EFEKTIVITAS SALEP EKSTRAK RIMPANG BANGLE (Zingiber purpureum Rox. TERHADAP PENINGKATAN SEL FIBROBLAS PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA INSISI TIKUS WISTAR (Rattus norvegicu. Putu Sulistiawati Dewi1. Mochammad Taha MaAoruf2. Made Ayu Imas Pradnyanandini3 Departemen Bedah Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Corresponding: Made Ayu Imas Pradnyanandini. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Email: ayu. imas54@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Bahan alami yang terbukti secara alamiah sebagai anti inflamasi, anti bakteri serta membantu pada proses regenari sel ialah Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Rox. Selain itu, kandungan yang dimiliki oleh rimpang bangle ialah memiliki peran sebagai antimikroba. Tujuan dari penelitian ialah memberikan hasil analisis terkait penyembuhan luka pada tikus wistar ditinjau dari peningkatan sel fibroblas melalui pengujian efektivitas salep ekstrak rimpang bangle. Metode: Jenis penelitian yang digunakan ialah eksperimental laboratoris secara in vivo. Hasil: Jumlah sel fibroblas antar kelompok adalah kelompok cera alba dan vaselin album, salep ekstrak rimpang bangle 80% (P. , salep ekstrak rimpang bangle 85% (P. , salep ekstrak rimpang bangle 90% (P. Selanjutnya dari selisih rerata antar kelompok data didapatkan salep ekstrak rimpang bangle 85% (P. memiliki selisih dengan kelompok kontrol cera alba dan vaselin album (K. yaitu 0,048 sementara salep ekstrak rimpang bangle konsentrasi 80% (P. terhadap cera alba dan vaselin album (K. adalah 0,994 dan salep ekstrak rimpang bangle konsentrasi 90% (P. terhadap cera alba dan vaselin album (K. adalah 0,957. Kesimpulan: Proses penyembuhan luka insisi pada tikus wistar dapat dilakukan dengan memanfaatkan ekstrak rimpang bangle. Adapun konsentrasi paling efektif dari hasil penelitian ialah 85% dibandingkan konsentrasi 80% ataupun 90%. Keywords: ekstrak rimpang bangle, luka, tikus wistar, sel fibroblas ABSTRACT Introduction: A natural ingredient that has been proven to be naturally anti-inflammatory, antibacterial and helps in the cell regeneration process is bangle rhizome (Zingiber purpureum Rox. Apart from that, the content of bangle rhizome is that it has an antimicrobial role. The aim of the research is to provide analysis results related to wound healing in Wistar rats in terms of increasing fibroblast cells through testing the effectiveness of bangle rhizome extract salmon. Method: The type of research used is laboratory experimental using in vivo methods. Results: The number of fibroblast cells between groups was the cera alba and vaseline album groups. Bangle rhizome extract ointment 80% (P. Bangle rhizome extract ointment 85% (P. Bangle rhizome extract ointment 90% (P. Furthermore, from the mean difference between data groups, it was found that 85% Bangle rhizome extract ointment (P. had a difference with the control group of cera alba and album vaseline (K. , namely 0. 048, while bangle rhizome extract ointment with a concentration of 80% (P. compared to cera alba and album vaseline ( K. 994 and bangle rhizome extract ointment of 90% concentration (P. against cera alba and vaseline album (K. Conclusion: The healing process of incisional wounds in Wistar rats can be carried out using bangle rhizome extract. The most effective concentration from the research results is 85% compared to a concentration of 80% or 90%. Keyword: Bangle rhizome extract, wounds. Wistar rats, fibroblast cells PENDAHULUAN Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial merupakan kajian ilmu yang mempelajari terkait dengan kelainan atau penyakit pada rongga mulut. Adapun beberapa tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi dalam bidang bedah mulut diantaranya adalah insisi, pencabutan gigi, serta tindakan operasi. Luka yang tidak segera mendapatkan pengobatan, umumnya