Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 04 No. 02 (Juni 2. 80 Ae 92 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Gereja dan Upacara Unan-Unan: Strategi Gereja Mentrasformasi Budaya Yosua Gunawan. Yanto Paulus. STT Kharisma Bandung. YosuaGunawan@ymail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Gunawan and Paulus. AiGereja dan Upacara Unan-Unan: Strategi Gereja Mentrasformasi Budaya. An Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 4, no. 2 (Juni 01, 2. : 80-92, accessed Juni 08, 2024, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Gunawan & Paulus, 2024, p. Received: 19 Mei 2025 Accepted: 16 Juli 2025 Published: 30 Juni 2024 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact YosuaGunawan@ymail. Yosua Gunawan. Yanto Paulus Abstract This paper discusses how the church can accommodate the Tengger ethnic groupAos traditional ceremony, particularly the unan-unan ritual, within the context of gospel The unan-unan ceremony, which involves ancestral spirits and offerings, often conflicts with Christian teachings. However, the church can apply gospel contextualization approaches to remain relevant to local culture without compromising Christian faith. Gospel contextualization is the effort to communicate the Christian message in a way that respects local culture, using adaptations in worship forms or local symbols to explain Christian teachings. In this way, the church can evangelize the Tengger people effectively, avoid syncretism, and preserve the integrity of the gospel message. Keywords: Contextual, ceremony, tribe Abstrak Tulisan ini membahas bagaimana gereja dapat mengakomodasi upacara adat Suku Tengger, khususnya upacara unan-unan, dalam konteks kontekstualisasi Injil Kristen. Upacara unanunan yang melibatkan roh leluhur dan sesaji sering kali bertentangan dengan ajaran Kristen, namun gereja dapat menggunakan pendekatan kontekstualisasi Injil untuk tetap relevan dengan budaya setempat tanpa mengorbankan iman Kristen. Kontekstualisasi Injil adalah usaha untuk menyampaikan pesan Kristen dengan cara yang menghormati budaya lokal, melalui adaptasi bentuk ibadah atau penggunaan simbol lokal yang menggambarkan ajaran Kristen. Dengan cara ini, gereja dapat menginjili masyarakat Tengger secara lebih efektif, menghindari sinkretisme, dan menjaga kebenaran ajaran Injil. Kata Kunci: Kontekstual, upacara. Suku PENDAHULUAN Setiap orang Kristen seharusnya tidak boleh di batasi oleh tembok gerejanya sendiri. Keberadaan Kekeristenan seharusnya dapat dinikmati oleh warga-warga sekitar. Amanat Agung Tuhan Yesus adalah panggilan setiap kita umatNya. Dalam konteks masyarakat pluralisme dan multikultiral seperti Indonesia, sering kali ditemukan pertanyaan tentang bagaimana gereja dapat mengakomodasi tradisi atau adat istiadat yang ada dalam budaya lokal, dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip iman Kristen. Meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan padangan iman Kristen didalam upacara atau adat tersebut. Disitulah kiprah tugas gereja untuk memanggil orang-orang berdosa agar dapat menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat yang akan memperdamaikan kita oleh AnugerahNya (Nggebu, 2. Dalam tulisan ini penulis akan berfokus meneliti bagaimana seharusnya gereja-gereja dikawasan Suku Tengger dapat mengakomodasi upacara adat mereka terutama upacara Unan-unan dengan tetap teguh memegang prinsip-prinsip iman Kristen. Pegunungan di kaki Gunung Bromo merupakan tempat tinggal suku Tengger. Meskipun suku Tengger kini tersebar luas, setidaknya empat kabupaten di Provinsi Jawa TimurAiKabupaten Probolinggo. Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten MalangAimasih menjadi tempat tinggal utama mereka. Berbagai agama dianut oleh masyarakat Tengger. Komposisi agama masyarakat Tengger sebagai berikut: Sepuluh persen Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus beragama Hindu dan Kristen, tiga puluh persen beragama Islam, dan enam puluh persen beragama Buddha. Namun ada hal yang menarik dari masyarakat suku Tengger ini meskipun mereka memiliki agama yang berbeda-beda namun suku ini memiliki toleransi yang sangat tinggi sehingga mereka dapat hidup rukun berdampingan (Nurcahyo & Astutik, 2. Ini adalah kesempatan untuk gereja dapat masuk dan memberitakan Injil. Injil dapat dibagikan dengan berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan secara Pendekatan-pendekatan kontekstualisasi perlu dilakukan bersama dengan anggota-anggota gereja sehingga gereja juga dapat di terima oleh Suku Tengger. Suku Tengger memiliki beberapa tradisi upacara. Seperti upacara Kasada, upacara Karo, upacara Entas-Entas, upacara Pujan Ubeng, upacara Kelahiran, upacara Tugel Kuncung, upacara Perkawinan, upacara Kematian, upacara Unan-unan. Penulis akan berfokus kepada upacara Unan-unan (Sutarto, 2. Setiap lima tahun sekali, upacara Unan-unan diadakan. Ritual ini bertujuan untuk mengusir roh jahat dari desa dan membersihkan jiwa orang yang telah meninggal agar mereka dapat masuk ke Nirvana, keadaan hidup yang paling tinggi. Karena nama Aiunan-unanAn berasal dari kata Aituna,An yang berarti Aikerugian,An acara ini menggantikan kekurangan yang terjadi selama delapan tahun sebelumnya. Dalam upacara ini orang Tengger memberikan sesajian dan juga menyembelih binatang kerbau sebagai kurban (Sutarto, 2. Ada persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Suku Tengger dalam melakukan upacara Unan-unan ini. Terdiri dari pra-upacara yang biasanya dilakukan sebelum hari upacara yang ditentukan. Dan juga persiapan-persiapan sebelum upacara dijalankan pada hari upacara tersebut. Dan inilah tantangan utama bagi gereja yaitu bagaimana mengakomodasi tradisi ini dalam konteks iman Kristen tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar ajaran Kristen. Dari Persiapan sampai kepada hari upacara dilakukan banyak sekali unsur-unsur mistik yang dilakukan. Tidak hanya unsur mistik tetapi juga tujuan upacara itu dipersembahkan kepada dewa-dewa yang mereka Namun ada penelitian yang dilakukan oleh Bahrudin bahwa ada pergeseranpergeseran budaya remaja lokal suku Tengger dikarenakan karena adanya perubahan Gaya hidup dan juga pengaruh teknologi yang berkembang (Bahrudin et al. , 2. Melihat karena ada pergeseran budaya-budaya remaja lokal dan juga toleransi yang tinggi sebenarnya ini adalah kesempatan bagi gereja untuk memberikan koreksi terhadap kepercayaan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Untuk mencapai tujuan mereka dalam menjangkau orang-orang yang belum mengenal Injil Kristus, gereja-gereja harus mengembangkan teknik-teknik kontekstualisasi. Secara sederhana, kontekstualisasi adalah proses memperkenalkan Injil. Namun, menurut Darrel L. Whitemen, kontekstualisasi tidak hanya sekadar menyampaikan pesan dengan cara berpikir yang berbeda. melainkan juga melibatkan pengintegrasian informasi ke dalam kerangka budaya penerima. Dalam hal ini, kontekstualisasi berusaha untuk mengartikulasikan Injil melalui cara verbal dan non-verbal, sementara secara bersamaan membina gereja dalam tata krama yang sesuai dengan penduduk setempat, dengan demikian menyajikan Kekristenan dengan cara yang memenuhi kebutuhan mendalam individu dan secara efektif terlibat dengan pandangan dunia mereka, pada akhirnya memfasilitasi perjalanan mereka dalam mengikuti Kristus sambil membiarkan mereka tetap berakar pada identitas budaya mereka sendiri (Whiteman, 1. Rumusan masalah dalam penlitian ini adalah bagaimana peran dan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus strategi gereja mentranformasi budaya Upacara Unan-unan? Dan Tujuan Penelitian ini adalah supaya kontsekstualisasi dapat berjalan dalam Suku Tengger terutama mengakomodir Upacara Unan-unan yang dilakukan oleh Suku Tengger. METODE Penulis menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan literatur yang relevan atau biasa disebut dengan kajian pustaka. Penulis mengunakan bahan-bahan pustaka yang berhubungan dengan penelitian ini seperti jurnal akademik, buku, beberapa situs berita yang mendukung tentang budaya suku Tengger, upacara Unan-unan, dan juga Kontekstualisasi, misi, penginjilan, dan buku-buku Kristen yang berhubungan. Penulis memakai pendekatan kualitatif dengan kajian pustaka untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana gereja dapat mengakomodasi upacara adat Suku Tengger, khususnya upacara Unan-unan, dalam kontekstualisasi Injil Kristen. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk menggali pandangan, prinsip-prinsip, dan perspektif yang terkait dengan budaya lokal dan bagaimana hal tersebut bisa disesuaikan dengan ajaran Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam pembahasan ini penulis akan fokus kepada Sejarah Suku Tengger. Sejarah Upacara Unan-unan dan juga strategi gereja untuk mengakomodasi upacara Unan-unan dalam budaya suku Tengger, tanpa mengorbankan prinsip dasar iman Kristen serta dapat mengenalkan injil kepada suku Tengger. Pembahasan ini akan mencakup beberapa pemahan tentang pendekatan kontekstualisasi, dan tantangan yang dihadapi gereja, serta strategi yang dapat diterapkan untuk menjangkau masyarakat suku Tengger dengan tetap menghormati adat budaya mereka. Sejarah dan Kehidupan Suku Tengger Suku Tengger tinggal di daerah lereng Gunung Bromo dan merupakan masyarakat asli Jawa. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sejarah keberadaan masyarakat Tengger memiliki beberapa versi. Menurut salah satu di antaranya, suku Tengger yang kini tinggal di lereng Gunung Bromo dulunya merupakan sekelompok pengungsi Majapahit yang melarikan diri dari negaranya ketika Majapahit jatuh ke tangan Demak. Suku Tengger, di sisi lain, diyakini telah tinggal di sekitar Gunung Bromo sebelum masa Majapahit (Ratih & Juwariyah, 2. Meskipun terdapat dua versi tentang sejarah masyarakat suku Tengger namun yang pasti bahwa Suku Tengger memang tinggal di kawasan Gunung Bromo. Suku Tengger terkenal dengan kedamaian dan ketentramannya. Jenderal Thomas Stamford Raffles sangat mengagumi orang Tengger. Dalam The History of Java. Raffles menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi daerah yang sejuk, di mana ia menyaksikan kehidupan orang Tengger yang damai, teratur, disiplin, jujur, pekerja keras, dan selalu ceria. Mereka hidup tanpa terjerat oleh perjudian atau narkoba. Ketika Raffles menanyakan tentang masalah seperti perzinahan, perselingkuhan, pencurian, atau kejahatan lainnya, masyarakat Tengger yang sering disebut sebagai orang gunung itu menjawab bahwa masalah-masalah tersebut tidak ditemukan di sana (Sutarto, 2. Ini adalah sebuah hal yang harus di apresiasi karena kedamaian dan juga kerukunan suku Tengger. Tidak heran apabila memang masyarakat tengger memiliki toleransi beragama yang tinggi. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus Suku Tengger sendiri mengunakan bahasa Jawa-Tengger dan bahasa Tengger adalah simbol budaya yang dipergunakan untuk komunikasi mereka. Suku Tengger dipimpin oleh kepada adat yang biasanya juga disebut Dukun Pandhita yang bertugas untuk pelaksanaan ritual adat dan juga memberikan nasihat dalam segala bidang baik keagamaan maupun pemerintaahan, pertanian maupun pembangunan yang akan di bangun oleh kepala desa (Jati. Sebagian masyarakat suku Tengger ini mengantungkan sumber pencahariannya kedalam sektor wisata seperti bukti teletabis tetapi selain itu juga ada sumber-sumber pertanian seperti apel, kentang, jagung, dll. Ini juga adalah kesempatan bagi gereja-gereja karena kita bisa melihiat mereka terbiasa dengan wisatawan yang datang ketempat mereka. Karena Suku Tengger mendapatkan sumber pencahariannya dalam sektor wisata maka merekapun sangat menyambut orang-orang asing yang bukan dari suku mereka. Agama dari masyarakat tenggerpun berbeda-beda karena mereka memiliki prinsip bahwa agama dan adat istiadat adalah dua hal yang berbeda yang tidak boleh disatukan. Karena itu tidak heran mereka memiliki toleransi yang tinggi namun memiliki prinsip budaya yang kuat. Suku Tengger memandang agama sebagai hak asasi manusia yang mendasar, dan mereka menghormati nenek moyang mereka dengan memelihara ritual dan tradisi (Syarifah. Karena itulah agama apapun mereka, mereka diwajibkan untuk mengikuti upacaraupacara yang diadakan oleh adat istiadat mereka. Dan meskipun gereja sudah ada dalam suku ini bahkan didaeragh mereka namun setiap jemaat suku Tengger juga di wajibkan untuk mengikuti upacara-upacara yang sudah menjadi adat mereka. Dan kembali ini adalah tantangan bagi gereja bagaimana dapat mengakomodir upacara adat yang dilakukan mereka. Upacara Unan-unan Salah satu