Jurnal Pendidikan. Volume 20. Nomor 2 Desember 2019, 140 - 148 Pemahaman Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika tentang Grup Berdasarkan Teori APOS Oleh: Emy Artuti1 emyartuti71@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemahaman mahasiswa tentang grup ditinjau dari perbedaan jenis kelamin dan kemampuan matematika dengan menggunakan analisis dekomposisi genetik berdasarkan teori APOS (Action. Process. Object and schem. Subjek dalam penelitian ini adalah 4 orang yang terdiri dari 2 mahasiswa laki-laki dan 2 mahasiswa perempuan yang berkemampuan tinggi dan rendah. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dari tes tertulis serta hasil wawancara yang lebih mendalam dan komprehensip terhadap 4 subjek penelitian mengenai pemahamannya tentang grup menurut kerangka teori APOS. Selanjutnya data divalidasi sebelum dianalisis dengan menggunakan analisis dekomposisi genetik berdasarkan teori APOS. Selanjutnya pemahaman setiap subjek penelitian dipetakan ke salah satu level dari triad perkembangan skema . Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan dengan kemampuan tinggi masuk pada level trans . Mahasiswa laki-laki dengan kemampuan rendah masuk pada level intra . , sedangkan mahasiswa perempuan dengan kemampuan rendah hanya berada pada tahap aksi dan tidak masuk pada level manapun dari Kata kunci: pemahaman, grup, teori APOS Belajar berdasarkan pemahaman merupakan isu yang mendasar dan mendapat perhatian dari praktisi pendidikan matematika. Menurut Katona (Orton, 1992: . salah satu alasannya adalah belajar memahamni lebih sukses daripada belajar hafalan. Demikian pula yang dikemukakan Hiebert dan Carpenter . 2: . bahwa pemahaman merupakan aspek yang fundamental dalam belajar dan setiap pembelajaran matematika seharusnya fokus utamanya adalah bagaimana menanamkan konsep matematika berdasarkan pemahaman. Selanjutnya Hudojo . 5: . menyatakan pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman, sebab pemahaman akan bermakna kepada materi matematika yang Jadi seseorang yang belajar matematika harus mencapai pemahaman yang Emy Artuti adalah staf pengajar di FKIP UPR Emy Artuti: Pemahaman Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Tentang Grup Berdasarkan Teori Apos mendalam, sehingga dapat menerapkannya ke dalam suatu situasi nyata dan merasakan manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Dubinsky . Pemahaman terhadap suatu konsep matematika merupakan hasil konstruksi atau rekonstruksi objek-objek matematika. Konstruksi atau rekonstruksi dilakukan melalui aktifitas berupa aksi-aksi matematika, proses-proses, objek-objek yang diorganisasikan dalam suatu skema, untuk memecahkan masalah. Hal ini dapat dianalisis melalui suatu analisis dekomposisi genetik, sebagai operasionalisasi teori APOS (Action. Process. Object and Schem. Teori APOS merupakan teori konstruktivis tentang bagaimana terjadinya atau berlangsungnya pencapaian pembelajaran suatu konsep atau prinsip matematika yang dapat digunakan sebagai elaborasi tentang konstruksi mental dari aksi, proses, objek dan skema. Dubinsky . menyatakan bahwa teori APOS dapat digunakan sebagai suatu alat analisis untuk mendeskripsikan perkembangan skema seseorang pada suatu topik matematika yang merupakan totalitas dari pengetahuan yang terkait terhadap topik tersebut. Kemudian Piaget dan Garcia (Baker, et. al, 2. menyatakan bahwa perkembangan skema merupakan suatu proses yang dinamis dan selalu berubah, sedangkan pengetahuan tumbuh berdasarkan mekanisme tertentu yang meliputi tiga level . evel intra, level inter dan level tran. yang terjadi pada urutan tetap dan disebut triad (Piaget & Garcia, 1. Level-level tersebut dapat ditemukan bila seseorang menganalisis pemahaman suatu Arifin . juga menggunakan teori triad perkembangan skema yang dipadukan dengan teori APOS untuk mengukur tingkat pemahaman siswa