memiliki peluang terjadi penumpukan bakteri ataupun adanya kejadian infeksi. Kondisi tersebut menjadi komplikasi yang tak diinginkan, misalnya luka yang lama sembuh, peradangan, serta perdarahan. Luka yang terjadi pada mukosa oral memiliki kandungan lebih sedikit mediator profibrotik, pembuluh darah, serta mediator imun. Akan tetapi memiliki kandungan lebih banyak terkait poliferasi fibroblast, tingkat reepitelisasi, serta sumsum tulang. Pada proses penyembuhan luka sel yang terlibat ialah fibroblast. Proses penyembuhan luka akan lebih cepat disebabkan meningkatnya sistetis kolagen matrik ekstraseluler oleh peningkatan fibroblast. Pengobatan luka sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alamiah karena mampu meminimalisir efek samping bahan kimia pada penderita. Bahan alami yang terbukti secara alamiah sebagai anti inflamasi, anti bakteri serta membantu pada proses regenari sel ialah Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Rox. Selain itu, kandungan yang dimiliki oleh rimpang bangle ialah memiliki peran sebagai Senyawa pada rimpang bangle salah satunya adalah 4-terpineol yang memiliki sifat sebagai anti bakteri. Menurut Sari . beberapa senyawa yang terdapat pada rimpang bangle diantaranya tannin, resin, dan amilum. Manfaat dari rimpang bangle tidak hanya meredakan luka, namun juga memiliki kebermanfaatan dalam perawatan ibu nifas, luka memar, obat kejang pada anak, dan lain sebagainya. Selain itu, rimpang bangle juga memiliki sifat peluruh gas di perut, penawar racun, obat diare, obat cacing, mengobati demam, dan antidotum. Penelitian terdahulu oleh Dewi & Setiawan . memaparkan pertumbuhan dari Staphylococcus aureus dapat dihambat oleh pemanfaatan ekstrak rimpang bangle yang memiliki konsentrasi 32%. Hal tersebut didukung oleh penelitian Citradewi . yang menjelaskan pertumbuhan dari Staphylococcus aureus dapat dihambat oleh pemanfaatan ekstrak rimpang bangle yang memiliki konsentrasi 75%. Penghambatan bakteri Staphylococcus aureus disebabkan oleh kandungan yang dimiliki oleh ekstrak rimpang bangle seperti glikosida, tannin, alkanoid, minyak atsiri, flavonoid, dan . Melalui pemaparan diatas, penulis mengambil judul AuEfektivitas Salep Ekstrak Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Rox. Terhadap Peningkatan Sel Fibroblas Pada Proses Penyembuhan Luka Insisi Tikus Wistar (Rattus norvegicu. Ay. Tujuan dari penelitian ialah memberikan hasil analisis terkait penyembuhan luka pada tikus wistar ditinjau dari peningkatan sel fibroblas melalui pengujian efektivitas salem ekstrak rimpang bangle. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan ialah menggunakan eksperimental laboratoris menggunakan rancangan The Post Test Only Control Group dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel dalam penelitian terbagi menjadi beberapa kelompok yang memiliki nilai persentase salep rimpang bangle yang beragam. Pada kelompok I-i memiliki nilai persentase berturut-urut adalah 80%, 85%, dan 90%. Sedangkan pada kelompok negatif ialah Cera alba serta Vaselin album. Pada penelitian sampel yang digunakan ialah masing-masing per kelompok adalah 6 sampel. Pelaksanaan penelitian secara keseluruhan dilakukan di Laboratorium FMIPA Universitas Udaya pada Juni hingga Juli 2023. Prosedur dari penelitian dilakukan melalui pembuatan ekstrak rimpang bangle, pengujian fitokimia, pembuatan sediaan salep, uji in vivo, pembuatan sediaan lanjutan, tahap dan perhitungan jumlah fibroblast. Setelah data- data dari penelitian yang dilakukan terkumpul, penelitian dilanjutkan pada teknik analisis Teknik analisis data dilakukan pada uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis, dan uji ANOVA HASIL PENELITIAN Analisis Deskriptif Berikut adalah hasil dari penelitian yang dilakukan terkait dengan pengujian analisis deskriptif, yaitu: Tabel 1. Data Deskriptif Kelompok perlakuan Rerata Fibroblas 15,167 25,333 16,167 