28 Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . A-A Mei 2026 Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume 16 . 28 Ae 43 Mei 2026 ISSN: 2088-3072 (Prin. / 2477-5886 (Onlin. DOI: 10. 25273/counsellia. Available online at: https://e-journal. id/index. php/JBK Pengembangan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit pada siswa SMK Rhestu Tilaras1 uO. Sigit Hariyadi2 Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi. Universitas Negeri Semarang. Semarang uO rhestutilaras@students. Abstrak: Ketidakmampuan siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan praktik kejuruan yang cukup tinggi menjadi salah satu faktor munculnya problematika grit pada Di sisi lain, siswa SMK membutuhkan dorongan internal berupa zest agar tetap antusias dan termotivasi dalam belajar. Buku biblioedukasi memiliki potensi tinggi untuk menjembatani persoalan grit dengan memadukan zest sebagai muatan cerita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan desain ADDIE dengan tujuan mengembangkan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit siswa SMK. Namun, karena keterbatasan yang ada, penelitian berhenti sampai validasi ahli dan calon pengguna terhadap produk. Hasil validasi dianalisis dengan teknik inter-rater agreement menunjukkan indeks keberterimaan ahli materi sebesar 1. 00, ahli media sebesar 96, dan calon pengguna sebesar 0. Produk yang dihasilkan berjudul AuBuku Penyemangat DiriAy memperoleh keberterimaan sangat tepat, sangat berguna, sangat menarik, dan sangat mudah diimplementasikan sebagai media layanan bimbingan dan Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah melakukan uji efektivitas produk terhadap calon pengguna. Kata kunci: Biblioedukasi, grit, karakter zest, media BK, siswa SMK. Abstract: Students inability to cope with the high demands of academic and vocational practice is one of the factors that contribute to the emergence of grit problems in On the other hand, vocational high school students need internal encouragement in the form of enthusiasm to remain enthusiastic and passionate in Biblioeducational books have high potential to bridge the issue of grit by integrating enthusiasm as the content of the story. This study uses the ADDIE research and development design method with the aim of developing a biblioeducational book that produces the character value of enthusiasm to increase the resilience of vocational high school students. However, due to existing limitations, the study stopped at the validation of experts and prospective users of the product. The validation results were explained using the inter-rater agreement technique, showing an agreement index of 1. 00 for material experts, 0. 96 for media experts, and 0. 96 for prospective users. The resulting product, entitled AuBuku Penyemangat DiriAy received very appropriate acceptance, was very useful, very interesting, and very easy to implement as a guidance and counseling service medium. The main recommendation of this study is to conduct a product effectiveness test on prospective users. Keywords: Biblioeducation, guidance and counseling Media. Grit. Vocational High School Students. Zest Character. Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. Received: 28-02-2026. Accepted: 26-04-2026. Published: 02-05-2026 Citation: Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit pada siswa SMK. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. 28 Ae 43. Doi: 10. 25273/counsellia. Copyright A2026 Counsellia: Bimbingan dan Konseling Published by Universitas PGRI Madiun. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercialShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan memiliki tujuan akhir tidak hanya berfokus pada pengembangan kognitif saja, tetapi juga pembentukan karakter dan ketangguhan psikologis siswa agar mampu menghadapi tantangan kehidupan secara adaptif (Yuni dkk. , 2. Salah satu aspek penting dan perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan adalah grit pada siswa (Muhibbin & Wulandari, 2. Grit dipahami sebagai kemampuan individu untuk mempertahankan minat serta terus berupaya mencapai tujuan jangka panjang yang bermakna meskipun terdapat hambatan (Kusworo dkk. , 2. Dimensi utama grit mencakup consistency of interest . ntusiasme, gairah, semanga. dan perseverance . yang berperan dalam menjaga komitmen siswa selama proses belajar (Duckworth, 2. Individu dengan grit tinggi cenderung tidak mudah menyerah, mampu bertahan dalam tekanan akademik, serta tetap berupaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Fitriana dkk. , 2023. Setiadi , 2. Kondisi ini diperlukan siswa agar dapat mencapai kesuksesan di masa yang akan datang (Ramli dkk. , 2. Dengan demikian, grit dipandang sebagai salah satu prediktor penting keberhasilan dan kesiapan individu menghadapi masa depan. Penelitian Amawidyati dkk . menilai bahwa remaja saat ini belum menunjukkan ketangguhan mental yang selaras dengan prinsip grit. Temuan Amawidyati . membuktikan hanya 23,17% responden yang memiliki tingkat grit tinggi. Mayoritas remaja di Kota Semarang . ,83%) berada pada kategori rendah hingga sedang. Penelitian tersebut menunjukkan belum optimalnya kemampuan remaja dalam mempertahankan komitmen dan ketekunan jangka panjang ketika menghadapi tantangan Rendahnya grit juga tampak dalam penelitian Nastasia & Candra . melalui perilaku akademik seperti menunda tugas hingga rendahnya keterlibatan dalam Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut memperkuat fenomena yang ada, di mana tercatat sebanyak 77,8% siswa TK-SMA mengeluhkan tugas menumpuk dan 37,1% mengalami kelelahan dalam proses belajar (KPAI, 2. Bahkan, tekanan akademik yang tidak diimbangi ketahanan psikologis telah memunculkan berbagai dampak serius, termasuk tingginya stres akademik pada siswa SMK dan munculnya kasus bunuh diri yang dipicu tekanan tugas sekolah (Wijaya, 2021. Dosista dkk. , 2025. Dewi , 2. Grit yang rendah berdampak langsung terhadap efektivitas proses pembelajaran dan kesiapan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan jangka panjang. Hardiyanti & Ahkam . mengungkapkan siswa dengan grit rendah cenderung tidak mampu bertahan dalam menyelesaikan tugas, kurang disiplin, dan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, siswa dengan grit tinggi menunjukkan perilaku konsisten, tidak prokrastinasi, berani menghadapi tantangan, dan tetap berusaha mencapai tujuan meskipun menghadapi hambatan (Christopher dkk. , 2. Kesenjangan antara urgensi pendidikan karakter dengan realitas di lapangan juga ditemukan pada lokasi penelitian. Hasil penyebaran skala grit pada siswa kelas sepuluh SMK Al Asror menunjukkan bahwa hanya 5 dari 86 siswa . %) yang mencapai kategori tinggi. Mayoritas siswa . %) berada pada kategori rendah hingga sedang. Data tersebut menegaskan perlunya intervensi yang mampu membantu Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 siswa mengembangkan ketekunan, motivasi, dan ketahanan akademik secara lebih Hasil studi pendahuluan diperkuat melalui observasi di SMK Al Asror. Peneliti menemukan berbagai perilaku yang mengindikasikan rendahnya grit siswa, seperti kurang terlibat dalam pembelajaran, bermain ponsel saat pembelajaran berlangsung, tidur di kelas, hingga meninggalkan kelas dalam waktu lama. Selain itu, kedisiplinan siswa juga masih rendah yang terlihat dari keterlambatan dan pengabaian tugas akademik. Hasil wawancara dengan guru BK menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mudah mengeluh, cepat kehilangan semangat belajar, dan belum memiliki orientasi masa depan yang jelas. Kondisi tersebut berdampak pada sulitnya pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling (BK) yang mendukung penguatan karakter siswa sesuai tuntutan kurikulum. Sekolah sebenarnya memiliki potensi yang dapat mendukung pengembangan layanan penguatan karakter, yaitu fasilitas perpustakaan dan budaya literasi siswa yang baik karena mayoritas siswa berasal dari lingkungan pesantren. Guru BK juga mengungkapkan kebutuhan media bacaan inspiratif yang mampu membantu siswa memahami tujuan