PENYULUHAN KESEHATAN PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI PADA REMAJA PUTRI STIKES PELITA ILMU DEPOK 2022 Putri Wijaya 1*. Romaulina Sipayung2 1,2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu Depok e-mail : putriwijaya787@gmail. Romacyng@yahoo. *Penulis Korespondensi:E-mail : putriwijaya787@gmail. Abstract Based on Basic Health Research (Riskesda. data in 2018, the prevalence of tumors or cancer in Indonesia is 1. per 1000 population, the incidence of breast cancer is 40 per 100,000 women while cervical cancer is 17 per 100,000 women. One of the right efforts in making early detection of abnormalities in the breast, especially breast cancer, is to do breast self-examination (BSE). The method used in this community service activity is a community health education method. The purpose of this service activity is to provide health education about BSE to young women at STIKES Pelita Ilmu Depok so that female students are able to self-detect signs of breast cancer, as many as 88 female students become respondents , while the sampling technique used is total sampling. Data analysis used paired samples t test and independent t-test. The results showed that the average knowledge of adolescents before health counseling in the experimental group was 14. 48 and the control was 15. 32, after health counseling in the experimental group was 20. 25 and the control was 15. 73, the statistical test results obtained a pvalue of 0. 000 The results of this counseling show that there is an influence from health education on young women's knowledge about breast self-examination (BSE), the importance of providing health education about breast self-examination to increase knowledge about breast self-examination in adolescents. Based on the results of counseling conducted about breast self-examination (BSE) at STIKES Pelita Ilmu Depok, it was concluded that the level of knowledge of adolescents about BSE before being given education was in the very poor category. The level of knowledge of adolescents after being given BSE counseling is in the good category. Keywords: Adolescents. BSE. Breast Cancer Abstrak Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk, insidens kanker payudara sebesar 40 per 100. perempuan sedangkan kanker leher rahim 17 per 100. 000 perempuan. Salah satu upaya yang tepat dalam melakukan pendeteksian secara dini terhadap kelainan - kelainan pada payudara terutama kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode pendidikan kesehatan masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk memberikan edukasi kesehatan tentang SADARI kepada remaja putri di STIKES Pelita Ilmu Depok agar mahasiswi mampu mendeteksi secara diri tanda Ae tanda kanker payudara, sebanyak 88 mahasiswi menjadi responden dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Analisis data menggunakan uji paired sampel t test dan independen t-test. Hasil didapatkan rata-rata pengetahuan remaja sebelum penyuluhan kesehatan pada kelompok eksperimen 14,48 dan kontrol 15,32, sesudah penyuluhan kesehatan pada kelompok eksperimen 20,25 dan kontrol 15,73, hasil uji statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,000. Dari hasil penyuluhan ini menunjukkan bahwa ada pengaruh dari penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan remaja putri tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pentingnya memberikan edukasi kesehatan tentang payudara sendiri untuk meningkatkan pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri pada remaja. Berdasarkan hasil penyuluhan yang dilakukan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di STIKES Pelita Ilmu Depok disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang SADARI sebelum diberikan edukasi ada pada kategori sangat kurang. Tingkat pengetahuan Remaja setelah diberikan penyuluhan SADARI ada pada kategori baik. Kata Kunci : Kanker Payudara. Remaja. SADARI PENDAHULUAN Remaja adalah individu yang berusia antara 11-21 tahun, ditandai oleh perubahan pada penampilan fisik dan fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual dan masa dimana individu mengalami perubahanperubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral di antara masa kanak - kanak menuju masa dewasa (Kusmiran, 2. Pada era globalisasi ini remaja Indonesia sedang mengalami perubahan sosial yang cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang juga mengubah norma-norma, nilainilai, dan gaya hidup Hal tersebut mengakibatkan kerentanan remaja terhadap berbagai macam penyakit (Agustiani, 2. Banyak risiko gangguan kesehatan yang mampu menyerang remaja saat ini, namun perubahan gaya hidup, norma-norma dan nilai-nilai akan sangat berpengaruh pada kesehatanreproduksi seorang remaja (Marmi, 2. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang menyerang organ payudara, dimana sel dalam payudara membelah dan tumbuh diluar kendali. Kanker ini merupakan salah alah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh masyarakat, khususnya wanita. Wanita beresiko besar terkena kanker payudara, akan tetapi tidak menghilangkan kemungkinan bahwa pria juga dapat terserang kanker payudara. Faktor penyebab kanker payudara diduga karena perubahan gaya hidup seperti kebiasaan makan makanan cepat saji, seringnya terapar radiasi dari media elektronik dan perubahan kondisi lingkungan (YKPJ 2. Cancer Reasearch UK di inggris, menyatakan bahwa setiap tahun, lebih dari 330. 000 orang di Negara tersebut di diagnose mengidap kanker. Dari angka tersebut, 30% adalah penderita kanker payudara, 12% penderitakanker paruparu, 11% penderita usus dan anus, dan di susul dengan 5% penderita kanker rahim. Sementara di singapura. Breas Cancer Fondation Singapore memberikan data bahwa 1 dari 16 wanita di diagnose mengidap kanker payudara (Savitri, 2. Penyebab lain tingginya angka kejadian kanker payudara ini adalah karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang kanker payudraa, rasa takut akan operasi, rasa malas dan malu memperlihatkan payudara, dan tidak tahu cara deteksi dini dan cara penanggulangannya (Yayasan Kanker Indonesia 2. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan salah satu langkah deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker payudara yang akan lebih efektif jika dilakukan sedini mungkin ketika wanita mencapai usia reproduksi. Pemeriksaan SADARI dilakukan setiap bulan atau setiap tiga bulan sekali untuk dapat mendeteksi secara dini jika terdapat kelainan dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. (Suryaningsih, 2. Pemeriksaan payudara sendiri merupakan tehnik yang sederhana dan baik untuk deteksi dini kanker payudara, meskipun SADARI tidak mahal, tidak menimbulkan rasa nyeri, tidak berbahaya dan nyaman, namun hanya sekitar dua pertiga wanita yang mempraktikan sekurang-kurangnya sekali setahun dan hanya sepertiga mempraktikan tiap-tiap bulan, dan wanita yang melakukan dengan benar. Hal ini disebabkan karena minimnya informasi dan kurangnya pengetahuan tentang SADARI. (Tjindarbumi 2. Salah satu upaya yang tepat dalam melakukan pendeteksian secara dini terhadap kelainankelainan pada payudara terutama kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pencegahan ini menjadi intervensi deteksi dini yang paling memungkinkan dan memiliki banyak keuntungan diantaranya mudah dan praktis. Jika SADARI ini dapat dilakukan secara rutin dan berkala, maka kanker payudara dapat terdeteksi secara dini sehingga memperoleh penanganan lebih lanjut secara cepat dan tepat. Namun pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) belum mendapat perhatian yang lebih di Indonesia bahkan pengetahuan, motivasi, dan sikap wanita tentang praktik pemeriksaan payudara sendiri ini masih sangatlah rendah (Nugraheni, 2. Salah satu upaya dalam memperkenalkan serta meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan adalah melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungan nya dengan kesehatan. Tingkat keilmuan dan pemahaman seseorang akan meningkat setelah diberikan intervensi Pendidikan Kesehatan (Rahmadini and Yusnia 2. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka perlu menggunakan metode dan media penyuluhan yang tepat sesuai sasaran penyuluhan. Salah satu media penyuluhan adalah video ,media video adalah salah satu bentuk media audio visual (Aeni. Nurul &Diyah, 2. Media audio visual adalah media yang mengkombinasikan audio dan visual atau penggabungan media pandangdan media dengar. Sehingga semakin banyaknya panca indera yang digunakan, semakin kuat dan jelas pula pengetahuan dan informasi yang diperoleh karena salah satu indikator keberhasilan penyuluhan adalah terjadinya penambahan atau peningkatkan pengetahuan yang mendukung terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Aeni. Nurul &Diyah, 2. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode pendidikan kesehatan masyarakat yaitu dengan memberikan penyuluhan mengenai materi pemeriksaan payudara sendiri dengan baik dan benar. Tujuan dilaksanakannya penyuluhan ini agar dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang SADARI. Penyuluhan ini menggunakan praeksperimen, dimana penyuluhan ini dengan melakukan pre test dan post test tujuannya untuk mengetahui pengetahuan Remaja di STIKES Pelita Ilmu Depok. Penyuluhan ini dilakukan dalam dua hari pada tanggal 1617 Januari 2023, dimana sampel dalam penyuluhan ini berjumlah 88 orang. Teknik sampling pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel (Notoatmodjo, 2. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh Mahasiswi STIKES Pelita Ilmu Depok pada bulan Januari 2023 yang berjumlah 88 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di STIKES Pelita Ilmu Depok Tahun 2023 Usia Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol 17 tahun 18 tahun 19 tahun Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan usia responden, dari 44 responden pada kelompok eksperimen terdapat 44 responden . ,1%) yang berusia 17 tahun, sebanyak 44 responden . ,1%) berusia 18 tahun dan sebanyak 14 responden . ,8%) berusia 19 tahun. Sedangkan pada kelompok control dari 44 responden terdapat 15 responden . ,1%) yang berusia 17 tahun, sebanyak 14 responden . ,1%) berusia 18 tahun dan sebanyak 15 responden . ,8%) berusia 19 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Kesehatan di STIKES Pelita Ilmu Depok Tahun 2023 Kesehatan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Sehat Sakit Total Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 44 responden . %) pada kelompok eksperimen dan 44 responden . %) pada kelompok control dalam keadaan sehat. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Kesehatan di STIKES Pelita Ilmu Depok 2023 Kelompok Kelompok Eksperimen Kontrol Max Mean N Min Max Mean N Min Pre-Test 14,48 2,529 15,32 2,979 Post-Test 20,25 2,273 15,73 2,936 Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa dari 44 responden pada kelompok eksperimen yang diberikan pretest dan posttest diperoleh hasil untuk pretest dengan nilai paling rendah sebesar 9, nilai paling besar 21, nilai rata-rata 14,48 dan standar deviasi 1,529. Hasil posttest diperoleh nilai paling rendah 14, nilai paling tinggi 24, nilai rata-rata 20,25 dan standar deviasi 2,273. Sedangkan dari 44 responden pada kelompok kontrol yang diberikan pretest dan posttest diperoleh hasil untuk pretest dengan nilai paling rendah sebesar 10, nilai paling besar 22, nilai rata-rata 15,32 dan standar deviasi 2,979. Hasil posttest diperoleh nilai paling rendah 11, nilai paling tinggi 23, nilai rata-rata 15,73 dan standar deviasi 2,936. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Hasil Tes Pengetahuan Pre-Tes Post-Tes Kelompok Eksperimen p-value 0,200 0,117 Kelompok Kontrol p-value 0,094 0,066 Dari tabel 4 diketahui nilai signifikansi (Sig. ) untuk semua data > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal, sehingga uji analisis data yang digunakan adalah uji parametrik yaitu uji Paired T-test dan Independen T-test dengan hasil analisis sebagai Tabel 5. Perbedaan Skor Pengetahuan pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah diberikan Penyuluhan Kesehatan Kelompok Eksperimen Kontrol Post-Test Pre-Test Mean Std. Dev Mean 14,48 15,32 2,529 2,979 20,25 15,73 Std. Dev 2,273 2,936 Sig. 13,704 3,215 0,000 0,002 Berdasarkan tabel 1. diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil tes pengetahuan responden untuk pre-test kelompok eksperimen dan post-test kelompok eksperimen. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai p-value sebesar 0,002 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil tes pengetahuan responden untuk pre-test dan post-test. Dari hasil penyuluhan terdapat pengaruh yang signifikan penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan remaja putri tentang pemeriksaan payudara sendiri pada mahasiswi remaja putri di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu Depok. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) merupakan suatu pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan sendiri oleh para wanita. Dengan tujuan mengenali perubahan secara dini terhadap perubahan yang terjadi pada payudara. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sebaiknya dilaksanakan sejak dini terutama pada usia Dimana American Cancer Society (ACS) menganjurkan bahwa SADARI dilakukan pada wanita usia 20 tahun, yaitu dimana dilakukan pada hari ke 7 atau hari ke 10 setelah selesai haid. Namun saat ini, penyakit kanker payudara juga dapat terjadi pada usia lebih muda. Sehingga di usia remaja yaitu kisaran usia 13-20 tahun juga perlu melakukan SADARI dengan tujuan pencegahan atau deteksi sejak dini (Lubis, 2. Menurut Kusumadmo . pengetahuan merupakan penggunaan informasi dan data secara penuh yang dilengkapi dengan potensi ketrampilan, kompetensi, ide, intuisi, komitmen, dan motivasi orang-orang yang terlibat. Pandangan holistic menganggap pengetahuan terdapat di dalam berbagai ide, keputusan, talenta, akar penyebab, hubungan, perspektif, dan konsep. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode . iubah dalam bentuk kod. di dalam proses, dokumen, produk, fasilitas, dan system organisasi. Pengetahuan adalah tindakan, inovasi terfokus, keahlian, keahlian yang dikumpulkan menjadi satu, hubungan, dan aliansi Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek . mmediate impac. sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan (Ramli, 2. Menurut Wawan dan Dewi . suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan baru dan semakin banyak mendapatkan informasi maka pengetahuan semakin luas. Kanker payudara sebagai tumor maligna yang berasal dari sel-sel payudara. Terdapat 5 stadium dalam kanker payudara, mulai dari stadium 0 . n sit. hingga stadium 4 . etastasis jau. Kanker payudara in situ adalah sel kanker yang menetap pada pada membrane basal dari komponen atau elemen unit duktus lobular dan duktus keluaran. Kanker payudara infasif dapat didefinisikan sebagai diseminasi sel-sel kanker yang berada diluar membrane basal dari duktus dan lobus payudara sampai sekitar jaringan yang berdekatan (Bloome, 2. Kanker payudara biasanya terdeteksi melalui skrining, sebelum gejala berkembang, atau setelah adanya benjolan. Sebagian besar massa terlihat pada mammogram dan kebanyakan benjolan payudara berubah menjadi jinak. Artinya, mereka tidak bersifat kanker, tidak tumbuh tak terkendali atau menyebar, dan tidak mengancam jiwa. Ketika dicurigai adanya kanker, analisis mikroskopik jaringan payudara diperlukan untuk diagnosis definitif dan untuk menentukan tingkat penyebaran . n situ atau invasi. dan mengkarakterisasi jenis penyakitnya. Jaringan untuk analisis mikroskopik dapat diperoleh melalui biopsi jarum atau bedah. Pemilihan jenis biopsi didasarkan pada faktor klinis pasien individual, ketersediaan perangkat biopsi, dan sumber daya tertentu (American Cancer Society, 2. Mendeteksi kanker payudara secara dini bukan merupakan kebetulan, melainkan tanggung jawab dari para wanita sendiri. Wanita harus mengetahui keadaan normal payudara sehingga dapat menyadari adanya perubahan pada payudaranya. Sedangkan bagi pihak medis, menemukan kanker secara dini membutuhkan upaya terpadu dan berkesinambungan untuk skrining dan deteksi dini kanker payudara. Deteksi dini dan peningkatan kewaspadaan disertai pengobatan yang sesuai pada kasus kanker payudara dipercaya dapat menurunkan jumlah kematian karena kanker payudara, tingginya kasus kanker payudara yang disebabkan minimnya informasi dan rendahnya kesadaran wanita Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker ini. Kemampuan dan perilaku deteksi dini sebaiknya dimulai sejak masa remaja, dimana remaja adalah komunitas dengan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga memberikan informasi sejak usia remaja sangat dibutuhkan. Untuk itu remaja putri harus diberikan informasi tentang SADARI sebagai suatu metode pemeriksaan payudara yang efektif untuk menemukan tumor sedini mungkin serta diharapkan adanya peran tenaga kesehatan maupun pengurus Klinik Pesantren untuk memberikan penyuluhan/pendidikan kesehatan secara berkesinambungan dan menindaklanjuti pemahaman materi yang diterima oleh remaja. Upaya SADARI ini sangat penting sebab apabila kanker dapat dideteksi pada stadium dini dan diobati dengan tepat maka tingkat kesembuhannya cukup tinggi, yaitu mencapai 90% (Julaecha. , 2. Penyuluhan tentang deteksi dini kanker payudara sebagai bagian dari promosi kesehatan sebagai upaya untuk meningkatakan kesehatan. Pemeriksaan SADARI sebaiknya dilakukan secara berkala setiap bulan agar benjolan dapat ditemukan pada stadium dini dan dapat dilakukan tindakan yang tepat apabila ditemukan benjolan maupun keluhan lainnya pada payudara (Julaecha. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penyuluhan yang dilakukan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di STIKES Pelita Ilmu Depok disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang SADARI sebelum diberikan edukasi ada pada kategori sangat kurang. Tingkat pengetahuan Remaja setelah diberikan penyuluhan SADARI ada pada kategori baik. Dalam kegiatan penyuluhan di STIKES Pelita Ilmu Depok perlu dilakukan upaya sosialisasi secara berkala mengenai SADARI, dengan harapan dapat membentuk pola pikir remaja dalam mendeteksi kejadian kanker payudara. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada STIKES Pelita Ilmu Depok atas dukungan material guna pelaksanaan penyuluhan edukasi tentang SADARI pada Remaja. Ucapan terimakasih ini penulis sampaikan juga kepada Mahasiswi STIKES Pelita Ilmu Depok yang telah bersedia menjadi responden dalam penyuluhan ini. DAFTAR PUSTAKA