JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN KINERJA OPERASIONAL SIMPANG TAK BERSINYAL BATU MERAH Ae MARDIKA KOTA AMBON Anthoneta Maitimu. Frets Axl Wairatta. Sulastri Kakaly. Teknik Sipil Politeknik Negeri Ambon maitimu@gmail. com, . wairattafrets29@gmail. sulastrikakalyunidar@gmail. ABSTRACT The Batu Merah-Mardika non-signalized intersection of Ambon City needs to be analyzed for its operational performance level. The basic capacity of the road, traffic behavior, traffic flow volume, various types of vehicles, high side obstacles, economic and business growth are the main causes of frequent congestion. To find out the operational performance of the intersection, it is necessary to conduct research or analysis on the unsignalized intersection Batu Merah Ae Mardika Ambon City. The data needed in this study are data on traffic flow, side obstacles, speed, road geometry and the number of population. The data was then analyzed using MKJI (Indonesian Road Capacity Manua. in 1997 and MS Excel. Based on the results of data analysis, it can be found that Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian at peak hours on Wednesday. July 31, 2024 at 17. 00 Ae 18. WIT has DS = 2. 16 with Qtot = 5573 C = 2575 with very high side obstacles and an average speed of 11. km/h and Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara at peak hours 17. 00 Ae 18. 00 WIT with DS = 2. 14 per traffic flow of 5585 smp/h and a capacity of 2613 and very high side obstacles. Based on the results of data analysis, it can be found that Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian at peak hours on Wednesday. July 31, 2024 at 17. 00 Ae 18. 00 WIT has DS = 16 with Qtot = 5573 C = 2575 with very high side obstacles and an average speed of 11. 76 km/h and Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara at peak hours 17. 00 Ae 18. 00 WIT with DS = 2. 14 per traffic flow of 5585 smp/h and a capacity of 2613 and very high side obstacles. ABSTRAK Simpang tak bersinyal Batu Merah-Mardika Kota Ambon perlu di analisis tingkat kinerja operasionalnya. Kapasitas dasar jalan, perilaku lalu lintas, volume arus lalu lintas, beragam jenis kendaraan, hambatan samping yang tinggi, pertumbuhan perekonomian maupun perniagan menjadi penyebab utama kemacetan sering Untuk mengetahui kinerja opersional simpang maka perlu dilakukan penelitian atau analisis pada simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon . Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data arus lalu lintas, hambatan samping, kecepatan,geometrik jalan serta jumlah penduduk. Data kemudian dianalisis menggunakan MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesi. Tahun 1997 dan MS Excel. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian pada jam puncak pada hari Rabu 31 Juli 2024 pukul 17. 00 Ae 18. 00 WIT memiliki DS = 2. 16 dengan Qtot = 5573 C= 2575 dengan hambatan samping yang sangat tinggi serta kecepatan rata-rata 11. 76 km/jam dan Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara pada jam puncak 17. 00 Ae 00 WIT dengan DS= 2. 14 per arus lalu lintas 5585 smp/jam dan kapasitas sebesar 2613 serta hambatan samping yang sangat tinggi. Faktor yang mempengaruhi kinerja operasional simpang adalah tingginya hambatan samping, besarnya volume arus lalu lintas dari kapasitas simpang yang tersedia, banyaknya pelanggaran lalu lintas seperti melawan arah dan parkir pada badan jalan. Kata kunci : Rekayasa Lalu Lintas. Simpang Tak Bersinyal. Derajat Kejenuhan PENDAHULUAN Simpang tak bersinyal Batu Merah-Mardika Kota Ambon memiliki volume arus lalu lintas yang cukup tinggi dengan panjang rute simpang tak bersinyal yaitu 203 meter dan lebar masing-masing pendekat pada simpang tak bersinyal Jl. Jenderal Sudirman - Jl. Kesatrian adalah 5. 5 m (Jalan Utam. , 5 m (Jalan Mino. dan Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara adalah 5 (Jalan Utam. , 3. 