upacara yang dilakukan oleh komunitas Tengger adalah upacara Unan-unan. Mayu Desa adalah nama lain untuk upacara Unan-unan. Selama upacara ini, berbagai persembahan diberikan kepada leluhur mereka. Dibandingkan dengan perayaan lain, persembahan dalam upacara Unan-unan lebih rumit. Ritual Nurunen Leluhur, yang diyakini sebagai cara memanggil arwah leluhur, dilakukan setelah upacara Unan-unan. Setelah itu, ada juga upacara mbeduduk. Selama upacara ini, seekor kerbau disembelih dan disajikan kepada Batara Kala. Karakter mitologis Batara Kala dipercaya sebagai anak dewa. Menurut mitos ini, manusia, atau sukerta, dapat dimakan oleh Batara Kala. Setelah diundang untuk makan bersama. Batara Kala diminta untuk menandatangani perjanjian yang mengikatnya untuk meninggalkan desa dan tidak mengganggu mereka lagi setelah menerima persembahan (Fitria, 2. Namun karena Batara Kala adalah anak dewa maka dipercaya bahwa Batara Kala tidak bisa makan makanan seperti manusia karena itu persembahan-persembahan dari upacara unan-unan inipun tidak boleh sembarangan (Sukmawan et al. , 2. Setelah itu barulah arak-arakan dilakukan di hari yang sudah ditentukan oleh dukun atau kepala desa Arak-arakan ini memiliki nilai religius bagi masyarakat Tengger karena melibatkan elemen-elemen keagamaan dan campur tangan dari leluhur. Suku Tengger percaya bahwa arak-arakan ini harus diikuti supaya dapat memiliki kesejahteraan dan perlindungan. Titik puncak acara ini adalah upacara Unan-unan, yang berlangsung di AiSanggar Punden. An Untuk membuat kehidupan mereka lebih sejahtera, aman, dan tenang, komunitas Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus Tengger melaksanakan upacara ini dengan harapan terbebas dari segala penderitaan, kembali ke kesucian, dan terhindar dari bencana. Pengorbanan seekor kerbau, dagingnya digunakan sebagai persembahan yang disebut AiKalan,An merupakan salah satu aspek unik dari upacara Unan-unan. Istilah AiMahisa,An yang menggabungkan kata AiMahiAn yang berarti alam semesta yang besar atau bentuk yang megah, dan AiIsaAn yang berarti yang perkasa dan merujuk pada Tuhan, digunakan untuk menggambarkan seekor kerbau dalam bahasa Jawa kuno. Setelah ritual selesai, hasil bumi tersebut dibawa pulang oleh masing-masing warga sebagai simbol kesatuan dalam masyarakat. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa hal yang pertama bahwa masyarakat Tengger percaya akan adanya Tuhan. Atau paling tidak mereka sadar akan adanya yang berkuasa. Dan mereka juga memiliki ketakutan akan penderitaan dan Mungkin dari sini kita bisa mengenalkan Injil serta membawa kabar baik baik bagi masyarakat Tengger melalui upacara Unan-unan. Bukan untuk mengubah atau menghapus upacara ini namun menganti esensi dari upacara ini. Dan melalui Upacara ini dapat mengenalkan Injil kepada suku Tengger. Kontekstualisasi Injil dalam Budaya Suku Tengger Kontekstualisasi adalah proses menyampaikan Injil kabar baik dengan mempertimbangkan budaya lokal sehingga pesan Kristen dapat diterima tanpa menciptakan konflik budaya. Kontekstualisasi juga bisa dikatakan proses penyesuaian ajaran agama dengan budaya, tradisi, dan konteks sosial di mana agama tersebut disajikan (Nurcahyo & Astutik, 2. Meskipun begitu penulis juga harus menekankan bahwa penyesuaian terhadap budaya bukan berarti orang Kristen menghilangkan atau kompromi dengan iman Kristen. Kontekstualisasi adalah jembatan untuk kita mengenalkan injil tanpa menyingung adat istiadat, kepercayaan mereka, upacara maupun budaya mereka. Karena itu diperlukan strategi-strategi agar kekeristenan dapat diterima oleh masyarakat suku Tengger. Meskipun toleransi yang begitu tinggi namun jangan sampai kita justru menutup peluang dengan melakukan hal-hal bersifat menyudutkan atau menghakimi budaya mereka. Sebaliknya kita perlu mendekati mereka dengan kasih, pengertian dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang mereka anut. Peran Gereja dalam Berkontekstualisasi Setelah memahami makna dan pelaksanaan upacara Unan-unan dalam kehidupan masyarakat suku Tengger, penting bagi gereja untuk mencari cara agar dapat mengakomodasi adat istiadat ini tanpa mengorbankan prinsip iman Kristen. Kontekstualisasi adalah proses dimana