Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x MASJID DAN FUNGSI SOSIAL KEMANUSIAAN (Mosques and Social Functions of Humanit. Baeti Rohman Universitas PTIQ Jakarta email: baetirohman@ptiq. Abstract The presence of a mosque has a vital function in the lives of Muslims. In a narrow understanding, mosques are often reduced to merely being a place of prayer, in principle this understanding is not wrong to a certain extent, but along with the development of the times, mosques are multifunctional, not only acting as a place of prayer but other types of worship are also routinely held in mosques ranging from dhikr, prayer, to tadarus Al-Quran. On a broader scale, mosques also have a social humanitarian function that is not only related to natural disasters, in normal situations the social humanitarian function of mosques continues to run. The social humanitarian function related to disasters, for example, by making mosques a temporary shelter for disaster Meanwhile, blood donation activities, sharing basic necessities, health checks and others are social humanitarian functions carried out by mosques in normal times. The social humanitarian function carried out by mosques indicates that mosques have become one with the lives of the people, mosques take on a greater role in society. Keywords: Mosque. Function. Social. Humanity. Role. Abstrak Kehadiran masjid memiliki fungsi vital dalam kehidupan umat Islam. Dalam pemahman sempit masjid seringkali direduksi sekadar sebagai tempat sholat, pada prinsipnya pemahman ini tidak salah dalam kadar tertentu, namun seiring dengan perkembangan zaman masjid bersifat multi fungsi, tidak hanya bertindak sebagai tempat sholat tetapi ragam ibadah lainnya juga rutin digelar di masjid mulai dari zikir, doa, hingga tadarus Al-QurAoan. Dalam skala yang lebih luas masjid juga memiliki fungsi sosial kemanusiaan yang tidak hanya terkait dengan bencana alam, dalam situasi normal fungsi sosial kemanusiaan dari masjid tetap berjalan. Fungsi sosial kemanusiaan yang terkait bencana misalnya dengan menjadikan masjid sebagai tempat penampungan sementara bagi korban bencana Sementara itu kegiatan donor darah, berbagi sembako, pemeriksaan kesehatan dan lain-lain merupakan fungsi sosial kemanusiaan yang dijalankan masjid di masa Fungsi sosial kemanusiaan yang dijalankan masjid menandakan masjid telah menyatu dengan kehidupan umat, masjid mengambil peran yang lebih besar di tengah masyarakat. Kata kunci: Masjid. Fungsi. Sosial. Kemanusiaan. Peran. PENDAHULUAN Masjid merupakan bagian penting dalam praktik keseharian umat Islam. Masjid menjadi penanda sejauh mana kekuatan pengaruh Islam dalam suatu wilayah, semakin banyak masjid yang dibangun dalam sebuah daerah maka Islam dianggap memiliki pengaruh kuat di daerah tersebut, sebaliknya semakin sedikit masjid yang berdiri di suatu daerah maka asumsi yang dibangun bahwa daerah tersebut belum memiliki pengaruh Islam yang kuat, cara pandang menjadikan jumlah masjid sebagai alat ukur pengaruh Islam muncul seiring dengan semangat umat Islam yang semakin tinggi dalam membangun masjid. Jika dilakukan kajian mendalam terhadap sejarah pendirian masjid di era Rasulullah Muhammad saw, maka akan dijumpai fakta bahwa sejak masa Rasulullah masjid telah bersifat multi fungsi. Masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam adalah Masjid Quba, masjid ini dibangun seiring dengan hijrahnya Rasulullah beserta kaum muhajirin ke Madinah, sholat JumAoat pertama yang dilaksankan di Masjid dilaksanakan di Masjid Quba, setelah itu Rasulullah kemudian membangun Masjid Nabawi. Hal yang penting menjadi perhatian karena baik Masjid Quba Maupun Masjid Nabawi tidak sekadar digunakan untuk melaksanakan sholat dan ibadah lainnya, tapi juga digunakan untuk ragam kegiatan seperti tempat pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dalam