Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) Volume 05 Nomor 01 Tahun 2026 (Hal:77- . https://ojs. id/index. php/jbfi ISSN 2828-1411 (Onlin. IMPLEMENTATION OF MANUFACTURING EXECUTION SYSTEM (MES) 3. 0 BY OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) IN THE PRODUCT SECTION AT PT. TKG INDONESIA Kuncorosidi & Tia Komalasari 1Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja. Subang. Indonesia Email: kuncorosidi@stiesa. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : PT. TKG Indonesia is a company that operates in the manufacturing industry. PT. TKG Indonesia is a footwear manufacturing company facing intense competition due to Previously, the company used Manufacturing Execution System (MES) 2. 0, which had limitations in providing real-time production data and integration with other systems, resulting in a high percentage of defective products and suboptimal coordination. To address these issues. PT. TKG Indonesia implemented MES 3. 0, which offers advanced features such as real-time monitoring and comprehensive integration with production machinery to enhance product quality and production efficiency. This study aims to determine the cost efficiency of implementing MES 3. 0 at PT. TKG Indonesia. The research method employed is descriptive with a quantitative survey approach. Collected data were analyzed using the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method to measure the comprehensive effectiveness of equipment utilization in production. The results show that the implementation of MES 3. 0 has positively impacted the companyAos operational readiness, particularly by improving real-time production visibility and data-driven decision-making. However, optimization of performance and efficiency is still needed to achieve worldclass standards. The application of MES 3. 0 has proven to increase cost efficiency through better downtime management and improved product quality, supporting PT. TKG Indonesia in competing in the global market Tgl. Masuk : 28-04-2026 Tgl. Diterima : 28-04-2026 Tersedia Online : 30-04-2026 Keywords: Manufacturing Execution System (MES). Overall Equipment Effectiveness (OEE). PENDAHULUAN Perkembangan pesat teknologi informasi menjadi tantangan besar bagi perusahaan, baik negeri maupun swasta. Penggunaan sistem informasi yang terintegrasi dengan pengamanan yang baik menjadi kunci utama agar data produksi akurat, efisien, dan sesuai dengan tujuan pengguna Dalam manufaktur, sistem informasi yang efektif memonitor dan mengontrol seluruh proses produksi secara real-time, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan kualitas Industri manufaktur Indonesia, terutama sektor alas kaki, mengalami perkembangan pesat dan persaingan yang semakin ketat. Konsumen semakin kualitasnya, menjadikan kualitas sebagai Volume 5. No. Pengendalian kualitas yang baik dapat memperkuat loyalitas pelanggan. Namun, sering ditemukan produk cacat akibat kesalahan dalam setiap tahap produksi, mulai dari bahan baku hingga distribusi, yang mengakibatkan penurunan reputasi perusahaan, serta kerugian finansial karena proses reject atau return. Salah satu tantangan utama dalam industri manufaktur adalah pemborosan produksi, baik yang disebabkan oleh masalah mesin, overproduksi, atau Pemantauan dan analisis yang lebih pemborosan dalam seluruh proses Di sinilah peran Manufacturing Execution System (MES) sangat penting. MES pelacakan, dan pengintegrasian seluruh alur produksi secara real-time, memastikan bahwa data yang dihasilkan akurat dan pengumpulan data serta mendukung evaluasi kualitas produk. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa implementasi MES berpengaruh signifikan terhadap efisiensi produksi dan kontrol kualitas. Penelitian Sharma & Bansal . dalam industri otomotif MES meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan cacat produk melalui otomatisasi pengendalian kualitas yang lebih baik. Penelitian ini konsisten dengan temuan yang dihasilkan oleh VOSviewer, yang menunjukkan hubungan kuat antara "kerja", "kualitas", dan "Manufacturing Execution System", di mana penerapan MES berkontribusi tidak hanya pada efisiensi kerja, tetapi juga kualitas produk melalui pemantauan berkelanjutan. Studi lainnya oleh Lee & Kim . menjelaskan bagaimana integrasi MES dengan Enterprise Resource Planning (ERP) meningkatkan transparansi dan efisiensi proses produksi. Integrasi ini memastikan aliran informasi yang lancar antar departemen, meningkatkan pemantauan produksi secara real-time, dan membantu menjaga kualitas produk. Selain itu, penelitian oleh Dinesh & Murtaza . menunjukkan bahwa penerapan MES dalam industri farmasi sangat efektif untuk memenuhi standar kualitas yang ketat, di mana sistem ini membantu dalam pelacakan batch dan pengumpulan data otomatis untuk memastikan produk memenuhi regulasi yang berlaku. Berdasarkan fenomena empiris tersebut. PT. TKG Indonesia yang bergerak di industri alas kaki juga menghadapi tantangan terkait kualitas Sebelum mengimplementasikan MES 3. 0, perusahaan mengalami masalah serius terkait tingginya persentase barang reject . Ae10%) yang melebihi batas toleransi yang ditetapkan . %). Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sistem MES 0 yang belum mampu menyediakan data produksi secara real-time, menghambat deteksi masalah di lini produksi dan pengambilan keputusan. Selain itu, kurangnya integrasi MES dengan sistem lain seperti ERP menyebabkan aliran informasi antar departemen tidak optimal. Implementasi MES 3. 0 dengan Overall Equipment Effectiveness (OEE) diharapkan dapat mengurangi downtime, dan meningkatkan kualitas produk secara menyeluruh. Sistem ini memungkinkan pelacakan produksi secara real-time, pengelolaan aktivitas di shopfloor, dan pengawasan kualitas yang lebih baik, serta mendukung proses penjadwalan produksi yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap permintaan pasar. Industri alas kaki Indonesia, yang mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 3,16% Januari-Mei menunjukkan bahwa sektor ini memiliki potensi yang besar untuk bersaing di pasar Penerapan MES 3. 0 di PT. TKG Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk dan mempercepat proses produksi, serta memastikan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) yang diperlukan, sehingga perusahaan dapat mempertahankan daya saing di pasar global yang semakin kompetitif. KERANGKA TEORITIS Manajemen Operasional Manajemen Operasional adalah serangkaian aktivitas yang mengatur jalannya operasional dalam suatu perusahaan sehingga menghasilkan suatu produk atau jasa. Manajemen Operasional merupakan suatu proses ataupun kegiatan membuat produk dengan cara mentransformasikan input menjadi output. Manajemen Produksi dan Operasi juga dapat didefinisikan sebagai kegiatan mengatur dan mengkoordinasi penggunaan berbagai sumber daya secara efektif dan efisien dalam upaya membuat produk ataupun menambah Manufacturing Execution System (MES) Manufacturing Execution System (MES) Merupakan sistem informasi yang berfungsi untuk memantau dan melacak proses produksi barang manufaktur di Tujuan keseluruhan dari sistem MES ini adalah untuk memastikan bahwa operasi manufaktur dapat berjalan secara efektif untuk meningkatkan hasil produksi MES Komprehensif yang mengontrol semua aktivitas yang terjadi di perusahaan. Aktivitas-aktivitas tersebut antara lain seperti pesanan pelanggan, sistem MRP, jadwal induk, dan sumber perencanaan Manufakturing Execution System (MES) adalah sistem terkomputerisasi yang digunakan dalam manufaktur untuk transformasibahan baku menjadi barang jadi yang terhubung dengan mesin produksi (Meyer, 2. Konsep Overall Equipment Effectiveness (OEE) Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan sebuah metrik penting efektivitas pemanfaatan peralatan produksi OEE mengenai sejauh mana mesin atau lini produksi beroperasi secara optimal dengan membandingkan kondisi aktual terhadap kondisi ideal. Metrik ini menjadi indikator mengidentifikasi sejauh mana waktu, kecepatan, dan kualitas produksi dapat dimaksimalkan (Stamatis, 1. Lean Six Sigma Lean six sigma (LSS) merupakan kombinasi dua metodologi perbaikan proses bisnis yaitu lean dan Six Sigma (Raja & Raju, 2. Lean merupakan filosofi dan pendekatan sistematik untuk mengurangi atau menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah melalui proses perbaikan berkelanjutan (Albliwi & Antony, 2. Six Sigma merupakan metodologi perbaikan berbasis data untuk mengurangi produk catat melalui pengurangan variasi pada proses dan produk (Singh & Rathi, 2. Kerangka Pemikiran Manajemen Operasional adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output (Heizer & Render, 2. Sedangkan menurut Assauri . , proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumbersumber . enaga kerja, mesin, bahanbahan, dan. yang ada. Manajemen Kualitas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk memastikan produk atau layanan yang dihasilkan mencapai standar yang telah ditetapkan. maka dari itu, untuk meningkatkan proses produksi perlu adanya teknologi informasi yang dapat mendukung berjalannya proses produksi yaitu dengan cara Sistem Manufacturing Execution System (MES) versi industri 3. 0 di mana sistem yang sudah terkomputerisasi atau terhubung dengan Mesin atau alat produksi. Sistem ini mengumpulkan data produksi secara realtime. Penerapan MES dibagi menjadi tiga faktor yaitu ERP. OEE dan Lean Sigma. Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) Volume 05 Nomor 01 Tahun 2026 (Hal:77- . https://ojs. id/index. php/jbfi ISSN 2828-1411 (Onlin. Manajemen Operasional Manajemen Kualitas Manufacturing Execution System (MES) LEAN SIGMA OEE ERP IMPLEMENTASI MANUFACTURING EXECUTION SYSTEM (MES) 3. DENGAN PENDEKATAN OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA BAGIAN PRODUKSI DI PT. TKG INDONESIA Gambar 1 Bagan Kerangka Pemikiran Sumber : olahan data, 2024 METODE PENELITIAN Objek penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Manufacturing Execution System (MES) 3. 0 di PT. TKG Indonesia. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan penelitian survey. Menurut Unaradjan, . Metode kuantitatif adalah diartikan sebagai metode pasitivistik karena berlandasan pada filsafat positivisme. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah data yang berhubungan dengan analisis Overall Equipment Effectiveness (OEE). Sampel dalam penelitian ini yaitu Jumlah Jam Kerja Tersedia (Ja. Jumlah Produksi . Jumlah Produk Rusak . Planned Downtime (Ja. Breakdown Time (Ja. Setup Time (Ja. Loading time (Ja. dan Operating time (Ja. Profil Perusahan PT. TKG Indonesia adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang Alas kaki/Manufaktur untuk kebutuhan sehari-hari yang beralamat di Dusun Belendung II RT. 17 RW. 06 Desa Belendung Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat merupakan Perseroan yang didirikan menurut UndangUndang Negara Republik Indonesia, yang anggaran dasarnya serta perubahanperubahannya diumumkan dalam Akta Notaris tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Akta pendirian No. 27 tanggal 20 januari 2015. Selanjutnya AuPERUSAHAANAy. Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) Analisis Data Setelah data diperoleh selanjutnya data diolah dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Perhitungan nilai OEE dilakukan dalam beberapa tahap disertai dengan penjelasan yang diuraikan sebagai berikut. Proporsi Ketersediaan (Availability Rati. Keterangan : time adalah waktu yang tersedia per hari atau per bulan dikurangi downtime mesin yang Downtime adalah waktu kerusakan Operation time adalah total waktu proses yang efektif Loading Proporsi Kinerja Mesin (Performance Rati. Produksi Keterangan : Process amount adalah jumlah produk yang dihasilkan. Ideal time adalah waktu proses produksi sesuai dengan kapasitas mesin. Operation time adalah total waktu proses yang efektif. Proporsi Kualitas (Quality Rati. Perhitungan Nilai OEE Pengukuran OEE adalah perkalian dari nilai Availability. Performance, dan rate of quality product. OEE = Availability (%) x Performance (%) x rate of Quality (%) Nilai OEE berdasarkan Lean Six Sigma Enterprise World Class Lean Six Sigma Enterprise World Class telah menetapkan standar bagi perusahaan dunia untuk mengukur nilai OEE pada mesin produksi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian MES mengintegrasikan sistem bisnis perusahaan PT. TKG Indonesia dengan infrastruktur produksi PT. TKG Indonesia memberi PT. TKG Indonesia informasi untuk mengoptimalkan operasi dari lantai pabrik hingga lantai atas. Biasanya dengan MES, pesanan pelanggan dari sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dibawa ke penjadwalan bersama dengan inventaris terkini. Penjadwalan menggunakan informasi ini untuk mengoptimalkan jadwal produksi. PT. TKG Indonesia bahkan dapat menjadwalkan beberapa hari sebelumnya sehingga pabrik PT. TKG Indonesia punya waktu untuk menyiapkan bahan. Selanjutnya, jadwal produksi akan menarik jumlah bahan baku dan memberi tahu bagian pengadaan saat stok menipis. Kru gudang PT. TKG Indonesia akan menerima daftar pengambilan dan waktu pengiriman untuk memastikan pabrik memiliki bahan yang diperlukan. Di lantai pabrik, operator akan menjalankan produksi dengan sistem SCADA . Setiap perlambatan atau penghentian akan diumpankan kembali ke penjadwalan untuk menyesuaikan produksi selanjutnya. Saat setiap proses produksi selesai, sistem MES akan memberi tahu departemen pengiriman dan penerimaan bahwa produk sedang dikirim bersama semua dokumen yang dibutuhkan untuk memasukkan barang ke gudang atau MES dapat meningkatkan hasil Produksi PT. TKG Indonesia dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tim PT. TKG Indonesia, saat mereka Ini akan membantu mereka membuat keputusan yang tepat secara real time. Volume 5. No. Pengumpulan Data Overall Equipment Effectiveness (OEE) Untuk mengukur efektivitas metode Overall Equipment Effectiveness (OEE), data yang dibutuhkan dikumpulkan dari laporan kegiatan perawatan dan produksi Bagian produksi dari Maret 2023 hingga Februari 2024. Data ini meliputi jumlah jam kerja yang tersedia, jumlah produksi yang dihasilkan, jumlah produk yang rusak . , jumlah waktu penundaan yang direncanakan, jumlah waktu breakdown, dan waktu pembuatan. Data Jam Kerja Tersedia Data kuantitas produksi mengacu pada jumlah produk yang diproduksi di Bagian Produksi, diukur dalam satuan. Barang yang rusak biasanya berupa sepatu yang pecah berkeping-keping. Data kuantitas produksi disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1 Jumlah Jam Kerja Tersedia. Jumlah Produksi di Bagian Produksi frekuensi kerusakan dan durasi waktu Data downtime untuk Bagian Produksi disajikan dalam Tabel 2. Waktu henti terencana mengacu pada periode terjadwal dalam rencana produksi yang ditujukan untuk aktivitas Organisasi melakukan pemeliharaan terencana untuk mencegah kerusakan pada mesin selama produksi. Tabel 2 menampilkan fakta tentang waktu henti terjadwal. Tabel 2 Jumlah Downtime Bagian Produksi Bulan Planne Downti (Ja. Breakdo wn Time (Ja. Maret Setu Total Unplann Tim (Ja (Ja. April Mei Juni Juli Agustus Septem Oktober Maret Jumlah Jam Kerja Tersedia (Ja. April Februari Mei Juni Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Februari Bulan Jumlah Produksi . Jumlah Produk Rusak . Nopemb Desemb Januari Sumber : PT. TKG Indonesia Dalam, 2024 Data Downtime Downtime mengacu pada periode saat produksi seharusnya berlangsung, tetapi karena kerusakan atau gangguan peralatan, mesin tidak dapat bekerja secara efektif. Data yang diperoleh meliputi Perhitungan Nilai Availability Ratio Nilai menggunakan Rumus . , dengan waktu muat (Loading tim. adalah waktu yang tersedia per hari atau bulan dikurangi downtime mesin yang direncanakan. Rumus . digunakan untuk menghitung waktu loading, yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Downtime adalah waktu produksi, namun mesin tidak dapat beroperasi karena gangguan. Dalam perhitungan OEE, kerusakan mesin dan pengaturan dianggap sebagai downtime. Tabel downtime, sementara waktu operasional dihitung dengan mengurangi waktu loading dengan downtime yang tidak terjadwal. Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) Berdasarkan ketersediaan Bagian Produksi untuk bulan Maret 2023 dapat diperoleh, dan Tabel 3 serta Grafik 1 menampilkan perhitungan ketersediaan hingga Februari 2024. Tabel 3 Perhitungan Nilai Availability Ratio Unplanned downtime (Ja. Planned Total Downtim Setu Unplanne Breakdow n Time (Ja. Time Downtim Total Jam Kerja Tersedi a (Ja. Bulan Maret April Mei Juni Juli Agustus Septemb Oktober Nopembe Desembe Januari Februari Loadin g time (Ja. Operatin g time (Ja. Availabili 91,59% 91,46% 91,60% 90,86% 91,56% 91,97% 92,05% 91,72% 91,02% 91,09% 91,37% 91,23% Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 92,50% 92,00% 91,50% 91,00% 90,50% 90,00% 89,50% 89,00% 88,50% Januari Nopember September Juli Mei Maret Availability Avaibility Ideal Grafik 1 Availability Bagian Produksi Sumber : data diolah , 2024 Dari Grafik ketersediaan aktual (Availability %) dan ketersediaan ideal (Availability Idea. sepanjang tahun. Dari grafik tersebut, terlihat bahwa nilai ketersediaan aktual . aris bir. cenderung stabil di sekitar angka 91%, meskipun ada fluktuasi di Bulan September mencatatkan puncaknya dengan nilai ketersediaan tertinggi yaitu 92,05%, sementara bulan Juni tercatat sebagai bulan dengan ketersediaan terendah, yaitu 90,86%. Berdasarkan data yang disediakan, meskipun terdapat beberapa perubahan dalam downtime terencana dan tidak terencana, waktu operasional tetap dapat dipertahankan dengan cukup baik. Total terencana dan tidak terencana cukup mempengaruhi waktu operasional, namun ketersediaan mesin pada tingkat yang cukup tinggi. Unplanned downtime, yang mencakup gangguan tak terduga seperti mendadak, tetap menjadi faktor yang perlu Dengan mempertimbangkan faktor downtime tersebut, waktu operasional dan Loading time dapat dihitung untuk sebenarnya dapat digunakan untuk Secara keseluruhan, meskipun perusahaan berhasil menjaga tingkat Volume 5. No. ketersediaan yang cukup tinggi di atas 90% sepanjang tahun, menunjukkan upaya yang baik dalam mengelola downtime dan meningkatkan efisiensi operasional. Perhitungan Nilai Performance Efficiency Performance Efficiency adalah rasio yang menggambarkan seberapa efektif peralatan dalam menghasilkan Tiga faktor utama yang diperlukan untuk menghitung performance efficiency adalah: . Ideal cycle time, . Processed amount, dan . Loading time. Processed amount merujuk pada jumlah produk yang berhasil dihasilkan oleh Bagian Produksi. Ideal cycle time adalah waktu yang dibutuhkan mesin untuk menyelesaikan satu siklus produksi dalam kondisi optimal, yaitu tanpa gangguan. Untuk menghitung performance efficiency Bagian Produksi dari Maret 2023 hingga Februari 2024, rumus yang sesuai digunakan, dan hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 4. Tabel 4 Nilai Performance Effeciency Bulan Maret April Mei Juni Juli Agustu Septe Oktobe Nopem Desem Januari Februa Juml Produ Ideal (Jam/T 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 0,0002 Opera Time (Ja. Perform Effecien 95,62% 96,83% 99,17% 97,83% 86,37% 98,67% 88,52% 90,54% 87,52% 93,66% 98,58% 95,62% Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 105,00% 100,00% 95,00% 90,00% 85,00% 80,00% 75,00% Performan Effeciency Maret Mei Juli September Nopember Januari Performan ce eficiency Grafik 2 Performance Eficiency Bagian Produksi Sumber : data diolah , 2024 Grafik efficiency aktual . aris bir. dan performance efficiency ideal . aris orany. dari bulan Maret hingga Februari. Secara umum, garis oranye yang menunjukkan performance efficiency ideal tetap stabil di sekitar 95%, sementara garis biru yang aktual berfluktuasi setiap bulan. Dari data yang diberikan, dapat dilihat bahwa bulan Mei memiliki performance efficiency tertinggi, yaitu 99,17%, sementara bulan Juli mencatatkan nilai terendah di 86,37%. Beberapa bulan lainnya, seperti Agustus ,67%) Januari . ,58%), menunjukkan kinerja yang sangat baik, mendekati nilai ideal. Sebaliknya, bulan Juli September performance efficiency, masing-masing hanya mencapai 86,37% dan 88,52%. Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam efisiensi produksi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jumlah produksi dan waktu operasional. Meskipun ada beberapa bulan dengan performance efficiency yang lebih rendah dari standar ideal, kinerja secara keseluruhan tetap berada dalam kisaran yang baik, dengan sebagian besar bulan mencatatkan nilai di Secara perusahaan berhasil menjaga performance efficiency yang cukup tinggi meskipun ada Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) Sumber : data diolah , 2024 Perhitungan Rate of Quality Product Rate of Quality Product adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara jumlah produk yang memenuhi standar kualitas dengan total jumlah produk yang diproses. Rasio ini dihitung dengan mempertimbangkan dua faktor utama, yaitu jumlah produk yang diproses . rocessed amoun. dan jumlah produk yang rusak atau cacat . efect amoun. Dengan menggunakan rumus yang sesuai. Rate of Quality Product dapat dihitung, dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5, yang mencantumkan Rate of Quality Product untuk Bagian Produksi dari Maret 2023 hingga Februari 2024. Tabel 5 Nilai Rate of Quality Produk Bagian Produksi Maret Jumlah Produksi Jumlah Produk Rusak Rate of (%) 99,7% April 99,7% Mei 99,6% Juni 99,6% Juli 99,7% Agustus 99,7% September 99,5% Oktober 99,7% Nopember 99,7% Desember 99,6% Januari 99,6% Februari 99,67% Bulan Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 100,00% 99,80% 99,60% 99,40% 99,20% Desember Juni September Maret Rate of (%) Quality of rate ideal Grafik 3 Quality Bagian Produksi Dari perhitungan pada Tabel 5 dan Grafik 3 memperlihatkan perbandingan antara nilai Rate of Quality Product aktual . aris bir. dan ideal . aris orany. dari bulan Maret hingga Februari. Garis oranye menunjukkan kualitas ideal yang tetap stabil di sekitar 99,9%, sementara garis biru yang menggambarkan nilai aktual Rate of Quality Product berfluktuasi sedikit, tetapi tetap berada di angka yang sangat tinggi, hampir selalu di atas 99,5%. Dari data yang tersedia menunjukkan bahwa sebagian besar bulan memiliki nilai Rate of Quality Product yang sangat baik, dengan nilai tertinggi mencapai 99,7%, seperti pada bulan Maret. April. Juli. Agustus. Oktober, dan November. Namun, terdapat sedikit penurunan pada bulan September, di mana Rate of Quality Product mencapai 99,5%. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah produk rusak pada bulan tersebut, yang tercatat 897 produk, dibandingkan dengan bulan lainnya yang cenderung lebih rendah jumlah produk rusaknya. Meskipun ada sedikit variasi, secara keseluruhan Rate of Quality Product tetap tinggi sepanjang tahun dan mendekati nilai ideal, yang menunjukkan bahwa proses produksi berjalan dengan kualitas yang Grafik mencerminkan upaya yang baik dalam menjaga kualitas produk meskipun ada fluktuasi kecil di beberapa bulan. Pengukuran Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) Nilai ketersediaan, kinerja, dan tingkat kualitas produk dikalikan dengan OEE. Nilai OEE bagian produksi dapat dihitung dengan menggunakan Rumus dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6dari Maret 2023 hingga Februari 2024 dalam bentuk grafik. Seperti yang dapat dilihat dari perhitungan yang sama, nilai OEE bagian produksi berada di bawah nilai OEE standar, yaitu 69. Nilai OEE bagian produksi dibandingkan dengan nilai OEE berdasarkan Lean Six Sigma dibandingkan di sini. Volume 5. No. Tabel 6 Pengukuran OEE Bulan Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Februari Total Availability (%) Performance rate (%) Rate of Quality Product OEE (%) 91,59% 91,46% 91,60% 90,86% 91,56% 91,97% 92,05% 91,72% 91,02% 91,09% 91,37% 91,23% 95,62% 96,83% 99,17% 97,83% 86,37% 98,67% 88,52% 90,54% 87,52% 93,66% 98,58% 95,62% 93,82% 99,7% 99,7% 99,6% 99,6% 99,7% 99,7% 99,5% 99,7% 99,7% 99,6% 99,6% 99,67% 87,32% 88,28% 90,48% 88,55% 78,82% 90,46% 81,05% 82,76% 79,46% 85,00% 89,75% 84,19% Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 95,00% 90,00% 85,00% 80,00% 75,00% 70,00% OEE (%) OEE Ideal Grafik 4 OEE Bagian Produksi Sumber : data diolah , 2024 Tabel 7 Perbandingan Nilai OEE Bagian Produksi Faktor OEE Availability Performanc Rate of Overal Equipment Effectivene Lean Six Sigma Enterpris . orld Nilai OEE Bagian Mesin PT. TKG Indonesi a (%) Action (Tindaka Perbaikan (Improv. Perbaika (Improv. Sumber : PT. TKG Indonesia , 2024 Grafik perbandingan antara nilai OEE aktual . aris bir. dan nilai OEE ideal . aris orany. dari bulan Maret hingga Februari. Garis oranye yang menunjukkan OEE ideal tetap stabil di sekitar 85,4%, sedasngkan garis biru menunjukkan fluktuasi dalam nilai OEE aktual sepanjang tahun. OEE aktual terlihat berfluktuasi, dengan puncaknya pada bulan Mei . ,48%) dan terendah pada bulan Juli . ,82%). Berdasarkan data, dapat dilihat bahwa beberapa bulan seperti Mei. Agustus, dan Januari memiliki nilai OEE yang sangat baik, lebih dari 90%, mencerminkan efisiensi tinggi dalam proses produksi. Sebaliknya, bulan Juli dan September mencatatkan penurunan OEE yang signifikan, masing-masing hanya 78,82% dan 81,05%, yang kemungkinan performance rate atau peningkatan downtime yang tidak terjadwal. Nilai OEE masih berada dalam kisaran yang dapat diterima dan mencerminkan kinerja yang cukup baik dalam pengelolaan efisiensi Dengan nilai rata-rata OEE sepanjang tahun sebesar 85,5%, yang sedikit lebih tinggi dari standar ideal 85,4%, perusahaan menunjukkan kinerja yang cukup solid. Namun, terdapat beberapa terutama pada performance rate dan rate Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) of quality product, yang masih sedikit di bawah nilai ideal, yang mengindikasikan potensi untuk perbaikan lebih lanjut. Dari perbandingan dengan standar Lean Six Sigma Enterprise . orld-clas. , dapat dilihat bahwa nilai OEE Bagian Produksi PT. TKG Indonesia sudah cukup baik, meskipun ada ruang untuk perbaikan terutama pada performance rate dan rate of quality product, yang bisa ditingkatkan untuk mencapai tingkat efisiensi yang lebih yang dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk visualisasi, seperti grafik dan dashboard, memberikan informasi terkini yang sangat penting. Hal ini secara cepat, peningkatan efisiensi, dan pengambilan keputusan yang lebih Dengan monitoring real-time. PT. TKG Indonesia dapat menangani membuat penyesuaian yang diperlukan untuk menjaga kualitas produk. Pembahasan Penerapan Manufacturing Execution System (MES) 3. 