berita tentang iman Kristen yaitu injil dibuat menjadi relevan dan berarti bagi budaya yang menjadi penerima berita tersebut (Sukmawan et al. , 2. Karena itu Kontekstualisasi bukanlah kompromi terhadap kebenaran Injil, melainkan usaha untuk menyampaikan pesan Injil dalam bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat tanpa menyinggung atau merusak nilai budaya mereka. Relevansi adalah kunci utama dalam kontekstualisasi. Relevansi adalah penyesuaian sebuah konsep, nilai, strategi sehingga tidak terkesan memaksakan dan dapat Salah satu tantangan utama dalam mengontekstualisasikan Injil dalam masyarakat suku Tengger adalah keberadaan unsur-unsur religi yang bertentangan dengan iman Kristen, seperti pemanggilan roh leluhur (Nurunen Leluhu. dan pemberian sesaji kepada Batara Kala. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus Sedangkan fokus upacara Unan-unan bukan hanya sebuah perayaan untuk memperingati sesuatu namun memang tentang pemanggilan roh leluhur karena kepercayaan mereka terhadap hal-hal mistis yang begitu kuat dan yang sudah dibangun bertahun-tahun bahkan generasi ke generasi. Gereja tidak bisa secara langsung menolak atau menghakimi adat istiadat mereka, karena memang adat istiadat sudah di bangun oleh nenek moyang mereka dan mereka sudah mempercayai ini bertahun-tahun. Karena itu, gereja perlu memiliki hikmat dan pendekatan yang bijaksana untuk mengarahkan makna spiritual upacara ini kepada pemahaman yang sesuai dengan iman Kristen. Banyak pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjangkau mereka. Beberapa pendekatakan secara umum seperti Pendekatan Rasional yang mementingkan membangun hubungan yang erat. Ada kata-kata bijak yang mengatakan Anpeople donAot care how much you know untuk they know how much you careAy. Terkadang kita perlu menaruh perhatian kepada mereka terlebih dahulu sebelum kita mengungkapakan kebenaran yang sejati. Membangun hubungan kepada masyarakat Tengger adalah kunci utama supaya kita dapat diterima. Sebagai contoh pengunaan bahasabahasa lokal yaitu bahasa Tengger sehingga kita dapat diterima dengan baik, mengikuti bakti sosial, mengambil bagian dalam acara-acara yang diadakan. Kita juga perlu memahami kepercayaan dan tradisi mereka. Namun dalam tulisan ini penulis akan memberikan beberapa pendekatan kontekstualisasi yaitu Pendekatan Adaptasi. Pendekatan Terjemahan dan pendekatan Praktis. Meskipun masih banyak pendekatan-pendekatan lainnya yang dapat digunakan namun Penulis memakai tiga pendekatan ini karena dirasa cocok untuk mengakomodasi upacara Unan-unan Suku Tengger. Pendekatan Adaptasi Pendekatan adaptasi dalam teologi kontekstualisasi berfokus pada bagaimana pesan teologis disampaikan dalam bentuk yang sesuai dengan budaya lokal tanpa mengubah esensi ajaran iman Kristen (Tomatala, 2. Pendekatan ini menekankan perlunya menyesuaikan ekspresi iman dengan konteks budaya tertentu agar lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat setempat. Dengan kata lain, pendekatan ini lebih bersifat akomodatif terhadap budaya tanpa mengorbankan ajaran inti dari iman Kristen. Dan Tujuannya adalah agar Injil dapat dihadirkan dan diterjemahkan dalam bahasa serta simbol yang relevan dengan budaya setempat, sehingga tetap otentik namun dapat diterima dalam konteks masyarakat yang Sehingga Yesus Kristus dapat diterima sebagai Tuhan dan juruselamat dalam konteks budaya tersebut. Dalam pendekatan ini, pendekatan adaptasi dapat melalui simbol-simbol budaya, bahasa, dan praktik sosial yang relevan dengan komunitas tertentu. Sebagai contoh, dalam upacara Unan-unan yang dilaksanakan oleh suku Tengger, kita bisa mengajarkan dan menjelaskan bahwa tujuan dari upacara tersebut seharusnya bukan untuk memanggil Batara Kala, yang dianggap sebagai monster atau anak dewa, melainkan untuk mengundang Sang Juruselamat, yaitu Yesus Kristus. Doa-doa yang dibacakan dalam arak-arakan bisa diganti dengan doa syafaat untuk kesejahteraan suku Tengger. Selain itu, simbol sesaji dapat diubah menjadi bentuk bantuan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan atau kegiatan bakti Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus Namun, pendekatan ini sering menghadapi tantangan