Article Meta Analisis Studi Kelas Menengah Muslim di Indonesia Indonesian Journal of Religion and Society, 2022. Vol. , 01-16 A The Journal, 2022 DOI :10. 36256/ijrs. org/index. php/IJRS Journal Article History Received : April 23rd, 2022 Revised : June 10th, 2022 Accepted : June 20th, 2022 Yusuf Magister Sosiologi. Universitas Andalas. Padang. Indonesia myus8896@gmail. Afrizal. Afrizal Universitas Andalas. Padang. Indonesia afrizal@soc. Bob Alfiandi Universitas Andalas. Padang. Indonesia bobalfiandi@soc. ABSTRAK Munculnya gerakan populisme Islam yang ditandai dengan "Gerakan 212" menjadi salah satu penyebab mengapa kelas menengah muslim Indonesia menarik untuk diperbincangkan kembali. Kajian mengenai kelas menengah muslim di Indonesia pada dasarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970-an hingga sampai saat ini. Dengan banyaknya literatur mengenai kelas menengah muslim di Indonesia, artikel ini bertujuan untuk melakukan pemetaan terhadap kajian-kajian kelas menengah muslim yang telah ada. Artikel ini merupakan kajian meta analisis yang menggunakan pendekatan studi Literatur seperti jurnal dan artikel dikumpulkan melalui alat bantu online seperti google dan publish or perish 7 dengan pencarian menggunakan dua kata kunci yakni AuKelas Menengah IndonesiaAy dan AuKelas Menengah Muslim IndonesiaAy. Studi ini menemukan bahwa ada tiga pola kajian kelas menengah muslim di Indonesia: pertama, kajian mengenai politik kelas menengah muslim. kedua kajian mengenai ideologi kelas menengah muslim di Indonesia. ketiga kajian mengenai gaya hidup kelas menengah Artikel yang membahas mengenai politik kelas menengah muslim di Indonesia ditemukan sebanyak 12 artikel. Untuk kajian mengenai ideologi kelas menengah muslim ditemukan sebanyak 5 artikel. Sementara sebanyak 39 artikel ditemukan membahas tentang gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia. Pada akhirnya, studi ini sampai pada simpulan bahwa kajian kelas menengah muslim di Indonesia lebih dominan yang membicarakan aspek perilaku dari pada aspek teoritis dan aspek konseptual. Kata Kunci: Gaya Hidup Kelas Menegah Muslim. Ideologi Kelas Menengah Muslim. Kelas Menengah Muslim. Politik Kelas Menengah Muslim. ABSTRACT The emergence of the Islamic populism movement marked by the "212 Movement" is one of the reasons why the Indonesian Muslim middle class is interesting to be discussed again. Studies on the Muslim middle class in Indonesia have basically been carried out since the Corresponding Author Name : M. Yusuf Email : myus8896@gmail. 2 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi 1970s until now. With the abundance of literature on the Muslim middle class in Indonesia, on this basis this article aims to map out existing studies of the Muslim middle class. This article is a meta-analysis study that uses a literature study approach. Literature such as journals and articles are collected through online tools such as google and publis or perish 7 by searching using two keywords namely AuIndonesian Middle ClassAy and AuIndonesian Muslim Middle ClassAy. This study finds that there are three patterns of study of the Muslim middle class in Indonesia: first, the study of the politics of the Muslim middle class. second is a study of the ideology of the Muslim middle class in Indonesia. The third study is about the lifestyle of the Muslim middle class. There were 12 articles that discussed the politics of the Muslim middle class in Indonesia. For the study of the ideology of the Muslim middle class found as many as 5 articles. Meanwhile, 39 articles were found discussing the lifestyle of the Muslim middle class in Indonesia. In the end, this study concludes that the study of the Muslim middle class in Indonesia is more dominant in discussing behavioral aspects than theoretical and conceptual aspects. Keywords: Muslim Middle Class Lifestyle. Muslim Middle Class Ideology. Muslim Middle Class. Muslim Middle Class Politics. Pendahuluan Kelas menengah muslim kembali menjadi aktor yang menarik dibicarakan dalam konteks perkembangan sosial-politik Indonesia saat ini. Kelas menengah muslim dipandang salah satu elemen penting bagi demokrasi dan civil society (Jati, 2017. Mereka sebagai agen perubahan dan sekaligus menjadi katalisator dari kelas bawah (Amal, 2013. Halili, 2006. Jati, 2017a. Yuniarto, 2. Namun belakangan, kondisi itu berbalik semenjak berkembangnya gerakan populisme di Indonesia, kelas menengah muslim justru menjadi elemen yang mempersempit landscape demokrasi AuancamanAy di Indonesia (Fisipol UGM. Mudhoffir, 2. yang melakukan resistensi terhadap negara melalui jalur-jalur inkonstitusional (Jati, 2017. Menguatnya aksi-aksi yang mengatasnamakan agama . Aksi Bela Isla. menjadi salah satu indikator bahwa kelas menengah muslim telah berhasil kembali hadir di ruang publik (Mudhoffir, 2. Resistensi tersebut diwujudkan oleh kelas menengah muslim dalam bentuk gerakan populisme Islam, yang sekaligus menjadi representatif dari ekspresi kekuatan politik Islam konservatif yang mempertemukan politik identitas, populisme dan kelas menengah muslim yang berbasiskan umat (Azra, 2. Sejumlah aksi seperti Aksi Bela Islam I (Aksi 1. Aksi Bela Islam II (Aksi . Aksi Bela Islam i (Aksi 212 Jilid . Aksi Bela Islam IV (Aksi . Aksi Bela Islam V (Aksi 212 Jilid II) dan Aksi Bela Islam VI (Aksi . menjadi ruang representasi atas kekuatan kelas menengah muslim yang sudah lama "absen" dalam dinamika perkembangan demokrasi Indonesia (Jati, 2017e. Abdil Mughis Mudhoffir. Sholikin, 2. Akan tetapi aksi dan peristiwa ini bukanlah awal