Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Pemikiran Ki Bagus Hadikusumo tentang Moderasi Beragama Materi Komitmen Kebangsaan dan Implementasinya dalam Pembelajaran PAI (Studi Tokoh dengan Perbandingan Pemikiran Nurcholish Madji. Abdul Azis*) Universitas Singaperbangsa Karawang. Jawa Barat. Indonesia azis@fai. Raden Muhammad Ardiansyah Kurniawan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Jambi. Indonesia ak93@gmail. *)Corresponding Author Received: 26-04-2025 Revised: 24-05-2025 Approved: 24-05-2025 Abstrak Rendahnya nilai komitmen kebangsaan pada kalangan peserta didik yang ditandai dengan gejala intoleransi dan kesenjangan sosial seperti tawuran antar remaja yang masih merajalela. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji pemikiran Ki Bagus Hadikusumo tentang moderasi beragama dalam materi komitmen kebangsaan serta implementasinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi tokoh dengan pendekatan kualitatif jenis Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima poin utama Ki Bagus Hadikusumo mengenai moderasi beragama dalam materi komitmen kebangsaan yakni: akidah, akhlak pemimpin, visi kenegarawanan, sumbangan pemikiran, serta politik yang Pemikiran ini dibandingkan dengan pemikiran Nurcholish Madjid yang menekankan pentingnya keberagaman dan keterbukaan dalam membangun kehidupan Implementasi dalam pembelajaran PAI dapat mendorong peserta didik memiiki karakter religius dan nasionalis serta menumbuhkan jiwa moderat. Kata Kunci: Ki Bagus Hadikusumo. Moderasi Beragama. Komitmen Kebangsaan. Pendidikan Agama Islam. Nurcholish Madjid. Abstract The low level of national commitment among students is evident in increasing signs of intolerance and social inequality, such as the widespread occurrence of teen brawls. The purpose of this study is to examine Ki Bagus Hadikusumo's thoughts on religious Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 moderation in the topic of national commitment and its implementation in Islamic Education (PAI) learning. This research employed a biographical study method using a qualitative, literature review-based approach. The results described that there are five main points of Ki Bagus HadikusumoAs thought regarding religious moderation in national commitment material, namely: faith, leader morals, statesmanship vision, thought contribution, and clean politics. This thought is compared with Nurcholish Madjid's thought which emphasizes the importance of diversity and openness in building national life. Its Implementation in Islamic Education learning can promote studentsAreligious and nationalistic characters and foster a spirit of moderation. KEYWORD: Ki Bagus Hadikusumo. Religious Moderation. National Commitment. Islamic Education. Nurcholish Madjid PENDAHULUAN Islam telah lama bersikap defensif dan sudah lama dilihat oleh kaum sekularis menjadi sistem yang ketinggalan zaman, tidak tepat untuk menangani beberapa permasalahan yang terdapat pada masyarakat modern. (Saepullah, 2017, p. Korelasi antara Islam dan negara di Indonesia dibuktikan dengan berdirinya beberapa pemerintahan Islam, bahkan kerajaan-kerajaan Islam termasuk pada nusantara yang sebagian besar kepulauanya sebagai bagian dari Indonesia terkini. (Mujahidin, 2012, p. Keberadaan kerajaan-kerajaan dan negara-negara Islam tersebut merupakan wujud dari kesungguhan penganutnya dalam menerapkan ajaran-ajaran dasar dari al-Quran yang telah diwahyukan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Aalaihi wa Salam (Mujahidin, 2012. Oleh itu dengan adanya komitmen negara maka akan menjadikan negara utuh atau negara yang sesuai dengan syariAat islam guna mewujudkan syumuliyatul Islam. Syumuliyatul Islam berasal dari kata AuSyumlAy yang artinya sempurna atau khusus (Munawwir, 1. dan Auaslama-yuslimuAy yang artinya selamat atau agama Islam (Munawwir, 1. sehingga maknanya adalah kekhususan agama Islam atau kesempurnaan agama Islam. Islam merupakan agama yang diterima dan diridhai oleh Allah Tala, sebagaimana yang termaktub dalam firmannya AuSesungguhnya agama . ang diridha. disisi Allah hanyalah IslamAy. QS. Ali Imran: 19. Dalam ayat ini sudah jelas menunjukkan tidak ada agama lain selain agama islam yang diridhoi dan diterima disisi Allah Tala. Islam menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya mengartikan sebagai Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 