JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Perbedaan Nationale Early Warning Score dan Glasgow Coma Scale dalam Memprediksi Outcome Pasien Trauma Kepala di Instalasi Gawat Darurat Didik Mulyono Instalasi Gawat Darurat. Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun Email Korespondensi : mzdidik79@gmail. Abstrak Latar Belakang: Penilaian awal pasien dengan trauma kepala merupakan hal yang berpengaruh pada penatalaksanaan pasien dengan trauma kepala. GCS dikembangkan untuk menggambarkan tingkat kesadaran pada pasien dengan trauma kepala. Sedangkan NEWS merupakan sistem penilaian sederhana di mana pengukuran fisiologis yang sudah dilakukan ketika pasien datang di IGD atau sedang dipantau di rumah sakit. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektifitas scoring NEWS dan GCS terhadap outcome pasien trauma kepala di IGD Metodologi : Penelitian ini menggunakan design observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif. Sampel berjumlah 181 pasien dimana pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dimana peneliti memilih sampel sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dari populasi yang ada. Analisis bivariat yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan uji somersAod dan uji spearman. The Area Under Receiver Operating Characteristic (AUROC) digunakan untuk menilai kemampuan scoring NEWS dan GCS membedakan outcome baik dan outcome buruk. Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian ini menunjukkan analisis AUROC didapatkan nilai AUC sebesar 0,703 untuk NEWS dan AUC sebesar 0,769 untuk GCS. Kemampuan memprediksi outcome pasien trauma kepala menunjukkan performa cukup untuk NEWS dan performa baik untuk GCS. Simpulan dan saran : Kemampuan GCS memprediksi outcome pasien trauma kepala lebih baik dari NEWS. Saran: Penggunaan GCS sebagai standart baku pemeriksaan awal pasien trauma kepala tetap bisa dilaksanakan di IGD oleh karena GCS dapat dengan mudah dan cepat tanpa melakukan perhitungan skor dengan performa yang baik dalam prediksi outcome pasien trauma kepala. Kata Kunci : NEWS. GCS. Outcome pasien trauma kepala LATAR BELAKANG Trauma kepala merupakan penyebab kematian paling umum dari kematian akibat trauma di seluruh dunia. Penentuan diagnosis dini sangat penting dalam menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat pada pasien trauma kepala. Prediksi outcome pasien dengan trauma kepala selama pengelolaan awal di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan pondasi awal dalam prognosis (S. Lee et al. , 2. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa sistem menentukan kebutuhan perawatan intensif, pengobatan dan perawatan yang tepat (Gizem. Gyk. Gyk, & Bulut, 2. Sistem scoring juga dikembangkan untuk menilai tingkat keparahan pada pasien dengan trauma dan juga akan memberikan penilaian objektif terhadap kondisi klinis awal pasien sebagai bagian dari penentuan manajemen trauma (Park et al. , 2. Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan skala tradisional yang paling umum digunakan untuk mendeteksi trauma kepala dalam mengukur keparahan, memandu pilihan pengobatan dan prediksi outcome (Teasdale et al. , 2. Sedangkan Nationale Early Warning Score (NEWS), seperti banyak sistem skor yang ada, sistem skor ini didasarkan pada sistem penilaian sederhana di mana pengukuran fisiologis yang sudah dilakukan ketika pasien datang atau sedang dipantau di rumah sakit (Royal College of Physicians, 2. Prevalensi pasien dengan trauma kepala di dunia masih cukup tinggi. Berdasarkan data berbasis populasi, kejadian trauma kepala di dunia sekitar 811Ae979 per 100 ribu 15 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 orang per tahun. Sedangkan jumlah pasien trauma kepala yang datang ke rumah sakit sekitar 475-643 per 100 ribu orang per tahun. Diperkirakan sekitar 50-60 juta kasus baru trauma kepala di seluruh dunia. Persentase kematian akibat trauma kepala 30-40 % dari total kematian akibat trauma (Maas et al. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. , angka kejadian trauma kepala di Indonesia pada Tahun 2013 di 33 Propinsi di Indonesia sebesar 8,2% dan insiden kematian akibat trauma kepala GCS menggambarkan tingkat kesadaran pada pasien dengan trauma kepala. Skala ini dibuat terutama untuk menilai keparahan disfungsi otak . GCS mengukur respons mata, motorik, dan verbal pasien trauma kepala dan merupakan skala prognostik yang digunakan dan diterima secara luas baik untuk menilai tingkat kesadaran pada pasien trauma maupun non-trauma (Lecky. Roberts, & Maas, 2. GCS juga telah diakui sebagai alat yang dapat diandalkan untuk memantau pasien dengan trauma kepala dan untuk mengidentifikasi perburukan kondisi. GCS juga merupakan indeks keparahan cedera karena skor ini berhubungan dengan outcome (In-suk. Hyoung-joon. Hyeongjoong, & Kyu-sun, 2. Nilai prognostik dari GCS telah dipelajari secara luas pada pasien dengan trauma kepala. GCS yang lebih rendah telah terbukti terkait dengan hasil yang lebih buruk dan hubungan terbalik, antara angka kematian dan jumlah telah dilaporkan pada pasien dengan trauma kepala (Teasdale et al. , 2. NEWS (Nationale Early Warning Scor. dikembangkan oleh Royal College of Physicians of London dan saat ini digunakan di beberapa negara. NEWS dimaksudkan untuk memberikan indikasi yang dapat diandalkan, tepat waktu, dan efektif dari respons klinis pasien akut. NEWS dilakukan dengan cara menjumlahkan data fisiologis yang mencakup tekanan darah sistolik, nadi, respirasi, suhu tubuh dan tingkat kesadaran, saturasi oksigen, penggunaan alat bantu oksigen (Y. Lee et al. , 2. Namun ada beberapa kekurangan dari scoring NEWS diantaranya adalah: penilaian neurologis menggunakan AVPU yang pada dasarnya adalah sistem sederhana dibandingkan dengan penilaian neurologis yang lebih lengkap seperti GCS, penilaian saturasi oksigen berpotensi normal karena pasien mendapatkan terapi oksigen yang tepat, hal ini berdampak hasil yang bias pada scoring NEWS (West of England Academic Health Science Network, 2. Penilaian awal menggunakan NEWS menggunakan AVPU sekaligus status Sementara GCS yang merupakan standart baku pengukuran derajat trauma kepala telah dipakai sebagai instrumen pemeriksaan awal ini hanya menilai status neurologis, belum mempertimbangkan status Berdasarkan hal-hal di atas, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektifitas NEWS dan GCS terhadap outcome pasien trauma kepala. METODE Penelitian observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif di RSUD dr. Soedono Madiun pada bulan Maret 2019. Ada 181 data rekam medis dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dimana peneliti memilih sampel sesuai dengan yang dikehendaki peneliti, yakni yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari populasi yang ada. Analisis bivariat mengunakan uji spearman untuk mengetahui hubungan GCS dengan outcome dan uji somersAod untuk mengetahui hubungan NEWS dengan outcome. The Area Under Receiver Operating Characteristic (AUROC) kemampuan NEWS membedakan outcome baik dan outcome buruk. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dengan nomor: 89/EC/KEPK-S2/03/2019. 