dari kemunculan kelas menengah muslim di Indonesia, namun hanya momentum yang dimanfaatkan oleh kelas menengah Muslim dalam menampilkan kembali eksistensinya di Indonesia (Supriansyah, 2018. Wildan, 2. Kelas menengah muslim di Indonesia mulai dibahas secara komprehensif pada akhir tahun 1970-an (Sarjadi, 1. Dalam melihat kelas menengah Muslim Indonesia, ada beberapa pendekatan yang digunakan. Pertama, kelas menengah dilihat menggunakan pendekatan Weberian. Kedua, pendekatan Marxian. dan Ketiga menggunakan pendekatan Cultural Studies (Jati, 2016. Dalam pendekatan Weberian, melihat bahwa munculnya kelas menengah sebagai wujud dari gelombang kemunculan orang kaya baru . ew richmen/noveau richi. yang dibentuk oleh negara, dan sekaligus berperan sebagai pengontrol . loyalitas masyarakat melalui jalur birokrasi, militer, maupun juga intelektual (Jati, 2016. Pendekatan ini dapat dilihat dari studi Vedi Hadiz . tentang Populisme Islam yang melihat bahwa kelas menengah Muslim kerap menjadi pemimpin sekaligus aktor dalam gerakan-gerakan populisme di negara-negara Islam. Pendekatan Marxian, munculnya kelas menengah muslim merupakan konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang bertransformasi dari kelompok feodal menjadi borjuasi. Pandangan ini dapat dilihat dalam studi Clifford Geertz yang menunjukkan bahwa munculnya kelompok masyarakat baru . elas menenga. , merupakan bentuk lain dari warga kota kecil yang berkembang seiring dengan Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 3 perkembangan kota, hal ini digambarkan Clifford Geertz dengan membuat tipologi priyayi, abangan dan santri (Sarjadi, 1. Pendekatan Cultural Studies memandang kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang muncul disebabkan dari perkembangan dari media industri dan pertempuran ideologis yang bersilang . Pendekatan ini seperti yang dilakukan Ariel Heryanto dalam studinya Identitas dan Kenikmatan yang menjelaskan bahwa adanya ciri dan identitas yang melekat di kalangan kelompok baru Islam . elas menenga. yang lahir dari berbagai perangkat budaya populer (Heryanto, 2. Trikotomi di atas seringkali dipergunakan sebagai pijakan analisis untuk melihat peran politik, kekuatan ekonomi dan perilaku sosial dari kelas menengah muslim di Indonesia. Beragam pendekatan di atas, diaktualisasikan oleh berbagai kalangan akademisi maupun peneliti melalui studi-studinya untuk melihat kelas menengah muslim di Indonesia. Berbagai variabel yang digunakan sebagai ikhtiar memperlihat dan mempertegas siapa sesungguhnya kelas menengah muslim tersebut. Mulai dari ekspresi politik, ideologi dan sampai gaya hidup dari kelas menengah muslim itu sendiri. Paling tidak, studi mengenai kelas menengah Muslim di Indonesia dapat diidentifikasi mulai dari studi Muzani . Sarjadi . Hasbullah . Hasan . Jahar . Rapiko . Rizal . Rofhani . 3b & 2013. Jati . Rajab . Heryanto . Rachmania & Adanya . Jati . 5a, 2015e, 2015b & 2015. Prananta . Sukarwo . Suyatno . Wildan . Muntazori . Jati . 6c, 2016b, 2016a & 2016. Arizal, . Jati, . 7a & 2017. Mahmudah . Mulyana . Muzdalifah . Ridho . Rofhani . AoAina, . Asiah & Isnaeni . Azizah & Machali . Darojatun . Rahman & Hazis . Ridho . Rozali . Saputro . Ahmadi . Djazilan . Elanda . Faried . Fithri . Hadiz . Misbahuddin . Supriansyah . Taufikurrahman & Hidayat . Thalita . dan Aeni & Nuriyanto . Jati . Triantoro . dan Dewi dan Fata . Gambar 1. Map Literatur Kelas Menengah Muslim di Indonesia Dari visualisasi literatur kelas menengah muslim melalui Vosviewer di atas memperlihatkan telah ada beberapa indikator yang telah ditelisik dari kelas menengah muslim di Indonesia. Sejumlah indikator tersebut dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, pertama. persoalan ekspresi keagamaan kelas menengah muslim, kedua. persoalan posisi atau keberadaannya, ketiga, persoalan politik dan keempat. persoalan gaya hidup kelas Artikel ini memiliki argumentasi bahwa selama ini studi mengenai kelas menengah muslim di Indonesia yang telah dibahas memiliki tiga fokus, pertama. politik dari kelas menengah muslim, kedua. mengenai ideologi dari kelas menengah muslim dan ketiga. tentang gaya hidup kelas menengah muslim. Argumentasi ini muncul didasari Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 4 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi pemetaan yang telah dilakukan dari literatur kelas menengah muslim di Indonesia yang ditemukan dalam studi ini. Secara fakta literatur, studi mengenai ketiga fokus atau tipologi dari kelas menengah muslim, menyebar di dalam berbagai naskah dan artikel. Maka atas dasar itu secara umum, studi ini bertujuan untuk melengkapi studi-studi yang telah ada mengenai kelas menengah muslim di Indonesia. Secara khusus studi ini bertujuan untuk melakukan kajian meta analisis terhadap literatur kelas menengah muslim yang ada di Indonesia. Tiga pertanyaan muncul dari argumentasi yang dibangun di dalam artikel ini, bagaimana bentuk politik kelas menengah muslim di Indonesia? kedua. bagaimana corak ideologi dari kelas menengah muslim di Indonesia? dan ketiga. gaya hidup yang ditampilkan oleh kelas menengah muslim di Indonesia? Dalam penyajiannya, tiga pertanyaan tersebut masing-masing dijadikan sub pembahasan di dalam artikel ini. Metode Studi ini merupakan studi kualitatif yang jenisnya penelitiannya adalah studi kepustakaan . ibrary researc. Data dikumpulkan melalui teknik dokumen dengan sumber data berbagai literatur baik jurnal, buku ataupun literatur yang relevan dengan kelas menengah Muslim di Indonesia. Literatur dikumpulkan menggunakan mesin pencarian online AuGoogleAy dan juga dibantu tools AuPublish or Perish 7Ay. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan 2 . kata kunci yakni AuKelas Menengah IndonesiaAy dan AuKelas Menengah Muslim IndonesiaAy. Literatur yang terkumpul dianalisis dengan beberapa tahapan. Pertama. pemanajemenan dan pereduksian terhadap literatur yang telah dikumpulkan dengan bentuk pembuatan database, kedua. dilakukannya pembacaan dan sekaligus pememoingan . emberian tand. terhadap literatur yang terkumpul, dan ketiga. dilakukannya visualisasi dari literatur yang telah diberikan tanda dengan bentuk pengklasifikasian sesuai dengan sub pembahasan dalam artikel, dan keempat. penarikan kesimpulan yang ditampilkan pada bagian diskusi di dalam artikel ini. Hasil Politik Kelas Menengah Muslim di Indonesia Di Indonesia ada beberapa tahapan yang dilalui oleh kelas menengah muslim dalam mengartikulasikan ekspresi politiknya. Studi Jati . tentang membangun partisipasi kelas menengah muslim Indonesia menjelaskan bahwa kelas menengah muslim dalam membangun aspirasi politik melalui pendekatan budaya untuk menegaskan mereka sebagai representasi kultural. Menurut Jati . pendekatan yang demikian digunakan oleh kelas menengah muslim melalui penggunaan simbol-simbol agama seperti jilbab, lagulagu kasidah. ICMI. Republika dan adanya majelis taklim. Kelima unsur budaya yang digunakan menurut Jati . turut mempengaruhi atas pembentukan dan lahirnya partai-partai politik yang berbasis Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai Keadilan dan Sejahtera (PKS). Partai Bulan Bintang (PBB). Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan . Atas dasar itulah kelas menengah muslim memandang bahwa bangunan politik di Indonesia harus dibangun dengan kaidah dan nilai-nilai keislaman (Jati, 2016. Studi Taufikurrahman & Hidayat . tentang dinamika politik kelas menengah Indonesia mempertegas bahwa munculnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesi. merupakan cikal-bakal atas perkembangan kelas menengah muslim di Indonesia, juga dijelaskan oleh Muzani . dalam studinya tentang kultur kelas menengah muslim dan kelahiran ICMI. Dimana ICMI banyak mengalami berbagai dinamika relasi dan hubungannya dengan negeri. Studi Taufikurrahman & Hidayat . menemukan tiga relasi yang dialami kelas menengah dalam hal ini ICMI dengan negara. Pertama, relasi tumbuhnya hubungan konfrontatif antara Islam yang mengembangkan perjuangan ideologis dan politik dengan pemerintah yang berorientasi pada pembangunan dan menghilangkan ancaman konflik ideologi-politik dengan cara-cara yang militeristik. Kedua, tahapan resiprokal-kritis. munculnya sikap saling melunak dan saling memahami. Ketiga, tahapan akomodatif. munculnya sikap saling mengakomodasi satu sama lain, dimana hubungan antara umat dan pemerintah mengarah pada integrasi dan sinergitas diantara keduanya (Taufikurrahman & Hidayat, 2. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 5 Dalam membicarakan hubungan kelas menengah muslim dengan negara, pada dasarnya kelas menengah memiliki kontribusi besar dalam perkembangan proses demokrasi di Indonesia. Pada masa Orde Baru, kelas menengah muslim banyak membantu dan menopang jalannya roda pembangunan negara (Prananta, 2. Studi Jahar . tentang kelas menengah muslim dan proses demokratisasi di Indonesia menemukan bahwa kelas menengah muslim telah menjadi penggerak demokratisasi terutama pasca reformasi. Menurut Jahar . bahwa di bawah pemerintahan kolonial, kelas menengah muslim bergerak lebih didorong oleh sentimen keindonesiaan dari pada sentimen keislaman. Karna pada saat itu yang terjadi adalah masalah penindasan yang sifatnya adalah universal bagi warga pribumi, dan semangat semacam itu terjaga hingga masa Orde Baru (Jahar, 2. Studi AoAina, . mempertegas dengan menyebutkan secara spesifik di dalam studinya tentang membaca kelas menengah muslim di Indonesia yang menemukan bahwa Sarekat Islam (SI) merupakan salah satu representasi gerakan Islam politik yang berhasil melawan kelompok kolonial (AoAina, 2. Terhadap politik, kelas menengah muslim memiliki karakter yang dinamis. Mereka dapat menyesuaikann dengan kebutuhan, tuntutan dan kondisi yang dihadapinya. Artinya bahwa gaya dan wujud politik yang selalu berubah-ubah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di kalangan kelas menengah muslim di Indonesia. Studi Jati . tentang rekonfigurasi politik kelas menengah Indonesia menemukan bahwa secara politik ada masanya kelas menengah menjadi dependen dan ada kalanya menjadi kelas penekan terhadap negara. Menjadi dependen dapat dilihat pada rezim Suharto antara kelas menengah dan negara sama-sama menguatkan pembangunan ekonomi negara. Sementara menjadi kelas penekan dapat dilihat ketika kelas menegah muslim menunjukkan partisipasi politik yang berujung menjadi aksi people power dalam menjatuhkan rezim Suharto. Kelas menengah gamang untuk menentukan apakah mereka harus independen atau dependen negara. kedua-duanya sangat dinamis kapan dan dalam kondisi apapun senantiasa bisa berubah-ubah (Jati, 2015. Secara partisipasi, studi Jati . tentang membangun partisipasi politik kelas menengah juga menemukan bahwa kelas menengah muslim memiliki tiga tipologi dalam berpartisipasi di politik. Pertama. kelas menengah muslim masih memiliki kecenderungan berpartisipasi dalam politik melalui jalur konstitusional yang diwujudkan melalui partai Kedua. kelas menengah muslim berpartisipasi dalam politik melalui jalur ekstra parlementer, dengan menjadikan negara sebagai simbol untuk dijadikan sebagai objek ekspresi resistensinya. Ketiga. aspirasi