al-IstislAm maknanya menyerah patuh, taat, mengikuti, serta membuat kitab Allah sebagai hakim dalam memutuskan segala perkara manusia. (Quthub, 1992, p. Penelitian tentang konsep negara menurut islam sudah pernah ada yang mengkaji salah satunya adalah yang ditulis oleh Abdul Mufid tahun 2020, yang menuliskan tentang konsep negara ideal dalam perspektif al-Quran. Penelitian ini mengkaji tiga surat yang ada di al-Quran, yakni QS. Al-Baqarah: 126. QS. Ibrahim: 35. QS. SabaA: 15, dan QS. Al-Tin: 3 dan menghasilkan penelitian terkait karakteristik dan ciri-ciri dari negara ideal menurut ayat-ayat di atas. (Mufid, 2020, p. Hasil pembahasannya yakni situasi alam dan sumber daya yang ada padanya memberikan kebanggaan sebagai kawasan yang menempati wilayah tersebut, kebutuhan pokok terutama pangan sebagai hasil pertanian, pakaian, dan tempat tinggal, dukungan dan kemampuan mengelola sarana irigasi, dan keamanan dalam melaksanakan berbagai aktifitas dipenuhi. (Mufid, 2020. Penelitian kedua yang diteliti oleh Saepullah tahun 2017 tentang konsep negara dalam perspektif pemikiran politik Islam (Telaah atas Konsep Khilafah dan Salaf. , hasil dari penelitian ini adalah dari sisi ketatanegaraan ada dua kubu akademisi yang bertolakbelakang ketika menempati wilayah otoritas Muhammad SAW. Solusi paling tepat dari semangat kedua kelompok yang berseberangan ini adalah melalui pendekatan kompromi. (Saepullah, 2017. Dua penelitian di atas bahwasanya peneliti lebih mengkonsepkan negara ideal berdasarkan al-Quran dan politik Islam dan kedua penelitian lebih dilihat dari segi Sedangkan pada penelitian ini untuk melihat negara utuh dilihat dari konsep moderasi beragama materi komitmen kebangsaan perspektif Ki Bagus Hadikusumo sendiri belum ada yang meneliti ditambah penelitian ini akan membahas konsep tersebut diimplementasikan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hal ini bahwasanya konsep moderasi beragama materi kebangsaan perspektif Ki Bagus Hadikusumo yang diimplementasikan pada materi pembelajaran PAI menjadikan peserta didik mampu memiliki komitmen kebangsaan dalam menciptakan Islam yang Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada konsep negara dalam Al-Quran atau perspektif politik Islam, penelitian ini menitikberatkan pada pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dalam membangun konsep moderasi beragama melalui materi komitmen kebangsaan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Bagus Hadikusumo dipilih sebagai tokoh utama karena perannya yang signifikan dalam sejarah Indonesia, khususnya sebagai anggota BPUPKI yang ikut merumuskan dasar negara, serta sebagai tokoh Muhammadiyah yang menyeimbangkan nilai-nilai Islam dan nasionalisme. Pemikirannya menekankan pada penguatan akidah, pembentukan akhlak kepemimpinan, serta pentingnya politik yang bersih da beretika sebagai pilar negara yang beradab dan Islami. (Budiyanto et al. , 2018. Urgensi dari penelitian ini perlu untuk mengetahui konsep moderasi beragama materi komitmen kebangsaan karena untuk melihat bagaimana sikap pemimpin dalam mewujudkan komitmen kebangsaan yang utuh sebagai bentuk moderasi beragama. Selain itu perspektif tersebut diterapkan dalam pembelajaran PAI untuk semakin memperkuat rasa kebangsaan pada diri yang berlandaskan Islam. Hal ini diwujudkan dalam pembelajaran PAI agar membentuk pribadi yang bangga atas bangsanya sebagaimana Islam memiliki komitmen bangga terhadap bangsanya sehingga dalam bernegara akan berlandaskan Islam yang kaffah. METODE PENELITIAN Metode merupakan salah satu cara sangat populer dan komprehensip yang digunakan para peneliti untuk memperoleh dan menguji prinsip-prinsip, hukum, dan (Setyosari, 2. Pada penelitian ini merupakan penelitian studi tokoh yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. yaitu penelitian yang tidak perlu terjun ke lapangan, penelitian ini memanfaatkan buku-buku di perpustakaan (Yusuf, 2. seperti buku-buku maupun referensi yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini. Sumber primer yang digunkana pada penelitian ini adalah buku karya Budiyanto dkk. Berjudul Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam. Pancasila, dan Negara yang secara langsung mengkaji biografi intelektual dan kontribusi pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dalam konteks kebangsaan dan keislaman. Sumber data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah, buku-buku keislaman, tafsir, dokumen sejarah, serta karya tokoh pembanding yaitu Nurcholish Madjid khususnya buku yang berjudul Islam. Kemodernan, dan Keindonesiaan yang menjadi rujukan penting untuk menganalisis pemikiran tokoh pembanding dalam isu moderasi beragama dan komitmen kebangsaan. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Dalam analisis data menggunakan metode analisis isi dimana metode ini dilakukan dengan cara membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru, dan kesahihan data dengan memperhatikan konteksnya. (Samsu, 2017, p. Mengidentifikasi informasi secara sistematis dan objektif. (Achmad, 2. pada proses analisis dilakukan melalui beberapa tahap yakni: mengidentifikasi gagasan utama dari pemikiran Ki Bagus Hadikusumo mengenai moderasi beragama dan koitmen kebangsaan. Menginterpretasi ide berdasarkan konteks social, politik, dan keagamaan. Membandingkan pemikiran antara Ki Bagus Hadikusumo dan Nurcholish Madjid untuk mengunkap kesamaan dan Merefleksi pemikiran tersebut pada konteks pembelajaran PAI di Indonesia HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Ki Bagus Hadikusumo Ki Bagus Hadikusumo lahir pada hari Senin Pahing 11 RabiAul Akhir tahun 1308 H bertepatan dengan tanggal 24 November 1890 dari keluarga Priyayi-Santri Kauman Indonesia, putra keempat dari delapan bersaudara. Yusak. Syujak. Fakhruddin. Ki Bagus. Zaini. Siti Bariyah. Siti Munjiyah, dan Siti Walidah. (Hakim, n. , pp. 2Ae. Bapaknya Raden Kaji Lurah Hasyim yang merupakan Abdi Dalem . lurah bidang keagamaan dan kesultanan Yogyakarta, sedangkan kakeknya adalah Raden Kaji Lurah Ismail yang merupakan pejabat bidang keagamaan dan kesultanan Indonesia. (Budiyanto et al. , 2018. Nama kecil Ki Bagus adalah R. Dayat atau Hidayat. (Budiyanto et al. , 2018. Dari kecil Ki Bagus dididik dan tumbuh sebagai seorang yang sangat bersahaja secara ekonomi dan sosial. (Budiyanto et al. , 2018. Seperti pada umumnya keluarga santri. Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orangtuanya dan beberapa kiai Kauman. (Budiyanto et al. , 2018. Setelah selesai dari Sekolah Ongko Loro . iga tahun tingkat Sekolah Dasa. , ia belajar di pesntren Wonokromo Indonesia. Dipesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqih dan tasawuf. Ki Bagus sendiri adalah murid pertama KH Indonesia Dahlan bersama dua saudaranya KH Syujak dan KH Fakhruddin, serta Haji Mohtar. (Budiyanto et al. , 2018. Meskipun sekolahnya hanyalah sekolah rakyat di tambah belajar al-Quran dan tumbuh di lingkungan pesantren, ia menjadi seorang yang saleh dan pemimpin umat karena kerajinan dan ketekunan mempelajari dan memahami kitab-kitab terkenal. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Bagus adalah pemimpin Ki Bagus Hadikusumo yang memiliki Indonesia sangat penting pada penyusunan Muqadimah UUD 1945 karena beliau merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Keanggotaan Ki Bagus sangat besar dalam perumusan muqadimau UUD 1945 dengan menyajikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaan, dan keadilan. (Budiyanto et al. , 2018. Moderasi Beragama Materi Komitmen Kebangsaan Moderasi beragama tidak hanya berbicara tentang prinsip-prinsip ajaran agama (T. Hidayat et al. , 2. Namun moderasi beragama sendiri memiliki makna menempatkan nilai-nilai agama secara bijak dan seimbang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Suwantoro et al. , 2. Menempatkan nilai-nilai agama secara bijak dan seimbang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka akan memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi. (Chadidjah et al. , 2. Dalam islam konsep ini disebut dengan Syumuliyatul Islam. Secara bahasa A aoNAadalah A OaoU OAyakni keumuman dan keluasan. (Al-Sufyan, 1988, p. Secara istilah adalah penetuan hukum syariat islam pada setiap apa-apa yang dibutuhkan manusia secara mutlak maka janganlah melanggar ketentuan satupun terkait hukum syariah pada masa-masa, daerahdaerah, serta perbuatan-perbuatan, oleh karena itu syariah berisi tentangnya yakni keumuman kejadian-kejadian dan keluasan hari kiamat. (Al-Sufyan, 1988. Konsep syumuliyatul Islam dapat membentuk jiwa komitmen kebangsaan yang baik. Syaikh Hasan Al-Bana dalam membagi konsep Syumuliyyatul islam menjadi tiga, yakni: Sesungguhnya Islam adalah sebuah risalah yang menjangkau dimensi yang terbentang