Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 Laporan Hasil Penelitian PERBANDINGAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ZINGIBER OFFICINALE DENGAN INSULIN TERHADAP BERAT PLASENTA PADA RATTUS NORVEGICUS MODEL DIABETES MELLITUS PRAGESTASIONAL Sepfrita Katerine Aftabuddin. Hermanto Tri Joewono. Widjiati . Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Indonesia Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Indonesia Departemen Embriologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Indonesia Submitted : Agustus 2017 | Accepted : November 2017 | Published :Januari 2017 ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs in the community, with 1. 9% prevalence of in the world is and the seventh leading cause of death in the world. It is estimated to increase up 3 million by 2030 if the pattern of Diabetes management is not well developed. In 2007, the prevalence of Pragestational Diabetes Mellitus in Indonesia was 12% and had an impact on placental development that was important during pregnancy for fetal survival with placental weight as the indicator. Diabetes Mellitus pragestational therapy is insulin, however it often causes complications. Oral hyperglycemic drugs with ginger dose extract of 500mg/kgBW significantly decreased serum glucose levels in diabetic-induced rats. Ginger extract is expected to decrease blood glucose levels so as to increase the weight of placenta. The purpose of this study was to determine the effect of insulin and ginger extract on weight of placenta Rattus norvegicus model of diabetes mellitus. This research is an experimental research using post test only control group design. The population used in this study was pregnant Rattus norvegicus with simple random sampling. The independent variables are insulin and ginger extract and dependent variable is weight of placenta. Data analysis for placental weight using Kruskal Wallis was continued by Post Hoc Bonferroni test. Test results for placental weight p> . means that there is no difference in placental weight between negative control, positive control and treatment group. The conclusion of this study is there is no significant difference between groups, however based on mean datas the weight of placenta Rattus norvegicus model of diabetes mellitus with insulin and ginger extract therapy are higher than the control group. Keywords : Pragestational Diabetes Mellitus, insulin. Zingiber officinale extract, placental weight Correspondence to : sepfrita_k@yahoo. Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 ABSTRAK Diabetes mellitus termasuk penyakit kronis yang banyak terjadi di masyarakat. Prevalensi DM di dunia adalah 1,9% dan sebagai penyebab kematian urutan ke tujuh di dunia. Diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 jika pola penatalaksanaan diabetes tidak dikembangkan dengan baik. Diabetes Mellitus pragestasional memiliki dampak signifikan pada hasil akhir kehamilan. Prevalensi Diabetes Mellitus pragestasional di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 12% dan memiliki dampak pada perkembangan plasenta yang penting saat kehamilan untuk kelangsungan hidup janin dalam transportasi ibu ke janin dimana dinilai melalui berat Terapi Diabetes Mellitus pragestasional dengan menggunakan insulin. Insulin sering menimbulkan komplikasi. Obat hiperglikemi secara oral dengan pemberian ekstrak jahe dosis 500mg/kgBB secara signifikan menurunkan level serum glukosa pada tikus yang diinduksi Pemberian ekstrak jahe diharapkan dapat menurunkan kadar gula darah sehingga meningkatkan berat plasenta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian insulin dan ekstrak jahe terhadap berat plasenta Rattus norvegicus model diabetes mellitus pragestasional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan posttest only control group design. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah Rattus norvegicus hamil. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random Variabel independen adalah insulin dan ekstrak jahe. Variabel dependen adalah berat Analisis data untuk berat plasenta menggunakan Kruskal Wallis dilanjutkan uji Post Hoc Bonferroni. Hasil uji untuk berat plasenta p> . ,63 > 0,. artinya tidak terdapat perbedaan berat plasenta antara kontrol negatif, kontrol positif dan kelompok perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini Tidak terdapat perbedaan signifikan berat plasenta antar kelompok namun berdasarkan rata-rata berat plasenta dapat lebih berat pada kelompok kombinasi insulin dan jahe pada Rattus norvegicus model Diabetes Mellitus pragestasional. Kata Kunci : Diabetes Mellitus pragestasional, insulin, ekstrak Zingiber officinale, apoptosis plasenta, berat plasenta. Korespondensi : sepfrita_k@yahoo. jumlah penderita diabetes terbanyak. Diperkirakan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 jika pola penatalaksanaan diabetes tidak dikembangkan dengan baik (ADA, 2. PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) termasuk dalam salah satu penyakit kronis yang banyak terjadi di masyarakat. International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan bahwa prevalensi DM di dunia adalah 1,9% dan telah menjadikan DM sebagai penyebab kematian urutan ke tujuh di Insiden DM diperkirakan akan meningkat lagi 165% pada tahun 2050 (Cunningham, 2. Jumlah penderita diabetes di Indonesia sebanyak 8,5 juta orang sehingga menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 dari 10 negara dengan Diabetes mellitus (DM) dalam kehamilan diklasifikasikan dalam dua bentuk, yaitu DM pragestasional (DMpG) dan DM gestasional (DMG). Dampak terbesar pada kondisi ini, meningkatnya morbiditas dan mortalitas baik ibu maupun janin (Hermanto, 2. Prevalensi DMpG di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 12% sedangkan prevalensi DMG di Indonesia Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 sebesar 88% pada kehamilan umumnya (Depkes RI, 2. Di RSU Dr. Soetomo, angka kejadian tahun 1991 hingga 2003 adalah 12 penderita dari 602 kehamilan. Data tahun 2003, cara persalinan seksio sesarea berkisar 47 (Hermanto, 2. menunjukkan bahwa terjadi peningkatan Penelitian menunjukkan peningkatan berat plasenta (Huppertz dan Hunt, 2. Hal ini menjadi permasalahan oleh karena itu, penulis ingin melakukan penelitian untuk mendapatkan hubungan DM pragestasional dengan berat Diabetes mellitus pragestasional (DMpG) memiliki dampak signifikan pada hasil akhir kehamilan. Janin dan ibunya sering mengalami berbagai penyulit serius yang Hasil akhir pada DMpG bergantung pada derajat kontrol glikemik (Hermanto, 2. Hasil akhir kehamilan dengan DMpG telah dilakukan oleh Yang et , di Nova Scotia dari tahun 1998 sampai Wanita DMpG memperlihatkan hasil akhir kehamilan yang secara signifikan lebih buruk (Catalano. Komplikasi medis sering muncul pada DMpG dibandingkan dengan DMG. Komplikasi tersebut berkaitan dengan regulasi glukosa. Penanganan DMpG perlu kerja tim, pemantauan intensif dan fasilitas yang memadai untuk mengelola kasus ini dengan tepat. Penghentian kehamilan dilakukan dengan indikasi ibu preeklamsia berat, bedah sesar dilakukan apabila janin menderita IUGR dan ibu menderita Diabetes KetoAsidosis (DKA). Dampak dari DMpG salah satunya pada perkembangan plasenta yang penting saat kehamilan untuk kelangsungan hidup janin dalam transportasi ibu ke janin. Plasenta memiliki beragam aktivitas fungsional, termasuk kemampuan sintesis untuk perkembangan janin yang normal kelainan fungsi plasenta berkaitan dengan penyulit pada janin (Cots. Rolando, dan Mugnaini. Berat plasenta dapat menunjukkan keadaan pasokan nutrisi dan oksigen ke Plasenta yang berat atau mengalami hipertrofi, mungkin menunjukkan adanya respon adaptif terhadap lingkungan intrauterin yang buruk (Heinonen dkk. Plasenta yang kecil mungkin menunjukkan distribusi zat makanan ke plasenta yang buruk yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan plasenta (BaptisteRoberts dkk, 2. Terapi DMpG dengan menggunakan Insulin merupakan obat anti diabetes karena mempunyai efek anabolik, namun sering menimbulkan komplikasi hipoglikemi, rasa lemas, peningkatan berat badan, dll. Kelemahan lain insulin penggunaannya yang sulit sehingga terapi insulin menjadi tidak efektif (Hermanto. Kondisi maternal hiperglikemi dapat mengakibatkan berat plasenta rendah. Penelitian yang dilakukan Aries . Obat-obatan tradisional saat ini banyak di kembangkan sebagai antidiabetik, di antaranya jahe (Zingiber officinale L). Studi tentang penanganan dan pengobatan penyakit diabetes, baik secara per oral maupun intra vena sudah sangat banyak dilakukan, namun hasilnya secara empiris Perdebatan masih terjadi mengenai kadar gula darah yang harus dicapai dengan terapi Obat hiperglikemi secara oral belum direkomendasikan untuk DMpG kecuali untuk penelitian (ACOG, 2. Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 Unsur kimia utama dalam jahe adalah Pada penelitian Al Amin, dkk. 500mg/kgBB secara signifikan menurunkan level serum glukosa pada tikus yang diinduksi diabetes (Al-Amin dkk, 2. Pemberian jahe pada DMpG dengan dosis KgBB menurunkan kadar gula darah sehingga menurunkan penyulit akibat DMpG bagi ibu dan janin. hewan coba sehat . adar gula norma. Pembuatan model DM Pragestasional tipe 1 dengan pemberian injeksi Streptozocin (STZ) dengan dosis 50mg/kgBB secara Gula darah diperiksa setelah 48 jam pemberian STZ. Positif DM apabila kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL atau glukosa darah acak > 200 mg/dL. Positif DM diberi Injeksi hormon Pregnant MareAos Serum Gonadotropin (PMSG) 10 IU, 48 jam kemudian injeksi Human Chorionic Gonadtropin (HCG) 10 IU setelah itu monomatting. Tujuh belas jam kemudian cek vaginal plug. Vaginal plug positif maka dikatakan H0 kehamilan. METODE PENELITAN Sampel penelitian berjumlah 30 ekor yang dibagi secara simple random sampling menjadi 5 kelompok yaitu: K1 (Kontrol negati. yaitu kelompok tikus hamil tidak DM dan mendapat aquadest 1cc sebagai K2 (Kontrol positi. yaitu tikus hamil DM dan mendapat terapi aquadest 1 K3 (Perlakuan insuli. yaitu tikus hamil DM dan mendapat terapi insulin 1 IU. K4 (Perlakuan ekstrak jah. yaitu tikus hamil DM dan mendapat terapi ekstrak jahe 500mg/KgBB/hari dan K5 (Perlakuan insulin dan ekstrak jah. yaitu tikus hamil DM dan mendapat terapi insulin 1 IU pagi hari dan ekstrak jahe 500mg/KgBB siang Pemberian Terapi Hewan Model Perlakuan diberikan pada hari ke-1 sampai hari ke-16 kehamilan. Kelompok 1 dan 2 diberikan aquadest 1 cc ip, kelompok 3 insulin 1 IU im. Kelompok 4 diberikan ekstrak jahe 500mg/KgBB oral personde dan Kelompok 5 diberikan insulin 1 IU im, 4 jam kemudian diberikan ekstrak jahe 500mg/KgBB oral personde. Tikus pada masing-masing kelompok pada hari ke-17 di anastesi kemudian dibedah untuk diambil plasentanya untuk diukur berat plasenta dan dilakukan pemeriksaan indeks apoptosis Persiapan Hewan Coba HASIL PENELITIAN Tikus putih (Rattus novergicu. betina dilakukan adaptasi selama 1 minggu di tempat penelitian. Hewan coba diberikan makan dan minum secara teratur, kelembaban, kebersihan dan kenyamanan kandang dijaga. Tabel 1. Nilai rerata dan simpangan baku berat plasenta Rattus norvegicus model diabetes mellitus pragestasional pada masing-masing kelompok Mean A SD Kelompok Pembuatan Model DM Pragestasional pada Rattus novergicus Kadar gula tikus diukur setelah adapatasi dengan menggunakan glucometer pada semua kelompok untuk memastikan bahwa Berat Plasenta 0,47 A 0,07 0,39 A 0,20 0,48 A 0,08 0,47 A 0,08 0,54 A 0,13 Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 Keterangan : O1: O2: O3: O4: Kelompok kontrol negatif, tanpa Kelompok perlakuan (DM Pragestasiona. Kelompok DM Pragestasional dengan pemberian perlakuan insulin Gambar 1. O5: Kelompok DM Pragestasional dengan pemberian perlakuan ekstrak jahe Kelompok DM Pragestasional dengan pemberian perlakuan insulin dan ekstrak Berat plasenta Rattus norvegicus model diabetes mellitus pragestasional pada masing-masing PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian rancangan post test only control group Data yang digunakan berupa data kuantitataif berat plasenta. Analisis menggunakan Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji Post Hoc Bonferroni. Plasenta merupakan salah satu organ dasar dalam kehamilan yang disebut juga dengan Aumaterno-fetal organAy dimana pertumbuhan janin dimulai dari implantasi blastocyst sampai dengan proses persalinan fetus. Selama periode kehamilan, plasenta bertugas untuk memfasilitasi nutrisi, pertukaran gas, menghilangkan sisa metabolisme, endokrin dan dukungan imun untuk pertumbuhan janin (Cunningham dkk, 2. Pemeriksaan plasenta akan menunjukkan informasi penting tentang perkembangan janin (Little dkk, 2. Hasil uji Kruskal Wallis pada plasenta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok hanya rerata berat plasenta pada kelompok kontrol positif (O. yang paling kecil dan rerata berat plasenta pada perlakuan insulin dan jahe yang paling besar (O. Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 Berat perkembangan plasenta dari fungsi dan berhubungan dengan usia ibu, usia preeklamsia pada ibu, berat lahir paritas, pendekatan pengiriman nutrisi, jenis kelamin bayi, skor APGAR dan kondisi Faktor lain yang mempengaruhi berat plasenta mencakup paritas, tinggi dan berat badan ibu serta konsentrasi serum ferritin . etapi tidak berkonsentrasi dengan globin Pada penelitian ini tidak ditemukan perbedaan berat plasenta antar kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif maupun kontrol positif dengan kelompok Rata-rata berat plasenta tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan insulin dan ekstrak jahe sedangkan rata- rata berat plasenta terendah terdapat pada kelompok kontrol positif. Hal tersebut karena penyakit ibu seperti diabetes gestasional, anemia berat, hipertensi mempengaruhi berat plasenta dikarenakan plasenta gagal untuk melakukan adaptasi. Ibu yang menderita diabetes berat plasentanya tinggi oleh karena hipertrofi plasenta dan pertumbuhan janin yang berkurang telah menjadi hasil adaptasi untuk mempertahankan fungsi plasenta pada wanita hamil dengan kondisi seperti kekurangan gizi dengan demikian kehamilan dengan pertumbuhan janin terganggu mengakibatkan usia kehamilan kecil sehingga kompensasinya harus memiliki peningkatan berat plasenta untuk rasio berat badan lahir . asio plasenta dibandingkan dengan sesuai umur atau besar usia kehamila. (Little dkk, 2003. Godfrey dkk, 1. daerah untuk pertukaran antara ibu dan janin baik dari vili dan luas permukaan kapiler janin dengan demikian kemampuan pertukaran oksigen dan nutrisi dari ibu dan janin dibatasi (Heinonen dkk, 2. Pada penelitian Perry et al, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara berat plasenta dengan preeklamsia, hipertensi gestasional dan diabetes gestasional. Hal itu karena patofisioloigi hipertensi dan diabetes pada kehamilan tidak diketahui dan terapi pada ibu bertujuan untuk mencegah terjadinya sindroma pada ibu, tidak menghalangi patofisiologi primer namun faktor genetik dan lingkungan yang dapat menyebabkan komplikasi. Pada penelitian ini tidak tampak perbedaan antar pelakuan karena terdapat adaptasi dari Selain itu, karena usia kehamilan yang sama saat dilakukan terminasi. Penelitian Kinare et al, menyatakan bahwa salah satu faktor lain yang mempengaruhi pada berat plasenta adalah usia kehamilan, usia kehamilan dikenal sebagai faktor penentu pokok dari berat plasenta, dalam penelitiannya menyatakan bahwa kapasitas pertumbuhan janin ditentukan oleh pertumbuhan plasenta dan antara volume plasenta pada kehamilan 15 minggu sampai 18 minggu, berat plasenta saat lahir dan berat badan lahir menemukan korelasi Penelitian tersebut sesuai dengan penelitian Molteni et al, dalam penelitiannya menunjukkan berat rata-rata plasenta berkaitan dengan usia kehamilan, berat plasenta pada bayi meningkat secara proporsional dengan usia kehamilan, sementara pada bayi dengan cukup umur tidak terlihat perubahan dari usia 36 minggu Pada penelitian Pardi et al, menyatakan ada perbedaan yang signifikan pada berat plasenta pada kehamilan trisemester kedua dengan berat plasenta saat lahir. Terdapat faktor lain yang dapat menyebabkan tidak terdapatnya perbedaan Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian Heinonen et al, yang menunjukan bahwa berat plasenta bayi bawah umur kehamilan lebih rendah daripada bayi sesuai umur kehamilan, hal itu karena massa jaringan yang rendah dari fungsional plasenta yang disertai dengan berkurangnya Qanun Medika vol. II no. 1 | Januari 2018 antar kelompok kemungkinan karena kadar hemoglobin yang rendah pada kehamilan terutama pada diabetes mellitus gestasional. Penelitian ini, tidak mengukur kadar hemoglobin pada induk tikus. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Godfrey et al, mempengaruhi berat plasenta seolah-olah terjadi anemia defisiensi besi pada phenolic compounds by chemical structural indicators and its relation (L) Delile. MATCH. 67,231-250 Catalano P . The diabetogenic state NeoReviews Vol. Cots DS. Rolando A. Mugnaini MT . Determination of cell proliferation and apoptosis in plasentas of chronically stress rats. Open Acces Scientific Report. Vol. KESIMPULAN Cunningham FG. Leveno KJ. Bloom S. Hauth. Rouse . and Spong Y,. Plasenta dan membran Dalam: . Hartono H dkk . Obstetri Williams. Edisi ke-23. Vol 1. Jakarta: EGC. Tidak terdapat perbedaan signifikan berat berdasarkan rata-rata berat plasenta dapat lebih berat pada kelompok kombinasi insulin dan jahe sehingga terdapat proses adaptasi pada Rattus norvegicus model Diabetes Mellitus Pragestasional. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . PedomanTeknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Diabetes Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. REFERENSI