Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x KONSTRUKSI ANAK TENTANG PERAN KELUARGA BESAR JAWA DALAM PENGASUHAN DI KELURAHAN PETEMON KOTA SURABAYA Shinta Ayu ArdaniA. Fransiscus Xaverius Sri SadewoA A Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 21034@mhs. Abstract Children's social construction of the role of the extended family in caregiving is not singular, but rather the result of complex and diverse experiences. The socialization process, which involves more than two authoritative figures, creates dynamics that can either enrich or confuse the child in the formation of their identity and life values. This study highlights the importance of balanced roles and communication among extended family members in childrearing, as well as the need for critical awareness from parents and other family members in understanding the long-term impacts of shared caregiving practices. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konstruksi sosial anak mengenai peran keluarga besar dalam proses pengasuhan, khususnya dalam masyarakat Jawa di wilayah perkotaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada anak-anak usia 19-25 tahun yang tinggal bersama keluarga besar di Kelurahan Petemon. Kota Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi anak terhadap peran keluarga besar dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang terakumulasi melalui proses eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi. Temuan juga menunjukkan bahwa kehadiran keluarga besar memberikan kontribusi dalam mendukung, menggantikan, atau bahkan bertentangan dengan peran orang tua dalam pengasuhan anak. Keywords: Children. Javanese Extended Family. Caregiving. Pendahuluan Proses perubahan sosial yang diiringi dengan arus transformasi sosial tidak pelak menyasar berbagai komponen hidup masyarakat. Salah satu bentuk perubahan sosial yang seringkali menyasar daerah perkotaan adalah urbanisasi. Dilansir dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistika pada tahun 2015, angka migrasi di Indonesia menyentuh angka 53,3% dan mengalami lonjakan angka pada tahun 2020 hingga mencapai angka 65,7%. Badan Pusat Statistika juga meramalkan bahwa angka tersebut akan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2025 sebesar 60,0% (BPS, 2. Kota Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur tidak luput dari radar masyarakat urban yang ingin mengadu nasib karena memiliki faktor penarik dan pendorong berupa kemudahan akses terhadap fasilitas umum. Beberapa faktor pendorong tersebut antara lain adalah kurang memadainya sarana dan prasana untuk mengakses kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. pola kehidupan yang konvensional. adanya kesenjangan antara nilai-nilai dan praktik sosial. dan lain sebagainya. Adapun beberapa faktor yang menjadi penarik minat masyarakat untuk melakukan urbanisasi antara lain: Sarana dan prasarana yang lebih memadai. tingkat kesejateraan hidup yang tinggi. kemudahan terhadap akses pendidikan. dan beberapa faktor lainnya (Anggraeni, 2. Hal tersebut dipertegas dengan data yang dikeluarkan oleh Dispendukcapil Kota Surabaya yang menyebutkan bahwa sebanyak 23. 970 orang melakukan migrasi ke Surabaya per bulan Juni 2024 (Swargaloka, 2. Dengan adanya besaran jumlah masyrakat yang berasal dari luar Surabaya tersebut memberikan konsekuensi terhadap perubahan atau dinamika kehidupan di Surabaya. Selain berdampak pada lonjakan jumlah penduduk yang memadati Kota Surabaya Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x yang berimbas pada berbagai elemen kehidupan masyarakat baik secara negatif maupun positif, arus migrasi tersebut juga berimplikasi pada dinamika keluarga. Nilai-nilai yang dibawa tiap masyarakat urban dapat mempengaruhi pola interaksi dan struktur dalam keluarga di perkotaan. Masyarakat urban yang mulanya terbiasa dengan kehidupan pedesaan yang kental dengan tradisi dan hal-hal tradisional, harus menyesuaikan diri dengan kondisi perkotaan. Perubahan tersebut dapat dilihat dari adanya pergeseran peran dan distribusi pola kerja. pergeseran komposisi keluarga dari keluarga besar ke keluarga inti. tuntutan untuk memenuhi kebutuhan finansial. adaptasi kehidupan sosial yang baru. dan lain Kehadiran keluarga besar dalam hal ini dapat menjadi salah satu upaya keluarga inti untuk mengadapi perubahan pola hidup di perkotaan, salah satunya dalam hal pengasuhan