politik disampaikan melalui kelompok radikalisme. Jalur partisipasi ini lebih bercorak emosional dari pada ideologis. Munculnya berbagai macam faksi radikal baik itu yang muncul secara laten maupun manifes, merupakan bentuk rasionalitas yang tidak terkontrol sehingga menciptakan adanya sikap ekstremisme. Hal ini membantah bahwa akar radikalisme adalah kemiskinan. Berbagai kelompok radikal tersebut justru malah dari kalangan kelas menengah mapan yang ingin menunjukkan identitasnya (Jati, 2016. Pilihan menyampaikan aspirasi politik melalui gerakan menjadi tren bagi kalangan kelas menengah muslim di Indonesia. Studi Jati . tentang pola gerakan kelas menengah menemukan bahwa kelas menengah muslim lebih memilih mengekspresikan politik dalam bentuk gerakan yang tanpa ikatan formal menjadi pilihan pragmatis dalam menyuarakan aspirasi dan kepentingannya (Jati, 2. Menurut Jati . mengekspresikan politik ke dalam gerakan merupakan implikasi atas adanya ketidakpercayaan kelas menengah muslim terhadap partai politik yang tidak memiliki kemampuan dalam mengakomodir aspirasi masyarakat secara umum (Jati, 2. Fenomena semacam itu juga terjadi di dalam media sosial. Dalam studi Jati . tentang aktivisme kelas menengah berbasis media sosial menemukan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap politik kekinian kelas menengah muslim, yang tidak hanya dijadikan sebagai leisure maupun pleasure, namun mampu menjadi alat pemantik gerakan sosial alternatif kelas menengah muslim perkotaan. Aktivitas ini menjadikan kelas menengah Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 6 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi bertransformasi menjadi kelas politis yang mampu meruntuhkan hegemoni elit yang berkuasa selama ini (Jati, 2016. Kelas menengah muslim Indonesia yang mengekspresikan politiknya ke dalam bentuk gerakan, adalah kelas menengah muslim populisme bukan kelas menengah muslim yang post-islamisme. Seperti studi Hadiz . tentang gerakan populisme di Indonesia dan Timur Tengah mencatat bahwa kelas menengah telah memainkan peran kuncinya dalam memobilisasi dan mengorganisasi koalisi sosial yang lebih luas dalam menggerakkan populisme seperti yang terjadi di Mesir. Turki dan Indonesia (Hadiz, 2. Begitu juga yang dijelaskan Jati . dalam studinya tentang memaknai kelas menengah muslim sebagai agen perubahan sosial politik menemukan bahwa kelas menengah muslim yang populisme melakukan perubahan politik selalu mengedepankan eksistensi dan representasi sebagai ummah, dan selalu membawa isu ketimpangan dari berbagai kelas-kelas sosial yang ada. Kelas menengah muslim yang populis selalu menggunakan strategi gerakan politik untuk mencapai perubahan sosial yang radikal, dan diarahkan untuk membentuk masyarakat muslim kolektif (Jati, 2016. yang sangat prosesif dengan perbedaan . nti-kemajemuka. dan anti dengan kritikan (Supriansyah, 2. Pada segmentasinya kelas menengah muslim yang populisme terdapat kelompok borjuasi, intelektual dan birokrat yang selalu memandang negara dalam relasi konfliktual (Jati, 2016. Ideologi Kelas Menengah Muslim di Indonesia Post-islamisme dan Islam populisme menjadi ideologi kelas menengah muslim di Indonesia. Kedua ideologi ini dipertemukan pada semangat penawaran religiusitas Islam dalam ruang publik untuk masyarakat di Indonesia. Bagi Jati . tumbuhnya ideologi post-islamisme merupakan bagian kebangkitan umat Islam yang selama ini terpenjara dalam rezim otoritarian, maupun rezim teokrasi yang justru menjadikan masyarakat Islam . elas menenga. teralienasi (Jati, 2016. Sementara munculnya ideologi populisme dalam kelas menengah muslim disebabkan oleh perkembangan industrialisasi dan kapitalisme yang tidak seimbang, yang justru tidak menguntungkan bagi kelas menengah muslim di Indonesia. Dalam perkembangannya, ideologi populisme di kalangan kelas menengah muslim bercabang menjadi dua, ada yang ingin membentuk negara Islam . arul Isla. dan ada yang ingin membentuk masyarakat muslim . (Jati, 2016. Temuan tersebut juga diperkuat oleh studi Jati . tentang pola gerakan kelas menengah Indonesia dalam pemilu yang menemukan bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kelas menengah muslim dalam momen pemilu cenderung bermuatan ideologi populisme. Kelas menengah muslim yang di dalam ideologi populisme cenderung melihat pemilu sebagai suksesi kekuasaan yang diwujudkan dalam gerakan yang bersifat partisan baik di media online ataupun ruang publik (Jati, 2. Semangat menjadikan Islam sebagai identitas telah terjadi di kalangan kelas menengah muslim Indonesia. Temuan studi Jati . tentang radikalisme politik kelas menengah muslim menemukan bahwa usungan untuk memperlihatkan eksistensi identitas Islam di Indonesia ternyata dijepit oleh ideologi baru, yakni ideologi radikalisme. Studi ini menjelaskan bahwa telah terjadi revivalisme dan penguatan ideologi islamisme yang menguat di kalangan kelas menengah muslim Indonesia pasca reformasi, terutama mengundurnya kekuatan Islam demokrat yang ditandai dengan munculnya ideologi salafisme (Jati, 2017. Menurut Jati . ideologi salafisme ini selalu dan terus berkembang, yang awalnya dilakukan dan basisnya di pesantren, kini secara perlahan membuka pintu ke luar dengan tujuan untuk pelaksanaan syariat Islam di ruang publik hingga masalah khilafah sebagai tujuan utamanya (Jati, 2017. Ideologi seperti salafisme yang diadopsi oleh kelas menengah muslim tidak hanya berkembang di ruang kehidupan, namun juga merambas ke dalam dunia pendidikan. Dalam studi Mahmudah . tentang transmisi ideologi fundamentalisme dalam