9 m (Jalan Mino. Kondisi kapasitas dasar jalan seperti tipe simpang, jalur, lajur, median jalan utama yang kurang memadai, kelas ukuran kota, tipe lingkungan jalan dan hambatan samping yang sangat banyak. Simpang tak bersinyal ini merupakan salah satu akses penghubung dari pusat kota ke luar kota maupun sebaliknya. Arus dari luar p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 kota ke pusat kota seperti akses menuju pusat kota. Taman Pattimura. Pasar Mardika. Pelabuhan Yos Soedarso, serta ke beberapa daerah dalam Kota Ambon. Arus dari dalam kota ke luar kota menuju Jembatan Merah Putih. Tantui. Pasar Mardika, beberapa Kampus seperti Universitas Pattimura. Politeknik Negeri Ambon. STIA Alazka. IAIN. Universitas Darusalam. Pelabuhan Ferry. Bandara Pattimura juga beberapa wilayah yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas sering terjadi pada ruas dan simpang tak bersinyal tersebut. Dengan adanya beberapa perilaku lalu lintas yang terjadi pada simpang tak bersinyal tersebut seperti belok kanan, kiri, lurus hingga menyilang yang sering kali dilakukan oleh pengendara yang JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN tidak tertib berlalulintas ditambah lagi hambatan samping yang sangat banyak pada simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon tersebut yang mengakibatkan kemacetan sering Simpang tak bersinyal Batu Merah-Mardika Kota Ambon perlu di analisis tingkat kinerja Kapasitas dasar jalan, perilaku lalu lintas, volume arus lalu lintas, beragam jenis kendaraan, hambatan samping yang sering terjadi, pertumbuhan perekonomian maupun perniagan menjadi penyebab utama kemacetan sering terjadi pada simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon. Dengan melihat permasalahan diatas maka perlu dilakukan penelitian atau analisis dengan melakukan survei arus lalu lintas dengan surveyor yang terbagi pada masing-masing titik simpang tak bersinyal untuk mengetahui kinerja operasional pada simpang tak bersinyal Batu MerahAe Mardika. TINJAUAN PUSTAKA Lalu Lintas Pengertian lalu lintas menurut Pasal 1 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan, sebagai prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dengan fasilitas pendukungnya. lalu lintas adalah berjalan, bolak balik, perjalanan di jalan. Arus Lalu Lintas Arus lalu lintas terbentuk dari pergerakan individu pengendara dan pengendara yang melakukan interaksi antara yang satu dengan yang lainnya pada satu ruas jalan dan lingkungannya. Arus lalu lintas pada suatu ruas jalan karakteristiknya akan bervariasi baik berdasarkan lokasi maupun waktunya. selain itu perilaku pengemudi ikut mempengaruhi terhadap perilaku arus lalu lintas. Pengemudi pada suatu ruas jalan yang dirancang dengan kecepatan tertentu misalkan 80 km/jam dimungkinkan bahwa pengemudi akan mempunyai kecepatan yang bervariasi dari 30 km/jam sampai 120 km/jam. Karakteristik Persimpangan Menurut bentuknya, simpang terbagi atas dua macam (Hariyanto, 2. Pertemuan atau persimpangan jalan sebidang, merupakan pertemuan dua ruas jalan atau lebih secara sebidang . idak saling bersusu. Pertemuan sebidang ada 4 . macam, yaitu : Pertemuan atau persimpangan bercabang 3 . Pertemuan atau persimpangan bercabang empat . Pertemuan atau persimpangan bercabang . Bundaran . otary intersectio. Pertemuan atau persimpangan jalan yang tidak sebidang merupakan persimpangan dimana dua ruas jalan atau lebih saling bertemu tidak dalam p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 satu bidang tetapi salah satu ruas berada di atas atau di bawah ruas jalan yang lain. Ada empat . jenis pertemuan pergerakan yang dilihat dari bentuk tujuan dari pergerakan tersebut. Tipe yang mendasar gerakan persimpangan kendaraan, yaitu : Memisah (Divergin. Memisah (Divergin. merupakan type pergerakan kendaraan yang berpencar/menjauh dari titik simpang, atau berpisahnya arus lalu lintas dari beberapa ruas jalan. Memotong (Crossin. merupakan type pergerakan kendaraan yang memotong/berpotongnya arus kendaraan. Mengumpul (Mergin. merupakan berpulnya arus lalu Ae lintas beberapa ruas jalan. Bergelombang (Weavin. merupakan gerakan berpindah-pindah jalur. Analisis Kinerja Simpang Tak Bersinyal Karakteristik operasional dan keamanan sistem jaringan jalan lebih bergantung pada desain persimpangan dari pada parameter-parameter lainnya. Dipersimpangan sebagian besar kendaraan dan pejalan kaki mengalami konfik lalulintas dan oleh karnanya tundaan,kecelakaan,kemacetan cenderung lebih sering terjadi . ukuran kinerja persimpangan itu sendiri dapat diukur atau di hitung, termasuk didalamnya keamanan, kapasitas dan tundaan di persimpangan (Miller dalam Odgen & Bennet, 1. Di dalam persimpangan tipe 4 lengan . ross intersectio. terdapat 32 titik konflik lalu lintas, sementara persimpangan tipe T (T-intersectio. terdapat 9 titik konflik lalu lintas. Gambar 2. 1 berikut ini melukiskan tiik-titik konflik kedua tipe persimpangan tersebut. Sumber : Miller Ogden & Bennett, 1982 Gambar 1 Titik-titik konflik lalu lintas di Kapasitas Kapasitas total untuk seluruh lengan simpang adalah hasil perkalian antara kapasitas dasar (C. yaitu kapasitas pada kondisi tertentu . dan faktor-faktor penyesuaian (F). Bentuk model kapasitas menjadi sebagai berikut : C = C0yFWyFmyFcsyFrsuyFltyFrtyFmia . Dengan : FRSU : Faktor penyesuaian hambatan samping FLT : Faktor penyesuaian belok kiri FRT : Faktor penyesuaian belok kanan FMI : Faktor penyesuaian arus jalan minor : Kapasitas . mp/ja. JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN FCS : Kapasitas dasar . mp/ja. : Faktor penyesuaian lebar masuk : Faktor penyesuaian tipe median jalan utama : Faktor penyesuaian ukuran kota Lebar dan Pendekatan Simpang A Masukan lebar pendekat masing-masing Wa. Wb. Wc dan Wd. Lebar pendekat di ukur pada jarak 10 m dari garis imajiner yang menghubungkan tepi perkeerasan dari jalan yang memotong, yang di anggap mewakili lebar pendekat efektif untuk masing-masing pendekat A Untuk pendekat yang sering digunakan parkir pada jarak kurang dari 20m dari garis imajiner yang menghubungan tepi perkerasan dari jalan yang memotong , lebar pendekat tesebut harus dikurangi 2 m. A Hitung lebar rata-rata pendekat untuk jalan - Wac = ( WA WC ) / 2 a. - WBD = (WB WD) / 2 AA. Dengan : Wac = Lebar rata-rata pendekat (Mino. Wbd = Lebar rata-rata pendekat (Mayo. Hitung lebar rata-rata pendekat untuk seluruhnya - W1 = (Wa Wb Wc W. / jumlah lengan simpang Sumber : MKJI, 1997 Gambar 2 Lebar Rata-Rata Pendekat Jumlah lajur Tabel 1 Jumlah Lajur Dan Lebar Rata-Rata Pendekat Lebar rata-rat pendekat Jumlah lajur Minor dan utama Wac . otal untuk 2 ara. Wbd Wbd = . /2 O5. Ou5. Wac = . /2 O5. Ou5. Sumber : MKJI, 1997 Tipe simpang Tabel 2 Kode Tipe Simpang. Kode Jumlah Jumlah Jumlah lajur Simpang Jalan Jalan utama p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Sumber : MKJI, 1997 Nilai Kapasitas Dasar Nilai kapasitas dasar C0 diambil dari Tabel 3 dan dimasukkan pada formulir USIGAeII. Variabel masukkan adalah tipe simpang IT. Tabel 3 Kapasitas Menurut Tipe Simpang Tipe Simpang Kapasitas dasar (Smp/ja. 324 atau 344 424 atau 444 Sumber : MKJI, 1997 Nilai Kapasitas Dasar Faktor penyesuaian lebar pendekat Fw diperoleh dari Gambar 3 variabel masukkan adalah lebar rata-rata pendekat simpang W1 dan tipe simpang IT. Batas nilai yang diberikan dalam gambar adalah batas nilai untuk dasar empiris dari Sumber : MKJI, 1997 Gambar 3 Faktor Penyesuaian Lebar Pendekat Faktor Penyesuaian Median klasifikasikan median yang berhubungan dengan hal ini. Dikerjakan pada langkah penentuan geometrik simpang. Faktor penyesuaian median jalan utama Fm diperoleh dengan menggunakan Tabel 4 penyesuaian hanya dilakukan untuk jalan-jalan utama 4 lajur. Variabel masukan adalah tipe median jalan Tabel 4 Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama Faktor Uraian Tipe M Tidak Tidak ada median jalan Ada median Sempit jalan utama JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Ada median jalan utama Ou3m Lebar yang diberikan untuk Flt adalah batas nilai untuk empiris dari manual. Sumber : MKJI, 1997 Faktor penyesuaian