14,167 Std. Deviation 5,742 7,581 7,935 5,879 Minimum Maximum Melalui tabel diatas diketahui perlakuan kedua dimana memiliki ekstrak rimpang bangle yang memiliki konsentrasi 85% memiliki jumlah fibrolas paling tinggi. Sedangkan hasil dengan fibroblast rendah dimiliki oleh kelompok kontrol. Selanjutnya untuk jumlah fibroblas terbanyak juga terdapat pada kelompok P2 yakni 33 jumlah fibroblas. Uji Normalitas Pengujian normalitas yang dilakukan pada penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut, yaitu: Tabel 2. Uji Normalitas Kelompok p-value 0,875 0,343 0,846 0,713 Keterangan Normal Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa nilai Sig. yang dihasilkan kontrol negatif (Cera alba dan Vaselin albu. sebesar 0,713, pada kelompok perlakuan salep ekstrak rimpang bangle 80% sebesar 0,875, salep ekstrak rimpang bangle 85% sebesar 0,343, dan ekstrak salep rimpang bangle 90% sebesar 0,846. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa data disetiap kelompok berdistribusi normal. Uji Homogenitas Pengujian homogenitas merupakan pengujian yang dilakukan dengan LeveneAos test. Adapun data yang diuji ialah jumlah fibroblas. Berikut adalah hasil pengujian homogenitas yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 3. Uji Homogenitas Levene Statistic 0,610 Sig. 0,616 Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil analisis homogenitas menggunakan LeveneAos test adalah 0,616 > 0,05 sehingga dapat dinyatakan memiliki data yang Uji Hipotesis Pada pengujian hipotesis dilakukan melalui uji ANOVA yang kemudian dilanjutkan dengan analisis multiple comparisons (Post Ho. Hasil dari pengujian tersebut disajikan pada tabel sebagai berikut. Tabel 4. Uji Hipotesis Antar Kelompok Dalam Kelompok Total Jumlah Kuadrat 477,125 939,833 1416,958 Rata-rata Kuadrat 159,042 46,992 3,384 Sig. 0,038 Melalui tabel tersebut diketahui bahwa nilai p-value yang diperoleh ialah 0,000>0,05, sehingga disimpulkan ada perbedaan signifikan rerata jumlah fibrolast pada masing-masing kelompok perlakuan. Selanjutnya pengujian dilanjutkan LSD (Least Significant Differenc. sebagai berikut. Tabel 5. Uji Least Significant Difference 0,079 0,994 0,128 0,994 0,048* 0,957 Data pada tabel diatas diketahui jumlah sel fibroblas antar kelompok adalah kelompok cera alba dan vaselin album, salep ekstrak rimpang bangle 80% (P. , salep ekstrak rimpang bangle 85% (P. , salep ekstrak rimpang bangle 90% (P. Selanjutnya dari selisih rerata antar kelompok data didapatkan salep ekstrak rimpang bangle 85% (P. memiliki selisih dengan kelompok kontrol cera alba dan vaselin album (K. yaitu 0,048 sementara salep ekstrak rimpang bangle konsentrasi 80% (P. terhadap cera alba dan vaselin album (K. adalah 0,994 dan salep ekstrak rimpang bangle konsentrasi 90% (P. terhadap cera alba dan vaselin album (K. adalah 0,957. Dalam penelitian bertujuan melihat konsentrasi mana dengan keefektifan terbaik sehingga bisa dikatakan bahwa konsentrasi 85% dan kelompok kontrol adalah yang paling efektif karena memiliki perbedaan yang signifikan rerata jumlah fibroblas. PEMBAHASAN Hasil penelitian kelompok kontrol (Cera alba dan Vaselin albu. menunjukkan terdapat jumlah sel fibroblas terendah yakni 21 sel. Jumlah fibroblas meningkat pada konsentrasi ekstrak rimpang bangle 80% sebanyak 23 sel, kemudian peningkatan terjadi pada konsentrasi ekstrak rimpang bangle 85% sebanyak 33 sel, namun mengalami penurunan jumlah sel pada konsentrasi 90% sebanyak 26 sel. Peningkatan jumlah fibroblas yang terjadi pada konsentrasi 80%, 85%, dan 90% disebabkan karena salep ekstrak rimpang bangle mengandung zat aktif yakni flavonoid, saponin, tanin, fenol, terpenoid, dan alkaloid yang memiliki peran sebagai antiinflamasi, antibakteri, penangkal radikal bebas, dan merangsang peningkatan jumlah fibroblas. Beberapa kandungan zat aktif rimpang bangle mampu mempercepat proses penyembuhan luka, salah