Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. August 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index Construction of the Meaning of Ayat Kursi: An Analysis of AlMunir and At-Ta'wil An-Najmiyyah Interpretations Through Roland Barthes' Semiotics Approach (Konstruksi Kandungan Makna Ayat Kursi: Telaah Tafsir Al-Munir Dan At-TaAowil AnNajmiyyah Melalui Pendekatan Semiotika Roland Barthe. Khansa Fathinatul Mawaddah Ali,1* Siti Masykuroh,1 Yoga Irawan1 1Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: This study investigates how ideological meaning is constructed in Ayat Kursi through Roland BarthesAo semiotic approach, using Tafsir al-Munir and At-TaAowil al-Najmiyyah as primary references, and how its transformation of meaning is manifested in Muslim religious Ayat Kursi, widely recited and regarded as a means of protection, is often understood normatively, without further exploration of the sign systems embedded in its textual formulations. This research highlights that each expression in the verse holds broader and more complex meanings that go beyond literal The findings show that, at the denotative level. Ayat Kursi describes AllahAos majesty and absolute power. At the connotative level, it conveys symbols of divine protection, spiritual strength, and Islamic identity. At the mythical level, the verse represents transcendent authority that governs human existence, portraying faith as a protective force through AllahAos unlimited power to repel danger, ward off evil, and bring peace. Furthermore, the study identifies three patterns in the transformation of Ayat KursiAos meaning within religious practice: . a shift from spiritualtranscendental protection to its use as a magical-sympathetic object. its role as a marker of identity and sacred space. a reduction of its rich, complex meanings into simplified, practical By combining semiotic analysis with exegetical perspectives, this research contributes to deepening the study of QurAoanic interpretation and demonstrates the continued relevance of Ayat Kursi for contemporary Islamic discourse. Received Jul 10, 2025 Revised Aug 25, 2025 Accepted Aug 25, 2025 Published Aug 26, 2025 Keywords: Roland Barthes Semiotics Tafser The Meaning of Ayat Kursi How to Cite Ali. Khansa Fathinatul Mawaddah. Siti Masykuroh. Yoga Irawan. AuConstruction of the Meaning of Ayat Kursi: An Analysis of AlMunir and At-Ta'wil AnNajmiyyah Interpretations Through Roland Barthes' Semiotics ApproachAy. Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. , 339-358. https://10. 57163/almuhafidz. This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Khansa Fathinatul Mawaddah Ali Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Jalan Letnan Kolonel H Jl. Endro Suratmin. Sukarame. Kec. Sukarame. Kota Bandar Lampung. Lampung 35131. Indonesia. Email: khansafathinatul@gmail. Copyright . 2025 Khansa Fathinatul Mawaddah Ali. Siti Masykuroh. Yoga Irawan Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Ayat Kursi merupakan ayat yang sangat familiar dikalangan umat Muslim dijadikan sebagai ayat perlindungan, namun seringkali pemaknaannya berhenti pada pemahaman yang bersifat normatif, tanpa mengeksplorasi konstruksi makna yang dibangun oleh sistem tanda yang ada dalam teks ayat, padahal dalam struktur setiap redaksinya terkandung kekayaan makna yang lebih luas dan kompleks. Seperti dalam Tafsir Al-Munir, dijelaskan bahwa kata (AEENA c ) merupakan asma Allah yang paling Agung. Dia merupakan Dzat yang berhak disembah melalui ibadah dengan menghambakan dan menundukkan ruh atau jiwa kepada sebuah kekuasaan yang ghaib yang tidak bisa diketahui dan dilihat hakikatnya. Sementara redaksi ( A)EauaEaNaN uaEacN aNONA maknanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. 1 Di sisi lain, a a a A ) NEEAadalah dalam Tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah, ditemukan bahwa kalimat (ANNONA a ANEN NENaNacEA ac ungkapan dari uraian keilahian-Nya, sebab-sebab penghambaan di hati hamba-hambaNya, karena pengabdian adalah pengakuan atas ketuhanan. Oleh karena itu. Allah menyebut diri-Nya di awal manifestasi eksistensi-Nya, dan menampakkan diri melalui uraian tersebut kepada para hamba-Nya, hingga muncul kedaulatan-Nya di dalam hati hamba-hamba-Nya sehingga terbentuk kepasrahan dalam pikiran mereka. Firman-Nya (ANNONA a A )acEAbermakna bahwa Allah menyingkirkan sebab-sebab dari kesucian, kekekalan dan menyingkap kekekalan duniawi melalui kekekalan ilahi2. Sedangkan disisi lain, penggunaan Ayat Kursi di tengah masyarakat Muslim Indonesia sering digunakan dalam ruqyah, karena dipercaya memiliki banyak fadilah dan keutamaan sebagai benteng penjaga bagi pembacanya 3. Dengan demikian, diketahui bahwa terdapat kekayaan makna dalam stuktur teks Ayat Kursi, namun mayoritas penelitian-penelitian sebelumnya yang mengkaji tentang Ayat Kursi hanya menyentuh makna literal, memaparkan keutamaannya berdasarkan hadis, dan membandingkan penafsiran ulama secara deskriptif. Sehingga diketahui bahwa belum ada penelitian yang menggali lebih dalam bagaimana konstruksi kandungan makna ideologis dalam Ayat Kursi dan bagaimana transformasi makna Ayat Kursi diterima dalam praktik keagamaan Kekosongan analisis itulah yang yang merupakan celah . yang akan diisi oleh penelitian ini. Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, penelitian ini membongkar makna ideologi secara mendalam melalui tingkatan pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos. Keunggulan dari pendekatan ini adalah memiliki ciri khas pendekatan yang lebih kritis, selain itu pendekatan ini juga lebih relevan untuk digunakan dalam penelitian teks agama dibandingkan dengan pendekatan semiotik tokoh lainnya. Pada dasarnya semiotika merupakan kajian ilmu yang memiliki fokus pada kajian tentang tanda. Al-QurAoan memiliki beragam tanda yang tersebar di dalam setiap redaksinya dan mengandung sebuah makna yang perlu untuk dilacak secara mendalam serta diinterpretasikan kandungan maknanya4. Al-QurAoan telah hadir dalam wilayah 1 Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir, vol. 2 (Jakarta: Gema Insani, 2. Najmuddin Al-Kubra and AoAlaAoudawlah AoAlaAoudawlah Al-Simnani. At-TaAowil An-Najmiyah, ed. Ahmad Farid Al-Mizyadi, 1st ed. (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiayh, 2. 3 Ahmadi. AuPraktik Dan Motivasi Meruqyah Dengan Ayat Kursi,Ay Reflektika 15, no. 2 (September 29, 2. : 155, https://doi. org/10. 28944/reflektika. 4 Azkiya Khikmatiar. AuKonsep Poligami Dalam Al-QurAoan,Ay QOF 3, no. 1 (June 15, 2. : 60, https://doi. org/10. 30762/qof. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 kajian historis, yaitu bahasa manusia sebagai perangkat untuk berinteraksi dan berkomunikasi Tuhan dengan Rasul-Nya. Selain itu. Al-QurAoan juga melebur menjadi satu kesatuan dalam kultur budaya manusia. Dengan demikian, implementasi teori semiotika dalam kajian Al-QurAoan merupakan cara yang tepat untuk mengungkap makna terdalam dari sebuah tanda yang terdapat dalam Al-QurAoan5. Pentingnya kajian mengenai konstruksi kandungan makna ideologis dalam Ayat Kursi menjadi alasan utama yang mendorong penelitian ini, karena hasilnya akan memberikan perspektif baru dalam studi Al-QurAoan dengan merangkul metode penelitian modern . Selain itu, penelitian ini juga penting karena tidak hanya mengungkap apa makna dari Ayat Kursi saja, tetapi juga meneliti lebih jauh bagaimana konstruksi makna ideologis dalam Ayat Kursi ditafsirkan melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, serta mengungkap bagaimana transformasi maknanya diterima dalam praktik masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana konstruksi makna ideologis dalam Ayat Kursi ditafsirkan melalui pendekatan semiotika Roland Barthes menggunakan Tafsir Al-Munir dan At-TaAowil An-Najmiyyah, serta bagaimana transformasi maknanya diterima dalam praktik keagamaan masyarakat. Kebaharuan dalam penelitian ini terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk menganalisis kitab tafsir, dimana hal ini belum banyak dilakukan. Kedua, penelitian ini menggunakan dua kitab tafsir dengan karakter yang berbeda sebagai sumber data primernya, yaitu Tafsir Al-Munir dan At-TaAowil An-Najmiyyah. Ketiga, temuan yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan menghasilkan peta pemaknaan yang menunjukkan bagaimana sebuah teks yang sama dikonstruksi menjadi mitos yang berbeda-beda berdasarkan realitas sosial penganutnya. TINJAUAN PUSTAKA Sejauh ini, terdapat beberapa penelitian yang ditemukan mengenai Ayat Kursi, di antaranya penelitian yang dilakukan oleh Firdaus menggunakan Tafsir Al-Kasyaf. Hasilnya menunjukkan bahwa makna Kursi pada tingkat denotasi merupakan ilmu dan kekuasaan Allah. Pada pemaknaan tingkat kedua, konotasi dari kata Kursi mendapatkan perluasan makna menjadi Allah Maha Kuasa atas seluruh hamba-Nya, sehingga pada makna mitos kata Kursi berarti tidak ada yang sebanding dengan Allah Swt. di dunia ini 6. Penelitian kedua oleh Arsyil Adhim dengan pendekatan Tafsir Tauhid. Hasilnya, penafsiran Quraisy Shihab mengenai Ayat Kursi terbagi menjadi empat bagian, dan dalam penafsirannya terdapat ilustrasi-ilustrasi bisikan setan atas ketuhanan Allah Swt. keutamaan dan hikmah dari Ayat Kursi7. Penelitian ketiga oleh Fajar Awaludin dengan pendekatan filosofis. Nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Ayat Kursi di dalam dunia pendidikan meliputi nilai religius, mandiri, tanggung jawab, disiplin, rasa ingin tahu dan cinta ilmu pengetahuan 8. 5 Mafisah Innayati and Fikru Jayyid Husain. AuKonsep SyuraAo Dalam Al-QurAoan (Analisis Semiotika Roland Barthe. ,Ay Contemplate . https://doi. org/https://doi. org/10. 53649/contemplate. 6 Firdaus Maulana Akbar. AuMakna Kursi Dalam Surat Al-Baqarah . :255 Anlisis Semiotika Roland Barthes,Ay Mauriduna: Journal of Islamic Studies 5, no. 2 (November 30, 2. : 257, https://doi. org/10. 37274/mauriduna. 7 Arsyil Adhim. AuPenafsiran Quraish Shihab Terhadap Sifat-Sifat Allah Yang Terkandung Dalam Ayat KursiAy (UIN Ar-Raniry, 2. 8 A. Fajar Awaluddin. AuKandungan Ayat Kursi Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter (Telaah Tafsir Tahlil. ,Ay Al-Wajid: Jurnal Ilmu Al-Quran Dan Tafsir 1, no. 1 (July 22, 2. : 1, https://doi. org/10. 30863/alwajid. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Dari beberapa literatur di atas, penelitian yang membahas mengenai konstruksi kandungan makna Ayat Kursi belum ditemukan. Meskipun banyak penelitian mengenai Ayat Kursi, namun belum ada yang mengkaji secara mendalam bagaimana konstruksi kandungan makna ideologis Ayat Kursi serta penerimaannya dalam masyarakat. Sehingga penelitian ini berusaha mengisi gap tersebut dengan menggali lebih dalam makna tersembunyi yang ada dalam setiap redaksi Ayat Kursi. METODE Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif yang berjenis penelitian kepustakaan serta bersifat deskriptif-analisis. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan observasi interpretatif. Sedangkan sumber data utama diambil dari Al-QurAoan. Tafsir Al-Munir. Tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah serta buku semiotika Roland Barthes. Teknik analisis penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes, yang dimulai dari tahap menganalisis makna denotatif, konotatif dan mitos dari setiap tanda. Kemudian mengategorikan tanda yang memiliki kesamaan makna, melakukan analisis kritis pada setiap tanda dan menghubungkannya dengan konteks sejarah, budaya dan keagamaan, serta mengintegrasikan semua temuan untuk menghasilkan interpretasi yang komprehensif. HASIL DAN DISKUSI Roland Barthes dan Teori Semiotika Roland Barthes merupakan seorang filsuf yang lahir di Cherbough. Prancis, 12 November 1915. Barthes merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam semiologi 9. Semiologi sendiri merupakan kata yang berasal dari Bahasa Yunani yaitu semeion yang berarti tanda-tanda, dan linguistik termasuk bagian ilmu yang mencakup tanda-tanda Secara umum, teori pendekatan semiotika Barthes terdiri dari denotasi, dan Denotasi merupakan signifikansi tingkat pertama yang menelisik di ruang lingkup kebahasaan12. Sedangkan tingkatan kedua yakni bentuk, konotasi, mitos dan Fungsi makna konotasi adalah sebagai pengurai kode berkenaan dengan dunia yang menaturalisasikan atau menyembunyikan tanda-tanda dalam signifikansi tingkat pertama di bawah penanda-penanda dalam sistem kedua. Sementara mitos merupakan suatu pesan yang di dalamnya ideologi berada yang menjalankan fungsi naturalisasi 13. Dalam konteks ini, yang dimaksud mitos adalah sebuah pesan yang dapat dipercaya kebenarannya, bukan dalam konteks cerita fiktif, ilusi, atau kepercayaan yang hadir dari animisme yang telah berlangsung turun temurun. Sehingga mitos dalam konteks ini 9 Roland Barthes. Elemen-Elemen Semiologi, ed. Edi AH Iyubenu, 1st ed. (Yogyakarta: Basabasi, 10 Ninuk Lustyantie. AuPendekatan Semiotik Model Roland Barthes Dalam Karya Sastra Prancis,Ay in Seminar Nasional Fib Ui, vol. 19, 2012, 3. 11 Yoga Irawan and Annisa Fitriani. AuPemaknaan Simile Oleh Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung,Ay 2019, 4. 12 Muhamad Jamaludin. Nur Aini, and Ahmad Sihabul Millah. AuMitologi Dalam QS. Al-Kafirun Perspektif Semiotika Roland Barthes,Ay Jalsah : The Journal of Al-Quran and As-Sunnah Studies 1, no. (December 2, 2. : 49, https://doi. org/10. 37252/jqs. 13 Barthes. Elemen-Elemen Semiologi. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 berfungsi sebagai penaturalisasi ideologi kata ketika akan disampaikan pada khalayak umum . Di sisi lain, mitos merupakan sistem pemaknaan yang timbul ketika pemaknaan denotasi dan konotasi telah di lakukan15. Dengan diterapkannya tahapan semiologis dalam pemahaman ayat Al-QurAoan, maka ayat tersebut tidak akan kehilangan makna literalnya melainkan akan didapatkan pesan yang AusebenarnyaAy ingin disampaikan berdasarkan konteks yang mengelilinginya16. Secara sederhana, teori semiotika Roland Barthes dapat dipahami melalui tabel Linguistic Penanda I Petanda 1 (Signifie. (Signifie. Tanda I (Sig. Petanda II Penanda II (Signifie. (Signifie. Myth Tanda II (Sig. Tabel 1 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dengan menggunakan semiotika Roland Barthes sebagai pisau analisis, akan di dapatkan pemahaman yang komprehensif dalam memahami makna tanda17. Penafsiran Ayat Kursi Perspektif Tafsir Al-Munir dan At-TaAowil An-Najmiyyah Tafsir Al-Munir A oa A AA a a ANA a ANE NI NOA AN aI IN aNA A aNOaINaANEa aNA ca ANN aONEa acAONE aCOacAOaI aNEN aa a aNN aIaU acNOaENIAaOUINNEaNN aINa a AEEa aNEN NENaNacEA ANaO Oa OINa O s aNI INaE aIN NEac a ONOANaIN NaacENaaIaNNOA EaININ a A a AoaNOaEA ANE aA aN INA a aa a aa aa a a AONaOO aNI aNOaIA c a a A a A Aa A AA ANA ca aANeaN aoaNO aN aEOacNA a aA aNOaENOAa AaOaNNAa aN aINacENaAuuANN aONE aE acONE aO aNINA a ANE NI NO aNOEaA a A aNOA AuAllah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup. Yang terus menerus mengurus . akhluk-Ny. , tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi. Maha Besar. Ay (QS. Al-Baqarah: 14 M Rizko Ramadani. AuKontekstualisasi Makna Nusyuz Dalam QS. An-Nisa . : 34 Sebagai Kritik Ideologi Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Analisis Semiologi Roland Barthes,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir 4, no. 2 (October 17, 2. : 697Ae714, https://doi. org/10. 19109/jsq. 15 Failal Azmi Azkia. AuGunung Sebagai Simbol Alam Tanda Kedahsyatan Hari Kiamat Dalam AlQurAoan: Analisis Semiotika Roland Barthes Failal Azmi Azkia,Ay Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 4, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. 19109/jsq. 16 Jamaludin. Aini, and Millah. AuMitologi Dalam QS. Al-Kafirun Perspektif Semiotika Roland Barthes. Ay 49. 17 Unatul Ashfia and Dina Rohmatul Ummah. AuMakna Thaghut Dalam Qs. Al-Baqarah 256 (Analisis Semiotika Roland Barthe. ,Ay vol. 256, 2022. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Lafadz (AEENA c ) dalam Tafsir Al-Munir bermakna Allah Swt. merupakan Dzat yang berhak disembah melalui ibadah dengan menghambakan dan menundukkan ruh atau jiwa kepada sebuah kekuasaan yang ghaib yang tidak bisa diketahui dan dilihat Redaksi (A )EauaEaNaN uaEacN aNONAberarti tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. Kemudian, lafadz (AONA ca aA )EAbermakna bahwa Allah adalah Dzat yang kekal atau Dzat Yang Maha Hidup. Hidup merupakan salah satu sifat Allah Swt. yang karenanya Dia pasti memiliki sifat Al-AoIlmu. Al-Iradah dan Al-Qudrah. Lafadz (A )E aCOacA eO aINAbermakna. Allah merupakan Dzat Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya, baik itu ajal, tindakan maupun rizki makhluk, serta menjaga seluruh makhluk. Lafadz . A aNA a eA )Eatau Al-Akhdzu berarti mengalahkan dan menguasai. Sedangkan lafadz . A ) aIaNAbermakna kantuk sebelum tidur. Tidur merupakan sebuah keadaan yang menimpa sesuatu yang hidup yang karenanya, indra-indra lahiriyahnya berhenti Kata . AE e aOaNA a ) merepresentasikan ilmu Allah Swt. Selanjutnya, lafadz . AONA a aA ) aOEaOamaksudnya tidak berat dan tidak sulit bagi Allah Swt. dalam menjaga langit dan bumi beserta seluruh isinya, akan tetapi itu semua sangat mudah dan ringan bagi-Nya. Allah Swt. adalah Dzat yang menjaga setiap diri atas apa yang diperbuatnya. Dzat yang Maha Mengawasi segala sesuatu. Dia adalah Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Dzat yang Maha Perkasa. Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, tiada Tuhan selain Dia. a A )ONONEEaONEAbermakna bahwa Allah Swt. merupakan Dzat Selanjutnya redaksi (A eOINA a a aa Yang Maha Tinggi dari segala bentuk serupaan dan sekutu. Dialah Dzat yang Maha Perkasa atas semua makhluk. Al-AoAzhim artinya adalah Al-Kabir (Maha Besa. yang tiada sesuatu pun yang lebih besar dari-Nya19. Tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah a a A ) NAdalam tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah bermakna tentang suatu Kalimat (ANNONA a AEEa aNEN NENaNacEA Dzat yang unik dalam keilahian dan keabadian, bersatu dalam keesaan, dan ketuhanan. Ketauhidan merupakan kunci ilmu pengetahuan, sehingga orang yang memahami hal tersebut maka ia pasti mengetahui bahwa ketauhidan menunjukkan kesempurnaan yang digambarkan melalui semua sifat-sifat keagungan dan keindahan Allah. Ia tidak perlu didefinisikan dengan cara menguraikan deskripsi-deskripsi kesempurnaan-Nya dan menyebarkannya, karena semuanya itu suci dan agung dari jangkauan pembicaraan yang meliputi penggambaran-Nya. Tetapi pada keadaan-keadaan tertentu Allah menjelaskan dan menerangkan perhitungan atas segala hal yang Ia ciptakan. Dalam redaksi ini. Allah mengawali dengan mengingkari adanya Tuhan yang sepadan dengan-Nya. Ia menentang keilahian yang disetarakan dengan-Nya. Kata . A ) aENaNE NAbermakna bahwa Allah menetapkan identitas esensi-Nya, dengan deskripsi eksistensi dan penciptaan, ibadah para hamba, 18 Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir. 19 Az-Zuhaili. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 sehingga tidak ada sedikitpun pertentangan di hati hamba-Nya, serta memastikan tidak ada sesuatupun yang di setarakan dengan-Nya Yang Maha Tinggi (ANNONA a A)acEA. Kata (AEEaN aEN aNENaN aacEN aNONA cA ) NAadalah ungkapan dari uraian keilahian-Nya, sebab-sebab penghambaan di hati hamba-hamba-Nya, karena pengabdian adalah pengakuan atas Oleh karena itu. Allah menyebut diri-Nya di awal manifestasi eksistensi-Nya, dan menampakkan diri melalui uraian tersebut kepada para hamba-Nya, hingga muncul kedaulatan-Nya di dalam hati hamba-hamba-Nya sehingga terbentuk kepasrahan dalam pikiran mereka. Firman-Nya (A )aacEN aNONAbermakna Allah menyingkirkan sebab-sebab dari kesucian, kekekalan dan menyingkap kekekalan duniawi melalui kekekalan ilahi. a a Ibnu Mansur berkata . AEENA cA )aEN NENaN acEN NAadalah kesabaran. Dengan kesabaran maka seseorang menjadi teguh dalam iman dan kejujurannya. Ia juga bersungguh-sungguh dalam menaati Tuhannya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Ia juga menafkahkan sebagian hartanya untuk mencari keridhaan-Nya, sehingga tidak menyisakan sesuatu pun untuk dirinya selain dari Sang Pencipta. Ia hanya bersama Tuhannya di waktu subuh dan menunjukkan rasa rindunya dengan lisan memohon ampunan, menyesali perbuatannya yang tidak taat dan takut kepada-Nya21. Tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan (AaENaNENaNA cA )acEN NAmembutuhkan tiga cahaya: cahaya petunjuk, cahaya kecukupan dan cahaya aAEENA Setiap kali Allah Swt. menganugerahkan kepadanya cahaya petunjuk, ia termasuk orang-orang yang istimewa bagi-Nya. Setiap kali Ia menganugerahkan kepadanya cahaya kecukupan, ia terlindungi dari dosa-dosa besar dan keji. Setiap kali Ia menganugerahkan kepadanya cahaya kepedulian, ia terlindungi dari pikiran-pikiran yang rusak. Sebagian mereka berkata: orang yang mengatakan Autidak ada Tuhan selain AllahAy akan membutuhkan empat sifat, yakni: keimanan, penghormatan, kemanisan dan Barang siapa tidak memiliki keimanan maka dialah orang munafik, barang siapa yang tidak memiliki rasa hormat maka dialah orang yang melakukan inovasi, barang siapa yang tidak memiliki rasa manis, maka dialah orang yang riya dan barang siapa yang tidak memiliki kesucian maka dialah orang yang berdosa. Dikatakan kepada Abul Hasan Al-Nuri: Mengapa kamu tidak mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah? Ia berkata: tetapi aku katakan Allah dan aku tidak meninggalkan sesuatupun yang bertentangan dengan-Nya. Sebagian mereka berkata: AuBarang siapa mengucapkannya sedangkan di dalam hatinya ada hawa nafsu, takut, tamak dan ragu, maka dia adalah seorang musyrikAy. Kemudian disebutkan sifat wajib bagi ilmu kalam (AONA ca aA)EA, bermakna tidak ada satu pun makhluk yang hidup kecuali Dia, dan tidak ada kehidupan kecuali kehidupan-Nya. Maka, tidak ada satu makhluk pun yang hidup kecuali melalui kehidupan-Nya. Kemudian disebutkan sifat khusus bagi-Nya (A)E aCOacA eO aINA, artinya Dialah yang Maha Pemelihara makhlukmakhluk-Nya. Kata bermakna tak ada satu pun sesuatu yang memiliki kemandirian kecuali kemandirian dalam kemandirian-Nya. Hal ini disebutkan dalam doa Nabi: (AONCOINA 20 Al-Kubra and AoAlaAoudawlah Al-Simnani. At-TaAowil An-Najmiyah. 