Original Research Paper Hubungan Kekerabatan Fenetik Sembilan Spesies Anggota Myrtaceae Berdasarkan Morfologi dan Karakter Anatomis Daun Phenetic Relationship of Nine Species of Myrtaceae family Based on Morphology and Leaf Anatomical Characters Nabila Hasna Rizanda1 * dan Ratna Susandarini1 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia. Corresponding Author: nabila. rizanda@mail. Abstrak: Myrtaceae merupakan famili yang dikenal memiliki ciri khas mengandung minyak atsiri yang bermanfaat sebagai antiinflamasi dan antibakteri. Myrtaceae yang ditemukan di Indonesia diketahui memilikilebih dari 30 genera dengan variasi morfologis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui kekerabatan fenetik sembilan spesies berdasarkan karakter morfologis dan anatomis daun. Analisis hubungan kekerabatan fenetik dilakukan berdasarkan morfologis dan karakter anatomis daun. Sampel tanaman dikumpulkan dari daerahHutan Wanagama dan Imogiri. Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sembilan spesies yang diteliti tergolong dalam genus Eucalyptus. Syzygium. Eugenia. Psidium, dan Melaleuca. Analisis kekerabatan fenetik dilakukan dengan analisis klaster terhadap 30 karakter morfologis dan anatomis daun menggunakan jarak Euclidean dan metode klastering UPGMA. Hasil analisis menunjukkan pembentukan dua Klaster pertama terdiri atas spesies dari genus Eucalyptus, sedangkan klaster kedua terdiri atas spesies dari genus Syzygium. Eugenia. Psidium, dan Melaleuca. Hasil analisis komponen utama menunjukkan karakter permukaan batang, tipe kristal kalsium oksalat, dan bentuk ujung daun adalah yang berperan besar dalam pengelompokkan spesies dan genera. Hasil penelitian ini menegaskan peran karakter morfologis dan anatomis sebagai bukti taksonomi untuk klasifikasi spesies dan genus dalam famili Myrtaceae. Kata kunci: Bukti taksonomi. Myrtaceae. taksonomi numerik Abstract: Myrtaceae family is well-known for its beneficial essential oils as anti-inflammatory and anti-bacterial. There are more than 30 genera within Myrtaceae family in Indonesia, and they show high morphological This study aims to determine the phenetic relationship of nine species of Myrtacee based on the morphology and leaf anatomical characters. The phenetic relationship was analyzed based on morphology and leaf anatomical characters. Plant samples were collected from the Wanagama and Imogiri Forest areas. Special Region of Yogyakarta. Sample identification resulted in the recognition of nine species belong to the genera Eucalyptus. Syzygium. Eugenia. Psidium, and Melaleuca. Phenetic relationship analysis was carried out by cluster analysis of 30 morphological and leaf anatomical characters using Euclidean distance and the UPGMA clustering The resulted dendogram showed the formation of two clusters. The first cluster consists of species from the genus Eucalyptus, while the second cluster consists of species from the genera Syzygium. Eugenia. Psidium, and Melaleuca. The results of principal component analysis showed that bark structure, the type of calcium oxalate crystals, and leaf apex were a three characters with major role in the grouping of species and genera. The results of this study confirm the role of morphological and anatomical characters as taxonomic evidence for the classification of species and genera in Myrtaceae family. Keywords: Taxonomic evidence. Myrtaceae. numerical taxonomy Dikumpulkan: 21 Mei 2023 Direvisi: 13 Juli 2023 Diterima: 20 Desember 2024 Dipublikasi: 31 Desember 2024 Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. Pendahuluan Indonesia sebagai negara mega biodiversity dengan kekayaan alam tersebar baik di daratan maupun di perairan (Yarman & Damayanti Keanekaragaman flora yang ada di Indonesia merupakan salah satu aspek penting Myrtaceae