Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA IMPLEMENTASI EDUKASI PERAWATAN KULIT MENGGUNAKAN MADU PADA REMAJA YANG MENGALAMI ACNE VULGARIS Masrur Syaifudin1 Tri Suraning Wulandari2 Parmilah3 1,2,3 Akper Alkautsar Temanggung Email pertama : masrurblvd14@gmail. com1 , woelancahya@yahoo. mila25774@gmail. Email Korespondensi : masrurblvd14@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Acne Vulgaris adalah penyakit kulit terbanyak yang dialami remaja di masa pubertas atau prapubertas. Usia remaja akhir antara 15 sampai 25 tahun mengalami berbagai gambaran klinis dengan derajat sedang ataupun bahkan berat, berupa lesi seperti komedo, papula, dan nodul dengan berbagai ukuran. Kondisi tersering terjadi di wajah, leher, lengan atas, dan punggung. Dampak acne vulgaris cukup besar bagi remaja secara fisik dan psikologik karena dapat menimbulkan kecemasan, depresi dan mengurangi rasa percaya diri penderitanya. Upaya untuk meningkatkan sikap dan perilaku remaja mengatasi acne vulgaris dengan melakukan edukasi perawatan kulit menggunakan madu. Tujuan : Menguraikan bagaimana tindakan edukasi perawatan kulit dapat membantu menyelesaikan masalah defisit pengetahuan remaja untuk mengatasi acne vulgaris. Metode : metode penelitian adalah studi kasus dengan subjek penelitian 2 . remaja yang mengalami acne vulgaris dengan masalah Defisit Pengetahuan perawatan kulit. Hasil : Kedua responden mengalami peningkatan pengetahuan. Pengetahuan kedua responden yang semula perilaku sesuai anjuran, verbalisasi minat belajar, kemampuan menjelaskan tentang pengetahuan suatu topik, kemampuan mengambarkan pengelaman sebelumnya sesuai topik dan perilaku sesuai anjuran, yang semula sedang menjadi meningkat. Kesimpulan : edukasi perawatan kulit menggunakan madu terbukti efektif untuk mengatasi acne vulgaris dan meningkatkan pengetahuan remaja tentang perawatan kulit. Kata kunci : Acne vulgaris, defisit pengetahuan, madu, perawatan kulit EFFORTS TO SOLVE NURSING PROBLEMS WITH SKIN CARE KNOWLEDGE DEFICIT WITH EDUCATION SKIN CARE IN ADOLESCENTS EXPERIENCING ACNE VULGARIS ABSTRACT Acne vulgaris is the most common skin disease experienced by adolescents during puberty or prepuberty. Late adolescents between 15 to 25 years experience various clinical features with moderate or even severe degrees. in the form of lesions such as comedones, papules, and nodules of various sizes. The most common condition occurs on the face, neck, upper arms, and back. The impact of acne vulgaris is quite large for sufferers, especially teenagers, physically and psychologically because it can cause anxiety, depression and reduce feelings of trust. One of the efforts to improve the attitude and behavior of adolescents is overcoming acne vulgaris by conducting skin care education using honey. Objectives Describe how educational skin care measures can help solve the problem of knowledge deficits in adolescents to treat acne vulgaris. The research method is a case study with research subjects 2 . adolescents who experience acne vulgaris with a skin care knowledge deficit problem. Results: After carrying out skin care education measures, both respondents experienced an increase in knowledge. verbalization of interest in learning, the ability to explain knowledge of a topic, the ability to describe previous experience according to the topic and behavior according to recommendations that were originally being increased Conclusion providing skin care education using honey has proven effective in overcoming acne vulgaris and increasing adolescent