ukuran kota Tabel 5 Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (Fc. Ukuran kota Penduduk (Jut. Sangat kecil < 0. Kecil 1 Ae 0. Sedang 5 Ae 1. Besar 0 Ae 3. Sangat besar >3. Sumber : MKJI, 1997 Faktor penyesuain ukuran kota(FCc. Faktor Penyesuian Ukuran Kota Tabel 6 Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (Fc. Ukuran kota Penduduk (Jut. Sangat kecil < 0. Kecil 1 Ae 0. Sedang 5 Ae 1. Besar 0 Ae 3. Sangat besar >3. Sumber : MKJI, 1997 Sumber : MKJI, 1997 Gambar 4 Faktor Penyesuaian Belok Kiri (Fl. 8 Faktor penyesuaian belok kanan Faktor penyesuaian belok kanan Frt ditentukan dari Gambar 5 di bawah ini. Untuk simpang 3lengan. Batas nilai yang diberikan untuk Frt pada gambar adalah batas nilai untuk dasar empiris dari Faktor penyesuain ukuran kota (FCc. Faktor penyesuian tipe lingkungan jalan,hambatan amping dan kendaraan tak Faktor penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan kendaraan tak bermotor Frsu diperoleh dengan menggunakan tabel 7 Variabel masukan adalah tipe lingkungan jalan RE, kelas hambatan samping SF dan rasio kendaraan tak bermotor UM/MV. Sumber : MKJI, 1997 Gambar 2. 5 Faktor Penyesuaian Belok Kanan (Fr. 9 Faktor penyesuaian rasio arus jalan minor Faktor penyesuaian rasio arus jalan minor Fmi ditentukan dari Gambar 6 Tabel 7 Faktor Penyesuaian Hambatan Samping Dan Kendaraan Tak Bermotor (Frs. Sumber : MKJI, 1997 Sumber : MKJI, 1997 Gambar 6 Faktor Penyesuaian Belok Kiri (Fl. 7 Faktor penyesuaian belok kiri Faktor penyesuaian belok kiri Flt ditentukan dari Gambar 4 di bawah ini. Variabel yang dimasukkan adalah belok kiri, dari formulir USIG-I. Batas nilai Tabel 8 Faktor Penyesuaian Arus Jalan Minor (Fm. Fmi Pmi 19 x Pmi2 1. 19 x Pmi 1. 6 x Pmi4 - 33. 3xPmi3 25. p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Pmi 1. 1 x Pmi2 Ae 1. 11x Pmi 0. 19x Pmi2 Ae 1. 19x Pmi 1. 595x Pmi2 0. 595x Pmi3 0. 19xPmi2 - 1. 19xPmi 1. 38 x Pmi2 Ae 2. 38x Pmi 1. 6xPmi4 Ae33. 3xPmi2 Ae 8. 6xPmi 11xPmi2 Ae 1. 11xPmi 1. 555xPmi2 0. 555xPmi 0. Sumber : MKJI, 1997 tundaan jalan minor rata-rata : 3 Ae 0. 1 Ae 0. 5 DTmi = ycEycycuycycuyaycN1OeycEycoyca ycu yaycNycoyca ycEycoycn 5 Ae 0. 1 Ae 0. 5 Ae 0. 1 Ae 0. AA. AA. Dengan : Qtot = Arus lalu lintas . mp/ja. Qma = Arus lalu lintas jalan mayor . mp/ja. DTMA = Tundaan jalan mayor . et/sm. Qmi = Arus lalu lintas jalan minor 3 Ae 0. 11 Tundaan geometrik simpang 5 Ae 0. Adalah tundaan geometrik rata-rata seluruh kendaran bermotor yang masuk simpang. Tundaan geometrik simpang dapat dihitung berdasarkan 6 Kapasitas sesungguhnya persamaan dibawah ini : Kapasitas sesungguhnya. C . mp /ja. dihitung Untuk DS < 1. dengan menggunakan Persamaan 2. 4 berikut, dimana DG = . -DS) x . T x 6 . - pT) x . DS x 4AA. berbagai faktor penyesuiannya telah dijelaskan di . Untuk DS Ou 1. C = CO y FW y Fm y Fcs y Frsu y Flt y Frt y Fmi. DG = 4 Dengan : AA. FRSU : Faktor penyesuaian hambatan samping Dengan : FLT : Faktor penyesuaian belok kiri DS = Derajat kejenuhan FRT : Faktor penyesuaian belok kanan Pt = Rasio belok total FMI : Faktor penyesuaian arus jalan minor : Kapasitas . mp/ja. 12 Tundaan Simpang FCS : Faktor penyesuaian ukuran kota Dapat dihitung menggunakan persamaan : Kapasitas dasar . mp/ja. D = DG DT1 a. : Faktor penyesuaian lebar masuk : Faktor penyesuaian tipe median jalan Dengan : DG = Tundaan geomterik simpang DT1 = Tundaan lalu lintas simpang 7 Derajat Kejenuhan Derajat kejenuhan untuk seluruh simpang (DS) Kecepatan dihitung dengan persamaan sebagai berikut : Menurut MKJI . , kecepatan tempuh di yc DS = yc a. definisikan sebagai kecepatan rata-rata ruang dari Dengan : kendaraan ringan (LV) sepanjang segmen jalan. Q = Arus total . mp/ja. yc C = Kapasitas V = yc . Dengan : 8 Tundaan Lalu Lintas Simpang (DT. V = Kecepatan tempuh . m/ja. Tundaan lalu lintas simpang adalah tundaan lalu s = jarak yang ditempuh kendaraan . lintas rata- rata untuk semua kendaraan bermotor t = waktu tempuh kendaraan yang masuk simpang. DT1 ditentukan dari persamaan A Waktu tempuh . aktu yang ditempuh 6 dibawah ini : kendaraan dengan jarak 30 mete. A Jarak (Jadi jarak yang digunakan adalah DT1 = 2 8. 