16 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Tabel 1. 1 Nationale Early Warning Score (NEWS) Soring System Sumber : (Royal College of Physicians, 2. HASIL PENELITIAN Tabel 2 Karakteristik Responden Variabel Klasifikasi Jenis Laki-Laki Kelamin Perempuan Usia A65 Pendidikan Tidak Sekolah SLTP SLTA Pekerjaan Tidak Bekerja Pedagang Karyawan Swasta Wiraswasta Petani PNS/TNI/POLRI Pelajar/Mahasiswa 30 Penyebab Kecelakaan Lalu Trauma Lintas Kepala Terjatuh Tabel 2 menunjukkan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 128 orang . %). Berdasarkan karakteristik usia, usia responden terbanyak dengan persentase 23% adalah kelompok usia 1626 tahun. Berdasarkan karakteristik pendidikan, bahwa hampir setengah responden yakni sebesar 40% dengan tingkat pendidikan SLTA. Pekerjaan responden sebanyak 36% dari total responden adalah karyawan swasta. Penyebab seluruhnya yakni 86% adalah kecelakaan lalu lintas. Tabel 3 Distribusi Fekuensi Responden Berdasarkan Hasil scoring NEWS Scoring Frekuensi Persentase NEWS . (%) Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Total Tabel 3 memperlihatkan sebagian besar yaitu sebesar 132 atau 73% termasuk dalam klasifikasi tinggi, sedangkan sebagian kecil responden sebesar 3 . %) masuk klasifikasi risiko rendah. Tabel 4 Distribusi Fekuensi Responden Berdasarkan Hasil scoring GCS Frekuensi Persentase Skor GCS . (%) Total 17 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Tabel 4 memperlihatkan responden terbanyak memiliki skor GCS 8 atau dalam klasifikasi cedera kepala berat yaitu sebesar 26 responden atau 14,4%. Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Outcome Pasien Trauma Kepala Outcome Pasien Trauma Kepala Good recovery Moderate Disability Severe Disability Persisten Vegetative State Death Total Sensitivity negatif ini berarti bahwa semakin rendah nilai GCS, semakin tinggi risiko mendapatkan outcome buruk pada pasien trauma kepala. Skoring_NEWS Sensitivity: 64. Specificity: 69. Criterion: >7 Dari tabel 5 diperoleh hasil bahwa hampir setengahnya responden sebesar 88 atau 48% death, sedangkan tak satu pun Tabel 6. Uji SomersAod Hubungan Antara Scoring NEWS dengan outcome Pasien Trauma Kepala Signifikan Uji Statistik Variabel Nilai Scoring NEWS dengan prediksi outcome pasien 0,139 0,066 trauma kepala Hasil uji SomersAod pada tabel 6 terlihat bahwa nilai signifikansi diperoleh nilai 0,066 ini menunjukkan bahwa scoring NEWS tidak ada hubungan dengan outcome pasien trauma kepala Sensitivity Tabel 7. Uji Spearman Hubungan antara GCS dengan Outcome Pasien Trauma Kepala Uji Statistik Variabel Nilai Signifik GCS dengan prediksi outcome pasien trauma -0,488 0,000 AUC = 0. P < 0. 100-Specificity Gambar 1. Grafik ROC NEWS terhadap Outcome Pasien Trauma Kepala Gambar 1 menunjukkan bahwa kurva ROC yang dihasilkan dari berbagai nilai cut of point. Dapat diketahui bahwa kurva ROC berada di atas garis referensi. Nilai AUC yang dihasilkan yaitu sebesar 0,703 sehingga berdasarkan nilai AUC tersebut tingkat ketepatan prediksi scoring NEWS pada klasifikasi sedang. GCS Sensitivity: 76,8 Specificity: 71,8 Criterion: O9 Tabel 7 Hasil uji spearman terlihat bahwa nilai signifikansi diperoleh nilai 0,000, artinya ada hubungan antara GCS dengan outcome pasien trauma kepala. Nilai spearman rho . = -0488, nilai ini menunjukkan tingkat hubungan dalam kategori sedang. Arah hubungan yang AUC = 0,769 P < 0,001 100-Specificity Gambar 2. Grafik ROC GCS terhadap Outcome Pasien Trauma Kepala 18 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 Gambar 2 menunjukkan bahwa kurva ROC yang dihasilkan dari berbagai nilai cut of point. Dapat diketahui bahwa kurva ROC berada di atas garis referensi. Nilai AUC yang dihasilkan yaitu sebesar 0,769 sehingga berdasarkan nilai AUC tersebut GCS padaklasifikasi baik. PEMBAHASAN Berdasarkan didapatkan hampir seluruhnya responden yaitu 128 . %) adalah berjenis kelamin laki-laki. Hasil serupa diperoleh dari penelitian oleh Hartoyo. Raharjo, & Budiyati . 