BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 PERMINTAAN TENAGA KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN BESAR DAN SEDANG DI SUMATERA Esha Galang Gati Mahendra1* Ida Budiarty1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Universitas Lampung. Lampung. Indonesia Email : 1*eshagalang1711021047@gmail. budiarti@feb. (*: Corresponden Autho. AbstrakOePenelitian ini bertujuan untuk menganalisis permintaan tenaga kerja pada industri besar dan sedang di Sumatera. Determinasi permintaan tenaga kerja dalam penelitian ini adalah Upah Minimum Provinsi. Produk Domestik Regional Bruto dan Jumlah Angkatan Kerja. Upah minimum menjadi salah satu variabel determinasi karena sampel penelitian ini adalah pekerja produksi. Data yang digunakan adalah data panel survei industri tahun 2010-2019 untuk 10 provinsi di pulau Sumatera. Model struktural yang diestimasi untuk masing-masing industri dan telah di uji secara signifikan adalah REM. Hasil estimasi memperlihatkan bahwa upah minimum provinsi, produk domestik rgional bruto dan jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Pada industri sedang, hasil estimasi menunjukkan bahwa upah minimum berpengaruh positif tidak signifikan, produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan, jumlah angkatan kerja berpengaruh negatif tidak signifikan. Kata Kunci: Penyerapan Tenaga Kerja. Angkatan Kerja. Industri Besar dan Sedang. Upah Minimum Provinsi. Produk Domestik Regional Bruto AbstractOeThis study aims to analyze the demand for labor in large and medium industries in Sumatra. The determinants of labor demand in this study are the Regional Minimum Wage. Gross Regional Domestic Product and Total Labor Force. The minimum wage is one of the determining variables because the sample in this study are production workers. The data used is industrial survey panel data for 2010-2019 for 10 provinces on the island of Sumatra. The structural model that has been estimated for each industry and has been tested significantly is REM. The estimation results show that the provincial minimum wage, gross regional domestic product and the size of the workforce have a positive and significant effect on employment. In medium industries, the estimation results show that the minimum wage has a positive and insignificant effect, gross regional domestic product has a positive and significant effect, the size of the workforce has a negative effect but is not significant. Keywords: Labor Absorbtion. Large and Medium Manufacturing. Minimum Wages. Gross Regional Domestic Product. Labor Force PENDAHULUAN Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemisikinan (Todaro dan Stephen C, 2. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dalam tahap berkembang. Salah satu tujuan yang menjadi fokus pembangunan ekonomi Indonesia sebagai negara berkembang adalah mengentaskan masalahmasalah ekonomi yang sedang terjadi. Masalah lapangan pekerjaan adalah salah satu masalah pokok yang dihadapi dalam Muslihatiningsih dan Kusumasari . menyatakan bahwa masalah ketenagakerjaan akan muncul apabila jumlah tenaga kerja yang ditawarkan lebih besar dari lapangan kerja yang ada di setiap sektor usaha, dengan kata lain lapangan kerja yang ada tidak mampu menampung atau mempekerjakan tenaga kerja yang ada. Masalah ini akan menyebabkan semakin meningkatnya tingkat pengangguran. Sektor industri sendiri diyakini sebagai leading sector yang merupakan sektor penggerak dalam sebuah perekonomian negara dan menjadi salah satu sektor ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan. Sektor industri mampu mengatasi masalah Dimana sektor industri dapat memimpin sektor perekonomian lainnya menuju pembangunan ekonomi (Rahmah dan Widodo, 2. Sebagai salah satu sektor yang paling Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 172 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 berpengaruh di bidang ekonomi, sektor industri diharapkan mampu terus berkembang dan menyerap tenaga kerja lebih banyak. Industri pengolahan di Indonesia khususnya sektor industri pengolahan merupakan sektor yang menyumbang produk domestik bruto (PDB) paling besar menurut lapangan Berdasarkan distribusi PDB Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2019 dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan menyumbang paling banyak PDB Indonesia dengan angka sebesar Artinya sektor industri pengolahan sangat berperan dalam perekonomian Indonesia jika dilihat dari banyaknya PDB yang disumbangkan. Namun sebagai sektor yang paling banyak menyumbang PDB Indonesia, perkembangan industri di Indonesia belumlah merata, ini menyebabkan