rangka persiapan perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima delegasi tamu, hingga sebagai pusat penerangan dan pembelaan 1 Fungsi masjid yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa sejak awal masjid telah menjalankan fungsi sosial kemanusiaan. Masjid dalam Tinjauan Umum Pemahaman umum yang berkembang di tengah komunitas muslim mengasosiasikan kata masjid sebagai istilah yang secara khusus lekat dengan dunia Islam, pada prinsipnya pemahaman ini benar karena rumah ibadah umat Islam diberi nama masjid. Akan tetapi bila dilakukan kajian sejarah dalam perspektif kritis maka dijumpai penyebutan kata masjid tidak hanya diperuntukkan secara spesifik kepada umat Islam, faktanya masjid dalam arti tempat ibadah juga dilekatkan kepada agama monoteisme terdahulu sebelum datangnya Islam, bahkan secara khusus Al-QurAoan sebagai kitab suci umat Islam menyebutkan kata masjid yang konteksnya untuk agama monoteisme pra Islam, hal tersebut sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Kahfi ayat 21: AuDan demikian . Kami mempertemukan . dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas . Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah masjid . umah peribadata. di Ayat di atas mengisahkan perjalanan hidup beberapa pemuda yang beriman kepada Allah Swt, mereka masuk ke dalam gua dan atas kehendak Allah mereka tertidur selama berabad-abad lamanya, saat mereka terbangun, salah satu dari mereka berangkat ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari, setelah menukarkan uang dirham dengan penduduk setempat, penduduk menyadari bahwa pemuda tadi berasal dari masa yang sudah sangat lampau, pemuda tersebut baru menyadari bahwa ia dan kawan-kawannya telah tertidur selama berabad lamanya padahal mereka merasa hanya tertidur satu hari. Tafsir Ibnu Katsir menguraikan komentar tentang Surat Al-Kahfi ayat 21, melalui kisah pemuda yang tertidur selama sekian abad kemudian terbangun kembali dalam keadaan utuh. Allah ingin memberi peringatan kepada manusia bahwa hari kiamat tersebut nyata adanya, peringatan ini berkaitan dengan orang-orang di masa itu yang meragukan hari kiamat, mereka tidak yakin bila manusia yang telah terkubur dan jasadnya hancur bisa bangkit kembali di hari kiamat, melalui kisah pemuda tersebut menjadi nyata bahwa bila Allah berkehendak maka manusia yang telah tertidur dalam kondisi yang sangat lama bisa bangkit kembali. Riwayat menyebut setelah Raja yang berkuasa di masa itu bertemu dengan para pemuda, maka Allah kemudian mewafatkan para pemuda tersebut. 2 Pasca wafatnya muncul keinginan diantara mereka untuk mendirikan tempat ibadah di atas gua tersebut, menariknya karena tempat ibadah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut dibahasakan dengan AumasjidAy, padahal saat itu ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw belum disebarkan di muka bumi, mereka Ahmad RifaAoi. AuRevitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Basis Perubahan Sosial (Sejarah Kontinuitas dan Perubahanny. Ay Jurnal Revorma 2, no 2 (Aril 2. : 1-12. Abdullah Bin Muhammad. Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam AsySyafiAoi, 2. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 56 menganut agama monoteisme yang mengakui keimana kepada Allah Swt. Kondisi ini mengonfirmasi bahwa secara luas penyebutan masjid dengan makna tempat ibadah juga dialamatkan kepada agama monoteisme yang datang sebelum Islam. Masjid dalam Tinjauan Khusus Secara akar kata, kata masjid berasal dari Bahasa Arab yakni sajada-yasjudumasjidan, sajada merupakan fiil madi atau kerja lampau yang menunjukkan suatu pekerjaan telah terlaksana, yasjudu merupakan fiil mudhari yang bermakna suatu pekerjaan sedang berlangsung, sedangkan masjidan merupakan isim makan yang menunjukkan tempat, masjidan memiliki arti tempat sujud