21 Al-Kubra and AoAlaAoudawlah Al-Simnani. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 A( )EINONOEAWahai Tuhan yang memelihara langit dan bum. Kata (A )Ea acONAdan (A)E aCOacA eOaINA merupakan dua nama Allah yang paling agung, yang bermakna Yang Hidup. Yang Menopang Diri-Nya Sendiri. karena (AONA ca aA )EAmencakup semua nama dan sifat-sifat-Nya, karena itu perlu bagi Yang Maha Hidup untuk menjadi Kuat. Mengetahui. Maha Mendengar. Maha Melihat. Berbicara. Berkehendak dan Kekal. Nama-Nya (A)E aCOacA eO aINA mencakup kebutuhan semua makhluk akan Dia. Maka Allah menampakkan diri kepada hamba-Nya dengan dua sifat ini, maka hamba tersebut ketika sifat Maha Hidup menampakkan diri, maka ia dipertemukan dengan semua yang ada dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan ketika sifat (A )E aCOacA eO aINAterwujud, maka ia menyaksikan kehancuran semua makhluk, jika keberadaan mereka adalah dengan keberlangsungan diri kebenaran, bukan dengan diri mereka sendiri. Maka ketika kebenaran menampakkan diri, maka kepalsuan pun sirna dan tiada sesuatu pun yang terlihat dalam eksistensi kecuali (AONA ca aA)EA, (A)E aCOacA eOaINA. Jika semua nama-nama Allah Swt. itu ditetapkan karena (AONA ca aA )EAdan (A)E aCOacA eOaINA, maka ditetapkanlah dualitas di antara keduanya jika hal itu menghancurkan keberagaman, dan keesaan tetap ada, dan keduanya menjadi lebih tinggi dan lebih agung bagi yang kepadanya diwahyukan dan ia menyebutkannya ketika menyaksikan kebesaran keesaan dengan lidah pengelihatan individualitas, bukan dengan lidah penjelasan kemanusiaan, karena dia menyebut nama-Nya yang paling Agung, yang jika dipanggil, menjawab, dan jika diminta olehnya. Ia memberi. Adapun orang yang berdzikir kepada Allah Swt. menghadirkan-Nya dalam hatinya, maka dengan setiap nama Allah Swt. yang disebutnya tidaklah sama dengan nama yang Maha Besar itu. Adapun ketika tidak menghadirkan Allah Swt. dalam dzikirnya dan menyaksikan kebesaran-Nya, maka dengan setiap nama yang disebutnya nama Yang Maha Besar itu sama, sebagaimana Abu Yazid ditanya tentang nama Yang Maha Besar, maka ia berkata: AuNama Yang Maha Besar itu tidak ada Ay Tetapi kosongkan hatimu untuk keesaan-Nya, dan jika kamu seperti itu, maka sebutlah dia dengan nama apapun yang kamu suka. Kata (AAON E aCOacA O aINA ca aA )EAbermakna Yang Berkelanjutan adalah Yang Maha Hidup yang dengan-Nya hidup itu ada. Yang berkelanjutan adalah Dzat yang dengan kecukupannya orang-orang mati dihidupkan kembali, dan juga Yang Maha Hidup kekal yang dengan-Nya nafas-nafas menuduh mereka. Yang Berkelanjutan adalah Dzat yang dengan kecukupanNya orang-orang menjadi teguh, dan kehidupan adalah salah satu sifat khusus-Nya dalam ketiadaan dan sifat umum yang dengannya Dia membawa ciptaan ke dalam keberadaan dari ketiadaan, dan kecukupan adalah sifat-Nya yang dengannya Dia selalu dijelaskan, dan diperoleh bahwa Dia menerima dengan diri-Nya sendiri dalam kekekalan-Nya. (AONA ca aA)EA adalah Dzat yang hidupnya menyelubungi rahasia-rahasia kaum monoteis sehingga mereka menjadi satu dengan-Nya untuk-Nya dan (A )E aCOacA eO aINAadalah Dzat yang memelihara, memanifestasikan sifat-sifat dan menampakkan diri, jiwa-jiwa para arif, sehingga mereka musnah dalam diri-Nya dan terbakar oleh cahaya keagungan-Nya. Disebutkan dalam sabda Rasul: Yang Maha Hidup lagi Maha Berkecukupan, aku jadikan Dia pengawas dalam 22 Al-Kubra and AoAlaAoudawlah Al-Simnani. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 kecukupan-Nya terhadapmu dan terhadap seluruh alam. Dikatakan: Dia adalah penjaga ingatan-ingatan-Nya dan rahasia-rahasia orang-orang pilihan-Nya. Sahl berkata: Au(A )E aCOacA O aINAYang Maha Berkecukupan itu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya, baik kehidupan, perbuatan, dan rezeki merekaAy (Al-Arai. telah diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam Al-Awsat . /1, no . Kemudian Allah Swt. membersihkan diri-Nya dari sifat-sifat yang tidak sempurna a ANa aNA setelah Dia menyebutkan sifat-sifat kesempurnaan. Kalimat (UANIaNA a a a A )aEAbermakna tidur adalah saudara kematian. Bahkan Allah menamakan tidur itu kematian. Ia berfirman: (Allah menjaga jiwa ketika mati, dan menjaga jiwa yang tidak mati ketika tidu. (AzZumar: . , maksudnya adalah tidur. Kematian merupakan lawan dari kehidupan, dan Dialah Yang Maha Hidup, maka Dia tidak menggantinya dengan lawan dari kehidupan. Dalam hal ini. Dia menunjukkan bahwa Dzat-Nya. Maha Suci-Nya, seolah-olah Dia jelaskan dengan sifat-sifat kesempurnaan, bersih dari semua sifat ketidaksempurnaan. A A a AE NI NOA a AN aOaIN aN EaA Kemudian (ANA ca A ) acOaEN IAa UONiNNEaNaN aIN aNAbermakna kepemilikan-Nya, a ANE aIONNOE eaA penciptaan dan pengabdian, sebagaimana firman-Nya: (ANuaEacaNA ca ANa a ANI eIA a Aua eIN aE acEA ANe UA ca ) (Maryam: . , berdiri sebagai seorang hamba yang tidak memiliki hak untuk a AE eea aIA menentang pemiliknya dan kepemilikannya ketika keputusan-Nya dilakukan pada AA A( )I IN N Eac a AAl-Baqarah: . Kemudian Allah berfirman: (AON Oa aA aN aI aNaN aacEN aIaaNA a a Kekecualian ini kembali kepada Nabi Muhammad Saw. , karena Allah Swt. ca ANIA kepadanya kedudukan yang terpuji dalam firman-Nya: (AONA a caAE aNA a aA( )aINOAaeal-IsraAo: . a ANacIe aIA a AE aNI aCA A A A )OAEaIN IN a Amerujuk pada makna dengan syafaat. Selanjutnya, kalimat (AE aA aN INA aa a a a AON aOO aNIN aOaINA bahwa Nabi Muhammad Saw. telah mengetahui apa yang ada di tangan mereka dari urusan para wali sebelum Allah menciptakan makhluk. A A a ca A )O aN aE aOacNAbermakna sebuah metafora bagi-Nya, yaitu Dialah saksi (ANA a ANOEaA a a a ANE NI NOA atas keadaan mereka dan mengetahui apa yang ada dihadapan mereka tentang jalannya urusan dan kisah-kisah mereka, sebagimana firman Allah Swt. : (Dan kami ceritakan kepadamu (Muhamma. dari berita para rasul, yang dapat meneguhkan hatimu dengan it. (Hud: . dan apa yang ada di belakang mereka dari urusan akhirat, dan keadaan penduduk surga dan neraka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun tentang keterangan itu . AeNA a A( )acEN aNAMelainkan apa yang dikehendaki-Ny. berarti bahwa Dia memberitakan hal itu kepada mereka, maka hal tersebut berkaitan dengan ilmu Allah, karena hal itu nyata dan telah disebutkan sebelumnya, dan mereka, yaitu makhluk, tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu-Nya. Karena ilmu-Nya itu bersifat purba dan abadi, tidak mungkin ada ilmu baru sebelum ada pengetahuan yang baru, kecuali yang dikehendaki-Nya untuk disampaikan kepada mereka mengenai sebagian ilmu-Nya. A A a ca A )O aN aE aOacNNAadalah penjelasan tentang Keindahan-Nya, rahasia(ANA a AE NI NON aOEaA a a rahasia-Nya beserta komponen-komponennya, ini berarti bahwa yang menguasai kesempurnaan ini ialah meliputi langit, bumi dan api. Dengan Keagungan dan Kedudukan-Nya maka ibarat membuat cincin-cincin pada bidang datar dalam 23 Al-Kubra and AoAlaAoudawlah Al-Simnani. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 hubungannya dengan Arsy. Maka terlihat betapa sempurnanya keindahan singgasana itu. Adapun perkataan tentang makna kursi, ketahuilah bahwa tuntutan agama adalah bahwa tidak satu pun dari entitas yang digunakan dalam Al-QurAoan dan hadis ditafsirkan dengan makna, bukan dengan gambarannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Saw. , para sahabat, dan para ulama salafus shaleh, insyaallah, kecuali jika itu adalah seorang penyadar yang telah Allah TaAoala khususkan untuk menyingkapkan kebenarankebenaran, makna-makna, rahasia-rahasia, dan dalil-dalil wahyu dan terwujudnya Maka jika diwahyukan dengan makna, petunjuk, dan realisasi tertentu sesuai dengan makna tersebut tanpa merusak citra entitas-entitas seperti surga, neraka, dan Allah tidak menciptakan sesuatu pun di dunia kecuali ada contoh dan teladannya di dunia manusia. Maka perumpamaan singgasana manusia di dunia adalah Karena di sanalah ruh ditegakkan sebagai khalifah Allah. Allah berfirman (A ) aOaEN OAa Aa O an a aN aIAmaknanya adalah ruh manusia tidak merasa lelah memelihara rahasia-rahasia langit dan bumi beserta makna-maknanya, yang telah Dia masukkan ke dalam rahasia manusia melalui firman-Nya: (AEEac aNA a AaeaNaNA e A( ) aO aEacIN aa aIN aEAAl- Baqarah: . maka Allah Swt. setelah Dia memperlihatkan dan menetapkan bagi makhluk-makhluk-Nya dari Arsy, tumpuan kaki, hati manusia dan rahasianya, suatu kedudukan yang tinggi dan agung dalam penciptaan, suatu manifestasi kesempurnaan, kekuasaan dan hikmah, kemuliaan dan keagungan, dan diikat dengan jubah keagungan dalam ketinggian dan kemegahan, dan Dia lebih berhak dan layak menerima pujian dan A A AA a A )ON NON EEa acON EADia menetapkan bagi-Nya sanjungan, maka Allah Swt. berfirman: (AOINA a a a kedudukan yang tinggi, kebesaran dan kekuasaan, maka siapapun yang tinggi di akhirat Allah Swt. lah yang pertama dalam ketinggian tersebut24. Praktik Penggunaan Ayat Kursi dalam Masyarakat sebagai Sarana Perlindungan Ayat Kursi umumnya dalam masyarakat muslim difungsikan sebagai sarana perlindungan dari gangguan makhluk-makhluk halus, bahkan tidak jarang ayat ini digunakan untuk mengusir jin, maupun setan. Sejak Nabi Muhammad Saw. masih hidup Ayat Kursi merupakan ayat yang sering beliau anjurkan untuk digunakan sebagai bacaan perlindungan diri dari jin dan setan25. Penggunaan Ayat Kursi sebagai sarana perlindungan, khususnya di masyarakat Indonesia, juga umumnya dijadikan sebagai bermacam-macam kegunaan, yaitu seperti tolak bala26, ayat peruqyah27, pajangan di tempat usaha yang dimaksudkan sebagai pelindung tempat usaha28, jimat perlindungan . ari jin, pagar rumah, kekebalan, dan 24 Al-Kubra and AoAlaAoudawlah Al-Simnani. Mufidatul khoiruro. AuPraktik Penggunan Ayat Kursi Pada Mahasantri Pesantren Luhur Sabilussalam CiputatAy (UIN Syarif Hidayatullah, https://repository. id/dspace/handle/123456789/57009. 26 Nur Widad Rahmawati and Rifqi AsAoadah Al Laily. AuKajian Living QurAoan Tradisi Pembacaan Ayat Kursi Sebagai Tolak Bala Di PPTQ Al-Hidayah Plosokandang Tulungagung,Ay Diya Al-Afkar: Jurnal Studi AlQuran Dan Al-Hadis 11, no. 1 (June 30, 2. : 110, https://doi. org/10. 24235/diyaafkar. 27 Ahmadi. AuPraktik Dan Motivasi Meruqyah Dengan Ayat Kursi. Ay 155. 28 Zulihafnani. Nurlaila, and Muhammad Rifqi Hidayatullah. AuPenggunaan Pajangan Ayat Kursi Sebagai Pelindung,Ay Tafse: Journal of QurAoanic Studies 5, no. 2 (November 30, 2. : 139, https://doi. org/10. 22373/tafse. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 penyubur lahan pertania. yang prakteknya telah berlangsung turun temurun 29. Selain itu, ada juga yang menjadikan Ayat Kursi sebagai rajah 30. Di sisi lain. Ayat Kursi juga digunakan sebagai ayat penyembuh, doa, dan penenang hati 31. Aplikasi Teori Semiotika Roland Barthes terhadap Ayat Kursi Al-QurAoan merupakan diskursus dari sekumpulan ayat yang merupakan tandatanda Bahasa yang ketika melakukan signifikansi terhadap tanda-tanda tersebut selalu melibatkan dialektika antara penanda . dan petandanya . Sebagai penanda. Al-QurAoan terformat berbentuk teks bahasa yang meliputi unsur-unsur huruf, kata, kalimat, yang saling berkaitan. Adapun petanda dari Al-QurAoan yakni berupa aspek mental yang di dalamnya terjadi semacam keterikatan antara pikiran, emosi, dan perasaan dalam membentuk konsep ketika terjadi proses signifikansi terhadap penanda Dalam penerapan teori semiotika Roland Barthes pada redaksi Ayat Kursi, peneliti membaginya ke dalam 8 unit, yakni. Makna Denotasi Denotasi dalam semiotika Roland Barthes adalah makna teks secara harfiah, yang merujuk pada makna dasar dari sebuah tanda yang memiliki makna paling jelas dan tidak Adapun untuk mengetahui makna denotasi dari Ayat Kursi, perlu penganalisaan melalui proses melihat dan menelusuri Ayat Kursi secara tekstual, yang dalam penelitian ini bersumber dari Tafsir Al-Munir. Penanda pada bagian pertama Ayat Kursi adalah lafadz (AEENA c ). Sedangkan petandanya adalah Allah merupakan Dzat yang berhak disembah dan ibadah adalah menghambakan, menundukkan ruh atau jiwa kepada sebuah kekuasaan yang ghaib yang tidak bisa diketahui dan dilihat hakikatnya. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. Demikian pula lafadz (AONA ca aA )EAmerupakan penanda dari petanda yang berarti bahwa Allah adalah Dzat yang kekal atau Dzat yang maha Hidup, hidup merupakan salah satu sifat Allah Swt. yang karenanya Dia pasti memiliki sifat Al-AoIlmu. Al-Iradah dan AlQudrah. Kemudian (A )E aCOacA eO aINAmerupakan penanda yang petandanya adalah Allah merupakan Dzat Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya, baik itu ajal, tindakan maupun rizki makhluk, serta menjaga seluruh makhluk. Lafadz . A ) aIaNAmerupakan penanda yang petandanya bermakna kantuk sebelum Tidur merupakan sebuah keadaan yang menimpa sesuatu yang hidup yang karenanya, indra-indra lahiriyahnya berhenti berfungsi. Kata (A ) aE eaOaaNAadalah penanda yang petandanya adalah merepresentasikan ilmu Allah Swt. 29 Anwar Mujahidin. AuAnalisis Simbolik Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai Jimat Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo,Ay Kalam 10, no. 1 (February 23, 2. : 43, https://doi. org/10. 24042/klm. 30 Rufaidah Utami. AuPenggunaan Ayat Al-QurAoan Sebagai Rajah Pagar RumahAy (UIN Datokrama Palu, 2. , http://repository. id/id/eprint/2536. 