penyerapan tenaga kerja juga di suatu wilayah tidak Tabel 1. Jumlah Industri Besar dan Sedang Indonesia 2019 Pulau Jumlah IBS Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Kepulauan Nusa Tenggara Kepulauan Maluku Papua Total IBS Indonesia Tabel 1 menunjukkan informasi jumlah industri besar dan sedang menurut kepualauan di Indonesia. Pulau Jawa memiliki jumlah industri besar dan sedang paling banyak diikuti pulau Sumatera dan yang lainnya. Jumlah industri besar dan sedang di Sumatera menempati posisi kedua dengan selisih yang cukup banyak dengan pulau Jawa. Namun lebih unggul jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, ini menandakan bahwa sektor industri di Sumatera sedang berkembang dibandingkan sektor industri di pulau Jawa. Beberapa provinsi di Sumatera masih mengandalkan sektor primer seperti pertanian. Hal ini dapat diketahui dari distribusi produk domestik regional bruto (PDRB) 2019, beberapa provinsi di Sumatera seperti seperti Aceh. Sumatera Utara. Sumatera Barat. Jambi. Bengkulu dan Lampung menyumbangkan PDRB paling banyak dari sektor pertanian. Hal ini menandakan bahwa pengaruh sektor industri di beberapa wilayah provinsi di Sumatera masihlah belum merata. Selanjutnya tercatat peranan sektor industri dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor industri pengolahan di pulau Sumatera berada di urutan ketiga dengan proporsi tenaga kerja sebanyak 8. METODE Jenis Data dan Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Survei Tahunan Industri Besar Sedang dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setiap provinsi di Sumatera. Penelitian ini menggunakan 3 variabel bebas . ndependent variable. yaitu upah minimum provinsi, produk domestik bruto, dan angkatan kerja, serta variabel terikat . ependent variabl. yaitu penyerapan tenaga kerja. Ruang lingkup penelitian ini mencakup 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan menggunakan data 10 tahun yaitu 2010-2019. Alat analisi yang digunakan adalah Eviews 10. Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 173 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 Regresi Data Panel Bentuk model regresi data panel yang akan digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua model estimasi, yaitu model untuk industri besar dan sedang masing-masing terpisah adalah sebagai berikut: LogPTKIBit = 0Log 1LogUMPit 2LogPDRBit 3LogJAK it yuNit LogPTKISit = 0Log 1LogUMPit 2LogPDRBit 3LogJAKit yuNit Keterangan : PTKIB = Penyerapan Tenaga Kerja Industri Besar PTKIS = Penyerapan Tenaga Kerja Industri Sedang UMP = Upah Minimum Provinsi PDRB = Produk Domestik Regional Bruto Sektor Industri JAK = Jumlah Angkatan Kerja yuNit = Komponen error = Kabupaten/Kota . ross sectio. = Tahun . ime serie. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan Model Penelitian 1 Pemilihan Model Pemelitian Industri Besar Tabel 2. Pengujian Model Industri Besar Pengujian Probabilitas Keputusan Uji Chow Terpilih FEM Uji Hausman Terpilih REM Uji Lagrange Multiplier Terpilih REM Berdasarkan hasil dari pengujian pemilihan model yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa model yang terpilih baik industri besar adalah Random Effect Model. Tabel 3. REM Industri Besar Variable Coefficient Std Error t-stat Prob UMP PDRB JAK LogPTKIBit = -30. 9298Log Ae 0. 4256LogUMPit 1. 9436LogPDRBit - 1. 1247LogJAKit yuNit = Nilai -30. 9299 diartikan bahwa apabila semua variabel independen dianggap konstan atau tidak mengalami perubahan maka penyerapan tenaga kerja industri besar akan turun sebesar 1 = Nilai -0. 4257 diartikan bahwa ketika UMP naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri besar akan turun sebesar 0. 42% persen, ceteris paribus. = Nilai 1. 9436 diartikan bahwa ketika PDRB naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri besar akan naik sebesar 1. 92% persen, ceteris paribus. = Nilai -1. 1248 diartikan bahwa ketika PDRB naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri besar akan turun sebesar 1. 12% persen, ceteris paribus Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 174 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 1 Pemilihan Model Pemelitian Industri Sedang Tabel 4. Pengujian Model Industri Sedang Pengujian Probabilitas Keputusan Uji Chow Terpilih FEM Uji Hausman Terpilih REM Uji Lagrange Multiplier Terpilih REM Berdasarkan hasil dari pengujian pemilihan model yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa model yang terpilih baik industri sedang adalah Random Effect Model. Tabel 5. REM Industri Sedang Variable Coefficient Std Error t-stat Prob UMP PDRB JAK LogPTKISit = -24. 3827Log 0. 1988LogUMPit 0. 9595LogPDRBit - 0. 1099LogJAKit yuNit = Nilai -24. 3827 diartikan bahwa apabila semua variabel independen dianggap konstan atau tidak mengalami perubahan maka penyerapan tenaga kerja industri sedang akan turun sebesar 1 = Nilai 0. 1988 diartikan bahwa ketika UMP naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri sedang akan naik sebesar 0. 19% persen, ceteris paribus. = Nilai 0. 9595 diartikan bahwa ketika PDRB naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri sedang akan naik sebesar 0. 95% persen, ceteris paribus. = Nilai -0. 1100 diartikan bahwa ketika PDRB naik sebesar 1 persen, maka penyerapan tenaga kerja di industri sedang akan turun sebesar 0. 11% persen, ceteris paribus Pengujian Asumsi Klasik 1 Pengujian Asumsi Klasik Industri Besar Normalitas Dari data olahan eviews pada didapat nilai probabilitas sebesar 0,725344 pada uji normalitas model REM untuk penelitian industri besar dimana nilai probilitas JB lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa residual tersebar secara normal. Multikolinieritas Model REM pada penelitian industri besar tidak terdapat variabel yang memiliki nilai korelasi lebih dari 0. 8, sehingga dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas dalam model regresi. Heteroskedastisitas Model REM untuk penelitian pada industri besar bebas dari heteroskadastisitas karena nilai probabilitas dari masing-masing variabel independent terhadap variabel RESABS (Residual Absolut. lebih besar dari nilai . %). Autokorelasi Model penelitian industri besar menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson berada pada posisi otokorelasi positif. Hal ini mengindikasi bahwa model tersebut mempunyai masalah autokorelasi Namun, karena metode yang dipakai adalah bentuk metode GLS (Generalized Least-squar. dalam penelitian maka hasil output dapat disimpulkan bahwa metode GLS telah mengakomodasi permasalahan otokorelasi (Gujarati dan Porter, 2. Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 175 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 2 Pengujian Asumsi Klasik Industri Sedang Normalitas Hasil uji normalitas pada menunjukkan tingkat probabilitas lebih besar dari 0. 05 yaitu Hal ini berarti data penelitian yang digunakan dalam model regresi tersebut terdistribusi Multikolinieritas Pada penelitian industri sedang tidak terdapat variabel yang memiliki nilai korelasi lebih dari 8, sehingga dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas dalam model regresi. Heteroskedastisitas Model REM untuk penelitian pada industri sedang keduanya bebas dari heteroskadastisitas karena nilai probabilitas dari masing-masing variabel independent terhadap variabel RESAB (Residual Absolut. lebih besar dari nilai . %). Autokorelasi Model penelitian industri sedang menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson berada pada posisi otokorelasi positif. Hal ini mengindikasi bahwa model tersebut mempunyai masalah autokorelasi positif. Namun, karena metode yang dipakai adalah bentuk metode GLS (Generalized Least-squar. dalam penelitian maka hasil output dapat disimpulkan bahwa metode GLS telah mengakomodasi permasalahan otokorelasi (Gujarati dan Porter, 2. Pengujian Hipotesis 1 Pengujian Hipotesis Industri Besar Uji Hipotesis Parsial Tabel 6. Hasil Uji t-statistik (Model Penelitian Industri Besa. Variabel Terikat (Y) = PTK (IB) Variabel Bebas t-statistik t-tabel Probabilitas Keterangan Kesimpulan UMP Ha diterima Berpengaruh PDRB Ha diterima Berpengaruh JAK Ha diterima Berpengaruh Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa seluruh variabel bebas berpengaruh seignifikan terhadap penyerapan tenaga kerja produksi pada industri pengolahan besar di provinsi-provinsi Sumatera pada tahun 2010-2019 dengan tingkat kepercayaan 95% atau = 5%. Uji Hipotesis Simultan Tabel 7. Hasil Uji F (Model Penelitian Industri Besa. DF1 DF2 F-tabel F-stat Prob Keterangan Ha diterima Berdasarkan Tabel 7, hasil uji signifikansi simultan diperoleh F-statistik sebesar 8. 7206 dan F-tabel sebesar 2. 76 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 < 0,005. Dengan hasil pengujian di Tabel, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan besar di provinsi-provinsi Sumatera pada tahun 2010-2019. Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 176 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 Uji R2 Nilai koefisien determinasi (R. 214158 untuk model REM industri besar. Sedangkan nilai 0. 785842 pada model REM industri besar dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model. Dengan kata lain, variasi penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan besar dapat dijelaskan oleh variasi variabel upah minimum provinsi, produk domestik regional bruto dan jumlah angkatan kerja sebesar 21% dan sisanya 79% dipengaruhi oleh variabel 2 Pengujian Hipotesis Industri Sedang Uji Hipotesis Parsial Tabel 8. Hasil Uji t-statistik (Model Penelitian Industri Sedan. Variabel Bebas Variabel Terikat (Y) = PTK (IS) UMP t-statistik t-tabel Probabilitas Keterangan Ha ditolak Kesimpulan Tidak Berpengaruh PDRB Ha diterima Berpengaruh JAK H ditolak Tidak Berpengaruh Berdasarkan tabel diatas diketehui bahwa upah minimum provinsi dan jumlah angkatan kerja tidak berpengaruh signifikan sedangkan variabel produk domestik regional bruto terhadap variabel penyerapan tenaga kerja tenaga kerja produksi pada industri pengolahan sedang di provinsi-provinsi Sumatera pada tahun 2010-2019 dengan tingkat kepercayaan 95% atau = 5%. Uji Hipotesis Simultan Tabel 9. Hasil Uji F (Model Penelitian Industri Sedan. DF1 DF2 F-tabel F-stat Prob Keterangan Ha diterima Lalu berdasarkan Tabel 9, hasil uji signifikansi simultan diperoleh F-statistik sebesar 19821 dan F-tabel sebesar 2. 76 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 < 0,005. Dengan hasil pengujian di Tabel, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan sedang di provinsi-provinsi Sumatera pada tahun 2010-2019. Uji R2 Nilai koefisien determinasi (R. 307333 untuk industri sedang. Sedangkan nilai 692667 pada model REM industri sedang dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model. Dengan kata lain, variasi penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahansedang dapat dijelaskan oleh variasi variabel upah minimum provinsi, produk domestik regional bruto dan modal sebesar 31% dan sisanya 69% dipengaruhi oleh variabel lain. Pembahasan Hasil Penelitian 1 Pembahasan Hasil Penelitian pada Industri Besar Pengaruh Upah Minimum Provinsi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Besar di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa upah minimum provinsi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan besar di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi sebesar -0. 4256 dengan nilai prob 0. 0150 < = 0. 05 pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya, jika terjadi kenaikan upah Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 177 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 minimum provinsi sebesar 1% maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0. persen, cateris paribus. Hasil ini juga sejalan dengan penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Ardiansyah et al . , dari hasil penelitian menunjukkan bahwa upah minimum memberikan pengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Kenaikan upah minimum akan menyebabkan biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan tinggi, sehingga terjadi inefisiensi pada Selanjutnya perusahaan akan mengeluarkan kebijakan pengurangan tenaga kerja untuk memperkecil biaya produksi. Hal ini menyimpulkan bahwa adanya kenaikan upah minimum akan mengurangi jumlah tenaga kerja sehingga jumlah penyerapan tenaga kerja juga berkurang. Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Besar di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan besar di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 1. 9436 dan probilitas 0. 0000 < = 0. 05 pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya, jika terjadi kenaikan PDRB sebesar 1% maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja 1. 94% persen, cateris paribus. Jika merujuk pada teori yang diungkapkan oleh Keynes dalam Patriansyah . , bahwa pasar tenaga kerja hanyalah mengikuti apa yang terjadi di pasar barang, dalam hal ini PDRB akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja jika permintaan output suatu perusahaan naik. Adapun kesamaan dari hasil penelitian ini dengan penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Asmara . , dari hasil analisis regresi menunjukkan bahwa PDRB berpengaruh positif yang signifkan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Safri . bahwa PDRB memberikan pengaruh positif dan signifkan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri pengolahan. Pengaruh Jumlah Angkatan Kerja Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Besar di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Jumlah angkatan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan besar di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi sebesar -1. 1247 dengan nilai prob 0. 0183 < = 0. 05 pada tingkat kepercayaan Artinya, jika jumlah angkatan kerja bertambah 1% maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja industri besar sebesar 0. 