anak. Terlebih pada masyarakat Jawa yang masih memegang teguh nilai kebersamaan dan gotong Mereka memiliki kepercayaan bahwa anak lebih baik diasuh oleh anggota keluarga dibandingkan lembaga atau perorangan yang menawarkan jasa pengasuhan. Akan tetapi, keterlibatan keluarga besar dalam pengasuhan anak ini tidak selamanya membawa pengaruh Pada praktiknya, keterlibatan anggota keluarga besar dalam pengasuhan terhadap anak juga dapat menimbulkan konflik peran atau kebingungan yang dirasakan oleh anak terkait pola asuh yang diterapkan antara orang tua dan anggota keluarga besar. Dari fenomena tersebut penulis menjadi tertarik untuk menggali pengalaman hidup anak dewasa dibawah pengasuhan keluarga besar untuk mengetahui lebih dalam mengenai dampak yang diberikan dari adanya peran-peran lain yang turut serta dalam mensosialisasikan nilainilai kepada anak. Bagaimana pengalaman mereka tersebut dapat membentuk atau mempengaruhi pandangan, peran, dan kontribusi sosial mereka terhadap kehidupan sosial. Dengan rumusan masalah yang demikianlah yang membuat penulis memutuskan untuk menggunakan anak dewasa sebagai subjek penelitian. Hal ini dikarenakan asumsi penulis yang menganggap bahwa anak dewasa telah memiliki pengalaman yang matang sehingga dapat merefleksikan bagaimana pola asuh keluarga besar mempengaruhi pandangan dan keterlibatan sosial mereka. Sehingga, dapat menjawab permasalahan yang penulis rumuskan. Kajian Pustaka 1 Teori Sosial Peter L. Berger dan Luckman Teori ini lahir dari perkembangan pemikiran dalam sosiologi pengetahuan yang mempelajari mengenai konektifitas antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran tersebut berkembang. Dengan kata lain sosiologi pengetahuan mempelajari mengenai proses bagaimana suatu AuPengetahuanAy yang dimiliki individu atau masyarakat tersebut dikultivasi, dimodifikasi, dan dipelihara hingga membentuk suatu AuKenyataanAy yang dianggap lazim. Pernyataan tersebut memberikan pemahaman bahwa AuKenyataanAy dan AuPengetahuanAy yang muncul ditengah masyarakat dipengaruhi oleh kebiasaan dan cadangan pengetahuan yang dimiliki individu dalam kehidupan sehari-harinya. Berger dan Luckman lebih lanjut menjelaskan mengenai AuPengetahuanAy dan AuKenyataanAy dalam konteks sosial. Berger dan Luckman menyebut kenyataan sosial tercermin dalam proses interaksi sosial yang dilakukan oleh individu, yang kemudian membentuk suatu pengetahuan melalui proses intersubjektifikasi yang merujuk pada tahapan keterbentukan struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam suatu kelompok masyarakat. Oleh karenanya, mereka menyebutkan bahwa individu dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mereka juga menekankan bahwa masyarakat adalah produk buatan individu, begitupula sebaliknya, individu merupakan produk buatan dari masyarakat. Ada tiga proses dialektis yang menggarisbawahi proses keterbentukan kenyataan sosial yang digagas oleh Berger dan Luckman ini, antara lain: Eksternalisasi. Internalisasi, dan Objektivikasi. Eksternalisasi secara singkat dijelaskan sebagai proses adaptasi yang dilakukan oleh individu terhadap kondisi sosiokultural . uatan manusi. yang sudah ada dikehidupan Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x Kemudian, individu berusaha menjaga realitas yang terbentuk dengan membentuk organisasi atau lembaga yang dapat mempertahankan bentuk realitas tersebut ditengah gejolak perubahan sosial masyarakat yang dinamis yang termasuk ke dalam tahap objektifikasi. Ketika realitas tersebut disosialisasikan secara terus-menerus, pada tahap ini individu akan menyerap hal tersebut sebagai bagian dari dirinya. Maka, individu telah memasuki atau mengalami tahap 2 Perkembangan Masyarakat Kota Besar di Indonesia Menurut Octifanny . ada tiga timeline penting yang menggarisbawahi proses urbanisasi dalam sejarah Indonesia, yakni era kolonialisasi, era Suharto, dan era pasca krisis Pada era kolonialisasi, urbanisasi muncul karena adanya kebijakan tanam paksa atau Cultuurstelsel yang diterapkan di pulau Jawa. Kebijakan ini mewajibkan petani di Jawa untuk menanam kopi, tebu, nila, teh, dan lain sebagainya yang kemudian wajib diserahkan kepada pemerintah kolonial belanda. Dampak dari adanya kebijakan ini antara lain membawa perubahan pada aspek ekonomi. bertambahnya jumlah penduduk. adanya mobilisasi tenaga masuknya investasi transportasi dan infrastruktur. dan terintergrasinya