75,4% responden berjenis kelamin laki-laki. Data National and international epidemiological menyebutkan bahwa trauma kepala akan mempengaruhi kesehatan terutama yang berjenis kelamin laki-laki. Perbandingan kejadian trauma kepala antara laki-laki dengan perempuan dengan proporsi 4:1 (Dragosavac. Cintra. Cardoso, & Thiesen. Faktor yang mungkin menjadi penyebab tingginya trauma kepala sedangberat pada laki-laki di antaranya adalah aktivitas fisik maupun pekerjaan yang lebih berisiko dari perempuan. Namun menurut Marcolini. Albrecht. Sethuraman, & Napolitano . tingginya kejadian trauma kepala pada laki-laki bukan hanya karena aktivitas fisik dan pekerjaan saja, ada faktor hormonal pada laki-laki yang akan memicu stres dan mengakibatkan perilaku berisiko terjadinya trauma kepala seperti minum alkohol saat mengendarai kendaraan bermotor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa trauma kepala paling banyak dialami oleh kelompok usia 16-25 tahun. Temuan ini sesuai dengan hasil temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan kelompok usia 15-25 tahun merupakan kelompok terbanyak mengalami trauma kepala, di mana kelompok ini merupakan kelompok dewasa muda yang memiliki produktivitas dan aktivitas yang tinggi (Lisnawati et al. Kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab trauma kepala paling umum pada kelompok usia 15-19 tahun dan 20-24 tahun (Peeters et al. , 2. Tingginya angka kejadian trauma kepala pada kelompok usia ini akibat kecelakaan lalu lintas dimungkinkan oleh karena tingginya mobilitas dan perkembangan psikologis, di mana usia dewasa muda perkembangan psikologis yang belum stabil sehingga sering gagal mengendalikan Keadaan mengemudikan kendaraan bermotor. Berdasarkan jenis pekerjaan, dalam penelitian ini didapatkan pekerjaan adalah karyawan swasta sejumlah 66 responden . %). Berbeda dengan penelitian oleh Krisandi. Utomo, & Indriati . bahwa jenis pekerjaan pelajar/mahasiswa. Dari hasil penelitian dan fakta penelitian sebelumnya dapat di mempunyai keterkaitan dengan kejadian trauma kepala, hal ini bisa dilihat dari faktor penyebab trauma kepala pada penelitian ini terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas . %). Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin sering pekerjaan yang membutuhkan aktivitas di jalan seperti mengendarai sepeda motor, mobil, becak maupun pejalan kaki semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya trauma kepala. Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa scoring NEWS tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan outcome pasien trauma kepala. Hasil p value sebesar 0,066 dan somersAod = 0,139 yang berarti bahwa scoring NEWS tidak memiliki hubungan dengan outcome pasien trauma Hasil berbeda di temukan pada penelitian Yuan. Tao. Dan, & Yi . yang menyebutkan kemampuan prediksi NEWS lebih unggul daripada sistem scoring lainnya pada pasien kondisi kritis. Scoring NEWS memberikan evaluasi cepat pada keadaan sakit pasien kritis di ruang resusitasi, sehingga pasien yang mengalami kondisi kritis bisa dilakukan skrining pada tahap awal