atau tempat melaksanakan sholat, kata masjidan kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia yang dalam bahasa sehari-hari diucapkan dengan sebutan AumasjidAy. Secara khusus masjid dipahami sebagai rumah ibadah umat Islam. Terdapat berbagai firman Allah dalam Al-QurAoan yang memnguraikan penjelasan tentang masjid, misalnya Surat Al-Jin Ayat 18: AuDan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping . AllahAy. Secara luas ayat tersebut dapat dimaknai bahwa tanah Allah di bumi bisa digunakan sebagai tempat sujud, umat Islam diperbolehkan melaksanakan ibadah sholat pada semua permukaan tanah di bumi, hal ini sebagai bentuk keringanan bagi umat Islam untuk memudahkan mereka melaksanakan sholat baik dalam kondisi menetap maupun dalam perjalanan. Pada saat yang sama Allah juga memberikan kebebasan kepada umat Muhammad untuk mendirikan masjid di tanah manapun yang mereka kehendaki. Di samping itu ayat tersebut juga bisa dimaknai bahwa masjid secara khusus dibangun dalam rangka menyembah kepada Allah, tidak boleh ada aktivitas yang mengarah kepada penyembahan selain Allah, seperti menyembah pelaku dosa atau pemimpin yang zalim. Umat Islam memiliki tanggung jawab untuk memastikan masjid berfungsi sebagai tempat mengagungkan dan menyembah Allah. Uraian tentang masjid juga termaktub dalam Surat At-Taubah Ayat 108: AuJanganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Qub. , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersihAy. Selanjutnya Surat Al-AAoraf Ayat 29: AuKatakanlah. Tuhanku menyuruh menjalankan Dan . Luruskanlah muka . mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan . emikian pulalah kamu akan kembali kepadaNy. Surat At-Taubah Ayat 108 memberi penekanan bahwa masjid dbangun di atas pondasi taqwa. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz memberi komentar tentang ayat ini, menurutnya ayat tersebut mengandung larangan bagi Rasulullah untuk sholat di masjid kaum munafik yaitu masjid yang didirikan atas motivasi ria, sekadar untuk mendapatkan sanjungan belaka. Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun Rasulullah dan berdasarkan asas ketaqwaan jauh lebih layak ditempati untuk melaksankan sholat. 3 Dalam makna yang lebih luas bisa dipahami bahwa masjid harus dibangun sebagai manifestas ketaqwaan kepada Allah Swt, bukan karena motivasi Sementara itu makna penting dari Surat Al-AAoraf Ayat 29 adalah masjid berfungsi sebagai tempat melaksanakan ritual sembahyang, sedangkan sembahyang merupakan simbol taqwa. Wahbah Zuhaili. Tafsir Al-Wajiz, (Beirut: Dar Al-Fikr Beirut, 1. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 57 Surat Al-AAoraf Ayat 31 turut memberikan gambaran tentang masjid AuHai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap . masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan Au. Ayat ini mendeskripsikan bahwa masjid merupakan tempat anak cucu Adam melakukan pemujaan kepada Allah. Pemujaan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan pakaian yang layak dan menutupi aurat, hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Allah selaku pencipta manusia. Penjelasan tentang masjid juga bisa dijumpai pada Surat Al-Isra Ayat 1: AuMaha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda . Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha MengetahuiAy. Ayat ini memberikan pesan kepada umat bahwa Masjidil Haram merupakan garis start perjalanan spiritual menuju garis finis terjauh di muka bumi yakni Masjid Al-Aqsa di Palestina lalu naik ke langit menuju sidratul muntaha, selama perjalanan tersebut Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasanya kepada Nabi Muhammad saw. Perjalanan spiritual ini sekaligus mempertegas kemahakuasaan Allah yang mampu memperjalankan hambanya menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Selanjutnya pada Surat Al-Baqarah Ayat 150: AyDan dari mana saja kamu . , maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu . berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku . Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjukAy. Dalam ayat ini secara gamblang disampaikan bahwa Masjidil Haram bertindak sebagai pusaran arah sholat umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Hadirnya berbagai ayat dalam Al-QurAoan yang memberikan penjelasan tentang masjid dari beragam sudut pandang merupakan pertanda bahwa masjid mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam. Oleh sebab itu penting membangun pemahaman yang tepat tentang masjid mulai dari segi makna hingga fungsi. Pemahaman yang tepat terhadap fungsi masjid akan menghindarkan umat Islam untuk mereduksi makna dan fungsi masjid, pemahaman yang benar tersebut mampu mengantarkan umat Islam agar mengerti bahwa masjid tidak hanya berguna sebagai tempat sholat tapi juga memiliki fungsi sosial kemanusiaan. METODE Penelitian ini menggunakan metodologi kajian pustaka, pada bagian ini dilakukan pengkajian mengenai konsep dan teori yang digunakan berdasarkan literatur yang tersedia, literatur yang dimaksud adalah Ayat Al-QurAoan, buku, dan artikel yang membahas makna dan fungsi sosial kemanusiaan yang diperankan masjid. Kajian tentang masjid dan fungsi sosial kemanusiaan berupaya dianalisis secara mendalam, ayat Al-QurAoan, buku, dan artikel yang berkaitan dengan judul penelitian dijadikan sebagai landasan kajian. HASIL DAN PEMBAHASAN Masjid merupakan situs suci dalam pandangan umat Islam, tempat yang disakralkan, tempat ibadah inti bernama sholat dilaksanakan, walaupun secara syariat sholat yang tidak dilaksanakan di masjid tetap dihukumi sah namun masjid dinilai sebagai tempat terbaik melaksanakan ibadah sholat. Selain sebagai tempat sholat, masjid juga memiliki fungsi sosial kemanusiaan, fungsi sosial kemanusiaan yang diperankan masjid pada dasarnya bukan sesuatu yang tabu, di masa kerasulan Nabi Muhammad saw masjid telah menjalankan fungsi sosial kemanusiaan, di masa itu berbagai urusan sosial kemanusiaan diselesaikan di masjid, mulai dari urusan Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 58 sederhana hingga masalah yang bersifat kompleks,4 oleh sebab itu mengaktifkan fungsi sosial kemanusiaan dari masjid bukan berarti mengadakan perkara baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya namun menjalankan tanggung jawab historis yang akarnya berasal dari kehidupan Rasulullah dalam memfungsikan masjid, yang berbeda bentuk teknisnya saja karena dipengaruhi oleh perubahan zaman dan kebutuhan Mengaktifkan Fungsi Sosial Kemanusiaan Masjid Adalah Sebuah Kebutuhan Sebagai rumah ibadah, masjid tidak hadir di ruang hampa, masjid hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan segala kompleksitas sosialnya, sehingga menjadi hal yang irasional membatasi fungsi masjid sekadar sebagai tempat sholat dan tidak memiliki fungsi yang lain, cara pandang ini berpotensi menyebabkan masjid menjadi eksklusif dan kehilangan sensibilitas sosialnya. Masjid mesti mengambil peran dalam urusan sosial kemanusiaan, hal ini penting agar kehadiran masjid bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Dalam tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia, masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat, penyelesaiannya tidak jarang melibatkan institusi agama, fenomena ini terbilang lumrah karena sebagai insan beragama maka pasti terdorong untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan agama, salah satunya adalah dengan membawa masalah tersebut ke dalam ruang institusi agama, dan masjid merupakan institusi agama yang bersifat fisik, masalah sosial yang diadukan tidak selamanya secara spesifik berkaitan dengan agama, banyak juga yang murni urusan sosial kemanusiaan, penting