CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO Annisa Khaira G Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Korespondensi penulis: anisakhaira8@gmail. Yeni Afrida Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Mawar Mustika Rahmi SMA NEGERI 1 IV Koto Abstract. Broken home is something that is not wanted by everyone. Children who experience broken homes will have an impact on the development of a child. Broken homes themselves experience problems as a result of their parents, such as their parents separating so that a child does not get proper love. In overcoming a broken home, a child must have resilience, namely the ability to get back up and seek and find their own happiness, because everyone has the right to achieve happiness. This research is a qualitative descriptive study with a sample of 7 people at SMAN 1 IV Koto in class X and uses a total sampling technique. The data collection technique is in the form of interviews and observation and the data analysis technique is data reduction. And this study aims to see how the dynamics of broken home students with the research results of students who have resilience abilities get dynamics or changes in themselves. Keywords: Impact. Eesilience . BrokenHome Abstrak. Broken home merupakan suatu hal yang tidak diinginkan oleh semua orang. Anak yang mengalami broken home akan berdampak terhadap perkembangan seorang Broken home sendiri mengalami permasalahan akibat dari orangtua mereka, seperti orangtua mereka berpisah sehingga seorang anak tidak mendapatkan kasih sayang yang Dalam mengatasi broken home, seorang anak harus memiliki kemampuan resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali serta mencari dan menemukan kebahagian mereka sendiri, karena setiap orang berhak untuk mencapai kebahagian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel 7 orang di SMAN 1 IV Koto pada kelas X dan menggunakan teknik total sampling. Teknik pengumpulan data nya berupa wawancara dan observasi dan teknik analisis datanya reduksi data. Dan penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimanakah dinamika siswa broken home dengan hasil penelitian siswa yang memiliki kemampuan resiliensi mendapatkan dinamika atau perubahan pada dirinya. Kata kunci: Dampak. Resiliensi . Broken Home Received Oktober 30, 2022. Revised November 2, 2022. Januari 01, 2023 * Annisa Khaira G, anisakhaira8@gmail. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 PENDAHULUAN Keluarga merupakan salah satu kelompok sosial yang bersifat abadi. Keluarga sendiri merupakan proses perkembangbiakan manusia dalam sebuah pernikahan yang nantinya akan memberikan keturunan. Namun hal tersebut bukanlah sebuah hal yang Akan banyak tantangan dan cobaan nantinya dalam membentuk sebuah struktur yang disebut keluarga tersebut. Dan dalam keluarga sendiri hal yang paling diinginkan oleh setiap insan yaitu memiliki keluarga yang harmonis. Memiliki keluarga yang harmonis merupakan suatu hal yang sangat diinginkan setiap pasangan, tidak terkecuali bagi anak sendiri. Membahas mengenai harmonis, keluarga yang harmonis sendiri nantinya akan membentuk individu yang baik, yang mana keluarga harmonis sendiri akan penuh dengan keakraban, saling pengertian, saling menghargai penuh damai, dan memberikan rasa aman dan tentram kepada setiap anggota keluarganya. Dan keluarga sendiri akan dapat menjadi harmonis apabila semua anggota keluarga didalamnya dapat berhubungan serasi serta seimbang, serta saling memuaskan kebutuhan satu sama lainnya serta memperoleh pemuasan terhadap kebutuhannya (Nur & Dewanti, 2. Membahas mengenai keluarga yang harmonis, untuk membentuk yang namanya keluarga harmonis tidak semudah yang dipikirkan, terlebih didalam yang namanya keluarga, memiliki pemikiran dan ego yang berbeda-beda. Sehingga dengan hal tersebut, tidak sedikit terjadi suatu perselisihan antar keluarga. keadaan keluarga yang tidak harmonis atau tidak stabil merupakan faktor penentu berkembangnya kepribadian anak . tidak sehat, misalnya cara penyesuaian diri yang sulit, perilaku agresif dan kenakalan remaja. Sehingga dengan