pendidikan ditemukan bahwa munculnya di kalangan kelas menengah muslim pengarusutamaan penanaman nilai-nilai konservatif dan fundamentalis di lembaga pendidikan yang bernuansakan Islami seperti TK Islam Terpadu. SD Islam Terpadu. SMP dan SMA Islam Terpadu (Mahmudah, 2. Penyebaran ideologi fundamentalisme ke Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 7 dalam dunia pendidikan dipercayai akan menjadi strategi kelas menengah muslim dalam menjadikan Islam sebagai identitas yang mudah diterima oleh masyarakat (Mahmudah. Dalam perkembangan teknologi yang massif, ideologi tersebut tetap dijaga keutuhannya oleh kelas menengah muslim. Studi Ridho . menemukan bahwa media sosial menjadi sarana penyebaran gagasan nilai-nilai agama yang fundamentalis dan sekaligus menjadi konter wacana tentang bahaya ideologi sekulerisme, pluralisme dan liberalisme, bagi kelas menengah muslim ideologi tersebut adalah ideologi barat dan bertentang dengan agama Islam (Ridho, 2. Gaya Hidup Kelas Menengah Muslim di Indonesia Gaya hidup disini dimaksudkan untuk melihat bagaimana kelas menengah muslim mengartikulasikan nilai dan norma keagamaan dalam kehidupan sosial kelas menengah muslim itu sendiri. Secara garis besar ada tiga kiblat yang membentuk gaya hidup keberagamaan kelas menengah muslim di Indonesia. Studi yang dilakukan Jati . tentang Islam populer sebagai pencarian identitas kelas menengah muslim yang menemukan bahwa Islam populer . ren dan gaya hidu. yang menjadi habitus dan identitas kontemporer kelas menengah muslim di Indonesia memiliki masing-masing kiblat. Jati . menemukan tiga kiblat dari Islam populer yang dikenakan kelas menengah muslim di Indonesia yakni kiblat MesirTurki, kiblat Arab Saudi dan kiblat Iran. Kiblat Mesir-Turki menampilkan bentuk produk nasyid, hijab Turban. Ikhwanisme, pengajian sufisme dan produk Islam modern lainnya. Produk ini dapat dilihat di Indonesia di kelompok intelektual kampus, kelompok kelas menengah urban, dan majelis taAolim. Kiblat Arab Saudi bentuk produknya seperti celana cingkrang, pemeliharaan jenggot dan kumis, pemakaian cadar, dan lain sebagainya. Produk ini dapat dilihat di kelompok kelas menengah bard-liner HTI dan MMI di Indonesia. Kiblat Turki bentuk produknya seperti pembacaan barzanji, shalawat, kenduri, permadani dan intelektualisme Qom yang dapat dilihat di kalangan Muslim pesantren dan pedesaan. Berbeda kiblat, berbeda pula garis ideologis masing-masing mazhab Islam yang dianut yang diekspresikan dalam formalisasi agama seperti amr maAoruf nahi munkar contohnya dilakukan oleh organisasi Front Pembela Islam (FPI). Forum Betawi Rempug (FBR). FPIS dan FUI. Ada juga diekspresikan melalui Syariatisasi Islam dapat dilihat Forum Anti Pemurtadan (FAP). Gerakan Indonesia BershariaAoah (GIB). Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Bentuk lainnya seperti ekspresi Kekhalifahan Islam yang dilakukan oleh Hizbut Tharir Indonesia (HTI) dan ekspresi keamanan kolektif seperti yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda KaAobah. Banser dan Tapak Putih (Jati, 2015. Dalam konteks kehidupan, kelas menengah muslim memiliki budaya baru yakni budaya post-fundamentalisme. Menurut Rofhani . dalam studinya tentang budaya urban muslim kelas menengah menemukan bahwa post-fundamentalisme adalah budaya baru yang menghegomoni dan membentuk kelas menengah muslim menjadi kelas yang konsumtif, hedonis dan bahkan seduktif. Budaya pos-fundamentalisme mencerminkan persenyawaan dan perjumpaan antara yang tradisional dan modern (Rofhani, 2013. Selaras dengan itu, pada studi keduanya tentang ekspresi dan representasi perempuan kelas menengah muslim di Surabaya. Rofhani . mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran orientasi dan makna ekspresi dan representasi perempuan kelas menengah muslim dalam keberagamaan yang cenderung mengikuti gaya hidup populer. Kelas menengah muslimah menciptakan gaya hidup alternatif yang sesuai dengan norma Islam, fleksibel, tidak lagi dibatasi oleh sekat organisasi dan mazhab (Supriansyah, 2. , dan tidak pula kaku untuk membangun Islam sebagai identitas (Rofhani, 2. Ini juga ditemukan pada studi Thalita . tentang kelas menegah dan keluarga poligami yang mengatakan bahwa adanya proses negosiasi dan adaptasi memunculkan gaya baru di kalangan kelas menengah untuk melakukan praktik poligami (Thalita, 2. Ditambah lagi dengan pemakaian produk halal dan gaya hidup syarAoi, dapat membentuk kesalehan simbolik bagi kelas menengah muslim. Sebagaimana dituliskan Darojatun . dalam studinya tentang tren produk halal, hidup syarAoi dan kesalehan sosial kelas menengah muslim di Indonesia. Kemudian munculnya komunitas hijaber yang melahirkan toko Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 8 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi pakaian Islam . yarAoi, sunnah dan salaf. hotel Islam. catering Islam dan perumahanperumahan Islam . erumahan syaria. (Triantoro, 2. yang metode pembayarannya menggunakan Bank Syariah . anking syste. (Lindiawatie & Muzdalifah, 2. ada rumah tahfidz serta tempat olahraga memanah sunnah (Elanda, 2019. Rumah syariah tersebut dijadikan oleh kelas menengah sebagai ruang eksistensi menampilkan identitas sosial kelas menengah muslim di Indonesia dalam mengkolaborasikan gaya hidup, kemoderenan dan kerelegiusitasannya dan dijadikan sebagai tandingan perumahan konvensional (Elanda. Kondisi seperti ini yang menjadikan kelas menengah muslim menjadi ladang bisnis oleh pengusaha yang menggunakan label dan simbol-simbol Islam dalam dagangannya (Rizal, 2. dan tidak jarang kebutuhan itu