hidup, membangun motivasi belajar, dan mempertahankan semangat dalam mencapai cita-cita. Akan tetapi, potensi tersebut belum dimanfaatkan dalam layanan BK di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan media intervensi praktis yang sesuai dengan karakteristik siswa, mudah diakses secara mandiri, serta mampu mendukung penguatan psikologis siswa dalam konteks pendidikan karakter (Azkiyah, 2017. Maimanah & Darmayanti, 2025. Munawaroh & Wangid, 2. Berdasar kajian pendahuluan, peneliti memandang intervensi yang relevan dengan Dalam kajian psikoedukasi, istilah biblioterapi lebih dikenal dalam bentuk biblioedukasi, yaitu penggunaan bahan bacaan terstruktur untuk membantu memahami, merefleksikan, dan mengembangkan perilaku adaptif tertentu melalui proses membaca. Biblioedukasi dapat dilakukan secara mandiri maupun terbimbing, sedangkan self-help lebih mengarah pada mekanisme penggunaan media secara personal oleh individu. Dengan demikian, self-help bukan bentuk dari biblioedukasi, melainkan salah satu pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan media secara mandiri sesuai kebutuhan. Pada layanan bimbingan dan konseling, biblioedukasi dipandang relevan karena dapat menjadi strategi preventif dan pengembangan karakter melalui media bacaan yang terstruktur (Setiawan , 2. Penelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas biblioedukasi maupun media self-help dalam meningkatkan aspek psikologis siswa, seperti resiliensi, efikasi diri, komunikasi interpersonal, literasi kesehatan mental, dan kemandirian belajar (Amarta & Pravesti, 2021. Munawaroh & Sofyan, 2018. Sari, 2023. Zahro & Wirastania, 2. Akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut cenderung hanya mengukur hubungan antarvariabel atau efektivitas perlakukan tertentu melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Selain itu, fokus pengembangan media biblioedukasi sebelumnya lebih banyak diarahkan pada peningkatan resiliensi, efikasi diri, komunikasi interpersonal, dan literasi kesehatan mental. Penelitian yang secara spesifik mengembangkan media biblioedukasi untuk meningkatkan grit siswa SMK masih sangat terbatas. Dengan demikian, gap penelitian terletak pada belum tersedianya media biblioedukasi berbasis karakter positif yang secara khusus dirancang untuk membantu siswa SMK meningkatkan grit dalam upaya penanaman pendidikan karakter pada layanan bimbingan dan konseling. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan media biblioedukasi berbasis self-help yang mengintegrasikan nilai character strength zest sebagai strategi peningkatan grit siswa SMK. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang cenderung berfokus pada pengukuran hubungan variabel atau efektivitas intervensi tertentu, penelitian ini mengarah pada terbentuknya produk media biblioedukasi praktis yang dapat digunakan siswa secara mandiri maupun terbimbing dalam layanan BK. Integrasi nilai zest menjadi pembeda utama karena media yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. psikologis, tetapi juga pada penguatan energi positif, antusiasme, dan keterlibatan aktif siswa dalam mencapai tujuan jangka panjang. Pemilihan karakter zest dalam penelitian ini didasarkan pada keterkaitannya yang kuat dengan grit. Peterson & Seligman . menjelaskan bahwa zest merupakan kekuatan karakter yang ditandai dengan vitalitas, antusiasme, energi positif, dan keterlibatan penuh dalam menjalani aktivitas. Individu dengan karakter zest tidak sekadar menjalankan rutinitas, tetapi menjalani aktivitas dengan semangat dan keterlibatan emosional yang tinggi (George dkk. , 2. Pada lingkup pendidikan, zest berperan sebagai sumber energi psikologis yang membantu siswa mempertahankan motivasi dan keterlibatan dalam peroses belajar (Morris dkk. , 2024. Shahram dkk. , 2. Secara teoritis, karakter zest dapat meningkatkan grit karena membantu mempertahankan energi emosional positif yang diperlukan untuk menjaga konsistensi usaha dan ketahanan menghadapi hambatan (Tang dkk. , 2. Siswa dengan tingkat zest tinggi