dalam membedakan antara akomodasi yang sehat dan sinkretisme. Ini adalah upaya untuk menggabungkan pandanganpandangan yang berbeda menjadi suatu kesatuan yang kohesif atau pandangan dunia. Penyerapan suatu keyakinan ke dalam agama lain, yang mengubah identitas asli keyakinan yang sebelumnya dianut, secara teologis dikenal sebagai sinkretisme. Ini adalah perpaduan yang tidak terkendali antara keyakinan asli dengan iman Kristen (Talan, 2. Dan apabila terlalu banyak adaptasi dapat mengaburkan kebenaran Injil dan melemahkan otoritas Alkitab. Oleh karena itu, kehati-hatian diperlukan dalam penerapan pendekatan ini agar tetap setia kepada ajaran Kristen yang sejati. Pedekatan Terjemahan Bevans menciptakan Pendekatan Terjemahan. Metode ini menempatkan penekanan yang kuat pada pengumuman Injil sebagai pesan yang tidak dapat diubah, namun tetap bertujuan untuk memodifikasi atau menyesuaikan isi yang sesuai dengan budaya tertentu (Buku & Ketiga. Namun berbeda denga pendekatan adaptasi yang disampaikan di atas. Pendekatan adaptasi lebih ke penyesuaian dan penerimaan budaya. Sedangkan pendekatan terjemahan ini lebih ke menjelaskan atau mengutarakan firman dengan bahasa yang dapat di terima. Pendekatan terjemahan ini menggunakan gambaran atau metafora yang berasal dari budaya partisipan untuk menjelaskan pesan Injil. Tujuannya adalah agar ajaran dalam kitab suci dapat dipahami dengan jelas. Meskipun disebut sebagai pendekatan terjemahan, ini bukan hanya sekadar menerjemahkan kata-kata atau bahasa ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti, tetapi juga menyampaikan inti dan makna kebenaran Injil. Fokus utama dari model terjemahan ini adalah menjaga identitas Kristen sambil dengan sungguh-sungguh menghormati kebudayaan, perubahan sosial, dan sejarah (Bevans, 2. Contoh dalam tulisan ini adalah upacara Unan-unan yang dilakukan oleh Suku Tengger. Sesajen mungkin tetap akan dilakukan namun bukan untuk Roh leluhur melainkan hanya seperti sebuah simbol peresembahan kepada Tuhan. Ritual penyembelihan korban yang di lakukan diganti sebagai makan besar bersama untuk menjaga kesatuan. Ritual-ritual untuk membersihkan desa tetap dilakukan namun dengan memberitakan Injil kebenaran. inilah beberapa contoh pendekatan Terjemahan sehingga tidak langsung menghapus tradisi atau upacara namun memberikan makna yang baru. Ada beberapa catatan penting yang perlu dipertimbangkan bagi teolog kontekstual yang menggunakan model terjemahan: Pertama, terlalu menekankan kemurnian doktrin yang justru bisa mendapatkan boomerang dalam penginjilan di budaya tertentu. Juga bisa dikatakan kurang relevan atau terlalu kaku. Dan apabila kita terlalu memaksakan hanya dengan pendekatan terjemahan ini maka akan terjadi bentrok atau justru terjadi penolakan dan tidak di hargai. Pendekatan Praktis Model Praktis Teologi Kontekstual lebih menekankan pada tindakan dan refleksi atas tindakan tersebut daripada pada teori atau ajaran tradisional. Model ini secara langsung menanggapi setiap budaya kontemporer. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan dampak Kontribusi adalah kunci utama dari pedenkatan praktis. Pendekatan ini Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus menekankan bahwa teologi tidak hanya bertujuan untuk pemahaman yang benar, tetapi lebih berfokus kepada tindakan yang benar. Sehingga pendekatan ini tidak terus berbicara tentang doktrin dan Injil saja tetapi justru Doktrin dan Injil dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dalam Upacara Unan-unan yang dilakukan suku Tengger. Pendekatan Praktis ini diwajibkan untuk ikut melakukan Upacara Unan-unan bahkan mengambil bagian dalam Upacara Unan-unan meskipun bukan berarti percaya kepada hal-hal mistis yang ada Tetapi dengan mengambil bagian dan masyarakat dapat langsung menikmati apa yang dikerjakan oleh gereja maka banyak sekali kesempatan untuk membawa mereka kepada Injil. Disaat kita berpartisipasi kita memiliki kesempatan yang sangat banyak seperti berinteraksi kepada tokoh adat dan masyarakat, kita juga dapat memeprsiapkan pra-upacara seperti mengadakan pengobatan gratis, mengadakan gotong royong, dll. dengan kita ikut terlibat kita bisa memasukan Injil kedalam Suku Tengger