demikian nantinya anak menjadi imbasnya dan dikenal istilah yang namanya broken home. Broken home sendiri dapat dimaknai sebagai keluarga yang retak, tidak harmonis yaitu kondisi dimana hilangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orangtua yang disebabkan oleh beberapa hal, misalnya seperti perceraian yang mengakibatkana anak tinggal bersama satu orangtua (Willis. Perkembangan anak sendiri merupakan tahap AuentropyAy ke kondisi Aunegen-tropyAy yaitu keadaan kesadaran manusia belum tersusun rapi, dalam hal ini dimaksud kemampuan fisik remaja telah berfungsi cecara maksimal, namun belum dapat membawa remaja dalam kemandirian yang maksimal. Sebab masa anak-anak merupakan proses DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikis yang telah dimulai sejak masa-masa sebelumnya, yang mengarah pada kematangan yang sempurna, sehingga dengan hal tersebut anak membutuhkan sosok keluarga dan kasih sayang. Broken home sendiri dapat dilihat dari dua aspek, yang pertama yaitu dari keluarga yang terpecah atau tidak utuh yang disebabkan oleh salah satu anggota keluarga meninggal atau bercerai dan yang kedua orangtua tidak bercerai namun strukturnya tidak utuh lagi disebabkan karena kedua orangtua sering tidak dirumah atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi. Broken home sendiri menjadi istilah untuk menggambarkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Broken home sendiri menunjukkan keluarga yang tidak utuh, tidak rukun serta sering terjadi pertengkaran (Ardilla & Cholid. Broken home sendiri diambil dari bahasa inggris jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka berarti keluarga tidak utuh. Arti broken home juga bisa disebut dengan keadaan keluarga yang mengalami perpecahan karena suatu masalah. Maka dari itu muncul juga istilah keluarga broken home yang erat kaitannya dengan perpisahan orang tua. Sehingga arti broken home bisa juga disebut dengan keadaan keluarga yang tidak rukun Dilanjutkan oleh Wilis, beliau mengungkapkan bahwa broken home sendiri timbul disebabkan oleh masalah kesibukan, orangtua berceai, sikap ego, kebudayaan bisu, perang dingin dalam keluarga, jauh dari tuhan, kurangnya kehangatan dari orang tua, masalah pendidikan serta juga masalah ekonomi. Dari hal tersebut tentuunya broken home tersebut memiliki dampak negatif kepada anak. Keluarga yang disebut broken home tersebut dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dalam keluarga. Perkembangan anak dalam keluarga terganggu dengan adanya masalah keluarga tersebut, yang mana apabila dilihat lebih kedalam lagi, sebenarnya keluarga merupakan tempat yang paling penting untuk perkembangan anak baik itu secara fisik, emosi, spiritual serta juga emosi (Wulandri & Fauziah, 2. Ada beberapa penyebab yang ditimbulkan dalam keluarga broken home, adapun penyebab nya yaitu sebagai berikut (Massa. Rahman & Napu, 2. Penyebab Psikologis Kondisi yang bersifatyang psikologis ini disebabkan karena perbuatan, perbedaan pendapat, dan lain sebagainya yang menyebabkan terjadinya pertengkaran atau konflik. CENDEKIA - VOLUME 3. NO. FEBRUARI 2023 CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 Penyebab Fisik Kondisi yang bersifat fisik ini contohnya seperti kematian dan perceraian. Penyebab Ekonomi Penyebab nya yaitu penghasilan tidak sesuai antara kebutuhan dan pengeluaran Penyebab Sosial Hal ini secara tidak langsung tidak berpengaruh, tetapi sangat memungkinkan terjadinya Broken home misalnya masyarakat penjudi, penjudi, peminum Penyebab Ideologis Perbedaan paham, sikap dan pandangan, perbedaan agama antara suami dan istri Anak broken home sendiri memiliki ciri-ciri, adapun ciri-ciri keluarga yang broken home adalah sebagai berikut: Kematian salah satu orang tua atau keduanya Kedua orang tua bercerai Hubungan antara kedua orang tua tidak baik Hubungan antara orang tua dan anak tidak baik Suasana dalam keluarga tegang dan tidak ada kehangatan Orangtua sibuk dan jarang berada di rumah Salah satu atau kedua orangtua nya memiliki gangguan jiwa Keadaan keluarga yang tidak harmonis atau tidak stabil, merupakan faktor penentu berkembangnya kepribadian anak menjadi tidak sehat, contohnya seperti penyesuaian diri yang sulit, menjadi pendiam, agresif atau bahkan terjadinya kenakalan remaja. Keluarga sendiri jika dilihat secara psikososiologis memiliki fungsi tersendiri, yaitu (Detta & Abdullah, 2. Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis Sumber kasih sayang dan penerimaan Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik. Pemberi bimbingan baik pengembangan perilaku sosial dianggap tepat Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat Teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan Namun, fungsi keluarga yang dimaksud tidak semudah yang dibayangkan akan sepenuhnya terwujud di lapangan. Anak yang mengalami broken home mempunyai tugas yang cukup berat yang harus dipikulnya, terlebih anak masih dalam masa perkembangannya yang harus dapat kasih sayang dari orangtuanya, anak broken home tersebut harus menerima keluarga mereka tidak sama dengan yang lain, terkadang juga harus menerima cacian dari orang lain dan juga harus menerima bahwa masih kurang menerima kasih sayang dari kedua orangtuanya. Akan tetapi dalam menerima hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi anak sedang dalam masa benar-benar butuh kasih sayang dari orangtuanya, emosi belum stabil, dan efek nya tidak menutup kemungkinan apabila seorang anak dapat melakukan berbagai hal negatif. Untuk menghadapi permasalahan broken home tersebut, maka pengembangan kemampuan dan ketahanan emosional pada anak menjadi penting untuk menghadapi kesulitan dan permasalahan serta mengubahnya menjadi ke arah positif, yang mana hal tersebut dapat tercapai dengan yang namanya resiliensi. Apabila seorang anak memiliki resiliensi dalam dirinya, maka anak tersebut akan menghadapi segala permasalahan yang dialaminya dengan cara yang sehat. Mereka akan membiarkan perasaan sedih, kecewa dan berduka dalam dirinya, tetapi tidak akan membiarkan dirinya dalam keadaan seperti itu secara permanen. Setiap manusia yang memiliki resiliensi, maka hidupnya akan selalu dinamis. Saat masalah datang, maka akan berusaha bangkit dan menyelesaikan masalah yang datang dalam hidupnya. Jika tidak memiliki resiliensi dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya, maka setiap kali ada masalah datang dia akan terpuruk dan susah untuk bangkit kembali menjalani hidupnya yang normal, sehingga terkadang individu ini akan mengalami stres dan depresi ketika masalah itu datang menghampirinya (Khomsah. Mugiarso & Kurniawan, 2. CENDEKIA - VOLUME 3. NO. FEBRUARI 2023 CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 Resiliensi sendiri memiliki makna melompat kembali, yang mana resiliensi sendiri merupakan sebuah kemampuan dimana kemampuan seseorang bangkit dari penderitaan, yang mana dengan keadaan tersebut diharapkan mental akan menjadi lebih kuat dan memiliki sumber daya (Lestari, 2. Resiliensi sendiri juga dapat dimaknai sebagai sebuah kekuatan yang memungkinkan individu kuat dalam keterpurukan (Vanbreda. Dan juga (Desmita, 2. juga menyatakan, bahwa resiliensi dianggap sebagai sebuah kekuatan dasar yang menjadi suatu pondasi dari semua karkater dalam membangun kekuatan emosional dan psikososial seseorang, yang mana individu mampu menghadapi rintangan-rintangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan lebih lanjut secara khusus Snyder mengatakan bahwa resiliensi merupakan kemampuan untuk tidak mengalah ketika menghadapi suatu tekanan dari lingkungan, anak mampu terhindar dari obat terlarang, kenakalan, kegagalan di sekolah dan gangguan mental (Ruswahyuningsih & Afiatin, 2. Proses relisiensi pada tiap individu dapat bervariasi sesuai dengan jenis hasil yang berbeda, misalnya bisa terjadi perilaku negatif seperti depresi dan perilaku mengganggu namun individu dapat beradaptasi dengan melibatkan pengendalian risiko atau kesulitan yang terjadi pada dirinya. Resiliensi sendiri nantinya berperan sebagai kemampuan individu untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup, karena setiap individu pasti mengalami kesulitan ataupun sebuah masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu masalah ataupun kesulitan. Membahas mengenai resiliensi, nantinya terdapat beberapa aspek dalam kemampuan resiliensi, yaitu : Kemampuan Regulasi Rmosi Kemampuan regulasi emosi sendiri merupakan keadaan agar tetap tenang dan juga fokus pada saat seseorang berada dalam kondisi yang tertekan Pengendalian Impuls Kemampuan ini merupakan kemampuan dalam mengendalikan setiap keinginan serta tekanan yang muncul dalam diri seseorang anak broken home Optimisme Kemampuan ini yaitu dapat mengatasi masalah yang ada dan yakin akan masa depan yang cerah DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO Kemampuan Menganalisis Masalah Kemampuan ini merupakan kemampuan seseorang untuk melihat secara akurat penyebab dari permasalahan yang dihadapi Empati Kemampuan ini merupakan kemampuan seseorang untuk membaca tanda-tanda kondisi emosional seseorang serta juga psikologis orang lain. Efikasi Diri Kemampuan dimana kepercayaan seseorang dapat memecahkan masalah yang dialami dan mencapai kesuksesan Peningkatan Aspek Positif Dan kemampuan peningkatan aspek positif sendiri merupakan kemampuan seseorang memaknai permasalahan yang tengah dihadapi sebagai kekuatan di masa yang akan datang kelak. Dalam membentuk sebuah resiliensi, tidaklah hanya dari dalam diri individu saja, tetapi faktor dari luar dan interpersonal tidak kalah penting. Faktor yang mempengaruhi resiliensi seseorang yaitu diantaranya : I have . aktor bantuan dan sumber dari luar individ. I am . aktor kekuatan yang berasal dari dalam diri individ. I can . aktor yang berasal dri kompensasi dan interpersonal seseoran. Dengan adanya faktor-faktor pembentuk resiliensi tersebut, maka diharapkan akan terbentuk resiliensi seseorang. Individu dikatakan resiliensi apabila memiliki aspek empati, optimis, regulasi diri, reaching out, analisis kausal, efikasi diri, dan pengendalian impuls. Dengan adanya aspek resiliensi tersebut dalam diri seseorang, maka dia akan mampu untuk menangani dan bangkit dari setiap permasalahan atau traumatik yang dialaminya Dan dari observasi yang telah peneliti lakukan, peneliti menemukan beberapa siswa dengan kondisi broken home di SMAN 1 IV Koto, yaitu sebanyak 5 orang di kelas X. Dan dengan hal tersebut, penelitian ini sendiri bertujuan untuk melihat bagaimanakah dinamika resiliensi broken home pada subjek penelitian. Dan tidak menutup kemungkinan juga nantinya jika sudah diketahui bagaimana dinamikanya, bakal menjadi referensi bagi pembaca untuk menolong orang-orang broken home di luar sana. Sehingga permasalahan pada penelitian ini sendiri yaitu : CENDEKIA - VOLUME 3. NO. FEBRUARI 2023 CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 Katanya anak broken home tidak bisa menerima keadaan dirinya dan cendrung ada hal yang negatif atau minimal menutup dirinya. Tapi faktanya, dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada anak yang mampu menerima keadaan tersebut, yang dikenal dengan istilah resiliensi Katanya anak broken home tidak memiliki cara dalam meningkatkan diri nya, namun dalam penelitian ini peneliti menemukan anak broken home yang bisa meningkatkan dirinya dan bahagia meskipun anak broken home METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yang mana nantinya peneliti akan berusaha menggambarkan objek atau subjek yang diteliti secara Penelitian ini sendiri dibatasi pada siswa kelas X SMAN 1 IV Koto, dengan sampel sebanyak 7 orang yang mana hanya 7 orang siswa yang didapatkan data anak yang tergolong broken home pada siswa kelas X pada saat melakukan observasi, sehingga dengan demikian teknik sampelnya adalah total sampling. Teknik pengumpulan datanya sendiri dilakukan dengan wawancara serta observasi dengan teknik analisis datanya dengan teknik reduksi data, yang mana yaitu nantinya akan didapatkan sebuah kesimpulan akhir. HASIL DAN PEMBAHASAN Broken home tentunya bukan suatu hal yang mudah, tentu saja tidak ada anak yang ingin menjadi broken home. Semua anak pasti ingin bahagia. enelitian ini sendiri dilakukan di SMAN 1 IV Koto, dengan subjek penelitian sebanyak 7 siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, didapat