Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Implementasi Etika Deep Ecology Dalam Perspektif Filsafat Hindu Di Desa Medahan Dan Desa Keramas Ayu Veronika Somawati Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia ayuvero90@gmail. Abstract Water holds a highly significant position in the lives of Hindus, not only as a basic necessity but also as an essential element in religious and social activities. However, over time, the quality and quantity of water in Bali have degraded, including in the villages of Medahan and Keramas in Blahbatuh Subdistrict. Gianyar Regency. This research aims to rediscover the values of deep ecology ethics in the efforts to preserve the water sources in these two villages to ensure that the water sources remain sustainable and can be passed down to future generations. This research uses observation, interviews and documentation studies to collect data, as well as qualitative descriptive methods to present research results. Based on research results, it was found that Medahan and Keramas villages have numerous water sources that are socially and spiritually The community preserves them through the construction of sacred sites, the instilling of beliefs about the importance of water sources, the installation of warning signs, and communal efforts to clean the water sources. These water conservation actions, practiced and passed down by the community, are closely linked to the principles of deep ecology ethics, which urge humans to respect nature and recognize the rights of nature as equal to human rights. This ethic asserts that all living beings possess intrinsic value and are deserving of moral consideration. The implementation of deep ecology ethics emphasizes love and reverence for nature, akin to love for God. This research shows that the preservation of water sources in Medahan and Keramas is not only an ecological action but also a spiritual expression that reflects harmony between humans, nature, and God. Keywords: Preservation. Water Sources. Deep Ecology Ethics Abstrak Air memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan umat Hindu, tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai elemen penting dalam aktivitas keagamaan dan sosial. Namun seiring waktu, kualitas dan kuantitas air di Bali mengalami degradasi, salah satunya di Desa Medahan dan Desa Keramas di Kecamatan Blahbatuh. Kabupaten Gianyar. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kembali nilai etika deep ecology dalam upaya pelestarian sumber mata air yang ada di kedua desa agar sumber mata air yang ada menjadi lestari serta dapat diwariskan kepada generasi yang akan Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dalam mengumpulkan data, serta metode deskriptif kualitatif untuk penyajian hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa di Desa Medahan dan Desa Keramas memiliki banyak sumber mata air yang penting secara sosial dan spiritual. Masyarakat melestarikannya melalui pendirian tempat suci, penanaman keyakinan tentang pentingnya sumber mata air, pemasangan tanda peringatan, dan gotong royong membersihkan sumber mata air. Tindakan pelestarian sumber mata air yang dilakukan dan diwariskan oleh masyarakat ini berkaitan erat dengan prinsip etika deep ecology, yang mendorong manusia untuk menghormati alam dan mengakui hak-hak alam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH setara dengan hak-hak manusia. Etika ini menegaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki nilai intrinsik dan layak mendapatkan perhatian moral. Implementasi etika deep ecology menekankan cinta dan penghormatan terhadap alam, sama seperti cinta kepada Tuhan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelestarian sumber mata air di Desa Medahan dan Desa Keramas bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga merupakan ekspresi spiritual yang mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Kata Kunci: Pelestarian. Sumber Mata Air. Etika Deep Ecology Pendahuluan Hindu dalam ajarannya selalu menekankan pada harmonisasi hubungan dengan seluruh aspek alam semesta dan lingkungan dimana manusia itu hidup. Hal ini dikarenakan Hindu menyadari bahwa kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam bukan hanya karena manusia membutuhkan alam untuk menyokong hidupnya, melainkan juga karena melalui nilai-nilai filsafatnya seluruh umat Hindu memahami bahwa alam merupakan manifestasi dari Hyang Widhi Wasa itu sendiri. Pernyataan ini selaras dengan pandangan dari Suja dan Murti yang menyatakan bahwa manusia perlu memahami bahwa realitas jagat raya . huwana agun. serta seluruh ciptaan dan lingkungan hidup sebagai realitas tubuh Brahman yang biasa dilabel sebagai prakriti (Suja & Murti, 2. Salah satu aspek alam yang sangat dihormati oleh umat Hindu adalah air. Hal ini dikarenakan air merupakan kebutuhan pokok hidup manusia. Selain itu, air juga berkaitan erat dengan aktivitas keagamaan dan aktifitas social. Hal ini sejalan dengan yang dituliskan oleh Wright yang menyatakan bahwa water is not only a life-giving natural element, it is also a concept that has long fascinated social scientists and sparked some conceptual debate. Holy water features heavily in many religious rituals around the world and Balinese Hinduism is no exception. AuThinking through waterAy is a way for anthropologists to conduct environmental studies that help understand how humans relate to their environment. This and similar approaches have contributed to research on the use of natural resources and social relationships around these (Wright, 2. Posisi air khususnya di Bali juga berkaitan dengan nilai-nilai kosmologi dan Hobart dalam Wright menjelaskan bahwa water is not only featured in many religious, life-cycle and cleansing rituals, the flow of water is also understood in a natural The Aubalancing oppositesAy of pure/impure, up/down, mountain/sea are considered important to the understanding of Balinese cosmology and ecology (Wright. Hal ini menggambarkan begitu strategisnya peran air dalam kehidupan masyarakat Bali, sehingga menjadi kewajiban bersama untuk menjaga serta memuliakan air beserta segala sumbernya. Peradaban Bali sendiri juga tidak bisa dilepaskan dengan air. Sejarah peradaban Bali adalah sejarah peradaban air. Pusat-pusat kebudayaan Bali sejak masa silam selalu berdekatan dengan sumber air. Bahkan, air telah menjadi nama dari keyakinan manusia Bali sebelum dikenal sebagai Hindu Bali. Agama manusia Bali yang berporos pada air itu disebut Agama Tirtha atau agama air suci. Dalam praktiknya, manusia Bali memandang air sebagai medium penyucian yang mampu melarung segala macam kekotoran, hingga sebagai medium penyembuhan sakala-niskala (Ariana. Suyasa, & Prawira, 2. Mengingat pentingnya posisi air dalam kehidupan manusia, sudah menjadi suatu keniscayaan bagi manusia untuk menjaga air beserta segala sumbernya. Namun dalam perjalanannya, tanpa disadari terjadi degradasi lingkungan termasuk kualitas dan kuantitas air Bali. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari beberapa penelitian, salah satunya yang mengungkapkan tentang buruknya kualitas air di Tukad Badung (Nur. Haribowo, & https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Prayogo, 2. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa dari hasil pemeriksaan bakteriologis pada air di Danau Beratan, ditemukan adanya coliform dan coliform tinja. Konsentrasi pencemaran berpusat pada air danau yang berada dekat dengan aktivitas manusia, yaitu titik barat danau yang merupakan sumber aktivitas manusia (Riyadh. Wesnawa, & Citra, 2. Selain itu. Presiden Joko Widodo di dalam welcome message pada kegiatan 10th World Water Forum yang akan dilaksanakan pada 18-25 Mei 2024 di Bali menyampaikan bahwa keberlanjutan sumber daya air telah menjadi isu mendesak bagi dunia. Kebutuhan air global meningkat tajam, sejalan dengan pertumbuhan populasi dan industri. Sementara itu, ketersediaan air yang berkualitas dan berkelanjutan semakin sulit akibat degradasi lingkungan dan perubahan iklim. Hal inilah yang harus menjadi perhatian bersama untuk mencegah krisis air global kedepannya. Apabila dikaji lebih lanjut, factor lain yang menyebabkan kondisi air Bali yang semakin menurun tersebut selain karena pemanfaatan air di Bali yang setiap tahunnya cenderung akan meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, juga karena tidak diindahkannya praktek kearifan local yang telah dilakukan oleh masyarakat sejak Oleh karena itu menjadi penting bagi masyarakat untuk menggali kembali nilainilai agama serta praktek kearifan local yang berkaitan dengan lingkungan yang telah dilakukan oleh tetua-tetua terdahulu agar lingkungan menjadi lestari dan terjaga. Desa Medahan dan Desa Keramas yang ada di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar merupakan desa yang memiliki banyak sumber mata air karena posisi desa yang tidak dapat dipisahkan dengan adanya Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan yang melewati wilayah ini. Bagus di dalam penelitiannya menjelaskan bahwa DAS Pakerisan di Kabupaten Gianyar merupakan salah satu sungai di Bali yang bermuara ke laut, mempunyai sumber mata air yang cukup banyak, bukan saja debitnya tergolong tinggi, akan tetapi merupakan satu-satunya DAS yang memiliki nilai historis. Nama sungai Pakerisan telah dikenal sejak jaman Bali Kuna, dan hal ini dapat diketahui melalui dua buah prasasti yang diterbitkan pada abad XI oleh Raja Marakata. Adapun prasasti itu adalah Prasasti Batuan yang berangka tahun 944 Saka . 2 M) dan prasasti Tengkulak A yang berangka tahun 945 Saka . 3 M) (Bagus, 2. Eksistensi Desa Medahan dan Desa Keramas yang dilalui oleh DAS Pakerisan sehingga disebut dengan daerah DAS Pakerisan Hilir ini memang tidak populer apabila dibandingkan dengan daerah DAS Pakerisan Hulu yang memiliki banyak tinggalan arkeologi seperti Pura Tirtha Empul. Candi Yeh Mangening. Candi Tebing Gunung Kawi. Candi Tebing Kerobokan. Candi Pengukur-Ukuran serta Candi Tebing Tegallinggah. Meskipun demikian, di Desa Medahan dan Desa Keramas ini memiliki banyak sumber mata air sebagai imbas dari dilaluinya desa tersebut oleh DAS Pakerisan, dimana diantara banyaknya sumber mata air tersebut terdapat 10 sumber mata air dan 1 muara yang sangat diyakini dan berkaitan erat dengan kehidupan spiritual warga desa. Seperti kondisi air Bali pada umumnya, keberadaan sumber air suci di kedua desa ini juga memiliki permasalahannya tersendiri. Penelitian dari Wiasta. Susrama serta Astuti menyatakan bahwa daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan yang membentang sepanjang 43,5 km, dari hulu yang berada di Kabupaten Bangli, hingga ke bagian hilir di Kabupaten Gianyar. Kondisi faktual DAS Pakerisan sangat memprihatinkan karena: . kualitas air yang mengalir sepanjang DAS Pakerisan sangat mencemaskan, dibagian hulu terkategori kualitas air kelas tiga dan di bagian hilir kelas empat, sebagai akibat dipakai lokasi pembuangan sampah dan limbah. perubahan tata guna lahan, yaitu beralihnya penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan untuk pembangunan vila dan tempat tinggal sehingga berkurangnya areal resapan air yang akhirnya menyulut erosi. lemahnya penegakan hukum, karena tidak ada sanksi bagi masyarakat yang membuang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH limbah ternak atau sampah ke sungai, masyarakat masih bebas membuang sampah rumah tangganya ke sungai, dan masyarakat serta pengembang masih bebas mendirikan bangunan . elakukan alih fungsi lahan pertania. (Wiasta. Susrama, & Astuti, 2. Kondisi perubahan tata guna lahan sendiri diakibatkan bangunan-bangunan yang didirikan di kawasan tebing dan sempadan sungai merupakan tindakan perusakan lingkungan, akibatnya resapan air menjadi berkurang sehingga tidak bisa dihindari banjir akan mengancam keberadaan penduduk di kawasan hilir (Sudaryati & Adnyana, 2. Ini juga yang dialami oleh Desa Medahan serta Desa Keramas serta sumber air yang ada di kedua desa tersebut. Sebagai sumber air suci masyarakat setempat, tentu masyarakat terus melakukan upaya-upaya untuk melestarikan sumber mata air dan muara tersebut, dimana usaha pelestarian tersebut berkaitan erat dengan agama serta kepercayaan masyarakat local Setelah ditelisik lebih jauh, upaya pelestarian sumber mata air yang dilakukan oleh masyarakat ternyata berkaitan erat dengan etika deep ecology. Deep ecology atau dikenal juga dengan ekosofi Naess menekankan sentimentalitas, manusia sesungguhnya satu dengan alam. Alasannya, ia butuh alam tidak saja sebagai rumah, tetapi juga sumber Alam merupakan inspirasi menggerakkan perasaannya. Bagi Naess, manusia bergantung tidak saja secara fisikal kepada alam, tetapi juga jiwanya (Dewi, 2. Hubungan manusia dan lingkungan tidak hanya dilihat dari perspektif fisik, tetapi juga Gagasan mengenai bagaimana hubungan lingkungan dengan manusia dalam perspektif metafisik ini lebih dikenal dengan Audeep ecologyAy. Deep ecology merujuk kepada upaya-upaya untuk menegaskan kembali dan memberikan rasa sensitif masyarakat terhadap kebutuhan lingkungan. Konsep ini juga berkaitan dengan naturalisme yang berperan mengevaluasi kembali status alam baik melalui nilai-nilai otonomnya maupun alam sebagai milik Tuhan (Irawan, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa etika deep ecology merupakan aliran etika lingkungan yang mengajak manusia untuk memperlakukan alam dengan hormat serta menghargai hak-hak alam yang sama dengan hak-hak manusia. Semua makhluk hidup dan kehidupan di alam semesta berharga dalam diri mereka sendiri dan oleh karena itu pantas mendapat perhatian dan perhatian moral. Apabila dikaji dalam ajaran