HUBUNGAN BERAT BAYI LAHIR DENGAN KEJADIAN RUPTURE PERINEUM PADA PERSALINAN NORMAL DI TPMB LISTIANI DWI RAHAYU DRIYOREJO GRESIK Intiyaswati1*. Dianita Primihastuti2 Prodi D i Kebidanan STIKes William Booth. Jl. Cimanuk no. 20 Surabaya *Corresponding Author : Intiyaswati Email : Intiyaswati21@gmail. ABSTRAK Pendahuluan : Rupture perineum adalah perlukaan perineum yang terjadi saat bayi lahir. Berdasarkan fokus asuhan persalinan normal saat ini yang menganut paradigma pencegahan, maka segala bentuk perlukaan jalan lahir sebaiknya dicegah. Data persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu menunjukkan peningkatan kejadian rupture perineum yaitu 16,88% tahun 2024 menjadi 41% tahun 2025. Salah satu faktor yang berpengaruh yaitu berat bayi yang dilahirkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Metode : menggunakan metode analitik dengan desain Cross sectional dan menggunakan data sekunder. Populasi penelitian adalah 77 ibu bersalin multigravida tahun 2025 yang pengambilan sampelnya dilakukan secara probability sampling dan tipe yang digunakan simple random sampling dan didapatkan 64 responden. Kemudian dibuat tabel frekuensi, tabulasi silang dan diuji menggunakan Pearson Chi-Square dengan nilai kemaknaan = 0,05. H1 diterima apabila p < . Hasil : didapatkan ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat 2500-4000 gram dan > 4000 gram mayoritas mengalami rupture perineum 71,43%. Sebaliknya ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat < 2500 gram mayoritas tidak mengalami rupture perineum 59,1%. Dari hasil analisis data menggunakan uji Pearson Chi Square didapatkan nilai p . < . maka Ho ditolak. Diskusi : bahwa terdapat hubungan berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Dengan demikian diharapkan petugas kesehatan mampu mendeteksi dini faktor resiko yang menyebabkan rupture perineum dan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki khususnya dalam hal mencegah rupture perineum dengan cara mengikuti pelatihan APN, seminar kesehatan, dan pelatihan kelas ibu hamil. Kata Kunci : Berat Bayi Lahir. Rupture Perinium ABSTRACT Introduction: Perineal rupture is an injury to the perineum that occurs during birth. Based on the current focus of normal delivery care, which adheres to a prevention paradigm, all forms of birth canal injuries should be prevented. Delivery data at the Listiani Dwi Rahayu TPMB (Healthy Child Health Cente. show an increase in the incidence of perineal rupture, from 16. 88% in 2024 to 41% in 2025. One influencing factor is birth weight. Therefore, this study aims to determine the relationship between birth weight and the incidence of perineal rupture during normal delivery. Methods : An analytical method with a cross-sectional design and secondary data were used. The study population was 77 multigravida mothers giving birth in 2025. The sample was drawn using probability sampling and simple random sampling, resulting in 64 respondents. Frequency tables, cross-tabulations, and Pearson Chi-Square tests were then created with a significance value of = 0. H1 was accepted if p < . Results: 71. 43% of multigravida mothers who gave birth to babies weighing 25004000 grams and >4000 grams experienced perineal rupture. Conversely, 59. 1% of multigravida mothers who gave birth to babies weighing <2500 grams did not experience perineal rupture. Data analysis using the Pearson Chi-Square test yielded a p-value . < . , thus rejecting Ho. Discussion: There is a relationship between birth weight and the incidence of perineal rupture during normal delivery. Therefore, it is hoped that health workers will be able to detect risk factors that cause perineal rupture early and continuously improve their knowledge and skills, especially in preventing perineal rupture, by participating in APN training, health seminars, and training classes for pregnant women. Keywords : Birth Weight. Perineal Rupture PENDAHULUAN Tahun Persalinan Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang setiap wanita hamil pasti akan mengalaminya. Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba. Fokus asuhan persalinan normal saat ini adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Dengan paradigma pencegahan, episiotomi tidak lagi dilakukan secara rutin karena dengan perasat khusus, penolong persalinan akan mengatur ekspulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau hanya terjadi robekan minimal pada perineum (Wiknjosastro dkk, 2. Persalinan tidak jarang menyebabkan robekan pada jalan lahir. Robekan yang terjadi bisa ringan . ecet,laseras. , luka episiotomi, ruptur perineum spontan, ruptur perineum total, rupture pada dinding vagina, dan bahkan yang terberat yaitu rupture uteri. Robekan jalan lahir merupakan bentuk dari trauma obstetrik yang menjadi salah satu penyebab dari tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Menurut data SDKI tahun 2024, sebanyak 5% kasus kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh trauma obstetrik. Ruptur perineum merupakan salah satu trauma yang paling sering diderita perempuan pada saat persalinan (Oxorn, 2. Ruptur perineum adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu saat persalinan (Hamilton, 2. Data persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu selama tahun 2024 sampai dengan tahun 2025 sebagian besar persalinan normal mengalami ruptur perineum. Adapun kejadian rupture perineum seperti dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1 Frekuensi Kejadian Ruptur Perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu pada tahun 2024-2025. Perineum Tidak Ruptur Ruptur 83,12 16,88 78,66 21,34 Sumber Data : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025. Tabel peningkatan jumlah kejadian ruptur perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu dari tahun 2022 ke tahun 2023 terjadi peningkatan 4,46 % dan dari tahun 2024 ke tahun 2025 terjadi peningkatan 19,66%. Data perineum diatas, jika diklasifikasikan menurut derajat rupturnya yaitu pada Tabel 1. 2 sebagai Tabel 2 Frekuensi Kejadian Ruptur Perineum berdasarkan derajat rupturnya di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025 Rupture Perineum Derajat Derajat Derajat Tahun Dua Tiga Oc % Oc Oc % 2011 3 23,07 8 61,53 2 15,4 2012 5 26,31 13 68,42 2013 8 16,32 39 79,59 2 4,08 Derajat 1 5,27 1 0,01 Sumber Data : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025 . Tabel 2 menunjukkan dari tahun 2024 hingga tahun 2025 frekuensi ruptur perineum terjadi paling sering pada derajat dua, kemudian sisanya terjadi pada derajat satu dan derajat tiga, serta yang paling jarang terjadi pada derajat empat. Berdasar data persalinan dengan ruptur perineum diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian ruptur perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu masih cukup tinggi dan bahkan meningkat setiap tahunnya. Sedangkan menurut Winkjosastro dkk . dalam buku Asuhan Persalinan Normal menyatakan bahwa fokus asuhan persalinan normal saat ini menganut paradigma Sumber Data : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025. Dengan paradigma ini diharapkan laserasi pada jalan lahir dapat dicegah dan episiotomi tidak lagi dilakukan secara rutin. Sehingga dalam kondisi ini timbul suatu masalah yaitu tingginya frekuensi kejadian ruptur perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu , jika hal tersebut dibiarkan maka akan berpengaruh terhadap morbiditas secara langsung dan mortalitas secara tidak langsung. Rupture perineum dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah faktor ibu, faktor janin, dan faktor penolong persalinan. Faktor ibu meliputi partus presipitatus, ibu primigravida, pasien tidak mampu berhenti mengejan, edema dan kerapuhan perineum, varikositas vulva yang melemahkan jaringan perineum, arkus pubis yang sempit dengan pintu bawah panggul yang sempit pula sehingga menekan kepala bayi kearah posterior. Kemudian dari faktor janin meliputi berat badan bayi lahir . anin besa. , posisi kepala yang abnormal misalnya presentasi muka dan occipitoposterior, presentasi sungsang, ekstraksi forceps yang sukar, distocia bahu, anomali congenital seperti hydrocephalus (Oxorn, 2. Faktor janin salah satu penyebabnya adalah berat badan bayi lahir. Pada saat persalinan, laserasi spontan pada perineum dapat terjadi pada saat kepala dan bahu dilahirkan. Ketika bayi melewati jalan lahir, berat badan bayi berpengaruh terhadap besarnya penekanan terhadap otot-otot yang berada di sekitar perineum sehingga perineum menonjol dan meregang sampai kepala dan seluruh bagian tubuh bayi lahir. Penekanan otot-otot perineum ini sering menyebabkan rupture Semakin besar tekanan terhadap perineum maka semakin besar pula resiko terjadinya rupture pada perineum ketika proses persalinan berlangsung (Cunningham, 2. Berdasarkan data kejadian rupture perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu , didapatkan data pada Tabel 3 sebagai berikut : Tabel 3 Frekuensi Kejadian Ruptur Perineum berdasarkan Berat Bayi Lahir di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025 . Tahun Berat Bayi Lahir Kejadian Ruptur Perineum 15,38 10,52 8,16 53,84 42,10 61,23 30,78 47,38 30,61 < 2500 gram 2500-4000 gram > 4000 gram Sumber Data : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tahun 2024-2025 Tabel 3 menunjukkan persalinan dengan rupture perineum dari tahun 2024-2025 terbanyak merupakan persalinan dengan berat bayi lahir antara 2500-4000 gram, yang kemudian diikuti dengan persalinan dengan berat bayi lahir > 4000 gram, dan yang paling jarang terjadi yaitu persalinan dengan berat bayi lahir < 2500 gram. Ruptur perineum seringkali menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu pascapartum. Ketidaknyamanan tersebut disebabkan oleh laserasi dan jahitan terhadap laserasi tersebut. Kebanyakan ibu measa takut untuk menyentuh bahkan membersihkan luka pada perineum, jika hal tersebut dibiarkan terjadi maka dapat menimbulkan komplikasi antara lain : Susah buang air besar, susah buang air kecil, dan infeksi (Varney, 2. Laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat kepala dan bahu dilahirkan. Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Kerjasama dengan ibu akan sangat bermanfaat saat kepala bayi pada diameter 5-6 cm tengah membuka vulva . karena pengendalian dapat mengurangi kemungkinan terjadinya robekan. Pada saat crowning, lindungi perineum dengan satu tangan . i bawah kain bersih dan kerin. , ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum. Melindungi perineum dan mengendalikan keluarnya kepala bayi secara bertahap dan hati-hati dapat mengurangi regangan berlebihan . pada vagina dan perineum (Winkjosastro dkk, 2. Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan terjadi peningkatan frekuensi kejadian ruptur perineum dari tahun ke tahun yaitu dari tahun 2023 ke tahun 2024 terjadi peningkatan 4,46 % dan dari tahun 2024 ke tahun 2025 terjadi peningkatan 19,66 %. Selain itu mengingat ruptur perineum sering mengakibatkan rasa ketidaknyamanan pada ibu pascapartum berupa rasa nyeri, susah buang air besar, dan susah buang Rahayu pada bulan Januari Ae April air kecil maka penulis mengangkat masalah tentang hubungan berat bayi lahir dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal di TPMB Listiani Dwi Rahayu . Berat Bayi Lahir < 2500 gram 2500-4000 gram > 4000 gram Jumlah METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan Aucross sectionalAy dimana variabel bebas . dan variabel tergantung . Waktu penelitan pada bulan Mei-Juni 2025 dilaksanakan di tempat TPMB Listiani Dwi Rahayu sebanyak 77 orang. Buku yang didapat di catatan persalinan dan dibuku register Frekuensi Persentase (%) Sumber : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebesar 46,9% persalinan pada multigravida yang ada pada bulan Januari Ae April tahun 2025 di TPMB Listiani Dwi Rahayu mayoritas dengan berat bayi lahir antara 25004000 gram. Tabulasi silang data yang telah direduksi antara berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu bulan Januari Ae April tahun 2025 yang dijelaskan dalam Tabel 5. Tabel 6 Tabulasi Silang antara Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Rupture Perineum di TPMB Listiani Dwi Rahayu pada bulan Januari Ae April HASIL DAN PENELITIAN Berdasarkan variabel yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Kejadian Rupture Perineum Pada Multigravida Hasil pengumpulan data sekunder terhadap 64 ibu bersalin multigravida didapatkan data kejadian rupture perineum yang dibedakan menjadi rupture dan tidak Adapun data tersebut disajikan pada Tabel 1 Tabel 4 Frekuensi Kejadian Rupture Perineum Pada Multigravida di TPMB Listiani Dwi Rahayu bulan Januari Ae April Tahun 2025 Perineum Ruptur Tidak Ruptur Jumlah Frekuensi Berat Bayi Lahir < 2500 gram gram dan > 4000 gram Jumlah Sumber : Persentase (%) Perineum Jumlah Ruptur Tidak Ruptur Oc % 40,9 13 59,1 22 100 30 71,43 12 28,57 42 100 Register Laporan Persalinan yang diolah Tabel menunjukkan bahwa pada persalinan multigravida dengan berat bayi lahir 2500-4000 gram dan > 4000 gram lebih banyak terjadi rupture perineum . ,43%) dibandingkan persalinan pada multigravida dengan berat bayi lahir < 2500 gram . ,1%) yang tidak mengalami rupture perineum. Karena pada bab sebelumnya variabel berat bayi lahir yang memiliki skala ordinal dengan 3 kelompok yaitu berat bayi lahir < 2500 gram, 2500-4000 gram, dan > 4000 gram telah direduksi menjadi 2 kelompok yaitu berat bayi lahir < 2500 gram yang beresiko rendah terhadap kejadian rupture perineum serta 2500-4000 gram dan > 4000 gram yang beresiko tinggi terhadap kejadian rupture Maka dilakukan analisis data dengan menggunakan uji Chi- Square dari pearson terhadap data yang diperoleh. Dan setelah dianalisis didapatkan hasil nilai Sumber : Register Laporan Persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa pada bulan Januari Ae April