memanjang hingga mencakup keabadian zaman, ia dimensi yang terbentang melebar sehingga mengatur seluruh kehidupan manusia di dunia, dan ia menjangkau dimensi yang terbentang hingga meliputi semua urusan dunia dan akhirat. (AlQardhawi, 1983, p. Berikut ciri-ciri syumuliyatul islam menurut Syahid Al-Bana: Syumuliyah Zaman Syumuliyah zaman adalah sebuah risalah yang berlaku bagi semua usia serta generasi, tidak karangan yang dibatasi oleh periode tertentu, pelaksanaannya selesai dengan selesainya masa lalu, seperti halnya makalah nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa Salam sebelumnya. Para nabi sebelum dia diutus pada Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 jangka waktu tertentu dan waktu yang terbatas. (Al-Qardhawi, 1983. Meskipun demikian para Rasul membawa kesatuan risalah sebagaimana firman Allah: aa a ac Ao sN au acEA a A eOea as ea Ca e aO aE as ea aA a Aa as a eA a A ai acia aacE uaOaia ua acE aca Aa eaAe aA uaOAuAoA AuDan Kami mengutus sebelum kamu dari seorang Rasul. Kami wahyukan kepadanya: ABahwasanya tidak ada Tuhan . ang ha. melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan AkuA. Ay (QS. Al-Anbiyaa, 21: . (RI, 2. Sehingga dalam hal ini semua Nabi membawa risalah satu yakni untuk menyembah Allah Subhanahu wa Tala. Islam adalah risalah zaman. Sedangkan Nabi Muhammad adalah adalah Nabi terakhir di muka bumi. Syumuliyah Makan Islam adalah pandangan kehidupan yang tidak dibatasi oleh batas-batas geografis tertentu, misalnya hanya untuk suku atau negara tertentu. Tapi Islam adalah din yang disyariatkan bagi seluruh umat manusia. Ada beberapa negara dan suku yang berbeda. (Al-Qardhawi, 1983. Hal ini termaktub dalam firman-Nya: Ao aN A A aacEA a Aa aA A Oaia as eOEa O AuaAU Oa A aI eU aAe acEEa uaOA a A aAuca aA uA a A a e a eA a Aac an OeAya Ay ACa eOA Aae as aa a Ay uaA a OAu Aseao a A ia AacEEa a aI aOa aA a a a ya ua A eaAy oa ia AauOaia au acEA a AacEEa a aA c sc a a A a eEAu c Ao aO ai Oe aA a Aa aaoea Oa aO aI eU a enaA AuKatakanlah Muhammad. AuWahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, yang memiliki kerajaan langit dan bumi. tidak ada tuhan yang berhak disembah selain dia, yang menghidupkan dan yang mematikan maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya . itab-kitab-Ny. Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjukAy. (QS. Al-AAraf, 7: . (RI, 2. Dan juga dalam firman yang lain Allah mengutus Nabi sebagai rahmatan lil Aalamin . ahmat bagi semesta ala. a aE ua acE a eaU aO eOaOA a eA eOA a Aa as a eA AuDan Kami mengutus kamu, untuk . rahmat bagi semesta alam. Ay (QS. AlAnbiya, 21: . (RI, 2. Sehingga Islam mencakup semua wilayah, baik suku maupun ras, wilayah maupun negara, bahkan seluruh alam agar menjadi rahmat bagi semesta alam. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 dengan cara beriman kepada Allah dan Rasulnya, tidak menyekutukan Allah dan beriman kepada kitab-kitabNya. Syumuliyyah Minhaj Bahwasanya risalah insan itu ada di cakupan-cakupan hidup, dan di setiap medan medan kegiatan pasti ada hal gembira, dan janganlah manusia berdoa kepada yang sisi-sisi lain dari kehidupan manusia kecuali menjadikan dirinya memiliki pendirian: seperti dalam ketetapan dan penguatan, kebenaran dan keadilan, dalam kesempurnaan, dalam perubahan, serta dalam melakukan intervensi menggunakan petunjuk. (Al-Qardhawi, 1983. Sehingga manusia tidak boleh menyeru selain atas petunjuk Allah seperti dalam berakhlak, dalam beramal baik dari segi material maupun ruhaniyah, sendiri maupun bersamaan, teroi maupun praktek, agama maupun politik serta baik itu ekonomi maupun akhlak (Al-Qardhawi, 1983. Semua ini adalah termasuk dari syumuliyyah minhaj. Syumuliyyah minhaj dibagi menjadi tiga, yaitu: Al-Asas Islam adalah pesan yang menyeluruh, seperti bangunan yang kuat. Landasan adalah akidah. Islam menguraikan jalan yang sempurna dalam Akidah membahas tentang ketuhanan, semesta alam, umat manusia, para nabi, dan akhirat. Jalan ini dirangkum dalam rukun iman. Berikut firman Allah terkait landasan islam: A a ea ae asaa a A ea A ae ae a a ca a aae asaa a eOCaa a a a Ua oe a A aO ai a eOA a AacEEa a asEa a aIa ai a aIaa ai a aA AuIman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,Ay (Utsaimin, 2. Al-Bina Dinding bangunan islam adalah akhlak (Al-Qardhawi, 1983. dan ibadah (Al-Qardhawi, 1983. Islam mengatur segala bentuk akhlak: baik akhlak individu, akhlak terhadap manusia dan akhlak terhadap Allah. Islam mengatur segala bentuk perbuatan atau akhlak dengan rapi. Sebagaiman Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlaknya. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 ACA a Ua ac a a Aauca a aea eEaA a a aO a eE a eEA AuBahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlak. Ay (HR. Ahma. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Musnad Imam Ahmad dengan nomor 512 (Hanbal, 164 C. b, p. dan hukum hadis ini adalah shahih dengan sanad yang kuat. (Hanbal, 164 C. b, p. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan nomor hadis 8 (BukhAr, 2002, p. , dan diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 16 (AlQusyair, 2006, p. Dan diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi dengan nomor 2609 (Al-Tirmidzy, 1996, p. , serta diriwayatkan Imam Ahmad dalam kitabnya dengan nomor 4798, 5672, 6015, 6301. (Hanbal, 164 C. a, p. Al-MuAayyidat Bangunan yang kokoh pasti memiliki pelindung. Pelindung dalam hal ini adalah dakwah dan jihad. Sebagaiman tugas rasul adalah untuk menyeru kebaikan dan menyembah Allah. Sebagaimana firman Allah Tala: A aa eO aa e aI aA a Aa e as a a eOa e aAya A aeAA eO aAoa eaoaa auOAy UAa eO a aI ea as e aI eU a sA a aaoe na e aya a aaoaOaa aE ai aU eO aa eA aO aA AuDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maAruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. Ay (QS. Ali Imran, 3: . Hadis Rasulullah shallallahu Aalaihi wa Salam memperjelas hal ini. Aa ea a eAy Ue aA Aa a ea OAUia acAA a Aa e a a e Aa a aOAy Ue aA Aa a ea OAUea Aa a ecea a a ase aI eU ase aI U Aa eOAoas ea aA a e a a aCa eO a ai aa aO aE A a A aA a aye AA e auEA AuSiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka . dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. Au(HR. Musli. (Utsaimin, 2. Hadis ini riwayat Imam Muslim dengan nomor 78 (Al-Qusyair, 2006, . dan di riwayatkan oleh Sunan Abu Daud dengan nomor 1140, 4340 (Al- Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Quzwain, 2009, p. , serta diriwaytakan oleh Sunan Tirmidzi dengan nomor 2172 (Al-Tirmidzy, 1996, p. Juga diriwayatkan oleh al-Nasai dalam kitabnya dnegan nomor 5998, 5009 (Al-Alban, 2004, p. , dan diriwayatkan oleh Musnad Ahad dengan nomor 11073, 11150, 11460, 11492, 11514, dan 11876 (Hanbal, 164 C. c, p. Konsep syumuliyatul Islam tersebut bahwa ajaran Islam menjadi pondasi penting dalam berbangsa dan bernegara yang senantiasa berkembang, tidak adanya perbedaan ras, suku, atau wilayahh yang dimana hal ini sejalan dengan semangat (Al-Sufyan, 1988. Selain itu bahwasanya konsep ini menunjukkan bahwa ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk membangun peradaban yang adil, beradab dan toleran. Sehingga syumuliyatul Islam mampu menciptakan moderasi beragama dalam komitmen kebangsaan menjadi nyata, dengan senantiasa mendorong umat untuk menjalankan ajaran agama secara utuh dan damai, serta memiliki peran aktif dalam menjaga persatuan, keadilan, dan kedamaian dalam bingkai Negara Kesatuan Rebpublik Indonesia. Pemikiran Ki Bagus Hadikusumo tentang Moderasi Beragama Materi Komitmen Kebangsaan dan Implementasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Seorang tokoh yang mengorbankan pekiran dan tenaganya untuk kemerdekaan Indonesia. Dalam pandangan Ki Bagus Hadikusumo konsep moderasi beraagama materi komitmen kebangsaan harus meliputi inti-inti sebagai berikut: tauhid atau aqidah (Budiyanto et al. , 2018. , akhlak pemimpin (Budiyanto et , 2018. , visi kenegarawanan (Budiyanto et al. , 2018. , sumbangan pemikiran (Budiyanto et al. , 2018. , dan pemikiran politik yang bagus dan bersih. (Budiyanto et , 2018. Sehingga menurut Ki Bagus Hadikusumo dalam mengkonsepkan moderasi beragama materi komitmen kebangsaan dalam pembelajaran PAI harus meliputi lima pokok atau inti yang sudah disebutkan di atas. Kelima aspek tersebut perlu diimplementasikan dalam pembelajaran PAI agar peserta didik tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang moderat, akan tetapi peserta didik juga memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Hal ini dapat menjadikan peserta didik berperan aktif dalam menjaga persatuan dan keamanan negara, keadilan, serta kedamaian dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasi Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 moderat beragama materi