Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 7, Juli 2024 ISSN: 27342488 PEMANFAATAN PENAMBAHAN POJOK BACA DIDALAM PERPUSTAKAAN UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SISWA SDN 22 KOTA BENGKULU Novita Aulia Safitri1, Rahmat Jumri2, Kashardi3 Email: novitaauliasafitri18@gmail.com1, rahmat@umb.ac.id2, kashardi@umb.ac.id3 Universitas Muhammadiyah Bengkulu ABSTRAK Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini yakni guru dan seluruh siswa SDN 22 Kota Bengkulu. Untuk meningkatkan literasi siswa salah satunya dapat dilakukan melalui pembuatan pojok baca. Berdasarkan hasil observasi di SDN 22 Kota Bengkulu diketahui bahwa pojok baca di sekolah dalam keadaan kurang layak dikarenakan berada di taman sekolah dekat dengan area parkiran sehingga kegiatan literasi tidak efektif. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi pada siswa terutama di SDN 22 Kota Bengkulu dengan cara melakukan pembuatan pojok baca di perpustakaan dan menghias kembali pojok baca yang ada sebelumnya. Metode yang digunakan oleh penulis untuk membuat jurnal ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, dokumentasi. Subjek dari penelitian ini adalah seluruh siswa SDN 22 Kota Bengkulu. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa dengan penambahan pembuatan pojok baca di SDN 22 Kota Bengkulu adalah seluruh siswa dapat bersemangat untuk mengunjungi perpustakaan dikarenakan adanya pojok baca didalam perpustakaan yang dimana kami melukis dinding perpustakaan dengan karakter animasi dengan begitu bisa meningkatkan minat baca siswa dan dapat meningkatkan raport literasi sekolah. Kata Kunci : Pojok Baca, Literasi. ABSTRACT Abstract Reading is a process that is carried out and used by readers to obtain the message that the writer wants to convey through the medium of words or written language. Literacy is the language ability possessed by a person in communicating "reading, speaking, listening and writing" in different ways according to their goals. If briefly defined, the definition of literacy is the ability to write and read. The subjects involved in this study are teachers and all students of SDN 22 Bengkulu City. To improve student literacy, one of them can be done through the creation of a reading corner. Based on the results of observations at SDN 22 Bengkulu City, it is known that the reading corner at school is not feasible because it is located in the school park close to the parking area so that literacy activities are not effective. Therefore, to overcome these problems, this community service activity aims to increase literacy in students, especially at SDN 22 Bengkulu City by making reading corners in the library and redecorating the reading corners that existed before. The method used by the author to make this journal is to use qualitative methods with data collection techniques: observation, interviews, documentation. The subject of this study is all students of SDN 22 Bengkulu City. The results of this study are that with the addition of making a reading corner at SDN 22 Bengkulu City, all students can be excited to visit the library because of the reading corner in the library where we paint the library walls with animated characters so that it can increase students' interest in reading and can increase school literacy report cards. Keywords : Reading Corner, Literacy. 254 PENDAHULUAN Membaca adalah proses menangkap atau memperoleh ide-ide yang dimaksudkan oleh pengarangnya, menginterpretasi, mengevaluasi, dan merefleksikan atau bertindak sesuai dengan ide-ide itu. Kemampuan membaca tidak hanya mencakup pemahaman kosa kata yang luas, tetapi juga kemampuan untuk menginterpretasi, mengevaluasi, dan memperoleh pemahaman yang luas (Siti Munawarah, 2020). Melalui kegiatan membaca seseorang dapat menggali berbagai informasi, pengetahuan, dan pengalaman baru, hal ini dikarenakan aktifitas membeca bersifat reseptif atau menerima (Fitriana & Ridlwan, 2021) (Mirna & Rambe, 2021). Pengetahuan dan informasi yang diperoleh pada kegiatan membaca akan menjadi pintu untuk membuka wawasan yang selanjutnya dapat merubah paradigma dalam berpikir dan bertindak seseorang menuju kemajuan (Megantara & Wachid, 2021). Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka Masyarakat buta aksara di Indonesia (Kamardana et al., 021; Sariani, 2020). Menumbuhkan minat baca siswa dan masyarakat merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan, hal dikarenakan kurangnya keinginan, kemauandan dorongan dari diri sendiri. Pentingnya kegiatan literasi di sekolah agar siswa dapat membiasakan diri untuk mencari sumber-sumber informasi yang berhubungan dengan pembelajaran yang tentunya akan berguna bagi siswa. Lingkungan yang baik dan mendukung hal positif seperti adanya kegiatan literasi di masyarakat akan membuat siswa menjadi terbiasa membaca. Penambahan pembuatan pojok baca didalam perpustakaan yaitu bertujuan agar meningkatkan minat siswa selalu mengunjungi perpustakaan, memudahkan siswa mengakses buku bacaan, memudahkan siswa untuk menambah pengetahuan dengan membaca buku di perpustakaan, siswa yang membaca buku di perpustakaan pun merasa nyaman jika dengan adanya pojok baca tersebut. Selain untuk tempat membaca, perpustakaan bisa menjadi sarana untuk siswa belajar diluar ruang kelas agar pembelajaran tidak membosankan. Pojok baca merupakan salah satu bentuk komitmen sekolah melalui perpustakaan mini dalam kelas sebagai upaya dalam mendukung Gerakan Wajib Membaca 15 menit yang dianjurkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 (Aswat & Nurmaya G, 2019). Menanamkan budaya membaca kepada siswa dengan melakukan penambahan pojok baca di di dalam perpustakaan merupakan hal positif dalam meningkatkan dan mengembangkan kebiasaan membaca siswa, karena pada masa sekolah sikap atau kebiasaan positif mulai diterapkan agar terbawa sampai dewasa. Kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak dini, sebab seseorang yang memiliki pengetahuan dan wawasan tentunya memiliki cara pandang yang luas. Dengan dibuatnya penambahan pojok baca didalam perpustakaan diharapkan dapat menumbuhkan jiwa literasi kepada siswa demi menciptakan dan meningkatkan kebiasaan berbagai hal yang berhubungan dengan gemar membaca. Beragam hal positif yang dapat diambil dari gemar membaca yaitu bertambahnya wawasan dan pengetahuan tentang berbagai hal yang kita tidak ketahui sebelumnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai pengembangan dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti pada Anak. Menindaklanjuti gerakan tersebut, guru harus melakukan hal-hal kreatif terkait budaya literasi. Program ini merupakan perwujudan dari peraturan menteri pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang budi pekerti, yang memiliki tujuan menumbuh kembangkan budi pekerti siswa dengan pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hidupnya (Dewi & Isnarmi, 2019). Gerakan Literasi Sekolah menekankan pada pembiasaan membaca bagi siswa sebelum dilaksanakan proses pembelajaran (Septiary & Sidabutar, 2020). Salah satunya dengan menciptakan Pojok Baca. Ini tentu dibuat dengan kreativitas masing-masing agar 255 siswa yang mengunjungi perpustakaan tidak merasa bosan dengan keadaan tempat membaca hanya itu saja, maka dibuatlah penambahan pojok baca didalam perpustakaan tersebut dengan sekreatif mungkin dan memancing siswa untuk mengunjungi perpustakaan. Pojok Baca adalah satu media yang digunakan untuk menumbuhkan minat siswa dalam meningkatkan gerakan literasi sekolah. Pojok baca menjadi bagian dari ruang yang diubah menjadi suasana berbeda, supaya para siswa bisa lebih nyaman untuk membaca dan untuk meningkatkan kemampuan literasi nya. Pembuatan pojok baca sangat bergantung dengan kreativitas seperti dengan melukis dinding dengan bertemakan animasi agar siswa ingin mengunjungi pojok baca tersebut. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk, baik itu dalam bentuk teks, gambar, grafik, atau media lainnya. Secara lebih luas, literasi juga mencakup kemampuan seseorang untuk berpikir kritis, menganalisis, dan mengkomunikasikan ide-ide dengan efektif (Ridwan et al., 2023). Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk membaca tidak hanya buku teks, namun berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai lingkungan belajar secara analitis, kritis, dan reflektif yang artinya bahwa literasi tidak hanya hal membaca buku teks tetapi juga membaca berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari (Asmara & Risnanosanti, 2019). Berdasarkan hasil observasi di SDN 22 Kota Bengkulu bahwa pojok baca di sekolah berada diluar ruangan yaitu disamping area parkiran sehingga kegiatan budaya literasi di pojok baca area luar ruangan otomatis kurang efektif. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut melalui program Kampus Mengajar ini dilakukan penambahan pojok baca didalam perpustakaan yang harapannya dapat meningkatkan budaya literasi siswa dengan bertujuan agar pada saat cuaca yang tidak mendukung pun siswa dapat membaca pada area pojok baca didalam perpustakaan. ME TODE PE NE LITIA N Metode yang digunakan untuk membuat artikel ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan salah satu pendekatan penelitian yang digunakan dalam ilmu sosial untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Metode ini berfokus pada pemahaman dan interpretasi terhadap konteks sosial, budaya, dan perilaku manusia. Dalam pembuatan jurnal dengan metode kualitatif Menurut Sugiyono (2019), “Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau enterpretif, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan observasi, wawancara, dokumentasi), data yang diperoleh cenderung data kualitatif, analisis data bersifat induktif (kualitatif), dan hasil penelitian kualitatif dapat bersifat temuan potensi dan masalah, keunikan obyek, makna suatu peristiwa, proses dan interaksi social, kepastian kebenaran data, konstruksi fenomena, temuan hipotesis”(p.25). Kemudian, (Sugiyono, 2013) menyatakan bahwa metode kualitatif merupakan metode yang sering digunakan dalam studi objek alam maupun individu, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran dan pemahaman yang komprehensif dimana peneliti merupakan instrumen kunci. Teknik observasi, wawancara dan dokumentasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini. Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan mengkaji beberapa jurnal ilmiah dan literatur, atau langkah-langkah penulisan artikel ini adalah 1) mengidentifikasi masalah penelitian, 2) menentukan metode pengumpulan data, 3) melakukan kajian literatur dari berbagai sumber, 5) seleksi. metode analisis data dan 6) penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2013). i i i i i 256 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan diawali dengan melakukan observasi sekolah di hari pertama penugasan kampus mengajar dan mulai menyusun program kerja apa saja kegiatan yang akan dilakukan selama penugasan. Setelah mendapatkan ide-ide lalu mulai mengkoordinasi kepada guru pamong dan kepala sekolah untuk mendapatkan informasi serta izin untuk melaksanakan kegiatan program yang kami buat dengan menambah pembuatan pojok baca didalam perpustakaan sebagai upaya gerakan literasi sekolah di SDN 22 Kota Bengkulu agar siswa merasa nyaman dengan adanya pojok baca didalam perpustakaan tersebut, tanpa membiarkan pojok baca yang ada sebelumnya. Kami tetap menghias pojok baca yang berada diluar dekat area tersebut agar siswa tidak bosan untuk membaca didalam ruangan tetapi siswa juga dapat membaca di luar ruangan. Selain itu, pojok baca yang berada didekat area parkiran tersebut dapat dijadikan taman sekolah. Gambar 1. Menata kembali buku-buku didalam perpustakaan 2. Tahap Pelaksanaan Kegiatan pelaksanaan ini dimulai dengan melakukan kegiatan menyusun ulang bukubuku sesuai dengan jenis buku sebagai sumber bahan ajar pada pojok baca nantinya. Melalui kegiatan ini diperoleh berbagai jenis buku yang kemudian dipilih dan disortir agar buku yang diletakkan kedalam lemari sesuai dengan jenis bukunya. Selain itu, menata ulang posisi lemari membuat keadaan perpustakaan menjadi lebih luas dari sebelumnya sehingga siswa dapat bebas membaca buku. Memulai melakukan kegiatan melukis dinding dengan memanfaatkan teknologi yaitu melukis menggunakan infokus dengan cara menyorot pantulan gambar ke dinding yang akan dilukis. Tema yang digunakan dalam melukis dinding, penulis memilih tema animasi hewan yang sesuai dengan siswa sekolah dasar yang menyukai animasi. Pada pelaksanaan pertama, siswa sangat antusias terhadap penyelenggaraan ini. Ketika kami sedang mengerjakan kegiatan ini, ada banyak siswa yang mulai penasaran apa yang sedang kami buat lalu mereka mulai tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Namun, ada beberapa siswa yang mulai mengunjungi perpustakaan untuk membaca, diakhir kegiatan setelah membaca mereka mengungkapkan merasa senang dan menjadi tertarik untuk membaca dikarenakan stigma membaca yang menjadi bosan, perlahan menghilang dan akan berganti menjadi membaca itu mengasyikkan. Ketika pelaksanaan, beberapa kegiatan yang menjadi sasaran pengabdian masyarakat kami dengan didirikannya pojok baca di SDN 22 Kota Bengkulu. Memberikan pemahaman bahwa membaca itu penting. Membaca itu sangat penting dalam menjalani kehidupan, karena kehidupan tidak jauh dari yang namanya membaca. Setelah selesai membaca, siswa diintruksikan untuk menyusun kembali buku yang dibaca tadi kedalam rak buku semula. Selain untuk tempat membaca, ada beberapa siswa yang bermain diperpustakaan karena di dalam perpustakaan SDN 22 Kota Bengkulu ada banyak alat peraga yang bisa siswa gunakan untuk belajar sambil bermain. Perpustakaan juga sering kami gunakan untuk mengajar siswa untuk membaca, karena ada beberapa siswa yang 257 belum