kelas V SD tentang konsep pengurangan bilangan bulat. Demikian juga Widada . , menggunakan teori APOS yang dipadukan dengan triad perkembangan skema untuk meneliti dan menganalisis pengetahuan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah tentang sketsa grafik fungsi dan kekonvergenan barisan dan deret tak hinga. Nurdin . juga menggunakan teori APOS yang dipadukan dengan triad perkembangan skema untuk mengukur tingkat pemahaman siswa SMA kelas XI tentang konsep barisan dan deret. Dari analisis tersebut ternyata teori APOS dapat digunakan untuk menginvestigasi perkembangan pemahaman matematika secara umum. Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan selama ini dapat diketahui bahwa teori APOS yang dikaitkan dengan teori triad perkembangan skema, merupakan analisis yang baik untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman seseorang terhadap suatu topik matematika. Jurnal Pendidikan. Volume 20. Nomor 2 Desember 2019, 140 - 148 Hal ini membuat peneliti tertarik menggunakan kerangka teori APOS yang dikaitkan dengan teori triad perkembangan skema . riad dari Piaget dan Garci. untuk menganalisis pemahaman mahasiswa tentang struktur aljabar, khususnya tentang grup. Pada mata kuliah struktur aljabar Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Palangkaraya diperoleh informasi bahwa mahasiswa banyak mengalami kegagalan dalam mengikuti ujian mata kuliah struktur aljabar. Penyebabnya antara lain mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami pengetahuan struktur aljabar, khususnya pengampu mata kuliah tentang grup. Dosen belum pernah melakukan penelitian tentang bagaimana mahasiswa memahami pengetahuan struktur aljabar, khususnya tentang grup. Untuk mengetahui pemahaman mahasiswa dalam mempelajari sesuatu, maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian yang menganalisis pemahaman mahasiswa dalam memahami suatu konsep. Pada materi struktur aljabar, khususnya tentang grup mahasiswa pertama kali dikenalkan jenis operasi yang abstrak. Mahasiswa tidak hanya dikenalkan jenis operasi yang biasa dikenal seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian. Tetapi dikenalkan suatu operasi abstrak, yaitu operasi yang didefinisikan. Disamping itu, anggota himpunan yang dioperasikan juga elemen-elemen yang tidak biasa dikenal mahasiswa, seperti bilangan. Himpunan tersebut misalnya beranggotakan matriks, pasangan berurutan. Materi struktur aljabar khususnya tentang grup, sangat penting dan fundamental untuk memahami materi Ae materi lain seperti ring dan field. Dalam penelitian diduga adanya perbedaan tingkat pemahaman antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan pada Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Palangkaraya. Metodologi Penelitian Sesuai dengan tujuan dalam penelitian iniadalah berusaha untuk mengungkapkan secara mendalam pemahaman mahasiswa tentang grup, serta cara-cara yang digunakan mahasiswa dalam menyelesaikan grup. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu menjelaskan secara aktual bagaimanakah cara-cara yang digunakan mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang grup dan penjelasan bagaimanakah pemahaman mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program studi Pendidikan Matematika semester IV tahun ajaran 2017/2018. Pemilihan subjek penelitian didasarkan skor yang diperoleh mahasiswa dalam pengerjaan tes kemampuan matematika. Rentangan skor, 0 C skor C 100. Kemampuan matematika subjek dikategorikan menjadi tiga: tinggi jika skor CA A Emy Artuti: Pemahaman Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Tentang Grup Berdasarkan Teori Apos 80, sedang jika 40 C skor < 80, dan rendah jika skor < 40. Subjek penelitian yang dipilih adalah yang berkemampuan tinggi dan rendah Pengkategorian skor ini didasarkan pada kategori nilai yang digunakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Palangkaraya sesuai dengan Buku Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Program Strata Satu (S-. Tahun 2018 Universitas Palangkaraya. Interval skor tersebut jika dikonversikan ke huruf, yaitu nilai A untuk skor tinggi dan E skor rendah. Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah 4 mahasiswa . , yaitu mahasiswa laki-laki dengan kemampuan tinggi (R 1 ), mahasiswa perempuan dengan kemampuan tinggi (R 2 ), mahasiswa laki-laki dengan kemampuan rendah (R 3 ) dan mahasiswa perempuan dengan kemampuan rendah (R 4 ). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal berbentuk uraian. Instrumen ini dirancang untuk mengungkapkan mahasiswa dalam menghadapi soal-soal dengan cara mengkonstruk dan mengkonstruksi kembali hubungan pengetahuan mahasiswa saat menyelesaikan soal grup. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: Hasil tes tertulis mahasiswa. Hasil wawancara. Catatan lapangan atau jurnal dalam rangkaian kegiatan penelitian. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara: Pemberian lembar tugas . yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman mahasiswa dalam masalah grup. Wawancara, dilakukan untuk mendapatkan informasi lebih mendalam dan komprehensif dari data-data yang diperoleh dari jawaban tes tertulis mahasiswa. Untuk menghindari agar tidak ada data yang terlewatkan, dalam hal ini direkam dengan menggunakan tape recorder Pengamatan, yang diamati meliputi aktivitas subjek selama menyelesaikan lembar tugas yang diberikan dan waktu wawancara. Berdasarkan alur analisis data yang dikembangkan Miles dan Huberman . , maka analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Tahap mereduksi data Mereduksi data dilakukan dengan pemilihan, memfokuskan, menyederhanakan, mengabsrtaksikan dan mentransformasikan data-data mentah dari catatan lapangan, hasil Jurnal Pendidikan. Volume 20. Nomor 2 Desember 2019, 140 - 148 wawancara serta hasil pekerjaan subjek yang relevan dengan teori APOS . ksi, proses, objek dan skem. Tahap penyajian data Penyajian data meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data hasil reduksi, yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan dan tindakan. Tahap penarikan kesimpulan . erifikasi dat. Kegiatan verifikasi dilakukan dengan menguji kebenaran, kekokohan dan kecocokan makna-makna yang muncul dari data. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada penelitian ini, pemahaman mahasiswa tentang grup diartikan sebagai kemampuan mahasiswa untuk mengkonstruksi atau mengkonstruksi kembali aksi, proses dan objek serta mengkoordinasikannya dalam suatu skema yang digunakan untuk menyelesaikan masalah grup. Hasil analisis dekomposisi genetik pemahaman mahasiswa tentang grup ditinjau dari perbedaan jenis kelamin dan kemampuan matematika dapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1. Rangkuman Hasil Analisis Data Terhadap Subjek Penelitian Subjek Aksi Melakukan aksi dengan menjabarkan secara umum dan memberikan contoh dalam menunjukkan sifat tertutup, sifat asosiatif, menentukan unsur identitas dan invers. Melakukan aksi dengan menggunakan contoh dan kadang menjabarkan secara umum dalam menunjukkan sifat Kerangka APOS Proses Objek - Dapat menyelesaikan masalah grup tanpa harus mela- Sudah dapat kukan aktivitas procedural, tetapi grup dengan menjelaskan dan dalam pikiran memahami sifatsebagai aktivitas sifat grup - Dapat memberi- Sudah menyadari kan contoh grup proses yang terjadi dan bukan grup. sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan. Dapat menyelesaiSudah dapat kan masalah grup dengan melakugrup dengan kannya dalam menjelaskan dan pikiran, walaupun memahami sifatkadang masih sifat grup. Skema Dapat mengkonstruk-si atau mengkons-truksi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses, dan objek untuk menye-lesaikan masalah grup yang lebih luas dan kompleks