Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021, 189-387 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik dalam Perspektif Al-QurAoan Muhamad Parhan Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia muhamad@upi. Nurti Budiyanti Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia nurtibudiyanti@upi. Auliya Fitria Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia auliafitria@upi. Abstract: Allah swt gave knowledge to Prophet Adam as as well as all of us who are descendants of the children of Adam. There is a difference between Prophet Adam as in obtaining knowledge directly from Allah swt, while we are not taught directly by Allah swt but given the potential by Allah to explore knowledge such as through the QurAoan and education. Al-QurAoan is the word of God which is used as a guide for life for Muslims who have no doubt in it. While education is an effort made by humans with various devices, characters and existence. In the QurAoan there are various signs related to educational issues that are very important, if the QurAoan is studied in depth, we will get related to the basic principles of education, which we can then use as inspiration in developing quality education. Keywords: Human. Science. Al-QurAoan, and Education Abstrak: Allah swt memberi bekal ilmu pengetahuan kepada Nabi Adam as begitu pun kita semua yang merupakan keturunan bani Adam. Adapun terdapat perbedaan antara Nabi Adam as dalam memperoleh ilmu pengetahuan langsung dari Allah swt, sedangkan kita tidak diajarkan langsung oleh Allah swt melainkan diberikan potensi oleh Allah untuk menggali ilmu pengetahuan seperti melalui Al-Qur`an dan TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Al-Qur`an merupakan firman Allah yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi kaum muslimin yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Sedangkan pendidikan merupakan upaya yang dilakukan oleh manusia dengan berbagai perangkat, karakter dan eksistensinya. Dalam Al-Qur`an terdapat berbagai isyarat terkait permasalahan pendidikan yang sangat penting, jika Al-Qur`an dikaji secara mendalam maka kita akan memperoleh terkait prinsip dasar dari pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi dalam mengembangkan pendidikan yang Kata Kunci: Manusia. Ilmu Pengetahuan. Al-QurAoan, dan Pendidikan Pendahuluan Allah swt menciptakan manusia dari unsur-unsur sari pati tanah yang kemudian ditiupkan ruh sehingga dapat hidup, berkembang, berfikir, bergerak, dilihat dan dirasakan. 1 Sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S Al-Hijr :28. a e a a a ca a a a a a A cIaI aA E aAE cI aIA a Au acI A a a AEa u cI aE a aC A AOIA AIA a a a AauaO CE E E aEIEA Artinya: AuDan . , ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: AuSesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering . ang berasa. dari lumpur hitam yang diberi bentukAy Selain itu. Allah swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, yaitu sebagai khalifah di muka bumi dan makhluk paedagogik atau makhluk yang memiliki potensi dididik dan mendidik. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S Al-Baqarah: 31. a a a a a a a a a a a a ca a a ca a e a a a a a AaO a acE aI aI EI a EN I A e AOIA As AIA AEA ACA a AA AEA AEA AIA AEA AIA ANA a ea a a AN a aEea uI aEA aAI I aA aCaIOA e aIA Akilah Mahmud. AuInsan Kamil Perspektif Ibnu Arabi. Ay Sulesana. Budiyanti. Nurti. Asep Abdul Aziz, and Palah. AuTHE FORMULATION OF THE GOAL OF INSAN KAMIL AS A BASIS FOR THE. Ay IJECA (International Journal of Education and Curriculum Applicatio. : 2020. 1Ae10. Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . Artinya: AuDan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama . enda-bend. seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: AuSebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!Ay. Dengan demikian maka manusia secara harfiah dapat didefinisikan kepada makhluk yang secara potensial memiliki pengetahuan dan mampu untuk didik serta mendidik. Mengingat pendidikan sangat penting bagi kehidupan dan kebutuhan setiap manusia, maka Islam memandang pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia . ong life educatio. Islam memotivasi manusia untuk selalu meningkatkan kualitas ilmuan dan Tidak hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrawi saja, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi. Sebagaimana firmana Allah swt dalam Q. S At-Taubah: 122. ca a e a a a a a a a a a a e a a c a ca a AeA oAaEa O aE aI a AaIA AIA AOI EI EIIaIOI aEIAaO EA AE A aCn IaINI a e a ca a a a c a a a a a ca a a a e e a a a a a a a e a a a c AaOI O aEIaO COINI ua O uaE aNI EENI OOIA a AaEACNO aA EA Artinya: AuTidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya . e medan peran. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Ay Melihat hal tersebut maka dalam artikel ini penulis akan fokus mengenai hakikat manusia sebagai makhluk pedagogik dan bagaimana pendidikan dalam perspektif Al-QurAoan. Syamsuhadi Irsyad. AuMendidik Muslim Millenial Berkemajuan. Ay umm. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Kajian Teori Manusia sebagai Makhluk Berpendidikan Manusia merupakan makhluk yang dapat dididik dan mendidik . omo educandu. Proses pendidikan yang menjadikan manusia sebagai subjek dan objek pendidikan merupakan upaya mengarahkan manusia untuk mengetahui dan menyadari hakikat dari tujuan dan fungsi penciptaannya, yakni sebagai Aoabd . dan khalifah . Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, manusia diberi kemuliaan atau potensi berupa fitrah, indra, akal, dan hati. Pada dasarnya fitrah manusia adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaannya sejak lahir Al-QurAoan sendiri menyebut fitrah sebagai ciptaan, perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ikhlas, dan tauhid5 (Budiyanti. Aziz, and Indonesia 2. Pendidikan menjadi lembaga yang paling strategis untuk mengarahkan fitrah manusia agar dapat bejalan secara optimal. Konsep fitrah juga menuntut agar pendidikan Islam bertujuan mengarahkan kepada terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Tuhannya. Manusia diciptakan Allah swt memiliki indra, yaitu berupa pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah menyebutkan kata samAoa . lebih awal dari pada potensi lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q. S An-Nahl: 78. a a a a a a a a a a a a a a ca a a a a a a ca a aAEIA AO OE EA iAs AOI INaEI E EIOI A a AOEE EI aII A a a a a a ca a a a a a a a a a a a ca a eI EOIA iAs AEI OEA OEA Artinya: AuDan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Lisnawati. Yesi. Aam Abdussalam, and Wahyu Wibisana. AuKonsep Khalfah Dalam Al-Qur`n Dan Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam (Studi MauduAoI Terhadap Konsep Khalfah Dalam Tafsir Al-Misba. Ay TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education 2. Budiyanti. Nurti. Asep Abdul Aziz, and Universitas Pendidikan Indonesia. AuThe Formulation of the Goal of Insan Kamil As a Basis for The. Ay 3. 1Ae10. Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . Optimalisasi pendengaran, penglihatan, dan hati manusia sebagai potensi dasar dengan senantiasa mengarahkannya untuk merespons stimulus empiris tidak hanya kepada sesuatu yang sifatnya materi, tetapi juga kepada sesuatu yang semakin mendekatkannya kepada Allah. Semenetra itu, tujuan manusia sebagai hamba (Aoab. menuntut praktik Aoubudiyyah yang memerlukan pengetahuan dan motivasi untuk dapat melaksanakannya. Diharapkan praktik-praktik Aoubudiyyah sebagai tujuan penciptaan dan upaya mengelola bumi sebagai fungsi khalifah membuat posisi manusia menjadi semakin tinggi dengan berbagai kemuliaan di sisi Khalik-nya. Fungsionalisasi pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya sangat bergantung dari sejauh mana kemampuan umat Islam menerjemahkan dan merealisasikan konsep hakikat manusia sebagai makhluk pedagogik. Hal ini, menjadikan pendidikan Islam sebagai sarana yang kondusif dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan budaya Islami dari generasi ke generasi. Konsep Pendidikan dalam Al-QurAoan Ada dua kata yang mengungkapkan pendidikan didalam AlQurAoan yaitu kata rabb dengan bentuk masdarnya tarbiyah dan kata Aoallama dengan bentuk masdarnya taAolim. Kata tarbiyah sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany adalah syaAoa al-syai halan fa halun ila haddi al-tamam, artinya mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai batas yang sempurna. Sedangkan kata taAolim digunakan secara khusus untuk menunjukkan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga menghasilkan bekas atau pengaruh dalam diri seseorang. Adapun kata tarbiyah menurut Abdurrahman al-Nahlawi dalam Tafsir Ahmad, bahwa kata tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, dari kata raba-yarbu yang berarti bertambah atau tumbuh. pendidikan mengandung misi untuk menambah bekal pengetahuan dan menumbuhkan potensi yang dimiliki manusia. Kedua, dari kata rabiyayarbaAo yang berarti menjadi besar. karena pendidikan juga mengandung Muhamad Parhan. AuKONTEKSTUALISASI MATERI DALAM PEMA BELAJARAN. Ay ADI WIDYA: Jurnal Pendidikan Dasar 3. 7Ae18. http:// id/index. php/AW. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 misi untuk membesarkan jiwa dan memperluas wawasan seseorang. Ketiga, dari kata rabba- yarubbuAo yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara. Tujuan Pendidikan di dalam Al-QurAoan Secara normatif, tujuan yang ingin dicapai dalam proses akA tualisasi nilai-nilai Al-Quran dalam pendidikan Islam meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dikembangkan dan dibina dalam pendidikan. Pertama, dimensi spiritual yaitu iman, takwa, dan akhlak mulia . ang tercermin dalam ibadah dan muamala. Dimensi spiritual ini tersimpul dalam satu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan Alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan sama seperti kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Pendidikan akhlak menekankan pada sikap, tabiat, dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, dimensi budaya yaitu kepribadian yang mantap, mandiri, tanggung jawab berjiwa sosial dan cinta tanah air. Dimensi ini menitik beratkan pada pembentukan kepribadian seorang muslim sebagai insan kamil yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan faktor dasar . dan faktor ajar . , dengan berpedoman kepada syariat Islam. Faktor dasar . dikembangkan melalui bimbingan dan pembiasaan berfikir, bersikap dan bertingkah laku menurut syariat Islam. Sedangkan faktor ajar . dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan syariat Islam seperti teladan, nasehat, anjuran, hukuman dan pembentukan lingkungan Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, inovatif, profesional, dan proA Dimensi kecerdasan dalam pandangan psikologi merupakan sebuah proses yang mencakup tiga proses analisis yaitu analisis, kreativitas, dan praktis. Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . Menurut Nurcholis Majid dalam Ramayulis menjelaskan tentang tujuan pendidikan Islam meliputi 4 hal, yaitu: Tujuan Jasmaniyah . hdaf al-jismiyya. Tujuan pendidikan perlu dikaitkan dengan tugas manusia selaku khalifah di muka bumi yang harus memiliki kemampuan jasmani yang bagus disamping rohani yang teguh. Jadi, tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia Muslim yang sehat dan kuat secara fisik atau jasmaninya serta memiliki keterampilan. Tujuan Rohaniah . hdaf al-ruhiya. Tujuan rohaniah dikaitkan dengan kemampuan manusia dalam menerima agama Islam, yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah swt dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkan-Nya dengan mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Tujuan pendidikan rohani diarahkan kepada pembentukan akhlak mulia, yang menurut ahli pendidikan disebut tujuan pendidikan religius. Tujuan Akal . hdaf al-aqliya. Aspek tujuan ini bertumpu pada pengembangan intelegensi . yang berada dalam otak, sehingga mampu memahami dan menganalisis fenomena ciptaan Allah swt di jagad raya ini. Tujuan sosial . hdaf al-ijtimaAoiya. Tujuan sosial ini merupakan pembentukan kepribadian yang utuh, dimana identitas individu tercermin sebagai manusia yang hidup pada masyarakat plural. Tujuan pendidikan sosial ini penting artinya karena manusia sebagai khalifah di muka bumi sehingga harus mempunyai kepribadian yang utama dan seimbang. Manusia sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi sehingga tidak mungkin manusia menjauhkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode literatur. Adapun keknik pengumpulan data pada jurnal ini adalah melalui dokumen-dokumen. Sedangkan