Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Kajian Semiotik. The Expression of Abstinence in the Bugis Society of Simbur Naik Village. East Tanjung Jabung Regency (Semiotics Stud. Eka Syamsiah1. Irma Suryani2. Sovia Wulandari3 1,2,3 program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi ekasamsiah@gmail. com, rimas@gmail. com, soviaw@gmail. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Diterima: 5 Mei 2022 Direvisi: 18 Juli 2011 Disetujui: 15 Agustus 2022 Keywords Kata Kunci Semiotika Makna Pantang Larang Suku Bugis ABSTRAK Abstract This study aims to determine the meaning of the expression of abstinence from the Bugis community in Simbur Naik Village. Tanjung Jabung Timur Regency. The method in this research is descriptive with a qualitative approach. Then the data used are in the form of abstinence expressions spoken/spoken by the informants and become the object of research. Data were obtained from two informants. The techniques used to obtain data in two ways, namely: interviews and recording techniques. Then the data obtained were analyzed using Roland Barthes' semiotic theory regarding rational and irrational meanings. The results of this study are the rational and irrational meanings in the expression of abstinence obtained from informants as many as 42 pieces of abstinence expressions in the Bugis community of Simbur Naik Village which are categorized into three categories, namely: . Thirteen data on abstinence expressions as a thickening of religious emotions or beliefs, . Thirteen data on abstinence expressions as a means of educating children and adolescents, and . Sixteen data on abstinence expressions as a means of coercion and control so that community norms will always be obeyed by their collective members. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna ungkapan pantang larang masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Metode dalam penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kemudian data yang diujarkan/dituturkan oleh informan dan menjadi objek Data diperoleh dari dua informan. Adapun teknik yang digunakan untuk memperoleh data melalui dua cara yaitu: wawancara dan teknik rekam. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes mengenai makna rasional dan irasional. Hasil dari penelitian ini merupakan Makna rasional dan irasiona dalam ungkapan Pantang Larang yang diperoleh dari informan sebanyak 42 buah ungkapan pantang larang dalam masyarakat Bugis Desa Simbur Naik yang dikategorikan sebagai tiga kategori yaitu: . Tiga belas data ungkapan pantang larang sebagai penebal emosi Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x keagamaan atau kepercayaan, . Tiga belas data ungkapan pantang larang sebagai sebagai alat pendidikan anak dan remaja, dan . Enam belas data ungkapan pantang larang sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Pendahuluan Masyarakat Bugis di Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki berbagai keanekaragaman tradisi dan budaya, salah satu diantaranya yaitu pantang larang. Junaidi Syam . alam Nurmalina 2015: . menyatakan pantang larang merupakan suatu perbuatan yang dilarang untuk dilakukan, apabila dilanggar dipercayai akan membuat pelakunya mendapatkan petaka. Pantang larang semakin hari, semakin tergeser eksistensinya dalam kehidupan generasi muda masyarakat Bugis Di Desa Simbur Naik. Hal ini terjadi akibat pemikiran generasi muda yang berkembang jadi pemikiran modern. Mereka beranggapan bahwa Pantang larang dengan gaya tuturan yang berisi ancaman telah sangat kuno serta ketinggalan era yang terkesan hanya menakut-nakuti, tidak masuk akal, serta tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Pantang larang mempunyai daya tarik untuk diteliti sebab berisi sesuatu ujaran yang pendek satu hingga 2 baris. Selain makna dalam pantang larang juga terdapat fungsi, adapun Fungsi dari ungkapan pantang larang yaitu sebagai penebal emosi keagamaan atau kepercayaan. Menurut Danadjaja . 