ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 ANALISIS KESIAPAN DAN PENERIMAAN TEKNOLOGI DALAM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN BUMDESA Asqolani1* Politeknik Keuangan Negara STAN asqolani@pknstan. Miftahul Hadi2 Politeknik Keuangan Negara STAN miftahulhadi@pknstan. (*Corresponding Autho. Diterima 26 November 2024 Disetujui 31 Desember 2024 AbstractAi This study aims to see the readiness and acceptance of the use of computerized information systems in the preparation of BUMDes financial statements. This study is concerned with one of the problems encountered in Village-Owned Enterprises (BUMDe. is the difficulty in preparing financial statements in addition to the need to increase financial The preparation of financial statements can be prepared manually or with the help of a computerized system. The method used is quantitative with a sampling selection method with convenience sampling to BUMDes administrators in Jombang Regency. East Java Province. This study uses the TRAM (Technology Readiness Acceptance Mode. Model with a proxy of seven variables, namely optimism or optimism, innovation or innovativeness, discomfort or discomfort and insecurity or insecurity, perceived usefulness, perceived ease of use or perceived ease of use and interest in applying it or intention to use. The results of the study showed that of the 11 hypotheses proposed with the results of 5 hypotheses accepted and the rest rejected. These results show that BUMDES' readiness to use computerized information systems still needs to be improved. This study also recommends the need to socialize the benefits of computerized financial report preparation so that the perception of BUMDes administrators towards technology increases. Keywords: TRAM. Financial Statement. Village-Owned Enterprises. Computerized Information Systems. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Desa diharapkan dapat mendayagunakan dana desa dan melibatkan masyarakat dalam meningkatkan pendapatan asli desa. Salah satu bentuk usahanya adalah dengan mendirikan Badan Usaha Milik Desa atau biasa disebut BUMDes. BUMDes merupakan unit usaha yang dimiliki oleh sebuah desa, dikelola oleh masyarakat juga pemerintah desa dengan maksud dapat menyokong perekonomian desa yang didirikan dengan pertimbangan potensi yang dimiliki oleh desa dan kebutuhannya. Keberadaan BUMDes mempunyai peran penting dalam perekonomian Beberapa desa telah berhasil menjalankan dan mengembangkan BUMDes, namun tidak sedikit BUMDes yang stagnan di Indonesia. BUMDes, merupakan entitas atau unit usaha yang bisa dalam bentuk usaha kecil dan mikro (UMKM) dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, namun, pengembangan UMKM masih memiliki berbagai kendala. Hasil kajian dari | 269 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Bank Indonesia (BI) menggambarkan faktor yang menyebabkan BUMDes mengalami stagnasi yaitu adanya keterbatasan dan terkait kurangnya akses terhadap perbankan, pengelolaan kapabilitas dan pengetahuan sumber daya manusia yang masih rendah yang ada dalam unit usaha, masih terbatasnya pemanfaatan teknologi serta belum mampu mengikuti dan mengimbangi perubahan dari selera konsumen, terutama yang berorientasi ekspor (Bank Indonesia dan LPPI, 2. Sebagian besar BUMDes di Indonesia terkelola dengan karakteristik yang informal. Keadaan tersebut ditandai dengan tidak adanya status badan hukum pada beberapa BUMDESA dan keterbatasan dalam sistem pencatatan keuangan. Pengelolaan yang sederhana ini tentu akan mempengaruhi kinerja BUMDes. Penelitian tidak hanya berfokus pada digitalisasi pelaporan keuangan tetapi juga melihat kesiapan dan penerimaan dalam mengadopsi sistem yang terkomputerisasi atau aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan khususnya untuk BUMDes dengan melihat hubungan faktorfaktor atau variabel yang memengaruhi penggunaan sistem teknologi informasi . dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes. Penelitian ini menggunakan pendekatan Technology Readiness and Acceptance Model . odel TRAM). TRAM merupakan model teoritis yang mengintegrasikan Technology Readiness Index (TRI) dengan Technology Acceptance Model (TAM) dengan menganalisis bagaimana kesiapan dan penerimaan teknologi dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes dan menjelaskan persepsi mengenai kemudahan bagi pengguna teknologi . dan kebermanfaatan dari sistem aplikasi akuntansi digital yang digunakan. Mengingat jumlah modal BUMDes berasal dari negara cukup besar maka perlu pertanggung jawabkan penggunaan pendanaan yang diberikan oleh desa memahami literasi pembukuan serta melihat persepsi pengurus BUMDes terkait pemanfaatan digitalisasi dalam penyusuan laporan keuangan. Studi ini lebih lanjut menyelidiki bagaimana persepsi pengguna terkait kemudahan penggunaan aplikasi dan persepsi kebermanfaatan atau kegunaan berdampak pada keinginan untuk mengadopsi sistem tersebut dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes dengan wilayah kerjanya berada di Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur. Jika dilihat dari beberapa hasil penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa salah satu kendala dari BUMDes adalah keterbatasan literasi pembukuan. Keterbatasan tersebut dapat menghambat menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih dana desa yang bersumber dari APBD digunakan sebagai bagian dari modal BUMDes sehingga perlu pertanggungjawaban dalam pengelolaan keuangan. Manfaat bagi para pemangku kepentingan dengan memanfaatkan teknologi tersebut diantaranya terkait pengurangan biaya serta efektivitas biaya akuisisi data, serta fleksibilitas format laporan yang diinginkan. Penelitian terkait kesiapan dan penerimaan teknologi digital di BUMDes belum banyak dilakukan dikarenakan perkembangan teknologi penyusunan laporan keuangan lebih banyak digunakan oleh perusahaan besar. Penelitian ini memiliki kelebihan dari sisi penggunaan pendekatan model TRAM dan objek penelitian yang mencakup pengurus BUMDes di suatu daerah kabupaten di Indonesia. Penelitian ini ingin menganalisis bagaimana kesiapan dan penerimaan penggunaan teknologi untuk proses penyusunan laporan keuangan BUMDes melalui sikap optimism, innovativeness, discomfort, insecurity, perceived ease of use, perceived usefulness, dan use intention atau intention to use. Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran mengenai pentingnya literasi digital dalam pembuatan laporan keuangan khususnya bagi BUMDes. Selain itu penelitian ini mampu mengakomodasi kesenjangan antara keterbatasan Sumber Daya Manusia dalam pengelolaan keuangan BUMDes dengan harapan pemangku kepentingan | 270 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 terhadap laporan keuangan. Penelitian ini juga akan memberikan dampak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terkait digitalitasi laporan keuangan yang nantinya dapat bermanfaat tidak hanya dari sisi pertanggungjawaban pengurus BUMDes namun juga kepada para stakeholdernya seperti pemerintah desa. 2 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut, peneliti menyusun masalah riset sebagai berikut: Bagaimana persepsi pengguna terkait kemudahan penggunaan aplikasi dan persepsi kebermanfaatan atau kegunaan sistem yang terkomputerisasi atau aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes? Apakah pengurus BUMDes telah siap dan berkeinginan mengadopsi sistem yang terkomputerisasi atau aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes? Faktor atau variabel apa saja yang memengaruhi penggunaan sistem teknologi informasi . dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes? 3 Telaah Literatur dan Hipotesis 1 Digitalisasi Laporan Keuangan Pencatatan laporan keuangan merupakan salah satu faktor yang fundamental bagi pengelolaan usaha sebagaimana hasil penelitian Widayanti et al. yang menyatakan bahwa literasi atau pengetahuan mengenai keuangan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelangsungan usaha. Dukungan teknologi informasi atau aplikasi menjadi penting karena dapat memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan. Yuningsih et al. menyatakan untuk menjaga keberlangsungan usahanya maka literasi atau pengetahuan keuangan dan pemanfaatan teknologi keuangan merupakan faktor pokok yang wajib dipunyai oleh pelaku usaha, hal senada juga disampaikan Anggraeni yang menemukan bahwa pemanfaatan teknologi informasi menjadi faktor kunci untuk perkembangan bisnis (Anggraeni & Maulani, 2. Unit usaha yang mampu dan siap menerima serta dengan efektif mengadopsi teknologi informasi akan mampu memimpin di lingkungan atau pasar yang semakin banyak Laporan keuangan digunakan dalam rangka menilai kinerja perusahaan. Tidak adanya laporan keuangan, maka akan kesulitan untuk menilai kinerja suatu unit usaha. Selain itu, laporan keuangan juga menjadi alat evaluasi dan perencanaan terkait kebijakan yang akan diambil oleh pengelola usaha untuk meningkatkan kinerjanya. Hal yang tidak kalah penting adalah laporan keuangan unit usaha akan digunakan sebagai salah satu syarat bagi BUMDes untuk mengajukan kredit di lembaga keuangan formal. Tentu saja, lembaga keuangan formal akan melihat kondisi keuangan BUMDes melalui laporan keuangannya sebelum memberikan Demikian juga kesimpulan yang dihasilkan oleh Zandri et al. yang menyatakan beberapa permasalahan BUMDes yaitu terkait dengan permodalan serta sumber daya manusia yang mengelolanya, begitu juga yang disimpulkan oleh Inapty et al. bahwa masalah terkait dengan kualitas sumber daya manusia, rendahnya penyertaan modal, serta mengenai pembukuanmasih menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi BUMDes. Terkait pengguna digital, persentase pengguna ponsel Indonesia saat ini melebihi dari jumlah populasi yaitu 125,6% dari populasi, dengan 73,7% penetrasi dan traffic internet yang meningkat sebesar 15-20% (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2. Upaya peningkatan potensi ekonomi digital juga didukung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yaitu dengan optimalisasi potensi ekonomi digital terkait pengembangan ekonomi digital. Melalui upaya pengembangan ekonomi digital, maka potensi yang ada diharapkan dapat tercipta berbagai terobosan dan inovasi yang dapat menjangkau juga | 271 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 melibatkan seluruh sektor, pelaku dan penggerak perekonomian nasional (Limanseto, 2. Kementerian Koperasi dan UMKM juga menargetkan 30 juta UMKM melakukan digitalisasi pada tahun 2024, sehingga membutuhkan 6 juta UMKM untuk go-digital per tahun agar target tersebut dapat terwujud (UKM, 2. Data dari Kemenkop dan UKM menyebutkan, jumlah UMKM mencapai 19% atau sekitar 12 juta yang sedang on boarding pada 2021. Digitalisasi akuntansi BUMDes tidak hanya tentang pemasaran tetapi juga perlu memperhatikan aspek operasional bisnis seperti manajemen keuangan, pengadaan, dan manajemen pesanan. Digitalisasi pembukuan keuangan tentu berdampak besar bagi BUMDes, tidak hanya untuk keperluan pendanaan pihak ketiga yang mensyaratkan dokumen pendukung dapat dipertanggungjawabkan tetapi yang lebih penting adalah untuk menjembatani terbatasnya pemahaman tentang dasar-dasar pembukuan keuangan. Laporan keuangan sebagai output atau hasil dari proses pencatatan transaksi, dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi antara pihak perusahaan atau unit usaha dengan pihak yang berkepentingan seperti bank dan kantor pajak terkait data keuangan atau kegiatan Membuat laporan keuangan di atas terkadang membutuhkan pelatihan tersendiri bagi pelaku usaha. Namun, dengan adanya digitalisasi pembukuan BUMDes, kini pelaku usaha dimudahkan hanya dengan satu aplikasi, kemudian menginputnya dan menghasilkan output berupa laporan keuangan. Penelitian terkait kesiapan dan penerimaan penggunaan teknologi juga dilakukan Hallikainen & Laukkanen . yang meneliti persepsi kemudahan penggunaan dan kegunaan berdampak pada kepuasan dan bagaimana kepuasan layanan digital berkontribusi terhadap loyalitas terhadap perusahaan di sektor kesehatan. Penelitian ini menggunakan TRI dan TAM sebagai titik awal dan mencoba untuk menganalisis pengaruh dari empat dimensi TRI pada dua tingkat TAM untuk menjelaskan lebih lanjut tentang penerimaan teknologi dan untuk memahami pentingnya perbedaan kepribadian (Walczuch et al. , 2. 