dijadikan potensi untuk penerapan industri halal di Indonesia (Faried, 2. Identitas yang Islami dari kelas menengah muslim, ditampilkan dalam bentuk budaya pop ataupun budaya populer. Muntazori . dalam studinya tentang fesyen muslimat kelas menengah muslim menemukan bahwa kelompok kelas menengah muslim menampilkan identitas budaya pop dalam mengenakan fesyen, modis dan trendi lebih diutamakan dari pada fungsi utamanya yaitu menutup aurat (Muntazori, 2. dan budaya populer seperti film dakwah Islam (Heryanto, 2. , tren k-pop dan busana muslimah yang ditemukan dalam studinya Rozali . tentang identitas, kelas menengah dan budaya populer dan tidak luput juga dengan menampilkan identitas keislaman dalam produkproduk makanan seperti yang ditemukan oleh Misbahuddin . dan juga mengkonsumsi buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit islami (Sukarwo, 2. serta majalah-majalah yang berisikan trevelling dan perjalanan spiritual seperti haji plus (Rachmania, 2. Bagi Ariel Heryanto . alam Janelli 2. pada capter tulisannya tentang gaya hidup kelas menengah dikatakan bahwa identitas islami yang semacam itu merupakan alat politik mereka . elas menengah musli. sehingga pada gilirannya menjadi wacana publik, persaingan identitas, dan bahkan menjadi wacana pembangunan sosial di Indonesia (Janelli, 2. Lebih lanjut secara kritis. Noorhaidi . dalam studinya tentang muslim kelas menengah dengan ruang publik Islam mengomentari bahwa ekspresi keislaman yang ditampilkan oleh muslim kelas menengah tidak hanya menunjukkan identitas kesalehan mereka, tetapi juga menginisiasi munculnya praktik komodifikasi agama yang bersamaan dengan permintaan pasar terhadap produk-produk Islam (Hasan, 2. Itulah yang dikatakan oleh Noorhaidi . dalam studinya lanjutannya tentang gaya hidup dan demokrasi kelas menengah dengan istilah fenomena Islamisasi. Bahwa dengan munculnya simbol-simbol keagamaan di ruang publik menjadi fenomena Islamisasi yang dilakukan oleh kelas menengah muslim untuk pertanda perbedaan dan status sosial dan untuk melegitimasi gaya hidup konsumtif mereka (Hasan, 2. Selain karna dibentuk oleh kemapanan finansial, rasional dan media yang digunakan seperti yang dikatakan Aeni and Nuriyanto . dalam studinya tentang religiusitas kelas menengah muslim, pola yang seperti itu menunjukkan arti bahwa kelas menengah muslim Indonesia sebenarnya adalah kelompok yang sangat hedonis dan sangat konsumtif. Demikian menurut Yuswohady et al. tentang konsumen kelas menengah muslim di Indonesia bahwa ada beberapa sikap konsumen yang melekat dengan kelas menengah Pertama. sikap apatis Auemang gue pikirin!Ay adalah sosok kelas menengah yang memiliki pengetahuan, wawasan dan tingkat kesejahteraan ekonomi masih rendah dan dalam kepatuhan menjalankan nilai-nilai Islam juga rendah. Kedua. sikap rasionalis AuGue Dapat Apa?Ay adalah tipe kelas menengah muslim yang memiliki pengetahuan, open minded dan wawasan global, namun tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang rendah. Ketiga. sikap konfromis AuPokoknya Harus Islam!Ay. Tipe kelas ini adalah konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Tipe ini memiliki keterbatasan wawasan dan sikap yang dimunculkan cenderung konservatif, tradisional dan menutup diri dari nilai-nilai luar . Keempat. sikap universalis AuIslam itu lebih pentingAy. Tipe kelas menengah ini memiliki pengetahuan/wawasan luas, pola pikir yang global, namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam secara normatif dalam kehidupan sehari-hari (Yuswohady et al. , 2. Kesemuanya bagi Arizal . Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 9 dalam studinya tentang kritik Moeslim Abdurrahman terhadap budaya konsumerisme kelas menengah muslim menuliskan bahwa menurut Moeslim spirit syariAoat dalam agama Islam telah terkontaminasi dengan adanya budaya konsumerisme. Simbol dan atribut keagamaan yang menjadi tanda-tanda kesalehan selama ini telah berubah fungsinya secara radikal. Cara berpakaian, sebagai bagian dari paket gaya hidup yang gemerlapan dengan desain dan bahan baku khas dimiliki bukan karena semata-mata fungsi dan nilai keagamaannya yang asli, melainkan hanya untuk mempertontonkan kesalehan di mata publik (Arizal. Dari segi ritual kesalehan kelas menengah muslim tidak lagi bergayakan ala muslim tradisional, yang cenderung memprivatisasi ritualnya dan bersifat individualis. Studi Rofhani . tentang pola religiusitas kelas menengah muslim menemukan bahwa kelas menengah muslim tidak lagi menempatkan aspek spiritualitas sebagai hal yang privat, akan tetapi lebih menjadi fashion dalam beragama yang dipertontonkan secara publik seperti munculnya kelompok-kelompok spiritual baru (Rofhani, 2013. Terjadinya fakta ini disebabkan atas pemaknaan kelas menengah muslim terhadap apa yang dimaksud dari "kesalehan" itu sendiri. Studi Jati . tentang kesalehan sosial dan kelas menengah menemukan bahwa ada dua pemaknaan kelas menengah muslim terhadap kesalehan sosial yakni kesalehan sosial dimaknai sebagai simbol dan juga kesalehan sosial dimaknai sebagai ritual. Kesalehan sosial sebagai simbol dipahami sebagai bentuk ritual budaya populer massa yakni keimanan dan ketakwaan yang dibentuk oleh konsumsi komoditas Dan kesalehan sosial sebagai ritual dapat diartikan sebagai bentuk praktik neosufisme yakni melakukan peribadatan sosial untuk melalui ridha illahhi seperti contoh hadir dalam majelis taAolim dan intensitas melaksanakan haji dan umrah (Jati, 2015. Meneruskan temuan tersebut Jati . dalam studinya sufisme urban dan kelas menengah muslim mengatakan bahwa praktik sufisme yang