Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. : Januari - Juni 2025 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Penggunaan Smartphone Sebelum Tidur dan Durasi Tidur Remaja: Studi Deskriptif Smartphone Use Before Bedtime and Its Impact on Adolescents Sleep Duration Bagas Syahfikri Pratama1*. Nova Fajri2. Inda Mariana Harahap2 Mahasiswa Program Studi Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh Bagian Keilmuan Keperawatan Anak. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh *Email: bagastama2411@gmail. ABSTRAK Penggunaan smartphone di kalangan remaja terus meningkat, yang dapat berdampak pada durasi tidur mereka. Padahal, idealnya remaja membutuhkan tidur selama 7-8 jam setiap malam. Tujuan penelitian ini ialah untuk memberikan gambaran tentang pola penggunaan smartphone oleh remaja sebelum tidur serta durasi tidur yang mereka capai. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 168 siswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,8% responden menggunakan smartphone sebelum tidur, dengan 41,7% di antaranya memiliki durasi tidur yang tidak ideal. Mayoritas responden dengan durasi tidur tidak ideal . ,3%) menggunakan smartphone sebelum tidur, dengan paparan cahaya biru dan stimulasi otak menjadi faktor utama gangguan ritme sirkadian. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur terhadap gangguan durasi dan kualitas tidur pada remaja, sehingga diperlukan edukasi mengenai manajemen penggunaannya untuk meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan tidur. Kata Kunci: Durasi Tidur. Remaja. Smartphone ABSTRACT Smartphone usage among adolescents continues to rise, potentially impacting their sleep duration. Ideally, adolescents require 7Ae8 hours of sleep each night. This study aims to describe the patterns of smartphone use before bedtime and the sleep duration achieved by adolescents. A descriptive quantitative design with a cross-sectional approach was employed, involving 168 students selected through total sampling. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and analyzed descriptively. The results showed that 85. of respondents used smartphones before bedtime, with 41. 7% experiencing inadequate sleep duration. Among respondents with inadequate sleep duration, the Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 majority . 3%) used smartphones before sleeping, with blue light exposure and brain stimulation identified as major factors disrupting circadian rhythms. These findings indicate that pre-sleep smartphone use significantly contributes to disruptions in sleep duration and quality among adolescents, highlighting the need for education on responsible smartphone usage to mitigate its negative effects on sleep health. Keyword: Adolescents. Smartphones. Sleep Duration PENDAHULUAN Tidur merupakan kegiatan yang dapat memulihkan fisik, mental, dan mendukung kesehatan secara keseluruhan, termasuk keseimbangan hormon, mempertahankan kekebalan tubuh dan suasana hati. Namun, untuk memenuhi fungsinya, tidur harus memiliki kualitas yang baik. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas tidur ialah durasi tidur. Durasi tidur yang cukup dapat memberikan efek positif, seperti merasa segar, memiliki pandangan hidup yang lebih positif, serta memperbaiki hubungan seseorang, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Sebaliknya, konsekuensi dari durasi tidur yang tidak memenuhi rekomendasi secara umum dapat mengakibatkan kelelahan, disfungsi di siang hari, respons kognitif yang lambat, bahkan perasaan tidak puas akan diri seseorang (Nelson et al. , 2. Namun, durasi tidur yang sesuai rekomendasi sering kali sulit dicapai, terutama pada remaja, yang menghadapi berbagai tantangan dan kebiasaan tidur yang tidak ideal. Fitriana & Prabowo . , melaporkan bahwa rerata waktu tidur remaja di Indonesia hanyalah 6,67 jam per hari, sedangkan menurut Kemenkes . , durasi yang direkomendasikan ialah 7-8 jam per hari. Salah satu penyebab utama durasi tidur yang tidak ideal pada remaja, yang telah terbukti signifikan secara statistik . < 0,. ialah kecanduan smartphone (Nugroho & Natalya, 2. Pada 2025, jumlah pengguna smartphone di dunia mencapai 7,5 miliar orang, dengan rata-rata remaja menghabiskan sekitar 8 jam, atau 33% waktu mereka dalam satu hari dengan menggunakan smartphone (Shin , 2. Intensitas penggunaan