2078 x DS Ae . -DS) x 2 . Dengan : Kecepatan sesaat m/detik . idapat dari DS = Derajat kejenuhan jarak/waktu tempu. A Kecepatan sesaat m/menit . idapat dari 9 Tundaan lalu lintas jalan utama (DTMA) kecepatan sesaat m/detik x . Tundaan lalu lintas jalan minor rata-rata. A Kecepatan sesaat m/jam . idapat dari ditentukan berdasarkan tundaan simpang rata-rata dan kecepatan m/menit x 60 ) tundaan jalan utama rata-rata. DTM ditentukan dari A Kecepatan rata-rata perjam didapat dari persamaan 7 dibawah ini : kecepatan sesaat m/jam / 1. 8234 x DS - . -DS) x 1. 14 Hambatan samping Hambatan samping adalah dampak terhadap 10 Tundaan Lalu Lintas Jalan Minor (DTMI) lalu lintas dari aktifitas samping ruas jalan. Tundaan lalu lintas jalan minor rata-rata kaki (PED = Pedestria. , parkir dan ditentukan berdasarkan tundaan simpang rata-rata dan kendaraan berhenti (PSV = Parking and low of p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Vehicle. , kendaraan keluar masuk (EEV = Exit and Entry of Vehicle. , serta kendaraan lambat / kendaraan tidak bermotor. Jumlah pejalan kaki berjalan atau menyeberang sepanjang segmen jalan . obot 0,. Jumlah kendaraan berhenti dan parkir . obot 1,. Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar dari lahan samping jalan dan Jjalan samping . obot 0,. arus kendaraan lambat, yaitu arus total . end/ja. sepeda, becak, delman, pedati, traktor, dan sebagainya . obot 0,. 15 Tingkat pelayanan jalan Tabel 9 Tingkat Pelayanan Jalan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) Tingkat Pelayanan Karakteristik Nilai Sangat Tinggi 0,00 Ae 0,20 Tinggi 0,20 Ae 0,44 Sedang 0,45 Ae 0,74 Rendah 0,75 Ae 0,84 Sangat Rendah 0,85 Ae 1,00 Sangat Sangat >1,00 Sumber : MKJI, 1997 METODOLOGI Lokasi penelitian bertempat pada simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika. Negeri Batu Merah. Kecamatan Sirimau. Kota Ambon. Provinsi Maluku. Simpang tak bersinyal Batu Merah-Mardika Kota Ambon memiliki volume arus lalu lintas yang cukup tinggi dengan panjang rute simpang tak bersinyal yaitu 203 meter dan lebar masing-masing pendekat pada simpang tak bersinyal Jl. Jenderal Sudirman - Jl. Kesatrian adalah 5. 5 m (Jalan Utam. , 2. 5 m (Jalan Mino. dan Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara adalah 5. 5 (Jalan Utam. , 3. 9 m (Jalan Mino. Sumber : Google Maps, 2024 Gambar 7 Lokasi Penelitian p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Sumber : Penulis, 2024 Gambar 8. Diagram Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Kondisi umum wilayah penelitian Simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon adalah salah satu simpang yang merupakan penghubung akses transportasi dari dalam maupun keluar kota. Simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika memiliki tiga lengan. Kondisi wilayah Pada simpang tak bersinyal ini dibilang cukup padat karena adanya kawasan pertokoan, perkantoran, hotel, bengkel, pangkalan ojek, dan pedagang kaki lima serta banyaknya pejalan kaki sehingga dampak yang dirasakan sangat besar pada kondisi arus lalu lintas di simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika. Perilaku lalu lintas seperti melawan arah yang sering dilakukan oleh kendaraan bermotor, parkir sembarangan dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas yang mengakibatkan kemacetan sering terjadi pada simpang tak bersinyal bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon. Jumlah penduduk kota Ambon 354. 052 jiwa . umber BPS Ambon, 2. dengan kecamatan Sirimau berjumlah 147. 996 jiwa. Dengan laju pertumbuhan penduduk yang kian meningkat mengakibatkan kendaraan semakin banyak sehingga terjadinya lonjakan volume arus lalu lintas terutama JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN pada simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon. 2 Analisis kinerja lalu lintas dan persimpangan Survei volume lalu lintas tiap persimpangan antara lain pada persimpangan Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian . dan Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara . dilakukan secara serentak dengan menempatkan surveyor pada 2 . persimpangan pada hari Senin . Rabu dan Sabtu mulai pukul 06. 