Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus PROSES ASESMEN KLIEN DALAM PERENCANAAN INTERVENSI DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA (LKS-LU) PAYUNG BESUREK KOTA BENGKULU Ishak Fadlurrohim1. Despita Antika Jenny2. Yunilisiah3 1,2,3Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu Article history Received : 17 November 2023 Revised : 25 Juni 2024 Accepted : 27 Juli 2024 *Corresponding author Email : 3IshakFadlurrohim@unib. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Proses asesmen merupakan tahap menemukenali permasalahan dan perencanaan intervensi merupakan kegiatan yang terencana berdasarkan hasil penilaian sehingga proses asesmen dan perencanaan intervensi pada lanjut usia ditinjau dan dinilai dengan baik kekurangan dan kelemahan dari proses pelaksanaan asesmen tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif ini berupaya untuk menjelaskan proses asesmen klien dalam perencanaan intervensi yang ada di LKS-LU Payung Besurek Kota Bengkulu. Penentuan menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari Ketua Lembaga. Pekerja Sosial. Pendamping Lansia dan Lansia penerimaan layanan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan kualitatif deskriptif. LKS-LU Payung Besurek Menggunakan Biopsychosocial Spiritual Assessment (BPPS) untuk menemu kenali masalah dan kebutuhan lanjut usia. dalam proses asesmen terdapat 5 . Proses asesmen yang ada di LKS-LU sudah baik, namun masih perlu adanya peningkatan agar proses asesmen dalam perencanaan intervensi kepada klien dapat dilakukan secara komprehensif. Kendala proses asesmen dalam perencanaan intervensi adalah keterbatasan waktu, lansia sulit memahami pertanyaan. Sumber Daya Manusia yang kurang dan terbatasnya Namun LKS-LU Payung Besurek selalu mengupayakan pelayanan secara maksimal dan memperbaiki sistem yang ada termasuk proses asesmen dan perencanaan intervensi. Kata kunci: Asesmen. Perencanaan Intervensi. LKS-LU. Lansia ABSTRACT The assessment process is a stage of discovering problems, and intervention planning is a planned activity based on the results of the problem assessment. The assessment process and intervention planning for the elderly must be reviewed and assessed optimally to see the shortcomings and weaknesses of the assessment implementation process. This research uses a descriptive qualitative approach to explain the client assessment process in planning interventions at LKS-LU Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus Payung Besurek Bengkulu City. Determination of informants using purposive sampling technique consisting of the Head of the Institution. Social Workers, staff and Elderly. Data was collected using in-depth interviews, observation, and Data analysis techniques with descriptive Institution uses Biopsychosocial Spiritual Assessment to identify the problems and needs of the elderly. the assessment process, there are . The existing assessment process is good. However, there is still a need for improvement so that the assessment process in planning client interventions can be carried out comprehensively. The obstacles to the assessment process in planning interventions are time constraints, older adults needing help understanding questions, a lack of human resources, and a limited budget. However, strives for maximum service and improves the existing system, including the assessment process and intervention planning. Key word: Assessment. Intervention Planning. LKS-LU. Elderly PENDAHULUAN Pertumbuhan lanjut usia yang ada di Indonesia sudah terjadi kenaikan dalam setiap tahunnya. Sehingga munculah kemiskinan, keterlantaran, pelanggaran hukum hingga tindak kekerasan yang ketergantungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup (Triwanti. Ishartono and Gutama, 2. Jumlah penduduk lansia yang terus mengalami kenaikan merupakan sebuah prestasi dalam hal pembangunan dan menjadi sebuah tantangan dan segala aspek (Badan Pusat Statistik, 2. Berdasarkan No. Aukesejahteraan lanjut usia, dinyatakan bahwa lanjut usia adalah orang yang telah memasuki usia 60 tahun keatasAy (Hakim. Lanjut usia yaitu kelompok usia manusia yang sudah memasuki tahap akhir dalam fase kehidupannya sebagai manusia, kelompok ini akan mengalami proses yang biasanya disebut dengan aging process yang berarti proses penuaan (Tristanto. Provinsi Bengkulu memiliki jumlah penduduk lansia mencapai 162. 