hasil penelitan pada penelitian ini. Dari subjek penelitian pertama (S. , didapatkan hasil bahwa S1 merupakan meskipun S1 merupakan anak broken home, dia tetap harus meraih kebahagiannya sendiri dan tidak boleh terus-terusan terpuruk dalam keadaan broken home. Dia harus tetap semangat dalam menjalani hidup dan juga harus menggapai mimpi dan cita-citanya meskipun kedua orangtuanya telah lama bercerai yang disebabkan karena kurang nya komunikasi antar orangtuanya dan juga dikarenakan faktor ekonomi. Salah satu cara DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO mencari kebahagian bagi dirinya sendiri yaitu dengan banyak berinteraksi dengan orangorang yang positif serta mencari banyak teman yang sebaya. Selanjutnya, untuk subjek penelitian kedua (S. , didapatkan bahwa cara S2 untuk bangkit dari broken home untuk mencapai kebahagiannya sendiri ialah dengan merasa bodoh amat. Dia tidak ambil pusing lagi dengan kedua orangtuanya yang terus-terusan S2 beranggapan diluar sana dunia masih luas dan dia harus tetap menempuh pendidikannya yang suatu saat bercita-cita menjadi dokter hewan dan membuat keluarga yang jauh lebih baik dari sekarang. Namun meskipun bodoh amat tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi dan mencoba mengikhlaskannya. S2 masih tetap berkomunikasi dengan kedua orangtuanya meskipun keduanya sering bertengkar. Untuk subjek penelitian yang ketiga (S. , dari wawancara yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa S2 lebih memilih diam dan fokus terhadap kebahagian yang harus dia gapai. S3 orangtuanya telah bercerai, dan sekarang hidup dengan ayahnya sendiri. Namun ayahnya juga sibuk kerja. Sehingga S3 lebih memilih diam dan fokus dengan apa yang harus digapai. S3 masih memiliki harapan dihati kecilnya bahwa dia dapat merubah nasibnya suatu saat nanti. Meskipun demikian. S3 masih sering berbaur dengan yang lain, banyak teman dan juga walaupun sudah bercerai kedua orangtuanya. S3 memiliki kakek dan nenek yang sayang kepadanya. Dari subjek penelitian keempat (S. , didapatkan bahwa S4 menyibukkan diri diberbagai organisasi di sekolah dan juga beberapa dimasyarakat untuk mencari kebahagiannya dan keluar dari zona broken home, yang mana orangtuanya terus bertengkar karena permasalahan ekonomi dan juga sering tidak ada waktu buat S4. Dan selanjutnya yaitu subjek penelitian kelima (S. S5 juga broken home dikarenakan kurangnya kasih sayang dikarenakan kedua orangtuanya sudah lama Sekarang S5 tinggal dengan ayahnya seorang. Meskipun demikian. S5 mencari kebahagian dengan berteman dengan banyak orang dan belajar dengan tekun dengan harapan suatu saat dapat menjadi seorang dosen. Berikutnya subjek penelitian keenam (S. , yang mana S6 ayahnya telah meninggal dunia dan ibunya menikah lagi sehingga dia memiliki ayah tiri. Setelah ibunya menikah lagi, ayah tiri dan ibu nya jarang dirumah, dikarenakan sibuk bekerja karena juga kekurangan ekonomi. Namun meskipun demikian, dia mencoba untuk bersikap santai dan melakukan banyak kegiatan di sekolah dan memperbanyak teman, dan juga S6 bekerja CENDEKIA - VOLUME 3. NO. FEBRUARI 2023 CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 sepulang sekolah, dengan demikian dia bisa bertemu dan bersosialisasi dengan banyak orang dan merupakan masalah di rumahnya. Dan yang terakhir adalah subjek ke tujuh (S. , subjek ketujuh orang tua nya sering bertengkar dan akhirnya bercerai, dan subjek ketujuh akhirnya tinggal bersama paman Namun dikeluarga pamannya dia sering diabaikan. Namun meskipun demikian. S7 mencoba tetap ikhlas setidaknya dia tetap dibiayai sekolah oleh paman nya dan mencari kebahagian diluar dengan bekerja paruh waktu dan tergabung kedalam beberapa organisasi di sekolah dan juga berharap suatu saat nanti dia dapat bahagia dan memutuskan tali broken home dari keluarganya di generasi mendatang sejauh mungkin. Berdasarkan hasil wawancara yang telah didapatkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebahagian setiap anak broken home merupakan suatu hal yang sangat penting, karena hal tersebut jika tidak memiliki kemampuan resiliensi, maka tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada perkembangan sang anak kelak. Jika tidak mempunyai kemampuan resiliensi, tidak heran jika banyak anak broken home yang stress, bahkan ada yang mengiris tangan nya dengan pisau dan lain sebagainya. Kebahagian dari anak broken home sendiri tidaklah hal yang besar seperti harta berlimpah, yang mereka minta dan mereka butuhkan hanya kasih sayang dan struktur kelurga yang harmonis. Faktor yang mempengaruhi kebahagian sendiri bagi anak broken home tidak lain dan tidak hukan yaitu harapan terciptanya hubungan yang baik dalam struktur keluarga mereka. Keluarga yang penuh makna atau aktivitas bersama dengan keluarga misalnya. Dari hasil wawancara pada penelitian ini sendiri, dari semua subjek yang ada bahwa mereka mencari dan mendapatkan kebahagian dengan menyibukkan diri dan lebih sering bersosialisasi, dengan harapan cita-cita dan apa yang mereka inginkan Dari hasil wawancara sendiri, hal yang paling mendasari mereka menjadi anak broken home adalah masalah keluarga, yang mana bukan hanya seperti perpisahan orangtua mereka saja, akan tetapi masih ada faktor yang lainnya. Penyebab dari permasalahan broken home sendiri beraneka ragam, seperti salah satunya contohnya orang tuanya meninggal dan menikah lagi namun dia tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya. Seseorang yang dilahirkan ke atas dunia, apabila mengalami yang namanya broken home, akan berdampak negatif terhadap dirinya sendiri, hal tersebut merupakan hal yang sangat tidak diinginkan, karena pada dasarnya setiap insan dilahirkan DINAMIKA RESILIENSI PADA SISWA BROKEN HOME DI SMAN 1 IV KOTO dalam suatu keluarga untuk diberikan cinta dan kasih sayang. Dan apabila seorang insan mengalami yang namanya broken home, tidak mudah untuk bangkit. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin, walaupun susah tapi masih ada cara, yaitu dengan mempunyai kemampuan resiliensi. Karena pada dasarnya meskipun anak mengalami broken home, semua insan didunia ini berhak untuk mendapatkan yang namanya kebahagian. Dan dengan mempunyai kemampuan resiliensi, terbukti bahwa anak terlihat tegar dan tetap tangguh dan semangat dalam menjalani kehidupan untuk masa yang akan datang. Dan pada penelitian ini sendiri memang terbukti pada hasil wawancara bahwa anak atau subjek penelitian sendiri tetap tegar dan semangat serta mencari dan menemukan kebahagiannya sendiri meskipun pernah mengalami yang namanya broken home. Dan dengan adanya resiliensi, diharapkan anak mampu memahami bahwa kehidupan tidak lepas dari sebuah permasalahan, karena melalui permasalahan yang dihadapi akan menjadi individu yang lebih matang karena pengalaman untuk mencari solusi Dari pembahasan tersebut dapat dimaknai, bahwa terdapat dinamika pada siswa broken home di SMAN 1 IV Koto. Dinamika sendiri secara singkat dapat dimaknai sebagai suatu perubahan. Dan pada penelitian ini sendiri setelah siswa memiliki kemampuan resiliensi, perubahan atau dinamika yang didapatkan yaitu siswa tersebut dapat keluar dari situasi broken home yang dialaminya. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa resiliensi sangat penting bagi anak broken home, karena dengan adanya kemampuan resiliensi anak dapat bangkit serta mencari dan menemukan kebahagian mereka sendiri meskipun berasal dari keluarga yang broken home. Mereka tersebut mendapatkan dinamika atau perubahan yaitu mampu menerima semuanya dengan ikhlas serta lapang dada dan mencari kesibukan tersendiri dengan harapan yang lebih baik buat masa depan dan cita-citanya kelak, yaitu agar digenerasi selanjutnya anak-anak mereka tidak merasakan apa yang mereka rasakan dan mereka dapat membuang jauh-jauh kata broken home sendiri. Dan mereka dari subjek penelitian ini sendiripun melakukan berbagai hal positif seperti lebih banyak bersosialisasi untuk mewujudkan kebahagian pada diri mereka sendiri meskipun berasal dari keluarga yang broken home. CENDEKIA - VOLUME 3. NO. FEBRUARI 2023 CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. No. 1 Februari 2023 e-ISSN: 2961-7588. p-ISSN: 2962-3561. Hal 56-67 DAFTAR PUSTAKA