agama Hindu, etika deep ecology sejalan dengan nilainilai filsafat Hindu yang menekakan pada harmonisasi hubungan manusia. Hubungan tersebut tidak hanya berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia, tetapi juga antara manusia dengan alam semesta. Upaya pelestarian sumber mata air yang dilakukan oleh masyarakat Desa Medahan dan Desa Keramas pada dasarnya merupakan implementasi dari etika deep ecology dan filsafat Hindu. Namun kenyataannya di lapangan, tetap terjadi penurunan kualitas dan kuantitas air pada sumber mata air yang tentu harus menjadi perhatian bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kembali nilai etika deep ecology dan mengingatkan manusia khususnya masyarakat yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas untuk selalu mengimplementasikan nilai-nilai etika tersebut dalam kehidupannya sehari-hari agar sumber mata air yang ada bisa tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Metode Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer yaitu hasil observasi dan wawancara dengan narasumber, sedangkan data sekunder berupa pustaka atau literatur yang berkaitan dengan hal tersebut. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah teknik snowball. Metode pengumpulan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH data penelitian ini meliputi beberapa cara yaitu observasi atau pengumpulan data langsung di Desa Medahan dan Desa Keramas, wawancara serta studi dokumentasi. Setelah data penelitian terkumpul, data dianalisis dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Hasil analisis penelitian kemudian disajikan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang secara sistematis dilakukan dalam bentuk narasi, uraian dengan suatu argumentasi. Hasil dan Pembahasan Sumber Mata Air di Desa Medahan dan Desa Keramas Mata air merupakan sumber air tanah yang mengalir dan keluar dari akuifer atau belahan batu menuju permukaan tanah yang menjadi sumber air bersih yang dapat digunakan untuk keperluan makhluk hidup. Dengan variasi debit yang sangat besar dapat diduga bahwa penggunaan air mata air inipun sangat bervariasi. Apalagi kalau dilihat dari aspek kualitasnya, mata air dapat mempunyai kadar zat kimia yang sangat tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengobatan. Di sisi lain juga banyak mata air yang mempunyai kualitas yang sangat baik, sehingga banyak dimanfaatkan untuk air minum atau bahan baku air minum (Nurdin. Yusman, & Saudi, 2. Sebagai wilayah yang menjadi bagian dari aliran DAS Pakerisan, tentu saja Desa Medahan dan Desa Keramas memiliki banyak sekali sumber mata air. Selain itu, faktor yang mempengaruhi banyaknya sumber mata air di kedua desa tersebut termuat dalam kutipan hasil wawancara dengan I Nyoman Arcana, penggiat Babad Desa Medahan dan Desa Keramas yang menyatakan sebagai berikut: Salah satu tahap perkembangan kehidupan di DAS Pakerisan Teben atau hilir berkaitan dengan perjalanan Gusti Agung Maruti Karo . dari Jimbaran ke wilayah Masceti. Untuk menjamin serta mempermudah kehidupan pengiring Beliau serta masyarakat yang sudah ada sebelumnya di wilayah tersebut, maka dibendunglah aliran Sungai Pakerisan yang melewati daerah tersebut yang kemudian airnya dapat digunakan untuk mengairi sawah-sawah masyarakat. Setelah berhasil membendung aliran Sungai Pakerisan di wilayah, sisa aliran air sungai yang dibendung dan dibelokkan menyebabkan lembah-lembah di DAS Pakerisan di wilayah ini membentuk sumber-sumber mata air baru. Sumber mata air baru ini seperti Tibalesung. Mumbul serta Pakerisan (Wawancara, 24 Mei Kutipan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa munculnya beberapa sumber mata air baru di lembah-lembah Desa Medahan dan Desa Keramas saat ini juga berkaitan dengan sejarah wilayah tersebut. Aliran Sungai Pakerisan yang melewati wilayah kedua desa dibendung dan dibelokkan sehingga sisa-sisa rembesan air membentuk sumber-sumber mata air baru, selain sumber-sumber mata air yang memang sudah ada sebelumnya di wilayah tersebut. Wilayah Desa Medahan dan Desa Keramas memang memiliki banyak sekali sumber mata air. Walaupun demikian, ada 10 sumber mata air serta 1 muara yang oleh masyarakat disebut dengan tirtha solas, toya solas atau suan solas yang eksis di kedua desa tersebut. Seperti yang termuat di dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut dengan Made Sardula selaku Bendesa Medahan sebagai berikut: Di Desa Medahan dan Desa Keramas, terdapat banyak sekali sumber mata air. Bahkan ada juga yang berada di tanah pribadi warga. Tetapi yang terkenal dan berada di dalam satu aliran atau jalur adalah tirtha solas (Wawancara, 30 Juni https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sumber-sumber mata air dan muara itu antara lain Tibalesung. Mumbul. Pakerisan. Ancak. Suranadi. Sumadi. Naga Konci. Yeh Gelung. Selukat. Sudamala serta muaranya adalah Campuhan. Meskipun bukan berupa sumber mata air. Campuhan tidak dapat dipisahkan dari 10 mata air sebelumnya karena merupakan muara atau pertemuan antara air dari sepuluh sumber mata air dengan air laut. Selain digunakan sebagai sumber air sehari-hari warga, keberadaan 10 sumber mata air serta 1 muara atau tirtha solas juga berkaitan dengan kehidupan spiritual warga masyarakat seperti menjadi tempat sembahyang, airnya yang digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan, tempat untuk membersihkan diri baik . dan lain-lain. Untuk memahami keberadaan dari 10 sumber mata air serta 1 muara ini, berikut dijabarkan lebih rinci satu-persatu. Tibalesung Tibalesung menjadi sumber mata air pertama yang dibahas, mengingat posisinya yang berada paling utara . aling hul. apabila dibandingkan dengan sumber mata air Sumber mata air Tibalesung telah dilindungi dengan pendirian bangunan suci atau pura yang diberi nama Pura Tibalesung sesuai dengan nama sumber mata airnya. Memasuki uttama mandala pura, terdapat sumber mata air yang sudah ditata dengan sangat baik dalam bentuk sumur kecil. Apabila ada warga yang berniat untuk nunas . air suci Tibalesung untuk kepentingan upacara keagamaan maupun untuk membersihkan diri . , sudah disediakan ember yang dilengkap dengan tali untuk mengambil airnya. Pujawali di Pura Tibalesung ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali yakni pada Budha Cemeng Klawu yakni hari pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana atau Dewi Laksmi yang dalam kepercayaan Hindu diyakini sebagai manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai pemberi kemakmuran dan kesejahteraan. Mengingat posisi sumber mata air Tibalesung serta keberadaan Pura Tibalesung yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Desa Keramas dan Desa Medahan, maka sudah menjadi tanggungjawab semua pihak untuk menjaga kelestariannya. Mumbul Mata air selanjutnya yang merupakan bagian dari tirtha solas yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas adalah mata air Mumbul. Untuk menuju ke sumber mata air Mumbul, warga hanya perlu berjalan kaki ke arah selatan dari sumber mata air Tibalesung. Selain dimanfaatkan sebagai sarana ritual keagamaan, air dari sumber mata air ini juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih seharihari yang dikerjasamakan dengan pemerintah desa. Air dari sumber mata air ini ditarik dan dialirkan ke rumah-rumah warga melalui pipa sehingga masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan untuk memanfaatkan air dari sumber mata air ini. Pakerisan Sumber mata air selanjutnya yaitu sumber mata air Pakerisan. Apabila dilihat dari penamaannya, sumber mata air inilah yang mengadopsi nama daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi sumber aliran utamanya. Sumber mata air Pakerisan sendiri terletak di bagian uttama mandala Pura Patirtan Pakerisan, sehingga sumber mata air utamanya tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkannya untuk upacara Air dari sumber mata air ini kemudian dialirkan dari wilayah uttama mandala pura ke madya mandala pura agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar melalui pancoran-pancoran kecil. Purnami di dalam hasil penelitiannya menjelaskan bahwa mata air Pakerisan yang terletak di antara wilayah Desa Medahan dan Desa Keramas, 95% masyarakat dari kedua desa memanfaatkan sumber mata air ini untuk dikonsumsi. Masyarakat yang menggunakan atau memanfaatkan mata air ini tidak memasaknya terlebih dahulu sebelum https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dikonsumsi. Masyarakat juga menjelaskan, mereka meyakini adanya kepercayaan dari zaman dahulu, ketika masyarakat memanfaatkan sumber mata air Pakerisan kondisi tubuh mereka tetap sehat meskipun tanpa pengolahan terlebih dahulu (Purnami, 2. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan sumber air Pakerisan berkaitan erat tidak hanya dengan kehidupan spiritual masyarakat di kedua desa, tetapi juga sangat berkaitan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat desa yang telah dilakukan secara turun temurun. Ancak Berjalan kearah selatan dari sumber mata air Pakerisan, terdapat sumber mata air yang dikenal dengan nama Ancak. Jarak antara sumber mata air Pakerisan dengan sumber mata air Ancak hanya sekitar 20 meter dengan posisi saling berseberangan jalan. Sumber mata air ini tampak masih sangat alami, belum dipugar dengan penambahan tembok yang mengelilingi sumber mata air maupun dilengkapi dengan pancoran atau pipa untuk mengalirkan air. Sumber mata air Ancak ini dipergunakan untuk kebutuhan upacara keagamaan Air sungai yang mengalir disebelahnya yang biasanya digunakan oleh masyarakat untuk mandi maupun mencuci. Apabila ditelisik kembali, air sungai yang mengalir ini bersumber pula dari sumber-sumber mata air sebelumnya. Oleh karena itu, dengan menjaga keberadaan sumber-sumber mata air tersebut, masyarakat juga ikut menjaga keberadaan sungai yang mengaliri desa untuk kebutuhan masyarakat itu sendiri. Suranadi Melisik sumber mata air selanjutnya yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas, yaitu sumber mata air Suranadi. Sumber mata air Suranadi sendiri terletak di bagian madya mandala pura. Sumber mata air ini telah ditata dengan sangat apik serta dilengkapi arca-arca yang menambah keindahan dan kesakralan sumber mata air, seperti arca paksi garuda dan arca Dewa Ganesha. Apabila dilihat dengan lebih teliti ke dalam kolam lokasi sumber mata air, air suci Suranadi sudah dialirkan dengan menggunakan pipa namun posisi pipanya tidak akan langsung terlihat oleh masyarakat karena posisinya yang berada di tengah kolam. Sepanjang penelitian dilakukan, memang belum ditemukan tulisan-tulisan mengenai sebagian besar sumber-sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas. Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar ini. Namun apabila dilihat secara langsung, sumber-sumber mata air ini, termasuk sumber mata air Suranadi sangat indah untuk dikunjungi serta menarik untuk diteliti sebagai bahan introspeksi masyarakat setempat maupun umat Hindu secara umum untuk selalu melindungi serta melestarikan sumber-sumber mata air yang ada. Sumadi Sumber mata air selanjutnya yang eksis di Desa Medahan dan Desa Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar adalah sumber mata air Sumadi. Sumber mata air Sumadi terdapat di Pura Patirtaan Taman Sumadi. Sumber mata air telah dialirkan sehingga membentuk seperti pancoran kecil. Dan lebih uniknya lagi, pancoran air tersebut dibuat keluar dari mulut patung berbentuk angsa sehingga menambah kesan estetis dari sumber mata air ini. Sama seperti mata air lainnya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas, sumber mata air Sumadi pun harus dilestarikan bersama agar kebutuhan masyarakat baik kebutuhan spiritual maupun kebutuhan air sehari-harinya tetap dapat terpenuhi dengan baik. Naga Konci Sumber mata air yang berada di wilayah Desa Keramas dan baru saja ditata ulang adalah sumber mata air Naga Konci. Akses untuk mencapai sumber mata air ini sudah sangat baik sehingga memudahkan masyarakat yang ingin menuju kesana. Memasuki areal sumber mata air Naga Konci ini, masyarakat akan menjumpai Patirthan Naga yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menjadi sumber mata air utama disini. Seperti namanya, penanda Patirthan Naga berupa patung naga yang membuat kesan patirthan ini menjadi sangat estetik. Sumber mata air Naga Konci merupakan patirthan Ida Bhatara Puseh dan berada di wilayah pelaba pura. Ini menunjukkan bahwa sumber mata air Naga Konci berada dalam kepemilikan Desa Keramas. Sumber mata air yang sudah ditata dengan indah ini hendaknya semakin menumbuhkan kesadaran bersama akan penting posisinya sumber mata air Naga Konci dalam kehidupan keagamaan masyarakat desa. Kesadaran ini juga idealnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjaga kebersihan serta kelestarian sumber mata air sehingga tetap lestari dan bisa dinikmati pula oleh generasi yang akan datang. Yeh Gelung Bergeser kearah selatan dari sumber mata air Naga Konci, akan ditemukan sumber mata air selanjutnya yaitu sumber mata air Magelung yang dikenal juga oleh masyarakat dengan nama Yeh Gelung atau Toya Gelung. Sumber mata air Magelung ini sudah dilindungi dengan didirikannya bangunan suci atau pura. Tepat di areal uttaman mandala pura inilah terdapat sumber mata air utama yang disucikan oleh masyarakat. Sumber mata air ini diyakini sebagai patirthan dari Ida Bhatara Dalem Sakti. Sumber mata air Magelung sudah ditata dengan dibuatkan pembatas beton sehingga kebersihan air suci tetap terjaga. Seperti sumber mata air lainnya yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat baik itu dari segi spiritual maupun konsumsi, menjadi kewajiban bersama untuk selalu