26 ribu orang pada tahun 2020, atau sekitar 8,06 persen dari seluruh penduduk. Angka dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 20 persen atau sekitar 243 ribu lansia di Provinsi Bengkulu (Bengkulu, 2. Sedangkan pada tahun 2021 penduduk lansia di Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan dengan jumlah 9,62 persen dari seluruh penduduk. Kenaikan tersebut diprediksi akan terus terjadi untuk beberapa tahun ke depan. (Bengkulu, 2. Hal ini sesuai dengan data susenas Pada tahun 2021, lansia di pedesaan mencapai 10,25% lebih besar persentasenya dibandingkan dengan lansia di perkotaan yang hanya sekitar 8,35%. Persentase lansia di Provinsi Bengkulu didominasi oleh lansia muda . -69 tahu. dengan persentase 6,39%, sisanya adalah lansia madya . -79 tahu. dengan persentase sebesar 2,48% dan lansia tua . sebesar 0,76% (Bengkulu, 2. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus Sedangkan dari hasil observasi awal di LKS-LU (Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usi. Payung Besurek Kota Bengkulu, terdapat 83 . elapan puluh tig. orang lansia dengan rincian sebagai berikut: Berdasarkan data pengelompokan umur baik dari pra lansia hingga lansia tua. Diketahui paling bayak 17,20% dan 17,00% di pedesaan dan perkotaan, namun peneliti memiliki fokus di lansia madya dengan jumlah 2,67% dan 2,08% di pedesaan dan di perkotaan, dikarenakan melihat persentase yang ada di LKS-LU Payung Besurek didominasi oleh Lansia Madya. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah mengadopsi 5 prinsip terhadap lanjut usia di bawah resolusi 46 tahun 1991 . alam Djamhari. Eka Afrina, 2. Prinsip tersebut disepakati oleh PBB dengan tujuan supaya pemerintah menjadikan perlindungan dan penghargaan kepada lanjut usia sebagai program prioritas pemerintah sehingga usaha untuk mempromosikan kemajuan sosial dapat terwujud. Adapun kelima prinsip tersebut adalah : . Kemandirian . , . Partisipasi . , . Perawatan . , . Pemenuhan diri . , . Martabat (Dignit. Dalam pekerjaan pekerja sosial, proses pemberian bantuan atau pelayanan meliputi: . Tahap awal dalam praktik pertolongan disebut EIC . ngagement, intake, and contrac. , dan merupakan interaksi pertama antara seorang pekerja sosial dengan seorang klien yang berujung pada kata sepakat guna menjadi bagian dalam proses yang utuh. Asessment tahapan mengenali permasalahan klien. Perencanaan . yaitu suatu pemilihan teknik, strategi, serta metode dengan berdasarkan proses penilaian . Intervensi yaitu suatu kegiatan yang mempunyai tujuan untuk terencana pada situasi dan klien. Evaluasi yaitu tahap penilaian pada pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan berkaitan dengan tujuan tersebut. Terminasi . adalah tahapan yang akan dilakukan jika tujuan telah disepakati (Ocktilia, 2. Asesmen merupakan salah satu bagian dari proses pekerja sosial yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan, dimana asesmen yang tepat akan menentukan proses penyembuhan klien Menurut Huda 2009 . alam Iskandar, 2. jika diibaratkan asesmen sebuah diagnosis dalam dunia kedokteran, maka diagnosis dilakukan haruslah benar, maka obat yang akan diberikan kepada pasien pun tepat sehingga proses penyembuhan dapat berjalan dengan lancar dan pasien akan Untuk mendukung program-program dalam membangun kesejahteraan lanjut Lembaga Kesejahteraan Sosial. Dalam Permensos RI Nomor 184 tahun 2011 tentang Lembaga Kesejahteraan Sosial Pasal 1 ayat 1 berbunyi AuLembaga Kesejahteraan Sosial, selanjutnya disebut LKS adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukumAy. Menurut (Pekei, 2. dalam buku Pekerjaan Sosial dan Penanganan Masalah Sosial Organisasi Pelayanan Kesejahteraan Sosial adalah organisasi yang setidaknya memiliki standar pelayanan yang memiliki standar pelayanan minimum dengan prosedur praktik pekerjaan sosial untuk menangani klien. Dalam kesejahteraan lanjut usia maka adanya proses pendataan awal atau asesmen awal yang dilakukan untuk menentukan perencanaan sosial pada calon klien. (Roberts. Albert. Greene, 2. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus berpendapat bahwa sebagian lembaga telah memiliki format pencatatan keterkaitan tersebut tetapi kebanyakan tidak memiliki pedoman pencatatan. rencana intervensi harus berdasarkan pada suatu diagnosis dan perincian rencana intervensi yang terkait langsung dengan kriteria diagnosis untuk gangguan yang spesifik. Berdasarkan latar belakang dan masalah di atas, dapat diketahui bahwasanya proses asesmen pada lansia dalam perencanaan intervensi merupakan tahapan yang perlu dilakukan dengan baik, karena melihat menurunnya fungsi kognitif dan kesehatan pada lansia. Dengan begitu proses asesmen harus ditinjau dan dinilai dengan maksimal guna melihat kekurangan dan kelemahan dari proses pelaksanaan asesmen tersebut sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik Proses Asesmen Klien dalam Perencanaan Intervensi di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Payung Besurek Kota Bengkulu. METODE Penelitian pendekatan kualitatif bersifat deskriptif ini berupaya untuk menjelaskan proses intervensi yang ada di LKS-LU Payung Besurek Kota Bengkulu. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari Ketua Lembaga. Pekerja Sosial. Pendamping Lansia dan Lansia penerima layanan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara Teknik dilakukan dengan kualitatif deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian Proses Asesmen Klien Perencanaan Intervensi di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Payung Besurek Kota Bengkulu. Kriteria informan pada penelitian ini terdiri 1 Ketua Lembaga, 3 Pekerja Sosial, 3 Pendamping yang secara langsung melakukan proses asesmen klien dan perencanaan intervensi pada lansia di LKS-LU Payung Besurek, dan 4 orang lanjut usia penerima manfaat dalam katagori lansia madya . 1 Proses Asesmen Klien Asesmen merupakan proses instrumen yang intelektual yang berguna untuk memahami situasi psikososial pada lanjut usia penerima manfaat dan berguna untuk mengidentifikasi permasalahannya, dalam merupakan unsur utama dari praktik pekerjaan sosial, karena kegiatan intervensi tidak dapat berjalan dengan maksimal tanpa adanya asesmen terlebih dahulu. Proses asesmen di LKS-LU Payung Besurek menggunakan pedoman asesmen lembaga dengan Biopsychosocial Spiritual Assessment (BPPS) untuk menggali permasalahan, kebutuhan, potensi dan kondisi pada lanjut usia. Berdasarkan hasil temuan di lapangan proses asesmen ini sangat perlu dilakukan karena unsur utama dalam menentukan rencana intervensi di LKS-LU Payung Besurek Kota Bengkulu, dalam melakukan asesmen terdapat petugas asesmen yang terdiri dari Pekerja Sosial dan Pendamping. Pekerja sosial memiliki fungsi untuk melakukan asesmen kepada lanjut usia dan melakukan pengawasan kepada Pendamping lansia agar asesmen dapat berjalan dengan baik kemudian Pekerja Sosial akan memberikan rekomendasi kepada pemberi layanan atau bantuan kepada lansia. Sedangkan untuk Pendamping mahasiswa akan diberikan pembekalan melakukan asesmen, melakukan pelaporan hasil asesmen, melakukan pendekatan dengan lansia penerima manfaat. Materi pembekalan ini diberikan oleh pekerja Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus sosial agar para Pendamping lebih siap untuk melakukan asesmen kepada lansia penerima manfaat. Untuk memahami proses asesmen terdapat tahapan sebagai Exploration, merupakan tahapan untuk menggali data dan informasi dari klien. Dalam tahap ini Pekerja Sosial dituntut untuk menggunakan berbagai pengetahuan dan keterampilannya. Menurut (Husmiati. terdapat model pengumpulan data yang harus digunakan oleh pekerja sosial, dalam hal ini yang dapat di aplikasikan di LKS-LU Payung Besurek Kota Bengkulu ada 6 . model yaitu: . pertanyaan verbal