yang dikenal sebagai kelompok tumbuhan jambu-jambuan merupakan famili yang terkenal akan kandungan minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan sebagai anti inflamasi dan anti mikroba serta memiliki buah berdaging yang dapat dikonsumsi (Wilson & Kubitzki 2011. Craven et al. Famili ini diketahui memiliki lebih dari 142 genus dan 5500 spesies dengan sebaran geografis di daerah tropis seperti Amerika Selatan. Australia. Asia dan beberapa area di Afrika (Wilson & Kubitzki Menurut Craven et al . terdapat 30 genus Myrtaceae yang ada di Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keberagaman flora sangat tinggi dan berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY pada tahun 2016 terdapat 805 spesies tumbuhan tinggi yang terdiri atas 110 famili yang dijumpai pada ekosistem darat, 12 famili pada ekosistem perairan, dan 4 famili flora yang dilindungi (Hakim & Yulia 2. Data BLH DIY menunjukkan beberapa anggota dari famili Myrtaceae termasuk ke dalam jenis tanaman langka khas DIY yaitu Syzygium cumini . Eugenia jambos . ambu mawa. ambu dason. , dan E. jambo serta masing-masing memiliki nama lokal duwet, jambu darsono mawar, gowok, jambu dersono, dan jamblang putih (Hakim & Yulia Keberagaman spesies anggota famili Myrtaceae di Daerah Istimewa Yogyakarta menarik untuk diteliti lebih lanjut kekerabatan taksonominya melalui proses karakterisasi morfologi dan anatomi. Karakter morfologis diperoleh melalui pengamatan terhadap karakter yang tampak pada organ akar, batang, daun, bunga dan buah. Karakter anatomis dapat diamati berdasarkan kenampakan struktur bagian dalam organ tumbuhan. Karakterisasi morfologis dan anatomis dapat digunakan dalam analisis kekerabatan taksonomis antara spesies anggota Myrtaceae yang penting untuk dilakukan dalam Lokasi strategis negara Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa menjadikan proses pendataan dan dokumentasi keberagaman flora di Daerah Istimewa Yogyakarta (Rahman et al. Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2022 di Wanagama dan Imogiri sebagai lokasi pengambilan sampel Pembuatan sediaan mikroskopis pengamatan data anatomis dan analisis data dilakukan di Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan Laboratorium Sistematika Tumbuhan. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Bahan Bahan utama dalam penelitian ini adalah sampel tumbuhan anggota Myrtaceae didapatkan dari area Hutan Wanagama dan daerah Imogiri. Bahan kimia untuk pengawetan sampel ialah alkohol 70%. Bahan kimia untuk pembuatan sediaan mikroskopis anatomi daun terdiri atas FAA formalin:asam asetat glasial:alkohol 70% sebanyak 1:1:18, alkohol bertingkat, safranin 10%, xilol, paraffin, glycerin jelly, akuades, dan kanada balsam. Alat Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel antara lain gunting stek, botol koleksi, wrapping paper, ziplock, etiket gantung, alat tulis, logbook, dan kamera. Alat untuk pembuatan specimen herbarium meliputi kertas putih tebal, gunting, plastik transparan, selotip serta table penamaan herbarium. Pada proses pembuatan dan pengamatan sediaan mikroskopis anatomis daun digunakan alat berupa mikrotom putar. Optilab, mikroskop cahaya, kamera, gelas benda preparat, gelas penutup, gelas ukur, botolbotol bahan kimia, pensil, pipet kecil dan besar, jarum preparate, lap flannel, blok kayu dan tisu. Cara Kerja Koleksi sampel tumbuhan dilakukan pada habitat spesies di Hutan Wanagama dan Imogiri. Organ daun disimpan dalam tisu kertas yang sudah diberi air dan dimasukkan ke dalam kotak plastik sampel dalam alkohol 70%. Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. Pengamatan karakter morfologis organ batang dari spesies anggota famili Myrtaceae dilakukan secara langsung di lapangan. Pengamatan karakter morfologis daun diamati dengan melihat secara langsung serta membandingkan karakter satu dengan lainnya di Karakter morfologis organ buah dan bunga hanya ditemukan pada lebih sedikit spesies anggota sehingga tidak diamati secara langsung, sedangkan organ akar tidak dapat diamati secara langsung. Pembuatan sediaan mikroskopis anatomi daun dilakukan dengan metode parafin yang dimodifikasi dari Al-Edany et al . Daun yang telah disimpan dalam alkohol 70% dipotong dengan ukuran 2 x 1 cm dibagian tengah daun dan dilakukan fiksasi selama 24 jam dalam larutan FAA. Larutan FAA dibuang dan sampel diwarnai dengan safranin 10% dalam akuades selama 24 Dehidrasi dilakukan dengan merendam sampel dalam alkohol dengan konsentrasi bertingkat, yaitu konsentrasi 70%, 80%, 95%, absolut I dan absolut II masing- masing selama 30 menit. Dealkoholisasi dilakukan dengan perendaman dalam alkohol:xilol dengan perbandingan 3:1, 1:1, 1:3, xilol I dan xilol II masing-masing 30 menit. Tahap selanjutnya adalah mengganti media perendaman dari xilol II menjadi xilol:paraffin dengan perbandingan 1:9 dan perendaman sampel dilakukn dalam oven bersuhu 57oC selama 24 jam. Campuran xilol:paraffin dibuangdan diganti dengan paraffin murni selama 24 jamdan didiamkan di dalam oven bersuhu tetap 57oC. Paraffin dibuang kembali dan digantikan paraffin murni ke dua selama 1 jam sebelum penyelubungan sampel. Proses penyelubungan sampel dalam blok paraffin dilakukan menggunakan hot plate dalam keadaan paraffin masih sangat panas namun dipastikan tidak merusak sampel. Hasil penyelubungan dibiarkan selama 24 jam agar sel-sel pada jaringan sampel terselubungi secara keseluruhan oleh paraffin. Pengirisan blok paraffin berisi sampel daun dilakukan menggunakan mikrotom putar yang diatur untuk menghasilkan ketebalan 6-12 AAm. Irisan dilekatkan pada gelas benda bantuan akuades dan glycerin jelly. Gelas benda dikeringkan dengan hotplate bersuhu 45oC hingga pita paraffin meregang. Pewarnaan dilakukan dengan safranin 1% dalam alkohol 70% dengan xilol dan alkohol bertingkat. Penutupan sediaan mikroskopis atau mounting dilakukan dengan kanada balsam. Preparat diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 10x dan diambil gambar dengan kamera yang disambung dengan optilab. Analisis Data Data yang diperoleh dari pengamatan karakter morfologis dan anatomis digunakan dalam penentuan kekerabatan menggunakan metode taksonomi numerik. Data dikonversi menjadi angka atau skor numerik menggunakan multistate character pada karakter yang memiliki dua atau lebih keadaan dan binary character jika hanya memiliki 2 keadaan. Perhitungan indeks disimilaritas dilakukan dengan rumus Euclidean distance dan klastering menggunakan metode Unweighted Pair Group Method Arithmetic Mean (UPGMA) Penentuan peran karakter dalam pengelompokkan dilakukan dengan analisis komponen utama. Analisis klaster dan analisis komponen utama dilakukan menggunakan perangkat lunak Multivariate Statistical Program (MVSP) versi 3. 1 (Kovach, 2. Hasil dan Pembahasan Karakter morfologis dan anatomis spesies anggota Myrtaceae Pengamatan karakter morfologis dan anatomis daun sembilan spesies anggota Myrtaceae menghasilkan 30 karakter yang ditampilkan pada Tabel 1. Karakter tersebut terdiri atas 21 karakter kualitatif dan 9 karakter Menurut Rohaeni & Yunani . kombinasi antara karakter kualitatif dan kekerabatan yang baik. Ketiga puluh karakter tersebut digunakan sebagai dasar penentuan kekerabatan fenetik. Tabel 1. Data Morfologi dan Anatomi Daun Spesies Anggota Myrtaceae dan Skor Numeriknya Kode dan Nama Karakter yang diamati Keterangan Habitus (HBT) Karakter umum 2=pohon Arah tumbuh cabang batang (ATCB) 1=perdu. 1=condong ke 2=tegak. 3=menggantung Warna batang pokok (WBP) 1=cokelat. 2=putih Permukaan batang (TRTK) 1=Kasar. Tidak bercabang, dan terkelupas lebar 3=Retakan lebih halus. 