melindungi dan menjaga sumber mata air yang ada agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Ini juga merupakan bentuk kesadaran masyarakat akan tanggung jawabnya sebagai pengguna sumber daya alam. Selukat Sumber mata air selanjutnya yang berada di wilayah Desa Keramas adalah Selukat. Di sumber mata air ini telah berdiri pura yang diyakini serta disucikan tidak hanya oleh warga Desa Keramas dan Medahan saja, tetapi juga warga Bali secara umum. Selukat (Sluka. berasal dari kata Sulukat . u = baik. dan lukat = penyucia. Pura Selukat adalah sebuah pura yang berfungsi sebagai tempat penyucian sekala . dan niskala . Dalam kenyataannya, memang di Pura Selukat terdapat sumber air suci dengan debit airnya yang cukup besar, yang biasa dikunjungi oleh umat Hindu untuk tujuan penyucian . baik lahir maupun batin (Raka, 2. Pura Selukat berada di areal persawahan Subak Tuas. Desa Keramas dengan luas areal sekitar 8 are. Untuk bagian madya mandala dari Pura Selukat sendiri terdapat sebuah gedong yang merupakan tempat sumber mata air Selukat. Gedong sendiri dibangun dengan tujuan untuk melindungi sumber mata air dari kemungkinan kerusakan baik sengaja maupun tidak disengaja. Eksistensi mata air Selukat sendiri ternyata dapat ditemui di dalam teks keagamaan, antara lain Raja Purana Ida I Gusti Agung Maruti serta Purana Pura Masceti. sudah menjadi tangung jawab bersama untuk memelihara serta melestarikan sumber mata air Selukat. Dengan terpeliharanya sumber mata air ini, jejak perjalanan sejarah Desa Keramas dapat terjaga pula dengan baik. Selain itu, dengan terpeliharanya sumber mata air Selukat yang diyakini sebagai tirtha yang berfungsi untuk penyucian, maka terpelihara dan terjaga pula tatanan spiritualitas masyarakat khususnya yang ada di Desa Keramas dan Desa Medahan. Sudamala Tepat di seberang Pura Selukat, terdapat sumber mata air yang disebut dengan sumber mata air Sudamala. Wilayah sumber mata air Sudamala ini sudah dilengkapi dengan bangunan suci sebagai tempat warga untuk menghaturkan sesajen sebelum nunas atau mengambil air suci untuk kebutuhan upacara keagamaan. Untuk di sekeliling sumber https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mata airnya sendiri, didirikan tembok pembatas sehingga sumber mata air Sudamala terlihar seperti sebuah kolam. Pembatasan sumber mata air dengan tembok tersebut dilakukan karena sumber mata air yang tergolong kecil dan rawan tidak terlihat sehingga dikhawatirkan jika tidak diberi pembatas pelindung, sumber mata air akan mengalami kerusakan dan hilang. Sumber mata air Sudamala merupakan sumber mata air utama ke sepuluh yang diyakini oleh masyarakat Desa Medahan maupun Desa Keramas. Campuhan Akhir dari perjalanan pencarian sumber mata air suci yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar ini adalah Campuhan, yang dikenal dengan nama suan solas. Lokasi ini merupakan pertemuan antara air sungai yang mengalir dari sumber mata air Tibalesung. Mumbul. Pakerisan. Ancak. Suranadi. Sumadi. Naga Konci. Yeh Gelung. Selukat dan Sudamala dengan air laut yang ada di sebelah selatan wilayah Desa Medahan dan Desa Keramas. Karena menjadi muara atau pertemuan antara air sungai dengan air laut, lokasi ini disebut dengan campuhan dalam Bahasa Bali yang berarti percampuran. Muara Campuhan menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sepuluh sumber mata air sebelumnya. Selain karena muara ini menjadi akhir perjalanan air sungai yang ada di sekitar sumber mata air, muara ini juga merupakan pelengkap dari sepuluh sumber mata air sebelumnya ketika akan digunakan untuk kebutuhan keagamaan. Dengan menjaga kebersihan, memelihara serta melestarikan sumber mata air yang ada, air yang masuk ke laut melalui Campuhan ini adalah air yang bersih dan terjaga juga. Sehingga antara sumber mata air, air sungai, muara serta laut ini menadi satu kesatuan system yang saling mempengaruhi satu sama lain. Upaya Pelestarian Sumber Mata Air yang Dilakukan Oleh Masyarakat Sekitar Berkaitan dengan keberadaan sumber mata air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat desa, tentu saja dilakukan upaya-upaya untuk melestarikannya. Adapun upaya pelestarian yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Medahan dan Desa Keramas adalah sebagai berikut: Pendirian Tempat Suci di Lokasi Sumber Mata Air Apabila dikaji lebih lanjut, ternyata pendirian pura ini berkaitan erat dengan usaha pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam. Pemilihan lokasi seperti gunung, danau, campuhan, sungai, pantai, laut, sumber mata air selain karena di tempat-tempat tersebut para bijaksana memperoleh pikiran yang jernih, tetapi juga melalui pendirian pura di tempat-tempat tersebut membuat manusia akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Geria menyatakan bahwa masyarakat Bali Kuna menyelamatkan sumber air dengan lingkungannya dengan kearifan lokal yang masyarakat tersebut miliki, dengan membuat kolam suci dan airnya dipergunakan tirtha . ir suc. yang dipergunakan dalam upacara panca yajya. Dengan cara ini masyarakat tidak akan berani merusak lingkungan yang ada dan akan dikenakan sanksi adat. Fungsi tebing berperan dalam proses infiltrasi, air permukaan yang masuk ke daerah tebing akan terjadi proses penyaringan air dari partikel . edimen, bakteri atau unsur organisme lainny. sehingga air tersebut menjadi jernih bahkan di beberapa tempat bisa langsung dikonsumsi dengan aman, tanpa memerlukan perlakuan lebih lanjut (Geria, 2. Hal tersebut dipertegas pula dengan kutipan dari Sudaryati dan Adnyana yang menyatakan bahwa pembuatan petirthaan, candi, candi tebing, ceruk pertapaan pada dasarnya mempunyai makna pelestarian sumber air, agar kawasan tersebut disucikan dan terlindungi dari eksploitasi. Masyarakat Bali Kuna benarbenar memposisikan sungai dengan airnya yang mengalir sebagai ratna permata bumi yang bernilai luhur (Sudaryati & Adnyana, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan kutipan hasil penelitian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa pendirian bangunan suci atau pura di kawasan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas pada dasarnya juga merupakan suatu usaha pelestarian sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut. Seperti yang termuat di dalam kutipan hasil wawancara dengan Perbekel Keramas. I Gusti Putu Sarjana sebagai berikut: Tujuan didirikannya bangunan suci di kawasan sumber mata air adalah selain agar ketika orang-orang ingin melukat misalnya, ada tempat untuk menghaturkan Biasanya juga, asal ada bangunan suci, orang pasti tidak berani untuk berbuat ngawag . acam-maca. di tempat tersebut (Wawancara, 2 Juli 2. Kutipan hasil wawancara mengafirmasi pandangan bahwa pendirian pura di lokasi strategis alam yang dalam hal ini adalah sumber mata air menjadikan kawasan tersebut disucikan oleh warga