secara langsung, . Pertanyaan tidak langsung/ komplikasi cerita, . pertanyaan tertulis tidak langsung / komplikasi pertanyaan, . observasi atau kunjungan rumah, . analogis kehidupan, . Kendala yang dirasakan pada tahap exploration ini adalah waktu yang terbatas, keterbatasan informasi, lansia salah memahami isi pertanyaan. Inferential Thinking, merupakan proses penarikan kesimpulan sementara klien dari Dalam kesimpulan ini terdapat hal pokok yang masalahnya, . kegiatan yang dapat dilakukan, . program yang dapat Kendala yang dirasakan dalam tahap ini adalah keterbatasan waktu dan informasi. Evalution, merupakan proses yang dilakukan untuk melihat keberfungsian klien yang dihubungkan dari masalah yang telah dirumuskan. Orang yang terlibat dalam proses ini adalah ketua lembaga, pekerja sosial, pendamping, dan staf Tujuannya untuk melihat potensi, kebutuhan dan permasalahan dari hasil asesmen klien. Problem Definition, merupakan proses untuk mendefinisikan permasalahan yang disepakati oleh lansia penerima manfaat agar tujuan dari program dapat tercapai dengan adanya kesepakatan perihal masalah yang dirasakan dengan program yang diberikan. 2 Intervention Planning Intervention Planning atau rencana intervensi merupakan proses untuk merencanakan intervensi apa yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan klien dengan memperhatikan : . skala prioritas, . sasaran tujuan perubahan, . kesepakatan Rencana intervensi ini harus berdasarkan hasil asesmen yang telah Kendala yang dirasakan pada proses ini adalah . kieterbatasan waktu, kurangnya jumlah SDM. Dalam proses ini lembaga akan menentukan kebutuhan yang paling penting bagi lansia dan lansia yang Terdapat beberapa jenis pelayanan yang disesuaikan dari hasil asesmennya sebegai berikut: . home visit, . terapi, . penguatan keluarga, . konseling, . pemenuhan nutrisi. 3 Evaluasi Pelaksanaan Asesmen dalam Perencanaan Intervensi Evaluasi merupakan bagian yang fundamental dari praktik yang baik, yang menyediakan platform mana yang akan Bukan efektivitasnya pekerja sosial, tentu selalu terdapat Pelajaran yang dapat diperoleh, perbaikan yang dilakukan dan manfaat yang diperoleh dari evaluasi praktik pekerja (Hendrianto, 2. Dari hasil penelitian menunjukkan bawa proses asesmen dalam perencanaan intervensi yang dilakukan oleh LKS-LU Payung Besurek masih perlu adanya perbaikan yang di mana, batas waktu yang diberikan oleh pihak pemberi bantuan program dengan jumlah sumber daya manusianya yang terbatas membuat proses asesmen dalam perencanaan intervensi kurang maksimal. Dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam metode pengumpulan data dan informasi sudah dilengkapi dengan format asesmen dari lembaga sehingga Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus memudahkan petugas asesmen untuk mengumpulkan data dan informasi namun petugas asesmen juga dituntut untuk menguasai metode-metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data dan Selain itu LKS-LU Payung Besurek menyesuaikan hasil asesmen dengan rencana intervensi berdasarkan kebutuhan, masalah dan kondisi lansia, hal itu dibuktikannya dengan contoh penangananpenanganan kasus lansia yang telah mereka Sehingga kendala-kendala yang dirasakan selama proses asesmen dalam perencanaan intervensi ini adalah . terbatasnya waktu, . SDM yang kurang, . lansia kurang memahami pertanyaan asesmen yang diajukan. Standarisai. Kesesuaian Keberhasilan Program Menurut Applebeum & Austin 1990 (Bab 2 :. menyatakan bahwa dalam melakukan manajemen kasus terdapat suatu komponen utama yang mencakup: . kegiatan Penjangkauan, . screening, . asesmen komprehensif, . perencanaan pelayanan, . pengaturan pelayanan, . pemantauan, . asesmen ulang. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat proses asesmen dan perencanaan intervensi yang dilakukan oleh LKS-LU Payung Besurek sudah berjalan dengan baik, meskipun terdapat beberapa kendala dalam proses asesmen ini namun dapat diatasi oleh petugas asesmen agar data yang diperoleh sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dari lansia. Lansia LKS-LU Payung Besurek merasa terbantu dengan adanya layanan yang mereka terima, mereka juga merasa kegiatan yang meningkatkan spiritual mereka dengan belajar mengaji dan mendengarkan ceramah yang dilakukan di Teras Lansia, selain itu juga mereka terbantu karena dapat mengecek kesehatan mereka secara Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus rutin dan tentu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan membuat lansia menjadi memiliki teman dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang membuat mereka SIMPULAN Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa proses asesmen di LKS-LU Payung Besurek menggunakan pedoman asesmen lembaga dengan Biopsychosocial Spiritual Assessment (BPPS) untuk menggali permasalahan, kebutuhan, potensi dan kondisi pada lanjut usia. Proses asesmen terdiri dalam lima Langkah yaitu: Exploration, pada tahap pengumpulan data dan informasi terdapat metode pengumpulan data yang dapat digunakan untuk asesmen pada lansia yaitu: . pertanyaan verbal secara langsung, . pertanyaan verbal yang tidak langsung atau proyeksi komplikasi cerita, . pertanyaan tertulis tidak langsung atau proyeksi seperti komplikasi pertanyaan, . Observasi klien dalam situasi simulasi yaitu melakukan analogis kehidupan nyata, . menggunakan dokumen yang ada. Inferential thinking, tahap ini akan mereview data, melakukan hubungan sebab-akibat agar mengetahui masalahnya dan menarik kesimpulan sementara. Untuk menarik kesimpulan sementara terdapat 4 . hal pokok yaitu: . apa masalahnya, . Penjelasan yang diperlukan untuk memahami masalah tersebut, . kegiatan yang dapat dilakukan demi kebaikan lansia, . Program tersebut dapat dimonitor. Evaluation, merupakan tahapan melihat kondisi klien terkait situasi dan kondisi yang dihadapi oleh lansia dengan melihat kebutuhan, potensi dan masalah yang mereka telah dirumuskan agar dapat menjadi rencana intervensi. Problem definition adalah tahapan kesepakatan antara pekerja sosial dan lansia untuk menyepakati masalah yang sedang lansia hadapi, kemudian permasalahan pada lansia akan dikelompokkan sehingga dapat diketahui lansia membutuhkan intervensi secara individu atau kelompok. Intervention planning, merupakan proses untuk membuat kontrak kerja kepada klien yang berisikan waktu kegiatan, kebutuhan, dan pelaksanaan Kemudian untuk melakukan intervention planning terdapat 3 . komponen penting yaitu: . membuat skala prioritas berfungsi untuk melihat prioritas mempertimbangkan kebutuhan klien. membuat sasaran tujuan perubahan klien, . Menyusun kesepakatan waktu. Biasanya program berlangsung 3 . hingga 6 . Lebih dari 6 . bulan lansia dapat memutuskan untuk Petugas asesmen yang terlibat adalah pekerja sosial dan pendamping, dari data yang diperoleh pekerja sosial akan melakukan asesmen secara langsung dan pendampingan kepada pendamping yang melaksanakan asesmen, kemudian dari hasil asesmen dan perencanaan intervensi Pekerja Sosial pelayanan perihal kebutuhan pada lansia. Sedangkan pendamping akan diberikan penguatan atau pembekalan sebelum melakukan asesmen kepada lansia, dengan tujuan agar Pendamping dapat siap untuk menghadapi kondisi lansia dan memahami proses pencatatan pelaporan selama proses asesmen berlangsung. Kendala yang pendamping dan pekerja membuat proses asesmen tidak secara mendalam karena keterbatasan waktu baik dari proses asesmen, pendataan, pelaporan dan lain-lain karena setiap program yang dilaksanakan akan terdapat batasan waktu. Selain itu lansia sulit memahami inti pertanyaan sehingga untuk menangani hal menanyakan kondisi lansia dengan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 37 - 44 Available Online at jurnal. id/focus jawaban yang diperoleh sesuai dengan Selebihnya LKS-LU Payung Besurek menjalankan proses asesmen dalam perencanaan intervensi ini dengan maksimal, meskipun belum sempurna mengingat keterbatasan waktu. SDM, dan mengupayakan pelayanan secara maksimal dan akan memperbaiki sistem yang ada termasuk pada proses asesmen dan perencanaan intervensi. DAFTAR PUSTAKA