secara berlahan. Namun Pendekatan Praktis juga memiliki banyak kritik dan juga kelemahan. Ketakutan terbesar dari pendekatan Praktis ini adalah bahwa gereja lebih banyak terjun kepada kegiatan sosial dan lupa untuk memberitakan Injil. Bahkan pendekatan Praktis juga dapat membawa gereja kepada penyembahan-penyembahan berhala karena rutinitas yang dilakukan karena itu meskipun pendekatan praktis memiliki dampak yang sangat baik namun bagi gereja tetapi harus memiliki fokus yang kuat dalam memberitakan Injil. Selain itu untuk pendekatan Praktis diperlukan Sumber daya manusia yang besar yang memiliki visi yang sama dan bergerak bersama. Aspek Definisi Fokus Metode Dampak Tabel Pendekatan Adaptasi. Terjemahan. Praktis Adaptasi Terjemahan Praktis Menyesuaikan ajaran Menerjemahkan ajaran Menerapkan ajaran Kristen agar bisa Kristen ke dalam Kristen melalui diterima oleh budaya bahasa dan konsep tindakan nyata yang lokal dengan lokal tanpa banyak berhubungan langsung mengubah isinya. dengan kehidupan nilai dan tradisi sehari-hari masyarakat. Menyesuaikan ajaran Penyampaian pesan Menghidupi ajaran Kristen dengan Kristen dalam bentuk Kristen melalui aksi budaya lokal sehingga yang dapat dipahami nyata yang berdampak lebih dapat diterima. tanpa perubahan besar pada masyarakat. dalam substansi. - Menggunakan - Penerjemahan Alkitab - Berpartisipasi dalam simbol budaya ke bahasa daerah. kegiatan sosial. setempat untuk - Menggunakan istilah - Membangun menjelaskan Injil. lokal dalam pengajaran. hubungan melalui aksi - Menyelaraskan ajaran Kristen dengan nilai-nilai lokal. - Masyarakat lebih - Pesan Injil lebih - Injil dirasakan dalam Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus Kelebihan Kelemahan menerima karena ada kesamaan nilai. - Risiko sinkretisme . ampuran agama yang tidak murn. - Lebih diterima oleh masyarakat setempat karena tidak dianggap - Memperkuat hubungan dengan komunitas lokal. - Bisa bercampur dengan kepercayaan lokal dan mengaburkan ajaran - Membutuhkan pendekatan yang hatihati agar tidak bertentangan dengan Injil. mudah dipahami. - Risiko kurangnya kedalaman pemahaman budaya lokal. kehidupan sehari-hari. - Masyarakat lebih terbuka terhadap ajaran Kristen. - Mudah dilakukan dengan menerjemahkan teks Injil ke dalam bahasa lokal. - Tidak mengubah ajaran dasar. - Membawa dampak langsung yang bisa dirasakan masyarakat. - Memperlihatkan nilai Injil dalam aksi nyata. - Bisa kehilangan makna asli karena perbedaan bahasa dan konsep budaya. - Kurang dinamika sosial. - Membutuhkan sumber daya dan keterlibatan aktif yang lebih besar. - Bisa dianggap sebagai aktivitas sosial saja tanpa pemahaman Strategi Gereja Untuk Upacara Unan-unan Suku Tengger Gereja perlu memiliki fokus dan juga pelatihan untuk jemaat dalam melakukan pendekatanpendekatan dalam berkontekstualisasi. Baik pendekatan terjemahan. Adaptasi maupun praktis memiliki pengaruh yang berbeda, dampak yang berbeda tetapi diharapkan mendapatkan hasil yang sama yaitu penjangkauan jiwa atau membawa jiwa kepada Kristus. Strategi pertama yang harus dilakukan adalah memiliki pemahaman terhadap Suku Tengger dan juga Upacara Unan-unan. Tidak sampai sana melainkan gereja juga perlu strategi seperti berbicara dengan bahasa-bahasa Masyarakat Tengger. Karena studi kontekstual teologi berarti menginterpretasikan, mengkomunikasikan, dan mengaplikasikan dogmatika ataupun teologi kedalam budaya lokal (Rumbay et al. , 2. Sehingga meskipun kita mengetahui tentang Injil bukan berarti kita tidak belajar tentang budaya suku Tengger dan juga Upacara Unanunan. Hal yang perlu dipersiapkan gereja tidak hanya tentang pendekatan namun pembekalan akan setiap anggota-anggota gereja. Karena dalam proses ini menghubungkan antara kepercayaan adat istiadat dan juga kepercayaan Iman Kristen sehingga sangat rawan dengan sinkretisme. Meskipun sebenarnya konteks dari sinkretisme positif tetapi apabila kita hubungkan dengan kontekstualisasi maka ini akan menjadi konteks yang negatif. Dikarenakan memang sinkretisme mengadopsi atau menghubungkan dua kepercayaan menjadi satu. Dan sinkretisme ini terjadi di gereja tanpa disadari dan masih menjadi misteri (Talan, 2. Sikretisme sangat berbahaya karena dapat