sehingga meminimalisir kemungkinan perusakan sumber daya alam oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Melalui pendirian pura, contohnya di sumber mata air Pakerisan, walaupun setiap harinya selalu dipenuhi oleh warga yang datang untuk mengambil air, lokasi tersebut tampak selalu terjaga kebersihannya dari sampahsampah anorganik. Yang tampak hanyalah sampah-sampah organic berupa dedaunan yang gugur dari pepohonan sekitar. Walaupun memang kesadaran akan kebersihan harus ditumbuhkan dimanapun seseorang berada, namun melalui keberadaan pura membuat masyarakat semakin mengingat kewajibannya untuk menjaga kebersihan. Perilaku masyarakat yang senantiasa menjaga pura serta sumber mata air yang ada di dalamnya dapat dimaknai sebagai usaha konservasi air itu sendiri. Penanaman Kepercayaan Mengenai Sumber Mata Air Pelestarian lingkungan tidak terlepas dari munculnya berbagai mitos ataupun kepercayaan yang tumbuh di tengah masyarakat. Misalnya, kepercayaan terhadap adanya AupenungguAy atau dewa yang ber-stana di pohon besar, sehingga masyarakat tidak berani untuk mengotori dan menebang pohon secara sembarangan. Perlakuan terhadap pohon besar sangat menarik untuk diamati, misalnya dengan pemberian kain berwarna putihkuning atau putih-hitam . Hal itu secara tidak langsung dapat melindungi keanekaragaman hayati (Nastiti, et al. , 2. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa mitos maupun kepercayaan pada dasarnya berkaitan erat dengan usaha pelestarian Hal ini berkaitan pula dengan kepercayaan akan keberadaan sumber mata air di Desa Medahan dan Desa Keramas. Apabila dikaji lebih lanjut, penanaman kepercayaan akan keberadaan sumber-sumber mata air di desa tersebut merupakan bentuk pelestarian sumber mata air yang ada. Salah satu contoh usaha untuk menanamkan kepercayaan akan keberadaan sumber mata air yaitu mata air Magelung, dimana masyarakat percaya bahwa patirthan tersebut merupakan patirthan dari Ida Bhatara Dalem Sakti. Oleh karena itu, lokasi dimana tirtha itu diperoleh harus dijaga dengan baik. Begitupula misalnya dengan adanya kepercayaan bahwa sumber mata air Naga Konci yang disebut dengan Patirthan Naga yang diyakini merupakan patirthan atau tempat penyucian dari Ida Bhatara Puseh, sehingga dengan adanya kepercayaan ini maka lokasi Patirthan Naga selalu dijaga oleh masyarakat yang meyakininya. Kepercayaan mengenai keberadaan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas menjadi penting untuk dilestarikan dan ditanamkan kepada generasi-generasi selanjutnya sehingga masyarakat memiliki rasa bertanggungjawab atas keberadaan sumber air suci tersebut. Pemasangan Tanda Peringatan Bentuk pelestarian sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas selanjutnya adalah dengan pemasangan tanda peringatan. Hal ini dilakukan tentu saja untuk mengingatkan masyarakat akan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai pihak yang memanfaatkan sumber daya yang ada. Tanda peringatan telah dipasangkan di https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH beberapa titik lokasi. Titik lokasi yang pertama adalah di sumber mata air Pakerisan, seperti yang tampak pada dokumentasi hasil penelitian sebagai berikut: Gambar 1. Tanda Peringatan di Sumber Mata Air Pakerisan Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Titik lokasi selanjutnya yang telah dipasangi tanda peringatan yaitu berada di pinggir jalan masuk menuju sumber mata air Sumadi. Seperti yang tampak pada dokumentasi hasil penelitian sebagai berikut: Gambar 2. Tanda Peringatan di Sumber Mata Air Sumadi Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Titik lokasi terakhir yang telah dipasangi tanda peringatan yaitu berada di sumbet mata air Selukat. Seperti yang tampak pada dokumentasi hasil penelitian sebagai berikut: Gambar 3. Tanda Peringatan di Sumber Mata Air Selukat Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Apabila dicermati bersama, tanda larangan baik yang ada di sumber mata air Pakerisan. Sumadi maupun di Selukat memuat inti informasi yang sama, yakni siapapun yang datang kesana agar menjaga kebersihan lingkungan sumber mata air baik secara sekala . erkenaan dengan kebersiha. maupun niskala . erkenaan dengan kesucia. Secara sekala, menjaga lokasi sumber mata air dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mandi atau menggunakan sabun dan sampo di areal https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pancoran, tidak membawa makanan maupun minuman serta tidak merusak fasilitas yang Hal ini dilakukan agar kebersihan lokasi sumber mata air tetap terjaga. Sedangkan secara niskala, menjaga lokasi sumber mata air dilakukan dengan berpakaian dengan baik dan sopan, tidak berkata kasar serta tidak mengijinkan perempuan haid untuk memasuki area pancoran. Penjelasannya dijabarkan sebagai berikut: Berpakaian yang baik dan sopan ke sumber mata air yakni dengan menggunakan kamen . serta selendang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan manusia terhadap areal yang disucikan serta untuk membedakan antara areal sacral dan areal profan. Tidak berkata kasar merupakan bentuk usaha untuk menjaga kesucian sumber mata air, yang harus diimbangi juga dengan tidak berpikir serta berbuat yang tidak Hal ini dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian dari Masaru Emoto yang ditulis dalam buku berjudul The Hidden Messages in Water, molekul air sangat sensitif terhadap energi, baik itu yang berasal dari suara, tulisan bahkan Oleh karena itu, agar molekul air tetap terjaga dengan baik, maka siapapun yang berada di lokasi sumber mata air agar selalu menjaga pikiran, perkataan maupun perbuatannya. Tidak mengijinkan perempuan haid untuk memasuki area pancoran juga merupakan bentuk usaha masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber mata air. Nastiti et al dalam penelitiannya menjelaskan bahwa perempuan yang sedang datang bulan tidak diperbolehkan memasuki area mata air karena dianggap sedang berada dalam keadaan AukotorAy atau cuntaka (Nastiti, et al. , 2. , sehingga perempuan dalam keadaan cuntaka agar tidak memasuki areal suci sumber mata Berdasarkan hal tersebut, untuk melestarikan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas dilakukan dengan menjaga kebersihan serta kesuciannya, baik secara sekala maupun niskala. Dan agar setiap orang yang hendak ke lokasi sumber mata air mengingat hal tersebut, dilakukan melalui pemasangan tanda peringatan. Diharapkan selain melalui keberadaan tanda peringatan, agar setiap masyarakat dengan penuh kesadaran mengingat dan melaksanakan kewajiban pelestarian sumber mata air Gotong Royong Masyarakat Membersihkan Sumber Mata Air Permasalahan lingkungan pada dasarnya sangat berkaitan dengan populasi manusia, sebab meningkatnya kepadatan penduduk akan meningkatkan pula kebutuhan pangan, bahan bakar, permukiman dan kebutuhan dasar lainnya. Hal tersebut pada gilirannya akan meningkatkan limbah domestic dan limbah industry yang mengakibatkan perubahan besar pada kualitas lingkungan hidup, terutama di negara yang sedang berkembang (Adnyana & Suarna, 2. Karena permasalahan lingkungan berkaitan erat dengan manusia, maka sudah seharusnya manusia juga bertanggungjawab akan kelestarian lingkungan dan alam dimana dia hidup. Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk melestarikan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas adalah dengan cara gotong royong membersihkan lokasi sumber mata air. Jika diperhatikan secara seksama, tidak semua sumber mata air bisa diakses dengan mudah. Namun, lokasi dimana sumber mata air tersebut berada, dalam kondisi yang bersih dan tertata. Seperti yang tampak pada dokumentasi hasil penelitian sebagai berikut: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 4. Lokasi Tibalesung yang Sangat Bersih Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Setelah ditelusuri lebih lanjut, kebersihan dan kerapian sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas khususnya yang ada Tibalesung dan Mumbul tidak dapat dipisahkan dari peran serta masyarakat. Secara sukarela dan bergotong royong, masyarakat melakukan pembersihan pada lokasi-lokasi sumber mata air. Seperti yang termuat di dalam kutipan hasil wawancara dengan salah satu warga. I Made Lunga sebagai berikut: Pembersihan di lokasi mata air biasanya dilakukan oleh orang yang senang dan mau secara sukarela membersihkan kawasan sumber tirtha tersebut seperti membersihkan badan jalannya, karena wilayah tersebut jarang diakses kecuali orang-orang yang memang ingin nunas tirtha (Wawancara, 1 Juli 2. Kutipan hasil wawancara di atas sejalan dengan kutipan hasil wawancara dengan Bendesa Medahan. Made Sardula sebagai berikut: Di luar wilayah sumber mata air Pakerisan dan Selukat, untuk smber-sumber mata air lainnya, pengelolaan kebersihannya diprakarsai dan dilakukan oleh pribadipribadi secara sukarela dan ikhlas (Wawancara, 30 Juni 2. Berdasarkan kutipan hasil wawancara di atas, dapat dipahami bahwa gotong royong membersihkan sumber mata air dilakukan secara sukarela oleh masyarakat yang memang ingin melakukannya. Tidak ada instruksi maupun paksaan dari desa maupun pihak-pihak lainnya. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, masyarakat telah memiliki kesadaran untuk menjaga lokasi sumber mata air yang selama ini mereka manfaatkan untuk kehidupan. Hal ini tentu saja harus dipertahankan dan ditingkatkan agar kedepannya sumber-sumber mata air tersebut bisa lestari. Berbagai upaya pelestarian yang dilakukan untuk melestarikan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas tentu juga memiliki tantangannya Seperti yang termut di dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut: Perubahan kondisi sumber mata air pasti ada. Misalnya karena areal penyangganya yang pepohonannya ditebang, tanahnya yang dikeruk sehingga daerah resapan airnya menjadi berkurang. Debit airnya . i masing-masing sumber mata ai. masih ada tetapi tidak seperti dulu (Wawancara, 2 Juli 2. Selain penurunan debit air yang mulai dirasakan, hasil penelitian menunjukkan adanya pencemaran sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas. Purnami di dalam hasil penelitiannya menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas mikrobiologi untuk E. Coli didapatkan hasil 26 per 100 ml sampel, sedangkan untuk Coliform didapatkan hasil yaitu 63 per 100 ml sampel. Dari hasil pemeriksaan yang didapatkan sumber mata air Pakerisan tidak memenuhi syarat secara kualitas Untuk hasil kualitas fisik sumber mata air Pakerisan memenuhi syarat Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Persyaratan Kualitas Air Minum. Dan faktor risiko pencemar sumber mata air Pakerisan yaitu termasuk kategori berisiko dengan skor 6 berisiko adanya pencemaran. hal ini sendiri dikarenakan kondisi disekitar sumber mata air kurang baik, karena terdapat sumber pengotoran yaitu sampah . rganik dan anorgani. seperti dedauan, bunga yang sudah kering, bekas canang yang selesai dihaturkan. Sampah tersebut dibawa oleh masyarakat yang berkunjung ke mata air ini, sehingga terdapat tumpukan sampah (Purnami, 2. Ini perlu menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat setempat untuk selalu menjaga kebersihan areal sekitar sumber air suci mengingat belum adanya aturan yang jelas mengenai usaha pelestarian sumber mata air karena posisi beberapa sumber mata air yang berada di tanah pribadi warga. Semua usaha pelestarian benar-benar didasarkan pada kepercayaan serta kesadaran warga masyarakat Oleh karena itu, pemerintah sudah seharusnya mulai turun tangan untuk berdialog dengan masyarakat pemilik tanah dimana beberapa sumber mata air berada sehingga kedepannya kondisi sumber mata air dapat terjaga dan terpelihara dengan baik dengan dibuatkannya aturan yang jelas maupun proyek komunitas Upaya Pelestarian Sumber Mata Air sebagai Implementasi Etika Deep Ecology Tahun 1973, seorang filsuf Norwegia. Arne Naess, menciptakan istilah Deep Ecology. Deep ecology adalah teori lingkungan dan filsafat alam yang paling populer pada jaman sekarang. Ekosentrisme deep ecology ini adalah teori lingkungan radikal dan holistic yang membawa pikiran, perasaan, spiritualitas dan tindakan bersama-sama dalam menanggulangi bencana eko-krisis. Dewi di dalam bukunya menjelaskan bahwa Naess mengkritisi bagaimana pemikiran modern terjebak pada dikotomi kaku antara manusia dengan alam. Layaknya pandangan Cartesian memilah antara res cogitans dengan res extensa, begitu juga antara tubuh dengan pikiran dipisahkan dalam memahami realitas. Pemilahan itu menyebabkan pikiran manusia diskriminatif ketika melihat bumi sebagai sesuatu yang lain, hal di luar diri manusia. Tidak hanya itu. Naess juga ingin mengatasi problem pemisahan antara akal dengan emosi. Manusia diunggulkan kemampuan Akan tetapi, kemampuan itu dengan sederhana mereduksi alam sebagai sesuatu yang factual semata. Bagi Naess, pemilahan palsu itu harus dibongkar (Dewi, 2. Hal tersebut tertuang pula dalam kutipan berikut AuEcosophy ties together all life and all To have a homeAy. Auto belongAy. Auto liveAy and many other similar expressions suggest fundamental milieu factors involved in the shaping of an individual's sense of self and self-respect. the identity of the individual. Authat i am somethingAy, is developed through interaction with a broad manifold, organic and inorganic. there is no completely isolatable I, no isolatable social unit (Naes, 2. Upaya pelestarian sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas yang didasarkan pada nilai spiritual umat Hindu akan eksistensi air dan sumber mata air, apabila dilakukan secara maksimal akan membentuk kesadaran spiritual umat Hindu bahwa semua yang