Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN MENTAL HEALTH PERAWAT DI PUSKESMAS WILAYAH KOTA DENPASAR Anindia Annisa Putri*1. Ni Putu Emy Darma Yanti1. Komang Menik Sri Krisnawati1. Kadek Eka Swedarma1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: anindiaannisap@gmail. ABSTRAK Perawat mayoritas mengalami beban kerja yang cukup tinggi. Beban kerja yang berlebihan pada perawat dapat mengakibatkan kelelahan secara fisik dan juga dapat memengaruhi mental health seorang perawat tersebut, sehingga berdampak terhadap aktivitas kerja bagi seorang perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan mental health perawat di Puskesmas Wilayah Kota Denpasar. Jenis penelitian ini adalah analitik korelatif dengan desain penelitian cross sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknik probability sampling dengan metode total sampling. Sampel yang digunakan sebanyak 60 responden dari total populasi seluruh perawat di Puskesmas Wilayah Denpasar Utara dan Timur Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini untuk variabel beban kerja yaitu instrumen NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Inde. , sedangkan untuk variabel mental health menggunakan instrumen Self Rating Questionnaire (SRQ) 20. Hasil penelitian ini mayoritas perawat . %) mengalami beban kerja berat, sedangkan hasil pengukuran mental health mayoritas perawat . %) masuk ke dalam kategori gangguan mental emosional. Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p-value sebesar 0,002 < 0,05 yang berarti ada hubungan antara variabel beban kerja dengan mental health perawat, dan diperoleh nilai koefisien korelasi yaitu 0,385 yang bermakna kekuatan korelasi cukup. Beban kerja yang berlebihan pada perawat ini nantinya dapat menyebabkan stres dan burnout, yang pada akhirnya memengaruhi mental health perawat tersebut. Kata kunci: beban kerja, mental health, perawat ABSTRACT Nurses mostly experience quite high workloads. Excessive workloads on nurses can cause physical fatigue and can also affect the mental health of a nurse, thus impacting work activities for a nurse. The purpose of this study was to determine the relationship between workload and mental health of nurses at the Denpasar City Health Center. This type of research is correlative analytic with a cross-sectional research design. The sampling technique used in this study used the probability sampling technique with the total sampling method. The sample used was 60 respondents from the total population of all nurses at the North and East Denpasar Health Center. The research instrument used in this study for the workload variable was the NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Inde. instrument, while for the mental health variable it used the Self Rating Questionnaire (SRQ) 20 instrument. The results of this study showed that the majority of nurses . %) experienced heavy workloads, while the results of the mental health measurements of the majority of nurses . %) fell into the category of emotional mental disorders. The Spearman Rank test yielded a p-value of 0. 002 < 0. 05, indicating a relationship between workload and nurses' mental health. The correlation coefficient was 0. 385, indicating a moderate correlation. Excessive workloads can lead to stress and burnout, ultimately impacting their mental health. Keywords: mental health, nurses, workload Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Perawat merupakan seseorang yang berprofesi dalam upaya penanganan perawatan pasien dengan tuntutan kerja yang bervariasi. Perawat adalah salah satu tenaga medis yang memberikan pelayanan untuk menunjang kesembuhan pasien (Wijaya dkk. , 2. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, perawat dituntut harus tampil profesional (Yuniasih dkk. , 2. Tuntutan berlebih yang diberikan kepada perawat akan menimbulkan peningkatan pada beban kerja perawat. Beban kerja perawat adalah volume kerja perawat di sebuah pelayanan Beban kerja perawat merupakan sejumlah tugas yang harus diselesaikan oleh seorang perawat dalam jangka waktu tertentu (Febrina dkk. , 2. Volume pekerjaan per harinya yang dilakukan perawat harus seimbang dengan waktu kerja, untuk meningkatkan produktivitas harian seorang perawat. Kapasitas kerja perawat dihitung berdasarkan beban kerja, sehingga ada keseimbangan antara jumlah tenaga perawat dan beban kerja yang harus mereka selesaikan (Purba, 2. Berdasarkan dilakukan Mardijanto dkk . di Puskesmas Wilayah Jember dengan jumlah responden sebanyak 40 orang, didapatkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa beban kerja perawat selama pandemi COVID-19, 75% berada pada kategori beban kerja yang Meningkatnya beban kerja dapat menimbulkan dampak negatif seperti emosi perawat yang tidak sesuai dengan harapan pasien (Maharani & Budianto, 2. Beban kerja ini dapat dinilai menggunakan indikator yang terdiri dari enam dimensi, diantaranya adalah tuntutan mental, tuntutan fisik, tuntutan waktu, performa, usaha, dan frustasi (Hart & Staveland, 1. Dampak dari beban kerja yang tinggi nantinya akan menimbulkan tekanan kepada perawat dan akhirnya akan memengaruhi kinerja seorang perawat. Tekanan tersebut akan dirasakan perawat apabila volume pekerjaan perawat lebih tinggi dari waktu bekerja dan dapat memicu munculnya masalah mental health pada Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 perawat tersebut (Hakman dkk. , 2. Kesejahteraan mental, penyesuaian perilaku yang baik, dan bebas dari kecemasan adalah tanda kesejahteraan mental health. Mental health dapat juga diartikan sebagai kondisi kesejahteraan emosional, sosial, dan spiritual seseorang, sering kali terkait dengan cara individu berpikir, merasakan, dan bertindak. (Prasetyo & Kunci, 2. Penelitian yang dilakukan National Academy of Medicine (NAM) pada tahun 2017 ditemukan bahwa lebih dari 50% perawat mengalami kelelahan. Penelitian lain juga ditemukan hampir 1. 800 perawat dari 19 sistem pelayanan kesehatan di seluruh negeri bahwa lebih dari 50% responden melaporkan mental health yang kurang optimal. Berdasarkan hasil riset Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), menunjukan bahwa sebanyak 50% perawat Indonesia mengalami stres kerja. Terdapat beberapa gejala masalah mental emosional pada seorang perawat. Gejala tersebut yaitu, gejala kognitif seperti kesulitan dalam konsentrasi, kurangnya rasa percaya diri, cemas, dan depresi (Ayuningtyas & Rayhani, 2. Perawat itu sendiri, dan lingkungan kerja secara keseluruhan nantinya dapat terkena dampak gejala fisik seperti kelelahan, pusing, gelisah, tidak sabar, dan masalah psikologis seperti masalah tidur dan bersantai. (Solon , 2. Gangguan mental health pada perawat dapat berdampak luas, baik pada individu maupun sistem pelayanan Kondisi menurunkan konsentrasi, kemampuan pengambilan keputusan, dan kualitas asuhan keperawatan, serta meningkatkan risiko burnout dan kesalahan dalam praktik keperawatan (Prasetyo & Kunci, 2. Peneliti melakukan studi pendahuluan di tiga Puskesmas yang ada di Wilayah Denpasar Utara yaitu Puskesmas 1 Denpasar Utara. Puskesmas 2 Denpasar Utara, dan Puskesmas 3 Denpasar Utara. Hasil dari wawancara yang dilakukan pada tiga perawat di masing - masing Puskesmas Wilayah Denpasar Utara mengatakan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 mengalami tingginya intensitas pekerjaan yang dilakukan dan selalu menghadapi klien dengan berbagai macam karakteristik. Karakteristik kerja perawat di Puskesmas meliputi pelayanan keperawatan rawat jalan, kegiatan promotif dan preventif, pelaksanaan program kesehatan di luar gedung, serta tuntutan administratif yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Kombinasi antara tingginya beban kerja, tuntutan waktu, dan tanggung jawab pelayanan yang beragam tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental health pada perawat. Dua dari tiga perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara mengatakan sering mengalami gejala seperti sakit kepala, tegang, dan mudah lelah. Hal ini juga dialami oleh perawat di wilayah Denpasar Timur. Dua perawat di Puskesmas Denpasar Timur 2 menyatakan mengalami hal serupa, terutama saat beban kerja mereka cukup Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara beban kerja dengan mental health perawat di Puskesmas wilayah Kota Denpasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis analitik korelatif yang menggunakan pendekatan cross Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode total sampling, dengan jumlah total 60 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di Puskesmas Wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah perawat yang berstatus sebagai perawat pelaksana, bekerja di Puskesmas Wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur, serta bersedia menjadi