2 Literasi Laporan Keuangan OECD mendefinisikan literasi keuangan sebagai AuA a combination of awareness, knowledge, skill, attitude and behavior necessary to make sound financial decisions and ultimately achieve individual financial wellbeing. Ay Untuk menentukan tingkat literasi, digunakan variabel perilaku, sikap dan pengetahuan. Variabel ini juga digunakan dalam penelitian ini dengan beberapa penyesuaian seperti model pertanyaan yang digunakan OECD (OECD, 2. Lebih jauh OECD menjelaskan konsep literasi sebagai sebuah kombinasi kesadaran, pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh calon pengusaha atau pemilik atau manajer usaha mikro, kecil atau menengah untuk membuat keputusan keuangan yang efektif untuk memulai bisnis, menjalankan bisnis, dan pada akhirnya memastikan keberlanjutan dan pertumbuhannya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan definisi literasi adalah kemampuan untuk memahami atau mengetahui. Jika dikaitkan dengan literasi keuangan, berarti kemampuan dalam mengelola keuangannya secara benar agar hidup lebih sejahtera dan dapat berkembang di kemudian hari. OJK menyatakan bahwa misi penting dari program literasi keuangan adalah mampu meningkatkan pengetahuan dalam mengelola secara cerdas keuangan masyarakat Indonesia sehingga keterbatasan pengetahuan di sektor keuangan dapat hindari dan masyarakat tidak terbujuk untuk berinvestasi yang memberikan return yang tinggi terutama dalam jangka pendek tanpa mempertimbangkan risikonya (Biro Pusat Statistik, 2. Salah Satu bentuk pengelolaan keuangan di level desa adalah laporan keuangan BUMDes. Laporan keuangan BUMDes adalah catatan keuangan atau dokumen mengenai aktivitas keuangan dari badan usaha selama suatu periode. Laporan keuangan ini disusun dalam | 272 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 rangka memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan, melacak aliran arus kas baik aliran uang yang masuk atau aliran yang keluar, serta mengukur atau mengidentifikasi kinerja keuangan dari BUMDes. Laporan keuangan BUMDes yang masih dalam skala mikro dapat terdiri dari Neraca. Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas (Pendamping Desa, 2. Adapun laporan keuangan BUMDes lengkap terdiri tidak hanya terdiri dari tiga laporan yang sudah disebutkan melainkan ada tambahan laporan perubahan ekuitas (LPE) dan catatan atas laporan keuangan (CaLK) (Panduan Penyusunan Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Desa. Optimisme adalah sikap percaya diri terkait hal-hal yang baik akan terjadi dengan tidak melihat adanya keburukan di masa depan. Optimisme merupakan salah satu faktor positif dalam kesiapan penggunaan teknologi digital, faktor ini merupakan prediktor yang kuat untuk kesiapan penggunaan teknologi. Optimis menggunakan strategi yang lebih aktif daripada pesimis, yang lebih efektif dalam mencapai hasil positif. Karena itu, optimis lebih siap dalam menggunakan teknologi modern. Sikap optimis akan ditunjukkan dengan menganggap bahwa penerapan teknologi akan meningkatkan kegunaan dan memudahkan pekerjaanya. Selain itu sikap ini tidak melihat adanya kekhawatiran tentang adanya sisi negatif dari penerapan teknologi ini. Berdasarkan uraian tersebut disusun hipotesis berikut: H1: Optimisme . pribadi terhadap teknologi berpengaruh pada kemudahan penggunaan . erceived ease of us. teknologi H2: Optimisme . pribadi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan atau kebermanfaatan . erceived usefulnes. Personal innovativeness in IT (PIIT) adalah kesediaan seorang individu untuk mencoba teknologi baru (Midgley & Dowling, 1. Variabel inovasi ini juga merupakan variabel atau faktor positif dalam technology readiness. Inovasi dianggap sebagai sifat yang relatif stabil dari seorang individu . idak dipengaruhi oleh variabel lingkungan atau interna. Karahanna et al. menunjukkan bahwa mereka yang lebih inovatif di kalangan pengguna awal mempunyai gagasan yang lebih sederhana tentang teknologi modern. Orang dan individu dengan tingkat inovasi yang tinggi cenderung percaya bahwa mereka mungkin kehilangan manfaat tertentu jika tidak mencoba teknologi terkini atau yang baru tersebut. Secara umumnya, mereka memiliki kesan positif terhadap teknologi yang baru tersebut. Penerapan awal sistem teknologi terkait penggunaan inovasi akan dilakukan meskipun nilai potensinya belum diketahui dengan pasti dan manfaatnya tidak jelas. Berdasarkan uraian tersebut maka disusun hipotesis sebagai H3: Inovasi pribadi berpengaruh terhadap teknologi berpengaruh pada kemudahan penggunaan . erceived ease of us. teknologi H4: Inovasi pribadi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan atau kebermanfaatan . erceived usefulnes. Sebagaimana dijelaskan oleh Kwon & Chidambaram . , kekhawatiran mengakibatkan individu menghindari komputer atau teknologi baru, kekhawatiran tersebut karena ketakutan terhadap teknologi. Alasan ini mungkin terletak pada skeptisisme orang tentang teknologi baru. Dengan demikian kami berpendapat bahwa orang-orang dengan rasa tidak aman akan memiliki persepsi kemudahan dalam penggunaan teknologi yang lebih rendah. Adapun Chen et al. menyatakan bahwa masalah keamanan dan privasi adalah hambatan nyata untuk penerimaan teknologi. Hambatan ini dapat mengakibatkan kecurigaan dan mengurangi persepsi kegunaan atau persepsi kubermanfaatnya dalam penggunaan teknologi, | 273 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 dengan demikian, sehingga akan mengakibatkan persepsi penggunaan yang lebih rendah. Dengan demikian hipotesis yang diajukan sebagai berikut: H5: Ketidak-amanan pribadi berpengaruh terhadap teknologi berpengaruh pada kemudahan penggunaan . erceived ease of us. teknologi H6: Ketidak-amanan pribadi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan atau kebermanfaatan . erceived usefulnes. Orang yang mempunyai ketidaknyamanan tinggi akan merasa menderita karena kurangnya kontrol dan rasa kewalahan oleh teknologi. Skala ketidaknyamanan dapat ditingkatkan melalui umpan balik informatif dan kemudahan penggunaan yang diperbesar (Dabholkar, 1. Orang atau individu yang mempunyai sifat ketidaknyamanan tinggi menganggap teknologi lebih kompleks dan karenanya kurang mudah digunakan sehingga akan mempunyai persepsi bahwa teknologi baru kurang berguna atau bermanfaat. Berdasarkan uraian tersebut, diajukan hipotesis sebagai