cenderung memiliki optimisme, keterlibatan aktif, dan motivasi intrinsik yang lebih kuat sehingga mampu bertahan dalam proses mencapai tujuan jangka panjang. Penelitian terdahulu juga menunjukkan adanya hubungan positif antara zest dan grit terhadap keterlibatan individu dalam aktivitas akademik maupun non-akademik (Jeffery & Nouhi. Peterson dkk. , 2. Penguatan zest diketahui mampu meningkatkan ketekunan dan konsistensi individu karena energi positif yang dimiliki mendorong individu untuk tetap berusaha meskipun menghadapi tantangan. Dengan demikian, zest berfungsi sebagai fondasi afektif yang memperkuat grit melalui peningkatan motivasi, keterlibatan, dan ketahanan akademik siswa. Siswa SMK berada pada fase remaja tingkat tengah mulai merumuskan tujuan pendidikan dan karier dengan mempertimbangkan sumber daya internal maupun eksternal (Wutsqo, dkk. , 2. Pada fase ini, kemampuan mempertahankan motivasi dan konsistensi menjadi sangat penting karena siswa dihadapkan pada tuntutan akademik, persiapan karier, dan tekanan sosial yang cukup kompleks. Oleh karena itu, penguatan karakter psikologis melalui layanan BK menjadi kebutuhan mendesak agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya juang dan integritas diri yang kuat (Damanik, 2024. Utami & Clementino, 2. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan mengembangkan media biblioedukasi berbasis self-help bermuatan karakter zest untuk meningkatkan grit siswa SMK. Penelitian menggunakan pendekatan research and development (R&D) bertujuan menghasilkan media praktis, valid, dan layak digunakan dalam layanan bimbingan dan Pengembangan media ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis terhadap penguatan kajian grit dan character strength pada pendidikan Indonesia, sekaligus menjadi inovasi praktis yang relevan dengan kebutuhan layanan BK di tingkat nasional maupun internasional. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan desain ADDIE Branch . yang secara rinci tahapannya meliputi analyze, design, develop, implement, dan evaluate. Namun, karena keterbatasan waktu dan sumber daya penelitian dibatasi hingga tahap develop dengan berfokus menghasilkan produk valid secara teoritis dan praktis pada tahun pertama penelitian. Adapun tahap implement dan evaluate dengan uji efektivitas akan dilakukan pada tahun kedua penelitian sekaligus menjadi rekomendasi bagi peneliti selanjutnya. Alur dan indikator capaian penelitian divisualisasikan pada Gambar 1. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 Gambar 1. Alur dan Indikator Capaian Penelitian Tahap analyze, dilakukan studi deskriptif melalui penyebaran skala grit ( = 0. untuk mengidentifikasi kecenderungan rendahnya tingkat kegigihan siswa. Identifikasi kebutuhan produk diperdalam melalui wawancara dengan guru BK dan siswa guna menggali problematika grit siswa dan upaya preventif sekolah. Selain itu, dilakukan studi literatur untuk memperkuat landasan teoritis pengembangan media. Analisis data kuantitatif dilakukan berbantuan software Microsoft Exel, sedangkan data kualitatif diolah menggunakan software MAXQDA. Tahap design, mencakup penyusunan struktur buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest dan penentuan indikator keberhasilan berdasarkan temuan pada tahap analyze. Tahap develop, berfokus pada validasi produk melalui penilaian ahli . xpert judgemen. yang melibatkan 2 dosen BK sebagai ahli materi, 2 dosen Bahasa Indonesia sebagai ahli media, dan calon pengguna . guru BK). Instrumen validasi merujuk pada aspek kegunaan, kelayakan, kepatutan, dan ketepatan. Data penilaian dianalisis menggunakan teknik inter-rater agreement (Gregory, 2. Selain data kuantitatif, masukan deskriptif berupa komentar dan saran dari tim validator digunakan sebagai dasar revisi untuk menyempurnakan produk. Sumber Data Penelitian dilaksanakan di SMK Al Asror dengan populasi sebanyak 250 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling (Sugiyono, 2. yang melibatkan seluruh siswa kelas sepuluh. Pertimbangannya adalah siswa pada fase adaptasi awal di lingkungan sekolah, sehingga pemetaan tingkat grit menjadi fondasi mendesak dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling. Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini diperoleh melalui . studi deskriptif dengan penyebaran . wawancara mendalam. studi literatur. Penelitian menggunakan beberapa bentuk penelitian untuk mengungkap kebutuhan dari pengembangan produk yang Penggunaan instrumen yang bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan tersebut yang secara rinci tersaji pada Tabel 1. Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. Aspek Grit: Duckworth Biblioedukasi: Ahmad & Karunia Karakter zest: George dkk. Kegunaan, kelayakan, kepatutan. Stufflebeam & Zhang . Tabel 1. Instrumen Penelitian Tujuan Penggunaan Jenis Instrumen Mengukur dan menggali Skala grit tingkat grit Pedoman wawancara grit Peneliti Lembar dokumentasi Mengarahkan implementasi 1. Pedoman wawancara Peneliti Lembar dokumentasi Media utama pendidikan Pedoman wawancara karakter zest Peneliti Lembar dokumentasi Menilai keberterimaan Instrumen validasi pakar Teknik Analisis Data Analisis data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif dari hasil penyebaran skala dilakukan berbantuan software Microsoft Exel untuk mengetahui ukuran penyebaran tingkat grit siswa. Sedangkan, hasil uji keberterimaan produk oleh ahli dan calon pengguna dianalisis menggunakan teknik inter-rater agreement dengan membandingkan nilai antara dua validator. Adapun data kualitatif berupa hasil wawancara dianalisis menggunakan teknik analisis tematik berbantuan software MAXQDA. Masukan deskriptif berupa komentar dan saran dari tim validator dianalisis dengan teknik analisis isi untuk menarik kesimpulan yang valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada tahap analyze diperoleh hasil analisis deskriptif menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang . %), sementara 6% menempati kategori rendah, dan hanya 23% yang mencapai kategori tinggi. Data ini menegaskan sebagian besar siswa masih memerlukan bantuan untuk meningkatkan kegigihan. Data kategorisasi yang diperoleh secara rinci tersaji dalam Tabel 2. Guna mendalami data tersebut, dilakukan wawancara dengan tiga informan . uru BK dan sisw. Dari hasil wawancara (Gambar 2. Gambar 3. Gambar . , ditemukan beberapa perilaku yang menunjukkan rendahnya grit siswa, meliputi . kurangnya keterlibatan dalam pembelajaran, ditandai perilaku mengantuk dan distraksi gawai. rendahnya kedisiplinan, mulai dari enggan berangkat ke sekolah saat hujan hingga berada di luar kelas saat jam pembelajaran berlangsung. kurangnya kesiapan belajar, terlihat dari penggunaan buku untuk semua mata pelajaran. hilangnya arah masa depan, meliputi perasaan tidak memiliki hobi, hilangnya minat pada cita-cita lama, hingga munculnya keinginan untuk berpindah jurusan. rendahnya daya juang, nampak dari hasil tugas dan sikap mudah menyerah. Guru BK menyoroti secara umum daya juang siswa tergolong dalam kategori lemah. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 Kategori Rendah Sedang Tinggi Total Tabel 2. Kategorisasi Grit Siswa Kriteria Frekuensi Presentase Gambar 2. Hasil Analisis Tematik Problematika Grit (MAXQDA, 2. Gambar 3. Hasil Analisis Tematik Karakter Zest (MAXQDA, 2. Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. Gambar 4. Hasil Analisis Tematik Biblioedukasi (MAXQDA, 2. Berdasarkan hasil studi deskriptif dan studi literatur, pada tahap design dilakukan perancangan buku untuk mengatasi permasalahan grit pada siswa. Dalam tahap ini, indikator grit digunakan sebagai landasan utama untuk menyusun alur cerita sekaligus target capaian layanan meliputi . perhatian tidak mudah dialihkan. memperhatikan minat. berusaha keras dalam tantangan. mampu menyelesaikan pekerjaan. gigih dan berusaha. Indikator tersebut dikembangkan menjadi enam cerita yang merepresentasikan satu indikator. Hasil peracangan dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4. Komponen Cover Depan Tentang Buku Prolog Daftar Isi Pre-Test