Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Aplikasi Edible Coating Berbahan Dasar Umbi Singkong untuk Mutu dan Ketahanan Buah Cabai Merah terhadap Penyakit Antraknosa (Colletotrichum Sp. Oktavia Pupung Sari*1. Yulianty2. Enur Azizah3. Rochmah Agustrina4 1,2,3,4 Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lampung. Indonesia Email: 1sarioktaviapupung@gmail. Abstrak Buah cabai merah (Capsicum annuum L. ) merupakan komoditas hortikultura yang digunakan dalam berbagai industri pangan. Namun, buah cabai merah memiliki kelemahan berupa daya simpan yang pendek dan rentan terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Untuk mempertahankan mutu dan ketahanan buah cabai merah, penelitian ini mengaplikasikan edible coating berbahan dasar umbi singkong (Manihot esculenta Crant. , yang memiliki sifat elastis, biodegradable, serta mampu melindungi buah dari penguapan dan infeksi jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edible coating berbahan dasar umbi singkong terhadap mutu buah cabai merah dan menentukan konsentrasi yang optimal dalam meningkatkan mutu serta ketahanan cabai merah terhadap penyakit antraknosa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi edible coating . %, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%), masing-masing diulang empat kali. Parameter yang diamati meliputi tekstur buah, susut bobot, kejadian penyakit, masa inkubasi, keparahan penyakit, dan kepadatan konidia. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa edible coating berbahan dasar umbi singkong pada konsentrasi 3% memberikan hasil terbaik dalam memperpanjang masa inkubasi gejala penyakit, menghambat keparahan penyakit, menurunkan kepadatan konidia dan mempertahankan tekstur buah cabai merah selama penyimpanan 8 hari. Kata Kunci: Antraknosa. Capsicum Annuum L. Colletotrichum Sp. Edible Coating. Manihot Esculenta Crantz Abstract Red chili peppers (Capsicum annuum L. ) are a horticultural commodity widely used in various food industries. However, they have the drawback of a short shelf life and are highly susceptible to anthracnose disease caused by the fungus Colletotrichum sp. To enhance the quality and durability of red chili peppers, this study applied an edible coating derived from cassava tubers (Manihot esculenta Crant. , which is elastic, biodegradable, and capable of protecting the fruit from moisture loss and fungal infections. The research aimed to evaluate the effect of the cassava-based edible coating on the quality of red chili peppers and to determine the optimal concentration for improving their quality and resistance to anthracnose disease. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) with six different concentrations of the edible coating . %, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%), each replicated four times. Observed parameters included fruit texture, weight loss, disease incidence, incubation period, disease severity, and conidial density. Variance analysis results indicated that the cassava-based edible coating at a 3% concentration provided the best outcomes by extending the incubation period for disease symptoms, reducing disease severity and conidial density, and maintaining the texture of red chili peppers during an 8-day storage Keywords: Antraknosa. Capsicum Annuum L. Colletotrichum Sp. Edible Coating. Manihot Esculenta Crantz PENDAHULUAN Buah cabai merah (Capsicum annuum L. ) merupakan salah satu komoditas hortikultura di Indonesia yang memiliki berbagai manfaat, terutama sebagai bahan baku dalam industri pangan seperti saus, bumbu instan, hingga obat-obatan yang memanfaatkan kandungan capsaicin sebagai analgesik. Meskipun memiliki nilai ekonomi yang tinggi, buah cabai merah memiliki kelemahan berupa daya simpan yang pendek dan rentan terhadap serangan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Penyakit ini berkembang dengan cepat pada kondisi kelembapan tinggi, terutama Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 pada buah yang mengalami kerusakan, sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani dan pelaku usaha. Salah satu inovasi yang telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan edible coating, yaitu lapisan pelindung yang menggunakan bahan alami yang dapat memperpanjang umur simpan dan meningkatkan kualitas buah. Umbi singkong (Manihot esculenta Crant. , yang kaya akan pati dengan sifat elastis dan biodegradable, memiliki potensi untuk dijadikan bahan dasar edible Lapisan yang terbentuk dari bahan pati mampu melindungi permukaan buah cabai merah dengan cara mengurangi penguapan dan menghambat infeksi jamur, sehingga dapat mempertahankan kualitas buah selama penyimpanan. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan efektivitas edible coating berbahan dasar pati Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Kartini, et al. menunjukkan bahwa edible coating pati singkong berpengaruh sangat nyata terhadap karakteristik organoleptik, seperti warna, tekstur, aroma, dan rasa pada buah tomat. Selain itu, penelitian lain oleh Tarihoran, et al. menemukan bahwa kombinasi edible coating berbahan pati singkong dengan ekstrak lengkuas merah memberikan hasil terbaik dalam mengurangi susut bobot dan mempertahankan kualitas buah selama Namun belum ada penelitian yang secara khusus penggunaan edible coating berbahan dasar umbi singkong untuk meningkatkan mutu dan ketahanan buah cabai merah terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edible coating berbahan dasar umbi singkong terhadap mutu dan ketahanan buah cabai merah terhadap penyakit antraknosa serta menentukan konsentrasi optimal yang dapat memperpanjang daya simpan dan mempertahankan kualitas buah cabai merah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi edible coating umbi singkong . %, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%) masing-masing diulang sebanyak empat kali. Adapun tahapan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut. Persiapan Bahan Sampel buah cabai merah (Capsicum annuum L. ) dipilih berdasarkan keseragaman ukuran dan kematangan, lalu dibersihkan dengan alkohol dan ditimbang untuk mendapatkan bobot awal. Umbi singkong dikupas lalu dibersihkan kemudian diiris tipis setelah itu dioven pada suhu 40AC, lalu digiling hingga menjadi tepung halus. Isolat murni jamur Colletotrichum sp. diperoleh dari laboratorium Botani jurusan Biologi FMIPA UNILA dan diremajakan pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Pembuatan media PDA dilakukan dengan menghomogenkan 39 gram media PDA ke dalam 1000 ml akuades steril, selanjudnya media PDA dituang pada labu erlenmayer dan disterilisasi ke dalam autoclave dengan tekanan 1 atm pada suhu 121AC. Pembuatan Edible Coating Pembuatan edible coating dilakukan dengan menghomogenkan 100 ml aquades dengan simplisia umbi singkong dengan konsentrasi yang diinginkan, mulai dari . %-5% ) . Carboxymethyl Cellulose (CMC) 1 gram dilarutkan dalam 100 ml aquades untuk membuat konsentrasi 1%. Gliserol 1 ml ditambahkan dengan aquades 99 ml untuk didapatkan konsentrasi 1%. Semua larutan tersebut diambil masing-masing 20 ml kemudian dihomogenkan. Inokulasi Jamur Colletotrichum sp. Jamur Colletotrichum sp. diencerkan sampai mendapatkan konsentrasi 1,2x105 konidia/ml kemudian disemprotkan pada permukaan buah cabai merah sampai basah . un-of. yang telah dilapisi edible coating, kemudian diinkubasi selama 8 hari untuk dilakukan pengamatan. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Parameter Pengamatan Masa Inkubasi Masa inkubasi diamati untuk mengetahui awal munculnya gejala penyakit setelah cabai merah diinokulasi dengan jamur Colletotrichum sp. yang diamati setiap hari sampai gejala pertama muncul pada semua perlakuan. Pengamatan terhadap buah cabai merah yang telah diinokulasi dilakukan setiap hari selama 8 hari (Adhni et al. , 2. Kejadian Penyakit Kejadian penyakit merupakan banyaknya buah cabai merah yang terserang penyakit dibandingkan dengan jumlah buah cabai merah yang diamati. Kejadian penyakit dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Megasari, 2. ycu yaycE = ycA y 100% . Keterangan: KP = Kejadian Penyakit (%) n = Jumlah buah cabai merah yang memperlihatkan gejala N = Jumlah buah cabai merah yang diamati Keparahan Penyakit Keparahan serangan Colletotrichum sp. yang terjadi dapat dihitung berdasarkan skor luas bercak, lalu diidentifikasi berdasarkan kriteria ketahanan tanaman pada suatu penyakit, presentase keparahan penyakit dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Megasari, 2. cu ycu ycO) yaycE = y 100% Keterangan: ycsycuycA KP = Keparahan Penyakit n = Jumlah buah cabai merah pada setiap kelas bercak V = Nilai skor pada setiap kelas bercak N = Jumlah buah cabai merah yang diamati Z = Nilai skor kelas luas bercak yang tertinggal Penentuan kategori keparahan penyakit diterapkan melalui skoring yang dilakukan secara kualitatif sebagai berikut: Tabel. 