CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Dengan Metode Debat Chilwaddiniz Zahrah1. Winarno 2. Rima Vien Permata Hartanto3 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Email: chilwazahrah_08@student. id A, winarnoarmoatmojo@staff. id A, rimavien@staff. id A Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division dengan debat mampu meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas XI TKJ 2 SMK Gondang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta Subjek penelitian adalah siswa kelas XI TKJ 2 SMK Gondang yang berjumlah 31 siswa. Sumber data diperoleh berdasarkan hasil tes dan observasi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, tes dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan trianggulasi dan metode. Analisis data menggunakan teknik analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan aspek hasil belajar pada siklus I nilai rata-rata sebesar 70,71 dengan presentase siswa tuntas 58,06% dan tidak tuntas 41,94%. Kemudian meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 86,84 dengan presentase siswa tuntas 93,55% dan tidak tuntas 6,45. Pada aspek keaktifan siswa prasiklus didapatkan persentase ketuntasan 62,5%, pada siklus I persentase mengalami peningkatan menjadi 77,5% dan pada siklus II persentase ketuntasan menjadi 100%. Proses pembelajaran pada prasiklus bersifat teacher-centered dengan model pembelajaran ceramah sehingga menunjukkan keaktifan dan hasil belajar siswa Kesimpulannya penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan metode debat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran PPKn siswa kelas XI TKJ 2 SMK Gondang. Kata Kunci : hasil belajar, keaktifan siswa, student teams achievement division (STAD), debat Abstract This study aims to find out whether through the Student Teams Achievement Division learning model with debate can increase student learning outcomes and activeness of class XI TKJ 2 SMK Gondang. The type of research used is Classroom Action Research which consists of 2 cycles. Each cycle consists of planning, implementing actions, observation and evaluation, and reflection. The research subjects were students of class XI TKJ 2 SMK Gondang, totaling 31 Sources of data obtained based on the results of tests and observations. Data collection techniques using the method of observation, testing and Test the validity of the data using triangulation and methods. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Data analysis using comparative analysis techniques. The results showed that in the first cycle, the average score was 70. 71 with the percentage of students 06% and not completing 41. Then it increased in cycle II with an average value of 86. 84 with a percentage of students completing 93. 55% and not completing 6. In the pre-cycle student activity aspect, the percentage of completeness was 62. 5%, in the first cycle the percentage increased to 77. 5% and in the second cycle the percentage of completeness was 100%. The learning process in pre-cycle is teacher-centered with a lecture learning model so that it shows activeness and low student learning outcomes. In conclusion, the application of the Student Teams Achievement Division (STAD) learning model with the debate method improves learning outcomes and student activity in learning PPKn class XI TKJ 2 SMK Gondang Keywords : Learning outcomes, student activity. Student Teams Achievement Division (STAD), debate Pendahuluan Pendidikan merupakan usaha manusia dalam mengembangkan pengetahuan dengan belajar untuk melangsungkan hidup dan membina kepribadian manusia baik rohani maupun jasmani. Mengembangkan pengetahuan dan potensi peserta didik merupakan bentuk pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat . yang berbunyi Aupemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undangAy. Peraturan tersebut menyerukan peningkatan kualitas pendidikan akan berdampak pada meningkatnya kualitas lulusan yang berkompeten sedangkan peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat melalui mutu pendidikan yang terdapat pada suatu sekolah. Pendidikan diselenggarakan dengan upaya memberdayakan semua komponen yang ada di masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan guna tercapainya tujuan pendidikan Pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah dilaksanakan menurut kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah yang telah disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar. Kurikulum di Indonesia sendiri telah mengalami beberapa perubahan mulai dari satuan pendidikan dasar hingga satuan pendidikan menengah dari KTSP 2006 berubah menjadi Kurikulum 2013 yang berlaku mulai tahun 2013/2014 secara bertahap pada segala jenjang Pendidikan Dasar sampai Menengah. Menurut Hendrat Soetopo dan Wasty Soemanto . menyatakan bahwa suatu kurikulum disebut mengalami perubahan apabila terdapat perbedaan dari satu atau lebih komponen kurikulum