0 terhadap Kualitas Produksi. Implementasi Manufacturing Execution System (MES) di PT. TKG Indonesia adalah contoh yang menarik dari penerapan teknologi canggih dalam manajemen produksi dan pengelolaan MES berbagai sistem di perusahaan, mulai dari lantai produksi hingga manajemen tingkat atas, dengan tujuan utama meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi. Dengan Enterprise Resource Planning (ERP) MES memungkinkan PT. TKG Indonesia untuk memantau dan mengelola setiap aspek proses produksi secara real-time. Berikut keunggulan dari MES 3. 0 PT. TKG Indonesia Komponen Dasar MES 3. MES 3. 0 di PT. TKG Indonesia mencakup berbagai komponen dasar yang mendukung pengelolaan proses produksi, antara lain data collection, management. Performance analysis. Setiap komponen ini berperan penting dalam memastikan bahwa produksi berjalan lancar dan efisien, serta bahwa kualitas produk tetap terjaga. Integrasi dan Optimisasi Produksi MES PT. TKG Indonesia menghubungkan sistem ERP dengan penjadwalan produksi dan pengadaan Integrasi ini tidak hanya penjadwalan produksi tetapi juga mengoptimalkan penggunaan bahan dan sumber daya. Dengan cara ini. MES mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penyesuaian bahan dan jadwal meningkatkan efisiensi operasional. Fitur Real-Time Monitoring Salah satu fitur utama dari MES adalah kemampuannya untuk memantau proses produksi secara real-time. Data Efektivitas Peralatan Secara Keseluruhan (OEE) OEE, yang mengukur kesehatan downtime, kecepatan produksi, dan kualitas, adalah alat penting dalam MES. Dengan OEE. PT. TKG Indonesia pengelolaan material tanpa harus menambah peralatan atau tenaga kerja Ini memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan hasil dari proses mengidentifikasi dan memperbaiki area yang memerlukan perhatian. Implementasi Manufacturing Execution System (MES) memberikan dampak signifikan terhadap pengelolaan pengembangan tenaga kerja secara MES tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antara proses produksi dan sistem ERP, tetapi juga menjadi alat yang efektif dalam mengatur kegiatan pemeliharaan mesin serta Volume 5. No. Dalam maintenance, sistem MES mengatur jadwal perawatan rutin yang meliputi pelumasan, penggantian suku cadang, dan inspeksi berkala. Dengan adanya jadwal yang terstruktur ini, pekerja dapat proaktif sehingga risiko kerusakan mesin dapat diminimalisir. Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang masa pakai peralatan, tetapi juga menjaga konsistensi kualitas produk yang dihasilkan. Sementara maintenance difasilitasi oleh kemampuan MES dalam melakukan pencatatan dan pelacakan kerusakan secara real-time. Hal ini memungkinkan tim pemeliharaan untuk segera melakukan tindakan perbaikan sehingga waktu henti produksi dapat Respon cepat terhadap gangguan operasional ini berkontribusi pada pengurangan dampak negatif terhadap kualitas produk dan efisiensi proses produksi. Selain MES pengelolaan sumber daya manusia melalui Peningkatan kompetensi tenaga kerja ini menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas operasional dan menjaga standar kualitas produk. Dengan demikian, integrasi antara preventive dan corrective maintenance yang dikelola melalui sistem MES pemeliharaan yang komprehensif dan Preventive maintenance berperan dalam pencegahan kerusakan, sedangkan penanganan yang cepat dan tepat saat terjadi gangguan. Kombinasi kedua pendekatan tersebut berkontribusi pada pencapaian tujuan perusahaan dalam menjaga kualitas produk yang konsisten serta meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Krajewski & Malhotra . mengemukakan strategi operasional dan manajemen rantai pasokan sangat relevan dengan implementasi MES. Penjadwalan produksi dan manajemen inventaris yang terintegrasi dalam MES mendukung prinsip-prinsip yang mereka paparkan, dengan meningkatkan visibilitas dan fleksibilitas dalam operasi. Selain itu, data real-time yang disediakan oleh MES membantu dalam pengambilan keputusan operasional yang lebih baik, sesuai dengan penekanan Krajewski & Malhotra pada pentingnya data akurat dalam strategi Meyer . menyatakan peran teknologi dalam inovasi proses dan MES penerapan teknologi untuk inovasi dalam pengelolaan produksi. Dengan fitur-fitur seperti SPC (Statistical Process Contro. MES memungkinkan PT. TKG Indonesia untuk mengontrol dan mengelola proses produksi secara lebih baik. Ini mendukung prinsip Meyer tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas operasional dan kualitas produk. Jadi Implementasi MES di PT. TKG Indonesia teknologi dapat meningkatkan efisiensi dan Dengan mengintegrasikan