31 Nor Izzati Septia. Nihayatul Kamal, and Ngalimun. AuKesehatan Mental Dan Ketenangan Jiwa Kajian Psikologi Agama,Ay JIS : Journal Islamic Studies. March 2023. 32 Sugeng Sugiyono. Jejak Bahasa Arab Dan Perubahan Semantik Al-QurAoan, ed. Yaser Arafat, 1st (Yogyakarta: Suka Press, 2. 33 Siti Fahimah Siti. Alya Khoironi Muhibbah, and Vika Madinatul Ilmi. AuDi Balik Simbolisme Pesan Moral Dzulqornain Dalam Al-QurAoan (Analisis Semiotika Roland Barthe. ,Ay Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Tafsir 7, no. 1 (June 19, 2. : 216, https://doi. org/10. 58518/alfurqon. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Selanjutnya, lafadz . AONA a aA ) aOEaOamerupakan penanda dari petanda yang maksudnya tidak berat dan tidak sulit bagi Allah Swt. di dalam menjaga langit dan bumi beserta seluruh isinya, akan tetapi itu semua sangat mudah dan ringan bagi-Nya. Allah Swt. adalah Dzat yang menjaga setiap diri atas apa yang diperbuatnya. Dzat yang maha mengawasi segala sesuatu. Dia adalah Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Dzat yang Maha Perkasa. Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, tiada Tuhan selain Dia. Kemudian redaksi (AEEaONA a ) merupakan penanda dari petanda yang bermakna bahwa Allah Swt. merupakan Dzat yang Maha Tinggi dari segala bentuk serupaan dan sekutu, e AEA Dia adalah Dzat yang Maha Perkasa atas semua makhluk. Sedangkan ( AOIA a ) merupakan penanda dari petanda yang artinya Al-Kabir (Maha Besa. yang tiada sesuatu pun yang lebih besar dari-Nya. Makna Konotasi Makna konotasi secara umum dalam teori semiotika Roland Barthes adalah maknamakna yang tidak ada. Sedangkan secara analitis yaitu makna yang tidak dapat dilepaskan dari bagaimana makna-makna tersebut ditentukan34. Sehingga untuk mengetahui makna konotasi dari Ayat Kursi, perlu penganalisaan Ayat Kursi secara Dalam penelitian ini digunakan tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah sebagai sumber data utama pemaknaan tingkat konotasi. Kata . AEENA cA ) NAdi dapatkan makna konotasinya adalah sebuah penegasan yang memanifestasikan keesaan keilahian Dzat Allah Swt. , keunikan, dan kekekalan-Nya yang merujuk pada makna bahwa Ia Autidak perlu didefinisikanAy karena semuanya itu suci dan agung dari jangkauan pembicaraan yang meliputi penggambarannya. Selain itu, kata tersebut juga mengandung penegasan bahwa keimanan kepada-Nya haruslah diiringi dengan tindakan, dan tindakan tidaklah berati apapun tanpa adanya keimanan. Kemudian kata (AONA ca aA )EAmakna konotasinya berkembang menjadi konsep bahwa tidak ada kehidupan sejati selain kehidupan Allah Swt. , dan semua makhluk bergantung sepenuhnya pada-Nya dalam segala aspek. Hal ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya bersumber dari Allah Swt. , sehingga manusia harus tunduk dan berserah kepada-Nya. Di sisi lain, kata (A )E aCOacA eO aINAmengandung makna konotasi yang merujuk pada ketergantungan mutlak seluruh makhluk terhadap Allah, sekaligus pernyataan diriNya melalui sifat (AONA ca aA )EAdan (A)E aCOacA eOaINA. Kata . A ) aIaNAditemukan makna konotasinya bahwa tidur memiliki pemaknaan yang dekat dengan kematian, sehingga pada kalimat tersebut Allah menunjukkan sifat kesempurnaan-Nya yang suci dari semua sifat ketidaksempurnaan. Kata . AE aOacNA a ) didapatkan makna konotasinya bahwa kata tersebut merupakan representasi pengetahuan Tuhan yang tak terbatas dan sebagai simbol keindahan seerta kesempurnaan ilahi dengan menggambarkan keluasan langit dan bumi dengan 34 Maolidya Asri Siwi Fangesty and Muliadi. AuUpaya Hanna Binti Faqud Untuk Mendapatkan Keturunan Mulia Dalam Al-QurAoan: Kajian Semiotika Roland Barthes,Ay Mufham: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 2 . : 107. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 keagungan-Nya, serta penggambaran Dzat-Nya yang tak terpahami secara fisik. Selain itu, kalimat tersebut juga menggambarkan bahwa Bahasa agama harus dipahami secara metaforis, bukan harfiah saja. Kata . AONA a aA ) aOEaOamakna konotasi adalah kata tersebut tidak sekedar menegaskan kemudahan Allah dalam mengatur alam semesta, tetapi juga menggambarkan otoritas metafisik yang diberikan Allah kepada manusia untuk memelihara . halifah Alla. hakikat ciptaan melalui pengetahuan, hikmah dan kesadaran spiritual. Dalam kata ini, manusia ditempatkan sebagai makhluk istimewa yang mampu memahami alam, sekaligus diingatkan mengenai keterbatasannya dihadapan kuasa Allah yang mutlak. Kata (AEEaONA a ) makna konotasinya adalah membangun perspektif kekuasaan mutlak yang menunjukkan Allah berada di puncak tertinggi yang tak tertandingi. Kata ini juga dapat dipahami sebagai narasi bahwa ketinggian sejati hanya bisa dicapai melaui ketaatan kepada Allah. Selain itu, kata ini juga merujuk pada ketakterbandingan Tuhan. a A )EAdidapatkan makna konotasinya adalah kata ini menggambarkan dua sisi Pada kata (A eOINA antara yang Tuhan dengan manusia, yakni segala konsep kebesaran manusia seperti kekuasaan, kemuliaan dan keagungan merupakan bayangan semu dari kebesaran mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. Selain penafsiran Ayat Kursi dari Tafsir At-TaAowil An-Najmiyyah di atas, terdapat beberapa hadis yang mengandung penjelasan mengenai Ayat Kursi, di antaranya35: Hadis yang di riwayatkan oleh Al-Bukhari yang inti sarinya adalah setan selalu berusaha memberikan mudharat kepada manusia. Tapi Allah yang mengasihi hamba-Nya juga telah mensyariatkan beberapa hal yang dapat menjaga manusia dari kejahatan setan dan menjauhkannya dari mereka, di antaranya yaitu membaca Ayat Kursi. At-Tabarani meriwayatkan dari Al-Hasan bin AoAli Ra. dia berkata. AuRasulullah Saw. bersabda AuBarang siapa membaca Ayat Kursi seusai shalat wajib, maka dia berada dalam perlindungan Allah hingga shalat berikutnya lagi. Ay An-NasaAoi. Ibnu Hibban dan At-Tabarani meriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata. AuRasulullah Saw. AuBarang siapa membaca Ayat Kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Makna Mitos Lapisan pemaknaan yang terakhir dalam semiotika Roland Barthes yaitu mitos. Mitos dalam kajian ini berbeda dengan mitos yang dipahami masyarakat umum. Dalam masyarakat umum, mitos dipahami sebagai sebuah budaya dan kepercayaan di luar nalar logikanya dan dipengaruhi oleh kekuasaan pandangan sebuah kelompok masyarakat. Sedangkan untuk mengetahui mitos dalam kajian ini, yaitu dengan melihat konteks makro suatu surah atau ayat Al-QurAoan yang dapat berupa asbab an-nuzul dan sejarah. Jadi mitos di sini adalah hal di luar ayat yang menjadi konteks makro dalam turunnya sebuah ayat serta dapat mengindikasikan pemahaman ayat tersebut. Pemahaman yang dimaksud adalah dari pemahaman konotatif36. Dari makna konotatif inilah penafsiran mengenai Ayat Kursi dapat menjadi lebih luas. 35 Fadhi Ilahi. Fadhilah Dan Tafsir Ayat Kursi, ed. Eko S, 1st ed. (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 12, 19, 20. 