untuk memperjelas hasil pengujian yang telah dilakukan, maka rekapitulasi hasil uji normalitas disajikan pada tabel 1. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Data Keterangan yue 2 Hitung yue 2Tabel . ca = 1%) Pretest post-test 4,790 4,790 9,210 9,210 Normal Normal Setelah data dinyatakan normal, pengujian berikutnya dilakukan melalui uji Uji ini bertujuan untuk memastikan bahwa varians dari data yang dibandingkan memiliki tingkat keseragaman . idak jauh berbed. , sehingga syarat analisis statistik dapat Dengan kata lain, uji homogenitas digunakan untuk menilai apakah kedua kelompok/kondisi memiliki karakteristik sebaran data yang relatif sama. Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas, diperoleh nilai F hitung sebesar 1 dan nilai F tabel sebesar 5,35 pada taraf signifikansi 1%. Perbandingan kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil daripada F tabel , yaitu . < 5,. Oleh karena itu. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 hipotesis homogenitas dinyatakan diterima, yang berarti data memiliki varians yang Kesimpulan ini menunjukkan bahwa data penelitian layak digunakan pada tahap berikutnya, khususnya dalam pengujian hipotesis, karena asumsi mengenai kesamaan Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Data F Hitung F tabel . ca = 1%) Keterangan Pretest-post-test 5,35 Homogen Hipotesis penelitian diuji menggunakan uji T berpasangan . aired sample tes. untuk melihat perbedaan rata-rata pada dua kondisi yang berhubungan. Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai hasil perhitungan (T hitun. dengan nilai kritis dari tabel (T tabe. pada tingkat signifikansi yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai T hitung sebesar 25,862, sedangkan nilai T tabel pada taraf signifikansi 1% adalah 3,250. Dengan demikian, karena nilai T hitung lebih besar daripada ttabel . ,862>3,. , maka Ho ditolak dan Ha diterima. Keputusan ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada data yang dianalisis sesuai dengan hipotesis penelitian. Berikut disajikan data hasil uji hipotesis menggunakan uji T berpasangan . aired sample tes. Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis . aired sample tes. Pasangan Pretest-posttest T Hitung T tabel 25,862 3,250 Taraf Signifikansi Keputusan Keterangan Ho ditolak Terdapat dan Ha Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan APE hujan buatan memiliki pengaruh terhadap pemahaman kognitif . ebab-akiba. pada anak kelompok B RA Ahnan Bandung. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukan dengan jelas bahwa eksperimen sains Auhujan buatanAy efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak Kelompok B di RA Ahnan. Peningkatan nilai rata-rata dari pretest ke post-test menandakan adanya perubahan yang diinginkan pada pemahaman anak terhadap hubungan sebab-akibat, yang merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak usia dini. Peningkatan ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari pembelajaran sistematis berbasis pengalaman langsung. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, yang menyatakan bahwa anak usia 5Ae6 tahun berada pada tahap praoperasional dan mulai memasuki tahap operasional konkret. Pada tahap ini, anak belajar secara optimal melalui manipulasi benda nyata dan pengalaman langsung (Kasumayanti & Elina, 2. Menurut teori Piaget, proses ini membantu anak membangun skema kognitif baru melalui penerimaan informasi baru ke dalam pemaham yang sudah ada dan memodifikasi pemahaman tersebut agar sesuai dengan pengalaman yang baru diperoleh. Dengan demikian, eksperimen ini bukan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 hanya aktivitas fisik, tetapi juga membangun pemahaman konsep dalam diri anak (Retnaningrum & Umam, 2. Eksperimen ini benar-benar membantu meningkatkan kemampuan anak dalam memahami hubungan sebab-akibat. Ketika kapas yang menyerap air sudah penuh lalu air mulai menetes keluar dari lubang, anak bisa langsung melihat langsung rangkaian sebabakibat atau rantai kejadian penyerapan, kejenuhan dan penetesan. Pengalaman ini melatih anak untuk Menyusun penjelasan yang logis dengan menggunakan kata-kata penghubung seperti AukarenaA makay. Kemampuan ini merupakan salah satu capaian penting dalam perkembangan kognitif anak usia 5-6 tahun. (Yaswinda. Putri, & Irsakinah, 2. menegaskan bahwa pembelajaran sains berbasis lingkungan yang memberikan pengalaman langsung terbukti meningkatkan kemampuan kognitif anak secara signifikan, terutama dalam hal memahami sebab-akibat dan bernalar sederhana. Hal serupa juga ditemukan oleh (Sermila. Binsa, & Setyowati, 2. , bahwa pendekatan eksplorasi aktif di lingkungan nyata dapat memperkuat literasi sains anak usia dini secara menyeluruh. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya. (Wati et al. menemukan bahwa metode inkuiri dengan keterlibatan aktif anak berhasil meningkatkan keterampilan proses sains anak secara signifikan, perbedaan, penelitian ini menggunakan pendekatan yang lebih terstruktur, yaitu desain pretest-post-test dengan satu kelompok efek dari peranakan bisa dinilai secara lebih terarah. Selain itu, penelitian dari Ifyati & Inganah . yang menggunakan eksplorasi rasa sebagai media stimulasi kognitif juga mendukung kesimpulan penelitian ini, bahwa pengalaman langsung dan melibatkan indera merupakan cara utama untuk merangsang kognitif anak usia dini. Adanya kesamaan temuan di berbagai penelitian ini menguatkan bahwa pendekatan eksperimen berbasis pengalaman konkret efektif dan kontekstual untuk meningkatkan kognitif anak di PAUD. Gambar 1. Dokumentasi Tahap Pretest: Observasi Video Edukasi Mengenai Fenomena Hujan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gambar 2. Implementasi Intervensi Pembelajaran Melalui Percobaan Sains Hujan Buatan Gambar 3. Pelaksanaan Evaluasi post-test Melalui Aktivitas Bernyanyi Tentang Siklus Air KESIMPULAN Penelitian ini memberikan tiga implikasi penting bagi pembelajaran sains di PAUD. Pertama, eksperimen AuHujan BuatanAy menggunakan bahan sederhana yang mudah didapat, tanpa perlu fasilitas khusus, sehingga bisa diterapkan secara luas di berbagai PAUD. Kedua, kegiatan ini mendorong anak untuk mengamati, bertanya memprediksi, dan menyimpulkan sendiri sesuai dengan hakikat pembelajaran sains di PAUD yang konkret, eksploratif, dan Ketiga, peningkatan yang merata pada semua anak . emampuan yang awalnya rendah maupun tingg. menunjukan bahwa eksperimen sains berpotensi sebagai strategi pembelajaran yang inklusif. Oleh karena itu, pendidik PAUD sebaiknya menjadikan kegiatan eksperimen sains sebagai bagian rutin dari pembelajaran, agar perkembangan kognitif anak bisa didukung secara optimal di masa emas pertumbuhan mereka. DAFTAR PUSTAKA