berbagai sistem dan real-time. MES membantu perusahaan untuk memantau dan mengelola proses produksi secara Krajewski & Malhotra . dan Meyer pentingnya teknologi dan data dalam manajemen operasional dan inovasi. MES bukan hanya alat untuk meningkatkan proses produksi, tetapi juga merupakan komponen kunci dalam strategi teknologi dan operasional modern. Efisiensi Biaya dari Implementasi Manufacturing Execution System (MES) 0 di PT. TKG Indonesia Pada penelitian ini, tujuan utama adalah mengukur kinerja produksi di PT. TKG Indonesia menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE), yang terdiri dari tiga komponen utama: Availability. Performance Efficiency, dan Rate of Quality Product. Dengan mengumpulkan data dari periode Maret 2023 hingga Februari 2024, hasil yang diperoleh memberikan gambaran yang jelas tentang efisiensi operasional bagian produksi, termasuk pengelolaan downtime. Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) kinerja mesin, dan kualitas produk yang Hasil OEE menunjukkan bahwa meskipun terdapat fluktuasi pada nilai-nilai yang diperoleh, secara keseluruhan kinerja produksi PT. TKG Indonesia dapat dikategorikan baik. Nilai Availability rata-rata mencapai lebih dari 91%, yang menunjukkan bahwa mesin di bagian produksi sebagian besar dapat digunakan sesuai dengan jadwal. Meski demikian, beberapa bulan, seperti Juni, tercatat mengalami penurunan, dengan tingkat ketersediaan terendah sebesar 90,86%. Penurunan ini berkaitan dengan downtime yang tidak terencana, seperti kerusakan mesin atau gangguan lainnya yang mempengaruhi ketersediaan mesin Namun, keseluruhan, nilai ketersediaan tetap stabil di atas 90%, yang menunjukkan upaya yang baik dalam mengelola downtime. Adapun Performance Efficiency, yang mencerminkan seberapa efisien mesin beroperasi dalam menghasilkan produk, menunjukkan fluktuasi yang lebih signifikan sepanjang tahun. Pada bulan Mei, misalnya, tercatat Performance Efficiency yang sangat tinggi, mencapai 99,17%. Ini menunjukkan bahwa pada bulan tersebut, mesin beroperasi dengan sangat efisien, mampu menghasilkan lebih banyak produk dalam waktu yang lebih Sebaliknya, pada bulan Juli, terjadi Performance Efficiency yang terendah, yakni 86,37%. Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor eksternal yang mempengaruhi waktu operasional atau adanya masalah dalam proses produksi yang menyebabkan mesin tidak dapat Namun, perusahaan secara keseluruhan berhasil mempertahankan Performance Efficiency di atas 90% di sebagian besar bulan, menunjukkan kemampuan mereka untuk mengelola dan mengoptimalkan kinerja Rate of Quality Product juga menjadi salah satu fokus penting dalam penelitian ini, karena kualitas produk mempertahankan kepuasan pelanggan dan efisiensi operasional. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa hampir sepanjang tahun, tingkat kualitas produk berada pada level yang sangat tinggi, dengan sebagian besar bulan mencatatkan nilai di atas 99,5%. Meskipun ada sedikit penurunan pada bulan September, di mana nilai rate of quality product tercatat 99,5%, ini bisa dijelaskan dengan adanya lonjakan jumlah produk rusak yang tercatat pada bulan tersebut, yang mencapai lebih Namun, keseluruhan, kualitas produk tetap terjaga dengan baik, mencerminkan upaya perusahaan dalam memastikan setiap produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan teori Manufacturing Execution System (MES), sistem ini terbukti sangat penting dalam memantau dan mengelola data secara real-time untuk meningkatkan efisiensi MES mengumpulkan data dari berbagai aspek proses produksi, seperti status mesin, bahan, alat, dan personel, downtime dan perbaikan proses secara lebih tepat. Data yang diperoleh dari sistem MES dapat langsung digunakan oleh manajemen untuk mengambil keputusan yang lebih baik, misalnya dalam hal penjadwalan pemeliharaan mesin atau penanganan gangguan tak terduga. Dengan mengintegrasikan MES dalam proses produksi, perusahaan dapat meningkatkan visibilitas dan kontrol atas setiap aspek produksi, yang berdampak pada peningkatan kinerja mesin dan pengurangan downtime. Selain Enterprise Resource Planning (ERP) mengintegrasikan seluruh proses bisnis perusahaan juga berperan penting dalam mendukung pengelolaan produksi. MES bekerja dengan baik di bawah kerangka ERP, yang menghubungkan berbagai departemen dalam perusahaan, mulai dari manajemen inventaris hingga pengelolaan tenaga kerja dan pengiriman produk. Kombinasi antara MES dan ERP ini memungkinkan PT. TKG Indonesia untuk tidak hanya mengoptimalkan proses produksi tetapi juga untuk memastikan berbagai departemen, yang pada akhirnya mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dalam proses produksi. Volume 5. No. Meskipun hasil OEE secara keseluruhan sudah cukup baik, dengan rata-rata 85,5%, yang sedikit lebih tinggi dari standar Lean Six Sigma sebesar 85,4%, masih terdapat beberapa area yang memerlukan perbaikan. Performance Efficiency dan Rate of Quality Product masing-masing berada sedikit di bawah target ideal yang ditetapkan dalam metodologi Lean Six Sigma. Dalam hal ini, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk lebih mendalam menerapkan prinsipprinsip Lean Six Sigma untuk mengurangi pemborosan dan variasi dalam proses Dengan fokus pada pengelolaan yang lebih efektif dan peningkatan efisiensi mesin, perusahaan dapat mencapai kinerja yang lebih optimal. Pengukuran efektivitas biaya yang diterapkan dalam penggunaan sistem MES juga menunjukkan hasil yang positif. Meskipun ada investasi awal untuk pengadaan dan implementasi MES, sistem ini terbukti memberikan manfaat jangka panjang dengan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi downtime, dan meningkatkan kualitas produk. Dalam hal ini. MES berkontribusi pada costeffectiveness memberikan data yang lebih akurat dan membuat keputusan yang lebih tepat terkait dengan penggunaan sumber daya dan perbaikan proses. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa PT. TKG Indonesia telah berhasil mengelola proses produksi dengan baik meskipun terdapat beberapa fluktuasi dalam kinerja. Dengan penerapan sistem MES yang efektif dan integrasi dengan ERP, perusahaan mampu meningkatkan kinerja produksi dan mencapai nilai OEE yang lebih baik. Namun, masih ada potensi untuk perbaikan lebih lanjut, terutama dalam meningkatkan Performance Efficiency dan Rate of Quality Product, yang akan mendukung perusahaan dalam mencapai efisiensi produksi yang lebih tinggi dan mendekati standar world-class yang ditetapkan oleh Lean Six Sigma. KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN Kesimpulan Implementasi Manufacturing Execution System (MES) 3. 0 di PT. TKG Indonesia produksi guna mengoptimalkan operasi dari lantai pabrik hingga lantai atas. MES ini memungkinkan proses mulai dari penjadwalan produksi berdasarkan pemantauan kualitas dan kecepatan real-time. Implementasi MES 3. 0 di PT. TKG Indonesia Penjadwalan Produksi. Fitur Real-time Monitoring. Efektivitas Peralatan Secara Keseluruhan (OEE. Kontrol Proses Statistik (SPC) dan Manajemen Kualitas. Track and Trace. Manajemen Formula. Implementasi MES 3. 0 di PT. TKG Indonesia memberikan visibilitas meningkatkan efisiensi serta kualitas produksi secara keseluruhan. Evaluasi implementasi Manufacturing Execution System (MES) 3. 0 di PT. TKG Indonesia berhasil mempertahankan tingkat kinerja produksi yang baik meskipun terdapat fluktuasi dalam nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE). Nilai Availability dan Rate of Quality Product menunjukkan hasil yang solid dengan rata-rata di atas Performance Efficiency mengalami variasi yang lebih Penerapan Manufacturing Execution System (MES) terbukti efektif dalam memantau dan mengelola data produksi secara real-time, yang efisiensi dan pengelolaan downtime. Meskipun demikian, masih terdapat ruang untuk perbaikan, terutama pada Performance Efficiency dan Rate of Quality Product, untuk mencapai tingkat efisiensi yang lebih optimal dan mendekati standar world-class. Journal of Banking Finansial Innovation (JBFI) Keterbatasan Penelitian ini hanya menganalisis data OEE dari Maret 2023 hingga Februari Rentang waktu yang relatif singkat menggambarkan kinerja jangka panjang dari implementasi MES 3. Hasil evaluasi kinerja dapat bervariasi tergantung pada kondisi operasional tertentu yang mungkin tidak terwakili dalam periode tersebut, seperti perubahan permintaan pasar atau perawatan mesin rutin. Saran Saran Praktis Perlu dilakukan peninjauan dan penyesuaian standar waktu produksi dan proses penjadwalan agar lebih sesuai dengan kondisi aktual di Hal ini dapat meningkatkan keselarasan antara perencanaan dan meningkatkan Performance Efficiency. Berdasarkan Performance Efficiency, dilakukan pelatihan rutin bagi operator dalam mengoperasikan mesin sesuai Pelatihan ini harus mencakup cara menangani masalah operasional mesin, mengoptimalkan kecepatan operasi, dan mengurangi waktu set-up. Seperti ada jadwal pelatihan bulanan untuk operator mesin yang fokus pada termasuk teknik troubleshooting mesin, pengaturan kecepatan operasi yang optimal, serta prosedur pengurangan waktu set-up antar produk. Pelatihan harus menggunakan modul praktis dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peningkatan Performance Efficiency secara terukur. Untuk mencapai target kualitas yang lebih tinggi, sistem pemantauan kualitas produk secara real-time melalui MES perlu dioptimalkan. Penerapan lebih ketat dari kontrol proses statistik (SPC) dapat membantu mengidentifikasi potensi cacat lebih awal, sehingga dapat dilakukan tindakan korektif sebelum produk cacat diproduksi lebih banyak. Seperti latih tim kualitas untuk secara aktif memonitor dan menganalisis data SPC guna melakukan tindakan korektif penyimpangan proses. Terapkan audit kualitas mingguan yang fokus pada kepatuhan terhadap parameter SPC dan hasil tindakan korektif untuk memastikan target kualitas produk tercapai secara konsisten. Saran Teoritis Mengingat bahwa MES bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan strategi lean manufacturing yang terintegrasi dengan fitur-fitur MES. Tujuannya adalah untuk mengurangi waste dalam proses produksi dan meningkatkan nilai tambah dalam Mengingat bahwa implementasi MES 0 memberikan hasil yang berbeda di berbagai industri, studi kasus tentang penerapan MES dalam industri spesifik seperti manufaktur sepatu dapat penyesuaian yang diperlukan untuk mencapai hasil terbaik. DAFTAR PUSTAKA