ditekankan bahwa urusan sosial kemanusiaan akan terus muncul di setiap zaman dan generasi yang berbeda. Menolak urusan sosial kemanusiaan dibincangkan dan berupaya ditemukan solusinya di masjid sama saja dengan melarang masjid untuk terlibat dalam kehidupan manusia, tentu ini sesuatu yang tidak relevan dengan semangat ajaran Islam, ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan antara hamba dan pencipta tetapi juga mengatur urusan antara manusia yang satu dan manusia yang lain,5 oleh sebab itu semua hal yang berkaitan dengan Islam termasuk masjid sebagai institusi agama Islam yang bersifat fisik juga mesti terlibat dalam upaya menangani maslah sosial kemanusiaan. Mengaktifkan fungsi sosial kemanusiaan yang sudah semestinya diperankan masjid merupakan sebuah ikhtiar untuk memaksimalkan kontribusi masjid di tengah umat dan manusia secara umum. Jika masjid aktif menjalankan fungsi sosial kemanusiaan kepada manusia secara umum, maka itu merupakan bentuk konkret penerapan Islam rahmatan lilalamin. Situasi ini akan mengundang munculnya persepsi positif terhadap Islam, prasangka buruk yang sering dialamatkan kepada komunitas muslim akan terhapus dengan sendirinya. Pada saat yang sama Islam akan dipandang sebagai agama terbuka, mengedepankan toleransi, dan komitmen menolong sesama manusia tanpa memandang latar belakang suku, ras, dan agama. Optimalisasi masjid dalam menjalankan fungsi sosial kemanusiaan juga sangat dipengaruhi oleh sejauh mana tingkat kesadaran dari para pengurus masjid. Sebagaimana diketahui dalam tata kelola modern setiap masjid pasti memiliki pengurus yang bertanggungjawab terhadap peran dan fungsi masjid. Jika pengurus memahami secara utuh tentang peran dan fungsi masjid di tengah masyarakat, maka fungsi sosial kemanusiaan akan berjalan dengan baik, sebaliknya bila pengurus tidak memahami perihal tersebut maka ada potensi besar fungsi masjid akan direduksi sebatas sebagai Zidi Gazalba. Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Antara, 1. Hendrianto dan Lutfi Elfalahy. AuAyat-Ayat Hukum dalam Al-QurAoan Mengatur Hubungan Sesama Manusia. Ay Al-Istinbath 6, no 1 (Mei 2. : 165-178. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 59 tempat sholat belaka, imbasnya masjid akan menutup diri dari realitas sosial di Penting memastikan bahwa orang-orang yang dipercayakan sebagai pengurus masjid adalah mereka yang paham secara utuh tentang fungsi sosil kemanusian yang perlu dijalankan masjid. Pentingnya Memahamkan Ulang Fungsi Sosial Kemanusiaan Masjid Merujuk pada fakta historis, di masa awal pendirian masjid, rumah ibadah umat Islam telah memiliki fungsi sosial kemanusiaan, bahkan fungsi sosial kemanusiaan tersebut konsisten dijalankan, jika mengacu kepada sikap Rasulullah dalam memberdayakan fungsi masjid, maka dijumpai realitas bahwa masjid di era Rasulullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat, tetapi juga sebagai wadah untuk mendiskusikan ragam permasalahan sosial kemanusiaan, tidak hanya terbatas pada diskusi, ragam aktivitas sosial keamanusiaan juga digelar di masjid. 6 Dalam perkembangan sejarah, fungsi sosial kemanusiaan yang sepatutnya diemban masjid justru hilang, masjid sekadar diposisikan sebagai tempat ibadah, aktivitas sosial kemanusiaan dinilai tidak ada kaitannya dengan masjid. Hilangnya aspek sosial kemanusiaan dari fungsi masjid merupakan bagian dari minimnya pemahaman sejarah, ada masa dimana umat Islam secara tak sadar mereduksi fungsi masjid sebatas tempat sholat belaka, dalam tahapan selanjutnya pemahaman tentang fungsi masjid sebatas tempat sholat kemudian dimapankan, tidak berlebihan bila disebut pemahaman tersebut berlangsung hingga kini, tentu tidak semua masjid terjerumus dalam pemahaman keliru tersebut namun mayoritas masjid memberlakukan pemahaman yang sebenarnya tidak sepenuhnya tepat ini. Sehingga