perdagangan global di Pulau Jawa. Pada akhirnya kebijakan ini juga mengakibatkan Jakarta menyandang status sebagai jantung aktivitas administrasi pemerintahan. Selain itu, jumlah populasi penduduk yang mulanya mencapai angka 5 juta jiwa pada akhir abad ke-18, mengalami pertambahan jumlah penduduk hingga 23,6 juta jiwa pada tahun 1890. Hal tersebut menjadikan titik mula terjadinya urbanisasi yang terpusat di pulau Jawa. Urbanisasi yang hanya terpusat di pulau Jawa tersebut kemudian dilanjutkan pada era Suharto yang ditandai dengan awal mula penerapan kebijakan ekonomi liberal pada tahun Kebijakan ini membuka pintu selebar-lebarnya pada investor internasional untuk mengeksploitasi sumber daya yang dimiliki Indonesia dalam rangka mengembalikan perekonomian pasca kolonialisasi. Di era ini pula Indonesia mengalami kemajuan pembangunan transportasi umum yang disebabkan karena tingginya pendapatan yang dihasilkan dari eksploitasi minyak. Akan tetapi, pembangunan ini hanya berpusat di Jawa, terlebih lagi Jakarta. Tak hanya sampai disitu, setelah Indonesia mengalami krisis moneter dibawah pemerintahan Suharto, perekonomian Indonesia perlahan-lahan membaik terlebih lagi ketika memasuki tahun 2001. Laju perekonomian yang meningkat secara signifikan ini disokong oleh roda perekonomian yang masih terpusat di Jakarta. Dari ketiga era tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa proses urbanisasi di Indonesia berawal dari kehidupan agraris yang dikelola dan dikontrol oleh kelompok elite. Proses migrasi tersebut disebabkan karena adanya daya tarik yang ditawarkan dari daerah tujuan migrasi yang dalam hal ini adalah Jakarta. Surabaya, dan Bandung, yang mana dari ketiga kota tersebut menjadi pusat ekpansi besar-besaran terkait infrastruktur dan perekonomian Indonesia 3 Pengasuhan Anak Oleh Keluarga Besar Suku Jawa di Kota Besar dalam Prespektif Sosiologi Pola asuh merupakan pendidikan pertama bagi anak. Sebab, pola asuh juga dapat diartikan sebagai upaya atau cara orang tua dalam membimbing, mengarahkan, mensosialisasikan, mendisiplinkan, dan membantu anak dalam proses menyerap pengetahuan dasar kehidupan bermasyarakat dan berperilaku dalam kehidupan sosial (Hasanah & Sugito, 2. Pola pengasuhan yang diadopsi oleh keluarga besar suku Jawa umumnya lebih mengedepankan konsep Asah (Mendidik, menasehat. Asih (Memberi kasih sayan. , dan Asuh (Melindungi. Dalam menjalankan konsep tersebut, peran-peran tersebut dibagi berdasarkan konsep hierarki. Seperti misalnya, perihal menasehati atau mendidik anak terkait budaya keluarga dilakukan oleh orang yang lebih tua dalam sistem keluarga tersebut. Sementara, orang tua lebih berfokus pada pemberihan kasih sayang. Bentuk kolaborasi tersebut mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang tidak terpisahkan dari tubuh keluarga besar. Pada umumnya komposisi keluarga hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Terlebih lagi Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x pada kehidupan perkotaan yang identik dengan kata individualitas. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Zubaedah . yang pada hasil penemuannya menyebutkan bahwa kehidupan masyarakat perkotaan yang padat mengurangi intesitas waktu berinteraksi antaranggota keluarga. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa proses urbanisasi juga turut mengambil peran pada menurunnya eksistensi keluarga besar di Hal ini dikarenakan dalam arus urbanisasi terdapat proses migrasi yang menyebabkan individu harus meninggalkan keluarganya untuk mengejar kehidupan layak di tempat lain. Akan tetapi, arus urbanisasi tidak selalu berkaitan dengan proses perpindahan penduduk, tapi juga bisa berkaitan dengan transformasi kehidupan dari masyarakat rural ke urban. Sehingga, keberadaan extended family masih dapat ditemui di kalangan masyarakat perkotaan karena dalam arus urbanisasi tersebut tidak mengharuskan keluarga terpecah dari keluarga Selain itu, eksistensi keluarga besar ini juga disebabkan karena adanya pola tinggal Patrilokal dan Matrilokal yang dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Metode Penelitian Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif dengan prespektif teori Konstruksi Sosial oleh Peter L. Berger. Penggunaan teori ini didasari karena teori ini menekankan pada keterbentukan realitas sosial yang dilatarbelakangi oleh adanya interakasi secara berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, yang mana teori ini cukup relevan dengan fokus utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode grounded research yang menekankan pada pengembangan teori yang didapatkan dari hasil pengumpulan data di lapangan dan pola-pola yang muncul dari data tersebut. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: . Minimal komposisi keluarga terdiri dari empat orang, yakni anak, orang tua, dan satu kerabat yang tinggal seatap. Tinggal bersama kerabat sejak . Anak dengan rentang usia 19-25 tahun. Berlatarbelakang suku Jawa. Subjek penelitian merupakan penduduk asli kelurahan Petemon. Data penunjang penelitian ini dihimpun dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut kemudian diolah dengan menggunakan teknik analisis data model Strauss dan Corbin yang meliputi open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil dan Pembahasan 1 Kondisi Objektif Keluarga Besar di Kelurahan Petemon Kota Surabaya Kondisi objektif merupakan kondisi riil yang dapat dilihat secara langsung, dalam hal ini kondisi objektif tersebut berupa kondisi sosial ekonomi keluarga besar dari subjek penelitian. Dengan menilik kondisi tersebut dapat diketahui pengaruh dan dampak yang diberikan terhadap penerapan pola pengasuhan anak. Melalui hasil wawancara, keluarga besar dari subjek penelitian dikelompokkan menjadi tiga, yakni keluarga ekonomi menengah atas, menengah, dan menengah bawah. Pengelempokkan tersebut didasarkan pada beberapa kategori yang antara lain meliputi pendapatan kedua orang tua, kondisi rumah, kepemilikan barang, jumlah anggota keluarga, dan kepemilikan ruang pribadi untuk anak. Keluarga subjek penelitian yang masuk ke dalam kelompok ekonomi menengah atas, memiliki kedua orang tua yang bekerja dan berpenghasilan di atas UMR Kota Surabaya, yakni di atas 4 juta. Kestabilan kondisi ekonomi tersebut juga tercermin dari bangunan rumah yang besar dan luas. Sehingga, tiap anggota keluarga yang meninggali rumah tersebut memiliki ruangan sendiri-sendiri. Selain itu, hal tersebut juga tercermin dari kepemilikan barang mewah keluaran terbaru atau barang antik dengan nilai tinggi. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh kondisi objektif subjek penelitian yang termasuk kedalam kelompok menengah dan menengah bawah. Pada kelompok menengah, kedua orang tua dari subjek penelitian memiliki gaji mendekati atau sesuai dengan UMR Kota Surabaya. Subjek penelitian yang demikian tinggal bersama dua hingga tiga anggota keluarga besar di rumah peninggalan kakek-nenek yang tidak terlalu besar dan minim ruang pribadi. Selain itu. Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x kepemilikan terhadap barang mewah tidak terlalu banyak, hanya mencakup hal-hal mendasar. Di sisi lain, kondisi yang tidak jauh berbeda ditunjukkan oleh subjek penelitian yang termasuk dalam golongan menengah bawah. Kedua orang tua dari subjek penelitian juga Akan tetapi, gaji keduanya tidak sampai menyentuh atau mendekati UMR Kota Surabaya. Kondisi rumah yang ditinggali subjek penelitian bersama anggota keluarganya tidak terlalu luas dibandingkan dengan jumlah orang yang meninggali. Begitu juga dengan kondisi fisik rumah yang tidak layak huni karena temboknya yang berjamur, atap bocor, dan lain Kepemilikan terhadap barang mewah nyaris tidak terlihat. Kebanyakan dari subjek penelitian memakai barang keluaran lama yang sudah mengalami perbaikan beberapa 2 Realitas Objektif dan Subjektif Keluarga Besar di Kelurahan Petemon Kota Surabaya Realitas objektif berkaitan dengan fakta sosial yang diproduksi melalui suatu tindakan sekaligus tingkah laku yang teratur dan diresapi bersama oleh masyarakat. Dalam penelitian ini, ada beberapa realitas objektif yang ditemui di lapangan. Masyarakat Jawa menganggap keluarga tidak hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Melainkan juga kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu. Individu-individu tersebutlah yang pada prakteknya juga terlibat dalam penerapan pola asuh anak untuk mensosialisasikan tradisi atau nilai yang telah diyakini dalam keluarga secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat Jawa mereka menganut tiga konsep utama mengenai keluarga, yakni Asah . Asih . emberi kasih sayan. , dan Asuh . Anggapan-anggapan tersebut yang mengalir dalam pola pengasuhan yang menjadi pondasi utama dalam proses keterbentukan kepribadian