Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA FASILITASI INISIASI MENYUSUI DINI PADA BAYI BARU LAHIR UNTUK MENDUKUNG KEBERHASILAN MENYUSUI EFEKTIF Lestanti1. Ratna Kurniawati2. Parmilah3 Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung. Email : lestanti99@gmail. com ratnaummudzaky@gmail. com, mila25774@gmail. Email Korespondensi: lestanti99@gmail. 1,2,3 ABSTRAK Latar belakang: Inisiasi menyusui dini (IMD) adalah proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi yang mendapat dukungan IMD segera setelah lahir akan merangsang putting ibunya sehingga meningkatkan peluang keberhasilan menyusui sejak Dampak tidak dilakukan IMD terjadi kegagalan menyusui dimana bayi tidak mendapat kolostrum dan menghambat pengeluaran ASI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendukung keberhasilan menyusui efektif adalah dengan memfasilitasi pelaksanaan inisiasi menyusui dini pada bayi baru lahir yang bermanfaat untuk memperlancar pengeluaran ASI. Metode: Teknik dalam pengumpulan data penelitian dengan observasi partisipatif, tindakan dan wawancara. Subjek penelitian adalah ibu post partum persalinan normal dengan berat badan bayi Ou 2500 gram. Penyajian data dalam penelitian ini berbentuk tabel dan dilengkapi dengan penyajian narasi. Hasil: Penelitian yang dilakukan di wilayah puskesmas Kranggan menunjukan bahwa dukungan pelaksanaan inisiasi menyusui dini dalam mendukung keberhasilan menyusui efektif. Status menyusui meningkat dibuktikan dengan pelekatan bayi pada payudara ibu sudah tepat, hisapan bayi kuat, kepercayaan diri ibu, suplai ASI adekuat, bayi tidak rewel. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pelaksanaan tindakan inisiasi menyusui dini segera setelah bayi lahir terhadap keberhasilan menyusui efektif. Kata kunci: Inisiasi Menyusui Dini. Ibu Post Partum. Menyusui Efektif FACILITATE EARLY BREASTFEEDING INITIATION IN NEWBORN BABIES TO SUPPORT EFFECTIVE BREASTFEEDING SUCCESS ABSTRACT Background: Early initiation of breastfeeding (IMD) is the process of allowing a baby to breastfeed on its own immediately after birth. Babies who receive IMD early will provide stimulation to the mother's nipples thereby increasing the chances of success in the breastfeeding process from an early age. The impact of not having IMD can result in failure to breastfeed where the baby does not receive colostrum and this inhibits the production of breast milk. Purpose: This research aims to support the success of effective breastfeeding by facilitating the implementation of early initiation of breastfeeding in newborns which is useful for facilitating the release of breast milk. Method: Techniques for collecting research data using participant observation, action and interviews. The research subjects were normal post-partum mothers with a baby weighing Ou 2500 grams. The data presented in this research is in the form of a table and is equipped with a narrative presentation. Results: Research conducted in the Kranggan community health center area shows that support for the implementation of early breastfeeding initiation in supporting successful breastfeeding is Breastfeeding status has increased as evidenced by the baby's proper attachment to the mother's breast, the baby's suction is strong, the mother's self-confidence, adequate milk supply, and the baby is not fussy. Conclusion: There is an influence of implementing early breastfeeding initiation measures immediately after the baby is born on the success of effective breastfeeding. Keywords: Early Initiation of Breastfeeding. Post Partum Mothers. Effective Breastfeeding PENDAHULUAN Inisiasi (IMD) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang berupa stimulasi awal yang dimulai dengan pemberian air susu ibu (ASI) yang berlangsung hingga enam bulan pertama kehidupan anak (Diba Faisal, 2. Inisiasi menyusui dini adalah proses membiarkan bayi menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir dengan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu. Memulai pemberian ASI sejak dini akan pemberian ASI eksklusif dan memenuhi kebutuhan anak hingga usia 2 tahun (Setyowati, 2. Data Survei Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2020 di indonesia, secara nasional presentase bayi baru lahir yang mendapat IMD yaitu sebesar 77,6%. Provinsi dengan presentase tertinggi bayi baru lahir mendapat IMD adalah DKI Jakarta yaitu sebesar 96,1% sedangkan provinsi dengan presentase terendah adalah maluku yaitu sebesar 52,1%. Target nasional IMD tahun 2020 sebesar 54%. Untuk presentase provinsi jawa tengah sebesar 61,6% sudah memenuhi target nasional tetapi masih jauh dari target pencapaian IMD yaitu 100%. Jumlah persentase bayi baru lahir mendapat IMD di Kabupaten Temanggung tahun 2020 sebesar 87,68% dan pada tahun 2021 sebesar 89,05%. Perlunya perbaikan untuk mencapai IMD target tertinggi (Depkes. Mencermati berbagai kendala bahwa pelaksanaan inisiasi menyusui dini perlu membutuhkan pemantauan karena masih belum optimalnya komitmen manajemen rumah sakit maupun puskesmas dan melaksanakan IMD segera setelah bayi Terbukti pada praktiknya terdapat kesenjangan tenaga kesehatan yang tidak melakukan tindakan IMD. Maka perlu adanya pendekatan perawatan neonatal yang dilakukan secara komprehensif di fasilitas kesehatan dan pendidikan, agar ibu hamil tahu dan siap untuk melaksanakan inisiasi menyusui dini segera setelah melahirkan. Manfaat dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) bagi bayi dan ibu sangat besar. Hal ini termasuk menjaga bayi tetap terjaga . ase respon pertam. dan merangsang produksi oksitosin yang membantu mengeluarkan plasenta dan mencegah perdarahan pasca melahirkan. Bayi yang mendapat IMD dapat belajar merangsang putingnya sejak dini, sehingga menyusui sejak dini (Kaban n. , 2. Proses penting terjadi ketika bayi mulai meremas puting susu ibu, dengan tujuan untuk segera merangsang produksi dan keluarnya ASI. Menyusui satu jam setelah ibu melahirkan penting untuk daya tahan tubuh bayi dan proses ibu dalam menunjang kelancaran produksi ASI. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian pelaksanaan inisiasi menyusui dini (IMD) untuk mencapai keberhasilan menyusui yang efektif. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu metode obsevasi partisipatif, tindakan serta wawancara. responden penelitian adalah 2 ibu post partum normal yang memenuhi kriteria insklusi di wilayah puskesmas Kranggan untuk dilakukan tindakan inisiasi menyusui HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Penelitian ini menggunakan dua subjek studi kasus, pengkajian pada responden pertama yaitu Ny. Z dilakukan pada tanggal 13 Juli 2023 dan pengkajian pada responden kedua yaitu Ny. A dilakukan pada tanggal 23 Juli 2023. Hasil diuraikan pada tabel 1. Tabel 1. Hasil Karakteristik Responden Identitas ibu Usia Paritas Pendidikan Pekerjaan Dukungan Identitas Berat Jenis kelamin bayi Karakteristik responden Ny. Ny. 22 tahun 29 tahun Primipara Multipara SMA SMP Ibu rumah Ibu Suami Suami 3100 gram 2700 gram Laki-laki Perempuan Berdasarkan hasil pengkajian pada 1 bahwa kedua responden dengan kategori usia tidak berisiko yaitu 21-35 tahun, data paritis Ny. Z yaitu primipara Ny. pendidikan Ny. Z adalah SMA sedangkan pendidikan Ny. A adalah SMP. Pekerjaan dari kedua responden yaitu ibu rumah tangga dan selama proses persalinan kedua responden didampingi oleh suaminya. Bayi Ny. Z memiliki berat badan 3100 gram berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan bayi Ny. A memiliki berat badan 2700 gram berjenis kelamin perempuan. 