00 Ae 00 WIT. Sumber : Hasil Penelitian, 2024 Gambar 9 Eksisting Dan Arus Lalu Lintas Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian (Simpang . Hari Rabu (Pukul 17. 00 WIT) Analisis untuk menentukan tingkat kinerja operaasional simpang tak bersniyal diuraikan pada langkah-langkah berikut : Digambar kondisi geomterik persimpangan berikut data arus lalu lintas pada masing-masing arah pergerakan pada setiap simpang. Menghitung volume kendaraan pada masingmasing arah pergerakan. Mengubah volume kendaraan kedalam satuan mobil penumpang, konversi kedalam smp/jam dilakukan dengan mengalikan smp yang tercatat pada formulir USIG-1 (LV:1. HV:1. MC:0. dan hitung arus total untuk masing-masing arus lalu lintas. Menghitung rasio arus kendaraan . Menghitung arus jalan minor total QMI yaitu jumlah seluruh pada pendekaat A dan C dalam smp/jam. Menghitung arus jalan minor total QMA yaitu jumlah seluruh pada pendekaat B dan D dalam smp/jam. Menghitung arus jalan minor dan utama total QMI untuk masing-masing gerakan . elok kiri QLT, lurus QST, dan QRT belok kana. demikian juga QTOT secara keseluruhan. Menghitung rasio arus jalan minor PMI yaitu arus jalan minor dibagi dengan arus total. PMI = QMI / QTOT = 98. 3 / 5573. 4 = 0. 017 i 0. Menghitung rasio arus belok kiri dan kanan Rasio arus belok kiri PLT = QLT / QTOT = 96. 6 / 5573. 4 = 0. 017 i 0. p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Rasio arus belok kanan PLT = QRT / QTOT = 129. 5 / 5573. 4 = 0. Menghitung rasio arus lalu lintas kendaraan tak bermotor . ecak, sepeda,geroba. (QUM) dengan kendaraan bermotor yang dinyatakan dalam smp/jam (QTOT) PUM = QUM / QTOT = 31 / 5573. 4 = 0. Lebar pendekat dan tipe simpang Lebar pendekat jalan rata-rata Hasil dibawah ini dimasukan pada formulir USIG-II Lebar pendekat jalan A. WA = 2. Lebar pendekat jalan B. WA = 5. Lebar pendekat jalan D. WA = 5. Lebar pendekat rata-rata : Lebar pendekat rata-rata, dapat dihitung menggunakan persamaan 2 dan 3 WAC = (WA WC) / 2 = 2. 5 m (Karena pendekat C tidak ad. WBD = (WB WD) / 2 = . / 2 = 5. Lebar rerata pendekat (W. dapat diselesaikan dengan persamaan 4 W1 = (Wa Wb W. / jumlah lengan simpang = 2. 5 / 3 = 4. Tipe Simpang Menentukan tipe simpang tak bersinyal Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian . ini termasuk jenis simpang dengan 3 lengan, jumlah lajur jalan minor 2, jumlah lajur jalan utama 2 tanpa median. Tipe simpang pada Jl. Jenderal sudirman Ae Jl. Kesatrian . didapat dari tabel 2 dengan kode IT 322. Menghitung nilai kapasitas dasar Nilai kapasitas dasar Co adalah 2700 smp/jam (Tabel . Menghitung faktor penyesuaian lebar pendekat Faktor penyesuaian lebar pendekat FCW didapat dari gambar 3 dengan rumus FW = 0. 0760 x W1 = 0. 0760 x 4. = 1. Menghitung faktor penyesuaian median jalan Faktor penyesuaian median jalan utama FM diperoleh dari tabel 4 yaitu 1. Menghitung faktor penyesuaian tipe lingkungan,ukuran kota, hambatan samping (Frs. Faktor diperoleh pada tabel 7 yaitu tipe lingkungan . Faktor Berdasarkan data Biro Statistik (BPS) tahun 2023, jumlah penduduk Kota Ambon 102 jiwa, diperoleh pada tabel JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN 6 yaitu 0. Hambatan samping tinggi dengan rasio kendaraan tak bermotor (Qu. Maka diperoleh nilai Frsu adalah 0. dapat dilihat pada tabel . Menghitung faktor penyesuaian belok kiri. Faktor rasio belok kiri dapat dilihat pada gambar 4 dengan persamaan dibawah ini : PLT = LT . mp/ja. / Qtot = 96. 6 / 5573. = 0. 17 i 0. FLT = 0. 61 x pLT = 0. 61 x 0. = 0. Menghitung faktor penyesuaian belok kanan. Faktor rasio belok kanan dapat dilihat pada gambar 5 dengan persamaan dibawah ini : PRT = LT . mp/ja. / Qtot = 129. 5 / 5573. = 0. FRT = 1. 09 Ae 0. 