komitmen kebangsaan menurut Ki Bagus Hadikusumo dalam pembelajaran PAI terdapat pada materi demokrasi. Sebagaimana Ki Bagus Hadikusumo yang dengan tegas mengarahkan agar mengatur pemerintahan di landasi dengan islam, dan menjadikan beliau mengusulkan dan membela islam untuk dijadikan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. (Budiyanto et al. , 2018. Sebagaimana beliau dengan mantap mengatakan pada sidang BPUPKI: AuTuan-tuan dan sidang yang terkasih! Di negara kita tuan-tuan ingin memiliki pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur berdasarkan musyawarah dan keputusan konferensi, dan berwawasan luas yang tidak memaksakan agama. Jika ini benar, maka bangunlah pemerintahan untuk mengatur Islam, karena ajaran Islam mengandung sifat-sifat ini. Ay(Budiyanto et al. Selanjutnya Ki Bagus Hadikusumo kembali menegaskan: AuOleh karena itu Tuan-tuan, saya orang Indonesia sejati, orangtua saya orang Indonesia, nenek moyang saya orang Indonesa, mereka asli dan murni tanpa ada campurannya. sebagai seorang muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya Merdeka, maka supaya negara Indonesia itu dapat berdiri tegak dan teguh, kuat dan kokoh, saya berharap bangsa indonesia ini dapat dibangun atas agama Islam. Karena itu sejalan dengan keadaan jiwa kebanyakan orang seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Janganlah hendaknya jiwa yang 90% dari rakyat itu diabaikan saja, tidak diperdulikanAy. (Budiyanto et al. , 2018. Menurut Ki Bagus Hadikusumo, pendirian negara yang berasaskan Islam memungkinkan umat Muslim untuk menerapkan syariat Islam secara penuh dan bebas merdeka dalam menunaikan segala bentuk syariat. Apabila dalam memimpin negara di dasari oleh Islam maka niscaya Allah akan memberikan keberkahan berupa tanah yang subur, keberkahan rizki pada Negara yang berlandaskan Islam. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Nuh: 10-12 aCa eOa e a e aA aA a a a aI eU auciua aIA )ii( AA A ea a aO O Ay )ie( AA U A aIU a cs aeAe aAOA U AA A a Aa e aA s A e aO O aI eU a aeAya a aeA eaa a e aIU a a es a ao sN a aAya )ii( A e aO O aI eU a ec a an UAya a AA AuMaka aku berkata . epada merek. , "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh. Dia Maha Pengampun . Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu . dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmuAy . (QS. Nuh :10-. Dari Sayyid Qutub menjelaskan dalam tafsirnya Allah memberikan mereka makanan yang berlimpah dan mudah melalui alasan yang sudah mereka ketahui dan mereka harapkan darinya. Yakni, hujan deras yang akan menyebabkan pertubuhan tanaman dan irigasi akan lancar. Seperti yang dijanjikan Nabi Nuh kepada mereka, bahwa Allah akan memberikan rezeki lain berupa anak-anak yang mereka cintai dan harta yang mereka cari dan banggakan. (Qutub et al. , 2004, p. Sayyid Qutub mengatakan bahwa Nuh menggabungkan istighfar dengan rezeki ini, pada dasarnya di beberpa tempat dalam al-Quran juga berulang kali menyebutkan rahmat dan istiqamah yang terkait dengan petunjuk Allah kemudahan rezeki dan kemakmuran umum. (Qutub et al. , 2004. Sumbangan Pemikiran Ki Bagus Hadikusumo sebagai seorang tokoh Ki Bagus Hadikusumo dan tokoh pergerakkan Islam di Indonesia. Ki Bagus juga dikenal sebagai seorang yang alim dan pendakwah. (Budiyanto et al. , 2018. Dalam perjalanannya untuk memerdekakan bangsa indonesia beliau ikut andil dalam pembentukan sidang BPUPKI yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 1945. (Budiyanto et al. , 2018. Selain itu sumbangan pemikiran Ki Bagus Hadikusumo ada dua ide besar, yakni ide pemikiran dalam bidang agama dan ide pemikiran dalam bidang politik. (Budiyanto et al. , 2018. ide pemikiran di bidang agama menurut beliau sentral pemikirannya ada pada iman. Islam dan hakekat gerakan islam, sehingga islam tidak hanya di pahami sebagai agama yang bersifat individu eksklusif tetapi agama islam adalah agama sosial yang inklusif dan terbuka. Sedangkan ide pemikiran politik beliau difokuskan pada permasalahan hubungan antara agama dengan negara. Sehingga menurut beliau agama adalah obat yang mujarab untuk menyehatkan cara berpolitik. (Budiyanto et al. , 2018. Seperti wahabi dan jajaran komunitas pembaharu lainnya, mereka telah Islam kontemporer, tentang sifat Negara Islam. (Saepullah, 2017. Hal ini Ratu Balqis dalam memerintah negri SabaA dimana beliau mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan terbaik untuk membangun sebuah dam atau Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 bendungan yang disebut Saddu MaArib(I. Katsir, 2. yang dibangun di mulut lembah diantara dua gunung guna memanfaatkan air hujan. Bendungan ini digunakan untuk mengaliri dua kebun yang ada di sebelah kanan dan kiri. Selain itu guna memanfaatkan dua kebun yang sangat subur. Ratu Balqis mengumpulkan ilmuwan dalam bidang tanaman untuk mencari bibit-bibit terbaik yang ditanamkan di dua kebun tersebut. (Qutub, 2. Sumbangan pemikiran merupakan Langkah strategis umat islam dalam pembangunan nasional. Sebagaimana Ki Bagsu Hadikusumo mendorong umat untuk berperan aktif dalam menyumbangkan ide-ide konstruktif demi terwujudnya masyarakat sejahtera yang adil dan Makmur. Penanaman nilai sumbangan pemikiran pada peserta didik perlu dalam pembelajaran PAI untuk mewujudkan nilai-nilai moderasi beragamma dalam memberikan gagasan-gagasan konstruktif untuk kemajuan suatu bangsa. Pentingnya para peserta didik dalam memaksimalkan ilmu pengetahuan yang sudah dipejarinya maka diwujudkan dalam sumbangan pemikiran guna untuk mensejahterakan negara dan masyarakatnya sehingga terciptanya negara yang berasaskan keislaman demi terwujudnya syumuliyatul Dengan penanaman nilai ini makan peserta didik mampu mencerminkan tanggung jawab moral umat beragama dalam pembanguna nasional Politik yang bagus dan bersih Menurut Ki Bagus Hadikusumo sumber hukum tersebut berdasarkan alQuran dan al-Hadis yang mengandung: hukum ibadah, hukum susila, hukum muamalah, dan hukum jinayat dan hudud . ukum pidan. (Budiyanto et al. , 2018. Sehingga Ki Bagus Hadikusumo mengharapkan pemimpin politik sejati dimana Ki Bagus Hadikusumo menggunakan kata pemimpin otentik yang memiliki ciri-ciri. berani, daya tahan, bangga, perilaku yang baik,persahabatan, dan kebenaran, serta ada yang mengatakan integritas dan kejujuran. (Budiyanto et al. , 2018. Terminologi ikhlas lahir bathin yang digunakan Ki Bagus Hadikusumo yang digunakan untuk mengacu pada originalitas seorang pemimpin politik yang bersumber dari agama Islam yang tercermin dari rumah dan cara hidupnya. Sedangkan Ki Bagus Hadikusumo sendiri mendasarkan pada nilai-nilai dasar kehidupan politik harus meliputi. l-AAdAla. , persaudaraan . lUkhuwwa. , persamaan . l-MusAwA. , musyawarah . l-SyrA), pluralitas . l- Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Taddudiyya. , perdamaian . l-Sil. , pertanggungjawaban . l-MasAuliyya. , dan otokritik . l-Naqd al-Ati. (Muhammadiyah, 2018, pp. 9Ae. Pembelajaran PAI mengajarkan kepad peserta didik agar memiliki pikiran yang baik dan jiwa yang bersih. Pembelajaran politik yang baik dan bersih pada pembelajaran PAI harus senantiasa dipelajari agar peserta didik memiliki jiwa yang bersih dan beretika. Pembelajaran politik yang baik dan bersih merupakan cerminan nilai-nilai moderat. Sehingga peserta didik akan mampu mendukung terciptanya politik yang adil, jujur, dan mengayomi masyrakat. Oleh itu peserta didik mampu menolak segala bentuk fanatisme, kekerasan, politik yang memcah belah. Politik yang bersih menjadi ikatan moderasi dalam ranah kenegaraan. Bagus Hadikususmo menganggap politik itu tidak boleh lepas dari etika dan Hukum dan kebijakan negara harus berdasarkan nilai-nilai keadilan, musyawarah, dan tanggung jawab yang bersumber dari ajaran Islam. Hal ini sikap politik dari peserta didik adalah dalam menjalankan suatu hukum harus sesuai dengan al-Quran dan al-Hadis. Selain itu terciptanya peserta didik memiliki sifat ikhlas lahir batin sehingga terciptanya negarawan yang berani, daya tahan kuat, bangga, perilaku yang baik, persahabatan, dan kebenaran, integritas, serta jujur. Dari hal tersebut apabila negarawan memiliki ciri-ciri tersebut maka akan terciptanya keadilan . l-AAdAla. , persaudaraan . l-Ukhuwwa. , persamaan . lMusAwA. , musyawarah . l-SyrA), pluralitas . l-Taddudiyya. , perdamaian . lSil. , pertanggungjawaban . l-MasAuliyya. , dan otokritik . l-Naqd al-Ati. sehingga nilai moderat beragama materi komitmen kebangsaan dapat mewujudkan negara yang sesuai syariat dan terciptanya syumuliyatul islam. Perbandingan Pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dan Nurcholish Madjid Pada pembahasan kali ini membandingkan pemikiran Ki bagus Hadiusumo dengan Nurcholish Madjid pada studi tokoh menjadi penting, terutama sebagaimana pembahasan pada penelitian ini mengenai moderasi beragama dengan tema komitmen Baik Ki bagus Hadiusumo maupun Nurcholish Madjid merupakan figure utama yang memiliki perhatian sangat besar terhadap hubungan antara agama dan Meskipun demikian keduanya memiliki pemikiran dengan pendekatan yang berbeda secara mendasar. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Sebagaimana Ki bagus Hadiusumo merupakan tokoh yang menekankan pentingnya keterlibatan nilai-nilai Islam dalam struktur kenegaraan. Keterlibatan beliau dalam Menyusun muqaddimah UUD 1945. Baginya ajaran Islam tidak hanya sebatas ritual saja akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pengaturan social dan pemerintahan. Konsep moderasi beragama dalam pandangannya diwuudkan melalui integrasi nilai tauhid, akhlak, memiliki visi kenegaraan yang jelas, dapat menyumbangkan pemikiran serta keadilan social dalam kerangka politik bersih dan Ki bagus Hadiusumo berpendapat bahwa pembentukan negara yang adil dan makur hanya dapat diwujudkan ke dalam system pemerintahan yang dijalankan berdasarkna nilai-nilai moral Islam yang bersumberkan kepada Al-Quran dan Sunah. Oleh karena itu. Ki bagus Hadiusumo mendukung dan mendorong agar Islam dijadikan sebagai landasan kode etik dan ideologis dalam penyelenggaraan negara. (Budiyanto et , 2018. Berbeda dengan Ki bagus Hadiusumo. Nurcholish Madjid merupakan seorang cendekiawan Muslim modernis yang mengembangkan pendekatan lebih kontekstual mengenai hubungan antara agama dan negara. (Setiawan, 2. Nurcholish Madjid berpandangan bahwa dalam masyarakat plural sebagaimana Indonesia, bahwasanya penegakkan syariat Islam sebagai system formal negara tidaklah relevan bahkan dapat menyebabkan konflik ideologis. Nurcholish Madjid dalam tulisannya menekankan bahwa Islam itu harus dimanfaatkan sebagai fungsi sumber etika public dan bukan sebagai ideologi politik negara. Nurcholish Madjid berpandangan bahwa Islam tidak harus dilembagakan dalam bentuk negara Islam, melainkan cukup menjadi inspirasi moral yang mendukung kehidupan public. (Dewi, 2. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa nilai-nilai Islam harus dijadikan landasan utama dalam membangun masyarakat yang demokratis dan berkeadaban seperti keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan tanggung jawab social. Sehingga Nurcholish Madjid menyatakan bahwa agama dan negara perlu dipisahkan secara kelembagaan akan tetapi nilai-nilai agama tetap penting dalam membimbing masyarakat dalam hidup (Madjid, 1. Pemikiran ini seirama dengan semnagat moderasi beragama dalam mendorong umat Islam untuk menghayati agamanya secara mendasar dan terbuka dari semua kalangan, bukan sekadar simbolik atau formalistic. (Dias et al. (Siti Nurhamidah Auliani et al. , 2. Abdul Azis, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 KESIMPULAN Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwasanya pemikiran Ki Bagus Hadikusumo tentang moderasi beragama dalam materi komitmen kebangsaan relevan dalam konteks pendidika karakter kebangsaan dan keagamaan. Ki Bagus Hadikusumo dalam mengkonsepkan moderasi beragama materi komitmen kebangsaan harus meliputi inti-inti sebagai berikut akidah akhlak pemimpin, visi kenegarawanan, sumbangan pemikiran serta politik yang bersih sebagai landasan nilai yang kuat dalam membentuk peserta didik yang religious, nasionalis dan berjiwa moderat. Sedangkan pemikiran Nurcholish Madjid bila dibangdingkan dengan Ki Bagus Hadikusumo terdapat kesamaan dalam semangat membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadaban. Namun terdapat perbedaan pada pendekatannya yakni Ki Bagus HAdikusumo lebih menekankan integrasi nilai-nilai Islam ke dalam system kenegaraan, sedangkan Nurcholish Madjid lebih menekankan pada pentingnya nasionalisme yang berakar dari kesadaran religious, namun tetap menghormati perbedaan. Keduanya baik Ki Bagus Hadikusumo dan Nurcholish Madjid mengajarkan pentingnya nilai moderasi dalam kehidupan beragama dan berbangsa, baik melalui penguatan spiritualitas maupun pengembangan sikap terbuka terhadap keberagaman. sImplementasi pemikiran ini dalam pembelajaran PAI sangat penting dalam membentuk peserta didik memiliki kecerdasan spiritual dan nasionalisme. Selain itu mampu menjadikan peserta didik untuk hidup damai di tengah perbedaan dan berkontribusi secara aktif dalam menjaga persatuan bangsa. DAFTAR PUSTAKA