membuat hilagnya kebenaran Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus mutlak dalam Kristus. Karena itu gereja harus mempersiapkan jemaatnya terlebih dahulu sebelum dapat memulai untuk bermisi. Pemuridan sangat diperlukan untuk membawa jemaat mengerti dan kokoh dalam Iman Kristen. Setelah itu barulah jemaat-jemaat dapat menjalankan perannya dalam berkontekstualisasi. Seperti yang ditulis oleh penulis tentang suku Tengger. Suku Tengger sangat terkenal dengan toleransi beragamanya. Ini sebenarnya adalah kesempatan untuk gereja dapat masuk dengan pendekatan-pendekatan untuk mengenalkan Injil kepada mereka. Gereja dapat memulai masuk dimulai dengan Pendekatan Praktis, lalu masuk dengan pendekatan Adaptasi dan terakhir bisa masuk dengan pendekatan Terjemahan. Meskipun ini tidak selalu berurutan tetapi strategi pendekatan diperlukan untuk dapat memasukan Injil dalam suku Tengger. Tidak ada pendekatan yang lebih baik dari pendekatan yang lain. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan karena itu kita perlu bijaksana dan meminta hikmat kepada Tuhan untuk melakukan pendekatan-pedekatan tersebut (Bevans, 2. Kita perlu mengarahkan anakanak muda, anak-anak kecil, bahkan senior-senior untuk dapat melakukan pendekatanpendekatan ini. Memulai dengan pendekatan praktis adalah hal yang sangat baik karena memang sangat mudah mendapatkan respon yang cepat dan dapat terlihat. Komunikasi dengan pemimpin atau dukun suku Tengger juga adalah strategi yang sangat baik dilakukan asalkan kita perlu hati-hati disaat berkomunikasi dengan pemimpin suku tersebut. Karena dukun Suku Tengger yang biasa di sebut dukun pandita memiliki kepercayaan yang sangat besar dari warga Suku Tengger. Karena itu kita perlu bijaksana dan hati-hati serta tidak menyerang budaya atau kepercayaan mereka namun kita dapat mempelajari pemikiran mereka AiWorld ViewAn dan kita sedikit demi sedikit memasukan AiGospel ViewAn dalam budaya dan tradisi mereka. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa gereja dapat mengakomodasi upacara adat Suku Tengger, khususnya upacara unan-unan, melalui penerapan kontekstualisasi Injil dengan cara yang bijaksana dan relevan. Kontekstualisasi Injil bertujuan untuk menyampaikan pesan Kristen dalam bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat Tengger tanpa menghilangkan prinsip-prinsip dasar ajaran Kristen. Pendekatan ini memungkinkan gereja untuk menghormati budaya lokal sekaligus memperkenalkan nilainilai iman Kristen yang sejati. Dalam konteks upacara unan-unan, gereja dapat melakukan adaptasi dengan mengubah atau mengganti elemen-elemen yang bertentangan dengan ajaran Kristen, seperti pemanggilan roh leluhur atau persembahan sesaji, dengan simbol-simbol yang lebih sesuai dengan ajaran Kristen. Misalnya, dalam mengganti persembahan sesaji, gereja dapat menggantinya dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan, serta mengubah fokus upacara yang semula mengarah pada pemujaan terhadap roh menjadi penghormatan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun, perlu diingat bahwa gereja harus menghindari praktik sinkretisme, yaitu pencampuran ajaran Kristen dengan elemen-elemen adat yang bertentangan dengan iman Kristen. Pendekatan yang diambil harus tetap mencerminkan kebenaran Injil dan menjaga integritas iman Kristen. Oleh karena itu, penting bagi gereja untuk melakukan proses pembelajaran dan dialog yang intens dengan masyarakat Tengger agar adaptasi budaya yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 2 Juni 2024 Yosua Gunawan. Yanto Paulus dilakukan tidak merusak esensi ajaran Kristen. Secara keseluruhan, strategi gereja dalam mengakomodasi upacara adat Suku Tengger bukan hanya bertujuan untuk menyampaikan Injil, tetapi juga untuk membangun hubungan yang harmonis dengan budaya setempat. Dengan kontekstualisasi yang tepat, gereja dapat menjangkau masyarakat Tengger dengan cara yang relevan, menghargai tradisi mereka, dan tetap berpegang teguh pada kebenaran iman Kristen. Hal ini juga membuka peluang bagi gereja untuk lebih inklusif dan mendekatkan diri kepada masyarakat adat, tanpa mengorbankan esensi ajaran yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus. DAFTAR PUSTAKA