132/85mmHg. Disimpulkan 96x/menit. sudah memenuhi kriteria untuk dilakukan tindakan inisiasi menyusui dini. Tabel 2. Data Subjek Studi Kasus Berdasarkan Kriteri Inklusi Fokus yang Post BBL >2500 Bayi menangis setelah lahir Tali pusat bayi Kondisi bayi Kondisi Ny. Ny. Identifikasi dilakukan bedasarkan pengkajian masalah keperawatan menyusui efektif, diuraikan pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Pengkajian Ibu Post Partum/Menyusui Hasil pengkajian data subjek studi kasus pada tabel 2 bahwa Ny. Z dan Ny. melahirkan bayi melalui vagina atau Bayi kedua responden lahir menandakan paru-paru bayi berfungsi dengan baik. Sesaat setelah bayi dilahirkan kemudian tali pusat bayi dipotong. Hasil Pengkajian Ibu Post Partum Apakah Apakah Apakah terdapat nyeri Apakah status emosional dan terhadap bayi Apakah Apakah kesehatan ibu Ny. Tidak Ny. Tidak E pemeriksaan bayi Ny. Z dan bayi Ny. dalam kondisi stabil dimana tidak terdapat usaha nafas berlebihan, tidak ada retraksi dinding dada, denyut nadi teraba, akral teraba hangat, suhu tubuh bayi normal. Kondisi pada Ny. Z stabil dengan tandatanda vital: suhu 37,3CC. RR 21x/menit. TD 128/75 mmHg, nadi 92x/menit dan Ny. A juga dalam kondisi stabil dengan 36,8CC, 20x/menit. Berdasarkan tabel diatas peneliti melakukan pemeriksaan dan wawancara dengan memberikan pernyataan sebagai Bentuk payudara ibu. Hasil pemeriksaan kedua responden menunjukan bentuk payudara normal AuYAAy dibuktikan pada kedua responden payudara membesar dan Ukuran payudara ibu. Hasil pemeriksaan dari kedua responden menunjukan ukuran payudara normal AuYAAy. AuYAAy karena klien merasa lebih tenang karena ini merupakan kehamilan anak kedua dan ASI sudah keluar. Terdapat nyeri tekan pada payudara. Saat dilakukan pemeriksaan responden pertama Ny. Z mengatakan AuTIDAKAy karena klien tidak merasa nyeri pada payudaranya. Pada responden kedua Ny. A mengatakan AuTIDAKAy karena klien tidak merasa nyeri atau ada benjolan pada payudaranya. Bagaimana putting ibu. Hasil pemeriksaan pada kedua responden yaitu Ny. Z dan Ny. A bahwa putting kedua responden menonjol AuYAAy. Status emosional dan respon ibu terhadap Responden Ny. mengatakan AuTIDAKAy karena merasa cemas dan belum banyak tahu tentang cara menyusui yang benar. Ny. Z mengatakan ini merupakan kehamilan yang pertama. Pada responden kedua Ny. A mengatakan Kondisi kesehatan ibu. Hasil pengkajian Ny. Z mengatakan AuYAAy karena klien mengatakan saat ini merasa sehat dan tidak memiliki riwayat DM dan hipertensi. Pada Ny. A mengatakan AuYAAy kerena klien merasa sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan. Tabel 4. Hasil Identifikasi Ibu Menyusui Efektif Batasan karakteristik Ibu merasa percaya diri selama proses menyusui Bayi melekat pada payudara ibu dengan benar Ibu mampu memposisikan bayi dengan benar Miksi bayi lebih dari 8 kali dalam 24 jam ASI menetes atau memancar Suplai ASI adekuat Bayi tidur setelah menyusui Payudara ibu kosong setelah menyusui Bayi tidak rewel setelah menyusu Hasil dari