berikut: H7: Ketidak-nyamanan pribadi berpengaruh terhadap teknologi berpengaruh pada kemudahan penggunaan . erceived ease of us. teknologi H8: Ketidak-nyamanan pribadi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan atau kebermanfaatan . erceived usefulnes. Banyak studi empiris telah menunjukkan bahwa perceived ease of use (PEU) secara signifikan dan positif mempengaruhi kegunaan yang dirasakan (Taylor & Todd, 1995. Venkatesh & Davis, 2. Persepsi kegunaan atau perceived usefulness (PU) didefinisikan sebagai probabilitas subjektif calon pengguna bahwa menggunakan teknologi tertentu akan meningkatkan kinerja pekerjaan karena adanya kemudahan dalam pekerjaan. Persepsi kemudahan dalam penggunaan dan persepsi kegunaan akan mempengaruhi minat atau atensi individu untuk menggunakan teknologi. oleh karenanya, hipotesis yang diajukan sebagai H9: Persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. berpengaruh terhadap persepsi kegunaan . erceived usefulnes. H10: Persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. berpengaruh terhadap intention to use H11: Persepsi kegunaan . erceived usefulnes. berpengaruh terhadap intention to Untuk mengukur sebuah kesiapan masyarakat terhadap teknologi dan penerimaannya dapat menggunakan sebuah model teoritis yaitu Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM). Model ini merupakan kombinasi atau perpaduan antara model TRI (Technology Readiness Inde. dan TAM (Technology Acceptance Mode. Walczuch et al. menyatakan kesiapan penggunan TRI sebagai bagian dari teknologi. Hal ini juga menunjukkan perilaku umum seseorang terhadap teknologi yang akan berakibat pada kemudahan penggunaan persepsian dan kegunaan persepsian terhadap teknologi tersebut. Maka. Walczuch et al. mengkolaborasi TAM dan TRI untuk melihat hubungan antar variabel TRI dan TAM seperti gambar berikut: | 274 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Gambar 1. Hubungan Antar Variabel TRI dan TAM Sumber: Walczuch et al. Penelitian Aripradono . menganalisis kesiapan dan penerimaan teknologi digital dalam bidang olahraga yaitu sport wearable technology menggunakan model teoritis TRAM, begitu juga penelitian Kim & Chiu . yang menggunakan variabel-variabel yang digunakan dalam model teoritis TRAM yaitu optimism, innovativeness, discomfort, insecurity, technology readiness, perceived usefulness, perceives ease of use, dan intention to use. Penelitian Chen et al. memperoleh hasil meningkatkan kepercayaan konsumen dibanding meningkatkan skeptisisme. Individu yang berpikir lebih optimis, kurang peduli dengan risiko, atau lebih bersedia menerima risiko untuk meningkatkan kinerja pribadi. Kesediaan mereka menunjukkan perbedaan yang jelas dari pengadopsi selanjutnya, seperti yang ditekankan oleh Carroll & Thomas . , yang memperkenalkan istilah Ausubjective ease of useAoAo, yang berkaitan dengan keputusan pengguna untuk menggunakan sistem yang tidak setuju dengan kemudahan penggunaan. Pocius menyatakan bahwa Auhuman-computer interaction is mediated by both the computer system design and by the characteristics of the AoAo (Pocius, 1. Penelitian ini menggunakan model teoritis Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor positif TRI yaitu Optimism dan Innovativeness, faktor negatif TRI yaitu Insecurity dan Discomfort, faktor penerimaan teknologi (TAM) yaitu Perceived Usefulness. Perceived Ease of Use, dan Use Intention (Intention to Us. Kerangka penelitian atau kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2. Model TRAM Sumber: Lin et al. | 275 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 METODOLOGI DAN ANALISIS DATA Metode penelitian dalam riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data bersumber dari data primer melalui penyebaran kuesioner, sedangkan data sekundernya berupa literatur, artikel, jurnal terkait dan data yang penulis dapat dari pihak yang terlibat dalam proses pencatatan penerimaan pajak, pembuatan laporan keuangan pemerintah pusat, dan auditor serta data observasi materi yang relevan dengan topik dan objek yang sedang diteliti oleh penulis melalui internet dan sumber literatur yang terkait. Penyebaran kuesioner dilakukan menggunakan google form dengan laman https://bit. ly/surveybumdesjombang dan disebarkan kepada aparatur BUMDESA di Kabupaten Jombang Jawa Timur dengan pengisian secara online dengan metode non-probability sampling, yaitu incidental sampling karena pertimbangan dana, tenaga, dan juga waktu. Dari 60 pengurus BUMDESA, diperoleh sampel 42 yang mengisi lengkap dan dapat dilanjutkan dengan analisa Isian dalam kuesioner tersebut menggunakan skala likert dengan poin satu sampai lima, yaitu dimulai dari poin satu apabila responden menyatakan sangat tidak setuju dan sangat setuju untuk poin lima. Data yang telah berhasil dihimpun kemudian diolah menggunakan bantuan aplikasi Smart PLS dan dianalisis menggunakan menggunakan analisis SEM-PLS (Structural Equation Model-Partial Least Squar. disamping statistik deskriptif. Partial Least Square merupakan metode analisis factor indeterminacy yang ampuh karena tidak mengasumsikan bahwa data harus diukur pada skala tertentu dan dapat digunakan untuk ukuran sampel yang kecil. PLS juga digunakan untuk mengukur hubungan antara masing-masing indikator dengan konstruknya sehingga memungkinkan dilakukan pengujian bootstrap terhadap model yang bersifat outer model dan inner model. Model ini menentukan hubungan antar variabel laten berdasarkan teori. Variabel diasumsikan memiliki hubungan linier dan sebab akibat. Persamaan internal model adalah sebagai berikut: ycoycn yuOya = Oc yuEyayayuaya Oc yco=1 yuEyayayuOya yuNya Model eksternal menentukan hubungan antara variabel laten dan indikatornya. Dalam hubungan reflektif, indikator merupakan cerminan atau wujud dari variabel laten. Indikator ycUycyco dan ycUycyco diasumsikan sebagai fungsi linier dari variabel latennya j dan j adalah sebagai berikut yayaya= yuUyayayuaya yuIyaya untuk variabel eksogen yeAyeUyeU= yyAyeUyeUyuOya yuyeUyeU untuk variabel endogen diketahui yuUyaya sebagai besarnya koefisien loading, sedangkan yuIyaya dan yuyeUyeU menunjukkan Weight relation digunakan untuk mengestimasi nilai dari variabel laten dengan rumus sebagai berikut: yuaya = Oc