dapat membaca dengan lancar bahkan ada juga siswa yang tidak mengenal huruf sama sekali. Jadi, inilah alasan kami melakukan penambahan pembuatan pojok baca didalam perpustakaan. Gambar 2. Proses pengecatan dan membuat hiasan jendela perpustakaan KESIMPULAN Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini, adalah upaya untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah sudah dapat direalisasikan. Dengan adanya penambahan pembuatan pojok baca diharapkan dapat meningkatkan untuk budaya literasi di SDN 22 Kota Bengkulu. Dalam pelaksanaan terdapat beberapa poin yang menjadi titik sasaran agar dikembangkan menjadi lebih baik. Siswa sangat antusias dengan pembuatan pojok baca didalam perpustakaan yang dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam budaya gemar membaca. Selain itu juga, dengan adanya pojok baca ini dapat mengurangi siswa yang tidak lancar membaca menjadi siswa yang gemar membaca. Saran Salah satu cara untuk meningkatkan literasi siswa adalah dengan cara membuat pojok baca semenarik mungkin karena melalui pojok baca inilah siswa tertarik untuk mengunjung perpustakaan sehingga jiwa ingin belajar membaca pada diri siswa pun dapat tumbuh dengan sendirinya. Selain itu, guru dan orang tua juga harus membimbing siswa untuk belajar membaca, karena selain belajar membaca disekolah, orang tua adalah sebagai sarana pertama siswa untuk belajar dirumah dengan begitu ketika disekolah siswa hanya memperlancar saja. Kepala sekolah juga harus mengajak guru dan siswa untuk mengunjungi perpustakaan agar siswa gemar membaca buku. Kepala sekolah harus bekerja sama kepada guru penjaga perpustakaan untuk membuat jadwal membaca perkelas setiap harinya agar perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik, penjaga perpustakaan juga harus mengajarkan siswa membaca secara bergantian dengan meminta bantuan kepada guru-guru yang tidak ada jam mengajar. DAFTAR PUSTAKA Asmara, A., & Risnanosanti. (2019). Literasi Matematika Siswa SMP Melalui Model Problem Based Learning. Jurnal MATH-UMB.EDU, 6(3), 1–5. https://doi.org/https://doi.org/10.36085/mathumb.edu.v6i3.498 Aswat, H., & Nurmaya G, A. L. (2019). Analisis Gerakan Literasi Pojok Baca Kelas Terhadap Eksistensi Dayabaca Anak Di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(1), 70–78. January 2020 // DOI: 10.31004/basicedu.v4i1.302 Dewi, Z., & Isnarmi, I. (2019). Penanaman Karakter dalam Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Negeri 18 Padang. Journal of Civic Education,1(4), 350–362. https://doi.org/10.24036/jce.v1i4.322. Fitriana, E., & Ridlwan, M. K. (2021). Pembelajaran Transformatif Berbasis Literasi Dan Numerasi Di Sekolah Dasar Penulis. Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 8(2). https://doi.org/10.30738/trihayu.v8i1.11137. 258 Kamardana, gede, Lasmawan, I. W., & Suarni, N. K. (2021). Efektivitas Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Minat Baca Dan Hasil Belajar Di Kelas V Sekolah Dasar Gugus II Tejakula Tahun Pelajaran 2019/2020. Pendasi: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 5(1), 115–125. https://doi.org/10.23887/jurnal_pendas.v5i1.264 Megantara, K., & Wachid,A. (2021). Pembiasaan Membaca dalam Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Gerakan Literasi Sekolah. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 7(2), 383–390. https://doi.org/10.30605/onoma.v7i2.1230. Mistianah, & Fatmaning Hartatik, S. (2022). POJOK BACA KELAS DALAM MENINGKATKAN BUDAYA LITERASI SISWA DALAM PROGRAM KAMPUS MENGAJAR DI SMP NEGERI 3 SATU ATAP pusiKARANGPLOSO MALANG. Anfatama: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(3), 21–25. http://jurnal.anfa.co.id/index.php/Anfatama/article/view/202 Ridwan, R., Rohana, R., & Susilawati, H. (2023). Revitalisasi Perpustakaan Sekolah Untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa Di Madrasah Aliyah (Ma) Hidayatullah Mataram. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 7(3), 2155. Https://Doi.Org/10.31764/Jpmb.V7i3.1681 Septiary, D., & Sidabutar, M. (2020). Pelaksanaan program gerakan literasi sekolah (GLS) di SD Muhammadiyah Sokonandi. Epistema, 1(1), 1–12. https://doi.org/10.21831/ep.v1i1.32054. Siti Munawarah. (2020). Revitalisasi Perpustakaan Sekolah Untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa. Journal Of Basic Education Research, 1(2), 58–61. Https://Doi.Org/10.37251/Jber.V1i2.84 Sugiyono. (2019). Metode penelitian pendidikan (kuantitatif, kualitatif, kombinasi, R&D, dan penelitian pendidikan). Bandung: Alfabeta. https://scholar.google.com/scholar?oi=bibs&hl=id&q=related:lnOPOjRwl0cJ:scholar.google.co m/ 259