pengkajian masalah keperawatan pada tabel 4. bahwa Ny. Z dan Ny. A mengalami tanda dan gejala menyusui efektif. Evaluasi dilakukan setelah selesai inisiasi menyusui dini. Evaluasi terakhir pelaksanaan IMD pada Ny. Z dilakukan pada tanggal 13 Juli 2023 pada pukul Responden 1 Ny. Responden 2 Ny. Tidak E Tidak E 00 WIB selama 6 jam setelah Ny. Z melahirkan, sedangkan evaluasi terakhir pelaksanaan IMD pada Ny. dilakukan pada tanggal 26 Juli 2023 pada 00 WIB selama 6 jam setelah Ny. A melahirkan. Indikator hasil observasi tindakan kedua responden dijelaskan pada tabel 5. Tabel 5. Pencapaian Outcome Responden 1 Responden 2 Indator Evaluasi Jam- Jam- Jam- Jam- Jam- Jam1 Pelekatan bayi pada payudara ibu Kemampuan ibu memposisikan dengan benar Tetesan/pancaran ASI Suplai ASI adekuat Kepercayaan diri ibu Bayi tidur setelah menyusu Hisapan bayi Kelelahan maternal Kecemasan maternal Bayi rewel Keterangan skor: 5 . , 4 . ukup meningka. , 3 . , 2 . ukup menuru. , 1 . Berdasarkan tabel 5 pencapaian outcome dari dukungan pelaksanaan inisiasi menyusui dini menunjukan bahwa selama observasi 6 jam Ny. Z dan Ny. mengalami peningkatan dalam proses menyusui dengan hasil membaik pada kedua responden. PEMBAHASAN Faktor yang Mendukung Keberhasilan Inisiasi Menyusui Dini . Usia Usia seorang ibu sangat menentukan kesehatannya karena berkaitan dengan keadaan kehamilan, persalinan hingga masa nifas serta cara merawat dan menyusui bayi. Kelompok umur tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok umur ideal . -30 tahu. dan kelompok umur tidak ideal . urang dari 20 tahun dan lebih dari 30 tahu. Ibu yang berusia kurang dari 20 tahun dianggap belum dewasa dan belum siap secara fisik kehamilan, persalinan, dan menyusui. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun, produksi hormon relatif menurun sehingga menyebabkan penurunan sekresi ASI (Marshall et al, 2. Paritas Paritas kelahiran hidup yang dimiliki oleh ibu. Dalam penelitian Supiana dan Muliani . , faktor paritas ibu dalam pelaksanaan IMD sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan yang dimilikinya dimana ibu dengan jumlah anak lebih dari satu . lebih berpengalaman dibandingkan ibu yang baru pertama memiliki anak . Mengatakan bahwa semakin banyak jumlah paritas sebakin tinggi pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh. Pendidikan Pendidikan ibu yang rendah akan berpengaruh pada kurangnya kemampuan dasar berfikir untuk mengambil keputusan, khususnya pemberian ASI eksklusif dan pelaksanaan inisiasi menyusui dini (IMD) sehingga ibu melakukan upaya untuk bisa mempraktikannya (Astuti dkk, 2. Pekerjaan Pekerjaan ibu dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, ibu yang bekerja di luar rumah memiliki akses terhadap informasi mengenai ASI eksklusif. (Deslima et al. , 2. Dukungan suami Dukungan suami merupakan salah satu dukungan yang penting karena dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam proses pelaksanaan IMD (Roesli, 2008 dalam Dayati 2. Standar Operasional Opersional Inisiasi Menyusui Dini Tindakan inisiasi menyusui dini adalah membiarkan bayi mulai menyusu sendiri setelah lahir dengan cara kontak kulit antara ibu dan bayi selama 1 jam atau menyusu sampai selesai (Riyanti dkk. IMD keberhasilan pemberian ASI Eksklusif sampai 6 bulan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara IMD dan kelanjutan pemberian ASI. IMD adalah proses dimana bayi menyusu sendiri tanpa bantuan orang lain. Tali pusat bayi sudah dipotong, kemudian diletakkan di dada ibu dan dibiarkan