WjkXjk , k = 1,2. A , ki untuk variabel eksogen yuOya = Oc WjkYjk , k = 1,2. A , ki untuk variabel endogen Untuk ycoycn menunjukkan banyaknya variabel indikator untuk setiap variabel laten sedangkan untuk ycOycyco adalah k weight relation untuk menunjukkan variabel laten j dan j. | 276 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Variabel yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri dari tujuh konstruk atau variabel laten yaitu optimisme atau optimism (OPT), inovasi atau innovativeness (INN), ketidaknyamanan atau discomfort (DIS) dan ketidakamanan atau insecurity (INS), persepsi kegunaan atau perceived usefulness (PU), persepsi kemudahan dalam penggunaan atau perceived ease of use (PEU) dan minat untuk menerapkannya atau intention to use (ITU). Optimism atau optimisme merupakan sikap pandang atau persepsi positif mengenai Pengguna percaya bahwa penggunaan teknologi berdampak kepada fleksibilitas, efektivitas, dan efisiensi pekerjaan. Inovasi . yaitu sikap atau persepsi seseorang akan hadirnya suatu teknologi baru dan memiliki inisiatif untuk mencobanya. Ketidaknyamanan . yaitu sikap pandang atau persepsi negatif seseorang terhadap teknologi baru. Penggunaan teknologi baru akan sulit dan pengguna cenderung merasa kesulitan jika berhadapan dengan teknologi. Ketidakamanan . merupakan sikap kurangnya kepercayaan atau sikap kecurigaan terhadap keamanan teknologi. Persepsi Kebermanfaatan atau kegunaan . erceived usefulnes. merupakan persepsi atau anggapan seseorang bahwa penggunaan sistem atau teknologi dapat memberikan manfaat. Persepsi Kemudahan dalam menggunakan . erceived ease of us. yaitu persepsi seseorang bahwa penggunaan sistem atau teknologi dapat mempermudah apa yang dikerjakan. Minat Menggunakan . ntention to us. merupakan keinginan atau kecenderungan individu dalam penggunaan sistem teknologi. Indikator atau instrumen yang memenuhi uji validitas serta reliabilitas penelitian ini disajikan pada tabel 1. Indikator yang digunakan mengadopsi penelitian juga mengadopsi dari penelitian-penelitian terdahulu (Aripradono, 2021. Faizani & Indriyanti, 2021. Walczuch et al. Tabel 1. Variabel dan Indikator Penelitian Variabel Optimism OPT Innovativeness INN Discomfort DIS Insecurity INS Indikator - Responden menyukai teknologi canggih yang ada - Responden menyukai program komputer yang sesuai kebutuhan - Responden merasa teknologi membuat lebih efisien - Responden merasa teknologi memberi lebih banyak kebebasan - Responden merasa sebagai sumber informasi tentang update teknologi baru - Responden merasa orang pertama atau awal dalam memperoleh teknologi baru - Responden merasa mengikuti perkembangan teknologi terbaru di bidang minatnya - Responden menikmati mengenai aplikasi berteknologi tinggi - Responden merasa punya lebih sedikit masalah dibanding lainnya Ketika menggunakan teknologi - Responden merasa manual sistem berteknologi tinggi ditulis dalam bahasa yang sulit . idak sederhan. - Responden merasa dimanfaatkan seseorang yang tahu lebih mengenai teknologi - Responden lebih suka produk layanan dengan fitur basic daripada banyak fitur tambahan - Responden menganggap tidak aman melakukan segala jenis bisnis keuangan online - Responden khawatir informasi yang dikirim lewat internet akan diketahui pihak lain - Responden merasa setiap transaksi bisnis secara elektronik harus dikonfirmasi secara tertulis | 277 | Vol. No. Desember 2024 Skala Pengukuran (Sumbe. Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Scheier & Carver Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Karahanna et al. Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Dabholkar . Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Kwon & Chidambaram ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Variabel Indikator Perceived Usefulness (PU) Perceived Ease of Use (PEU) Intention to Use (ITU) - Responden merasa dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat jika menggunakan aplikasi - Responden merasa menggunakan aplikasi dapat meningkatkan kinerja pekerjaan . enghemat wakt. - Responden merasa menggunakan aplikasi meningkatkan - Responden merasa penggunaan aplikasi meningkatkan efektivitas - Responden merasa menggunakan aplikasi membuatnya lebih mudah dalam melakukan pekerjaan - Responden merasa aplikasi berguna dalam pekerjaannya - Responden merasa belajar mengoperasikan aplikasi mudah - Responden merasa mudah menggunakan aplikasi untuk mendapatkan yang diinginkan - Responden merasa penggunaan aplikasi jelas dan dapat - Responden merasa mudah mengingat menggunakan aplikasi - Secara keseluruhan, responden merasa aplikasi digunakan mudah - Responden merasa nyaman menggunakan aplikasi - Responden merasa menggunakan aplikasi menghemat waktu - Responden bersedia menggunakan aplikasi yang tersedia - Responden suka rela akan mempelajari dan menggunakan aplikasi terbaru Skala Pengukuran (Sumbe. Chen et Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Taylor & Todd . Venkatesh & Davis . Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Taylor & Todd . Venkatesh & Davis . Skala Interval Likert - Tingkat Persetujuan . Taylor & Todd . Venkatesh & Davis . Sumber: Diolah oleh Peneliti . HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI 1 Statistik Deskriptif Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner kemudian ditambah dengan data sekunder berupa artikel, jurnal dan data lain yang terkait dengan Data yang berhasil dikumpulkan diolah dengan aplikasi smart PLS dan Microsoft Excel. Data kuesioner yang terkumpul sejumlah 42 responden. Jumlah tersebut sudah memenuhi syarat minimum apabila diolah dan kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS. Sholihin & Ratmono . menyatakan bahwa jumlah data agar bisa diolah menggunakan SEM PLS yaitu sejumlah 35-50. Pengolahan data tersebut disajikan dalam statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif data dapat dilihat pada pada tabel berikut ini: Tabel 2. Statistik Deskriptif Responden Kelompok Status Usia Jenis Kelamin Jabatan Keterangan Pendamping Pengurus BUMDESA < 20 tahun 20 - 29 tahun 30 - 39 tahun 40 - 49 tahun 50 tahun < Pria Wanita Direktur Bumdes Pendamping | 278 | Vol. No. Desember 2024 Jumlah ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Kelompok