Dapat mengkonstruksi atau meng-konstruksi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses, dan objek untuk menye-lesaikan Emy Artuti: Pemahaman Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Tentang Grup Berdasarkan Teori Apos tertu-tup, sifat asosiatif, menentukan unsur identitas dan invers. Melakukan aksi dengan menggunakan contoh yaitu dengan tabel Cayley dalam menunjuk kan sifat tertutup, sifat asosiatif, menentukan unsur identitas dan invers. Melakukan aksi dengan menggunakan contoh yaitu dengan tabel Cayley dalam menunjuk kan sifat tertutup, sifat asosiatif, menentukan unsur identitas dan invers. melakukan aktivitas - Sudah menyadari proses yang terjadi sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan. - Sudah menyadari proses yang terjadi sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan, tabel Cayley. - Belum menyadari proses yang terjadi sehingga tidak menjelaskan apa yang dilakukan. - Dapat memberikan contoh grup dan bukan grup masalah grup yang lebih luas dan kompleks -Tidak dapat men definisikan grup dengan sifatsifatnya. - tidak dapat contoh grup dan bukan grup. Tidak dapat mengkonstruksi atau mengkonstruksi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan Tidak dapat mengkonstruksi atau mengkonstruksi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan - tidak dapat grup dengan sifat-sifatnya. - tidak dapat contoh grup dan bukan grup. Tabel 2. Kesimpulan hasil analisis pemahaman mahasiswa Subjek Kerangka APOS Proses Objek Skema A EnA A EnA A EnA Aksi A EnA EnAA EnAA EnAA EnAA Kesimpulan Berada pada level trans . Berada pada level trans . Berada pada level intra . Berada pada tahap aksi, tidak masuk level manapun dari triad. Keterangan : En = dapat melakukan A = tidak dapat melakukan Secara umum hasil analisis dekomposisi genetik pemahaman mahasiswa tentang grup ditinjau dari perbedaan jenis kelamin dan kemampuan matematika dapat disajikan dalam Tabel 2 di atas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kemampuan tinggi, memiliki tingkatan level yang sama sedangkan subjek dengan kemampuan rendah memiliki Jurnal Pendidikan. Volume 20. Nomor 2 Desember 2019, 140 - 148 tingkatan level yang berbeda. Hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulastri. Ponjo, dan Henny . yang menyatakan bahwa pemahaman akan berbeda-beda antara peserta didik satu dengan yang lainnya, tergantung tingkat konstruksi dari peserta didik masing-masing. Selajutnya, temuan pada penelitian ini adalah masih banyak mahasiswa yang hanya menghapalkan suatu definisi tanpa memahami maknanya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunika dan Rohana . yang menyatakan bahwa pembelajaran biasa yang dilakukan oleh mahasiswa hanya terpaku pada penekanan untuk menghafalkan rumus. Deskripsi yang tergambar dari hasil penelitian ini bahwa pemahaman mahasiswa tentang himpunan dan operasi biner mempengaruhi pemahaman mahasiswa tentang grup. Mahasiswa yang mempunyai konsep tentang himpunan dan konsep untuk operasi biner pada umumnya tidak mengalami kesulitan dalam mengkonstruksi atau mengkonstruksi kembali suatu koordinasi dari aksi, proses, objek dan skema untuk menyelesaikan masalah grup. Sebaliknya mahasiswa yang tidak memiliki konsep tentang himpunan dan konsep untuk operasi biner atau sudah memiliki tapi hanya sebatas hapalan saja , cenderung mengalami kesulitan dalam mengkonstruksi atau mengkonstruksi kembali suatu koordinasi dari aksi, proses, objek dan skema untuk menyelesaikan masalah grup. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan deskripsi pemahaman mahasiswa tentang grup bila ditinjau dari perbedaan jenis kelamin dan kemampuan matematika adalah sebagai berikut: . Pemahaman mahasiswa laki-laki dengan kemampuan tinggi (R 1 ) dalam menyelesaikan masalah grup cenderung melakukannya dalam pikiran . ktivitas interna. Selain itu R 1 telah menyadari proses yang terjadi sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan. Dengan kata lain R 1 telah mampu menginteriorisasi dari aksi menuju proses. R 1 juga telah memiliki pemahaman konseptual, hal ini terlihat dari penjelasan yang diberikan tentang definisi grup, sifat-sifat grup, contoh grup dan bukan grup, dapat dikatakan bahwa R 1 telah mampu mengenkapsulasi dari proses ke objek. Selain itu R 1 dapat mengkonstruksi atau mengkonstrusi kembali suatu koordinasi yang mengait-kan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan kompleks, dengan demikian R 1 telah mampu mentematisasi dari objek ke skema. Dari deskripsi tersebut dan Emy Artuti: Pemahaman Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Tentang Grup Berdasarkan Teori Apos triad perkembangan skema, maka kondisi pemahaman R 1 tentang grup masuk pada level trans . , . Pemahaman Mahasiswa perempuan dengan kemampuan tinggi (R 2 ) dalam menyelesaikan masalah grup melakukannya dalam pikiran . ktivitas interna. dan kadang masih dengan aktivitas prosedural. Walaupun begitu R 2 telah menyadari proses yang terjadi sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan. Dapat dikatakan bahwa R 2 telah memiliki kemampuan untuk menginteriorisasi dari aksi menuju proses. R 2 juga dapat mendefinisikan grup, memberi contoh grup dan bukan grup serta dapat menyatakan hubungan antara satu sifat dengan sifat lainnya pada suatu grup. Dengan kata lain R 2 telah memiliki pemahaman konseptual atau dapat dikatakan bahwa R 2 telah mampu mengenkapsulasi dari proses ke objek. Selain itu R 2 juga dapat meng-konstruksi atau mengkonstruksi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan kompleks, dengan begitu R 2 telah mampu mentematisasi dari objek ke skema. Dari deskripsi tersebut dan menurut perkembangan skema, maka kondisi pemahaman R 2 tentang grup masuk pada level trans . , . Pemahaman mahasiswa laki-laki dengankemampuan rendah (R 3 ) dalam menyelesaikan masalah tentang grup melakukannya dengan aktivitas prosedural dan dalam pikiran . ktivitas interna. Dengan begitu dapat dikatakan R 3 telah menyadari proses yang terjadi, sehingga dapat menjelaskan apa yang dilakukan atau dapat dikatakan bahwa R 3 telah memiliki kemampuan untuk mengin-teriorisasi dari aksi menuju proses. Akan tetapi R 3 belum dapat mendefinisikan grup, memberi contoh grup dan bukan grup sehingga R 3 belum memiliki pemahaman konseptual atau dapat disimpulkan bahwa R 3 belum memiliki mengenkapsulasi dari proses ke objek. Selain itu R 3 juga belum dapat mengkonstruksi atau mengkonstrusi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan kompleks, dengan demikian R 3 belum memiliki kemampuan mentematisasi dari objek ke skema. Dari deskripsi tersebut dan menurut triad perkembangan skema, maka kondisi pemahaman R 3 tentang grup masuk pada level intra . , dan . Pemahaman mahasiswa perempuan dengan Jurnal Pendidikan. Volume 20. Nomor 2 Desember 2019, 140 - 148 kemampuan rendah (R 4 ) dalam menyelesaikan masalah grup cenderung menggunakan tabel cayley dan melakukan aktivitas prosedural. R 4 belum menyadari proses yang terjadi, sehingga tidak dapat menjelaskan apa yang dilakukan. atau dapat disimpulkan bahwa R 4 belum memiliki kemampuan untuk meng-interiorisasi dari aksi menuju proses. Selain itu R 4 juga belum memiliki pemahaman konseptual atau dapat dikatakan bahwa R 4 belum memiliki mengenkapsulasi dari proses ke objek. Selain itu R 4 juga belum dapat mengkonstruksi atau mengkonstrusi kembali suatu koordinasi yang mengaitkan aksi, proses dan objek untuk menyelesaikan masalah grup yang lebih luas dan kompleks, dengan demikian R 4 juga belum memiliki kemampuan mentematisasi dari objek ke skema. Dari deskripsi tersebut dan menurut triad perkembangan skema, maka kondisi pemahaman R 4 tentang grup hanya berada pada tahap aksi dan belum masuk pada level manapun dari triad. Daftar Pustaka