Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Penerapan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) untuk Meningkatkan Literasi Membaca Siswa Sekolah Dasar Author: Tiara Suci Ramadhani1 tsucir2203@gmail. Fepryna Yenti2 feprynayenti@gmail. Abdul Istiqlal 3 Abdulistiqlal618@gmail. Majidah Khairani4 majidah1907@gmail. Afiliation: STKIP Ahlussunnah Bukittinggi. Indonesia1,2,3,4 Corresponding email majidah1907@gmail. Histori Naskah: Submit: 14-05-2026 Accepted: 17-05-2026 Published: 18-05-2026 How To cite: This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License Abstrak: Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca siswa SD yang ditunjukkan melalui kesulitan mengenal huruf, membaca dengan mengeja, membaca lambat, serta rendahnya pemahaman bacaan sederhana. Oleh karena itu, diperlukan suatu program pendampingan membaca yang efektif, untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa secara bertahap dan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar di SD Negeri 21 Pasir Tinggi. Metode Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif sederhana. Subjek penelitian terdiri dari 31 siswa yang mengalami kesulitan membaca. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa. Pendampingan membaca dilakukan secara bertahap melalui pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan membaca, latihan membaca rutin, serta pendampingan individual dan pembelajaran interaktif. Hasil Penelitian Setelah pelaksanaan program, jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami penurunan pada beberapa indikator, seperti mengenal huruf, membaca mengeja, kesalahan pengucapan, dan membaca lambat. Selain itu, kemampuan membaca lancar dan memahami bacaan sederhana juga mengalami peningkatan. Program ini tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan membaca siswa, tetapi juga meningkatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan membaca. Kesimpulan : Pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca, pemahaman bacaan, motivasi belajar, rasa percaya diri, serta partisipasi aktif siswa melalui pendampingan membaca yang dilakukan secara bertahap, intensif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Gerakan PRO. kemampuan membaca. literasi membaca. sekolah dasar. Pendahuluan Kemampuan literasi membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa sekolah dasar sebagai fondasi dalam memahami pembelajaran pada seluruh mata pelajaran. Literasi membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenal huruf dan membaca teks, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Pada era pendidikan modern dan perkembangan society 5. 0, kemampuan literasi menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu, peningkatan literasi Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. membaca pada jenjang sekolah dasar perlu menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dirilis oleh (OECD, 2. , kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Indonesia memperoleh skor membaca sebesar 359, sedangkan rata-rata OECD mencapai 476. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan, menemukan informasi penting, serta menghubungkan isi teks dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan literasi membaca masih menjadi tantangan nasional yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Rendahnya kemampuan literasi membaca juga diperkuat oleh hasil Asesmen Nasional (AN) Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik sekolah dasar belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi membaca. Banyak siswa hanya mampu membaca secara teknis, tetapi belum mampu memahami makna bacaan secara utuh. Permasalahan ini semakin kompleks setelah terjadinya pandemi Covid-19 yang menyebabkan proses pembelajaran dilakukan secara daring dalam waktu yang cukup lama. Perubahan sistem pembelajaran tersebut berdampak pada menurunnya kualitas belajar siswa, khususnya pada kemampuan membaca permulaan di tingkat sekolah Permasalahan serupa ditemukan di SD Negeri 21 Pasir Tinggi Kabupaten Agam. Berdasarkan hasil observasi selama 2 minggu ditemukan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam Beberapa siswa belum mengenal huruf dengan baik, belum mampu membedakan bunyi vokal dan konsonan, membaca dengan cara mengeja, serta mengalami kesulitan memahami isi bacaan. Selain itu, siswa juga menunjukkan kemampuan membaca yang lambat dan kurang percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif karena siswa mengalami