smartphone sebelum tidur pada remaja di Indonesia juga terbilang tinggi, yaitu sebanyak 61,2% remaja menggunakan smartphone lebih dari 35 menit sebelum tidur, dan 58,8% di antaranya mengalami gejala insomnia (Nugroho & Natalya, 2. Pada remaja, kelompok umur 12 tahun sampai 15 tahun lebih sering memiliki durasi tidur yang tidak ideal dibandingkan kelompok remaja akhir. Intensitas paparan cahaya biru yang terjadi saat remaja berinteraksi dengan layar smartphone, baik saat menggunakan media sosial, berbelanja online, maupun bermain game, dapat mengganggu irama sirkadian (Putra dkk. , 2. Remaja yang aktif menggunakan ponsel di mana perempuan cenderung bertukar pesan di media sosial dan laki-laki lebih banyak menonton serial atau bermain game online cenderung memiliki durasi tidur yang tidak ideal (Illingworth, 2. Selain itu, tingginya tekanan akademik dan tuntutan sekolah yang sering kali menyebabkan stres, dan tren mengonsumsi minuman berkafein pada remaja, terutama di sore atau malam hari, turut berkontribusi terhadap menurunnya durasi tidur di kalangan remaja (Gandaputra dkk. , 2. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 Durasi tidur yang tidak ideal dapat menyebabkan dampak negatif yang signifikan terhadap suasana hati remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Short et al . , menunjukkan bahwa kurang tidur berhubungan dengan peningkatan risiko defisit mood, termasuk peningkatan depresi, kecemasan, kemarahan, dan afek negatif, serta penurunan afek positif. Namun tidur yang tidak memadai, baik terlalu singkat maupun terlampau lama merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yang jika ditangani dengan baik, dapat mengurangi kemungkinan akan gangguan psikologi di kalangan remaja. Selain masalah psikologi, durasi tidur yang tidak sesuai rekomendasi juga berdampak negatif pada kesehatan remaja, termasuk gangguan emosional, kegagalan akademis, penyalahgunaan zat, dan kecelakaan saat berkendara. Dua pertiga siswa di kelas 9-12 melaporkan tidur kurang dari 7 jam pada malam sekolah, yang merupakan masalah kesehatan serius. Selain itu, variabilitas dalam durasi tidur juga dapat menyebabkan peningkatan stres, penurunan kesejahteraan subjektif, dan berhubungan dengan masalah kesehatan kronis, seperti peningkatan kadar protein C-reaktif yang merupakan biomarker peradangan (Baker et al. Penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai jenis kelamin, interaksi dengan smartphone sebelum tidur, dan durasi tidur pada Hal ini sangat relevan untuk dibahas karena perilaku tidur remaja banyak dipengaruhi oleh penggunaan teknologi, terutama smartphone. Pada 2024, sebanyak 80% pengguna smartphone di Indonesia adalah remaja, dengan terdapat hubungan positif antara penggunaan smartphone dengan rendahnya self-esteem, kecemasan, dan gangguan emosi (Sajidah dkk. , 2. Dengan memahami bagaimana jenis kelamin dan aktivitas sebelum tidur memengaruhi durasi tidur remaja, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan program intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok. METODE Desain penelitian yang digunakan merupakan deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mengamati dan menarasikan keadaan yang ada di dalam suatu kelompok maupun masyarakat (Syapitri dkk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosectional, melibatkan 168 siswa SMPIT Al-Azhar Cairo Banda Aceh sebagai responden dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk self-report dengan menggunakan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dengan analisa univariat. Uji validitas menggunakan analisis kurva ROC dan dinyatakan valid, serta uji reliabilitas dengan nilai cronbach alpha sebesar 0,72. HASIL Tabel 1. Distribusi frekuensi data demografi responden Data Demografi Jenis Kelamin Laki-laki Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 Perempuan Usia 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun Tabel 2. Distribusi frekuensi item penilaian PSQI pada responden Penilaian PSQI Aktivitas Sebelum Tidur Interaksi dengan smartphone Aktivitas lain Durasi Aktivitas Sebelum Tidur <30 menit Ou30 menit Durasi tidur Sesuai Tidak sesuai Berdasarkan hasil penelitian, distribusi jenis kelamin responden menunjukkan bahwa sebanyak 87 orang . ,8%) adalah laki-laki, sementara 81 orang . ,2%) adalah perempuan, dengan 72 orang dari mereka . ,9%) berusia 14 tahun. Perbedaan jumlah ini menunjukkan bahwa responden penelitian relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan, sehingga memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai pola tidur remaja berdasarkan jenis kelamin. Pada aktivitas sebelum tidur, mayoritas responden, yaitu sebanyak 144 orang . ,7%), melakukan interaksi dengan smartphone sebelum tidur, sementara hanya 24 orang . ,3%) yang melakukan aktivitas lain. Sebanyak 101 orang . ,1%) menghabiskan waktu kurang dari 30 menit untuk beraktivitas sebelum Sedangkan terkait durasi tidur, sebanyak 98 orang . ,3%) memiliki durasi tidur yang sesuai dengan rekomendasi, yaitu 7-8 jam (Kemenkes, 2. , sedangkan 70 orang . ,7%) memiliki durasi tidur yang tidak sesuai. Gambar 1. Frekuensi Aktivitas Sebelum Tidur pada Remaja dengan Durasi Tidur yang Tidak Ideal Berdasarkan Jenis Kelamin Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan smartphone juga merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling dominan pada remaja dengan durasi tidur yang tidak ideal, dengan waktu penggunaan kurang dari 30 menit. Meskipun tidak terlalu signifikan, tetapi ada perbedaan di antara kedua kelompok. Pada kelompok laki-laki, jumlah remaja yang berinteraksi dengan smartphone dalam kurun waktu tersebut lebih rendah, yaitu 18 responden . ,1%) dibandingkan 21 responden perempuan . ,4%). Sementara itu, aktivitas lain sebelum tidur hanya dilakukan oleh sebagian kecil remaja, baik laki-laki maupun PEMBAHASAN Analisis terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur mungkin menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap durasi tidur yang tidak ideal pada remaja. Di Indonesia, intensitas penggunaan smartphone sebelum tidur pada anak usia remaja terbilang tinggi di mana sebanyak 61,2% remaja menggunakan smartphone lebih dari 35 menit sebelum mereka tidur (Nugroho & Natalya, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Keswara dkk . , di Lampung Tengah menunjukkan bahwa mayoritas remaja yang diteliti . %) tidak memenuhi durasi tidur yang direkomendasikan, dengan 57,1% di antaranya memiliki perilaku penggunaan gadget yang tidak baik. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 144 responden . ,8%) diketahui menggunakan smartphone sebelum tidur, dengan 69 di antaranya . ,1%) memiliki durasi tidur yang tidak ideal. Mayoritas responden dengan durasi tidur yang tidak ideal, yaitu sebanyak 62 orang . ,9%) juga menggunakan smartphone sebelum tidur. Sebanyak 23 orang . ,3%) di antara mereka menghabiskan waktu setidaknya 30 menit, dengan 16 orang . ,2%) di antaranya adalah laki-laki, sementara 7 orang . ,2%) merupakan perempuan. Temuan ini mengindikasikan bahwa interaksi dengan smartphone menjadi aktivitas dominan yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian durasi tidur, terutama pada laki-laki. Hal ini dapat disebabkan oleh tingginya durasi penggunaan smartphone yang memicu stimulasi otak, seperti bermain game online atau menonton serial. Zamora dkk . , melaporkan bahwa mayoritas remaja laki-laki lebih aktif berinteraksi dengan smartphone, terutama untuk bermain game, dengan 38,9% dari mereka melakukannya setiap hari. Sedangkan remaja perempuan cenderung lebih sering bertukar pesan di media sosial (Illingworth, 2. Penggunaan smartphone dengan intensitas menengah hingga tinggi sebelum tidur juga memiliki dampak langsung pada proses biologis tubuh, khususnya terkait sekresi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur siklus tidur serta irama sirkadian. Penelitian yang dilakukan oleh Shrivastava & Saxena . , menunjukkan adanya korelasi negatif antara durasi penggunaan smartphone dan kadar melatonin. Semakin tinggi durasi penggunaan smartphone sebelum tidur, maka sekresi melatonin akan semakin rendah, yang pada akhirnya memicu gangguan tidur, penurunan kualitas tidur, dan kelelahan. Selain itu, penurunan kadar melatonin juga berkontribusi pada gangguan mood, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan terganggunya ritme sirkadian, yang memengaruhi berbagai fungsi fisiologis dan hormonal tubuh. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 Salah satu faktor utama dalam pengaruh smartphone sebelum tidur terhadap durasi tidur ialah paparan cahaya biru. Menurut Illingworth . , paparan cahaya biru dari smartphone pada larut malam dapat menunda fase Stimulasi ini akan diterjemahkan oleh otak sebagai pertanda untuk melakukan aktivitas di siang hari, sehingga mencegah seseorang untuk tertidur, meskipun tubuhnya memerlukan istirahat. Akibatnya, seseorang cenderung lebih sulit tertidur di malam hari dan bangun dalam keadaan lelah. Selain itu, penggunaan smartphone juga dapat meningkatkan proporsi tidur tahap 1, mengurangi durasi tidur REM, serta menurunkan aktivitas gelombang lambat selama tidur non-REM. Hal ini yang menyebabkan durasi tidur seseorang bertambah, namun kualitas tidurnya justru menurun karena berkurangnya durasi tidur dalam fase deep sleep (Ackermann dkk, 2. Efek tersebut akan mengakibatkan durasi tidur abnormal, yang mencakup tidur yang kurang dari atau melebihi durasi yang direkomendasikan, sehingga baik tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama dianggap tidak ideal. Durasi tidur yang tidak ideal juga dapat menyebabkan pola tidur yang tidak teratur, yang pada akhirnya dapat mengganggu ritme sirkadian dan berkontribusi pada masalah tidur lebih lanjut. Durasi tidur yang abnormal juga dapat berdampak pada kesehatan mental Tidur yang berkepanjangan dapat berhubungan dengan kondisi seperti hipersomnia, di mana individu merasa perlu tidur lebih lama untuk mengatasi kelelahan, dan merupakan salah satu gejala depresi (Jiang dkk, 2. Individu dengan durasi tidur yang panjang mungkin menghabiskan banyak waktu di tempat tidur untuk memulihkan diri dari perasaan negatif. Hal tersebut mencerminkan perbandingan yang tidak seimbang antara waktu yang dihabiskan untuk berbaring di tempat tidur dan durasi tidur yang sebenarnya, sehingga dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk dan meningkatkan risiko gangguan tidur. Jiang dkk . , mengungkapkan bahwa durasi tidur yang tidak sesuai dapat merusak regulasi afektif pada remaja, yang pada gilirannya dapat memperburuk gejala depresi. Selain itu, durasi tidur dapat mengindikasikan adanya masalah kesehatan mental, seperti depresi, yang sering kali menyebabkan individu merasa lelah dan kurang berenergi. Semakin lama seseorang tidur lebih dari durasi yang direkomendasikan, maka mereka mungkin mengalami lebih banyak gangguan tidur. Peneliti mengasumsikan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi durasi tidur remaja, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian sebelumnya. Kondisi lingkungan eksternal, seperti tingkat kebisingan, suhu, dan pencahayaan kamar tidur, serta kondisi fisik dan psikologis responden, diasumsikan relatif seragam atau tidak memiliki perbedaan signifikan yang dapat memengaruhi hasil penelitian secara langsung. Peneliti juga mengasumsikan bahwa kebiasaan tidur dan penggunaan smartphone pada remaja bersifat relatif stabil selama periode pengambilan data SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa distribusi responden yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan memberikan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. 10 No. : Januari - Juni 2025 gambaran representatif mengenai pola tidur remaja. Mayoritas remaja . ,7%) menggunakan smartphone sebelum tidur, menunjukkan bahwa aktivitas ini mendominasi rutinitas malam mereka, sementara hanya sebagian kecil yang melakukan aktivitas lain. Meskipun sebagian besar remaja . ,3%) memiliki durasi tidur sesuai dengan rekomendasi 7-8 jam, masih ada 41,7% yang tidurnya tidak ideal. Penggunaan smartphone, khususnya dalam waktu kurang dari 30 menit sebelum tidur, merupakan kebiasaan utama pada remaja dengan durasi tidur yang tidak ideal, dengan sedikit perbedaan antara laki-laki dan perempuan. SARAN Diharapkan kepada pihak sekolah untuk berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada siswa mengenai manajemen penggunaan gadget secara bijak guna meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan tidur. Edukasi ini dapat dilakukan melalui program bimbingan atau penyuluhan yang terintegrasi dengan kurikulum, misalnya pendidikan karakter sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai atau kegiatan ekstrakurikuler, dengan melibatkan tenaga kesehatan di Selain itu, sekolah dapat mengadakan seminar atau lokakarya yang melibatkan orang tua dan ahli kesehatan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang efek penggunaan gadget terhadap kualitas tidur maupun kesehatan secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA