Pengajaran Etika Kristen dalam Pembentukkan Karakter dan Moral Siswa di SMTK Setia Mamuju Lia Arriani Sarumaha*. Lyly Grace Mantiri Sekolah Tinggi Teologi Rajawali Arastamar Indonesia Batam Email koresponden: Liasarumaha07@gmail. Submit: 05-03-2024 Review: 08,17-09-2024 Revisi: 28-12-2024 Terbit: 30-04-2024 Keywords: Christian education. Christian ethics. PAK teacher Kata Kunci: etika Kristen. Guru PAK, karakter, pendidikan Kristen p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A2025. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract Character and moral education is an important element in shaping students' personalities, especially in Christian-based schools such as SMTK Setia Mamuju. This research aims to explore how the teaching of Christian ethics can be applied effectively in shaping students' character and morals. The research uses a qualitative method with a descriptive approach, where data is collected through interviews, observations and document analysis. The results of the study show that the teaching of Christian ethics not only focuses on teaching biblical doctrine but also on the application of values such as love, responsibility, honesty and discipline in students' daily lives. Christian Religious Education Teachers (PAK) play an important role as role models and facilitators in the process of shaping students' character. The strategies used include integrating Christian values into the curriculum. Bible-based interactive learning, and character development through extracurricular activities. In conclusion, the teaching of Christian ethics at SMTK Setia Mamuju has proven to be effective in building students' character and morals, but continuous efforts are still needed to ensure consistency in its This study provides recommendations for educators to strengthen a holistic and contextual teaching approach in character education based on Christian ethics. Abstrak Pendidikan karakter dan moral merupakan elemen penting dalam pembentukkan kepribadian siswa, terutama di sekolah berbasis Kristen seperti SMTK Setia Mamuju. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pengajaran etika Kristen dapat diterapkan secara efektif dalam membentuk karakter dan moral siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dimana data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran etika Kristen tidak hanya berfokus pada pengajaran doktrin Alkitab tetapi juga pada penerapan nilai-nilai seperti kasih, tanggung jawab, kejujuran dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) memainkan peran penting sebagai model teladan dan fasilitator dalam proses pembentukkan karakter siswa. Strategi yang digunakan meliputi pengintegrasian nilai-nilai Kristen dalam kurikulum, pembelajaran interaktif berbasis Alkitab, serta pembinaan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kesimpulannya, pengajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju terbukti efektif dalam membangun karakter dan moral siswa, namun masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk memastikan konsistensi dalam implementasinya. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi para pendidik untuk memperkuat pendekatan pengajaran yang holistik dan kontekstual dalam pendidikan karakter berbasis etika Kristen. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 PENDAHULUAN Etika Kristen merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter dan moral seseorang, khususnya bagi siswa di lembaga pendidikan berbasis kristiani. Dalam konteks pendidikan, pengajaran etika Kristen memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan ajaran Alkitab. Sumber mutlak dari pengetahuan etika Kristen hanyalah satu yaitu Alkitab (Verkuyl 2016, . Pengajaran ini tidak hanya menjadi pelajaran teoritis, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Setia Mamuju, etika Kristen menjadi bagian integral dari kurikulum, bertujuan membentuk generasi yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan komitmen terhadap nilai-nilai Pendidikan moral dan karakter menjadi salah satu tantangan utama dalam dunia pendidikan saat ini terutama di tengah era globalisasi yang membawa pengaruh budaya yang beragam. Para siswa dihadapkan pada berbagai tantangan yang dapat memengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku mereka. Dalam situasi ini, peran pendidikan etika Kristen menjadi sangat relevan sebagai upaya untuk membangun moralitas siswa berdasarkan prinsip-prinsip alkitabiah. SMTK Setia Mamuju berkomitmen untuk memastikan bahwa pendidikan etika Kristen mampu menjawab tantangan ini. Pembentukan karakter siswa bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga lembaga pendidikan. Di SMTK Setia Mamuju, proses ini dilakukan melalui pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, sehingga siswa dapat memahami dan menghayati makna etika Kristen dalam kehidupan mereka. Pendekatan ini melibatkan pengajaran yang holistik, mencakup dimensi intelektual, emosional dan spiritual. Dengan demikian siswa diharapkan mampu menjadi teladan di masyarakat, mencerminkan nilainilai kristiani yang diajarkan di sekolah (Jung 2. Dalam ajaran agama Kristen, keteladanan memegang peran penting bagi setiap orang percaya. Keteladanan diartikan sebagai kemampuan untuk menjadi panutan atau contoh bagi orang lain, baik dalam tindakan, sikap, maupun perilaku sehari-hari. Sebagai seorang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dipanggil untuk menjadi teladan bagi sesama, sebagaimana yang disampaikan rasul Paulus dalam 2 Korintus 3:3 (Dirks Kehidupan seorang Kristen hendaknya mencerminkan ajaran Yesus Kristus sehingga dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, baik mereka yang sudah percaya maupun yang belum, agar keteladanan tersebut, nama Yesus dimuliakan. Menjadi teladan berarti menjalani kehidupan yang patut dicontoh dalam segala aspek, termasuk integritas, kasih dan kesalehan (Rusyan et al. 2005, . Penerapan ajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju dilakukan melalui berbagai metode, termasuk diskusi, simulasi dan penerapan langsung dalam kehidupan seharihari. Guru-guru memainkan peran penting sebagai fasilitator dan teladan dalam proses Mereka tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menunjukkan bagaimana prinsipprinsip etika Kristen dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan pendekatan ini, siswa diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut sehingga menjadi bagian dari karakter mereka. Menurut Nainggolan, guru agama Kristen harus menjadi teladan yang baik, baik dalam aspek pengetahuan maupun perilaku. Seorang PENGAJARAN ETIKA KRISTEN A (L. Sarumaha & L. Mantir. guru dituntut untuk senantiasa menunjukkan kualitas hidup yang layak dijadikan panutan bagi para murid (Nainggolan 2010, . Namun, proses pembentukkan karakter dan moral siswa tidak lepas dari tantangan. Berbagai faktor, seperti lingkungan sosial, kemajuan teknologi dan pengaruh budaya luar, seringkali menjadi hambatan dalam mengintegrasikan nilai-nilai etika Kristen ke dalam kehidupan siswa. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang kreatif dan relevan untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik dalam pengajaran etika Kristen. SMTK Setia Mamuju terus berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran yang adaptif untuk menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip Alkitab. Norman mengatakan bahwa etika Kristen merupakan sebuah sikap yang didasarkan pada perintah ilahi. Kewajiban etis dalam etika Kristen merujuk pada tindakan yang seharusnya dilakukan oleh individu sebagai respons terhadap ketetapan yang berasal dari otoritas ilahi (Geisler 2010, . Salah satu masalah yang dapat terjadi dalam pengajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju adalah kurangnya integrasi antara teori dan praktik dalam membentuk karakter dan moral siswa. Meskipun siswa diajarkan nilai-nilai etika Kristen secara teori, penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari seringkali menghadapi tantangan, seperti pengaruh budaya luar, media sosial, dan lingkungan sosial yang tidak Hal ini menyebabkan kesenjangan antara pemahaman siswa tentang etika Kristen dan implementasinya dalam sikap dan perilaku, serta interaksi mereka di sekolah dan di asrama maupun kepada masyarakat. Sekolah SMTK SETIA Mamuju merupakan sekolah swasta Kristen yang memberikan perhatian pada pembentukan nilai-nilai spiritual dan moralitas dalam kehidupan anakanak. Setiap hari, para siswa rutin melakukan ibadah. Sekolah ini terletak di pinggiran kota Mamuju, tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sekolah ini tidaklah sendirian di kota Mamuju, melainkan dikelilingi oleh banyak sekolah negeri maupun swasta lainnya. Anakanak yang sekolah di SMTK Setia Mamuju ini tidak ada yang tinggal di luar asrama, semuanya tinggal di asrama, selain karena faktor jarak sekolah dengan jarak tempat tinggal siswa-siswinya yang sangat jauh, sekolah ini juga memiliki visi yaitu menjadikan anak didiknya teladan iman di tengah-tengah kota Mamuju yang saat ini dikelilingi oleh orang-orang mayoritas yang tidak mengenal Yesus sebagai Tuhan. Setelah mengikuti kegiatan anak-anak asrama, ditemukan bahwa praktik mengenai etika Kristen belum terintegrasi sesuai dengan teori etika Kristen dalam membentuk karakter dan moral METODE PELAKSANAAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang bersifat konkret secara mendalam melalui pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan analisis dokumen (Zaluchu 2. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali secara mendalam proses pengajaran etika Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 Kristen dan dampaknya terhadap pembentukan karakter dan moral siswa di SMTK Setia Mamuju. Data akan dikumpulkan melalui wawancara dengan guru dan beberapa siswa, serta melalui observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran dan aktivitas sekolah yang terkait dengan pengajaran etika Kristen. Selain itu, dokumen seperti silabus, modul pengajaran, dan laporan kegiatan sekolah juga akan dianalisis untuk memahami implementasi nilai-nilai etika Kristen di SMTK Setia Mamuju. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, menyajikan data dalam bentuk narasi deskriptif dan menarik kesimpulan berdasarkan temuan lapangan. Tempat: pelaksanaan observasi ini di SMTK SETIA Mamuju, kec. Mamuju. Kab. Mamuju. Sulawesi Barat. Alat yang digunakan: Dalam masa melaksanakan observasi dan wawancara, menggunakan alat tulis seperti pulpen, dan buku catatan. Dalam mengobservasi, pengamatan difokuskan pada siswa-siswi yang tinggal di asrama, terlebih pengabdi juga tinggal di dalamnya, jadi dalam melakukan observasi, bisa dilakukan setiap HASIL DAN PEMBAHASAN Diskusi Bersama Dengan Guru PAK & Siswa Yang Ada di SMTK SETIA Mamuju Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan 10 informan yang dipilih sebagai representasi dari subjek yang diteliti. Data dari 10 partisipan penelitian telah diolah dan disajikan dalam dua tabel, salah satunya memuat hasil data dari 5 partisipan yang berprofesi sebagai guru: No. Nama Indri Sara Lende Rano Mara Mance Arnold Jenis Kelamin Tabel hasil data dari 5 partisipan yang merupakan siswa-siswi asrama: No. Nama Alista Andri Enti Finda Defraim Jenis Kelamin Informasi yang diperoleh dari wawancara merupakan respons informan terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dalam wawancara tatap muka, kemudian disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: PENGAJARAN ETIKA KRISTEN A (L. Sarumaha & L. Mantir. No. Pertanyaan Bagaimana menurut pendapat Bapak/Ibu Guru pentingnya pengajaran etika Kristen dalam membentuk karakter dan moral siswa di SMTK Setia Mamuju? Apa Bapak/Ibu Guru terhadap penerapan etika Kristen di SMTK Setia Mamuju dimasa No. Pertanyaan Bagaimana Jawaban dari Guru PAK Tentu saja sangat penting karena ini menjadi dasar pembentukkan karakter dan moral Belajar etika Kristen merupakan fondasi penting yang memiliki peranan utama dalam membentuk karakter dan moral siswa. Dengan mempelajari etika Kristen, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai kristiani tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membantu siswa menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur, dan menghargai orang lain sesuai dengan ajaran Yesus Kristus. Menurut pendapat ibu Sara. Etika kristen harus dan wajib dijadikan sebagai mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa mengingat sekolah tempat mereka belajar saat ini adalah sekolah Kristen yang memiliki visi untuk menjadikan siswa/siswi yang belajar disini berkarakter Kristus. Harapannya adalah agar pengajaran etika Kristen terus diperkuat sehingga dapat membentuk siswa menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki integritas dan moral yang tinggi. Berharap bahwa dengan belajar etika Kristen, siswa di tempat ini menjadi teladan bagi lingkungan mereka dengan menunjukkan karakter kristiani yang kuat. Berharap pengajaran etika Kristen dapat terus ditingkatkan dan menjadi bagian integral dari kehidupan siswa, tidak hanya disekolah tetapi juga dirumah dan dimasyarakat. Jawaban dari siswa/siswi asrama Menurut siswi yang bernama Alista. Kristen membantunya dalam memahami bagaimana hidup sesuai dengan ajaran Alkitab. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 Kristen yang diajarkan di sekolah? Pengajaran etika Kristen membantu kami sebagai siswa menjadi lebih baik dalam bertindak, seperti lebih sabar, menghormati orang lain dan bertanggung jawab atas tindakan yang kami lakukan. Pengajaran etika Kristen membuat saya secara pribadi menjadi mulai berhati-hati dalam berbicara dan bertindak yang berpotensi dapat menyakiti orang lain. Gambar I. Gambar yang diambil setelah selesai melakukan wawancara terhadap siswa Hasil wawancara menunjukkan beragam tanggapan dari responden yang menegaskan bahwa pengajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju merupakan aspek yang sangat penting dan esensial. Pembinaan Pengembangan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memperbarui tindakan atau usaha dalam kegiatan tertentu guna mencapai hasil yang optimal. Pembinaan dilakukan secara sadar, direncanakan dengan matang, terarah, terjadwal, serta dilaksanakan secara bertanggung jawab sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan dan pencapaian yang diharapkan. Secara etimologis, pembinaan berasal dari kata dasar bina dengan imbuhan pe-an, yang berarti tindakan atau aktivitas Membina sendiri merujuk pada upaya yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk menghasilkan hasil yang lebih baik (Dedi Arianto. SriWahyuni 2020, . Pembinaan berupa pendidikan berbasis agama atau etika Kristen secara menyeluruh kepada peserta didik yang sedang mengikuti proses pembelajaran di dalam Pembinaan ini dilakukan setelah beberapa hari melaksanakan sesi wawancara terhadap peserta didik yang telah dicatat dalam tabel sebelumnya. Pembinaan tersebut PENGAJARAN ETIKA KRISTEN A (L. Sarumaha & L. Mantir. tidak sekadar bersifat formalitas, melainkan bertujuan agar peserta didik di SMTK Setia Mamuju dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan seharihari. Pembinaan ini merupakan wujud perhatian khusus selama masa praktik di SMTK Setia Mamuju. Sebagai pengajar dengan latar belakang teologi, pengabdi merasa memiliki tanggung jawab moral ketika mendapati peserta didik yang kesulitan mengendalikan diri, baik dari aspek emosi maupun kebiasaan buruk lainnya yang tidak mencerminkan pribadi yang takut akan Tuhan. Hal ini juga dinilai belum selaras dengan visi sekolah untuk membentuk peserta didik menjadi teladan iman. Gambar 2. Pelaksanaan PkM Untuk membentuk siswa yang memiliki karakter yang baik, guru perlu memberikan perhatian khusus karena pengaruh budaya terhadap siswa seringkali sulit disaring dalam berbagai situasi pergaulan. Apabila hal ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai, siswa beresiko mengalami penurunan moralitas yang dapat mengakibatkan hilangnya nilai-nilai etika dan perilaku sopan dalam kehidupan mereka (Agustin et al. Pembinaan yang dilakukan mencakup pemberian nasihat kepada peserta didik di SMTK Setia Mamuju bahwa sebagai pengikut Kristus, mereka diharapkan memiliki etika Kristen yang baik. Hal ini penting karena inti kehidupan orang beriman terletak pada moralitas. Iman tanpa disertai perbuatan yang nyata pada dasarnya menjadi mati, tidak bermakna, dan tidak berguna. Oleh karena itu, sebagai peserta didik di sekolah swasta Kristen, mereka seharusnya memiliki kesadaran moral untuk mewujudkan imannya melalui perbuatan yang bertanggung jawab. Iman merupakan inti dari keyakinan agama yang menjadi landasan kehidupan seseorang. Tanpa iman, kehidupan dan perkembangan manusia tidak dapat berjalan dengan baik. Kepercayaan, dalam hal ini, adalah