dan pola pikir anak. Pola pengasuhan pada dasarnya mencakup pada pemenuhan kebutuhan dasar anak, baik kebutuhan fisik maupun nonfisik. Secara hukum, anak hanya memperoleh pengasuhan dari kedua orang tuanya. Pada bentuk keluarga yang demikian, ditemui bahwa dalam pengasuhan anak terdapat sistem hierarki yang mengotak-ngotakkan fungsi dan peranan yang dijalankan. Sementara, realitas subjektif merupakan cara pandang yang dimiliki oleh individu atau kelompok masyarakat dalam memahami dan memaknai suatu fenomena sosial berdasarkan pengalaman, pemaknaan, dan nilai yang mereka yakini. Subjek penelitian yang diasuh oleh orang tua memiliki hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya. Berbeda dengan subjek penelitian yang diasuh oleh keluarga besar. Ketidakhadiran atau mengaburnya peran orang tua dalam tumbuh kembang subjek penelitian menyebabkan eksistensi keluarga besar lebih unggul dibandingkan orang tua. Kedekatan tersebut juga memberikan pengaruh pada dominasi suara yang dimiliki pihak keluarga besar dibandingkan orang tua dalam pengambilan keputusan dan kontrol terhadap anak. Subjek penelitian yang lebih banyak merasakan peranan keluarga besar dalam tumbuh kembangnya menyebutkan bahwa dalam pengambilan keputusan sepanjang hidupnya lebih banyak dilimpahkan kepada suara keluarga besar dibandingkan orang tuanya. Pada kondisi tersebut orang tua cenderung hanya mengikuti, terlebih lagi apabila suara mengenai keputusan tersebut datang dari pihak keluarga yang dituakan. Akan tetapi, ada pula subjek penelitian yang mengalami kebingungan ketika mengambil keputusan karena banyaknya suara yang harus dipertimbangkan. Hal yang berbeda ditunjukkan pada subjek penelitian yang kedua orang tuanya lebih banyak terlibat dalam pengasuhan atas subjek penelitian. Pada kondisi ini, subjek penelitian bertumpu sepenuhnya pada keputusan orang tua. Sehingga, keberadaan keluarga besar dalam kasus ini hanya berperan sebagai pemeran figuran atau pendukung. Keberadaan keluarga besar tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap apa yang subjek penelitian alami dan rasakan. Subjek penelitian yang diasuh oleh keluarga besar menyebutkan seringkali terjebak dalam Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x situasi dilematis karena adanya banyak peran yang harus dilibatkan dalam kehidupan seharihari. Seperti, ketika akan mengambil keputusan atau terkait peraturan yang diterapkan. 3 Mengidentifikasi Proses Pemaknaan Anak Mengenai Pola Pengasuhan Keluarga Besar Jawa Konstruksi sosial tentang pengasuhan oleh keluarga besar pada masyarakat Kelurahan Petemon terbentuk melalui tiga proses dialektis yang dicetuskan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Tiga proses dialektis tersebut meliputi eksternalisasi, objektifikasi, dan Eksternalisasi Pada tahap ini, individu mengalami proses penyesuaian dan pengekspersian diri terhadap norma-norma dan nilai-nilai yang telah terbentuk dan dijalankan dalam lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini, tahap eksternalisasi tersebut merujuk pada proses adaptasi dan pencurahan diri yang dilakukan anak terhadap lingkungan keluarga Dalam proses eksternalisasi anak mengakumulasikan pengetahuan mereka mengenai pola pengasuhan yang diterpakan oleh orang tua dan keluarga besarnya. Hal tersebut meliputi proses adaptasi dan pencurahan terkait nilai yang disosialisasikan dan aturan yang dijalankan dalam pola asuh orang tua dan keluarga besar. Melalui hasil wawancara dapat diketahui bahwa pola pengasuhan keluarga besar dikonstruksikan untuk menjadi unit sosial yang mengedepankan nilai kerukunan, kebersamaan, dan norma kolektif lainnya. Melalui proses tersebut pula diketahui adanya momen pengungkapan dan adaptasi diri oleh subjek penelitian terkait nilai dan norma sosial yang terkandung dalam pola pengasuhan yang diterima oleh subjek. Hal tersebut tercemin dalam respon subjek penelitian terhadap wacana terkait nilai kerukunan dan kebersaman yang disosialisasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Ada subjek penelitian yang menerima nilai tersebut secara positif. Pada subjek penelitian yang demikian mereka dapat mengikuti interaksi kerukunan dan kebersamaan yang diwacanakan dengan baik. Pada subjek penelitian yang demikian mereka dapat mengikuti interaksi kerukunan dan kebersamaan yang diwacanakan dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari keterlibatan secara sukarela oleh subjek penelitian dalam acara kumpul bersama antaranggota keluarga, sikap saling bantu, dan penetapan keputusan berdasarkan suara kolektif. Ada pula subjek penelitian yang melihat nilai tersebut dari sudut pandang lain. Subjek penelitian yang demikian melihat acara kumpul keluarga dan penetapan keputusan berdasarkan suara kolektif sebagai hal yang negatif. Subjek penelitian menilai acara kumpul keluarga tersebut tidak mencerminkan nilai kebersamaan yang diwacanakan, melainkan sebagai ajang ApentasA keunggulan antaranggota keluarga. Nilai kerukunan dan kebersamaan tersebut juga memberikan pengaruh pada proses pengambilan keputusan yang dialami oleh subjek penelitian. Oleh karena adanya dasar kebersamaan, keputusan yang diambil seringkali berdasarkan suara terbanyak atau mencakup kepentingan bersama. Terlebih lagi pada subjek penelitian yang pengasuhannya didominasi oleh pihak keluarga besar. Hal yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan melalui cara orang tua dan pihak keluarga besar dalam memberikan nasihat dan teguran kepada subjek penelitian. Sekalipun ada beberapa subjek penelitian yang pola asuhnya bertumpu pada orang tua, tapi mereka membagi pengalaman yang sama dalam hal memperoleh nasihat dan teguran. Berdasarkan paparan hasil wawancara tersebut dapat dianalisis bahwa pola pengasuhan keluarga besar dikonstruksikan untuk menjadi unit sosial yang mengedepankan nilai kerukunan, kebersamaan, dan norma kolektif lainnya. Melalui proses tersebut pula diketahui adanya momen pengungkapan dan adaptasi diri oleh subjek penelitian terkait nilai dan norma sosial yang terkandung dalam pola pengasuhan yang diterima oleh subjek. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa pada tahap eksternalisasi lingkungan sekitar berperan cukup signifikan dalam proses Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x konstruksi sosial. Objektifikasi Pada tahapan ini realitas sosial yang pada mulanya bersifat subjektif berubah menjadi objektif dan berada di luar diri individu. Dalam penelitian ini objektifikasi mengenai pola pengasuhan keluarga besar dimulai dari pembiasaan yang berasal dari pola interaksi anak, orang tua, dan pihak keluarga besar. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk keluarga dan norma kolektif yang dipraktekkan dalam keseharian subjek Dalam penelitian ini objektifikasi mengenai pola pengasuhan keluarga besar dimulai dari pembiasaan yang berasal dari pola interaksi anak, orang tua, dan pihak keluarga besar. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk keluarga. Pada mulanya anak mungkin merasa bentuk keluarga yang terdiri dari banyak individu ini sebagai hal yang ganjil karena tidak banyak menemui bentuk keluarga demikian di lingkungan Begitu juga dengan penetapan pembagian peran, nilai, dan aturan yang diberlakukan dalam lingkup keluarga besar. Beberapa subjek penelitian menyebutkan bahwa aturan atau nilai yang diterapkan dalam keluarga besarnya terkadang menempatkan subjek penelitian pada posisi yang tersudutkan. Aturan seperti anak harus tunduk dengan orang yang lebih tua dan tidak membantah atau menyangkal perkataan orang yang lebih tua menyebabkan subjek penelitian merasa tidak dapat mengungkapkan pikirannya. Selain itu, beberapa subjek penelitian juga menyebutkan kondisi dilematis yang sering mereka alami berkaitan dengan pengambilan keputusan yang seringkali harus melibatkan banyak suara. Kondisi tersebut pada mulanya terasa tidak lazim. Namun, lambat laun menjadi suatu hal yang lazim karena hal tersebut telah terjadi sepanjang hidup subjek Terlebih lagi apabila hal yang tidak lazim tersebut telah dilegitimasi menggunakan nilai-nilai yang diyakini dalam keluarga subjek penelitian. Hal tersebut dapat dilihat dari penyataan subjek penelitian yang menganggap bahwa bentuk keluarganya yang terdiri dari banyak figur adalah suatu hal yang lumrah dan wajar karena nilai kebersamaan dan kerukunan yang seringkali diluruhkan dalam pola pengasuhan yang subjek penelitian terima. Begitu pula dengan nilai, aturan, dan pembagian peran yang ditetapkan dalam lingkup keluarga besarnya. Sekalipun pada awalnya subjek penelitian merasa keberatan dengan aturan hierarki yang menempatkan orang yang lebih tua sebagai orang yang harus dihormati dan tidak boleh disangkal perkataannya, subjek penelitian mengaku menjadi biasa saja atau menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang sudah semestinya demikian. Kondisi yang telah dianggap lazim tersebut disebabkan karena adanya legitimasi yang menciptakan pembenaran atau alasan atas pola yang awalnya dianggap ganjil Seperti bagaimana narasi AuWes nurut ae ambek wong tuwo, urip pasti bejo. Ay yang dilontarkan oleh salah satu nenek dari subjek penelitian sebagai pembenaran atas pembatasan hak bersuara anak dalam keluarga atau aturan-aturan yang seringkali dilapisi alasan AuDemi kebaikanAy. Menafsir dari hasil pemaparan wawancara tersebut, dapat dilihat bahwa tuntutan yang membuat subjek penelitian terbebani dengan kondisinya yang tumbuh di lingkungan keluarga besar dengan banyak figur yang turut andil dalam tumbuh kembangnya, merupakan suatu hal yang seiring berjalannya waktu dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan subjek penelitian. Internalisasi Apabila pada tahap objektifikasi realitas dianggap wajar secara sosial, pada tahap internalisasi realitas tersebut dianggap wajar secara pribadi. Dengan kata lain realitas tersebut menjadi bagian dari cara berpikir seorang individu itu sendiri. Pada tahap ini subjek penelitian telah menyerap nilai dan norma yang ada di lingkungannya secara Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x sempurna hingga menjadi bagian dari dirinya. Seperti yang ditunjukkan subjek penelitian yang pada mulanya menganggap pengambilan keputusan yang harus melibatkan banyak orang sebagai suatu hal yang memberatkan, lambat laun menjadi hal yang wajar dan tanpa subjek penelitian sadari selalu dilakukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pola tersebut telah menjadi bagian dirinya yang tidak terpisahkan. Berdasarkan hasil temuan di lapangan, subjek penelitian menyerap konstruksi mengenai pola asuh keluarga besar dengan baik. Pernyataan tersebut didukung dengan bagaimana subjek penelitian dapat menjelaskan mengenai pandangan masa depan terkait pengasuhan anak. Interaksi yang terjalin secara berkelanjutan antara subjek penelitian dan keluarga besar membantu subjek penelitian dalam mengamati perilaku dan memahami nilai yang terkandung pada setiap perilaku yang ditunjukkan oleh keluarga besar dan lingkungan sekitarnya. Sebagai hasilnya subjek penelitian yang tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan memiliki kecenderungan mengadopsi nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena, subjek penelitian telah menerima nilai tersebut dalam kesehariannya, subjek penelitian menganggap kehidupan keluarga yang mengedepankan kebersamaan dan kerukunan sebagai suatu hal yang ideal. Selain itu, nilai tersebut juga tercermin melalui perilaku subjek penelitian yang lebih akrab dengan keluarga besarnya dan mengedepankan kepentingan kolektif dibandingkan dirinya sendiri. Lebih lanjut, tahap internalisasi ini juga mencakup pada proses pewarisan nilai dan norma pada generasi selanjutnya. Dengan kata lain, apabila individu dapat menyerap nilai dan norma yang diluruhkan padanya dengan baik hingga membentuk suatu pola pikir dan tindakan, maka akan ada kecenderungan nilai dan norma tersebut akan diterapkan pula pada generasi selanjutnya. Dalam hal ini, subjek penelitian yang memiliki pengalaman hidup yang baik terkait pola pengasuhan keluarga besar akan mengadopsi pola pengasuhan yang sama dikemudian hari. Beberapa subjek penelitian menyebutkan bahwa dirinya lebih nyaman apabila anaknya dikemudian hari diasuh oleh keluarga sendiri dibandingkan orang lain yang tidak diketahui dengan jelas latar 4 Analisis Konstruksi Sosial Anak Tentang Pola Pengasuhan Keluarga Besar Berger dan Luckman menyebutkan bahwa realitas sosial yang ada di masyarakat tidak serta merta muncul, melainkan dari adanya proses panjang dari interkasi sosial yang terjalin antar individu atau kelompok dalam masyarakat. Oleh karenanya, mereka menekankan bahwa masyarakat adalah produk buatan individu, begitupula sebaliknya, individu merupakan produk buatan dari masyarakat. Dalam membentuk realitas sosial tersebut. Berger dan Luckman menjelaskan bahwa terdapat tiga tahapan dialektis, yang meliputi eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi. Oleh karenanya, pada penelitian ini anak tidak hanya menerima pola pengasuhan oleh keluarga besar. Namun, juga menciptakan realitas sosial berdasarkan akumulasi pengetahuan dan pengalaman mereka. Dalam tahap eksternalisasi anak tidak hanya sebagai objek dalam sistem, melainkan adalah subjek yang juga memberikan sumbangsih terhadap keterbentukan makna pola asuh yang mereka jalani. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh subjek penelitian mengenai nilai dan norma yang diterapkan dalam pola pengasuhan yang diterimanya. Melalui hasil penelitian diketahui bahwa nilai dan norma yang sering muncul dalam pola pengasuhan keluarga besar adalah mengenai nilai kebersamaan dan norma kolektif. Nilai dan norma tersebut diungkapkan melalui proses sosialisasi yang diungkapkan oleh orang tua atau orang dewasa dalam lingkup kehidupan subjek penelitian. Oleh karena, adanya banyak peran yang terlibat dalam pengasuhan, subjek penelitian dapat melihat bahwasannya antara orang tua dan pihak keluarga besar memiliki perbedaan terhadap penerapan nilai dan aturan. Hal tersebut termasuk ke dalam pengungkapan diri dalam proses eksternalisasi. Dengan kata lain, mereka Paradigma. Volume 13. Number 2, 71-80, 2025 e-ISSN: x-x-x dapat mendefinisikan atau merasakan peranan setiap orang yang terlibat dalam pola pengasuhan atas dirinya. Seperti misalnya, subjek penelitian lebih nyaman bercerita mengenai masalah pribadinya kepada orang tua. Sementara, subjek penelitian hanya melihat keberadaan neneknya sebagai sebatas pengasuh yang dapat memenuhi kebutuhan fisik saja. Proses eksternalisasi tersebut juga dapat dilihat dari bagaimana subjek penelitian membentuk realitas terkait pengasuhan keluarga besar melalui nilai dan norma yang dijalankan atau diterapkan di dalam keluarga besarnya. Nilai kebersamaan dan kerukunan yang diwacanakan oleh orang tua dan pihak keluarga besar tidak hanya diterima oleh subjek penelitian, melainkan nilai tersebut mendapatkan respon yang berbeda-beda dari subjek Lalu, subjek penelitian mengalami proses yang dinamakan objektifikasi. Pada tahap ini, subjek penelitian mulai menerima nilai yang ada di sekitarnya sebagai hal yang lazim atau Hal tersebut dikarenakan adanya proses pembiasaan yang berlangsung sepanjang hidup subjek penelitian dan proses legitimasi atas nilai dan norma yang awalnya dianggap tidak lazim tersebut. Tahap objektifikasi dalam penelitian ini dimulai dari proses pembiasaan yang terkandung dalam pola interaksi antara subjek penelitian dan keluarga besarnya. Sebagaimana mengenai bentuk keluarganya sebagai hal yang wajar ada. Apabila diamati dari hasil wawancara pola pemikiran tersebut merupakan hasil dari adanya pembiasaan yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari dari subjek penelitian. Selain karena subjek penelitian telah menghabiskan sepanjang hidupnya pada kondisi tersebut, adanya narasi mengenai kebersamaan dan kerukunan yang diwacanakan dalam pola pengasuhan menjadi salah satu alasan mengapa bentuk keluarga tersebut kemudian dianggap lazim. Narasi seperti sesama saudara harus saling bantu yang terkandung dalam nilai kebersamaan yang diwacamakan, membangkitkan pemahaman mengenai kelaziman untuk tinggal bersama dalam rangka meringankan beban satu sama lain. Dalam hal ini membantu dalam hal mengasuh anak ketika orang tua sibuk bekerja. Pada akhirnya, subjek penelitian akan mengalami proses yang disebut internalisasi. Pada tahap ini subjek penelitian telah mengilhami nilai dan norma yang ada di sekitarnya secara Sehingga, dapat membentuk cara pandang atau pikir mereka mengenai bentuk keluarga dan pola asuh yang ideal. Hasil dari proses internalisasi tersebut tercermin dari pola perilaku dan tingkah laku yang mengedepankan nilai kebersamaan. Seperti salah satu subjek penelitian yang lebih mengedepankan kepentingan bersama dibandingkan dirinya sendiri. Hal tersebut dikarenakan subjek penelitian telah terbiasa dengan agenda kebersamaan dan kerukunan yang seringkali disosialisasikan dalam pola pengasuhannya. Kesimpulan Konstruksi sosial anak terhadap peran keluarga besar dalam pengasuhan tidak bersifat tunggal, melainkan hasil dari pengalaman yang kompleks dan beragam. Proses sosialisasi yang melibatkan lebih dari dua figur otoritatif menciptakan dinamika yang dapat memperkaya atau membingungkan anak dalam pembentukan identitas dan nilai hidupnya. Penelitian ini menunjukkan pentingnya keseimbangan peran dan komunikasi antaranggota keluarga besar dalam pengasuhan anak, serta perlunya kesadaran kritis dari orang tua dan anggota keluarga lain dalam memahami dampak jangka panjang pola asuh yang diterapkan bersama. Daftar Pustaka