1 Skoring Presentase Bercak Buah Cabai Merah (Capsicum annuum L. Skor Persentase Bercak Tanpa serangan Bagian buah yang terserang mencapai > 10-20 % Bagian buah yang terserang mencapai > 21-30 % Bagian buah yang terserang mencapai > 31-40 % Bagian buah yang terserang mencapai > 41-50 % Bagian buah yang terserang mencapai > 50 % (Sumber: Megasari, 2. Susut Bobot Buah Perubahan bobot buah cabai merah pada saat sebelum diberi perlakuan samapai sudah diberi perlakuan yaitu dengan masa inkubasi 8 hari (Khamidah et al. , 2. Presentase susust bobot buah dihitung dengan rumus sebagai berikut ycIyaA = Keterangan : SB = Susut Bobot Ba = Berat Awal Bb = Berat Akhir yaACaOeyaAyca yaACa Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Tekstur Pengamatan tekstur dilakukan berdasarkan metode skoring yang telah dimodifikasi (Budi& Mardiana, 2. Penentuan kategori tekstur cabai merah diterapkan menggunakan metode skoring sebagai berikut. Tabel 2. Skala Pengukuran Tekstur Buah Cabai Merah (Capsicum annuum L. Skala Pengamatan Tekstur Tidak berkerut Sedikit berkerut Cukup berkerut Berkerut Sangat berkerut (Sumber: Budi& Mardiana, 2. Kepadatan Konidia Perhitungan konidia jamur pada buah cabai merah dilakukan dengan mengambil bagian cabai yang terinfeksi jamur Colletotrichum sp. , kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah dengan akuades sampai 10 ml, kemudia divortex setelah itu diambil sebanyak satu tetes lalu diletakan ke haemocytometer dan di tutup cover glass, kepadatan konidia diamati menggunakan mikroskop dan dihitung jumlah konidia yang terlihat (Devy et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan aplikasi edible coating berbahan dasar umbi singkong (Manihot esculenta Crant. untuk meningkatkan mutu dan ketahanan buah cabai merah (Capsicum annuum L. ) terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Data yang diperoleh meliputi awal muncul gejala, tingkat keparahan penyakit, susut bobot buah, tekstur buah, dan jumlah koloni jamur. Masa Inkubasi Masa inkubasi penyakit antraknosa pada buah cabai merah diamati sampai munculnya gejala awal seperti pembentukan lesi yang sedikit cekung berwarna coklat, bintik-bintik hitam yang dapat meluas samapi menutupi sebagain besar permukaan buah (Nurjasmi&Suryani, 2. Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa edible coating berbahan dasar umbi singkong mempengaruhi waktu awal munculnya gejala infeksi jamur Colletotrichum sp. Tabel 3. menunjukkan rata-rata waktu awal munculnya gejala. Tabel 3. Rerata awal masa inkubasi pada buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Masa Inkubasi 4,000ab 5,000a 3,000ab 5,000a 1,750b 1,500b 2,4495 1,1547 1,1547 0,0000 1,5000 0,5774 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Gejala awal infeksi penyakit antraknosa jamur Colletotrichum sp. pada buah cabai merah (Capsicum annuum L. ) dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Pengamatan awal muncul gejala infeksi jamur Colletotrichum sp. pada buah cabai merah (Capsicum annuum L. (Sumber: Olah Dokumentasi Penulis, 2. Tabel 1. menunjukan gejala muncul paling cepat pada konsentrasi 4% (E) yaitu pada hari ke-1, sedangkan waktu kemunculan terlama adalah pada konsentrasi 3% (D) yaitu pada hari ke-4. Berdasarkan Gambar 1. pengamatan awal muncul gejala infeksi penyakit antraknosa jamur Colletotrichum sp. paling sedikit ditunjukan pada perlakuan dengan konsentrasi 1% (B) dan 3% (D). Buah cabai merah dengan perlakuan konsentrasi tersebut terlihat sedikit bercak atau lesi pada kulit buah cabai merah. Sedangkan, awal muncul gejala paling banyak terdapat pada perlakuan konsentrasi 5%(F). Buah cabai merah dengan perlakuan konsentrasi tersebut terlihat banyak bercak atau lesi. Bercak-bercak tersebut cenderung lebih besar dan lebih dalam serta kulit buah cabai merah terlihat lebih kasar. Konsentrasi 3% (D) terbukti paling efektif dalam memperlambat munculnya gejala infeksi jamur yang dapat disebabkan oleh perlindungan edible coating terhadap penetrasi patogen. Sebaliknya, konsentrasi 4% (E) menunjukkan gejala lebih cepat, kemungkinan stres fisiologis pada jaringan buah cabai merah akibat gangguan pertukaran gas yang disebabkan oleh edible coating terlalu tebal. Penemuan ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Henra et al. menentukan optimasi konsentrasi pelapis penting untuk hasil maksimal. Menurut Johanes & Haedar . konsentrasi edible coating yang berlebihan dapat menciptakan kondisi anaerob, meningkatkan kerusakan jaringan, dan membuat buah lebih rentan terhadap infeksi jamur. Kejadian Penyakit Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edible coating memberikan pengaruh nyata terhadap kejadian penyakit antraknosa pada buah cabai merah. Rata-rata kejadian penyakit ditampilkan pada Tabel 4. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Tabel 4. Rerata kejadia penyakit antraknosa jamur Colletotrichum sp. terhadap buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Kejadian Penyakit (%) 2,988a 1,561a 2,269a 1,452a 2,622a 1,806a 0,3455 0,9251 0,8065 0,7073 0,2178 0,8167 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 4. menunjukan bahwa pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong memberikan pengaruh terhadap kejadian penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. pada buah cabai merah. Pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong terbukti berpengaruh terhadap kejadian penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. pada buah cabai merah. Konsentrasi 3% (D) menghasilkan nilai kejadian penyakit terendah yaitu . menunjukkan perlindungan fisik yang efektif terhadap permukaan buah cabai Sebaliknya, kontrol tanpa edible coating menunjukkan kejadian penyakit tertinggi yaitu . Edible coating ini diduga membatasi kontak langsung antara patogen dan kulit buah, sehingga mencegah infeksi lebih lanjut. Selain memberikan perlindungan fisik edible coating pada konsentrasi optimal juga melindungi metabolit sekunder cabai merah, seperti fenol dan flavonoid, yang berfungsi sebagai antimikroba alami. Menurut Habibah et al. , senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas patogen, termasuk Colletotrichum sp. , dengan menjaga stabilitasnya dari oksidasi atau degradasi akibat kontak dengan patogen. Kombinasi perlindungan fisik dari edible coating dan peningkatan efektivitas senyawa bioaktif memperkuat pertahanan alami cabai merah terhadap infeksi. Penelitian Henra et al. mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa edible coating pati singkong dengan ekstrak jahe merah efektif menghambat pertumbuhan Aspergillus flavus pada cabai merah dan memperpanjang umur simpan hingga 9 hari. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Sumanti et al. , . menunjukan edible coating pati singkong dengan oleoresin daun kemangi juga mampu memperpanjang umur simpan buah jambu air dengan menghambat pertumbuhan Keparahan Penyakit Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong memberikan pengaruh nyata terhadap keparahan penyakit antraknosa. Tabel 5. menunjukkan rata-rata tingkat keparahan penyakit. Tabel 5. Rerata keparahan penyakit antraknosa jamur Colletotrichum sp. pada buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Keparahan Penyakit (%) 2,573a 1,763ab 0,2248 0,5276 Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 1,930ab 1,270b 2,267a 1,592ab 0,5950 0,3419 0,4161 0,6218 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Berdasarkan hasil penelitian pada (Tabel 5. ) edible coating berbahan dasar umbi singkong memberikan pengaruh signifikan terhadap keparahan penyakit. Konsentrasi 3% (D) menunjukkan tingkat keparahan terendah sebesar 1,270%, berbeda nyata dengan perlakuan lain. Efektivitas ini diduga berasal dari senyawa antijamur seperti fenol, flavonoid, dan HCN dalam umbi singkong. Fenol berperan sebagai antioksidan yang dapat merusak membran sel jamur dan menghambat pertumbuhannya dengan cara mengurangi ketersediaan nutrisi (Andriyani et al. , 2. Flavonoid, meskipun jarang diteliti pada umbi singkong, diyakini memiliki potensi sebagai agen antimikroba dengan cara mengganggu metabolisme jamur (Dewi et al. , 2. Selain itu, adanya kandungan senyawa HCN . sam sianid. dalam umbi singkong menambah efektivitas edible coating. HCN mampu merusak dinding sel dan menurunkan aktivitas metabolisme jamur, yang pada akhirnya menyebabkan kematian patogen (Indrajanto & Istiqomah 2. Susut Bobot Buah Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edible coating tidak memberikan pengaruh nyata terhadap susut bobot buah cabai merah. Rata-rata susut bobot buah ditampilkan pada Tabel 6. Tabel 6. Rerata susut bobot buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Susut Bobot Buah % 44,000 37,165 35,333 47,168 46,250 47,668 11,7021 9,2143 10,7388 11,5518 6,2260 4,8168 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Hasil analisis ragam (Tabel 7. ) menunjukkan bahwa pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong tidak memberikan pengaruh penyusutan bobot buah cabai