Pendidikan Pengalaman Bumdes Keterangan Pengurus Bumdes Pengurus unit di BUMDESA S1 /D IV SMA/D I/ D i 1 - 3 tahun < 1 tahun 3 - 5 tahun > 5 tahun Jumlah 2 Statistik Inferensial Pengolahan dan analisis SEM PLS memerlukan dua uji, yaitu evaluasi atau pengujian outer model atau biasa dikenal sebagai model pengukuran dan inner model yang juga dikenal dengan istilah evaluasi model struktural. Uji hipotesis akan dilakukan setelah uji model terlebih dahulu. Uji atau evaluasi model ini digunakan untuk mengevaluasi model pengukuran . uter mode. serta model struktural . nner mode. 1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Mode. Kriteria analisis data yang digunakan dalam penilaian outer model yaitu validity test atau uji validitas dan reliability test atau uji reliabilitas. Validity test terdiri dari convergent validity dan discriminant validity. Convergent validity test mengacu pada nilai outer loading dan AVE atau average variance extracted (Wong, 2. Outer loading atau loading factor merupakan gambaran seberapa besar korelasi antara indikator dengan konstruk atau variabelnya. Jika nilai untuk outer loading yang diperoleh lebih dari 0,7 maka hasil penelitian tersebut dikatakan valid. Pada pengujian awal terhadap data yang berhasil dikumpulkan masih terdapat nilai-nilai di bawah 0,7 . idak vali. sehingga perlu dilakukan pengurangan atau pengeluaran indikator yang tidak valid dan dilakukan pengujian kembali komponen convergent validity. Adapun outer loading hasil pengujian kembali setelah beberapa indikator yang tidak valid dikeluarkan sehingga tersaji dalam tabel berikut ini. Tabel 3. Nilai Loading Factor OPT4 OPT5 OPT6 OPT7 INN1 INN3 INN5 INN6 DIS2 DIS3 DIS4 INS2 INS3 INS5 PEU1 PEU2 PEU3 PEU5 PEU6 PU1 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ITU1 ITU2 ITU4 ITU5 Dari hasil uji setelah dilakukan pengurangan indikator yang tidak valid diperoleh nilai semua outer loading bernilai lebih dari 0,7 pada tabel diatas menunjukkan bahwa penelitian ini memenuhi uji validitas konvergen sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator yang digunakan | 279 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Disamping menggunakan outer loading, uji convergent validity dapat menggunakan nilai hasil perhitungan AVE. Hasil pengujian AVE. Composite Reliability (CR) dan Cronbach's Alpha (CA) dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4. AVE. CA dan CR DIS INN INS OPT PEU ITU AVE Nilai AVE yang baik jika nilainya lebih dari 0,5 (Sarstedt et al. , 2. Mengacu pada data tabel diatas, bisa diketahui bahwa nilai AVE secara keseluruhan bernilai lebih dari 0,5 yang memberi indikasi telah memenuhi komponen convergent validity. Hal ini menunjukkan bahwa convergen validity dengan melihat AVE menunjukkan semua indikator yang digunakan adalah alat ukur tepat untuk mengukur variabelnya. Uji validitas selanjutnya yaitu discriminant validity test. Discriminant validity test dilakukan dengan melihat hasil pengujian pada Fornell Lacker Criterion dan Cross Loadings Factor yang dapat diliat pada tabel 5 dan table 6. Berdasarkan data yang ada tabel 5, nilai korelasi antar variabel lebih besar dibandingkan dengan korelasi ke variabel lainnya sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memenuhi uji validitas diskriminan atau discriminant validity test. Konsep Fornell & Larcker, menyatakan bahwa nilai kuadrat AVE antara suatu variabel terhadap variabel itu sendiri harusnya lebih tinggi dari nilai kuadrat AVE . suatu variabel dengan variabel lainnya. Oleh sebab itu penelitian ini telah memenuhi uji validitas diskriminan atau discriminant validity test. Selain itu nilai variabel itu sendiri juga menunjukkan angka diatas 0,7 sehingga memenuhi discriminant validity test. Tabel 5. Tabel Hasil Uji Fornell- Larcker Criterion DIS INN INS OPT PEU ITU DIS INN INS OPT PEU ITU Selain dengan menggunakan pengujian Fornell & Larcker, pengujian discriminant validity dapat menggunakan cross loading factor. Kresnandra . menyatakan untuk dapat lolos dari uji cross loadings factor maka hubungan indikator dengan konstruk atau variabel pengukuran seharusnya lebih tinggi hubungan indikator terhadap variabel lain (Sholihin & Ratmono, 2. dan nilai cross loadings diatas 0,7. Berdasarkan data hasil penelitian yang tersaji pada tabel 6, hubungan indikator dengan variabel pengukuran lebih besar atau lebih tinggi nilainya dari hubungan indikator ke variabel lainnya dan diperoleh nilai cross loadingsnya diatas 0,7. Hal ini menggambarkan bahwa discriminant validity test telah | 280 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 6. Hasil Uji Cross Loadings ITU1 ITU2 ITU4 ITU5 DIS2 DIS3 DIS4 PEU1 PEU2 PEU3 PEU5 PEU6 INN1 INN3 INN5 INN6 INS2 INS3 INS5 OPT4 OPT5 OPT6 OPT7 PU1 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 DIS INN INS OPT PEU ITU Setelah uji validitas, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas . eliability tes. Pengujian reliabilitas dapat dengan melihat nilai hasil dari Cronbach's Alpha (CA) dan Composite Reliability (CR). Nilai CA dan CR dalam penelitian tersaji pada tabel diatas. Data CA dan CR pada tabel 4 memberikan informasi bahwa nilai Cronbach's Alpha dan Composite Reliability menunjukkan nilai diatas 0,7. Hal ini menandakan bahwa semua konsistensi alat ukur yang digunakan sudah baik dan konsisten begitu juga untuk nilai composite reliability (CR). Nilai lebih dari 0,7 merupakan nilai yang disarankan. Lebih lanjut jika angka CA dan CR Ou 0,8 menunjukkan hasil sangat memuaskan. Penelitian ini menghasilkan CR dan CA bernilai lebih dari 0,7, sehingga dapat dinyatakan telah lulus uji reliabilitas. 