dilakukan kelas menengah muslim hanya digunakan sebagai praktik gaya keberagamaan dalam mengatasi persoalan sosial yang dihadapi, yang sifatnya hanya pragmatis dan sangat kondisional (Jati, 2015. Sifat kesalehan yang dimiliki, tidak hanya ditampilkan kehidupan sosial, namun juga ditampilkan dalam kehidupan bermedia sosial. Bagi kelas menengah muslim, media sosial dan teknologi menjadi instrumen penting untuk ruang eksplorasi dan menampilkan Studi yang dilakukan Ridho . tentang pesan instan di media sosial muslimah kelas menengah menemukan bahwa dalam media sosial, muslimah kelas menengah lebih banyak membicarakan isu identitas keislaman yang termanifestasikan ke dalam fashion muslimah syarAoi. sedekah mingguan. sumbangan anak yatim. motivasi, dan berbagi ayat al-quran dan hadist di pesan WAG. Di temuan lain, media sosial juga dijadikan sebagai preferensi dalil-dalil oleh kelas menengah muslim. Studinya Ahmadi . tentang kelas menengah dan otoritas teks suci di media sosial menemukan bahwa kelas menegah muslim memanfaatkan media baru untuk mengakses teks suci dan menjadikannya sebagai rujukan gaya hidup. Dengan karakter pemaknaan yang tekstualis dan fundamentalis, fakta yang semacam ini mampu melahirkan fabrikasi distorsi pemahaman dan terbelahnya otoritas keagamaan (Ahmadi, 2. Tidak hanya itu, bahwa dakwah yang dilakukan di dalam media sosial ternyata menjadi model dakwah bagi kelas menengah muslim di Indonesia, seperti yang ditemukan oleh Dewi and Fata . dalam studinya tentang model dakwah kelas menengah muslim menemukan tiga model dakwah yang berlaku di kelas menengah muslim Indonesia. Pertama. dakwah dilakukan dengan model seminar dan kursus singkat. Kedua. dakwah dilakukan dengan model pengajian umum melalui televisi dan media baru yang berbasis internet dan ketiga. dilakukan dengan model pengajian komunitas (Dewi & Fata, 2. dengan cara selektif dalam memilih ustad dan kyai untuk mengisi kajian begitu juga dengan pemilihan materi kajian dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh kelas menengah muslim (Zakiyah, 2. Menurut Jati . adanya model dakwah tersebut merupakan implikasi yang dihadapi oleh kelas menengah muslim yang dikenal dengan istilah Islam populer (Jati, 2. Dalam memperkuat karakter Islami yang dimiliki kelas menengah muslim atas tumbuhnya semangat keberislaman. Sekolah Islam Terpadu (SIT) menjadi lembaga Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 10 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi pendidikan yang dipilih oleh kelas menengah muslim di Indonesia. Temuan ini dapat dilihat dari studi Asiah and Isnaeni . tentang kelas menengah muslim dan sekolah Islam Terpadu menemukan bahwa adanya fenomena ketertarikan kelas menengah muslim terhadap sekolah-sekolah yang berbasis Islam yakni Sekolah Islam Terpadu (SIT) baik di tingkat dasar, menengah maupun tingkat atas (Asiah & Isnaeni, 2. , sehingga yang terjadi adanya proses internalisasi dan sosialisasi keislaman yang cukup panjang di kalangan kelas menengah muslim di Indonesia (Djazilan, 2. Adanya proses internalisasi akan nilai-nilai tersebut memberikan pengaruh pada kualitas manajemen dari masingmasing Sekolah Islam Terpadu yang didirikan oleh kelas menengah muslim itu sendiri (Shalihin. Firdaus, & Yusuf, 2. Bahkan menurut studinya Saputro . tentang kebangkitan Islamic homeschooling dan kelas menengah muslim mengatakan bahwa kelas menengah muslim telah menjadi penyangga terhadap menjamurnya sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Paling tidak ada beberapa faktor yang ditemukan dari studi kelas menengah dan pendidikan yang dilakukan di Indonesia. Pertama studi Azizah & Machali . tentang pendidikan Islam dan kelas menengah muslim mengatakan bahwa lembaga pendidikan dengan simbol keagamaan itu dianggap penting oleh kelas menengah Muslim sebagai pembentuk karakter Islami dan menambah pengetahuan anak terhadap ajaranajaran Islam (Azizah & Machali, 2. Kedua, studi Fithri . tentang pesantren dan gairah keislaman kelas menengah muslim menyebutkan bahwa fenomena kecenderungan kelas menengah muslim terhadap sekolah berbasis Islam bertujuan untuk mencari jalan keluar atas krisis moral keagamaan yang dihadapi oleh keluarga kelas menengah muslim (Fithri, 2. Dan ketiga, adanya kerelevanan corak keberagamaan antara kelas menengah muslim dengan Sekolah Islam Terpadu itu sendiri (Asiah & Isnaeni, 2. Begitu juga dengan temuan Suyatno . dalam studinya tentang sekolah dasar Islam terpadu dalam konsepsi kelas menengah muslim yang menemukan bahwa ada tiga faktor yang membuat kelas menengah muslim tertarik dengan sekolah-sekolah yang berlabelkan Islam yakni faktor teologis. orang tua menginginkan anaknya memiliki pemahaman agama yang kuta, kedua sosiologis. meningkatnya tren dan citra sekolah yang berbasis Islam, dan ketiga faktor akademis. berkaitan dengan kemampuan sekolah Islam Terpadu mencapai prestasi akademik tinggi bagi para peserta didik (Suyatno, 2. Diskusi Artikel ini memperlihatkan secara kuantitas, literatur kelas menengah muslim di dunia publikasi Indonesia memiliki kesenjangan dalam mempersoalkan ketiga indikator dari kelas menengah itu sendiri. Dalam studi ini ditemukan bahwa artikel yang membahas politik kelas menengah muslim di Indonesia sebanyak 12 artikel, terutama artikel yang di tajuknya menuliskan AuKelas Menengah MuslimAy. Artikel tersebut teridentifikasi mulai dari tahun 1994 sebanyak 1 artikel, 2011 sebanyak 1 artikel, 2015 sebanyak 2 artikel, 2016 sebanyak 3 artikel, 2018 sebanyak 1 artikel, 2019 sebanyak 3 artikel dan di tahun 2020 sebanyak 1 artikel. Selanjutnya