922 x pRT = 1. 09 Ae 0. 922 x 0. = 1. Menghitung faktor penyesuaian rasio arus jalan Mengitung faktor penyesuaian rasio arus jalan minor dapat dilihat pada tabel 8. PMI = Qminor / Qtotal = 98. 3 / 5573. = 0. 17 =i0. IT = 322 Pmi = 0. Fmi = 1. 19 x pMI2 Ae 1. 19 x pMI 1. = 1. 19 x 0. 022 - 1. 19 x 0. = 1. Menghitung kapasitas sesungguhnya. Kapasitas sesungguhnya dihitung sesuai rumus C = CO y FW y Fm y Fcs y Frsu y Flt y Frt y Fmi = 2700 x 1. 07 x 1. 00 x 0. 88 x 0. 93 x 0. 87 x 1. Tundaan lalu lintas jalan minor dapat dihitung menggunakan persamaan 8 Qtot x DT1OeQma x DTma DTmi = Qmi 4 x 22. 05 Oe5475. 1 x 16. = 332. 84 det/smp . Tundaan geometrik simpang (DG) Tundaan geometrik simpang dapat dihitung menggunakan persamaan 9 dan 10 Untuk DS Ou 1. 0: DG = 4 DG = 4 det/smp . Tundaan simpang (D) Tundaan simpang dapat dihitung menggunakan D = DG DT1 = 4 22. = 26. 05 det/smp Tabel 10 Rekapitulasi Kapasitas (C). Arus Lalu Lintas Smp/Jam (Qto. Dan Derajat Kejenuhan (DS) Simpang 1 Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian * Jam puncak Sumber : Hasil analisis, 2024 Tabel 11 Rekapitulasi Kapasitas (C). Arus Lalu Lintas Smp/Jam (Qto. Dan Derajat Kejenuhan (DS) Simpang 2 Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara = 2575 Menghitung derajat Kejenuhan DS = QTOT / C = 5573. 4 / 2575 = 2. 4 Analisis Tundaan Lalu Lintas . Tundaan lalu lintas simpang (DT. Tundaan lalu lintas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 6 DT1 = 2 8. 2078 x DS Ae . -DS) x 2 = 2 8. 2078 x 2. 16 Ae . x 2 = 22. 05 det/smp . Tundaan lalu lintas jalan utama ( DTMA) Tundaan lalu lintas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 7 DTma = 1. 8234 x DS Ae ( 1- DS) x 1. = 1. 8234 x 2. 16 Ae ( 1- 2. 16 ) x 1. = 16. 47 det/smp . Tundaan lalu lintas jalan utama ( DTMI) p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 * Jam puncak Sumber : Hasil analisis, 2024 JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Sumber : Hasil analisis. Ms excel 2024 Gambar 10 Grafik fluktuasi Simpang 1 Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian dan Simpang 2 Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara hari Rabu 31 Juli 2024 5 Analisis kecepatan Pengukuran kecepatan kendaraan dilakukan pada ruas Jl. Rijali dilakukan dengan 2 buah garis sejajar 30 m selama jam-jam sibuk pada hari Rabu 31 Juli Pengukuran waktu tempuh dengan mengambil sampel sebanyak 5 kendaraan ringan (LV) per 5 menit dalam 1 jam kemudian hasil rerata waktu tempuh tiap 1 jam tersebut diubah menjadi kecepatan sesaat . peed spo. dalam 30 m. Tabel 12 Hasil Analisis Kecepatan Rata-Rata Jl. Rijali (Arah Dalam Kot. * Jam puncak Sumber : Hasil Analisis, 2024 Tingkat pelayanan jalan Tabel 13 Hasil Tingkat Pelayanan Jl. Jenderal Sudirman Ae Kesatrian . dan Jl. Rijali Ae Jl Mutiara . Sumber : Hasil Analisis, 2024 Berdasarkan data tersebut diatas maka dapat dihitung besarnya Derajat Kejenuhan sebagai berikut = 2575 / 5573 = 2. Berdasarkan dengan p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 karakteristik tingkat pelayanan jalan . 10 dan . maka Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian mempunyai Level Of Service (LOS) atau tingkat pelayanan yaitu D dengan karakteristik Rendah dengan nilai 0. 75 Ae 0. Berdasarkan data tersebut diatas maka dapat dihitung besarnya Derajat Kejenuhan sebagai berikut = 2613 / 5585 = 2. 14 Berdasarkan dengan karakteristik tingkat pelayanan jalan . 10 dan . maka Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian mempunyai Level Of Service (LOS) atau tingkat pelayanan yaitu D dengan karakteristik Rendah dengan nilai 0. 75 Ae 0. Penutup 1 Kesimpulan Dari pembahasan maupun hasil analisis terhadap kinerja operasional simpang tak bersinyal Jl. Jenderal Sudirman - Jl. Kesatrian . dan Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara . dapat disimpulkan beberapa hal antara lain sebagai Kinerja operasional simpang tak bersinyal Batu Merah Ae Mardika Kota Ambon adalah sebagai . Simpang 1 (Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatria. memiliki perilaku lalu lintas berupa DS . erajat kejenuha. yang sangat tinggi terjadi pada hari Rabu 31 Juli 2024 00 Ae 18. 