tahun 2025 persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu mayoritas terjadi rupture perineum sebesar 60,9 %. Berat Bayi Lahir Hasil pengumpulan data sekunder terhadap bayi yang lahir pada 64 ibu bersalin multigravida pada bulan Januari Ae April tahun 2025 dibedakan menjadi berat bayi lahir < 2500 gram, 2500-4000 gram, > 4000 gram. Adapun data tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Frekuensi Berat Bayi Lahir Pada Multigravida di TPMB Listiani Dwi significancy-nya adalah p . < . , maka H0 yang berarti terdapat hubungan berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Hasil perhitungan Chi-Square tersebut dapat dilihat pada lampiran. lahir melalui jalan lahir ibu maka dimungkinkan semakin besar pula robekan jalan lahir terutama robekan perineum yang akan terjadi. Pada saat persalinan berat badan bayi lahir berpengaruh pada peregangan perineum sehingga pada perineum yang kaku mudah terjadi rupture. Pada saat persalinan, laserasi spontan pada perineum dapat terjadi pada saat kepala dan bahu dilahirkan. Ketika bayi melewati jalan lahir, berat badan bayi berpengaruh terhadap besarnya penekanan terhadap otot-otot yang berada di sekitar perineum sehingga perineum menonjol dan meregang sampai kepala dan seluruh bagian tubuh bayi lahir. Penekanan otot-otot perineum ini sering menyebabkan rupture perineum (Wiknjosastro,2. Rupture perineum terjadi ketika kepala dan bahu dilahirkan, kejadian ini akan meningkat bila bayi dilahirkan terlalu cepat. Sehingga selain berat bayi saat lahir, faktor lain yang tidak kalah penting menyebabkan rupture perineum adalah faktor penolong persalinan yang kurang terampil. Pada hendaknya melakukan pimpinan persalinan dengan benar, yaitu tidak memimpin persalinan sebelum pembukaan lengkap, melindungi perineum dengan satu tangan saat kepala crowning dan menahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus vagina dan perineum. Sehingga setiap penolong persalinan seharusnya selalu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki terutama dalam hal mencegah terjadinya ruptur perineum, seperti dengan cara mengikuti pelatihan APN, pelatihan kelas ibu hamil, dan seminar kesehatan. agar tercipta asuhan sayang ibu terutama ketika proses persalinan berlangsung. PEMBAHASAN Persalinan normal bisa mengakibatkan terjadinya kasus perlukaan jalan lahir. Salah satunya yaitu perlukaan pada perineum. Pada Rupture merupakan bentuk dari perlukaan pada perineum yang terjadi saat proses persalinan. Salah satu penyebab terjadinya rupture perineum ketika persalinan adalah berat bayi Semakin besar berat bayi yang lahir maka semakin beresiko terjanya rupture perineum sebaliknya semakin kecil berat bayi yang lahir maka semakin kecil pula resiko terjadinya rupture perineum. Berdasarkan data penelitian tentang rupture perineum didapatkan hasil merupakan tabel tabulasi berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum didapatkan pada ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat < 2500 gram 9 orang ibu bersalin atau sebesar 40,9% mengalami ruptur dan 13 orang atau sebesar 59,1% tidak mengalami Sedangkan pada ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat 2500-4000 gram dan > 4000 gram 30 orang atau sebesar 71,43% mengalami rupture dan 12 orang atau sebesar 28,57% tidak mengalami rupture. Data yang diperoleh menunjukkan rupture perineum mayoritas terjadi pada persalinan dengan berat bayi lahir antara 25004000 gram dan > 4000 yaitu sebesar 71,43%, sebaliknya persalinan dengan berat < 2500 gram sedikit yang menyebabkan rupture perineum yaitu sebesar 40,9%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa berat bayi lahir menyebabkan terjadinya kejadian rupture Hasil kesimpulan ini didukung dengan hasil uji statistik menggunakan uji chi square yang memakai nilai Pearson ChiSquare menunjukkan bahwa nilai significancynya p . < . berarti H0 ditolak, maka terdapat hubungan antara berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Hasil kesimpulan di atas sesuai dengan yang diungkapkan oleh Saifuddin . yang menyatakan bahwa semakin besar bayi yang SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Ada pengaruh terhadap berat bayi lahir mayoritas 2500-4000 gram sebesar 46,9%. Kejadian Rupture Perinium mayoritas terjadi pada persalinan norman sebesar 60,9%. Saran Diharapkan dengan penelitian ini lahan yang menjadi lokasi penelitian lebih bersifat terbuka terhadap segala informasi terkait upaya yang bisa dilakukan oleh sektor terkait dalam usaha mengembangkan kesadaran serta kemampuan khususnya terkait dengan berbagai macam informasi mengenai berat bayi lahir. DAFTAR PUSTAKA