dan ditentukan penanganan yang tepat waktu Dari beberapa penelitian 19 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 berpengaruh pada outcome trauma kepala diantaranya adalah tekanan darah sistolik, derajat kesadaran dan saturasi oksigen (Widyaswara et al. , 2016. Khan et al. Berbagai faktor yang mungkin menyebabkan adanya perbedaan hasil penelitian ini dengan sebelumnya. Pertama, kasus yang diteliti pada penelitian sebelumnya adalah semua kasus yang datang ke IGD, sedangkan pada penelitian ini lebih difokuskan pada pasien trauma Kedua, hasil data saturasi oksigen (SpO. pada penelitian di dapatkan dari data rekam medis sehingga tidak diketahui apakah hasil saturasi oksigen di ukur sebelum atau sesudah mendapatkan terapi Ketiga, parameter scoring NEWS yakni penggunaan oksigen pada penelitian menggunakan oksigen sehingga tidak didapatkan data tentang kondisi awal Hasil penelitian didapatkan bahwa GCS memiliki hubungan yang signifikan dengan outcome pasien trauma kepala. Hal ini dapat dilihat dari nilai p value = 0,000 dan koefisiensi korelasi spearman = -0,488 yang berarti bahwa GCS berhubungan dengan outcome pasien trauma kepala dengan kekuatan hubungan sedang. Arah hubungan yang negatif ini berarti bahwa semakin rendah nilai GCS, semakin tinggi risiko mendapatkan outcome buruk pada pasien trauma kepala. Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian oleh Irawan, dkk . yang menyebutkan GCS memiliki korelasi bermakna dalam menentukan tingkat disabilitas pasien trauma kepala . =0,. Penilaian awal menggunakan GCS dapat memprediksi tingkat disabilitas pasien trauma kepala saat keluar dari rumah Penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sasmito. Wihastuti, & Kristianto . yang menyebutkan bahwa ada perubahan signifikan secara statistik antara skor GCS dengan mortalitas pasien cedera kepala. Dari penelitian ini juga didapatkan sebagian besar pasien cedera kepala memiliki skor GCS 10 atau bahkan <10 dan memiliki outcome pasien cedera kepala yang buruk. Selain itu juga ditemukan bahwa outcome pasien cedera kepala secara progresif akan menurun jika skor GCS yang sudah rendah. GCS juga digunakan sebagai acuan pengobatan dan dasar pembuatan keputusan klinis umum untuk pasien. Selain mudah dilakukan. GCS juga memiliki peranan penting dalam memprediksi risiko kematian di awal trauma. Penilaian GCS bergantung pada respon serebrum terhadap rangsangan Variasi dari nilai GCS disebabkan oleh gangguan fungsi serebrum atau mempengaruhi jalannya rangsangan ke hemisfer serebrum (Irawan et al. , 2. Hal ini memperkuat bahwa GCS merupakan standar baku penilaian awal pasien trauma kepala di rumah sakit yang belum tersedia pemeriksaan CT scan. Performa diskriminasi scoring NEWS pada penelitian ini cukup, ditunjukkan dengan nilai AUC sebesar 0,703 . % CI:0710-0,. dengan p value sebesar 0,001. Nilai AUC pada penelitian ini berbeda bila dibandingkan dengan temuan pada penelitian sebelumnya. Silcock. Corfield. Gowens, & Rooney . menemukan performa diskriminasi baik dengan nilai AUC sebesar 0,774 . % CI:0. 657Ae0. pada prediksi mortalitas pasien yang masuk ruang ICU. Pimentel et diskriminasi baik dengan nilai AUC sebesar 0,881 . 