hambatan dalam memahami materi pelajaran. Permasalahan literasi di sekolah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, dampak pandemi Covid-19 menyebabkan siswa kehilangan kesempatan belajar secara optimal selama pembelajaran daring. Kedua, keterbatasan akses teknologi dan jaringan internet di wilayah sekolah menghambat proses pembelajaran online. Ketiga, kurangnya pendampingan belajar dari orang tua juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan membaca siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, sebagian orang tua siswa memiliki keterbatasan kemampuan membaca dan sebagian besar bekerja dari pagi hingga sore sehingga tidak dapat mendampingi anak belajar di rumah secara maksimal. Temuan tersebut sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa rendahnya literasi membaca siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh minimnya pembiasaan membaca, rendahnya motivasi belajar, keterbatasan sarana pembelajaran, serta kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak. Penelitian yang dilakukan oleh (Antasari, 2. menunjukkan bahwa pembelajaran pascapandemi menyebabkan penurunan kemampuan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar, terutama di daerah terpencil dengan akses pendidikan yang terbatas. Penelitian lain oleh (Sari & Nugroho, 2. juga menjelaskan bahwa program pendampingan literasi melalui pembelajaran interaktif mampu membantu meningkatkan kemampuan membaca siswa secara bertahap. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. SD Negeri 21 Pasir Tinggi melaksanakan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Program ini merupakan strategi pendampingan literasi membaca yang dilakukan secara bertahap melalui pengenalan huruf, suku kata, membaca sederhana, hingga memahami isi Program PRO dirancang dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi peningkatan literasi membaca siswa melalui Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) serta melihat perkembangan kemampuan membaca siswa selama pelaksanaan program Gerakan PRO di SD Negeri 21 Pasir Tinggi. Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Literasi membaca merupakan kemampuan individu dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi yang diperoleh dari teks tertulis untuk mencapai tujuan tertentu. Kemampuan literasi tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca secara teknis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami makna bacaan serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Menurut (Abidin, 2. , literasi membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas melalui berbagai aktivitas membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan potensi (Dalman, 2. menjelaskan bahwa membaca merupakan suatu proses berpikir untuk memahami isi teks yang dibaca. Dalam proses tersebut, pembaca tidak hanya mengenali simbol atau huruf, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalam bacaan. Oleh karena itu, kemampuan membaca menjadi keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa sejak jenjang sekolah dasar karena sangat memengaruhi keberhasilan belajar pada mata pelajaran lainnya. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat. Definisi tersebut menunjukkan bahwa literasi membaca memiliki peranan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan membaca permulaan merupakan tahap awal dalam proses pembelajaran membaca yang umumnya diberikan pada siswa sekolah dasar kelas rendah. Pada tahap ini siswa mulai dikenalkan pada huruf, bunyi huruf, suku kata, kata, hingga kalimat sederhana. Menurut (Tarigan, 2. , membaca permulaan adalah proses pengenalan lambang-lambang bunyi bahasa tertulis yang bertujuan agar siswa mampu melafalkan dan memahami bacaan sederhana. Kemampuan membaca permulaan menjadi fondasi utama dalam perkembangan kemampuan literasi siswa. Apabila siswa mengalami hambatan pada tahap awal membaca, maka akan berdampak pada kemampuan memahami pembelajaran pada tingkat berikutnya. (Rahim, 2. menyatakan bahwa siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan cenderung mengalami hambatan dalam memahami informasi dan memiliki motivasi belajar yang rendah. Beberapa indikator kesulitan membaca permulaan meliputi: . belum mengenal huruf vokal dan konsonan. membaca dengan cara mengeja. kesalahan pengucapan . penghilangan huruf atau kata. membaca lambat. kesulitan memahami isi bacaan. Permasalahan tersebut sering ditemukan pada siswa sekolah dasar terutama siswa kelas rendah. Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap dunia pendidikan, khususnya pada kemampuan literasi siswa sekolah dasar. Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi daring menyebabkan siswa mengalami keterbatasan dalam proses belajar, terutama pada kemampuan membaca permulaan yang membutuhkan pendampingan langsung dari guru. Menurut penelitian (Antasari, 2. , pembelajaran daring menyebabkan menurunnya kemampuan membaca siswa karena kurangnya interaksi langsung antara guru dan peserta didik. Selain itu, keterbatasan fasilitas belajar dan rendahnya pendampingan orang tua juga menjadi faktor penyebab menurunnya kemampuan literasi siswa. Penelitian (E. Sari & Nugroho, 2. menjelaskan bahwa siswa di daerah terpencil mengalami kesulitan lebih besar dalam mengikuti pembelajaran daring akibat keterbatasan jaringan internet dan kurangnya media pembelajaran. Akibatnya, banyak siswa mengalami ketertinggalan dalam kemampuan membaca dan memahami bacaan sederhana. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil observasi di SD Negeri 21 Pasir Tinggi yang menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu membaca dengan lancar serta mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan setelah pandemi berlangsung. Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) merupakan strategi pendampingan literasi membaca yang dirancang untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan membaca secara bertahap dan berkelanjutan. Program ini berfokus pada pengenalan huruf, membaca suku kata, membaca kata sederhana, hingga memahami isi bacaan sesuai kemampuan masing-masing siswa. Pendekatan dalam Gerakan PRO dilakukan melalui pembelajaran yang interaktif, pendampingan individual, latihan membaca rutin, serta pemberian motivasi kepada siswa agar memiliki rasa percaya diri dalam membaca. Menurut teori pembelajaran konstruktivisme, siswa akan lebih mudah memahami pembelajaran apabila terlibat langsung secara aktif Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. dalam proses belajar. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program pendampingan membaca yang dilakukan secara intensif dan berkelanjutan mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah (Sari & Nugroho, 2. menyatakan bahwa pembelajaran interaktif dan pendampingan individual memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa. Dengan demikian. Gerakan PRO diharapkan dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas pendidikan dan akses pembelajaran Studi Literatur Literasi merupakan kemampuan individu dalam membaca, memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Condliffe et al, 2. , literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami bahasa dalam berbagai konteks komunikasi. Sementara itu. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai seperangkat keterampilan nyata yang berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, serta mengolah informasi untuk meningkatkan kualitas hidup individu. Dalam konteks pendidikan dasar, literasi menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran karena hampir seluruh aktivitas belajar bergantung pada kemampuan memahami informasi tertulis. Menurut (Dalman, 2. literasi membaca merupakan kemampuan memahami isi bacaan secara kritis sehingga peserta didik mampu memperoleh informasi, pengetahuan, dan pengalaman baru melalui kegiatan membaca. Kemampuan literasi yang baik akan membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan budaya literasi sejak jenjang sekolah dasar melalui pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa. Penelitian (Yuda & Rosmilawati, 2. menjelaskan bahwa rendahnya kemampuan literasi siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh rendahnya kebiasaan membaca dan kurangnya kegiatan literasi yang terintegrasi dalam pembelajaran. Penelitian (Handayani et al. , 2. menjelaskan bahwa strategi penguatan literasi dan numerasi dalam Program Kampus Mengajar dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pojok baca, klinik membaca, media pembelajaran interaktif, dan pembelajaran berbasis permainan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa Program Kampus Mengajar mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran meskipun masih menghadapi tantangan keterbatasan sarana dan budaya belajar siswa. Selain itu, (Susanto, 2. menyatakan bahwa implementasi Program Kampus Mengajar memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil pretest dan posttest literasi