7: 169. pantang larang dapat di klasifikasikan berdasarkan fungsi atau dikategorikan sebagai . penebal emosi keagamaan dan kepercayaan, . sebagai sistem proyeksi khayalan, . sebagai alat pendidikan anak atau remaja, . sebagai penjelasan, dan . untuk menghibur orang yang mengalami musibah. Adapun hal-hal lain yang akan menguatkan penelitian ini dilihat dari penelitian relavan mengenai pantang larang. Pertama penelitian Utari . dengan judul AuMakna Mitos Ujaran Larangan Orang Tua/Pemali Di Desa Tiru Kidul Kecamatan Guruh Kabupaten Kediri, yang kedua penelitian Annisa, dkk. yang berjudul Pemali Dalam Masyarakat Etnik Banjar di Kota Samarinda: Suatu Tinjauan Semiotika dan ketiga penelitian yang dilakukan oleh Adung, . dengan judul Pemali Dalam Budaya Etnik Manggarai Nusa Tenggara Timur Di Samarinda: Tinjauan Semiotika namun, pantang larang secara umum dipahami oleh masyarakat sebagai pantangan. Hal ini sesuai dengan ungkapan (Mulkan, 2008:. bahwa pantang larang merupakan sebuah larangan untuk melakukan atau mengucapkan sesuatu hal buruk yang akan berdampak bagi diri sendiri dan lingkungan. Selanjutnya, penelitian mengenai ungkapan melayu Jambi seperti. Afria, dkk . Warni, dkk . , dan Kusmana, dkk . Pantang larang erat kaitannya dengan foklor, menurut Danandjaja . alam Zulfadhli, 2014: . foklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, foklor dapat dimaksudkan sebagai aktivitas manusia berkenaan dengan mitologi (Mito. , legenda, cerita Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x rakyat, dll. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa foklor adalah sebagian kebudayaan yang tersebar dan diwariskan secara turuntemurun yang memuat sebuah pesan-pesan dan diwariskan oleh generasi Brunvad . alam Zulfadhli, 2014: . , mengelompokkan foklor atas tiga bentuk kelompok. Pertama, foklor lisan, kedua foklor sebagian lisan, dan ketiga foklor bukan lisan. Dalam hal ini penelitian mengenai pantang larang termasuk ke dalam kelompok ke dua yaitu foklor sebagian lisan. Foklor sebagian lisan adalah foklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Pantang larang atau pemali selalu dikaitkan dengan keselamatan, kesehatan, rezeki, dan jodoh. Pada dasarnya pola pikir suatu masyarakat tidak dapat diubah. sebab itu, dengan adanya penelitian mengenai pantang larang dapat memberikan suatu pemahaman bahwa terdapat suatu makna di balik pantang larang yang jarang diketahui oleh khalayak umum. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Roland Barthes . alam Sobur, 2017: . Barthes melihat makna yang bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial yang arbitrer atau sesuatu yang dianggap alamiah. untuk mengetahui suatu makna dalam pantang larang masyarakat Bugis Di Desa Simbur Naik maka peneliti menggunakan kajian semiotika Roland Barthes mengenai makna rasional dan irasional. Adapun kajian tersebut tentu akan memudahkan memastikan konsep untuk menyatakan makna dan kebenaran dalam mitos pantang larang. Jadi, fenomena inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk melakukan penelitian tentang AuUngkapan Pantang Larang dalam Masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur Kajian SemiotikaAy serta sebagai salah satu upaya dalam melestarikan sekaligus mengapresiasi sastra lisan yang terdapat di masyarakat Bugis Desa Simbur Naik. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pada umumnya rancangan penelitian sastra lisan menggunakan rancangan penelitian kualitatif (Sulistyorini. Andalas: 2017:. Jenis penelitian kualitiatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata dari objek yang diamati, serta dapat dipahami bahwa pada penelitian kualitatif dapat digunakan untuk mendeskripsikan masalah sosial, budaya maupun sastra lisan (Moeleong, 2017:. Sedangkan metode deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan, memaparkan, atau menggambarkan kata-kata, frasa atau kalimat dari objek yang diteliti. Hal ini sejalan dengan pendapat (Moeleong 2017:. yang mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode pemecahan masalah dengan menggambarkan atau mendeskripsikan keadaan objek penelitian sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Hasil dan Pembahasan Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari 2 narasumber, di dapatkanlah Empat Puluh Dua teks ungkapan pantang larang masyarakat Bugis di Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Hasil penelitian ini berhubungan dengan rumusan masalah penelitian yang dijelaskan pada awal Berikut hasil penelitian: Makna Rasional dan Irasional dalam Ungkapan Pantang Larang Masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur Denawedding datelengeng posaAoe di pareAoe pakna matu bosi rajawi Artinya: Tidak boleh menenggelamkan kucing di sungai nanti akibatnya akan hujan deras. Makna rasional: Kucing . merupakan hewan yang berbulu dan berkaki empat serta hewan kesukaan nabi. Karena termasuk hewan kesukaan nabi, masyarakat Desa Simbur Naik mempercayai bahwa Posa (Kucin. dapat mendatangkan suatu rezeki jika hewan tersebut dipelihara dengan baik. Begitupun sebaliknya, jika tidak dipelihara dengan baik ataupun menganiaya Kucing maka akan mendatangkan hal yang buruk seperti hujan deras. Karena merupakan hewan kesukaan nabi orang zaman dahulu mempercayai jika merawat kucing dengan baik maka akan mendatangkan hal yang baik pula, tapi sebaliknya jika menyiksa hewan tersebut maka hal buruk akan datang, dengan adanya kepercayaan tersebut maka dibuatlah pantang larang diatas agar tidak ada lagi penyiksaan terhadap hewan serta memperlakukan hewan secara layak. Makna irasional: Masyarakat desa Simbur Naik mempercayai bahwa membuang kucing kesungai akan mendatangkan hujan deras. Sungai merupakan tempat yang memiliki air melimpah dengan membuang kucing kesungai akan mendatangkan hujan deras, karena sama sama berhubungan dengan air maka dari itu masyarakt mempercayai ungkapan tersebut. Hal tersebut tentu sangat tidak masuk akal, membuang kucing ke sungai akan mengakibatkan kucing tersebut akan mati. Hujan deras akan datang tergantung dengan perkiraan cuaca buruk atau tidak, dan terdapat bulan-bulan tertentu yang akan mendatangkan hujan. akan tetapi dengan adanya ungkapan tersebut mengajarkan bahwa hewan haruslah disayangi dan dipelihara sehingga manusia tidak lagi semena-mena membuang kucing dan memperlakukannya dengan baik. Esso Selasa dewedding diola, pakna naseng tomatuaAoe riolo esso selasa esso makarame maderiki nakenna bala. Artinya: Tidak boleh melakukan pekerjaan apapun itu di hari selasa, karna menurut orang tua dahulu hari selasa merupakan hari keramat dan sering akan terkena bahaya. Makna rasional: Ungkapan tersebut dibuat agar mengarahkan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan secara gotong royong. Dengan Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x adanya sistem gotong royong tersebut dapat saling membantu dan memudahkan serta meringankan pekerjaan agar dapat selesai dengan cepat. Dengan adanya sistem tersebut juga dapat memperat tali silaturahmi satu sama Makna Irasional: Hari selasa merupakan hari yang tidak baik untuk melakukan suatu pekerjaan bercocok tanam seperti, menanam sawit, padi, pinang, kelapa dll di hari selasa, karena hari selasa berhubungan dengan kata . Jika bercocok tanam di hari tersebut akan mengakibatkan tanaman yang di tanam akan penyakitan yang mengakibatkan gagal panen. Menurut kepercayaan orang zaman dahulu jika ingin memulai bercocok tanam maka cari hari yang baik sehingga pada saat panen akan menghasilkan hasil yang melimpah, begitupun sebaliknya jika dimulai dengan hari yang buruk akan mengakibatkan gagal panen. Pada saat ingin memulai sesuatu seperti bercocok tanam masyarakat Bugis mempunyai kepercayaan seperti menentukan tanggal, bulan dan hari yang baik untuk memulai sesuatu pekerjaan terutama dalam hal bercocok tanam sehingga sangat dipantangkan bagi seseorang memulai sesuatu pekerjaan di hari selasa tersebut karena merupakan hal yang