4=Banyak Karakter makro- Irisan. 5=tidak beraturan dan berwarna putih Tata letak daun (FLT) 1= berseling . 2=berhadapan . 3=alternateopposite Rerata panjang tangkai daun (PTKD) 1= 0-0,71cm. 2=0,72-1,42cm. 3=1,43-2,13 cm Pangkal daun (BPKD) 1=Tumpul. Runcing Tepi daun (BTPD) 1=Rata. Ujung daun (BUD) 1= meruncing dan bengkok . 3=runcing. Permukaan helaian daun (TKSR) 1=halus . 2=berkerut . Warna daun (WRND) 1=hijau. 2=hijau Tekstur helaian daun (KAKU) 1=lemas. agak kaku. 3=kaku Bentuk daun (BTKD) 1=bulat . 4=menjorong Venasi (VENA) 1=menyirip. 2=sejajar Rerata ketebalan kutikula (TBLK) 1=0,22-0,35AAm. 2=0,36-0,48AAm. 3=0,49-0,61AAm. 4=0,62-0,74 Rerata ketebalan epidermis (TBLE) 1=0,76-0,88AAm. 2=0,89-1,00 AAm. 3=1,011,12 AAm. 1,13-1,24 AAm. 5=1,24-1,36 AAm Tipe Stomata (STOM) 1=anomositik. = parasitik. Tipe trikoma (TRIK) 1=non tidak ada Karakter Tipe mesofil (MESO) 1=dorsiventral. 2= isobilateral Lapisan palisade (PLSD) 1= 1 baris. 3= 2 baris . Rerata jumlah kristal druses pada palisade per bidang pandang (JKRP) 1=5-33,7. 2=33,8-62,4. 62,5-91,1 Rerata jumlah kristal druses pada ibu tulang daun (JKRM) 1=4-24,33. 2=24,34-44,66. 3=44,67-65 Rerata jumlah sel sekret pada palisade per bidang pandang (JSKP) 1= 2,5-5,35. 2=5,36-8,2. 3=8,21-11,05 Rerata jumlah sel sekret pada ibu tulang daun per bidang 1=0-1. 2=2-3 pandang (JSKM) Rasio lebar ibu tulang daun terhadap lamina (RASI) 1=1,26-2,24. 2=2,25-3,22. 3=3,23-4,2 Rerata diameter sel sekretori (UKSK) 1=4,75-5,84. 2=5,85-6,93. 3=6,94-8,02. 4=8,03-9,11 Tipe crystal (CLUK) 1=druses. 2=druses dan Spherical. 3=druses dan 4=druses,spheri cal, raphide. druses dan Permukaan adaksial ibu tulang daun (MDAD) 1=rata. 2=beralur. 3=konveks Tipe berkas pengangkut pada ibu tulang daun (MARC) 1=terbuka. Bentuk berkas 2=tertutup. 3=melengkung. 4=seperti Posisi berkas pengangkut terhadap lamina (MPOS) 1=sejajar. 2=bengkok Gambar 1. Dendogram dengan jarak Euclidean Hubungan Kekerabatan Spesies Anggota Myrtaceae Hasil analisis klaster yang ditampilkan pada Gambar 1. menunjukkan terdapat dua klaster utama. Klaster pertama terdiri atas Eucalyptus urophylla. pellita dan E. Klaster kedua terdiri atas Syzygium aqueum. Eugenia uniflora, dan Psidium guajava. Diantara sembilan spesies Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167 Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. anggota famili Myrtaceae yang diteliti, hanya Melaleuca leucadendron yang terpisah dari kedua klaster yang terbentuk. Melaleuca leucadendron pada penelitian ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan anggota Myrtaceae lainnya pada karakter arah tumbuh cabang batang yang menggantung, permukaan batang berwarna putih dan retakan tidak beraturan, permukaan helaian daun yang berambut, venasi utama sejajar dan tipe berkas pengangkut pada ibu tulang daun yang terbuka dengan bentuk seperti kerang. Kedua klaster yang terbentuk memiliki perbedaan utama pada permukaan batang, rerata panjang tangkai daun, pangkal daun, ujung daun, permukan helaian daun, bentuk daun, rerata ketebalan epidermis, permukaan adaxial pada ibu tulang daun. Klaster satu memiliki permukaan batang yang terkelupas lebar, retakan bercabang dan tidak beraturan dengan pada salah satu spesiesnya memiliki modifikasi, sedangkan klaster dua memiliki permukaan batang yang terkelupas tidak bercabang dan lebih halus. Panjang tangkai daun pada klaster satu berkisar dari 0,71 cm Ae 2,13 cm, sedangkan klaster dua memiliki beberapa anggota yang tidak bertangkai Pangkal daun pada klaster satu ialah tumpul, sedangkan pada klaster dua memiliki karakter menjantung dan runcing kecuali pada Syzygium cumini yang memiliki pangkal daun Ujung daun pada klaster 1 ialah meruncing dan bengkok, sedangkan pada klaster 2 bervariasi antara berbelah, runcing dan Permukaan helaian daun pada