Volume 8. No. Desember 2025, pp. DOI : ISSN : 2721-8023 . ISSN : - . KORELASI POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT Angger Widorotama1*. Myrza Akbari2. Julio Roberto3. Nanda Alfian Mahardhika4 1,2,3 Universitas Samudra. Dhien. Langsa Lama. Kota Langsa. Indonesia Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Samarinda. Indonesia widorotama11@unsam. id,2 myrza. ab@unsam. id ,3 julioroberto@unsam. id,4 nam791@umkt. *corresponding author : angger. widorotama11@unsam. ARTICLE INFO Article history Received :15 November 2025 Revised :25 November 2025 Accepted :30 November 2025 Keywords Leg Muscle Power Speed Tendangan Sabit Pencak Silat ABSTRACT This study aims to determine the correlation between leg muscle power and the speed of the pencak silat kick. This study is a descriptive correlational study using a cross-sectional approach to find the relationship between independent and dependent variables. The factors linked are leg muscle power, measured using the standing board jump test, and the speed of the sabit kick, measured using the 10-second kick speed test. This study used a sample from the Pencak Silat Club of Jenderal Soedirman University, taken using purposive sampling, consisting of 33 people. The data analysis technique used normality tests, linearity tests, and homogeneity tests, as well as hypothesis testing using the product moment correlation formula. The results of the study showed that there was a significant relationship between leg muscle power and right crescent kick speed with a correlation value of 0. The conclusion of this study states that the stronger the power or explosive force of the leg muscles possessed by athletes, the faster their ability to perform crescent This is an open access article under the CCAeBY-SA license. ABSTRAK Kata kunci Power Otot Tungkai Kecepatan Tendangan Pencak Silat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit pencak silat. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM Pencak Silat Universitas Jenderal Soedirman diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. Kesimpulan dalam penelitian ini menyatakan bahwa semakin kuat power atau daya ledak otot tungkai yang dimiliki atlet, maka semakin cepat pula kemampuan atlet dalam melakukan tendangan sabit. Artikel ini open akses sesuai dengan lisesni CCAeBY-SA PENDAHULUAN Seni bela diri telah lama ada dan berkembang dari masa ke masa, dalam perkembangannya manusia tidak dapat lepas dari kegiatan fisiknya, kapan pun dan di manapun. Hal inilah yang akan memacu aktivitas fisiknya sepanjang waktu dan terus berkembang. Salah satu seni bela diri yang berkembang di Negara ASEAN terdapat di Malaysia. Indonesia. Thailand dan Brunei adalah pencak silat (Lubis & Wardoyo, 2. Pencak Silat merupakan salah satu jenis olahraga beladiri yang asli berasal dari Indonesia. Seiring perkembangan zaman pencak silat mulai dipertandingkan dalam kejuaraan baik tingkat daerah, nasional maupun Kejuaraan tersebut juga dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari proses pelatihan yang dilakukan dalam suatu klub atau Ada beberapa aspek yang perlu dilatih kepada seorang pesilat agar dapat memungkinkan pesilat mencapai prestasi maksimal yaitu latihan fisik, latihan teknik, latihan taktik dan latihan mental (Nabila et al. , 2. Dalam pertandingan pencak silat dibutuhkan kondisi fisik yang baik untuk menunjang performa atlet dalam pertandingan. Kondisi fisik merupakan aspek yang perlu diperhatikan agar mendapat hasil maksimal dalam pencapaian prestasi (Nohan & Wahyudi, 2. Kondisi fisik merupakan syarat yang sangat diperlukan oleh seorang atlet dalam meningkatkan prestasi olahraga dan menjadi landasan awal untuk meraih prestasi tersebut. Kondisi fisik adalah persyaratan yang sangat penting untuk dimiliki oleh atlet dalam meningkatkan prestasi olahraga, sehingga kondisi fisiknya harus sesuai dengan kebutuhan setiap cabang olahraga yang dikuasai oleh atlet tersebut. Adapun tujuan peningkatan kondisi fisik tersebut yakni untuk membantu atlet dalam memperoleh hasil maksimal dari semua kemampuan fisik mereka dengan menciptakan kondisi fisik yang sesuai dengan kebutuhan (Zola Septian & Jarmiko. Kondisi fisik memiliki beberapa unsur yang perlu dikuasai oleh setiap individu terutama untuk atlet agar mampumeraih prestasi yang ingin dicapainya. Di bidang olahraga, untuk mencapai suatu prestasi yang tinggi diperlukan persiapan terpadu dan berkesinambungan dalam berbagai unsur fisik dan teknik. Komponen yang terkait dengan kondisi fisik tersebut meliputi kekuatan otot, daya tahan, daya ledak, kecepatan,kelenturan, koordinasi, keseimbangan, ketepatan, dan reaksi tubuh (Akbar & Rizki, 2. Kondisi fisik sangat menentukan