ada di alam semesta merupakan bagian dari-Nya yang memiliki kedudukan yang sama. Oleh karena memiliki kedudukan yang sama, sudah sepantasnya manusia mencintai alam lingkungannya. Hal ini sejalan dengan teori etika ekosentrisme deep ecology dari Naess yang menganggap alam patut dicintai seperti halnya manusia mencintai Tuhan. Dijelaskan. Aumanusia bukan entitas di luar Tuhan, melainkan esensi dan kealamiahan dirinya merupakan bagian dari Tuhan. Manusia merupakan partisipan dari proses kreatif, bagian dari natura naturans (Dewi, 2. Berdasarkan hal tersebut menurut etika ekosentrisme, mencintai alam hendaknya seperti manusia mencintai Tuhannya. Hal ini yang kemudian oleh masyarakat diimplementasikan melalui pemujaan serta usaha-usaha pelestarian sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesadaran untuk menjaga serta memelihara kelestarian alam khususnya sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas pada dasarnya merupakan pengejawantahan dari etika ekosentrisme deep ecology pada prinsip nonantroposentrisme, yaitu manusia merupakan bagian dari alam, bukan di atas atau terpisah dari alam. Manusia tidak dilihat sebagai tuan dan penguasa dari alam semesta, tetapi sama statusnya sebagai ciptaan Tuhan. Ini suatu pandangan filosifis yang mengacu pada pemikiran metafisik dari Baruch Spinoza bahwa manusia adalah bagian dari alam dan tidak mempunyai kedudukan istimewa di dalam alam. Deep ecology memandang manusia hanya salah satu spesies di tengah begitu banyak spesies lain. Semua spesies ini mempunyai nilai yang sama (Keraf, 2. Upaya pelestarian sumber mata air di Desa Medahan dan Desa Keramas dapat dipandang sebagai implementasi konkret dari etika deep ecology, yang menekankan kesetaraan ekosentrisme dan pentingnya setiap komponen ekosistem, termasuk manusia, untuk menjaga keseimbangan alam. Dalam konteks ini, pelestarian sumber mata air tidak hanya dilihat sebagai upaya konservasi lingkungan, tetapi juga sebagai tindakan etis yang menegaskan hubungan simbiosis antara manusia dan alam. Etika deep ecology menolak pandangan antroposentris yang memandang alam hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Sebaliknya, pelestarian sumber mata air di kedua desa tersebut menekankan bahwa manusia harus menghormati dan melindungi alam sebagai bagian integral dari keberlangsungan hidup semua Tindakan ini mengakui bahwa keberlanjutan ekosistem lokal berkontribusi pada kesejahteraan global, mengingat pentingnya air sebagai elemen vital bagi Etika deep ecology ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana dalam ajaran agama Hindu yaitu pandangan kosmologis dalam agama Hindu yang mengajarkan serta menekankan pada pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, antara sesama manusia serta antara manusia dengan alam. Hal ini juga dikuatkan dengan proposisi dari filsafat Advaita yang menyatakan bahwa seluruh alam semesta adalah satu kesadaran. Di dalam ChAndogya Upanisad i. 1 menyebutkan bahwa sarvaA khalv idaA brahma - sesungguhnya seluruh jagat ini adalah Brahman. Manusia yang menganggap dirinya adalah sesuatu yang berbeda, maka ia sudah melibatkan ego di dalamnya (Maheswari, 2. Menanamkan nilai filosofis dan mentalitas manusia untuk menjaga kelestarian alam khususnya yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas merupakan suatu Alikodra menjelaskan bahwa alam mempunyai makna sebagai penupang kehidupan, sesuai dengan hak intrinsic yang dimilikinya, maka alam patut dihargai dan dimuliakan, serta diperlakukan dengan baik. Pengetahuan dasar ini ditekankan oleh etika ekologi dalam. Etika ini menekankan bahwa alam sangat penting perannya bagi seluruh system kehidupan. Manusia berada di dalam system alam, dan mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memelihara ekosistem alam ini, sehingga keberadaan dan kualitasnya tetap pada kondisi mendukung kebutuhan hidup bersama berbagai makhluk secara keberlanjutan (Alikodra, 2. Etika lingkungan mengajarkan manusia untuk menumbuhkan kesadaran bahwa manusia sebagai bagian dari system alam dan memiliki kewajiban untuk menjaganya, yang dalam hal ini sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas juga merupakan system alam yang wajib untuk dijaga. Lynn White. Jr. menyatakan bahwa what people do about their ecology depends on what they think about themselves in relations to things around them. Human ecology is deeply conditioned by beliefs about our nature and destiny Ae that is, by religion (Irawan, 2. Hal ini dipertegas bahwa pandangan filosofi deep ecology menekankan pentingnya menghargai keberagaman hayati dan memperlakukan alam dengan empati serta memahami keterkaitan alam dengan keberlangsungan hidup manusia. Aliran ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mengajak untuk memperlakukan alam sebagai sistem yang terkait erat dengan keberlangsungan hidup manusia, bukan sekadar sumber daya yang bisa dimanfaatkan (Sarah & Hambali, 2. Penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan bahwa pelestarian air dan sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas yang dilakukan dengan dilandaskan oleh ajaran agama Hindu juga merupakan reaksi emosional manusia untuk dalam mengatur keharmonisan dirinya dengan tatanan kosmis atau alam semesta yang dalam hal ini adalah sumber mata air di Desa Medahan dan Desa Keramas. Ini juga merupakan suatu bentuk realisasi diri bahwa manusia merupakan bagian dari komunitas ekologis yang tidak mungkin dapat hidup tanpa alam. Kesimpulan Usaha pelestarian sumber-sumber mata air yang ada di Desa Medahan dan Desa Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar dengan cara pendirian tempat suci di lokasi sumber mata air, penanaman kepercayaan mengenai sumber mata air, pemasangan tanda peringatan serta gotong royong masyarakat membersihkan sumber mata air pada dasarnya merupakan implementasi etika deep ecology. Etika deep ecology merupakan suatu aliran etika lingkungan yang menjelaskan bahwa alam patut dicintai seperti halnya manusia mencintai Tuhan. Pelestarian sumber mata air di kedua desa tersebut menekankan bahwa manusia harus menghormati dan melindungi alam sebagai bagian integral dari keberlangsungan hidup semua makhluk. Tindakan ini mengakui bahwa keberlanjutan ekosistem lokal berkontribusi pada kesejahteraan global, mengingat pentingnya air sebagai elemen vital bagi kehidupan. Hal ini diharapkan dapat dipedomani bersama agar kelestarian sumber mata air khususnya yang ada di kedua desa tersebut dapat terpelihara dengan baik serta dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Rekomendasi kebijakan yang dapat diambil untuk semakin mendukung upaya pelestarian sumber mata air ini adalah dengan pembuatan regulasi yang jelas oleh pemerintah setempat sehingga keberadaan sumber-sumber mata air yang ada semakin terlindungi dengan baik. Daftar Pustaka