klaster satu rata, sedangkan beberapa anggota klaster dua memiliki tipe berkerut dan berambut. Klaster satu memiliki dua variasi bentuk daun yaitu bulat memanjang dan melanset, sedangkan klaster dua lebih bervariasi karena memiliki variasi bulat memanjang, membulat, menjorong, dan Rerata ketebalan epidermis pada klaster satu memiliki rentang 1,01 Ae 1,36 AAm, sedangkan pada klaster dua memiliki rentang 0,76 Ae 1,38 AAm. Permukaan adaxial pada ibu tulang daun klaster satu rata, sedangkan pada klaster dua bervariasi antara beralur dan konveks. Peran karakter morfologis dan anatomis dalam pengelompokkan spesies seperti yang dari analisis komponen utama. Analisis komponen utama yang berupa nilai character loadings dan eigen value ditampilkan dalam Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa komponen utama pertama . mewakili 27,54% total varians, komponen utama kedua . menunjukkan 18,28% varians, sedangkan komponen utama ketiga . mewakili 16,11% varians. Tabel 2. Eigen values Karakter Morfologis dan Anatomis pada Tiga Aksis Komponen Utama Aksis 1 Aksis 2 Aksis 3 1-HBT -0,092 -0,063 0,143 2-ATCB 0,099 -0,184 0,092 3-WBP 0,095 -0,129 0,038 4-TRTK 0,442 0,088 0,207 5-FLT 0,161 0,242 0,03 6-PTKD -0,289 -0,015 -0,048 7-BPKD 0,293 0,093 -0,038 8-BTPD 0,051 0,038 -0,18 9-BUD 0,374 0,154 0,27 10-TKSR 0,213 -0,182 -0,116 11-WRND 0,041 0,025 0,037 12-KAKU 0,125 0,093 -0,299 13-BTKD 0,215 -0,255 0,099 14-VENA 0,095 -0,129 0,038 15-TBLK 0,115 0,358 0,153 16-TBLE -0,326 0,184 0,329 17-STOM 0,071 0,065 0,093 18-TRIK -0,189 -0,067 -0,032 19-MESO 0,019 -0,228 -0,028 20-PLSD 0,023 -0,182 -0,064 21-JKRP -0,04 -0,103 -0,284 22-JKRM -0,039 0,091 -0,349 23-JSKP 0,19 -0,283 -0,293 24-JSKM 0,051 0,168 -0,162 25-RASI -0,011 0,164 -0,2 26-UKSK 0,063 -0,064 -0,257 27-CLUK 0,18 -0,432 0,184 28-MDAD 0,263 0,215 -0,073 29-MARC -0,106 -0,27 0,252 30-MPOS 0,051 0,038 -0,18 Nilai character loadings pada komponen utama pertama (Axis . berkorelasi kuat dengan delapan karakter membedakan anggota klaster satu dan klaster 2 pada dendrogram, yang ditunjukkan dengan nilai lebih besar dari 0,2. Karakter pembeda tersebut ialah permukaan batang, rerata panjang tangkai daun, pangkal Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167 Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. daun, ujung daun, permukan helaian daun, bentuk daun, rerata ketebalan epidermis, permukaan adaxial pada ibu tulang daun. Pada komponen utama kedua juga terdapat delapan karakter yang memiliki nilai lebih besar dari 0,2 yaitu filotaksis, bentuk daun, rerata ketebalan kutikula, tipe mesofil, rerata jumlah jaringan sekretori pada palisade per bidang pandang, tipe kristal kalsium oksalat pada helaian daun, permukaan adaxial pada ibu tulang daun, dan tipe berkas pengangkut pada ibu tulang daun. Hal ini menunjukkan bahwa kedelapan karakter tersebut mewakili variasi tertinggi kedua dalam data. Pada komponen utama ketiga terdapat sembilan karakter yang menonjol yang menunjukkan pengaruh variasi tertinggi ketiga dalam data. Kesembilan karakter tersebut ialah yaitu permukaan batang, ujung daun, tekstur helaian daun, rerata ketebalan epidermis, rerata jumlah kristal palisade per bidang pandang, rerata jumlah kristal pada ibu tulang daun, rerata jumlahjaringan sekretori pada palisade per bidang pandang, rerata diameter jaringan sekretori, dan tipe berkas pengangkut pada ibu tulang daun. Kombinasi 21 karakter ini memberikan kontribusi yang cukup besar padapengelompokkan aksesi. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa karakter permukaan batang, tipe kristal kalsium oksalat dan bentuk ujung daun merupakan karakter yang sangat berpengaruh dalam pembentukan dua klaster karena memiliki nilai character loadings tertinggi. Tipe permukaan batang spesies yang tergolong dalam klaster satu (Gambar . memiliki dua variasi yakni permukaan berwarna cokelat yang kasar tidak beraturan, bercabang serta mudah terkelupas lebar serta variasi terdapat modifikasi batang yang membentuk sulur. Batang spesies anggota klaster dua permukaannya memiliki variasi berupa retakan yang halus, tidak bercabang dan mudah terkelupas serta variasi terdapat banyak retakan yang membentuk seperti Bizarro et al. menyatakan bahwa terdapat enam karakter dendrologis yang dapat membedakan antar spesies Myrtaceae, salah satu diantaranya ialah aspek dan warna kulit batang. Hasil pengamatan sediaan mikroskopis anatomi daun menunjukkan keberadaan kristal kalsium oksalat yang bervariasi tipenya (Gambar . Tipekristal oksalat yang dijumpai meliputi druses, spherical, rhombohedral, prismatik dan Menurut Retamales et al. , tipe kristal kalsium oksalat yang paling umum terdapat pada famili Myrtaceae ialah druses dan prismatik . hombohedral dan spherica. Klaster 1 memiliki tipe kristal druses dan prismatik, sedangkan klaster 2 bervariasi antara druses, rafida, rhombohedral, spherical, dan prismatik. Bentuk ujung daun (Gambar . spesies anggota Myrtaceae juga mempengaruhi pembentukan klaster 1 dan 2. Pada klaster 1 bentuk ujung daun semua anggota spesiesnya ialah meruncing dan bengkok . , sedangkan pada klaster 2 terdapat variasi bentuk daun berbelah . , runcing dan meruncing. Viacrucis & Buot . menyatakan bahwa bentuk ujung daun merupakan salah satu karakter yang mampu membedakan spesies Syzygium aqueum dengan Syzygium samarangense dibandingkan berbagai karakter lain yang menunjukkan banyak kesamaan antara kedua spesies tersebut. Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167 Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. Gambar 2. Karakter permukaan batang spesies anggota Myrtaceae: . Eucalyptus pellita pembentukan sulur. urophylla dengan permukaan batang yang kasar, pola retakan tidak beraturan serta bercabang secara vertical, dan memiliki bagian terkelupas lebar. Psidium guajava dengan permukaan batang halus, memiliki retakan tidak bercabang, terkelupas lebar. Syzygium cumini dengan pola retakan irisan. Melaleuca leucadendron dengan permukaan halus, pola retakan tidak beraturan, dan berwarna putih Gambar 3. Tipe kristal: . rhombohedral pada Eugenia uniflora. rafida dan prisma pada Syzygium cumini. spherical dan druses pada Gambar 4. Karakter ujung daun pada 3 spesies anggota Myrtaceae: . Eucalyptus pellita meruncing dan bengkok. Syzygium aqueum dan . Melaleuca leucadendron runcing. Klaster satu pada dendogram terbagi menjadi dua subklaster, yaitu IA yang terdiri atas Eucalyptus graciana dan IB yang terdiri atas E. urophylla dan E. Karakter pembeda pada kedua subklaster tersebut ialah rerata ketebalan Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167 Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. epidermis dan rerata diameter jaringan sekretori. Eucalyptus graciana memiliki ketebalan epidermis sebesar 1,01-1,12 AAm, sedangkan E. pellita dan E. urophylla memiliki ketebalan epidermis sebesar 1,24-1,36 AAm. Karakter selanjutnya ialah rerata diameter jaringan sekretori pada subklaster 1B yang memiliki diameter sebesar 5,85-6,93 AAm, sedangkan pada graciana memiliki diameter sebesar 8,03-9,11 AAm. Menurut Santos et al. , densitas dari struktur sekretori dapat dipengaruhi oleh jumlah produksi senyawa metababolit sekunder yang berbeda pada tiap spesies walaupun kapasitas produktivitasnya harus diteliti lebih lanjut dengan studi kimia kuantitatif. Pada penelitian Santos et al. juga disebutkan bahwa E. pellita memiliki densitas struktur sekretori bagian sub-epidermal yang paling besar dibandingkan enam spesies yang diteliti Berdasarkan perbandingan tersebut, maka diperkirakan bahwa pellita yang digunakan dalam penelitian ini menghasilkan produktivitas