gerak dasar silat, tanpa kondisi fisik yang memadai, pesilat tidak dapat menguasai gerak dasar silat seperti menendang, pukulan, hindaran dan gerak lainnya dengan efektif. Menurut (Lubis & Wardoyo, 2. gerak dasar pencak silat adalah suatu gerak terencana, terarah, terkoordinasi dan terkendali yang mempunyai empat aspek sebagai satu kesatuan, yaitu aspek mental spiritual, bela diri, olahraga dan seni budaya. Pencak silat merupakan beladiri yang memerlukan keterampilan dalam penguasaan teknik- teknik dasar, baik Teknik memukul, menendang, tangkisan, teknik dasar bantingan dan teknik dasar hindaran yang digunakan dalam kategori Tanding maupun seni tunggal, ganda dan regu (Sumarsono et , 2. Menurut (Notosoedjitno, 1. , kategori tanding adalah pertandingan yang dilaksanakan oleh 2 orang pesilat secara saling berhadapan dari sudut merah dan biru menggunakan unsur serangan dan belaan berdasarkan kaidah bertanding. Kaidah bertanding merupakan aturan dan pedoman bagi pesilat untuk mencapai prestasi Teknik dengan mengembangkan pola bertanding yang di mulai dari sikap pasang, hingga langkah dalam melakukan serangan. (Widorotama et al. , 2. mengatakan teknik yang sering digunakan dalam kategori tanding adalah teknik tendangan karena tendangan merupakan teknik yang efektif dalam memperoleh poin, dimana tendangan memiliki 2 poin di bandingkan dengan pukulan yang mempunyai 1 poin, selain mendapatkan poin yang besar, serangan tendangan menghasilkan kekuatan yang lebih besar dari pukulan. Menurut Sutiyono dalam Mahardhika . serangan merupakan suatu usaha pembelaan diri yang menggunakan tangan atau tungkai untuk mengenai sasaran tertentu terhadap lawan, salah satu jenis tendangan yang sering dipakai dalam pertandingan untuk mengungguli lawannya adalah tendangan sabit. Tendangan sabit bisa disebut juga dengan tendangan C karena posisi badan yang meliuk mengikuti ayunan dari tungkai kaki hingga ujung kaki dengan sasaran punggung kaki. Proses gerakan tendangan sabit dalam olahraga pencak silat dilakukan dengan gerakan pola gerak yang tidak terputus sehingga menjadi suatu rangkaian gerakan yang utuh yaitu mulai dari posisi kuda-kuda, memiringkan badan, mengangkat kaki dengan menendang setinggi lutut dengan sasaran puggung kaki dan meluruskan tungkai dengan gerakan cepat untuk mencapai sasaran pada bagian tubuh lawan. Apabila proses gerakan pencak silat dilakukan dengan tersendat-sendat dan tidak teratur maka dapat mengurangi kelincahan seorang atlet yang melakukan serangan, sehingga sangat mudah untuk ditangkis ataupun ditangkap oleh lawan. Untuk menghasilkan kecepatan bergerak yang cepat diperlukan power otot tungkai gerak kaki sebagai daya dorong untuk membantu gerakan tungkai pada saat melakukan ayunan (Harliawan & Darminto, 2. Seorang atlet pencak silat memerlukan kondisi fisik yang tinggi dalam melakukan tendangan sabit dalam pertandingan. Power atau daya eksplosif merupakan hasil penggabungan dari dua komponen biomotor yaitu kecepatan . dan kekuatan . Di setiap cabang olahraga power merupakan komponen yang sangat penting untuk menunjang performa, karena power akan menentukan hasil gerak yang baik. melakukan aktifitas yang berat terutama gerakan pencak silat karena dapat menentukan seberapa kuat orang dapat memukul atau menendang. Menurut (Kurnia Akmal et al. , 2. dari hasil penelitianya, menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara daya ledak otot tungkai dengan kemampuan tendangan sabit. Daya ledak atau power adalah kemampuan tubuh yang memungkinkan otot atau sekelompok otot untuk bekerja secara eksplotif. Daya ledak otot tungkai melambangkan komposisi dua ketangguhan, kekuatan. dan kecepatan . , dimana keduanya secara maksimal bekerja dalam waktu yang sangat cepat dan singkat. Hal ini sejalan dengan pernyatan (Arimbi, 2. daya ledak ialah kombinasi dari kecepatan maksimal dan kekuatan maksimal. Artinya daya ledak otot dapat dilihat dari hasil suatu unjuk kerja yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan dan kecepatan. Power otot tungkai bisa dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. Selain power otot tungkai, panjang tungkai juga dapat berfungsi sebagai penunjang dalam melakukan tendangan sabit. Pengembangan komponen kondisi fisik sangat diperlukan dalam melakukan tendangan sabit diantaranya adalah power otot tungkai (Katiandagho & Saiman, 2. Selama latihan, kegiatan pelatihan atau kompetisi, salah satu teknik tendangan yang umum digunakan oleh setiap pesilat adalah tendangan sabit atau tendangan T. Karena sering digunakan, lawan sering mengantisipasi teknik ini dengan strategi seperti teknik grappling dan lemparan (Chaniago & Hariyanto, 2018. Khambali, 2. Oleh karena itu, penguasaan teknik dasar