kondisi Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 spiritual yang menggambarkan hubungan pribadi dengan Tuhan, yang diakui sebagai sumber keselamatan (Suryanti 2017, . Gambar 3. Pelaksanaan PkM Gambar di atas, diambil saat sedang melakukan pembinaan Pendekatan Pembinaan Karakter Secara Individu Selain pembelajaran kelas, tindakan lain adalah memberikan perhatian khusus kepada siswa yang membutuhkan bimbingan lebih intensif dalam aspek moral dan Ini dapat dilakukan melalui pendekatan individu, di mana pengabdi memberikan arahan dan nasihat berdasarkan nilai-nilai Kristen untuk membantu siswa mengatasi tantangan pribadi mereka. Pendekatan pembinaan secara individu merupakan salah satu metode yang efektif dan membantu dalam membentuk karakter dan moral siswa SMTK Setia Mamuju, khususnya dalam konteks pengajaran Etika Kristen. Dalam dunia pendidikan di sekolah, pendidikan karakter merupakan upaya manusia yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk membentuk peserta didik agar memiliki moral yang baik (Mbeo and Krisdiantoro 2021, . Pembinaan karakter siswa secara individu merupakan langkah strategis dalam upaya membangun moral dan etika kristiani. Pendekatan ini memberikan kesempatan untuk memahami kebutuhan unik setiap siswa, sehingga pembinaan dapat dilakukan secara lebih spesifik, relevan dan efektif. Dalam konteks pendidikan di SMTK Setia Mamuju, pembinaan karakter secara individu menjadi salah satu cara untuk mengimplementasikan pengajaran Etika Kristen dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan karakter siswa melalui observasi dan interaksi langsung. Setiap siswa memiliki latar belakang, tantangan dan PENGAJARAN ETIKA KRISTEN A (L. Sarumaha & L. Mantir. pengalaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendekatan individu menjadi penting untuk memberikan bimbingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing siswa. Beberapa siswa memiliki kesulitan dalam mengontrol emosi, menghadapi konflik sosial, atau memahami nilai-nilai etika yang diajarkan di kelas. Melalui pendekatan ini, mereka dapat memahami pentingnya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip kristiani. Dalam etika Kristen, keyakinan yang mendasar adalah bahwa pengetahuan tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan berakar pada pernyataan ilahi. Agama Kristen bukanlah sistem kehidupan yang didasarkan pada spekulasi rasional atau pragmatisme, melainkan pada wahyu Allah. Allah telah menyatakan siapa diri-Nya, siapa manusia, serta bagaimana hubungan manusia dengan-Nya seharusnya dijalin. Selain itu. Allah juga mengungkapkan hal-hal yang berkenan kepada-Nya dan menjadi kehendak-Nya untuk dilaksanakan oleh manusia (Sproul 2022, . Selain itu, pendekatan ini mengharuskan seorang guru untuk menjadi teladan yang Seorang pendidik Kristen harus memiliki karakter yang mencerminkan kasih, kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab serta menjadi teladan yang merepresentasikan karakter Kristus bagi anak-anak dalam pembelajaran (Ferianti 2021, . Menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kasih dan ajaran Kristus dalam setiap situasi. Teladan ini menjadi penting karena siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat dari Ketika siswa melihat guru mereka hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan, mereka akan lebih termotivasi untuk mengadopsi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Menurut Sidjabat, apabila seseorang memusatkan perhatian pada aspek teologis, maka teologi tersebut seharusnya mampu menginspirasi individu tersebut untuk lebih bersyukur kepada Tuhan. Rasa syukur ini hendaknya diwujudkan melalui ucapan dan perilaku yang mencerminkan keimanan, baik dalam konteks ibadah, kesaksian, maupun tindakan dalam kehidupan sehari-hari (Sidjabat 2011, . Dalam pendekatan ini. Alkitab digunakan sebagai sumber utama pembinaan Etika Kristen mengacu pada prinsip-prinsip moral yang berlandaskan ajaran Alkitab. Prinsip-prinsip ini meliputi kasih, keadilan, kejujuran dan tanggung jawab (Agustina et al. Firman Tuhan digunakan sebagai landasan untuk memberikan arahan dan membangun kepribadian siswa. Setiap sesi pembinaan disertai dengan refleksi dari ayat-ayat