11% persen, cateris paribus. Hasil penelitian ini berlawanan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Karmini dan Wiasih . di Bali yang mana jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan. 2 Pembahasan Hasil Penelitian pada Industri Sedang Pengaruh Upah Minimum Provinsi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Sedang di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Hasil yang didapatkan pada industri sedang berbeda dengan industri besar. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa upah minimum regional berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan sedang di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0. 1988 dengan nilai prob 0. > = 0. 05 pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya, jika terjadi kenaikan upah minimum provinsi sebesar 1% maka akan menaikkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0. 19% persen, cateris paribus. Namun hasil penelitian sejalan dengan penelitian Rochmani et al . bahwa upah minimum provinsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kebijakan upah minimum yang dibuat oleh pemerintah sangat berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di industri besar. Kebijakan upah minumum ditunjukan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Namun, kebijakan ini juga akan membuat tingkat pengangguran meningkat. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki kemampuan untuk menentukan harga dari tenaga kerjanya membuat pasar tenaga kerja tidak lagi menjadi bersifat persaingan sempurna, namun sudah berubah menjadi pasar monopsoni. Saat perusahaan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga tenaga kerjanya maka disitulah mereka akan menekan harga tenaga kerjanya apalagi jumlah tenaga kerja yang tersedia melimpah (Suman 2. Esha Galang Gati M. | https://journal. id/index. php/bullet | Page 178 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 172-180 Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Sedang di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan sedang di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi 9595 prob 0. 0356 < = 0. 05 pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya, jika terjadi kenaikan PDRB sebesar 1% maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0. 95% persen, cateris Hasil penelitian ini sendiri sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Maghfiroh et al . , didapat hasil bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara produk domestik regional bruto terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya, apabila produk domestik regional bruto mengalami kenaikan maka sektor industri akan meningkatkan kapasitas produksinya yang selanjutnya akan memengaruhi peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut. Produk domestik regional bruto dapat mempengaruhi jumlah angkatan kerja yang bekerja dengan asumsi apabila nilai produk domestik regional bruto meningkat, maka jumlah nilai tambah output atau penjualan dalam seluruh unit ekonomi disuatu wilayah juga akan meningkat, semakin besar output atau penjualan yang dilakukan oleh suatu industri maka akan mendorong unit industri untuk menambah permintaan tenaga kerja agar produksinya dapat ditingkatkan untuk mengejar peningkatan penjualan tersebut. Pengaruh Jumlah Angkatan Kerja Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Sedang di Provinsi-provinsi Sumatera 2010-2019 Jumlah angkatan kerja berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan sedang di provinsi-provinsi Sumatera pada 2010-2019. Dengan nilai koefisien regresi sebesar -0. 1099 dengan nilai prob 0. 8267 > = 0. 05 pada tingkat kepercayaan 95%, maka variabel jumlah angkatan kerja menunjukkan hasil yang negatif namun tidak signifikan. Artinya, jika terjadi pertambahan jumlah angkatan kerja sebesar 1% maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0. 1%, cateris paribus. Hasil penelitian ini juga berlawanan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Karmini dan Wiasih . di Bali yang mana jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Pada industri besar variabel UMP dan jumlah angkatan kerja berpengaruh negatif dan signifikan sedangkan PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pada Industri Sedang variabel UMP berpengaruh negatif namun tidak signifikan, variabel PDRB berpengaruh positif signifikan dan variabel jumlah angkatan kerja berpengaruh negatif signifikan. Secara simultan baik industri besar maupun sedang seluruh variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. REFERENCES