36 Ana Syelviana. Uin Sunan, and Kalijaga Yogyakarta. AuIntention of the Meaning QurAoan as Nr: The Implementation of Roland Barthes Semiotics on Qs. Al-SyrA . :52 Intensi Makna Al-QurAoan Sebagai Nr: Implementasi Semiotika Roland Barthes Terhadap Qs. Al-SyrA . :52,Ay Journal of QurAoan and Hadis Studies 5, no. : 159, https://doi. org/10. 28918/aqwal. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Berdasarkan hasil pengamatan dari dua tahap pemaknaan Ayat Kursi yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa makna mitos yang didapatkan. Diawali dari kata . AEENA cA ) NAmerupakan sebuah konsep yang menggambarkan kebenaran yang sudah mutlak, seolah-olah memperlihatkan seluruh sifat ketuhanan seperti kesempurnaan, keagungan, dan ketidakterjangkauan akal manusia adalah realitas objektif yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Selain itu, dari makna konotasi yang menjelaskan bahwa Allah Autidak perlu didefinisikanAy tetapi AuIa menjelaskan diri-Nya ketika manusia membutuhkanAy menimbulkan makna mitos yang menggambarkan bahwa Tuhan yang tidak terpahami oleh akal manusia justru hadir melalui bahasa manusia, hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut menggambarkan upaya kekuasaan ilahi . ivine powe. untuk menunjukkan Di sisi lain, kata . AEENA cA ) NAmerujuk pada penolakan Tuhan lain, ini menunjukan bahwa kata tersebut tidak hanya merupakan teologis, tetapi juga sebagai pengukuhan keilahian Islam sebagai satu-satunya kebenaraan. Selain itu, kata . AEENA cA ) NAjuga merujuk pada makna bahwa ketidakmampuan merupakan kepatuhan yang wajar, bukan sebagai keterbatasan epistemologis. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dalam pemaknaan ini tidak hanya menjelaskan realitas ketuhanan, tetapi juga menghasilkan subjek religius yang paham atas fitrahnya. Nilai ideologis yang terkandung dalam redaksi ini adalah kewenangan mutlak keilahian serta kepatuhan manusia sebagai hamba-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana kalimat ini mengandung nilai-nilai produktif dalam menciptakan makna yang mengatur cara berpikir dan beriman. Pemaknaan mitos di sini bersifat sakral, sehingga kekuatannya tidak terbantahkan. Selanjutnya, kata (AONA ca aA)EA makna mitosnya adalah kata ini pemaknaannya menjadi sebuah konsep sifat Tuhan yang kompleks yang kebenarannya harus mutlak diterima. Sedangkan kata (A )E aCOacA eO aINAmerujuk pada keyakinan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah semu, sehingga manusia harus mengarahkan seluruh penyembahan dan ketergantungann hanya kepada-Nya. Dengan demikian, kata (AONA ca aA )EAdan (A )E aCOacA eO aINAtidak hanya menjelaskan sifat Tuhan . esan teologi. , tetapi juga membentuk sistem keyakinan dan nilai yang mengatur cara manusia berpikir, beragama, dan Selanjutnya, pada kata . A ) aIaNAdidapatkan makna mitosnya yakni . antuk sebelum tidu. bukanlah sekedar rasa lelah, melainkan kata tersebut dipilih untuk menegaskan antara ketidaksempurnaan makluk . ang butuh istiraha. dan kesempurnaan Allah . ang tidak butuh apapu. Sehingga dalam kata ini, dapat diketahui bahwa terdapat ideologi yang tersamar, yakni menegaskan hakikat kekuasaan (Allah vs makhlu. dan menaturalisasinya sebagai kebenaran yang mutlak. Selanjutnya, pada lafadz . AE e aOaNA a ) ditemukan makna mitosnya bahwa manusia hanya bisa memahami kebenaran sejauh yang diizinkan Allah Swt. Ini bukan hanya deskripsi tentang ketidaktahuan manusia, tetapi juga pembentukan pemikiran mengenai kekuasaan, di mana otoritas mutlak kebenaran ada pada Allah Swt. , sementara manusia berada dalam posisi submisif. Ideologi yang terkandung dalam kata ini menggambarkan bahwa secara halus ayat ini mengondisikan pikiran manusia untuk menerima narasi ketuhanan Allah Swt. tanpa pertanyaan kritis, karena segala sesuatu telah direduksi menjadi Aurahasia ilahiAy yang hanya bisa dipahami melalui iman, bukan nalar. Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Kemudian dalam Ayat Kursi, kata . AONA a aA ) aOEaOadidapatkan makna mitosnya bahwa Autidak merasa beratAy merupakan narasi halus merujuk pada sifat-Nya yang bertolak belakang dengan sifat manusia, yaitu mudah merasa berat dan payah. Sehingga karena Allah merasa tidak berat. Ia dapat dengan mudah mendelegasikan pemeliharaan alam semesta kepada manusia, bukan untuk membebankan manusia, melainkan anugerah Allah yang dititipkan melalui ruh. Sehingga ideologinya adalah kata tersebut menempatkan manusia pada posisi yang terbatas dihadapan kuasa Allah yang mutlak. Kata (AEEaONA a ) ditemukan makna mitosnya bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan memiliki tingkatan-tingkatan dimana hal tersebut dinilai berdasarkan kedekatannya pada Allah Yang Maha Tinggi. Sehingga untuk menjadi tinggi, manusia harus merendahkan diri dihadapan-Nya. Ideologi yang terkandung dalam kata ini adalah setiap klaim kekuasaan atau status ketinggian dari makhluk merupakan sesuatu yang rendah dan dibawah, karena hanya Ia Yang Maha Tinggi, sehingga tidak ada yang patut ditakuti a A)EA selain Ia yang Maha Tinggi. Kata terakhir yang terdapat dalam ayat kursi yakni (A eOINA ditemukan makna mitosnya adalah segala bentuk kebesaran dan keagungan yang ada di alam semesta merupakan cerminan atau bayangan dari sifat Kebesaran-Nya yang mutlak. Sehingga setiap klaim kebesaran selain-Nya yang dianggap independen serta final merupakan sebuah kesombongan. Secara keseluruhan, simbol-simbol dari Ayat Kursi di atas memperlihatkan bahwa ayat tersebut merupakan simbol dari kekuatan transenden yang secara kompleks mengatur kehidupan manusia. Dalam setiap kandungan maknanya merujuk pada kekuasaan Allah Swt. sebagai pengendali realitas, dimana segala hal yang ada di alam semesta dapat Ia kendalikan dengan mudah. Lebih jauh, ayat ini ayat tidak hanya mendeskripsikan realitas tentang ketuhanan, tetapi didalamnya juga mengandung narasi yang membentuk cara manusia memandang diri sendiri, dunia, serta hubungan mereka dengan Allah Swt. Di sisi lain, dari pemaparan di atas mengenai hadis tentang Ayat Kursi, dapat di pahami bahwa Ayat Kursi merupakan ayat yang telah terjamin kebermanfaatannya untuk Sehingga wajarlah ayat ini disebut-sebut sebagai ayat perlindungan, karena walaupun ayat ini tidak mengandung permintaan perlindungan secara langsung, tetapi dalam ayat ini terdapat begitu banyak kalimat-kalimat pengakuan terhadap sifat-sifat Allah yang secara halus mengandung ideologi-ideologi yang merujuk pada ketundukan terhadap ketuhanan-Nya yang mutlak. Sehingga ayat ini merupakan narasi ketuhanan mutlak yang menggambarkan bahwa keimanan merupakan kekuatan pelindung, dimana Ia sebagai otoritas pengendali realitas mampu berbuat apa saja tanpa batas, termasuk menolak bahaya, mengusir kuatan jahat, dan memberikan ketenangan. Dari hasil analilis makna-makna mitos di atas, dapat diketahui bahwa hal tersebut selaras dengan teori mitos Roland Barthes, yaitu konsep mitos merupakan gagasan yang mencerminkan nilai-nilai dan ideologi yang berkembang di dalam masyarakat. Hal ini menjadi ciri khas pendekatan semiotika yang dikembangkan olehnya, yakni membuka cakrawala baru untuk memahami bagaimana penandaan dapat mengungkapkan mitosmitos yang berperan dalam kehidupan sehari-hari . 