sumber data pada jurnal ini penulis TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 membaginya menjadi data primer dan data skunder. Seluruh sumber data dalam jurnal ini adalah dari sumber kepustakaan. Sumber primer sendiri terdiri atas buku-buku pendidikan Islam. Al-Quran, dan juga tafsir Al-Quran. Dan sumber-sumber sekunder adalah kumpulan jurnal yang melengkapi pembahasa dalam jurnal ini. Dikarenakan penelitian ini memakai pendekatan metodologi kualitatif, maka proses analisis data kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu kumpulan jurnal yang terkait antara satu dengan yang lain, yang seluruhnya bertemakan tentang Pendidikan Islam. Al-quran, dan Tafsir Al-Quran. Setelah ditelaah, langkah selanjutnya adalah reduksi data, penyusunan, kategorisasi dan yang terakhir adalah penafsiran data. Pembahasan Manusia dan Pendidikan Sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-QurAoan, manusia lahir tanpa memiliki pengetahuan apapun. Akan tetapi di dalam diri seorang manusia terdapat sejumlah potensi yang memungkinkannya memiliki pengetahuan setelah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam ajaran Islam potensi-potensi tersebut menyebabkan manusia memiliki kewajiban untuk harus berpengetahuan, bahkan harus cerdas, karena untuk mencapai atau memiliki keunggulan komparatif . eA bahagiaa. di dunia maupun di akhirat, maka manusia harus berilmu. Pilihan untuk memperoleh pengetahuan atau kecerdasan biasanya disinergikan dengan pendidikan, yang telah berlangsung sepanjang hayat manusia, pada masyarakat primitif maupun masyarakat modern. Ada tiga alasan mengapa pendidikan menjadi yang terpeting dalam kehidupan manusia. Pertama, pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, pendidikan merupakan salah satu pranata sosial penting yang direncanakan secara matang oleh suatu masyarakat. Ketiga, pendidikan berkaitan erat dengan pembentukan watak dan kepribadian seoarang Fakta-fakta historis menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa, sangat ditentukan oleh sejauhmana kualitas pendidikan didalam Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . Proses memanusiakan manusia ternyata sangat ditentukan oleh kontinuitas pendidikan yang dijalani manusia tersebut, baik dalam kapasitas sebagai objek pendidikan maupun subjek pendidikan. Dari sini kita dapat melihat bahwa manusia dan pendidikan ada dan tumbuh serta berkembang secara paralel. Semakin maju peradaban manusia semakin maju dan berkembang pula kualitas pendidikannya. pula sebaliknya, semakin maju dan berkembang kualitas pendidikan, semakin maju pula peradaban manusia. Dalam kaitan ini manusia dikenal sebagai makhluk yang memiliki aspek pedagogik, yaitu makhluk yang harus dididik dan dapat mendidik. Atau biasa kita kenal manusia sebagai homo educandum. Perspektif Manusia dalam Al-QurAoan Manusia dalam Al-QurAoan di sebutkan dalam tiga kata. Pertama: al-Insan dan al-Nas Kata ini mengandung konsep manusia sebagai mahkluk yang memiliki sifat keramahan dan pengetahuan yang tinggi. Atau dengan ungkapan lisan manusia sebagi makhluk sosial dan makhluk multi kultural. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S AlHujurat: 13. a e a a a a a a a a a a a a a a a c a a a a ca a ca a ca a e a AOON IE uaI ECIEI IaI E n OI OEIEI O OCaEA a a a ca a a a a a ca e e o a a a a AaOI aOA a ca AE I u acIA U AEE aEA a o AEa AO uaI EIEI aI EEa COA Artinya: AuHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Ay Kedua: al-Basyar. Mengisyaratkan manusia sebagai makhluk Konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat tubuh atau biologi seorang manusia yang mempunyai bentuk atau postur tubuh, yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani, makan, minum, dan kebutuhan biologis lainnya. Fitrah manusia memang bergerak dan dinamis untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhan TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 biologis, di mana Allah swt memberikan aturan syariah agar manusia senantiasa mendapat ridha Allah dan menjadi manusia yang sempurna . nsan kami. Manusia disebut dalam kata al-Basyar, sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S Yusuf: 31. a ca a ca a a a a a a ca a a a a ca a a a ca a a AE aO a iAs AAEI aI aIE aNaI E uaE aNI O ENI IA a a a c ca a c a a ca a a a a e a a a a ca a a ca a a a AI aNuA A EO aNIn AEI OINu EA a AE Oa n IaINI aEaOI OCEA a a ca e a a U a a a a a ca a a a a a ca a a a a ca a a AE aEOIA AOCI OaONI OCEI aEa I N uaI N uaE IEA Artinya: AuMaka tatkala wanita itu (Zulaikh. mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masingmasing mereka sebuah pisau . ntuk memotong jamua. , kemudian dia berkata . epada Yusu. : AuKeluarlah . ampakkanlah dirim. kepada merekaAy. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada . eelokan rup. nya, dan mereka melukai . tangannya dan berkata: AuMaha sempurna Allah, ini bukanA lah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang muliaAy. Ketiga: Bani Adam dan Zurriyat Adam. kedua istilah ini merujuk kepada manusia yang mendapat penghormatan dari Allah swt. AlQurAoan menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang berarti memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Di samping itu. Allah swt menganugerahkan manusia akal yang dapat membuatnya membedakan nilai baik dan buruk, sehingga menjadikan manusia pada kualitas tertinggi sebagai makhluk yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S Al-AAoraf: 172. a a e a a a a a a a a a ca c a a a e a a ca a a a a ANIA a a AauaO E aII aI I IaI NOaNaI aONI ONNI IAA a a a ca a ca a a a a e a a a a e a a a a e a a a c a a a a AE aaEIn CEO E aNI o I COEO OOI ECaOIa uaI EI I NA a aEA AaIOA Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . Artinya: AuDan . , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunA an anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil keA saksian terhadap jiwa mereka . eraya berfirma. : AuBukankah Aku ini Tuhanmu?Ay Mereka menjawab: AuBetul (Engkau Tuhan kam. , kami menjadi saksiAy. (Kami lakukan yang demikian it. agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: AuSesungguhnya kami . ani Ada. adalah orang-orang yang lengah terhadap ini . eesaan Tuha. Ay. Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa Allah swt mengaruniaA kan manusia akal, agar kelak mampu memahami makna dari hakekat penciptaannya di dunia. Dengan akal, manusia Allah swt berikan keA bebasan dalam memilih . jalan mana yang mau mereka pilih sebagai jalan hidupnya. Dan manusia akan meraih kesempurnaannya sebagai insan kamil melalui jalan ibadah dan beramal, karena di dalam ibadah dan amal mengandung sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan ini akan dicapai manusia setelah kematian datang menjemputnya. Yang merupakan kehidupan terbaik dari sisi jasmani dan rohani. Dengan kata lain, dunia adalah tempat dimana manusia bercocok tanam dan akhiratlah tempat manusia memetik hasilnya. Manusia dan Kebutuhannya terhadap Pendidikan Pada hakekatnya, setiap manusia lahir dengan potensi yang belum teraktualisasi menjadi wujud yang aktual. Proses yang dilalui manusia untuk menjadikan potensi yang dimilikinya menjadi wujud yang aktual yaitu melalui proses pendidikan. Seperti halnya seseorang yang dilahirkan dengan bakat seni, manusia memerlukan pendidikan dalam proses menjadikan bakatnya berkembang, sehingga dia mampu menjadi seniman yang terkenal. Pada umumnya setiap manusia yang lahir ke dunia memiliki naluri, yang akan mendorongnya kepada dorongan yang alami . makan, seks, mempertahankan diri dan lain-lai. Akan tetapi, dengan akalnya manusia akan menjalankan dorongan yang alami tersebut sesuai dengan tempatnya, hal ini yang manusia ketahui melalui penA Tanpa pendidikan manusia akan menjalankan dorongan yang alami pada dirinya hanya mengandalkan naluri seperti halnya hewan. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Di sinilah hakekat dari pesan Rasulullah saw bahwa manusia telah dilahirkan dengan membawa fitrah, berupa potensi-potensi yang perlu dikembangkan oleh orangtuanya agar sang-anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya. Dengan pengajaran yang diberikan orangtua kepada anak dalam proses mengembangkan potensi sang-anak, hal ini memperlihatkan manusia sebagai makhluk yang dapat dididik . dan meA lahirkan berbagai pandangan menyangkut dominasi pendidikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Tugas Pendidikan dalam Menjaga Fitrah Manusia Manusia dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan fitrah, yaitu suci, bersih, bebas dari segala dosa, dan memiliki kecenderungan sikap menerima agama, iman, dan tauhid. Adapun di dalam perkembangannya manusia akan berperilaku baik ataupun buruk akibat dari hasil pendidikan dan lingkungannya. Oleh karean itu, pendidikan sangat berperan penting dalam menjaga dan memelihara fitrah seorang manusia, yang akan mengembangkan dan mempersiapkan segala potensi yang dimiliki, dan mengarahkannya menuju kebaikan dan kesempurnaan. Pengembangan fitrah manusia dapat dilakukan dengan cara belajar, yaitu melalui berbagai institusi atau lembaga pendidikan. Manusia belajar tidak hanya difokuskan pada pendidikan formal saya, seperti sekolah, melainkan juga dapat dilakukan secara nonformar atau diluar sekolah, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun melalui lembaga sosial keagamaan yang ada. Untuk itu, tugas pendidikan di dalam Islam harus mampu merealisasikan Aoubdiya kepada Allah swt di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat serta mampu memberikan bimbingan hidup beragama bukan hanya sekedar memberikan ajaran-ajaran sebagai pengetahuan semata. Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk mengemA bangkan potensi yang dimiliki manusia supaya menjadi manusia yang mulia, memiliki karakter kepribadian Islami yang terlihat dari pola pikir Muhamad Parhan, and Dara Puspita Dewi Kurniawan. AuAktualisasi Peran Ibu Sebagai Madrasah Pertama Dan Utama Bagi Anak Di Era 4. Ay JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Educatio. 2020: h. Muhamad Parhan. Nurti Budiyanti. Auliya Fitria - Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik . dan pola sikap yang islami, menguasai aqofah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi serta keahlian yang memadai dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai hamba, khalifah dan pewaris para nabi. Penutup Allah swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, yaitu sebagai khalifah di muka bumi dan makhluk paedagogik atau makhluk yang memiliki potensi dididik dan mendidik. Dengan demikian, manusia sangat membutuhkan pendidikan sebagai jalannya dalam mencari pengetahuan dan menjadikannya insan kamil. Adapun pendidikan pada dasarnya harus diselenggarakan dan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk dan membina karakter manusia supaya menjadi insan kamil yang beriman, bertakwa dan berakhlak kepada Allah swt berdasarkan fitrah yang dibawanya sejak lahir. Fitrah yang dibawa manusia sejak dalam kandungan perut ibunya merupakan perwujudkan dari komitmen antara manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai Khaliknya. Hal ini berimplikasi terhadap sistem pendidikan dalam Islam pada masa kini dan yang akan datang dengan mengupayakan dua hal, yaitu: . Sistem pendidikan yang harus dibangun atas integrasi antara pendidikan qalbiyyah danAoaqliyyah. Pendidikan harus diarahkan untuk mampu melaksanakan fungsi dan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah dan Aoabd. Daftar pustaka Budiyanti. Nurti. Asep Abdul Aziz, and Universitas Pendidikan Indonesia. AuThe Formulation of the Goal of Insan Kamil As a Basis for The. Ay 3. : 1Ae10. Budiyanti. Nurti. ASep Abdul Aziz, and Palah. AuTHE FORMULATION OF THE GOAL OF INSAN KAMIL AS A BASIS FOR THE. Ay IJECA (International Journal of Education and Curriculum Applicatio. : 1Ae10. Mahmud. Akilah. AuInsan Kamil Perspektif Ibnu Arabi. Ay Sulesana. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Irsyad. Syamsuhadi. AuMendidik Muslim Millenial Berkemajuan. Ay Lisnawati. Yesi. Aam Abdussalam, and Wahyu Wibisana. AuKonsep Khalfah Dalam Al-Qur`n Dan Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam (Studi MauduAoI Terhadap Konsep Khalfah Dalam Tafsir Al-Misba. Ay TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education 2. : 47. Parhan. Muhamad. AuKONTEKSTUALISASI MATERI DALAM PEMBELAJARAN. Ay ADI WIDYA: Jurnal Pendidikan Dasar 3. : 7Ae18. http://ejournal. id/index. php/AW. Parhan. Muhamad, and Dara Puspita Dewi Kurniawan. AuAktualisasi Peran Ibu Sebagai Madrasah Pertama Dan Utama Bagi Anak Di Era 4. Ay JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Educatio. : 157.