tugas berat yang mesti dijalankan adalah menyampaikan pemahman ulang kepada umat bahwa fungsi masjid bukan hanya sebagai tempat sholat, lebih dari itu masjid memiliki fungsi sosial kemanusiaan sebagaimana yang diparaktikkan Rasulullah di masa kehidupan beliau. Ikhtiar memahamkan ulang fungsi masjid pada aspek sosial kemanusiaan butuh dilakukan secara sistematis dan terkoordinir, mesti menjadi gerakan yang rapi agar hasilnya maksimal, tidak bisa atas inisiatif orang per orang saja, tokoh agama sebaiknya terlibat langsung. Untuk menjadikan gerakan ini terkoordinir maka ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, memaksimalkan peran lembaga yang mengurusi masjid, dalam sebuah negara biasanya ada lembaga yang bertindak sebagai wadah koordinasi antara seluruh masjid dalam negara tersebut. Lembaga ini harus berperan aktif menjalin komunikasi kepada semua pengurus masjid, memahamkan pengurus masjid bahwa masjid memiliki fungsi sosial kemanusiaan yang mesti dijalankan, cara ini mesti dilakukan secara terus menerus hingga muncul perspektif yang sama di antara para pengurus masjid tentang pentingnya masjid menjalankan fungsi sosial kemanusiaan, dalam praktiknya tidak menutup kemungkinan cara ini akan menjumpai hambatan, misalnya munculnya pertanyaan dari pengurus masjid mengapa masjid mesti menjalankan fungsi sosial kemanusiaan? Pertanyaan ini dipicu akibat kekeliruan dalam memahami fungsi masjid sebagai imbas dari penyimpangan sejarah terkait fungsi awal masjid di masa Rasulullah, di bagian ini perlu dibangun dialog berkelanjutan dengan para pengurus masjid tanpa ada tendensi paksaan, sehingga lambat laun mereka akan paham pentingnya masjid menjalankan fungsi sosial kemanusiaan. Kedua, memaksimalkan peran daAoi atau juru dakwah dalam memahamkan masyarakat tentang fungsi sosial kemanusiaan yang melekat pada masjid. Pelibatan juru dakwah penting bila ingin agenda ini tercapai. Pendakwah identik dengan masjid. Ahmad Putra dan Prasetio Rumondor. AuEksistensi Masjid di Era Rasulullah dan Era Millenial. Ay Tasamuh 17, no 1 (Desember 2. : 245-264. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 60 kehadiran mereka di mimbar masjid atau forum pengajian adalah untuk memberikan bimbingan dan pencerahan kepada umat tentang segala hal yang berkaitan dengan Islam. Secara umum jamaah masjid atau masyarakat luas menjadikan juru dakwah sebagai tempat bertanya tentang perkara agama, pandangan juru dakwah relatif didengar oleh masyarakat, artinya para juru dakwah memiliki modal sosial di tengah 7 Penting memberdayakan modal sosial tersebut dengan cara para juru dakwah secara intens memberikan ceramah kepada jamaah atau masyarakat tentang pentingnya memastikan masjid untuk menjalankan fungsi sosial kemanusiaan, paling tidak dalam lingkungan sekitar masjid. Jika ceramah tersebut rutin disampaikan di masjid dan dilakukan secara serentak oleh para juru dakwah maka hasilnya akan luar biasa, tidak butuh waktu lama untuk memahamkan umat tentang pentingnya masjid menjalankan fungsi sosial kemanusiaan. Pada intinya upaya pemahaman ulang kepada umat tentang fungsi sosial kemanusiaan yang menjadi bagian dari tugas masjid perlu ditempuh lewat jalur pencerahan yang dilakukan secara berkelanjutan, sistematis, dan terkoordinir sehingga pada waktunya masyarakat akan memahami tentang pentingnya masjid ambil peran dalam aktivitas sosial kemanusiaan tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat melaksanakan ibadah hususnya sholat. Segala upaya pemaksaan wajib dihindari, tindakan pemaksaan dan penekanan justru akan menjadikan umat semakin menolak keterlibatan masjid dalam ruang sosial kemanusiaan. Reformulasi Fungsi Sosial Kemanusiaan Masjid Penting melakukan reformulasi terhadap fungsi sosial kemanusiaan yang diemban masjid, reformulasi tersebut diarahkan pada bentuk kegiatan