sangat penting untuk mendapatkan hasil tendangan yang baik. Keterampilan dalam teknik dasar menjadi faktor kunci dalam mencapai kesuksesan. Selain penguasaan teknik dasar yang baik, latihan kecepatan juga penting bagi atlet pencak silat. Menurut (Liberta Loviana Carolin et al. , 2. kecepatan adalah kemampuan untuk menggerakkan tubuh dari satu posisi ke posisi lain dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tendangan harus dilakukan dengan cepat karena proses yang lambat memudahkan lawan untuk menangkap tendangan, yang kemudian dapat diikuti dengan teknik grappling dan manuver berikutnya (Sutopo & Misno, 2. Berdasarkan observasi peneliti dari fenomena yang terjadi di lapangan dan informasi dari pelatih diperoleh keterangan sebagian besar siswa belum maksimal dalam pelaksanaan teknik dasar tendangan, terutama tendangan sabit. Hal ini dapat dilihat ketika siswa tersebut melakukan tendangan tidak disertai dengan sikap pasang atau kuda-kuda yang kokoh sehingga tendangan yang dihasilkan tidak tepat pada sasaran, koordinasi gerak dalam melakukan tendangan tersebut tidak luwes karena kurangnya kelentukkan mahasiswa, kurangnya keseimbangan menyebabkan siswa mudah jatuh ketika tendangannya dapat diantisipasi oleh Kurangnya power siswa dapat dilihat dari tendangan yang dihasilkan tidak keras dan tidak cepat sehingga tendangan tersebut dengan mudah ditangkap oleh lawan. Kekuatan siswa dalam melakukan tendangan tersebut tidak kelihatan karena ketika tendangan dilakukan tendangan tersebut tidak tepat pada sasaran dan tidak keras. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti korelasi power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit pada cabang olahraga pencak silat. METODE Penelitian ini berjenis analisis deskriptif dengan mamakai pendekatan kuantitatif. Hal tersebut dikarenakan analisis datanya memakai data kuantitatif yang akan diolah dengan menggunakan rumus statistik diskripsi sederhana. Selanjutnya dikatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan bentuk penelitian yang dipakai untuk mendiskripsikan munculnya beberapa fenomena, dari fenomena yang alami maupun fenomena ciptaan manusia yang meliputi aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Zellatifanny & Mudjiyanto, 2. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai dan panjang tungkai terhadap kecepatan tendangan sabit pencak silat dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dengan pendekatan cross sectional adalah penelitian yang dilakukan dengan mengobservasi satu kali dalam waktu tertentu (Setia. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang aktif latihan UKM Merpati Putih. UKM PSHT dan UKM Olahraga Prestasi di UNSOED yang berjumlah 60 orang. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 mahasiswa dengan pertimbangan sudah mengikuti latihan pencak silat lebih dari 1 tahun, tidak merokok dan bersedia menjadi responden. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini pengambilan data power otot tungkai diambil dari hasil tes standing board jump dan data kecepatan tendangan sabit diambil dari tes melakukan tendangan sabit kanan-kiri dalam waktu 10 detik. Power Otot Tungkai Instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur power tungkai adalah standing board jump (Widiastuti, 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Castro-Piyero et al. , 2. menunjukkan bahwa standing board jump (SBJ) merupakan tes yang sederhana, dapat diandalkan, dan efektif untuk mengukur kekuatan otot tubuh bagian bawah. Berikut adalah norma yang dipakai untuk standing board jump: Tabel. 1 Norma Standing Board Jump Ketagori Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang Poor Very Poor Putra Putri > 250 241 Ae 250 231 Ae 240 221 Ae 230 211 Ae 220 191 Ae 210 < 191 > 200 191 Ae 200 181 Ae 190 171 Ae 180 161 Ae 170 141 Ae 160 < 141 Sumber. (Widiastuti, 2. Pelaksanakan tes dilakukan dengan cara, testee melakukan persiapan loncatan dengan berdiri di atas garis awalan dan tidak boleh melewati batas, kemudian lutut ditekuk hingga membentuk sudut 450 kedua lengan lurus ke belakang dan meloncat sejauh mungkin dengan menggunakan kedua kaki serta mendarat dengan kedua kaki bersama-sama, data yang diambil adalah hasil loncatan terjauh setelah melakukan dua kali kesempatan (Nurhasan & Cholil. Kecepatan Tendangan Sabit Tes yang digunakan untuk mengukur kecepatan tendangan sabit kanan di cabang olahraga pencak silat adalah melakukan tendangan sabit sebanyak mungkin dalam waktu 10 Berikut norma penailaian kecepatan tendangan sabit: Tabel 2. Norma Tes Kecepatan Tendangan Sabit Ketagori Putri Putra Baik Sekali > 24 > 25 Baik 19 Ae 23 20 Ae 24 Cukup 16 Ae 18 17 Ae 19 Kurang 13 Ae 15 Kurang Sekali < 12 Sumber. : (Lubis & Wardoyo, 2. 