responden Adapun kriteria eksklusi adalah perawat yang sedang cuti, tidak aktif bekerja pada saat pengumpulan data Variabel dalam penelitian ini adalah beban kerja dan mental health perawat dengan intrsumen pengumpulan data berupa Kuesioner untuk mengukur variabel beban kerja perawat menggunakan instrumen National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASATLX) terdiri dari 21 item pertanyaan. Hasil uji validitas kuesioner NASA-TLX diperoleh nilai r = 0,3610, yang berarti kuesioner ini dianggap valid. Pengujian Cronbach Alpha, di mana nilai Cronbach Alpha pada kuesioner NASA-TLX nilai Alpha = 0,742, yang menandakan bahwa kuesioner tersebut dapat dianggap reliabel. Responden diminta untuk memilih satu dari dua indikator yang lebih dominan berpengaruh terhadap beban kerja yang dirasakan dan memberikan penilaian dengan rating 0 - 100 berdasarkan beban kerja yang mereka rasakan. Sedangkan variabel mental health perawat diukur menggunakan instrumen Self Reporting Questionnaire 20 (SRQ . terdiri dari 20 pernyataan dengan pilihan jawaban menggunakan skala Likert. Skor pada setiap pernyataan diantaranya yaitu, . : selal. , . : serin. , . : kadangkadan. , dan . : tidak perna. Kuesioner SRQ 20 ini telah diuji validitas dan reliabilitas dengan uji terpakai pada 60 Hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari 20 pernyataan telah terbukti valid dengan nilai yakni 0,308-0,754 > 0,254. Nilai Cronbach Alpha mencapai 0,848 sehingga kuesioner dinyatakan Pengakategorian beban kerja pada penelitian ini yakni, beban kerja ringan (< 50 ), beban kerja sedang . kor 50 Ae 80 ), dan beban kerja berat . kor > . Adapun pengkategorian mental health yakni, gangguan mental emosional . kor > 50 ) dan kategori sehat . kor < . Pengumpulan data diawali dengan koordinasi peneliti dan kepala tata usaha Puskesmas untuk penentuan jadwal Peneliti kemudian memberikan penjelasan terkait tujuan dan prosedur penelitian serta memperoleh persetujuan tertulis melalui informed consent dari seluruh responden. Kuesioner penelitian berupa data demografi, beban kerja, dan kesehatan mental dibagikan dalam bentuk Google Form melalui kepala tata usaha Puskesmas dan diisi oleh responden dalam Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 waktu maksimal 45 menit. Pengumpulan data dilakukan selama dua minggu dengan pemantauan berkala hingga seluruh data terkumpul, selanjutnya data dianalisis secara statistik dan disajikan dalam bentuk tabel serta interpretasi pada bagian hasil dan HASIL PENELITIAN Karakteristik perawat berdasarkan jenis kelamin dan status pendidikan terakhir disajikan pada Tabel 1 dengan distribusi Tabel 2 karakteristik perawat berdasarkan usia disajikan dalam bentuk mean dan standar deviasi (SD). Tabel 3 distribusi frekuensi beban kerja perawat di Uji hubungan yang digunakan adalah Spearman Rank karena jenis skala datanya Penelitian ini telah lolos uji kelayakan etik dengan keputusan etik nomor 1091/UN14. VII. 14/LT/2024 serta telah memenuhi prinsip etika penelitian. Puskesmas wilayah Kota Denpasar. Tabel 4 distribusi frekuensi mental health perawat di Puskesmas wilayah Kota Denpasar. Tabel 5 analisis hubungan antara beban kerja dengan mental health perawat yang telah diuji dengan uji statistik Spearman Rank . Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat Berdasarkan Jenis Kelamin dan Pendidikan Akhir . Karakteristik Perawat Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Pendidikan Terakhir Diploma Keperawatan S1 Keperawatan Profesi Ners S2 Keperawatan Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah sebanyak 53 orang . ,3%). Responden paling banyak memiliki pendidikan terakhir yaitu Profesi Ners sebanyak 29 orang . ,3%). Tabel 2. Nilai Karakteristik Perawat Berdasarkan Usia . Usia Frekuensi Persentase (%) Mean 26-35 tahun 36-45 tahun 38,87 46-55 tahun 56-65 tahun Total Berdasarkan tabel 2 sebanyak 27 responden, atau 45% dari total responden. Minimum Maximum 9,333 termasuk dalam kategori usia dewasa awal, dengan rata-rata usia 38,87 tahun. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Beban Kerja Perawat di Puskesmas wilayah Kota Denpasar . Beban Kerja Frekuensi Persentase (%) Beban Kerja Sedang Beban Kerja Berat Total Berdasarkan tabel 3 menunjukkan beban kerja perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur mayoritas . %) mengalami beban kerja Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Mental Health Perawat di Puskesmas Wilayah Kota Denpasar . Mental Health Frekuensi Persentase (%) Gangguan Mental Emosional Sehat Total Tabel 4 menunjukkan mental health perawat mayoritas . %) masuk ke dalam kategori gangguan mental emosional. Tabel 5. Hubungan antara Beban Kerja dengan Mental Health Perawat di Puskesmas Wilayah Kota Denpasar . Skor Mental Health Skor Beban Kerja r = 0,385 p < 0,002* n = 60 Tabel 5 menunjukkan hasil uji statistik menggunakan uji Spearman Rank diperoleh nilai p-value sebesar 0,002 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel beban kerja dengan mental health Nilai koefisien korelasi yaitu 0,385 yang masuk ke dalam kategori cukup. Korelasi ini bersifat positif, yang berarti semakin tinggi beban kerja perawat, semakin tinggi pula skor mental health PEMBAHASAN Berdasarkan mayoritas perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur mengalami beban kerja berat sebanyak 33 orang dari 60 responden, sedangkan yang mengalami beban kerja sedang sebanyak 27 Menurut penelitian oleh Ardiyanti . , sebelas dari responden menunjukkan beban kerja yang sangat tinggi, dan sepuluh lainnya menunjukkan beban kerja yang sangat tinggi Beban kerja perawat adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua tugas yang dilakukan oleh perawat selama mereka bekerja di fasilitas Terdapat ketidakseimbangan antara jumlah pasien yang dilayani dan jumlah perawat yang tersedia di puskesmas tersebut, yang menyebabkan perawat bekerja lebih dari kapasitas mereka (Dewi Kusumaningsih dkk. , 2. Setiap perawat memiliki tugas pokok dan fungsi masing masing dan bisa juga tiap perawat memegang program lebih dari satu program yang harus mereka kerjakan. Perawat juga dituntut untuk bekerja dengan memberikan pelayanan yang maksimal, cepat, dan tepat yang akan diberikan kepada pasien. Pada penelitian ini mendapatkan hasil bahwa mayoritas perawat perempuan mengalami beban kerja berat. Sejalan dengan hasil dari penelitian Putri dkk. perawat perempuan lebih dominan mengalami beban kerja berat dari pada perawat laki-laki. Konsep peran ganda sudah banyak dilakukan di kalangan perempuan saat ini. Peran ganda perempuan berarti seorang perempuan harus menjalankan dua atau lebih tanggung jawab atau fungsi dalam waktu yang bersamaan (Suryadi dkk. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konflik peran ganda memiliki peningkatan stres kerja, gangguan mental health, serta kelelahan emosional pada Rhamdani dan Wartono . melaporkan bahwa perawat perempuan dengan tuntutan peran ganda lebih rentan mengalami stres kerja dibandingkan perawat laki-laki. Tekanan yang berasal dari pekerjaan dan tanggung jawab keluarga dapat menyebabkan kelelahan mental, kecemasan, serta penurunan kesejahteraan Secara fisik, masalah yang akan timbul pada seorang perawat jika mengalami beban kerja berlebih yaitu dapat Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 menyebabkan penurunan sistem kekebalan Selain itu, dari segi mental jika mengalami beban kerja yang berlebih dapat menyebabkan gangguan konsentrasi dan kehilangan motivasi. Seseorang yang mengalami kelelahan mental seringkali merasa cemas, depresi, dan kehilangan semangat untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari. Kondisi seperti inilah yang menimbulkan masalah mental health pada perawat (Solon dkk. , 2. Dalam penelitian ini juga didapatkan hasil sebagian besar perawat mengalami gangguan mental emosional. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisyah dkk . didapatkan sebanyak 75,4% perawat mengalami gangguan mental emosional. Tingginya persentase perawat yang mengalami masalah mental health ini dapat disebabkan oleh beban kerja yang berat, adanya tekanan emosional, dan lingkungan kerja yang dihadapinya seharihari. Selain itu, gangguan mental health juga sering disertai dengan gejala fisik seperti kelelahan berkepanjangan, sakit kepala, gangguan tidur, ketegangan otot, dan keluhan somatik lainnya yang tidak disebabkan oleh gangguan medis tertentu (Solon dkk. , 2. Kesejahteraan mental ditandai dengan kesejahteraan emosional, penyesuaian perilaku yang baik, dan keterbebasan dari World Health Organization (WHO) mendefinisikan mental health sebagai sebuah keadaan di mana seseorang menyadari kemampuannya sendiri, dapat menyesuaikan diri dari stres yang mereka hadapi dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dan dapat bekerja