merah. Hal ini terjadi diduga karena pelapis alami belum optimal terhadap menghambat laju transpirasi dan respirasi, sehingga tidak Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 mampu sepenuhnya menutup epidermis. Akibatnya, uap air tetap keluar dengan mudah, dan pelapis juga tidak sepenuhnya membatasi difusi gas, sehingga memungkinkan oksigen masuk ke dalam buah cabai merah dan respirasi tetap berlangsung Jika transpirasi dan respirasi berlangsung tanpa hambatan, kadar air dalam buah cabai merah akan menurun secara signifikan, yang pada akhirnya menyebabkan susut bobot pada buah cabai merah. Kedua faktor ini menyebabkan mekanisme transpirasi dan respirasi tidak terhambat secara signifikan, yang pada akhirnya tidak adanya perbedaan nyata dalam susut bobot antara perlakuan dan kontrol. Penggunaan edible coating perlu disesuaikan dengan sifat fisiologi buah, sebab edible coating yang terlalu tebal dapat memicu respirasi anaerob yang mempercepat pembusukan (Karimullah & Handarini, 2. , sementara konsentrasi yang terlalu rendah tidak efektif dalam membatasi difusi gas (Iqbal, 2. Formulasi dan optimasi pelapis diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap kualitas cabai merah selama penyimpanan. Tekstur Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong memberikan pengaruh nyata terhadap tekstur buah cabai mera. Tabel 7. rata-rata tekstur buah cabai merah. Tabel 7. Rerata tekstur buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Tekstur Buah 3,250ab 3,583ab 3,165ab 3,750a 3,670 a 3,000b AA 0,3203 0,5006 0,1905 0,3203 0,0000 0,0000 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Edible coating berfungsi menghambat respirasi dan transpirasi, memperlambat pelunakan tekstur pada buah cabai merah. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 7. edible coating pada konsentrasi 5% dapat membentuk lapisan optimal yang memperlambat proses oksidasi pektin, menjaga kadar air dalam sel buah cabai merah, dan mencegah pelunakan tekstur. Penelitian yang menunjukan hasil yang sama dilakukan oleh Henra, et al. edible coating pati singkong dengan tambahan ekstrak jahe merah mampu memperpanjang masa simpan hingga 9 hari dengan mempertahankan tekstur lebih lama. Jumlah Konidia Hasil analisis ragam dengan = 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edible coating berbahan dasar umbi singkong memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah konidia Colletotrichum sp. pada buah cabai Tabel 8. menunjukkan rata-rata jumlah konidia. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Tabel 8. Rerata kepadatan konidia jamur Colletotrichum sp. terhadap buah cabai merah (Capsicum annuum L. Perlakuan Kepadatan Konidia(%) 6,001 5,389 4,277 1,849 5,314 2,901 0,3901 0,4717 2,6619 3,0952 0,2251 3,0060 (Sumber: Olah Data Penulis, 2. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ 0. A = Kontrol (Tanpa Pemberian Simplisia Umbi Singkon. B = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 1% C = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 2% D = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 3% E = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 4% F = Konsentrasi edible coating Umbi Singkong 5% Tabel 8. edible coating umbi singkong tidak efektif dalam menekan jumlah konidia. Hal ini diduga karena edible coating berbahan dasar umbi singkong bekerja dengan membentuk lapisan tipis yang mengurangi kontak langsung antara spora jamur dan permukaan buah cabai merah, sehingga menghambat penetrasi dan penyebaran infeksi patogen. Namun, senyawa bioaktif dalam pati singkong, seperti flavonoid, fenol, dan HCN, belum cukup efektif untuk menekan jumlah konidia Colletotrichum Penelitian Henra . menunjukkan bahwa penambahan ekstrak jahe merah, yang kaya senyawa antijamur, secara signifikan mampu menekan koloni jamur pada cabai merah. Dengan demikian, edible coating dari pati singkong memerlukan tambahan bahan dengan senyawa antijamur tinggi untuk meningkatkan efektivitasnya. KESIMPULAN Pemberian edible coating berbahan dasar pati singkong (Manihot esculenta Crant. terbukti memberikan pengaruh dalam meningkatkan mutu cabai merah (Capsicum annum L. ), konsentrasi 3% memberikan hasil terbaik dalam memperpanjang masa inkubasi, menghambat kejadian penyakit dan menurunkan tingkat keparahan penyakit antraknosa jamur Colletotrichum sp. Selain itu, edible coating ini juga efektif dalam mempertahankan tekstur buah cabai merah selama penyimpanan hingga 8 hari. DAFTAR PUSTAKA