Cerita Tabel 3. Kerangka Produk Uraian Bagian awal buku yang memuat informasi mengenai judul, nama penulis, dan ilustrasi yang merepresentasikan grit dan zest. Berisi penjelasan mengenai tujuan penyusunan buku, konsep biblioedukasi, serta pengenalan grit dan zest. Pada bagian ini juga disertai petunjuk penggunaan buku. Bagian pembuka yang memberikan gambaran awal terkait latar belakang cerita. Struktur rangkuman isi buku secara sistematis untuk memudahkan penemuan bagian yang diperlukan Instrumen yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi grit sebelum menggunakan buku. Bagian utama buku berisi 6 cerita reflektif yang menggambarkan kondisi tokoh dalam menghadapi Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 Komponen Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Lembar Refleksi Post-Test Cover Belakang Cerita Uraian kesulitan, mempertahankan minat, serta membangun semangat dalam mencapai tujuan jangka panjang. Lembar kegiatan berisi pertanyaan pemahaman cerita meliputi . kondisi emosi pembaca setelah membaca . tokoh dan karakter dalam cerita. relevansi kondisi tokoh dan pembaca. Bagian yang memberikan ruang bagi pembaca untuk merenung melalui isi cerita dengan pengalaman pribadinya terkait tindakan yang akan diambil jika berada pada situasi dan kondisi seperti tokoh, serta langkah baru yang dilakukan ketika menghadapi situasi serupa dikemudian hari. Instrumen yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi grit setelah menggunakan buku. Bagian penutup dari buku AuPenyemangat DiriAy yang berisi ringkasan isi. Tabel 4. Detail Isi Cerita serta Relevansi Grit dan Zest Grit Judul Gambaran Cerita Bangun di Mengisahkan tokoh yang Perhatian tidak Antara sering kehilangan fokus dan Sunyi dan mudah teralihkan dalam Ragu belajar, hingga akhirnya menemukan cara untuk kembali terlibat secara penuh dalam aktivitas yang dijalani. Warna Baru Menceritakan tokoh yang Menetapkan dari Tangan merasa lelah dan tidak yang Sudah memiliki tujuan yang jelas. Lelah namun perlahan menemukan makna dan arah baru melalui pandangan hidup yang lebih Ternyata Ini Menggambarkan tokoh yang Memperhatikan Hari Biasa sering berubah minat dan kesulitan mempertahankan tujuan, hingga belajar untuk tetap konsisten pada hal yang sedang dijalani. Aku yang Mengisahkan tokoh yang Berusaha keras Tak Pergi cenderung menyerah ketika Hari Ini namun akhirnya memilih untuk tetap bertahan dan Hanya Tak Menceritakan tokoh yang Mampu Mudah suatu menyelesaikan pekerjaan karena merasa tidak mampu, kemudian Zest Keterlibatan Keinginan hidup yang Keterlibatan Keterlibatan Keterlibatan Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. Cerita Judul Tembus Tanpa Padam Gambaran Cerita belajar memahami bahwa proses membutuhkan usaha yang berkelanjutan. Menggambarkan tokoh yang sempat kehilangan semangat, namun kemudian bangkit dengan motivasi baru untuk terus melanjutkan usahanya dalam mencapai tujuan. Grit Zest Gigih dan Keterlibatan. Keinginan hidup yang Buku biblioedukasi yang telah disusun kemudian melalui uji ahli dan calon pengguna pada tahap develop untuk mengetahui tingkat keberterimaan produk. Proses validasi materi dilakukan oleh pakar di bidang Bimbingan dan Konseling, validasi media dilakukan oleh pakar bidang Bahasa Indonesia, serta melibatkan guru BK SMK Al Asror dan SMK Nurul Barqi sebagai calon pengguna. Berdasarkan hasil penilaian, diperoleh indeks keberterimaan dari ahli materi sebesar 1. 00, indeks keberterimaan ahli media 96, dan indeks keberterimaan calon pengguna sebesar 0. Data inter-rater agreement yang diperoleh secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 6, dan Tabel 7. Secara teoritis, produk yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat tepat, sangat berguna, sangat menarik, dan sangat mudah diimplementasikan dalam meningkatkan grit siswa SMK. Meskipun telah dinyatakan layak, peneliti melakukan serangkaian perbaikan berdasarkan masukan konstruktif dari validator untuk mencapai kesempurnaan produk. Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Tabel 5. Inter-rater Agreement Uji Ahli Materi Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Tabel 6. Inter-rater Agreement Uji Ahli Media Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Tabel 7. Inter-rater Agreement Uji Calon Pengguna Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Relevansi Rendah Relevansi Tinggi Pembahasan Permasalahan dalam penelitian ini didasari oleh fenomena rendahnya tingkat grit pada remaja (Damayanti & Handayani, 2. Sebagaimana Tabalena dkk. menegaskan kondisi yang demikian adalah cerminan hambatan dalam menjaga minat dan semangat untuk menuntaskan tanggung jawab akademik secara konsisten. Oleh karena itu, ditawarkan media biblioedukasi berjudul AuBuku Penyemangat DiriAy dengan berbasis selfhelp bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit siswa SMK. Meskipun berbasis self-help, guru BK juga bisa melakukan pendampingan dalam berbagai setting layanan psikoedukasi dengan format klasikal, kelompok, maupun individu. Buku berisi cerita Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 terkait tokoh sebagai teladan yang awalnya memiliki tingkat kegigihan rendah dalam mencapai tujuan jangka panjang . dan menggunakan semangat diri sebagai solusi peningkatannya . Adapun visualisasi buku dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Visualisasi Buku Penyemangat Diri Merujuk pada pandangan George dkk. , aspek zest yang diintegrasikan mencakup keinginan dan pandangan hidup positif serta keterlibatan aktif individu terhadap kehidupannya saat ini. Integrasi dilakukan melalui alur cerita yang menampilkan konflik dan penyelesaian masalah secara reflektif oleh tokoh utama. Sebagai contoh, pada cerita pertama AuBangun di Antara Sunyi dan RaguAy, tokoh Ahmad mengalami penurunan fokus Nilai zest dihadirkan melalui proses kesadaran diri bahwa semangat belajar muncul dari keterlibatan aktif, bukan sekadar tuntutan. Hal ini sejalan dengan pendekatan psikologi positif yang menekankan penguatan potensi individu melalui pengalaman bermakna (Widodo dkk. , 2. Pengembangan komponen buku dilengkapi dengan lembar kerja peserta didik (LKPD) dan lembar refleksi yang memungkinkan siswa untuk mengolah pengalaman belajar secara lebih mendalam (Norvaizi dkk. , 2. Variasi pertanyaan dalam LKPD dikembangkan untuk menghindari kesan monoton dan mendorong berpikir kritis siswa sesuai prinsip pembelajaran aktif. Penggunaan ilustrasi dan warna dalam buku didasarkan teori multimedia milik Mayer . alam Suryadi dkk. , 2. yang mengungkapkan bahwa kombinasi teks dan gambar dapat meningkatkan pemahaman siswa. Setiap tampilan awal cerita didesain dengan gambar yang berbeda untuk meningkatkan daya tarik dan membantu Tilaras. Hariyadi. Pengembangan buku biblioedukasi A. diferensiasi konten. Ilustrasi dalam buku dirancang lebih natural dan menyesuaikan karakteristik siswa SMK. Sementara, pemilihan font yang sederhana dan konsisten dilakukan untuk meningkatkan keterbacaan, mengingat siswa pada tahap perkembangan remaja yang responsif terhadap tampilan visual. Buku Penyemangat Diri memiliki tingkat kebermanfaatan yang tinggi dari aspek kegunaan karena disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Ahli materi menyoroti perlunya penambahan penjelasan konsep grit dan zest serta variasi pertanyaan pada lembar Melalui media ini, siswa didorong untuk terlibat aktif dalam membaca dan melakukan refleksi secara mandiri. Tindak lanjut yang peneliti lakukan berupa penambahan pengantar konseptual pada awal buku serta pengembangan pertanyaan reflektif yang lebih beragam, seperti eksplorasi kekuatan diri, pengalaman menghadapi kegagalan, dan strategi mengatasi kesulitan. Penilaian ahli menunjukkan bahwa isi cerita telah disesuaikan dengan karakteristik siswa SMK yang berada pada fase pencarian identitas, sehingga mampu memberikan stimulus yang relevan untuk membangkitkan semangat dan kegigihan akademik. Hal ini selaras dengan Handayani dkk. mengenai pentingnya media yang dekat dengan pengalaman hidup siswa. Sementara, ahli media lebih menyoroti