numerasi siswa sekolah dasar. Kehadiran mahasiswa dinilai mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan berpusat pada siswa. Game Based Learning (GBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan unsur permainan dalam proses belajar untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa. Menurut (Plass et al. , 2. Game Based Learning mampu menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan sehingga siswa lebih aktif dalam memahami materi pembelajaran. Dalam pembelajaran sekolah dasar, penggunaan permainan edukatif membantu siswa memahami konsep abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Pembelajaran berbasis permainan juga mampu meningkatkan konsentrasi, rasa percaya diri, dan kemampuan bekerja sama siswa. Penelitian (Pratama & Widodo, 2. menunjukkan bahwa penerapan Game Based Learning dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar secara signifikan. Siswa menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas pembelajaran karena suasana belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Selain itu, penggunaan media permainan numerasi juga membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih mudah. Penerapan Game Based Learning dalam Program Kampus Mengajar dilakukan melalui berbagai media permainan edukatif, seperti ular tangga numerasi dan permainan berbasis kelompok. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus memperkuat kemampuan literasi dan numerasi mereka. Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif sederhana. Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan secara mendalam proses implementasi Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar, sekaligus menggambarkan perubahan yang terjadi secara terukur berdasarkan indikator kemampuan Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 21 Pasir Tinggi. Kabupaten Agam, pada periode Agustus hingga Desember 2024. Subjek penelitian terdiri dari 31 siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam membaca. Penentuan subjek dilakukan secara purposive sampling berdasarkan hasil observasi awal dan rekomendasi guru kelas. Kriteria siswa meliputi: belum mengenal huruf dengan baik, membaca dengan mengeja, kesalahan pengucapan kata, membaca lambat, serta belum mampu memahami bacaan sederhana. Subjek dipilih karena sesuai dengan fokus penelitian, yaitu peningkatan literasi membaca pada siswa dengan kemampuan rendah. Instrumen penelitian terdiri atas lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Lembar observasi disusun secara terstruktur berdasarkan indikator kemampuan membaca permulaan, yaitu pengenalan huruf, kemampuan mengeja, ketepatan pengucapan kata, kelancaran membaca, dan pemahaman bacaan sederhana. Setiap indikator diberi kategori penilaian untuk memudahkan analisis perkembangan kemampuan siswa. Pedoman wawancara bersifat semi-terstruktur dan digunakan untuk menggali informasi dari guru serta siswa mengenai faktor penyebab kesulitan membaca dan respons terhadap program PRO. Dokumentasi digunakan untuk merekam proses pembelajaran dalam bentuk foto, catatan lapangan, dan arsip kegiatan. Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen Observasi Kemampuan Literasi Membaca Indikator Kemampuan Deskripsi Indikator Membaca Kemampuan siswa mengenali huruf vokal dan konsonan secara tepat 1 Pengenalan huruf dan cepat. Kemampuan siswa membaca kata dengan cara mengeja huruf demi 2 Membaca dengan mengeja Kemampuan siswa melafalkan kata sesuai bunyi yang benar tanpa 3 Ketepatan pengucapan kata Kemampuan siswa membaca teks tanpa jeda panjang, terbata-bata, 4 Kelancaran membaca atau pengulangan berlebihan. Pemahaman bacaan Kemampuan siswa memahami isi teks sederhana dan menjawab pertanyaan dasar dari bacaan. Tabel 2. Skala Penilaian Instrumen Kemampuan Membaca Skor Kategori Deskripsi Skala Sangat Siswa mampu melakukan indikator dengan sangat tepat, lancar, dan tanpa bantuan Baik Siswa mampu melakukan indikator dengan cukup tepat, masih terdapat kesalahan kecil Baik namun tidak mengganggu pemahaman. Siswa mampu melakukan indikator tetapi masih sering melakukan kesalahan dan Cukup membutuhkan bantuan guru. Siswa belum mampu melakukan indikator dengan baik dan sangat bergantung pada Kurang bantuan guru. Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Setiap indikator kemampuan membaca diamati secara langsung selama proses pembelajaran berlangsung. Skor diberikan berdasarkan performa siswa pada setiap pertemuan. Hasil observasi kemudian dijumlahkan untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan membaca masing-masing siswa. Data ini digunakan untuk melihat perkembangan kemampuan literasi membaca sebelum, selama, dan setelah penerapan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Prosedur penelitian diawali dengan tahap pra-penelitian berupa observasi awal untuk mengidentifikasi kemampuan membaca siswa dan memetakan tingkat kesulitan mereka. Setelah itu, dilakukan tahap pelaksanaan intervensi melalui penerapan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) selama 10 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan secara sistematis dengan kegiatan literasi bertahap, mulai dari pengenalan huruf, latihan fonik, membaca suku kata, membaca kata, hingga membaca kalimat sederhana. Siswa dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuan membaca agar pendampingan lebih efektif dan sesuai kebutuhan masing-masing. Pada setiap akhir kegiatan dilakukan evaluasi singkat untuk memantau perkembangan siswa secara berkala. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung selama proses pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi kegiatan. Observasi dilakukan menggunakan lembar ceklis untuk mencatat perubahan kemampuan membaca siswa dari waktu ke waktu. Wawancara digunakan untuk memperoleh data kualitatif terkait faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan literasi membaca, baik dari aspek internal maupun eksternal siswa. Analisis data dilakukan menggunakan model (Miles & Huberman, 2. yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif sederhana dianalisis dengan membandingkan frekuensi perubahan pada setiap indikator kemampuan membaca sebelum dan sesudah pelaksanaan Sementara itu, data kualitatif dianalisis melalui proses pengelompokan temuan, interpretasi, dan penarikan makna terhadap hasil observasi dan wawancara. Kombinasi kedua jenis data ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas program PRO. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari guru dan siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan validitas data serta memastikan bahwa hasil penelitian mencerminkan kondisi nyata di lapangan (Sugiyono, 2. Hasil Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) di SD Negeri 21 Pasir Tinggi, ditemukan bahwa kemampuan literasi membaca siswa masih tergolong rendah, terutama pada siswa kelas rendah. Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mengenal huruf vokal dan konsonan dengan baik, membaca dengan cara mengeja, serta mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan sederhana. Selain itu, beberapa siswa juga menunjukkan kesalahan membaca seperti penghilangan huruf, pemenggalan kata yang tidak tepat, membaca lambat, dan kurang percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dilakukan melalui pendampingan membaca secara bertahap berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu belum mengenal huruf, mengenal huruf, membaca suku kata, membaca dengan mengeja, dan membaca pemahaman. Pendampingan dilakukan secara rutin melalui latihan pengenalan huruf, membaca suku kata, membaca kata sederhana, hingga membaca kalimat pendek. Selama proses pendampingan, siswa menunjukkan perkembangan kemampuan membaca yang cukup baik. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah kesalahan membaca pada beberapa indikator pengamatan, seperti kemampuan mengenal huruf, pengucapan kata, serta peningkatan kelancaran membaca siswa. Hasil pengamatan selama 10 kali pertemuan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca secara bertahap. Beberapa siswa yang awalnya belum mengenal huruf mulai mampu membaca suku kata sederhana, sedangkan siswa yang sebelumnya membaca dengan mengeja mulai menunjukkan peningkatan kelancaran membaca. Selain itu, minat dan motivasi belajar siswa juga Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. mengalami peningkatan setelah diterapkannya pendampingan membaca melalui Gerakan PRO. Pendekatan pembelajaran yang interaktif, pendampingan individual, serta pemberian motivasi secara langsung membantu siswa menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam kegiatan membaca. Dengan demikian. Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam membantu meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar di SD Negeri 21 Pasir Tinggi. Tabel 3. Perkembangan Kemampuan Membaca Siswa melalui Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) Indikator Kemampuan Membaca Kondisi Awal Kondisi Akhir 1 Siswa belum mengenal huruf dengan baik 10 siswa 3 siswa 2 Siswa membaca dengan cara mengeja 15 siswa 7 siswa 3 Siswa mengalami kesalahan pengucapan kata 12 siswa 5 siswa 4 Siswa membaca lambat 18 siswa 8 siswa 5 Siswa mampu membaca lancar sederhana 4 siswa 14 siswa 6 Siswa memahami isi bacaan sederhana 5 siswa 16 siswa Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa kemampuan membaca siswa mengalami peningkatan setelah pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami penurunan pada setiap indikator, sedangkan kemampuan membaca lancar dan memahami bacaan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan membaca secara bertahap dan berkelanjutan memberikan dampak positif terhadap perkembangan literasi membaca siswa sekolah dasar. Tabel 4. Analisis Kategori Perkembangan Kemampuan Membaca Siswa Indikator Kemampuan Membaca Kondisi Awal (Kategori Domina. 1 Pengenalan huruf Kurang (Skor 1Ae Membaca dengan Ketepatan pengucapan kata Kelancaran Membaca lancar Kurang (Skor 1Ae Kurang (Skor 1Ae Kurang (Skor 1Ae Kurang (Skor 1Ae Pemahaman Kurang (Skor 1Ae bacaan sederhana Kondisi Akhir (Kategori Domina. Interpretasi Perubahan Siswa yang belum mengenal huruf menurun signifikan, menunjukkan peningkatan kemampuan dasar literasi fonemik. CukupAeBaik Terjadi pergeseran dari tahap mengeja (Skor 2Ae. menuju membaca kata utuh secara bertahap. Kesalahan pengucapan berkurang. Baik (Skor . menunjukkan peningkatan akurasi membaca. CukupAeBaik Membaca lambat berkurang, siswa mulai (Skor 2Ae. lebih lancar dalam membaca teks sederhana. BaikAeSangat Peningkatan signifikan pada kemampuan Baik (Skor 3Ae. membaca fluency siswa. Kemampuan memahami isi bacaan BaikAeSangat meningkat secara nyata setelah Baik (Skor 3Ae. pendampingan PRO. Baik (Skor . Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Berdasarkan hasil analisis yang diturunkan dari instrumen skala penilaian 1Ae4, terlihat adanya pergeseran kategori kemampuan membaca siswa dari dominan AukurangAy pada kondisi awal menjadi AucukupAy hingga AubaikAy pada kondisi akhir. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) memberikan dampak positif terhadap seluruh indikator literasi membaca. Pada aspek dasar seperti pengenalan huruf dan membaca dengan mengeja, terjadi transisi kemampuan dari kategori rendah menuju kategori menengah. Sementara itu, pada aspek tingkat lanjut seperti kelancaran membaca dan pemahaman bacaan, terjadi peningkatan yang lebih signifikan hingga mencapai kategori baik bahkan sangat baik pada sebagian siswa. Secara umum, hasil analisis instrumen ini memperkuat temuan kuantitatif sebelumnya bahwa program PRO efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar secara bertahap, sistematis, dan terukur berdasarkan indikator penilaian yang digunakan. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa SD Negeri 21 Pasir Tinggi mengalami peningkatan setelah diterapkannya Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO). Pada kondisi awal, sebagian besar siswa mengalami berbagai hambatan membaca, seperti belum mengenal huruf dengan baik, membaca dengan cara mengeja, kesalahan pengucapan kata, membaca lambat, dan kesulitan memahami isi bacaan sederhana. Kondisi tersebut menunjukkan adanya fenomena learning loss pascapandemi Covid-19 yang berdampak langsung terhadap kemampuan dasar siswa sekolah dasar. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Putri & Rahmah, 2. yang menyatakan bahwa tingkat literasi membaca siswa sekolah dasar pascapandemi berada pada kategori rendah akibat minimnya aktivitas membaca di rumah, rendahnya motivasi membaca, serta keterbatasan sumber belajar. Rendahnya kemampuan membaca siswa pada penelitian ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga dan keterbatasan pendampingan belajar di rumah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebagian besar orang tua bekerja dari pagi hingga sore sehingga tidak dapat mendampingi anak belajar secara optimal. Selain itu, terdapat beberapa orang tua yang memiliki keterbatasan kemampuan membaca. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan literasi anak tidak hanya dipengaruhi oleh sekolah, tetapi juga keterlibatan keluarga dalam proses belajar. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian pada SD Negeri 21 Pasir Tinggi yang menyatakan bahwa keterbatasan pendampingan orang tua selama pembelajaran daring menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kemampuan literasi siswa pascapandemi (Handayani et , 2. Pelaksanaan Gerakan PRO dilakukan melalui pendampingan membaca secara bertahap berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai kemampuan awal masing-masing sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang awalnya belum mengenal huruf mulai mampu membaca suku kata sederhana, sedangkan siswa yang sebelumnya membaca dengan mengeja mulai menunjukkan peningkatan kelancaran membaca. Temuan ini mendukung penelitian (Pamungkas et al. , 2. yang menjelaskan bahwa program pendampingan literasi melalui Gerakan PRO mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa karena pembelajaran dilakukan secara intensif dan lebih individual. Peningkatan kemampuan membaca siswa juga dipengaruhi oleh penggunaan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada siswa. Dalam pelaksanaan Gerakan PRO, siswa tidak hanya diminta membaca teks, tetapi juga diberikan motivasi, latihan berulang, permainan edukatif, dan pendampingan langsung. Pendekatan tersebut membantu siswa lebih aktif dan percaya diri dalam belajar membaca. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Handayani et , 2. yang menyatakan bahwa penguatan literasi melalui Gerakan PRO dapat meningkatkan minat membaca dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, peningkatan kemampuan membaca siswa dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan literasi siswa sekolah dasar. Selama 10 kali pertemuan, jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami penurunan pada hampir seluruh indikator pengamatan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pembiasaan membaca secara konsisten mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa secara bertahap. Temuan ini didukung oleh penelitian (Himawanto et al. , 2. yang Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. menyatakan bahwa kelas literasi dan pendampingan membaca secara intensif efektif dalam membantu siswa mengatasi kesulitan membaca dan menulis pada masa pandemi. Program Gerakan PRO juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatan kualitas pembelajaran literasi di sekolah Kehadiran mahasiswa membantu guru dalam melaksanakan pendampingan belajar yang lebih intensif kepada siswa. Mahasiswa dapat memberikan inovasi pembelajaran, media pembelajaran yang menarik, serta pendekatan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan siswa. Penelitian (Mubarakati et al. , 2. menjelaskan bahwa Program Gerakan PRO memberikan dampak positif terhadap peningkatan budaya literasi dan numerasi siswa sekolah dasar melalui berbagai inovasi pembelajaran yang kreatif dan Hasil analisis pada Tabel 2 menunjukkan bahwa implementasi Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar. Perubahan kategori dari dominan AukurangAy pada kondisi awal menjadi AucukupAy hingga AubaikAy pada kondisi akhir menunjukkan adanya peningkatan bertahap pada aspek literasi dasar. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Dhani & Wibowo, 2. yang menunjukkan bahwa program literasi berbasis pendampingan seperti Kampus Mengajar mampu meningkatkan kemampuan membaca melalui kegiatan terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan siswa. Dengan demikian, model pendampingan PRO memiliki karakteristik yang selaras dengan intervensi literasi yang efektif di sekolah dasar. Peningkatan paling menonjol terjadi pada indikator kelancaran membaca dan pemahaman bacaan sederhana. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan berulang mampu memperkuat kemampuan decoding sekaligus pemaknaan teks. Hasil ini didukung oleh temuan (Salsabila & others. yang menyatakan bahwa program literasi sistematis dengan pendekatan pendampingan intensif mampu meningkatkan fluency dan reading comprehension siswa sekolah dasar secara signifikan melalui latihan berkelanjutan dan evaluasi rutin. Dengan demikian, struktur kegiatan PRO yang berbasis pengulangan dan pengelompokan kemampuan siswa terbukti mendukung perkembangan literasi secara Pada aspek kesulitan awal seperti pengenalan huruf dan membaca dengan mengeja, terjadi penurunan kategori dari AukurangAy menjadi AucukupAebaikAy. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi PRO efektif dalam memperkuat kemampuan literasi dasar . arly literacy skill. Penelitian Irma & others . juga menegaskan bahwa pendampingan individual dalam literasi membaca mampu mempercepat penguasaan huruf dan transisi dari tahap mengeja menuju membaca kata secara utuh pada siswa kelas rendah sekolah dasar . Hasil ini memperkuat bahwa pendekatan individual dan berbasis level kemampuan merupakan strategi penting dalam mengatasi kesenjangan kemampuan membaca. Selain itu, peningkatan motivasi dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran juga berkontribusi terhadap hasil yang diperoleh. Pendekatan interaktif dalam PRO, seperti latihan rutin, pengelompokan kemampuan, dan pendampingan langsung, menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dan suportif. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Fitriyanti & others. , 2. yang menunjukkan bahwa pendampingan literasi berbasis aktivitas interaktif mampu meningkatkan minat baca dan motivasi belajar siswa sekolah dasar secara signifikan . Dengan demikian, keberhasilan PRO tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis membaca, tetapi juga oleh faktor afektif berupa motivasi dan kepercayaan diri siswa. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar dibandingkan pembelajaran daring. Selama pandemi, banyak siswa mengalami kesulitan memahami materi karena keterbatasan interaksi dengan guru dan kurangnya akses teknologi. Setelah dilakukan pendampingan langsung melalui Gerakan PRO, siswa menunjukkan perkembangan kemampuan membaca yang lebih baik. Temuan ini didukung oleh penelitian internasional tentang pembelajaran jarak jauh pada sekolah dasar yang menyatakan bahwa keterbatasan akses internet, perangkat belajar, dan interaksi guru menjadi faktor utama menurunnya kualitas pembelajaran selama pandemi Covid-19. (Rovai & Jordan, 2. Dalam konteks pembelajaran modern, keberhasilan program literasi juga dipengaruhi oleh kemampuan guru dan pendamping dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik siswa. Pada penelitian ini, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca sehingga strategi pendampingan Volume: 4 | Nomor 1 | Mei 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Pendekatan tersebut sesuai dengan penelitian (Rahadian & Budiningsih, 2. yang menjelaskan bahwa pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan gaya belajar siswa mampu meningkatkan ketertarikan dan efektivitas belajar di kelas. Peningkatan kemampuan membaca siswa melalui Gerakan PRO menunjukkan bahwa pembiasaan membaca dan pendampingan individual merupakan strategi yang efektif untuk mengatasi rendahnya literasi membaca siswa sekolah dasar pascapandemi. Program ini tidak hanya membantu siswa meningkatkan kemampuan teknis membaca, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri, motivasi belajar, dan partisipasi siswa dalam kegiatan Dengan demikian. Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dapat dijadikan salah satu alternatif strategi penguatan literasi membaca pada sekolah dasar, khususnya di daerah yang masih mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan dan dampak learning loss pascapandemi Covid-19. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa SD Negeri 21 Pasir Tinggi sebelum pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) masih tergolong rendah. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam mengenal huruf, membaca dengan mengeja, kesalahan pengucapan kata, membaca lambat, serta belum mampu memahami isi bacaan sederhana. Rendahnya kemampuan membaca tersebut dipengaruhi oleh dampak pembelajaran daring selama pandemi Covid-19, keterbatasan pendampingan belajar di rumah, serta rendahnya pembiasaan membaca pada siswa. Pelaksanaan Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) melalui pendampingan membaca secara bertahap dan berkelanjutan menunjukkan hasil yang positif terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca Program ini dilakukan melalui pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan membaca, latihan membaca rutin, pendampingan individual, serta pembelajaran interaktif yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Hasil pengamatan selama 10 kali pertemuan menunjukkan adanya penurunan jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca dan peningkatan kemampuan membaca lancar serta pemahaman bacaan sederhana. Dengan demikian. Gerakan Priority Reading Optimistic (PRO) dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar, khususnya pada sekolah yang mengalami dampak learning loss pascapandemi Covid-19. Selain meningkatkan kemampuan membaca, program ini juga membantu meningkatkan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, program pendampingan literasi membaca secara intensif dan berkelanjutan perlu terus dikembangkan sebagai upaya penguatan literasi di sekolah dasar Referensi