antara dua periode tertentu dikarenakan usaha yang disengaja. Mengarah pada pendapat Hendrat Soetopo dan Wasty Soemanto tersebut, dapat dipastikan bahwa Kurikulum 2013 adalah perwujudan dari beberapa perubahan dari kurikulum yang sebelumnya JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 digunakan karena sedikit banyak komponen-komponen yang terdapat dalam Kurikulum 2013 berbeda dengan komponen KTSP 2006. Satuan pendidikan dasar menggunakan kurikulum khusus yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013. Beberapa perbedaan KTSP 2006 dengan Kurikulum 2013 dalam Permendikbud 37 Tahun 2018 antara lain: Dalam KTSP 2006 materi disusun untuk memberi pengetahuan untuk siswa sedangkan Kurikulum 2013 materi disusun seimbang dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam KTSP 2006 pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah siswa diberikan materi sedangkan dalam Kurikulum 2013 pendekatan pembelajaran yang digunakan mencakup pengamatan, pertanyaan, dan hasilnya melalui pemanfaatan berbagai macam sumber belajar. Dalam KTSP 2006, penilaian didapatkan melalui ujian dan ulangan sedangkan Kurikulum 2013 penilaian otentik pada kesesuaian aspek kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan berdasarkan portofolio. Dari beberapa perbedaan antara KTSP 2006 dengan Kurikulum 2013 yang telah diuraikan, terlihat perbedaan yang ketara yakni penilaian dalam Kurikulum 2013 yang mengarah tidak hanya pada kompetensi pengetahuan tetapi juga kompetensi sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut membuat pendidik meningkatkan sikap professional seperti mampu untuk memanfaatkan secara bijak kemajuan teknologi informasi dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dengan adanya perubahan kurikulum menjadi Kurikulum 2013 mengharuskan guru untuk beradaptasi terhadap aspek pembelajaran tidak hanya pada aspek pengetahuan tetapi juga pada aspek sikap dan keterampilan. Perlu diketahui peningkatan kualitas proses belajar mengajar berlaku untuk semua guru mata pelajaran, salah satunya guru mata pelajaran PPKn. Realita yang terjadi adalah guru masih belum mampu menguasai keterampilan pedagogik serta kurangnya konsentrasi siswa saat mata pelajaran PPKn berlangsung di kelas. Hal ini dibuktikan dengan partisipasi pasif siswa dalam pembelajaran karena pembelajaran yang diterapkan bersifat satu arah dimana guru menjelaskan materi dan siswa sebagai pihak yang mendengarkan (Teacher Centered Learnin. Beberapa alasan lain faktor penyebab munculnya permasalahan diatas antara lain kurangnya motivasi dan rasa antusias siswa dalam belajar, siswa kurang memperhatikan guru, penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat, sarana dan prasarana yang kurang mendukung, dan media pembelajaran kurang lengkap. Ketercapaian pembelajaran PPKn adalah membentuk siswa menjadi pribadi yang baik, mental yang kuat sesuai dengan nilai-nilai luhur, mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga mampu menghadapi berbagai permasalahan yang akan dihadapi nantinya. Sehingga untuk mencapai keberhasilan tersebut perlu adanya pembelajaran yang mamppu menyelarasakan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan, semua ini merupakan alasan untuk menjadikan guru harus kompeten serta memiliki pengetahuan yang komprehensif dalam mengembangkan pembelajaran efektif dan tepat sasaran guna meningkatkan ketercapaian belajar JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 siswa terutama aspek keterampilan kewarganegaraan agar dapat digunakan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Berdasarkan observasi dan analisis,diketahui hasil pembelajaran PPKn di salah satu sekolah menengah di Pekalongan yakni SMK Gondang masih menunjukkan keterampilan intelektual siswa yang masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai pembelajaran PPKn pada saat Ulangan Akhir Semester 1 tahun ajaran 2021/2022 masih tergolong rendah dalam kelas XI dengan jumlah siswa 31, dimana rata-rata nilai 69,38. Dengan nilai KKM yang diterapkan sekolah adalah 75, sehingga dapat dibuktikan bahwa masih banyak siswa yang belum dapat menuntaskan atau belum melampaui KKM yang ditetapkan. Berdasarkan observasi juga terlihat pembelajaran yang terjadi di kelas dimana siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan terhadap guru mengenai materi yang belum jelas tersampaikan, sehingga aspek pengetahuan di SMK Gondang pun terutama dalam hasil belajar masih terlihat kurang. Berikut tabel perbandingan nilai rata-rata dari 4 mata pelajaran pada Ulangan Akhir Semester 1 No. Mata Pelajaran Nilai Rata Ae rata Bahasa Indonesia 76,12 Bahasa Inggris 70,49 Matematika 71,26 PPKn 69,38 Sumber : Tata Usaha SMK Gondang Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Model pembelajaran STAD dipandang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dibuktikan dengan penelitian yang ditulis oleh Ika Ikhwana . menyatakan bahwa hasil penelitian membuktikan terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif STAD terhadap hasil belajar siswa dan meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar PKN karena siswa merasa suasana belajar mengajar di kelas menjadi lebih menarik sehingga siswa memahami dengan baik apa yang diajarkan oleh guru. Selain itu, terdapat model pembelajaran debat, model pembelajaran debat dipandang mampu meningkatkan kompetensi berpikir kritis, dalam artikel jurnal yang ditulis oleh I Nyoman Gelgel A. menyatakan bahwa siswa lebih mampu untuk menguasai materi dengan menggunakan model Model pembelajaran debat mampu meningkatkan kemampuan intelektual siswa terutama kecakapan siswa dalam menyampaikan pendapat terhadap materi yang diberikan. Dari permasalahan yang sering kita lihat banyaknya siswa yang kurang akan keterlibatan aktif didalam kelas karena model pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam proses belajar mengajar adalah ceramah, sehingga perlu adanya inisiatif guru dalam menerapkan model pembelajaran yang mampu JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 mengasah kemampuan intelektual siswa yang mengutamakan interaksi tidak hanya berfokus pada guru dengan siswa . eacher centered learnin. tetapi juga siswa dengan siswa . tudent centered learnin. Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Kemmis melalui Sugiyono . berpendapat bahwa penelitian tindakan kelas adalah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan itu dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan serta memperbaiki kondisi tempat praktik pembelajaran itu dilakukan. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki kualitas atau mutu dari praktik pembelajaran dan perilaku siswa di kelas. Model PTK sebagian besar terbagi menjadi empat komponen yaitu : . Perencanaan. Pelaksanaan, . pengamatan, dan . Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2022/2023, yaitu pada bulan Juli-Agustus. Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI TKJ 2 SMK Gondang Wonopringgo Pekalongan yang terdiri dari 31 siswa. Objek penelitian adalah intelektual skill dan keaktifan Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode komparatif dimana data yang didapatkan dari hasil belajar dan keaktifan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penelitian tindakan kelas ini adalah observasi, tes dan Hasil dan Pembahasan Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama 2 siklus yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, diperoleh data bahwa intelektual skill dan keaktifan siswa di kelas mengalami peningkatan dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan debat. Peningkatan hasil tes intelektual skill siswa terhadap penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan debat dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 1. Perbandingan Nilai Rata-Rata Intelektual Skill Siswa Menggunakan Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Debat siklus I dan siklus Intelektual skill siswa menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Debat Siklus I Siklus II 70,71 86,84 Baik Sangat Baik Berdasarkan tabel di atas hasil nilai rata-rata intelektual skill menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan debat pada siklus I didapatkan nilai rata-rata 70,71 dengan kategori baik, dan mengalami JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 peningkatan pada siklus II yang mencapai 86,84 dengan kategori sangat baik. Hasil tes intelektual skill meningkat dari siklus I menuju siklus II dengan bentuk persentase sebagai berikut: Tabel 2. Data Hasil Evaluasi Peserta Didik Siklus I dan Siklus II Keterangan Nilai Siklus I Siklus II Jumlah Rata-rata 70,71 86,84 Nilai Tertinggi Tuntas KKM Belum Tuntas KKM 58,06% 93,55% Persentase KKM Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan intelektual skill peserta didik pada mata pelajaran PPKn meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Teams Achievement Division (STAD) dengan debat. Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa peserta didik yang tuntas KKM pada siklus I berjumlah 18 anak dengan persentase 58,06% dan pada siklus II peserta didik yang tuntas KKM meningkat menjadi 29 anak dengan persentase 93,55%. Pencapaian hasil tersebut sudah mencapai indikator keberhasilan karena terdapat peserta didik yang mampu tuntas KKM bertambah dari siklus I ke siklus II. Hasil observasi keaktifan siswa dengan menerapkan model pembelajaran Teams Achievement Division (STAD) dengan metode debat pada siklus I dan siklus II disajikan sebagai berikut: Persentase Tindakan Jumlah Skor Tuntas Pra Siklus 62,5% Belum Tuntas 37,5% Siklus I 77,5% 22,5% Siklus II Hasil observasi yang dilakukan di bulan Juli hingga Agustus 2022 memperoleh bahwa keaktifan siswa yang dilaksanakan pada prasiklus mendapatkan persentase 62,5%, kemudian pada siklus I yang dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2022 mendapatkan persentase 77,5% yang