2 Evaluasi Model Struktural (Inner Mode. Uji inner model dilakukan setelah uji outer model diselesaikan. Uji inner model dilakukan dalam rangka mengukur kekuatan prediksi . etepatan mode. dari inner model. Inner model dapat mengacu kepada nilai R-Square pada variabel laten endogen (Ghozali & Ratmono. Nilai nilai R-Square dapat diketahui dari tabel berikut: Tabel 7. Nilai R-Square PEU ITU R Square R Square Adjusted AVE | 281 | Vol. No. Desember 2024 GoF 0,28 0,47 0,49 QA (=1-SSE/SSO) ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Nilai R-Square yang ditunjukkan pada tabel diatas untuk variabel endogen intention to use adalah 0,677, sehingga dapat disimpulkan bahwa mendekati kuat (Hair et al. , 2. Menurut Hair, angka 0,25 . , 0,5 . dan 0,75 . Hal ini menandakan sebesar 67,7% dari variabel ITU dijelaskan oleh variabel PEU dan PU, sedangkan 32,3% sisanya dijelaskan oleh variabel yang tidak ada dalam penelitian. Nilai pada R-square menjelaskan nilai besaran variabel endogen yang mampu dijelaskan oleh variabel lainnya yang dalam suatu nilai interpretasi R-square secara kualitatif 0,19 mempunyai pengaruh rendah, sedangkan 0,33 berarti pengaruh moderat dan 0,66 mempunyai pengaruh tinggi menurut Berdasarkan tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa model struktural telah memenuhi goodness of fit dengan melihat nilai Q2 yang tinggi yaitu sebesar 0,490. Interpretasi dari nilai GoF adalah jika 0,1 (GoF renda. , 0,25 (GoF Mediu. , dan 0,36 (GoF tingg. (Becker et al. , 2. Nilai GoF dalam penelitian ini adalah 0,28, 0,47, dan 0,49 yang menunjukkan GoF yang tinggi. Berikutnya metode Q2 yang digunakan juga untuk mengukur kekuatan prediksi atau predictive relevance. Jika nilai dari Q2 lebih besar dari 0 dari reflektif variabel laten endogen mengindikasikan model jalur memiliki nilai prediksi yang relevan terhadap konstruk dependennya dengan prosedur blindfolding. Berdasarkan tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa model struktural telah memenuhi goodness of fit dengan melihat nilai Q2 yang tinggi yaitu sebesar 0,490. Interprestasi dari nilai GoF adalah jika 0,1 (GoF renda. , 0,25 (GoF Mediu. , dan 0,36 (GoF tingg. (Becker et al. , 2. Nilai GoF dalam penelitian ini adalah 0,28, 0,47, dan 0,49 yang menunjukkan GoF yang tinggi. Nilai SRMR . tandardize Root Mean Residua. adalah ukuran kecocokan model. Dalam Hair (Sarstedt et al. , 2. , nilai SRMR yang berada dibawah 0,08 menunjukkan model yang fit . Namun nilai SRMR antara 0,08-0,10 menunjukkan model yang dapat diterima . cceptance fit mode. Hasil estimasi model ini menunjukkan angka 0,093 yang berarti model ini menunjukkan sebagai model yang dapat diterima . cceptance fit mode. Nilai SRMR tersaji pada tabel berikut: Tabel 8. Nilai Normed Fit Index SRMR NFI Saturated Model Estimated Model 3 Hasil Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan merujuk nilai p-value atau t-statistik. Hipotesis yang diajukan merupakan hipotesis dua arah . wo taile. Hasil pengujian berupa t-statistic dan p-value serta path coefisien tersaji pada tabel 11 dan gambar hasil pengujian dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut: | 282 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 9. Nilai t-statistics, p-value, dan path koefisien OPT -> PU OPT -> PEU INN -> PU INN -> PEU DIS -> PU DIS -> PEU INS -> PU INS -> PEU PEU -> PU PU -> ITU PEU -> ITU T-Stat O-Sample P-Values Gambar 3. Model Hasil Penelitian 4 Pembahasan 1 Pengaruh Optimism (OPT) terhadap Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEU) Berdasarkan data yang tersaji pada tabel 11 dapat kita lihat bahwa optimisme (OPT) mempunyai pengaruh yang signifikan positif terhadap perceived usefulness (PU) dengan nilai p-value 0. 040<0. 05 dan nilai t-statistik 2. 056>1. Adapun terhadap perceived ease of use (PEU), optimisme (OPT) tidak berpengaruh signifikan. Pengaruh positif signifikan optimisme (OPT) terhadap perceived usefulness (PU) menandakan bahwa responden merasa memiliki pandangan dan sikap optimis bahwa penggunaan sistem aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes dapat meningkatkan kinerja, produktivitas, efektivitas, membuat penyelesaian pekerjaan lebih cepat dan membuat penyusunan laporan keuangan BUMDES lebih mudah dilakukan. Hasil ini sejalan dengan penelitian serupa terkait dengan kesiapan dan | 283 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 penerimaan sistem teknologi informasi yang dilakukan oleh Faizani & Indriyanti Faizani & Indriyanti . dan Hermanto et al. Sisi yang lain ternyata pandangan dan sikap optimisme tersebut belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan kepada responden atau pengguna bahwa dalam sikap optimisme pengguna dalam penggunaan aplikasi dapat membuat lebih mudah digunakan dan lebih mudah dimengerti. Hal ini mungkin terjadi karena kondisi demografi responden yang berada di daerah kabupaten dengan tingkat pendidikan yang tidak merata. Hasil ini sejalan dengan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Compernolle et . 2 Pengaruh Innovativeness (INN) terhadap Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEU) Informasi yang dapat diambil dari tabel 11 adalah Innovativeness (INN) tidak berpengaruh positif signifikan terhadap perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEU). Hal ini menandakan bahwa responden atau pengguna memiliki pandangan dan sikap inovatif yang dirasa bahwa penggunaan aplikasi belum bisa memberikan pengaruh yang signifikan dalam penggunaan sistem aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan BUMDES terkait dengan peningkatan kinerja, produktivitas, efektivitas, membuat penyelesaian pekerjaan lebih cepat dan membuat penyusunan laporan keuangan BUMDES lebih mudah dilakukan serta sikap inovatif tersebut belum mampu membuat pengaruh signifikan penggunaan aplikasi menjadi lebih mudah digunakan dan lebih mudah dimengerti. Hal ini dikarenakan transaksi keuangan yang dilakukan BUMDESA belum kompleks dan masih relatif kecil sehingga masih memungkinkan untuk membuat laporan keuangan versi manual. Hasil ini sejalan dengan penelitian Compernolle et al. 3 Pengaruh Discomfort (DIS) terhadap Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEU) Berdasarkan tabel diatas dapat kita nyatakan bahwa discomfort (DIS) berpengaruh signifikan terhadap perceived usefulness (PU) dengan arah negatif, serta tidak berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap perceived ease of use (PEU). Hal ini menandakan bahwa sikap ketidaknyamanan dalam penggunaan aplikasi memberikan pengaruh yang signifikan dengan arah negatif atau berkebalikan terkait penggunaan aplikasi sehingga user mempunyai persepsi semakin kecil rasa ketidaknyamanan dalam penggunaan aplikasi maka semakin tinggi peningkatan kinerja, produktivitas, efektivitas, penyelesaian pekerjaan lebih cepat dan membuat penyusunan laporan keuangan BUMDes lebih mudah dilakukan. Berbeda dengan pengaruh discomfort (DIS) terhadap perceived usefulness (PU), variabel discomfort (DIS) tidak berpengaruh signifikan terhadap perceived ease of use (PEU), artinya semakin kecil rasa ketidaknyamanan dalam penggunaan aplikasi belum bisa berpengaruh signifikan terhadap persepsi pengguna dalam merasakan kemudahan penggunaan aplikasi dan lebih mudah Hal ini sejalan dengan deskriptif pengelola BUMDes yang belum semua memiliki pengetahuan yang memadai terkait penggunaan aplikasi pembukuan. Hasil terkait pengaruh discomfort terhadap perceived usefulness sejalan dengan penelitian Compernolle et al. dan Hermanto et al. , sedangkan hasil mengenai pengaruh discomfort terhadap perceived ease of use sejalan dengan penelitian (Aisyah et al. , 2014. Lusy et al. , 2. , dan Faizani & Indriyanti . 