878 to 0. dalam memprediksi mortalitas 24 jam pasien akut di rumah Uppanisakorn. Bhurayanontachai. Boonyarat. Kaewpradit menemukan performa diskriminasi sangat baik dengan nilai AUC sebesar 0,93 . % CI:0,90-0,. penurunan kondisi klinik pasien yang keluar dari ICU. Perbedaan performa ini dimungkinkan karena setting yang berbeda dari penelitian sebelumnya, sehingga memberikan hasil 20 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 prediksi yang berbeda pula. Menurut pendapat Silcock et al . yang dikembangkan untuk satu populasi pasien atau sistem layanan kesehatan tertentu mungkin tidak berlaku untuk yang lain populasi atau sistem perawatan kesehatan. Scoring NEWS merupakan sistem penilaian memungkinkan respon yang lebih tepat waktu untuk pasien yang memburuk di rumah sakit (Royal College of Physicians. Walaupun tidak disebutkan secara spesifik tempat penggunaan NEWS, namun sepanjang sepengetahuan peneliti scoring NEWS lebih banyak digunakan di ruang rawat inap dan ruang perawatan intensif. Nilai cut of point yang optimal didapat nilai >7 menghasilkan 64,14% dan spesifisitas sebesar 69,44%, artinya scoring NEWS dapat mendeteksi outcome buruk sebesar 64,14% dan 69,44% mendeteksi outcome baik. Sedangkan akurasi sebesar 66,79%, artinya kemampuan scoring NEWS untuk mendeteksi secara benar subjek yang diuji sebesar 66,79%. Alasan untuk nilai akurasi yang lebih rendah pada scoring NEWS dalam penelitian ini mungkin karena parameter penggunaan alat bantu oksigen dinilai pada saat pasien telah mendapat pengobatan oksigen sehingga hasil skor yang sama diperoleh semua responden. Begitu juga dengan parameter SpO2, parameter ini di nilai setelah responden mendapat terapi oksigen sehingga hasilnya akan berbeda apabila SpO2 didapat sebelum mendapat terapi oksigen. Performa diskriminasi GCS pada penelitian ini masuk dalam kategori baik, ditunjukkan dengan nilai AUC sebesar 0,769 . % CI, 0,701 to 0,. dengan p value sebesar 0,001. Nilai AUC pada penelitian ini hampir sama dengan temuan Pada Ghelichkhani. Esmaeili. Hosseini, & Seylani . yang meneliti perbedaan GCS dan FOUR Score terhadap prediksi mortalitas di IGD mendapatkan nilai AUC sebesar 0. % CI: 0. 77 to . atau dalam kategori prediksi baik. Kemiripan nilai performa diskriminasi ini dapat dijelaskan karena jenis kasus yang digunakan dalam penelitian ini dengan sebelumnya sama terfokus pada pasien dengan trauma kepala. Pada pasien trauma kepala assesment neurologis seperti GCS merupakan elemen essensial dalam skor peringatan dini. Hal ini sesuai pendapat Shalaby . yang menyatakan bahwa penilaian level of consciousness (LOC) atau derajat kesadaran merupakan indikator kunci menentukan prognosis dan outcome pada pasien trauma kepala. Hal ini didukung dari hasil analisis multivariat scoring REMS pada penelitian ini yang menunjukkan hasil bahwa GCS merupakan parameter faktor paling dominan terhadap outcome pasien trauma kepala. Hasil cut of point didapatkan pada titik edera sedang-bera. menunjukkan analisis sensitivitas 76,8%, spesifisitas 71,8% dan akurasi 74,3%. Hampir sama dengan penelitian Sobuwa, et al . bahwa outcome yang buruk pada pasien trauma kepala banyak terjadi pada skor GCS O8. Skor GCS yang lebih rendah pada pasien trauma kepala berhubungan dengan mortalitas di rumah sakit KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa kemampuan NEWS dalam prediksi kemampuan GCS dalam prediksi outcome menunjukkan performa baik. SARAN Diperolehnya informasi tentang pola dan sistem scoring yang efektif pada pasien dengan trauma kepala dari penelitian ini diharapkan membantu dalam pembuatan kebijakan, penelitian, manajemen kesehatan dan rehabilitasi di rumah sakit. Penggunaan GCS sebagai standart baku pemeriksaan awal pasien trauma kepala tetap bisa dilaksanakan oleh karena GCS dapat dengan mudah dan cepat tanpa melakukan perhitungan skor. 21 | p-ISSN: 2442-501x, e-ISSN: 2541-2892 JAKHKJ Vol. No. 1, 2021 DAFTAR PUSTAKA