termasuk kategori baik, dan pada saat siklus II yang dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2022 terjadi peningkatan keaktifan siswa menjadi 100% yang termasuk kategori sangat JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Pengaplikasian model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan metode debat dalam pembelajaran PPKn menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan mendorong keaktifan siswa di kelas. Adanya kegiatan diskusi dan tes mendorong siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan mendorong intelektual skill peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pemberian penghargaan pada penerapan model pembelajaran ini juga mampu memotivasi peserta didik untuk lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Dengan menggunakan model pembelajaran yang baru yang melibatkan banyak teman membuat peserta didik lebih aktif, antusias, semangat dan termotivasi untuk berkompetisi secara jujur dalam mengikuti pembelajaran. Temuan ini memperkuat pendapat dari Branson . mengenai kecakapan intelektual yang paling penting dimiliki oleh warga negara adalah kemampuan berpikir kritis terdiri dari kemampuan untuk mengidentifikasi, menggambarkan, menjelaskan, menganalisis, menilai, mengambil dan mempertahankan posisi atas suatu isu agar warga negara mampu mempraktikkan hak-hak nya dan menunaikan kewajibannya. , dalam penelitian ini, dibuktikan bahwa peserta didik mampu menguasai pengetahuan dasar hingga pengetahuan tingkat tinggi dalam mengerjakan suatu pertanyaan atau persoalan yang diberikan serta peserta didik meningkatkan cara berpikir untuk lebih kritis, logis, sistematis, dan jernih dalam menghadapi suatu permasalahan. Berdasarkan hasil kajian yang relevan Ika Ikhwana . dalam penelitiannya yang berjudul AuPengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar PKN pada materi pokok membangun kesadaran berbangsa dan bernegara kesatuan kelas X SMA Swasta AEK NABARA tahun pembelajaran 2015/2016Ay membuktikan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Student Team achievement division (STAD) mampu meningkatkan hasil belajar dan ketertarikan peserta didik dalam belajar PKN. Penelitian ini memperkuat temuan Yulianti . dalam penelitiannya yang berjudul AuPenerapan metode debat pro dan kontra untuk meningkatkan proses pembelajaran PPKnAy bahwa model pembelajaran debat mampu meningkatkan keaktifan peserta didik kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan pendapat hingga menanggapi pertanyaan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan debat mampu meningkatkan Intelektual skills dan keaktifan peserta didik dengan melatih kemampuan berpikir kritis menggunakan beberapa pertanyaan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan peserta didik mampu menganalisis dengan kompleks suatu permasalahan, mengutarakan pendapat dengan logis, terbuka dalam menerima pendapat atau argumentasi dari kelompok lain, mampu mempertanggungjawabkan pendapatnya dan menghargai perbedaan di sekitarnya. Simpulan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan intelektual skill peserta didik dalam keterampilan diskusi melalui model pembelajaran Students Teams Achievement Division (STAD) dengan debat dalam pembelajaran PPKn di kelas JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 XI TKJ 2 SMK Gondang Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Penggunaan model pembelajaran Students Teams Achievement Division (STAD) dengan debat dapat meningkatkan intelektual skill pembelajaran PPKn materi Hak Asasi Manusia dalam perspektif Pancasila di SMK Gondang Wonopringgo Pekalongan. Hal ini ditunjukkan dengan siklus I nilai rata-rata sebesar 70,71 yang kemudian meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 86,84. Presentase siswa yang tuntas pada siklus I sebanyak 58,06% dan yang tidak tuntas sebanyak 41,94%, sedangkan pada siklus II presentase siswa yang tuntas sebanyak 93,55% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 6,45%. Sebagian besar peserta didik pada siklus II mencapai ketuntasan KKM sehingga penelitian ini dinyatakan berhasil. Penggunaan model pembelajaran Students Teams Achievement Division (STAD) dengan debat dapat meningkatkan keaktifan peserta didik pembelajaran PPKn materi Hak Asasi Manusia dalam perspektif Pancasila di SMK Gondang Wonopringgo Pekalongan. Pada pra siklus didapatkan persentase ketuntasan 62,5%, pada siklus I persentase mengalami peningkatan menjadi 77,5% dan pada siklus II persentase ketuntasan menjadi 100%. Dibuktikan dengan pembelajaran lebih mengarah kepada peserta didik . tudent centere. sehingga lebih menyenangkan karena terjalin kerjasama yang erat antara peserta didik dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Peserta didik lebih antusias dan lebih aktif mengikuti pembelajaran baik mendengarkan penjelasan, mencatat hal penting, bertanya maupun menanggapi pertanyaan serta bertukar informasi. Referensi