konsistensi ukuran gambar dalam cerita, perbaikan struktur paragraf, penggunaan kalimat tanya yang sesuai kaidah bahasa Indonesia, serta perlunya penambahan elemen pendukung alur buku. Tindak lanjut peneliti adalah revisi menyeluruh pada tata letak dan struktur bahasa untuk meningkatkan keterbacaan dan kualitas visual. Pada aspek kelayakan, buku dinilai mudah diterapkan sebagai media BK sekaligus bahan pembelajaran mandiri. Fleksibelitas penggunaan menjadi keunggulan utama, karena buku dapat digunakan dalam berbagai layanan tanpa bergantung pada intervensi guru BK secara langsung. Sebagaimana prinsip layanan BK yang adaptif dan kontekstual terhadap kebutuhan siswa (Megawati dkk. , 2. Jika dilihat dari segi efisiensi, buku biblioedukasi yang dikembangkan tidak memerlukan sumber daya besar, namun dinilai dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam pengembangan karakter. Kejelasan petunjuk buku turut mendukung implementasi praktis dan sistematis yang memudahkan siswa. Berdasarkan aspek kepatutan, buku telah memenuhi prinsip etika, norma, dan nilai yang berlaku dalam dunia pendidikan. Isi cerita tidak mengandung unsur bias budaya maupun diskriminatif, sejalan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan media pembelajaran (Manan, 2. Adanya penguatan positif . pada akhir setiap cerita dinilai mampu membentuk perilaku yang diinginkan pada siswa (Skinner dalam Miftahuddin , 2. Relevansi buku dengan layanan BK . endukung pengembangan pribadi sisw. memperkuat kedudukannya sebagai instrumen pendidikan yang memenuhi standar etika. Pada aspek ketepatan, buku biblioedukasi yang dikembangkan menunjukkan kualitas desain dan substansi yang unggul. Penggunaan bahasa disederhanakan tanpa istilah teknis yang menimbulkan pertanyaan bagi siswa. Isi cerita yang disusun secara runtut berdasarkan indikator zest dan grit memungkinkan siswa melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan melalui refleksi (Norvaizi dkk. , 2. Calon pengguna menilai buku yang dikembangakan memiliki keunggulan dalam pendekatan penyampaian yang menyerupai proses konseling. Bahasa yang digunakan dinilai tidak menggurui, tetapi tetap memberikan arahan yang bermakna bagi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa buku telah sesuai dengan pendekatan humanistik dalam layanan BK yang menekankan empati dan penerimaan terhadap kondisi siswa. Namun, penggunaan ilustrasi yang lebih natural serta desain visual yang lebih kontekstual juga menjadi catatan. Perbaikan yang dilakukan sekaligus menjawab kebutuhan dalam penyampaian pesan disetiap cerita. Buku biblioedukasi secara praktis dapat digunakan dalam layanan BK untuk meningkatkan grit siswa SMK melalui integrasi nilai zest yang kontekstual dan aplikatif. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 28-43 Mei 2026 SIMPULAN Penelitian ini berhasil merealisasikan pengembangan media layanan BK berupa buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest berjudul AuBuku Penyemangat DiriAy untuk meningkatkan grit siswa SMK. Hasil validasi ahli dan calon pengguna memperoleh kesimpulan keberterimaan produk berupa sangat tepat, sangat berguna, sangat menarik, dan sangat mudah diimplementasikan dalam layanan BK. Adanya keterbatasan penelitian menjadikan beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan kepada . guru BK, dapat memanfaatkan buku sebagai media alternatif dalam memberikan layanan terkait upaya pengembangan karakter grit dan zest. peneliti selanjutnya, agar melakukan uji efektivitas produk kepada calon pengguna . pengembang serupa, dapat mengadopsi produk dengan menyesuaikan karakteristik siswa pada jenjang pendidikan atau lingkungan sekolah yang berbeda. KONTRIBUSI PENULIS RT bertanggung jawab dalam penyusunan instrumen, perancangan penelitian, kebutuhan perlengkapan, pengumpulan dan analisis data, pengembangan, serta validasi Adapun SH memberikan arahan, bimbingan, dan evaluasi terhadap keseluruhan proses penelitian untuk memastikan kualitas dan relevansi hasil penelitian pengembangan. DAFTAR PUSTAKA