37 Muhammad Habib Izzuddin Amin. AuNahl Sebagai Simbol: Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap QS. An-Nahl Ayat 68-69,Ay TaAowiluna: Jurnal Ilmu Al-QurAoan. Tafsir Dan Pemikiran Islam 5, no. (December 30, 2. : 694, https://doi. org/10. 58401/takwiluna. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Linguistic Penanda I Lafadz (A)cEEA ISSN: 3062-6919 Petanda I Dia merupakan Dzat yang berhak disembah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. Tanda I Penanda II Allah adalah satu-satunya Dzat yang pantas untuk disembah. Tidak ada tuhan lain selainNya. Myth E-ISSN: 2807-6346 Petanda II Penegasan keunikan, keesaan Allah, serta tindakan, dan tindakan tidaklah berati apapun Tanda II Kata ini tidak hanya merupakan teologis yang berisi kewenangan mutlak keilahian, tetapi juga sebagai ideologi yang merujuk pada kepatuhan manusia sebagai hamba-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana kalimat ini mengandung nilai-nilai produktif dalam menciptakan makna yang mengatur cara berpikir dan beriman. Tabel 2 Transformasi Makna Ayat Kursi sebagai Simbol Perlindungan dalam Praktik Keagamaan Masyarakat Setelah menganalisis makna Ayat Kursi dalam Tafsir Al-Munir dan At-TaAowil AnNajmiyyah melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, penelitian ini menemukan bahwa salah satu signifikansi utama . ingkat mito. Ayat Kursi adalah konsep perlindungan mutlak dari Allah Swt yang terbentuk dari pengakuan tunduk atas sifatsifat keilahian-Nya. Signifikansi mitos ini, telah ternaturalisasi sebagai sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan dalam kesadaran kolektif muslim, dan pemaknaannya tidak berhenti pada ruang lingkup teologis saja. Mitos tersebut mengalami transformasi dan materialisasi yang dinamis ke dalam berbagai praktik keagamaan masyarakat, hal ini menunjukkan proses semiosis yang hidup dimana makna terus diproduksi dan Transformasi makna tersebut termanifestasi dalam beberapa pola. Pertama, terjadi pergeseran dari konsep perlindungan yang bersifat spiritual-transendental menjadi objek yang bersifat magis-simpatetik. Ayat kursi tidak hanya dipahami sebagai pernyataan tauhid, tetapi juga diinstrumentalisasi sebagai sebuah alat perlindungan. Tindakan membacanya sebelum tidur, setelah sholat, atau memasuki rumah baru dipersepsikan sebagai aktifitas yang secara otomatis mengaktifkan AuperisaiAy ilahi. Kemudian, signifier linguistic . dan grafis . Ayat Kursi sering direduksi menjadi sebuah jimat, baik itu ditulis, dibawa, atau digantung di tempat-tempat tertentu dengan keyakinan bahwa objek tersebut memancarkan energi perlindungan. Dalam konteks ini, tanda telah berubah fungsi menjadi tool . Kedua. Ayat Kursi berfungsi sebagai simbol identitas dan penanda ruang sakral. Konsep penjagaan Allah dalam redaksi Ayat Kursi ditransformasikan untuk menciptakan Construction of the Meaning of Ayat KursiA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 ruang-ruang yang dianggap aman dari gangguan metafisik. Praktik membacanya untuk mengusir gangguan jin atau menolak sihir merupakan upaya untuk membangun tembok gaib yang membatasi hadirnya kekuatan jahat atau sesuatu yang mengancam. Dengan demikian. Ayat Kursi beroperasi sebagai sebuah penanda . yang mengubah suatu ruang netral menjadi suatu ruang yang dilindungi . Ketiga, analisis menunjukkan adanya reduksi makna kompleks menjadi fungsi praktis yang sederhana. Kedalaman pesan teologis ayat kursi yang mencakup sifat-sifat Allah Swt. seperti (AONA ca aA)EA, (A)E aCOacA eOaINA, dan (AE a eOINA a ) seringkali tersembunyi . ebagaimana konsep hiding pada mitos Barthe. Yang lebih familiar adalah makna konotatif yang langsung dan powerful yaitu membaca ayat ini = aman. Fungsi praktisnya dalam memberikan rasa tenang dan aman . sychological comfor. sering kali mengalahkan kedalaman pemahaman filosofis-teologisnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap ayat kursi sebagai simbol perlindungan merupakan sebuah living tafsir atau interpretasi Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, terlihat jelas bahwa makna yang dibangun oleh otoritas penafsiran . ara ulam. telah berhasil di adopsi, di adaptasi, dan diberi bentuk baru dalam praktiknya. Hal ini tidak menunjukkan penyimpangan, melainkan vitalitas dan relevansi Ayat Kursi, sekaligus membuktikan bahwa sebuah teks suci tidak pernah benar-benar tertutup, tetapi terus membentuk dan dibentuk oleh realitas sosial penganutnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dari pemaparan mengenai Ayat Kursi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara keseluruhan makna denotatif di simbol-simbol yang ada dalam redaksi Ayat Kursi merupakan penjelasan harfiah mengenai sifat-sifat keagungan dan kekuasaan Allah Swt. Sedangkan makna konotasinya menunjukkan bahwa dalam redaksi ayat tersebut mengandung simbol-simbol perlindungan, kekuatan spiritualitas, serta identitas keislaman. Kemudian di dapatkan makna mitosnya bahwa ayat ini merupakan simbol dari kekuatan transenden yang secara kompleks mengatur kehidupan manusia. Dalam setiap kandungan maknanya merujuk pada ketundukan atas kekuasaan mutlak Allah Swt. sebagai pengendali realitas, dimana segala hal yang ada di alam semesta dapat Ia kendalikan dengan mudah. Sehingga dapat dipahami, ayat ini merupakan narasi ketuhanan mutlak yang menggambarkan bahwa keimanan merupakan kekuatan pelindung, dimana Ia sebagai otoritas pengendali realitas mampu berbuat apa saja tanpa batas, termasuk menolak bahaya, mengusir kuatan jahat, dan memberikan ketenangan. Kemudian, transformasi makna ayat kursi sebagai simbol perlindungan dalam praktik keagamaan masyarakat termanifestasi dalam beberapa pola. Yang pertama, yakni terjadi pergeseran dari konsep perlindungan yang bersifat spiritual-transendental menjadi objek yang bersifat magis-simpatetik. Kedua. Ayat Kursi berfungsi sebagai simbol identitas dan penanda ruang sakral. Dan yang ketiga, adanya proses reduksi makna kompleks Ayat Kursi menjadi fungsi praktis yang sederhana. Dari ketiga hal tersebut, tidak ditemukan adanya penyimpangan, melainkan keberhasilan makna yang dibangun oleh para ulama, sehingga makna Ayat Kursi telah di adopsi, di adaptasi, dan diberi bentuk baru dalam praktik masyarakat. Penelitian tentang kandungan makna Ayat Kursi perlu untuk terus dilakukan, diantaranya menggali kandungan Ayat Kursi dari sisi pemaknaan tafsir filosofis perhuruf, karena dengan begitu akan terurai hikmah-hikmah yang lebih mendalam. Vol. 5 No. August 2025, pp. Khansa Fathinatul M. , et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 KONTRIBUSI PENULIS Penelitian ini memberikan kontribusi akademis dalam bidang ilmu Al-QurAoan dan tafsir, yaitu memberikan perspektif baru dalam memaknai suatu ayat, dan berhasil mengungkap bagaimana teks yang sama dikonstruksi menjadi mitos yang berbeda-beda berdasarkan realitas sosial penganutnya. Dengan hadirnya penelitian ini, tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan tafsir, tetapi juga menjadikannya relevan bagi diskusi keislaman kontemporer. REFERENSI