secara Masalah mental health ini akan timbul akibat faktor dari konflik interpersonal ataupun masalah-masalah yang dihadapi seseorang dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Pada penelitian ini mayoritas responden berjenis kelamin Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rhamdani & Wartono, 2. yang menyatakan bahwa perawat perempuan lebih banyak mengalami stres dalam bekerja dibandingkan dengan perawat laki-laki. Hal ini dapat terjadi Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 karena perempuan cenderung mengalami stres dan masalah kecemasan akibat perubahan hormonal dalam tubuh mereka (Rhamdani & Wartono, 2. Berdasarkan hasil analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara beban kerja dengan mental health pada perawat dengan nilai p = 0,002 < 0,05, dengan nilai koefisien korelasi . yaitu 0,385 yang menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antara beban kerja dan mental health adalah kekuatan cukup dengan arah hubungan positif yang yang berarti semakin tinggi beban kerja perawat, semakin tinggi pula skor mental health Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Mardijanto et al. , 2. yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara beban kerja dengan kesehatan mental perawat di Puskesmas wilayah Jember. Beban kerja merupakan salah satu yang dapat menimbulkan masalah mental health pada perawat. Masalah mental health ini akan timbul akibat dari adanya tekanan atau desakan waktu untuk menyelesaikan tugasnya, beban kerja yang dirasakan cukup berat, konflik moral, dan kurangnya dukungan sosial dari teman maupun atasan. Tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat menyebabkan kelelahan, depresi, gangguan kecemasan, gangguan tidur, serta berbagai penyakit lainnya. (Tonapa et al. Perawat yang merasakan bekerja berlebih dapat mengalami stres emosional dan kelelahan, yang juga disebut sebagai Akibatnya, mereka mungkin tidak dapat bekerja secara efektif dan efisien karena mereka kehilangan kemampuan fisik dan kognitif mereka. (Priantoro, 2. Berdasarkan hasil pada Tabel 3 dan 4 menunjukkan beban kerja perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur mengalami beban kerja berat dan . %) masuk ke dalam kategori gangguan mental Beban kerja yang dirasakan oleh perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur ini terbilang cukup berat disebabkan karena perawat harus memberikan pelayanan keperawatan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 secara langsung ke pasien dan beberapa dari mereka juga memegang program puskesmas yang dilakukan di luar gedung. Selain merawat orang sakit, perawat juga harus mematuhi berbagai peraturan dan prosedur di puskesmas serta bekerja sama dengan tim tenaga kesehatan lainnya. Semua ini membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Menurut pendapat peneliti, masalah mental health pada perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur kemungkinan bersumber dari beban kerja berlebih yang dialami oleh perawat. Jumlah kegiatan yang harus dilakukan oleh perawat di puskesmas dari melayani pasien hingga harus bertanggung jawab pada SIMPULAN Semua tugas yang dilakukan perawat selama bertugas merupakan bagian dari beban kerja mereka. Kinerja perawat dapat dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat beban kerja yang berlebihan atau terlalu Kategori beban kerja perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur yang terbanyak dialami perawat adalah beban kerja berat. sebuah program yang ada dan ikut melaksanakan program tersebut di luar Hal inilah yang menyebabkan bertambahnya tanggung jawab dari seorang perawat yang nantinya akan berpengaruh terhadap masalah mental healthnya. Hampir semua jenis beban kerja dapat menyebabkan gangguan mental emosional dalam bekerja, tergantung pada reaksi individu dalam menghadapinya dan tingkat stres yang Kondisi ini menekankan pentingnya pengelolaan beban kerja yang lebih baik dan penerapan langkah-langkah dukungan mental health untuk mencegah emosional pada perawat. Sedangkan kategori mental health perawat di Puskesmas wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Timur terbanyak yang dialami perawat adalah gangguan mental emosional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perawat dengan beban kerja berat cenderung mengalami gangguan mental emosional dan merasakan masalah mental health pada DAFTAR PUSTAKA