senyawa metabolit sekunder lebih rendah dibandingkan E. Klaster dua terbagi menjadi dua subklaster yaitu IIA yang terdiri atas Syzygium cumini dan S. aqueum serta subklaster IIB yang terdiri atas S. Eugenia uniflora, dan Psidium guajava. Pembagian anggota klaster dua menjadi dua subklaster ditentukan oleh karakter permukaan batang, ujung daun, bentuk daun, tipe kristal rafida serta tipe berkas pengangkut pada ibu tulang daun. Spesies dalam subklaster IIA memiliki permukaan batang yang banyak terlihat seperti irisan, sedangkan subklaster IIB memiliki retakan yang tidak bercabang, terkelupas dan lebih halus. Bizarro et al. menyebutkan bahwa Eugenia uniflora memiliki kulit yang terkelupas berbilah-bilah seperti biji. Bentuk ujung daun spesies pada subklaster IIA ialah meruncing, sedangkan pada subklaster II B runcing dan berbelah . Bentuk daun juga mempengaruhi pengelompokkan subklaster IIA yang memiliki bentuk daun menjorong, sedangkan anggota IIB memiliki oblongus dan Subklaster IIA memiliki tipe kristal kalsium oksalat druses, spherical dan rafida, sedangkan subklaster IIB memiliki tipe kristal druses, spherical, dan rhombohedral. Tipe kristal kalsium oksalat spherical pada penelitian ini hanya dapat ditemukan pada anggota subklaster IIA, yaitu Syzygium cumini. Eugenia uniflora memiliki tipe kristal rhombohedral yang tidak ditemukan pada anggota subklaster IIB Karakter pembeda lainnya ialah berkas pengangkut pada ibu tulang daun yang bertipe melengkung pada subklaster IIA, sedangkan pada subklaster IIB dijumpai berkas pengangkut bertipe terbuka dan tertutup. Al-Edany & AlSaadi . menyebutkan bahwa Syzygium memiliki bentuk berkas pengangkut seperti huruf U atau yangpada penelitian disini disebut sebagai melengkung dengan adanya tambahan bagian seperti sayap pada ujung lengkungannya. Berkas pengangkut Psidium juga disebutkan berbentuk huruf U, namun karena tidak memiliki tambahan bagian yang bersayap maka dalam penelitian ini tidak disatukan menjadi karakter yang sama. Melaleuca leucadendron tidak termasuk kedalam kedua klaster ini karena memiliki karakter dengan persamaan paling rendah diantara spesieslainnya. Secara menunjukkan bahwa setiap kelompok spesies yang terbentuk dari hasil analisis klaster dapat dengan jelas membedakan kombinasi karakter morfologi dan karakter anatomis daun. Hal ini menunjukkan bahwa karakter morfologis dan anatomis berperan dalam klasifikasi anggota Myrtaceae, baik pada tingkat genus maupun Karakter permukaan batang, tipe kristal kalsium oksalat, dan bentuk ujung merupakan tiga karakter yang memiliki peran paling besar dalam membentuk pola kekerabatan fenetik pada sembilan spesies anggota Myrtaceae yang Hasil penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan dua metode fenetik, yakni analisis klaster dan analisis komponen utama berfungsi sebagai pemberi dukungan empiris yang kuat dalam menentukan pengelompokan aksesi tumbuhan berdasarkan karakter morfologis dan anatomis serta mampu menilai afinitas taksonominya (Susandarini, 2. Kesimpulan Kekerabatan fenetik sembilan spesies anggota famili Myrtaceae dalam penelitian ini dipengaruhi oleh tiga karakter utama, yaitu permukaan batang, tipe kristal kalsium oksalat dan bentuk ujung daun. Hasil analisis dengan metode taksonomi numerik menunjukkan bahwa 30 karakter morfologis dan anatomis yang digunakan dalam penelitian ini mampu Rizanda & Susandarini . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 167 Ae 177 DOI: 10. 22146/bib. membedakan genera dan spesies sesuai dengan klasifikasi dalam famili Myrtaceae. Ucapan terima kasih Terima kasih kepada Laboratorium Sistematika Tumbuhan. Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fakultas Biologi UGM serta Hutan Wanagama Fakultas Kehutanan UGM yang telah memfasilitasi penelitian ini. Referensi