studi ini juga menemukan artikel yang membahas tentang ideologi kelas menengah muslim di Indonesia sebanyak 5 artikel. Artikel ini teridentifikasi mulai dari tahun 2016 sebanyak 1 artikel, tahun 2017 sebanyak 3 artikel dan di tahun 2020 sebanyak 1 artikel. Sementara itu studi ini juga menemukan bahwa ada sebanyak 39 artikel yang membahas tentang gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia. Hal ini teridentifikasi mulai dari tahun 2000 sebanyak 1 artikel, 2009 sebanyak 1 artikel, 2011 sebanyak 1 artikel, 2013 sebanyak 3 artikel, 2014 sebanyak 1 artikel, 2015 sebanyak 7 artikel, 2016 sebanyak 3 artikel, 2017 sebanyak 2 artikel, 2018 sebanyak 6 artikel, 2019 sebanyak 9 artikel, 2020 sebanyak 2 artikel dan di tahun 2021 sebanyak 1 artikel. Inilah yang dimaksud dengan kesenjangan yang disampaikan pada paragraf di atas, bahwa saat ini studi mengenai kelas menengah muslim di Indonesia masih didominasi oleh kajiankajian empirik, lebih khususnya soal gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia. Jika studi Jati . yang mengutip tulisan Ariel Haryanto di Majalah Prisma tahun 1990 mengatakan bahwa hingga periode 1990-an kajian kelas menengah muslim di Indonesia didominasi oleh kajian empirik dibandingkan dengan kajian konseptual-teoritik, epistimologi, maupun diskursif (Jati, 2017. Maka studi ini memperpanjang temuan tersebut bahwa sampai saat ini tahun 2021 fokus kajian kelas menengah muslim masih tetap didominasi oleh kajian yang empirik yang lebih cenderung melihat persoalan perilaku Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 11 dari kelas menengah muslim itu sendiri. Dominasi literatur kelas menengah muslim divisualisasikan pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Publikasi Kelas Menengah Muslim Berdasarkan Tahun Terbit Indikator Politik Kelas Menengah Muslim Ideologi Kelas Menengah Muslim Gaya Hidup Kelas Menengah Muslim Jumlah Sumber: data diolah peneliti Tahun Jumlah Total 12 Artikel 5 Artikel 37 Artikel 54 Artikel Literatur di atas memperlihatkan tiga temuan penting dari kelas menengah muslim di Indonesia. Pertama. bahwa dari literatur yang membahas tentang politik kelas menengah muslim Indonesia menemukan bahwa secara politik kelas menengah muslim Indonesia lebih cenderung mengekspresikan politiknya ke dalam bentuk gerakan. Dengan pola itu kelas menengah muslim mampu memobilisasi massa dengan menggunakan sentimensentimen agama sebagai stimulus jalannya pergerakan yang dibentuk. Kedua. ideologi kelas menengah muslim, ditemukan dari literatur yang ada bahwa post-islamisme . onservatisme-fundamentalism. dan populisme telah menjadi bagian dari ideologi kelas menengah muslim di Indonesia. Kedua ideologi tersebut sama-sama menekankan kepada bagaimana keberislaman dan kesalehan ditampilkan di wilayah-wilayah publik dan sekaligus memberikan implikasi terhadap gaya hidup kelas menengah muslim itu sendiri. Temuan ketiga. merupakan pengartikulasian dari ideologi yang diadopsi oleh kelas menengah muslim di Indonesia yakni tentang gaya hidup dan pengekspresian kesalehan di dalam kehidupan. Literatur yang ada menemukan bahwa kesalehan kelas menengah muslim diartikulasikan dengan pengkonsumsiannya terhadap simbol-simbol keagamaan di seluruh wilayah kehidupan mulai dari fashion pakaian, pola berkeluarga, pemilihan tempat tinggal, pilihan makanan, pemakaian produk, pilihan pendidikan, gaya bermedia sosial, gaya berdakwah dan hingga gaya pendekatan kepada tuhan. Dengan gaya hidup keberagamaan yang khas dari kelas menengah muslim, pada akhirnya mampu menjadi identitas sebagai penciri atas kemusliman kelas menengah di Indonesia. Identitas keislaman yang ditampilkan, merupakan hasil dari persilangan-persilangan paham dan corak keagaman yang konsumsi dalam dunia modern, yang sifatnya tidak statis melainkan dinamis, pragmatis dan sangat kondisional. Kesimpulan Artikel telah menunjukkan bahwa ternyata studi kelas menengah muslim di Indonesia dari tahun 1990-an hingga dewasa ini masih banyak berfokus di tataran empirik dari kelas menengah itu sendiri. Sehingga yang terjadi adalah bagian dari kelas menengah muslim seperti AuideologiAy sedikit ditemukan di dalam literatur yang ada di Indonesia. Selain itu, telah terjadi juga kecenderungan bahwa ketika yang dibahas dari kelas menengah muslim di Indonesia adalah politik dan ideologi, maka yang muncul adalah paradigma maskulin. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 12 | M. Yusuf. Afrizal. Bob Alfiandi sisi lain, ketika pembicaraan dari kelas menengah muslim itu adalah soal gaya hidup, kecenderungan yang muncul adalah paradigma feminis. Keduanya sama-sama memiliki kekosongan, atas dasar itu menelaah kelas menengah muslim dari dua paradigma atau perspektif baik maskulin maupun feminis di masing-masing indikator adalah kajian yang patut dilakukan untuk melengkapi studi-studi kelas menengah muslim yang ada di Indonesia. Disampaikan bahwa penelaahan literatur kelas menengah muslim secara online di publikasi Indonesia adalah keterbatasan dari artikel ini. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada Indonesian Journal of Religion and Society (IJRS) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat berkontribusi dalam publikasi i artikel ilmiah meta analisis dari kelas menengah muslim di Indonesia kali ini. Konflik Kepentingan Dalam penulisan artikel ini, penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan kepada pihak manapun. Semua rujukan yang digunakan di dalam artikel ini, dikutip dan dicantumkan sebagaimana ketentuan dari penulisan artikel ilmiah. Daftar Pustaka