knowledge about skin care Keywords: Acne vulgaris, knowledge deficit, honey, skin care PENDAHULUAN Acne vulgaris adalah penyakit kulit terbanyak yang dialami remaja di Indonesia. Acne vulgaris biasanya muncul pada masa pubertas atau prapubertas . -15 tahu. , dan menyerang hampir semua remaja usia 13-19 tahun. Ini paling parah pada usia 17-21 tahun. Hampir 85% orang berusia 15 hingga 25 tahun memiliki acne dengan berbagai gambaran klinis. Sekitar 15 hingga 20 persen pasien acne vulgaris memiliki acne dengan derajat sedang atau Casus acne vulgaris sering ditemukan dengan bentuk lesi yang berbeda-beda, yaitu terdiri dari komedo, papula, dan nodul dengan berbagai ukuran dan keparahan di wajah, leher, lengan atas, dan punggung. (Zaenglein et all, 2. Adapun masalah yang muncul dari acne vulgaris pada remaja adalah kurangnya pengetahuan Faktor predisposisi, perawatan kulit dan sikap, adalah salah satu kesehatan, dan penyebab jerawat termasuk faktor genetik, faktor infeksi atau traumatis, faktor androgenik, ethenoid, dan faktor Notoatmodjo . Faktor multifaktoral, atau penyebab acne vulgaris, termasuk genetik, iklim, jenis kulit, kebersihan, penggunaan kosmetik, stres, infeksi, dan faktor pekerjaan, serta tingkat pengetahuan tentang masalah dan cara menanganinya. Acne memiliki efek yang cukup merisaukan, tetapi tidak fatal karena mengurangi kepercayaan diri penderita karena kehilangan keindahan (Verrell Avila Yusuf dkk, 2. Remaja mungkin mengalami masalah ini karena kurangnya pengetahuan dan informasi yang tidak akurat, yang menyebabkan mereka memandang enteng masalah acne vulgaris. Oleh karena itu, pengetahuan sangat penting karena jika tidak diatasi, kurangnya pengetahuan akan menyebabkan kurangnya informasi yang akurat dan pola pikir dan kesehatan mereka menyebabkan acne vulgaris. Notoatmodjo Edukasi kesehatan, edukasi efek samping obat, dan edukasi perawatan kulit adalah tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan. Edukasi memberikan informasi tentang cara memperbaiki atau meningkatkan integritas jaringan kulit (SIKI, 2. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mampu mengetahui efektifitas pemberian edukasi perawatan kulit dengan madu sebagai masker wajah untuk mengatasi masalah keperawatan defisit pengetahuan perawatan kulit. terkena acne vulgaris dan masalah defisit pengetahuan perawatan kulit. Metode melakukan pengkajian keperawatan berupa observasi dan pemeriksaan fisik pada Analisa data diperoleh dari proses pemberian asuhan keperawatan yang telah dilakukan dari pengkajian dan ditentukan masalah keperawatannya, lalu diberikan edukasi perawatan kulit dengan madu sebagai masker wajah. Evaluasi perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi perawatan kulit dengan madu sebagai masker wajah. Hasil evaluasi tersebut dianalisa untuk menilai ketercapaian tujuan serta dibandingkan pencapaiannya pada subjek pertama dan HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Penelitian dilakukan pada tanggal 9-12 juni 2023 pada responden 1 dan pada tanggal 15-18 juni 2023 pada responden 2. Hasil pengkajian pada kedua kasus subjek studi kasus dapat di lihat pada tabel 1 Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Apakah terdapat komedo di wajah pasien ? Apakah terdapat papula pada E bagian wajah Apakah terdapat nodul di E bagian wajah Apakah terdapat kista di E bagian wajah Apakah terdapat komedo di E bagian wajah METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan subjek 2 remaja yang Sdr. Sdr. Berdasarkan tabel 1 dapat di simpulkan bahwa pada Sdr. F dan Sdri. N