15 Ae 16 < 14 Petunjuk Pelaksanaan Tes Kecepatan Tendangan Pencak Silat : Atlet bersiapsiap berdiri di belakang Handbox/Sandsack dengan satu kaki tumpu berada dibelakang garis sejauh 60 cm secara horisontal dengan ketinggian Handbox/sandsack 100 cm. Pada saat peluit berbunyi, atlet melakukan tendangan dengan kaki kanan dan kaki kiri sebagai tumpuan dengan posisi awal menyentuh lantai yang berada dibelakang garis, kemudian melanjutkan tendangan kanan-kiri secepat-cepatnya dan sebanyakbanyaknya selama 10 detik. Skor berdasarkan hasil tendangan selama 10 detik. Petugas : pengukur ketinggian Handbox/sandsack dan jarak antara Handbox/Sandsack dengan . pencatat jumlah tendangan . penjaga handbox . Stopwatch Analisis Data Uji Normalitas Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui data penelitian terdistribusi secara normal atau tidak. Menurut (Sugiyono, 2. untuk melakukan uji normalitas data dalam penelitian menggunakan analisis Saphiro Wilk. Data terdistribusi normal apabila signifikasi atau probabilitas lebih besar dari 0,05 . >0,. Uji Linearitas Uji Linearitas dilakukan untuk membuktikan variabel bebas mempunyai hubungan yang linear dengan variabel terikat. Ketentuan mengenai linearitas variabel bebas dan variabel terikat pada program SPSS diduga ada hubungan linear antara kedua variabel yang akan diuji dengan metode Analisis varians apabila nilai Fhitung 250 241 Ae 250 231 Ae 240 221 Ae 230 211 Ae 220 191 Ae 210 < 191 Jumlah Frekuensi Presentase 27,27 % 18,18 % 18,18 % 4,54 % 4,54 % 22,73 % 4,54 % Dari hasil tersebut anggota putra UKM Pencak Silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori baik sekali . iatas 250 c. berjumlah 6 orang dengan nilai persentase sebesar 27,27 %, anggota putra UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori baik . cm - 250 c. berjumlah 4 orang dengan persentase sebesar 18,18 %, anggota putra UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori cukup . cmAe240 c. berjumlah 4 orang dengan persentase sebesar 18,18 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori sedang . cm - 230 c. berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 4,54 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori kurang . cm Ae 220 c. berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 4,54 %, anggota putra UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori poor . cm Ae 210 c. berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 22,73 %, dan anggota putra UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori very poor . ibawah 191 c. berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 4,54 %. Berdasarkan tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan nilai tengah sebesar 239 cm, terdapat anggota putra yang memiliki kemampuan diatas rata-rata sebanyak 13 orang dan jumlah anggota putra yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata berjumlah 9 orang. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Power Otot Tungkai Putri Ketagori Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang Poor Very Poor Interval . > 200 191 Ae 200 181 Ae 190 171 Ae 180 161 Ae 170 141 Ae 160 < 141 Jumlah Frekuensi Presentase 18,18 % 18,18 % 45,46 % 9,09 % 9,09 % Dari hasil tersebut anggota putri UKM Pencak Silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori baik sekali . iatas 200 c. tidak ada dengan persentase 0 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori baik . cm - 200 c. berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 18,18 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori cukup . cmAe190 c. berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 18,18 %, anggota putri UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori sedang . cm - 180 c. berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 45,46 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori kurang . cm Ae 170 c. berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 9,09 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori poor . cm Ae160 c. berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 9,09 %, dan anggota putra UKM Pencak Silat yang memiliki kemampuan power otot tungkai dengan kategori very poor . ibawah 141 c. tidak ada dengan persentase sebesar 0 %. Berdasarkan tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan nilai tengah sebesar 178 cm, terdapat mahasiswa putri yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dengan jumlah sebanyak 4 orang, jumlah anggota putri yang sesuai dengan rata-rata dengan jumlah sebanyak 2 orang dan jumlah mahasiswa putri yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata berjumlah 5 orang. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kecepatan Tendangan sabit Putra Ketagori Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali Interval . > 25 20 Ae 24 17 Ae 24 13 Ae 16 < 12 Jumlah Frekuensi Presentase 27,27 % 59,59 % 13,64 % Dari data tabel diatas didapatkan tabel deskripsi hasil penelitian disajikan dalam distribusi frekuensi dengan kelas sebagai berikut : baik sekali . , baik . - . , cukup . Ae. , kurang . Ae . , kurang sekali . Dari hasil tersebut anggota putra peserta UKM pencak silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori baik sekali berjumlah 6 orang dengan persentase sebesar 27,27 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori baik berjumlah 13 orang dengan persentase sebesar 59,09 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori cukup berjumlah 3 orang dengan persentase sebesar 13,64 %, anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori kurang tidak ada dengan persentase 0 % dan anggota putra UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori kurang sekali tidak ada dengan persentase 0 %. Berdasarkan tabel diatas ditarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan nilai tengah sebesar 23, terdapat anggota putra yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dengan jumlah sebanyak 8 anggota, terdapat anggota putra yang memiliki kemampuan yang sama dengan rata-rata dengan jumlah sebanyak 4 anggota dan jumlah anggota putra yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata berjumlah 10 anggota. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat anggota putra yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori kurang maupun kurang sekali dan ada anggota putra UKM pencak silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan kategori baik sekali, baik dan cukup. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kecepatan Tendangan Sabit Putri Ketagori Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali Interval . > 24 19 Ae 24 16 Ae 18 13 Ae 15 < 12 Jumlah Frekuensi Presentase 18,19 % 54,54 % 27,27 % Dari data tabel diatas didapatkan tabel deskripsi hasil penelitian disajikan dalam distribusi frekuensi dengan kelas sebagai berikut : baik sekali . , baik . - . , cukup . Ae. , kurang . - . , kurang sekali . Dari hasil tersebut anggota putri peserta UKM pencak silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori baik sekali berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 18,19 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori baik berjumlah 6 orang dengan persentase sebesar 54,54 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori cukup berjumlah 3 orang dengan persentase sebesar 27,27 %, anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori kurang tidak ada dengan persentase 0 % dan anggota putri UKM pencak silat yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan dengan kategori kurang sekali tidak ada dengan persentase 0 %. Berdasarkan tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan nilai tengah sebesar 21, terdapat anggota putri yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dengan jumlah sebanyak 5 anggota, terdapat anggota putri yang memiliki kemampuan yang sama dengan rata-rata dengan jumlah sebanyak 1 anggota dan anggota putri yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata berjumlah 5 anggota. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat anggota putri yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit dengan kategori kurang maupun kurang sekali dan ada anggota putri UKM pencak silat Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki kemampuan kecepatan tendangan sabit kanan kategori baik sekali, baik dan Uji Normalitas Pengujian normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang di analisis bersifat normal atau tidak (Sugiyono, 2. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Saphiro Wilk. Menurut Suliyanto . uji normalitas menggunakan uji statistik Saphiro Wilk merupakan uji normalitas menggunakan fungsi distribusi kumulatif. Nilai residual terstandarisasi berdistrubusi normal jika Sig > alpha. Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Variabel Asyimp. Sig. Alpha Keterangan Standardized Residual Normal Berdasarkan tabel tersebut, diketahui nilai uji normalitas yang didapat pada penelitian ini dengan nilai sig . lebih besar dari alpha . Sehingga dapat dikatakan data terdistribusi normal pada penelitian ini. Uji Linieritas Teknik dalam uji linieritas dalam penelitian ini menggunakan metode analisis varians (Anov. (Misbahuddin dan Hasan, 2. Tujuan pengujian linieritas adalah untuk mengetahui hubungan antara variable bebas dan variabel terikat bersifat linier atau tidak (Sugiyono, 2. Dikatakan linier apabila kriteria linieritas Fhitung