menyusu dalam waktu satu jam setelah lahir. Pada jam-jam pertama setelah melahirkan, terjadi bertanggung jawab dalam produksi ASI (Kementerian Kesehatan RI, 2. Pelaksanaan IMD diberikan kepada bayi yang lahir cukup bulan. BBL >2500 gram, tali pusat sudah terpotong, kondisi ibu dan bayi sehat, dilakukan selama 30-60 menit segera setelah ibu melahirkan Tindakan diawali dengan mengucapkan salam, menjelaskan tujuan dan prosedur serta manfaat dari IMD. selama proses IMD, peneliti terus memantau terkait keberhasilan bayi menemukan putting ibu dan menyusu sampai selesai. Berberapa langkah yang diambil dalam pelaksanaan tindakan inisiasi menyusui dini dilakukan sesuai standar operasional prosedur (PPNI, 2. meliputi mengidentifikasi dan mengecek klien menggunakan minimal 2 identitas . ama lengkap, tanggal lahir, dan nomer rekam medi. , menjelaskan tujuan dan langkah prosedur, menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan pada proses tindakan inisiasi menyusui dini, melakukan kebersihan tangan 6 langkah dan berdoa, memeriksa tanda-tanda vital ibu dan bayi serta memastikan kepatenan jalan napas bayi, membuka pakaian bagian atas ibu, mengeringkan tubuh bayi dengan handuk dan letakkan bayi dengan posisi tengkurap untuk skin to skin diantara dua payudara dan kepala bayi dimiringkan kesalah satu sisi, memberikan selimut dan pasangkan penutup kepala bayi bertujuan agar bayi tidak mengalami hipotermia, membiarkan bayi menemukan putting dalam waktu 3060 menit, tunda semua asuhan bayi baru lahir sampai proses inisiasi menyusui dini Tujuan akhir dari tindakan inisiasi menyusui dini yang sudah diberikan, diharapkan responden mengetahui dengan keberhasilan menyusui efektif. Pencapaian Outcome Inisiasi Menyusui Dini di puskesmas Kranggan Penelitian yang dilaksanakan di puskesmas Kranggan kepada kedua responden yaitu Ny. Z dan Ny. A dengan masalah keperawatan menyusui efektif berhubungan dengan payudara membesar, alveoli mulai terisi ASI ditandai dengan bayi menyusu pada ibu meningkat, hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan inisiasi menyusui dini segera setelah bayi lahir dapat mendukung keberhasilan pemberian ASI. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Evarini dkk. berjudul Pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini dengan Keberhasilan Menyusui Bayi di BPM APRI Ogan Ilir yang menyatakan bahwa IMD merupakan proses menyusui pertama yang dilakukan ibu. Bayi harus disusui segera setelah 30 menit kelahirannya, bukan sekedar untuk mendapatkan nutrisi tetapi bayi belajar mempersiapkan diri untuk menyusu. Uji chi-square diperoleh p-value = 0,042 (>a 0,. artinya Ha diterima. Ho ditolak, terdapat hubungan signifikan antara dukungan IMD dalam keberhasilan pemberian ASI. Refleks menghisap bayi akan terlihat jelas pada 20 hingga 30 menit pertama, sehingga bila terjadi penundaan maka KESIMPULAN Intervensi menyusui dni pada bayi baru lahir dapat meningkatkan keberhasilan menyusui efektif dibuktikan dengan kedua responden yaitu ibu dan bayinya tercapai sesuai luaran keperawatan dengan didukung faktor-faktor yang mempengaruhi IMD seperti usia, paritas, pendidikan dan dukungan suami. SARAN Memaksimalkan upaya sosialisasi tentang inisiasi menyusui dini kepada masyarakat luas guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya inisiasi menyusui dini serta peran dari tenaga kesehatan diharapkan agar memfasilitasi tindakan inisiasi menyusui dini secara optimal kepada semua ibu post partum dengan kondisi kesehatan yang baik. DAFTAR PUSTAKA