mengalami manifestasi klinis acne vulgaris sebesar 100% pengkajian masalah defisit pengetahuan perawatan kulit pada subjek studi kasus dideskripsikan pada tabel 2. Tabel 1. Identifikasi Masalah Keperawatan Data Menanyakan masalah yang di hadapi dberkaitan dengan pengetahuan merawat acne vulgaris Menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran . idak merawat kuli. Menunjukan presepsi yang keliru terhadap masalah ( tidak membersihkan kulit ) Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat ( tidak rutin membersihkan kulit. Tidak merawat kuli. Menunjukan perilaku berlebihan . is, gelisah, apatis, bermusuhan, agitasi, histeri. Pasien Pasien Pada tabel di atas dapat di lihat bahwa identifikasi masalah defisit pengetahuan perawatan kulit dari kedua subjek studi kasus sesuai dengan gejala tanda mayor dan Dari hasil pencapain tindakan edukasi perawatan kulit menggunakan madu sebagai masker wajah, peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 2. Pencapaian Outcome Pasien 1 Data H-2 Pasien 2 H-3 H-1 H-2 H-3 Perilaku sesuai anjuran tentang cara penanganan dan perawatan jika terdapat acne di Verbalisasi minat belajar cara perawatan acne 3 Kemampuan menjelaskan tentang pengetahuan 3 suatu topik tanda gejala dan penanganan perawatan acne vulgaris Kemampuan mengambarkan pengalaman yang 3 sebelumnya sesuai dengan topik menjelaskan penyebab terjadinya dan cara penangannya Perilaku sesuai dengan pengetahuan : 3 melakukan perawatan acne sesuai anjuran Keterangan : 1 ( menuru. 2 ( cukup menuru. 3( sedan. 4( cukup meningka. 5 ( meningka. Pemantauan dilaksanakan setiap melakukan tindakan edukasi perawatan kulit dengan madu Pengukuran hasil penyelesaian masalah SLKI yang mengukur pencapaian pengetahuan dengan luaran tingkat Hasil pencapaian tujuan pada kedua pasien studi kasus didapat hasil: Perilaku sesuai anjuran tentang cara penanganan dan perawatan jika terdapat acne di wajah 2. Verbalisasi minat belajar cara perawatan acne Kemampuan menjelaskan tentang pengetahuan suatu topik tanda gejala dan penanganan perawatan acne Kemampuan sebelumnya sesuai dengan topik menjelaskan penyebab terjadinya dan cara penangannya. Perilaku sesuai dengan pengetahuan : melakukan perawatan acne sesuai anjuran PEMBAHASAN Hasil pengkajian kedua responden didapatkan data sebagai berikut : kedua responden mengalami 100% terkena acne vulgaris dan defisit pengetahuan perawatan kulit. Menurut Andrea . , subjek studi kasus diidentifikasi dengan mengacu pada fokus penelitian acne vulgaris: a. Pasien menunjukkan papula, benjolan kecil pada dapa wajah yang bertekstur pada dan berwarna kemerahan. Kondisi ini disebabkan oleh sebum yang tidak bisa keluar, yang menumpuk di poripori kulit dan menghasilkan sebum. Kedua reaksi ini menyebabkan papula di wajah. (Chinese Society of Dermatology, 2. Papula berukuran 1-5 mm menyebabkan eritma dan edema pada bawah kulit karena peradangan dan segingga. Pasien memiliki nodul di bagian wajahnya. Nodul, yang terbentuk di dalam tiroid manusia, adalah benjolan padat atau berisi cairan. yang menyebabkan Ada nodul di dahi dan pipi kedua responden. Menurut SDKI . , data yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis keperawatan defisit pengetahuan adalah sebagai berikut: menanyakan masalah yang menunjukkan perilaku yang menunjukkan persepsi yang keliru pemeriksaan yang tidak tepat. eperti apatis, bermusuhan, agitasi, dan Dalam pengkajian masalah pengetahuan tentang tanda gejala acne vulgaris dan cara perawatannya jika terkena acne vulgaris, kedua subjek studi kasus menunjukkan bahwa mereka tidak tahu tentang tanda gejala dan cara perawatannya jika terkena acne Saat ditanya tentang masalah yang mereka hadapi terkait dengan tanda gejala dan cara perawatannya, mereka menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan anjuran. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian, kedua subjek studi kasus menunjukkan komedo, pustula nodul, dan kista, dan sepenuhnya menunjukkan bahwa ada acne di wajah. Menurut SDKI . , tanda dan gejala mayor yang diperlukan keperawatan Oleh karena itu, kedua kurangnya pengetahuan keperawatan tentang perawatan kulit yang dikaitkan dengan kurangnya paparan informasi. Diagnosis ini ditunjukkan dengan menanyakan masalah yang dihadapi, bertindak tidak sesuai dengan anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru tentang masalah, menjalani pemeriksaan yang tidak tepat, dan menunjukkan perilaku berlebihan, seperti apatis, bermusuhan, agitasi, dan hysteria. Mengidentifikasi berkaitan dengan defisit pengetahuan didasarkan pada tanda dan gejala pencegahan masalah menyusui yang serius, antara lain: Hasil evaluasi masalah terkait perawatan dua pasien ditemukan informasi sebagai berikut . Mengeluh tentang munculnya jerawat dan sulitnya mengobatinya, jika acne vulgaris terus muncul, hal ini menyebabkan rasa kurang percaya diri. Menunjukkan perilaku perawatan yang tidak tepat ketika akne vulgaris tidak diobati dan menyebabkan lebih banyak akne vulgaris pada wajah karena kurangnya pengetahuan perawatan kulit. (Fulton Jr. PENUTUP Masalah pengetahuan perawatan kulit yang kurang adalah tidak adanya atau tidak adanya informasi konstruktif tentang topik perawatan kulit tertentu, dan kedua responden memiliki bintik-bintik, jerawat, benjolan, kista di wajah pasien. menghadapi dan menilai tingkat pengetahuan: Menanyakan masalah terkait pengobatan acne vulgaris, perilaku tidak sesuai anjuran . idak pemahaman masalah yang salah . idak membersihkan kuli. Perawatan yang tidak tepat . idak membersihkan kulit secara teratu. , mengabaikan kulit, menunjukkan perilaku yang berlebihan . isal, cemas, apatis, permusuhan, agitasi, histeri. Informasi mengisi pengetahuan perawatan kulit, dan setelah 3 hari pelatihan perawatan kulit pengetahuan dua responden meningkat. Penyebab acne vulgaris banyak . , antara lain faktor genetik, faktor iklim, faktor kulit, faktor kebersihan, faktor kosmetik, faktor stres, faktor infeksi dan faktor pekerjaan, serta tingkat pengetahuan dan respon terhadapnya. Efek jerawat sebenarnya tidak fatal, namun cukup mengkhawatirkan karena berhubungan dengan berkurangnya rasa percaya diri akibat berkurangnya kecantikan wajah yang terkena. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi perawatan kulit menggunakan madu sebagai masker meningkatkan tingkat pengetahuan pada Acne vulgaris di masa remaja adalah kurangnya informasi. Faktor predisposisi yang meliputi informasi tentang perawatan kulit dan sikap merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku kesehatan, dan penyebab jerawat antara lain faktor genetik, faktor infeksi atau trauma, faktor androgenik, ethenoid. dan faktor hormonal. Tindakan edukasi perawatan kulit menggunakan madu memberikan cara dan langkah- langkah melakukan perawatan kulit dengan baik dan benar. Dari hasil tindakan yang dilakukan peneliti didapatkan hasil peningkatan dari 3 . menjadi 5 . perawatan kulit meningkat, perilaku sesuai anjuran meningkat. minat belajar meningkat. Kemampuan pengetahuan menjelaskan tentang suatu sebelumnya yang sesuai dengan topik perilaku sesuai pengetahuan DAFTAR PUSTAKA