Alkitab yang relevan, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan bimbingan moral, tetapi juga diperkaya secara rohani. Selama proses pembinaan, penting untuk memberikan evaluasi dan umpan balik yang konstruktif. Setiap kemajuan yang dicapai oleh siswa dihargai, baik melalui pengakuan verbal maupun pujian. Penguatan positif ini bertujuan memotivasi siswa agar terus berusaha memperbaiki diri. Dalam hal ini, tekankan bahwa setiap langkah kecil menuju perubahan adalah bagian dari perjalanan mereka dalam membangun karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Melalui pendekatan pembinaan karakter secara individu, siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak hanya memahami nilai-nilai etika kristiani, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan mereka. Pendekatan ini memungkinkan pembinaan yang holistik, mencakup aspek intelektual, moral, dan spiritual. Dengan demikian, tujuan pendidikan di SMTK Setia Mamuju, yaitu membentuk siswa yang berkarakter, bermoral, dan takut akan Tuhan, dapat tercapai secara nyata. Menurut Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 Anggita dan Freddi, etika Kristen menjadi dasar utama dalam pembentukkan nilai karakter dan moral manusia dalam dunia pendidikan (Manik and Saragi 2. Menjadi Teladan yang Baik Mendidik merupakan proses pengalihan dan penguatan nilai-nilai kehidupan, mengajar adalah proses transfer dan pengembangan pengetahuan, sedangkan melatih adalah proses pengembangan keterampilan siswa. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah seorang profesional dalam bidang pendidikan yang memiliki tanggung jawab Sebagai pendidik, guru PAK dituntut memiliki integritas serta keteguhan spiritual yang kuat untuk menjalankan perannya secara optimal. Guru memegang peran utama dalam proses pendidikan, karena mereka menjadi teladan bagi siswa dari berbagai aspek. Anak-anak, khususnya pada usia dini, cenderung meniru dan mengidentifikasi diri mereka melalui orang tua maupun guru. Menurut Djamarah, teladan yang diberikan oleh guru, baik secara sengaja maupun tidak, memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap peserta didik dibandingkan dengan hukuman atau larangan. Teladan tersebut secara mendalam meresap ke dalam hati dan pikiran peserta didik, membentuk perilaku dan karakter mereka (Djamarah 2014, . Menurut Masnur Muslich, seorang pendidik harus mampu menjalin hubungan yang erat dan harmonis kepada dengan peserta didik serta menjadi teladan yang baik bagi mereka. Oleh karena itu setiap pernyataan yang disampaikan kepada peserta didik hendaknya mengandung kebenaran yang tepat dan akurat, baik dari segi ilmu pengetahuan, nilai moral, agama, budaya. Penyampaian tersebut sebaiknya dilakukan dengan sikap ramah dan sopan, sehingga menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran. Seorang guru juga perlu membangun hubungan yang bersahabat dengan peserta didik tanpa menunjukkan sikap canggung dan Hal ini penting karena peserta didik cenderung memerhatikan dan meniru tingkah laku guru dalam berbagai situasi, menjadikan perilaku guru sebagai acuan dalam kehidupan mereka (Muslich 2022, . Dalam mengajarkan etika Kristen kepada anak didik, sebagai guru sangat penting untuk selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang baik, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Kepribadian yang berwibawa tercermin dalam perilaku yang dapat memberikan dampak positif bagi siswa dan dihormati oleh mereka (Suyanto and Jihad 2013, . Sebagai contoh, seorang pendidik perlu memiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan teladan oleh murid-muridnya dan sejalan dengan ajaran 1 Timotius 4:12, dimana kehidupan mereka sendiri menjadi bukti yang utama dalam kesuksesan pendidikan anak didik, terutama dalam proses pembelajaran, dan murid-murid harus menganggap guru sebagai teladan atau panutan dalam segala aspek kehidupan mereka. Menurut Ajami yang dikutip oleh Jejen Musfah, menjadi teladan yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi seorang guru, mengingat peran besar yang dimilikinya dalam membentuk karakter peserta didik. Hal ini dapat dipahami karena manusia cenderung meniru dan mencontoh perilaku guru mereka