00 WIT . am punca. 16 dengan arus lalu lintas Qtot dengan nilai 5573 smp/jam dan kapasitas (C) . Simpang 2 (Jl. Rijali - Jl. Mutiar. memili5ki perilaku lalu lintas berupa DS . erajat kejenuha. yang sangat tinggi terjadi pada hari Rabu 31 Juli 2024 pukul 17. 00 Ae 00 WIT . am punca. dengan arus lalu lintas Qtot dengan nilai 5585 smp/jam dan kapasitas (C) sebesar . Tundaan lalu lintas simpang (DT. Jl. Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian . saat jam puncak 17. 00 Ae 18. 00 WIT 05 det/smp, tundaan lalu lintas jalan utama (DTMA) 16. 47 det/smp, tundaan geometrik simpang 4 det/smp, dan tundaan simpang sebesar 26. 05 det/smp. Tundaan lalu lintas simpang (DT. Jl. Rijali Ae Jl. Mutiara . saat jam puncak 00 Ae 18. 00 WIT sebesar 21. 84 det/smp, tundaan lalu lintas jalan utama (DTMA) 16. det/smp, tundaan geometrik simpang 4 det/smp, dan tundaan simpang sebesar 25. det/smp. Kecepatan kendaraan pada Jl. Rijali . rah dalam kot. memiliki kecepatan rata-rata 18 dan kecepatan saat jam puncak 00 Ae 18. 00 WIT adalah 11. 76 km/jam dan kecepatan tertinggi adalah 13. 35 Km/jam pada pukul 07. 00 Ae 08. 00 WIT dan memiliki JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN waktu tempuh rata-rata yaitu 10. Tingkat pelayanan jalan Jenderal Sudirman Ae Jl. Kesatrian dan Jl. Rijali - Jl. Mutira memiliki tingkat pelayanan jalan yaitu D (Renda. dengan nilai 0. 75 Ae 0. Hambatan samping merupakan salah satu faktor yang membuat tingginya perilaku lalu lintas berupa derajat kejenuhan Jl. Jenderal sudirman Ae Jl. Kesatrian. memiliki hambatan samping tertinggi pada pada jam puncak 17. 00 Ae 18. 00 WIT dengan 4 . angat tingg. Faktor yang sangat mempengaruhi kinerja operasional simpang tak bersinyal Batu Merah Mardika Kota Ambon yaitu tingginya hambatan samping, banyaknya pergerakan atau titik konflik, volume arus lalu lintas yang tinggi. 2 Saran Saat dilakukan penelitian perlu memperhatikan kondisi dan situasi pada ruas atau simpang jalan yang hendak dilakukan penelitian, seperti jaringan jalan,tata guna lahan,tipe ruas maupun simpang serta Penelitian hendaknya dilakukan dalam rentang waktu seminggu pada hari Senin,Rabu dan Sabtu. Sebelum penelitian dilakukan diharapkan menyiapkan tenaga surveyor,alat tulis,alat rekam hingga alat pencacah saat penelitian dilakukan. Penelitian dilakukan 12 jam sehari mulai dari pukul 00 - 18. Untuk setiap arah atau pergerakan diwajibkan menggunakan satu surveyor untuk satu jenis kendaraan berlaku untuk jalan utama . sedangkan untuk jalan minor diperbolehkan 2 surveyor untuk 3 jenis kendaraan. Untuk hambatan samping diperbolehkan 2 surveyor . erlaku hamya untuk jalan kecil atau loron. sedangkan untuk jalan utama . diwajibkan 4 surveyor untuk hambatan samping dan untuk jalan minor diperbolehkan 2 surveyor. Survei kecepatan hanya untuk kendaraan ringan dan diperbolehkan jarak <50 Ambon. Jurnal Simetrik, 14. , 796-805. Manual Kapasitas Jalan Indonesi ( MKJI ),1997. Jakarta :Direktorat Jenderal Bina Marga. Departemen Pekerjaan Umum RI. Martin. , & Martin. Traffic system analysis for engineers and planners. McGraw Hill. Maruapey. Maitimu. , & Kumbangsila. Analisa Kinerja Lalu Lintas Akibat Pembangunan Underpass di Jalan Jenderal Sudirman Kota Ambon. Koloni, 3. , 106-115. Morlok. , & Hainim. Pengantar teknik dan perencanaan transportasi. (No Titl. Ogden. and Bennet D. Traffic Engineering Practice (Third Editio. New Jersey : Prentice-Hall Tamin. , & Frazila. Penerapan Konsep Interaksi Tata Guna Lahan-Sistem Transportasi Dalam Perencanaan Sistem Jaringan Transportasi. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kata, 8. , 11-18. Wahyuni. , & Ramantoko. Persepsi Kebijakan Publik Terhadap Penerapan Perubahan Arus Lalu Lintas Dalam Menyelesaikan Kemacetan Di Kota Bandung Menggunakan Metode Association Rules. eProceedings of Management, 7. DAFTAR PUSTAKA