satunya Saponin dapat diidentifikasi dalam skrining fitokimia dengan menguji dengan senyawa HCL dan menghasilkan busa yang stabil. Senyawa saponin berperan sebagai antibakteri dengan mengganggu stabilitas memberan sel bakteri. Menurut Khairunnisa . memaparkan fibroblas yang memiliki ikatan dengan reseptor TGF- dapat ditingkatkan melalui peranan saponin. Senyawa alkaloid pada ekstrak rimpang bangle diuji fitokimia dengan menggunakan metode pengujian Meyer dan Dragendorf, dimana terbentuk endapan putih pada metode Meyer dan terbentuk endapan jingga pada metode Dragendorf. Alkaloid juga memiliki peran sebagai . Hasil pengujian dengan One Way Anova memaparkan terdapat perbedaan yang signifikan 3,384 > 0,038 antar kelompok terhadap jumlah sel fibroblas. Hasil uji Pos Hoc LSD hasil bahwa 85% ialah konsentrasi paling berpengaruh memberi perbedaan jika semua kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol sehingga dikatakan konsentrasi 85% sebagai konsentrasi paling efektif. Peningkatan sel fibroblas yang dalam hal ini merupakan indikator penyembuhan luka terlihat jelas jumlahnya dengan perbedaan yang signifikan pada preparat kelompok perlakuan salep ekstrak rimpang bangle 85% dengan kelompok kontrol negatif, dan tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antara peningkatan jumlah sel fibroblas pada kelompok perlakuan salep ekstrak rimpang bangle 90% dengan kelompok kontrol negatif. Perbedaan sel fibroblas pada pemberian salep ekstrak rimpang bangle konsentrasi 90% dengan konsentrasi 85% diakibatkan karena konsentrasi bahan yang terlalu tinggi. Menurut Zarzar dkk . formulasi sediaan bahan dengan konsentrasi yang tinggi rentan terhadap perubahan fisik atau kimia yang dapat mengurangi stabilitasnya, sehingga beberapa bahan aktif dalam sediaan dapat menjadi tidak stabil pada konsentrasi yang Hal ini dapat mengakibatkan penurunan efektivitas karena bahan-bahan tersebut dapat teroksidasi atau kehilangan kestabilannya seiring waktu. Sehingga stabilitas zat aktif yang terkandung dalam rimpang bangle menjadi tidak stabil seiring waktu dan bisa menghambat proses penyembuhan luka serta peningkatan sel fibroblas. Menurut Calleo dkk . bahan formulasi obat topikal seperti salep maupun gel, jika konsentrasi bahannya terlalu tinggi atau overdosis dapat meningkatkan risiko toksisitas atau efek Konsentrasi bahan yang terlalu tinggi, sebagian besar bahan tersebut mungkin tidak diserap dan hanya meninggalkan residu di permukaan kulit. Peningkatan residu dapat meningkatkan risiko iritasi atau reaksi alergi. Berdasarkan hasil uji tersebut di dapatkan hasil bahwa pemberian salep ekstrak rimpang bangle 80%, 85%, dan 90% efektif dalam penyembuhan luka insisi. Salep ekstrak rimpang bangle 85% lebih efektif untuk penyembuhan luka karena menghasilkan rerata jumlah fibroblas lebih banyak dibandingkan salep ekstrak rimpang bangle 80% dan Penelitian terdahulu oleh Dewi & Setiawan . memaparkan pertumbuhan dari Staphylococcus aureus dapat dihambat oleh pemanfaatan ekstrak rimpang bangle yang memiliki konsentrasi 32%. Hal tersebut didukung oleh penelitian Citradewi . yang menjelaskan pertumbuhan dari Staphylococcus aureus dapat dihambat oleh pemanfaatan ekstrak rimpang bangle yang memiliki konsentrasi 75%. Penghambatan bakteri Staphylococcus aureus disebabkan oleh kandungan yang dimiliki oleh ekstrak rimpang bangle seperti glikosida, tannin, alkanoid, minyak atsiri, flavonoid, dan . KESIMPULAN Kesimpulan yang diambil ialah pada proses penyembuhan luka insisi pada tikus wistar dapat dilakukan dengan memanfaatkan ekstrak rimpang bangle. Adapun konsentrasi paling efektif dari hasil penelitian ialah 85% dibandingkan konsentrasi 80% ataupun 90%. Saran ditujukan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait konsentrasi efektif maksimal dan minimal penggunaan ekstrak rimpang bangle terhadap peningkatan proses penyembuhan luka. DAFTAR PUSTAKA