dalam proses pembentukkan karakter (Jejen Musfah 2012, . Cara seseorang memandang diri mereka tercermin dalam perilaku dan tindakan mereka, terutama jika individu tersebut adalah seorang guru. Kualitas pelaksanaan tugas PENGAJARAN ETIKA KRISTEN A (L. Sarumaha & L. Mantir. seorang guru sebagai pendidik sangat dipengaruhi oleh kepribadiannya. Oleh karena itu, karakter seorang pengajar memainkan peran penting dalam menentukan apakah ia akan menjadi teladan yang baik atau justru memberikan dampak negatif bagi masa depan siswa, khususnya bagi mereka yang sedang dalam proses perkembangan. Menurut pandangan ahli pendidikan, karakter seorang guru seharusnya mencakup kemampuan dalam mengembangkan kepribadian serta keterampilan dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan yang efektif (Rochman and Gunawan 2025, . Seorang pendidik harus memiliki otoritas yang memadai untuk menangani permasalahan siswa, mampu memberikan arahan yang tepat, serta dihormati dan dan dihargai karena memiliki pengaruh yang kuat dan dapat dijadikan teladan. Guru harus mampu memiliki kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi yang tepat, yang bukan berarti membatasi komunikasi dan interaksi, tetapi justru aktif dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan seluruh anggota sekolah, terutama para siswa, sambil tetap memerhatikan batasan-batasan yang ada. Seorang guru juga perlu memiliki kemampuan mengendalikan diri sendiri. Dari hal ini, dapat disimpulkan bahwa siswa memerlukan guru yang matang, bijaksana, dan adil dalam perlakuannya terhadap mereka, baik di dalam maupun diluar kelas. Seorang guru PAK harus memiliki standar kehormatan, ketulusan hati, kontrol diri, dan kesucian. Menjadi contoh dalam kekudusan, berarti menghindari tindakan yang buruk dan seorang guru dinilai dari kesetiaannya kepada Kristus yang mampu menghadapi segala situasi. Seorang guru PAK harus mampu menampilkan kasih kristiani kepada siswa yang dia didik (Kristianto 2008, . Sejalan dengan itu, menurut Daryanto dan Tarsial, mereka berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi yang mencakup berbagai aspek, seperti kedewasaan, stabilitas, kearifan, dan kebijaksanaan. Mereka juga menekankan pentingnya guru untuk menjadi teladan yang berwibawa, tegas dan berakhlak mulia bagi siswa maupun Selain itu, guru diharapkan mampu mengevaluasi kinerja diri secara objektif dan terus mengembangkan diri melalui pembelajaran berkelanjutan (Daryanto 2015, . KESIMPULAN Pengajaran Etika Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukkan karakter dan moral siswa SMTK Setia Mamuju. Etika Kristen yang berakar pada ajaran Alkitab, tidak hanya memberikan pedoman moral, tetapi juga membentuk siswa menjadi individu yang memiliki kepribadian kristiani yang kokoh. Dalam praktiknya, pembentukkan karakter ini memerlukan pendekatan yang holistik, mencakup pengajaran, pembinaan, dan keteladanan dari guru. Melalui pengajaran etika Kristen, siswa didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai iman dalam setiap aspek kehidupan mereka, termasuk dalam hubungan sosial, pengendalian emosi dan pengambilan keputusan moral. Guru memiliki peran strategis sebagai pendidik dan teladan yang memengaruhi cara siswa memahami dan menghidupi nilai-nilai etika kristiani. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menunjukkan integritas dan kasih dalam setiap tindakan mereka, baik di dalam maupun diluar lingkungan sekolah. Pembinaan yang Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 1. April 2025 dilakukan secara individu maupun kolektif menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai ini. Pendekatan personal memberikan ruang bagi siswa untuk mendalami nilai-nilai etika Kristen sesuai dengan kebutuhan mereka, sementara pendekatan kolektif memperkuat kesadaran moral dan secara komunitas. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, pengajaran etika Kristen di SMTK Setia Mamuju memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, bermoral dan takut akan Tuhan. Proses ini tidak hanya akan membangun siswa secara individu, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pertumbuhan spiritual dan moral seluruh komunitas sekolah. DAFTAR PUSTAKA