4 Pengaruh Insecurity (INS) terhadap Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEU) | 284 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa Insecurity (INS) tidak berpengaruh signifikan terhadap perceived usefulness (PU) dan terhadap perceived ease of use (PEU). Hal ini berarti sikap atau persepsi pengguna dalam hal keamanan dalam penggunaan aplikasi belum memberikan pengaruh yang signifikan dengan arah negatif terhadap persepsi pengguna dalam hal kegunaan dan kemudahan dalam penggunaan aplikasi. Persepsi pengguna mengenai rasa ketidakamanan tidak mempengaruhi persepsi pengguna dalam hal peningkatan kinerja, produktivitas, efektivitas, penyelesaian pekerjaan lebih cepat, penyusunan laporan keuangan BUMDes lebih mudah dilakukan serta kemudahan penggunaan aplikasi dan kemudahan memahami penggunaan aplikasi. Hal ini karena pengurus BUMDes belum melihat adanya risiko keamanan terhadap data-data keuangan, mengingat nilai dan jumlah transaksi masih relatif kecil. Penelitian yang memperoleh hasil serupa mengenai pengaruh insecurity terhadap perceived usefulness dan perceived ease of use dapat dilihat penelitian Hermanto et al. dan Faizani & Indriyanti . 5 Pengaruh Perceived Usefulness (PU) terhadap Intention Use (ITU) Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat hipotesis yang menyatakan perceived usefulness (PU) berpengaruh terhadap intention to use (ITU) diterima, hal ini dapat kita lihat dari nilai pvalue yang lebih kecil dari tingkat signifikasi . ,029<0,. Hal ini menandakan bahwa PU berpengaruh signifikan terhadap ITU. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna atau responden dalam hal ini pengguna aplikasi merasakan kebermanfaatan penggunaan aplikasi dalam penyusunan laporan keuangan, sehingga meningkatkan minat dalam menggunakan aplikasi Hubungan dengan arah positif tersebut menandakan bahwa semakin tinggi perceived usefulness (PU) yang dirasakan oleh responden maka semakin tinggi juga minat atau keinginan untuk pengadopsian aplikasi tersebut atau dengan kata lain semakin tinggi juga keingininan untuk menggunakan aplikasi dimaksud. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aripradono . 6 Pengaruh Perceived Ease of Use (PEU) terhadap Perceived usefulness (PU), dan Intention Use (ITU) Untuk melihat pengaruh dan hubungan variable tersebut telah diajukan hipotetis yang hasilnya menyatakan bahwa perceived ease of use (PEU) berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived usefulness dan intention to use (ITU). Hal ini menunjukkan bahwa responden atau pengguna mempunyai persepsi apabila kemudahan dalam penggunaan dan kemudahan dalam memahami aplikasi akan memberikan berpengaruh atau memberikan manfaat kepada pengguna mengenai persepsi kegunaan dari suatu aplikasi serta persepsi kemudahan dalam menjalankan dan menggunakan aplikasi berpengaruh signifikan dalam meningkatkan minat dalam menggunakan aplikasi tersebut. Hubungan dengan arah positif tersebut menandakan bahwa semakin tinggi perceived ease of use (PEU) yang dirasakan oleh responden maka semakin tinggi juga persepsi kebermanfaatan penggunaan aplikasi dan minat atau keinginan dalam menggunakan aplikasi dimaksud atau semakin tinggi juga pengadopsian aplikasi tersebut. Hal ini dapat dilihat pada hasil penilaian responden terhadap penggunaan aplikasi yang dapat meningkatkan kinerja pekerjaan . enghemat wakt. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aripradono . dan Faizani & Indriyanti . KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengujian hipotesis variabel optimism (OPT) dan discomfort (DIS) memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perceived usefulness (PU). Ini memberikan gambaran bahwa pengelola BUMDes masih memiliki keinginan terhadap | 285 | Vol. No. Desember 2024 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 penggunaan aplikasi laporan keuangan di masa datang yang juga tercermin dalam pengaruh perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEU) terhadap intention to use (ITU). Sedangkan variabel Discomfort (DIS). Innovativeness (INN) dan Insecurity (INS) tidak signifikan terhadap behavioral intentions. Hal ini dapat dilihat bahwa faktor demografi pengelola BUMDES yang berada di daerah kabupaten masih nyaman dengan pencatatan secara manual karena belum banyaknya transaksi keuangan yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini menunjukkan kesiapan BUMDes dalam mengaplikasikan penggunaan sistem informasi yang terkomputerisasi atau penggunaan aplikasi masih membutuhkan waktu karena manfaatnya untuk saat ini masih belum terlalu mendesak. Terlebih untuk dapat menjalankan aplikasi laporan keuangan tersebut memerlukan pengetahuan dasar komputer yang memadai. Namun dimasa datang, pengurus BUMDes perlu mempersiapkan diri dalam menggunakan sistem teknologi informasi dan peningkatan literasi keuangan mengingat semakin kompleks dan banyaknya transaksi keuangan dimasa datang. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam jumlah data serta lingkup demografi Penelitian berikutnya dapat memperluas cakupan responden dengan menjangkau daerah-daerah perkotaan yang memiliki kondisi demografi yang lebih beragam. PENGHARGAAN Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu dari jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Jombang, pengurus, dan pendamping BUMDes Kabupaten Jombang. REFERENSI