tidak Ungkapan pantang larang diatas dibuat agar masyarakat Bugis mencari hari, bulan ataupun tanggal yang baik agar sesuatu yang dimulai atau ditanam mendapatkan hasil yang baik pula. Akko makgalungi denawedding buang wae pella akko tanahAoe masolang matu asewe. Artinya: Jika kita hendak bertani seperti menanam padi tidak boleh membuang air panas ke tanah nanti padi akan rusak. Makna Rasional: Apabila seseorang hendak bertani . seperti menanam padi . attaneng as. tidak boleh membuang air panas . ae pell. ke tanah karna akan mengakibatkan padi yang ditanam mengalami kerusakan . Itulah sebabnya pada saat masyarakat Bugis Desa Simbur Naik hendak menanam padi tidak diperbolehkan membuang air sembarangan terutama air panas. Pada saat zaman dahulu rumah terbuat dari kayu dengan panggung yang tinggi, dan di bawah kolong rumah tersebut ditaruh barangbarang hasil panen seperti padi dan beras, apabila membuang air panas secara sembarangan akan membuat barang yang ditaruh dikolong rumah akan terkena sehingga hasil panen dan beras yang susah payah ditanam akan rusak. Ungkapan tersebut dibuat agar masyarakat tidak membuang-buang air secara sembarangan apalagi air panas, ditakutkan ketika membuang air panas ada seseorang yang lewat sehingga mengenai dan membuat orang tersebut terluka dan hasil panen yang susah payah ditanam tidak bisa dinikmati karena mengalami kerusakan. Makna irasional: Masyarakat desa Simbur Naik percaya bahwa jika seseorang hendak bertani maka sangat tidak diperbolehkan membuang air panas di tanah nanti padi akan rusak, akan tetapi padi rusak disebabkan terkena serangan hama, air masin, banjir, kekeringan dan juga kurangnya Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x perawatan seperti diberika pupuk dan diberi racun hama terhadap tanaman Akko mangaribiwi deneddingki mandre nasabak mangundang binatang. Artinya: Tidak boleh makan di saat magrib nanti mengundang binatang. Makna rasional: Pada saat waktu magrib . ettu mangarib. dilarang untuk makan karena dipercayai akan mengundang binatang. waktu magrib bukan lagi digunakan untuk makan akan tetapi pada saat waktu magrib tiba digunakan untuk bersiap-siap melakukan sholat magrib. Ungkapan tersebut mengajarkan ungtuk menggunakan waktu dengan tepat dan semestinya. Jika pada saat waktu magrib tiba hendaknya di gunakan untuk mendengarkan kumandang adzan dan bersiap-siap untuk melakukan sholat magrib dan Setelah waktu magrib selesai baru diperbolehkan untuk makan malam dan tentunya jika makanan tersebut dimakan secara perlahan tidak terburu-buru maka akan terasa lebih nikmat. Makna irasional: Dipercaya bahwa makan disaat waktu magrib akan mengundang binatang. Ungkapan tersebut mengajarkan bagaimana menggunakan waktu sesuai dengan kegunaannya, karena pada saat waktu magrib digunakan untuk hal yang baik yaitu melaksanakan sholat. Dengan adanya ungkapan pantang larang diatas mengajarkan bagaimana seseorang dapat menggunakan waktunya dengan baik dengan penyampaian yang terkesan menakut-nakuti sehingga hal tersebut tidak lagi dilakukan secara berulang-ulang. Denedding minung sambil tettong malampektu matuAo barangmu. Artinya: Tidak boleh minum sambil berdiri nanti kemaluanmu panjang. Makna rasional: Pada saat minum . tidak boleh sambil berdiri . , jika minum sambil berdiri akan mengakibatkan barang kemaluannya akan panjang . minum sambil berdiri akan mengakibatkan kemaluannya menjadi panjang, dalam ajaran agama islam dianjurkan untuk mencontoh tata cara nabi seperti minum dan makan, jikan ingin minum dan makan sebaiknya duduk terlebih dahulu jangan dilakukan sambil berdiri. Jika minum atau makan sambil berdiri ditakutkan minuman atau makanan tersebut tumpah dan mengenai seseorang. Hal tersebut merupakan tindakan yang tidak sopan sehingga orang akan beranggapan bahwa anaknya tidak diajarkan sopan santun oleh orangtuanya. Makna irasional: Minum sambil berdiri akan mengakibatkan kemaluan seseorang menjadi panjang. Ungkapan tersebut dibuat untuk menakut-nakuti dan mengajarkan tentang kesopansantunan, agar hal yang kurang baik tidak dilakukan secara berulang-ulang. Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Klasifikasi Berdasarkan Fungsi dalam Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pantang larang sebagai bagian dari tradisi sebagian lisan yang berkembang di Masyarakat Bugis Di Desa Simbur Naik, memiliki beberapa fungsi berdasarkan pemaknaan pantang larang itu sendiri. Menurut Dandjaja . 7:169-. pantang larang dapat dikategorikan sebagai . penebal emosi keagamaan dan kepercayaan, . sebagai sistem proyeksi khayalan, . sebagai alat pendidikan anak atau remaja, . sebagai penjelasan, dan . untuk menghibur orang yang sedang mengalami musibah. Terdapat tiga belas data ungkapan pantang larang masyarakat Bugis di Desa Simbur Naik yang berfungsi sebagai penebal emosi keagamaan dan kepercayaan, tiga belas ungkapan pantang larang yang berfungsi sebagai alat pendidikan anak dan remaja, dan enam belas ungkapan pantang larang yang berfungsi sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi. Seperti pada data pantang larang berikut: Esso selasa dewedding diola, pakna naseng tomatuaAoe riolo esso selasa esso makarame maderiki nakenna bala. Artinya: Tidak boleh melakukan pekerjaan apapun itu dihari selasa, karena menurut orang tua dahulu hari selasa merupakan hari keramat dan sering terkena bahaya. Data pantang larang di atas menurut kepercayaan dalam masyarakat Bugis Desa Simbur Naik memiliki fungsi sebagai penebal emosi keagamaan atau Dengan adanya pantang larang tersebut memberikan pengetahuan bagi masyarakat bahwa setiap apapun yang akan dilakukan hendaknya memilih hari, tanggal ataupun bulan yang baik jika ingin memulai pekerjaan seperti bercocok tanam sehingga pada saat panen akan menghasilkan hasil yang melimpah. Hal tersebut dipercayai oleh masyarakat Bugis dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga sampai saat ini, mereka percaya jika memulai sesuatu dengan yang baik maka akan mendapatkan hasil yang baik pula. Data ungkapan pantang larang lainnya yang memiliki fungsi sebagai penebal emosi keagamaan atau kepercayaan ditemukan pada data antara lain: , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . Fungsi ungkapan pantang larang selanjutnya yaitu sebagai alat pendidik anak atau remaja. Terdapat tiga belas ungkapan pantang larang dalam masyarakat Bugis Desa Simbur Naik sebagai alat pendidik anak atau remaja. Berikut data sebagai fungsi alat pendidik yaitu: Denedding anak dara motok tangasso deknadapakko jodoh Artinya: Anak gadis tidak boleh bangun siang nanti tidak dapat jodoh. Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Ungkapan pantang larang di atas memiliki fungsi sebagai alat pendidik anak atau remaja. Dengan adanya ungkapan atau kepercayaan masyarakat tersebut memberikan pembelajaran bagi anak terutama seorang gadis agar tidak bangun terlalu siang dan bangun lebih awal sehingga pekerjaan mereka dapat terselesaikan dengan cepat dan tidak menulur-ngulur waktu, bangun terlalu siang juga tidak baik untuk kesehatan tubuh. Data ungkapan pantang larang lainnya yang memiliki fungsi sebagai alat pendidik anak atau remaja ditemukan pada data antara lain: . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . Fungsi ungkapan pantang larang selanjutnya dalam masyarakat Bugis Desa Simbur Naik sebagai alat pemaksa dan pengawas. Berikut data sebagai alat pemaksa dan pengawas sebagai berikut: Denawedding anak lolo di perek akko sumpange maderik nakenna aselengeng ananakAoe Artinya: Anak bayi tidak boleh di ayun di dekat pintu nanti anak akan terkena kaget-kaget. Ungkapan pantang larang di atas memiliki fungsi sebagai alat pemaksa dan pengawas. Dengan adanya ungkapan tersebut masyarakat tidak lagi melakukan hal yang dilarang secara berulang-ulang. Anak bayi sebaiknya di ayun ditempat yang lebih aman bukan di ayu ditempat yang rawan seperti di depan pintu. Karena pintu merupakan tempat orang berlalu lalang dengan mengayun anak bayi di depan pintu akan membuat si bayi dan orang yang berlalu lalang merasa tidak nyaman. Terlebih lagi jika seseorang memiliki rumah yang dekat dengan jalan yang ramai dilalaui kendaraan, tentu hal tersebut tidak baik dan ditakutkan suara kendaraan yang lewat membuat bayi merasa kaget. Sehingga tidak baik untuk kesehatan dan kenyamanan si bayi. Data ungkapan pantang larang lainnya yang memiliki fungsi sebagai alat pemaksa dan pengawas ditemukan pada data antara lain: . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . Pembahasan Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori semiotika Roland Barthes yang membahas mengenai makna rasional dan irasional dalam ungkapan pantang larang dalam masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pantang larang termasuk ke dalam bentuk folklor sebagian lisan, yang dalam pengertiannya merupakan salah satu kepercayaan rakyat. Sama halnya dengan pantang larang atau biasa disebut dengan pemali yang merupakan suatu kepercayaan rakyat yang masih ada sampai saat ini dan masih diterapkan oleh masyarakat Bugis Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Selanjutnya, penelitian relavan yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian relavan oleh Asih Rianingsih . yang berjudul AuMakna Tuturan Pantang Larang dalam Masyarakat Minang Daerah Eka Syamsiah. Irma Suryani. Sovia Wulandari: Ungkapan Pantang Larang dalam Masyarakat A. Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Ujungbatu Kabupaten Rokan HuluAy. Dalam penelitian tersebut menggunakan kajian folklor dalam tuturan pantang larang. tujuan kajian ini untuk mendeskripsikan makna referensial pada tuturan larangan yang berada di daerah Ujungbatu. Adapun ungkapan yang ditemukan pada ungkapan pantang larang pada masyarakat minang sebagai penebal emosi keagamaan, sebagai pendidikan anak dan sebagai alat pengawas. adapun perbedaan dalam penelitian relavan dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak dalam hasil pendeskripsiannya, penelitisn relavan mendeskripsikan makna referensial sedangkan penelitian ini mendeskripsikan makna rasional dan irasional dalam ungkapan pantang larang masyarakat Bugis desa Simbur Naik. Makna rasional dan irasional dalam pantang larang berfungsi untuk memberikan pembenaran dan mengetahui makna yang terdapat dalam pantang larang tersebut. Adapun pengertian makna rasional berarti berfikir secara logis dan dapat diterima oleh akal sehat manusia. Sebaliknya, irasional adalah cara berfikir yang tidak logis dan cenderung tidak mampu dicerna oleh akal sehat. dengan adanya penelitian ini yang menjelaskan makna rasional dan irasional diharapkan mampu memberikan pembenaran mengenai makna yang terdapat dalam ungkapan pantang larang sehingga masyarakat terkhusus generasi muda tidak lagi menganggap pantang larang sebagai hal yang tabu, akan tetapi di dalam ungkapan pantang larang tersebut terdapat nilai serta norma-norma yang dijadikan acuan masyarakat untuk mengatur anak-anaknya agar lebih Simpulan Dari uraian temuan hasil dan pembahasan penelitian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pantang larang memiliki makna Makna yang dapat ditemukan dalam ungakapan pantang larang masyarakat Bugis Desa Simbur Naik dapat dilihat menggunakan kajian semiotika Roland Barthes mengenai makna rasional dan irasional. memperoleh empat puluh dua buah ungkapan pantang larang di Desa Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Data tersebut merupakan data yang diperoleh peneliti berdasarkan informasi dari informan. Selanjutnya dalam klasifikasi berdasarkan fungsi ungkapan pantang larang masyarakat Bugis di Desa Simbur Naik dikategorikan sebagai . penebal emosi keagamaan atau kepercayaan berjumlah tiga belas buah ungkapan pantang larang, . sebagai alat pendidikan anak dan remaja berjumlah tiga belas buah ungkapan pantang larang, dan . sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya berjumlah enam belas buah ungkapan pantang larang. Daftar Pustaka