atau aksi sosial kemanusiaan yang perlu dijalankan masjid. Hal ini penting dilakukan mengingat masalah sosial kemanusiaan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, kondisi itu dipicu oleh sifat ruang sosial yang senantiasa berubah, tidak stabil dan menetap. Setiap hari akan muncul fenomena sosial kemanusiaan baru di tengah masyarakat, masalah terbaru tersebut perlu direspon oleh masjid agar keterlibatan masjid dalam masalah sosial kemanusiaan bisa tepat sasaran. Jika masjid memaksakan diri untuk bertahan pada program sosial kemanusiaan yang telah lama dilaksanakan, tidak tertarik melakukan reformulasi bentuk aksi, maka ada potensi besar program sosial kemanusiaan tersebut tidak menyentuh pada permasalahan mendasar dan terkini yang dihadapi masyarakat, akibatnya walaupun masjid telah berupaya menjalankan fungsi sosial kemanusiaan namun masyarakat merasa fungsi tersebut tidak dijalankan karena masalah mendasar mereka tidak disentuh oleh masjid. Reformulasi fungsi sosial kemanusiaan masjid bisa dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pemetaan terkait masalah terkini yang muncul di tengah masyarakat, setelah ditemukan data maka perlu dilakukan pemilahan terhadap masalah tersebut, tidak semua masalah sosial terkini perlu disikapi masjid, penyikapan cukup diarahkan pada masalah terkini yang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan kehidupan Mengingat pemetaan masalah akan berpengaruh besar pada target pencapaian, maka pemetaan masalah sosial terkini perlu dilakukan secara cermat dengan melibatkan pengurus masjid yang cukup paham dengan dinamika masalah sosial terkini, harapannya hasil pemetaan tersebut menjadikan program sosial Kulle Subhan Lagosi. AuPeran Dai Dalam Pembinaan Agama pada Masyarakat. Ay Jurnal Al-Nashihah 2, no 2 (Desember 2. : 119-135. Ariana Suryorini. AuPemberdayaan Masjid Sebagai Fungsi Sosial dan Ekonomi Bagi Jamaah Pemegang Saham Unit Usaha Bersama. Ay Dimas19, no. 2 (November 2. : 163-178. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 61 kemanusiaan yang digelar masjid benar-benar menyentuh masalah mendasar yang berkembang di tengah masyarakat. Reformulasi fungsi sosial kemanusiaan masjid juga perlu diarahkan untuk melahirkan program sosial yang bersifat jangka panjang, urgensinya adalah agar masyarakat yang terdampak program sosial tersebut bisa merasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama, bukan hanya dirasakan oleh dirinya tetapi juga oleh anak Guna merealisasikan hal tersebut maka perlu kiranya bagi masjid untuk mengidentifikasi sektor kehidupan mana yang paling berpengaruh dalam kemajuan manusia, secara objektif sektor tersebut adalah sektor pendidikan, maju atau mundurnya kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Sehingga penting bagi masjid untuk mengkreasikan program pendidikan untuk kemajuan umat dan manusia secara Selain sektor pendidikan, tentu masjid tidak perlu dibatasi untuk berpartisipasi dalam menjalankan fungsi sosial kemanusiaan di sektor kehidupan lainnya. KESIMPULAN Secara akar historis, masjid memiliki fungsi sosial kemanusiaan. Dalam perjalanan sejarah fungsi sosial kemanusiaan tersebut cenderung terlupakan, akibatnya fungsi masjid direduksi hanya sebagai tempat sholat. Mustahil untuk menghilangkan fungsi sosial kemanusiaan yang melekat pada masjid mengingat masjid lahir di tengah kehidupan masyarakat dengan segala kompleksitas sosialnya. Dibutuhkan ikhtiar serius untuk menggalakkan kembali fungsi sosial kemanusiaan masjid secara menyeluruh. Cara ini bisa dilakukan dengan melibatkan lembaga yang mengkoordinir masjid dan juru Penting pula untuk melakukan reformulasi pada bentuk aksi sosial kemanusiaan yang dilakukan masjid, ikhtiar ini dilakukan guna memastikan fungsi sosial kemanusiaan yang diemban dan diperankan masjid bisa tepat sasaran. DAFTAR PUSTAKA