Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HUBUNGAN MASA. DURASI. DAN POSISI KERJA PADA BURUH TANI DENGAN KELUHAN LOW BACK PAIN Anak Agung Istri Galuh Risnawati*1. Ni Komang Ari Sawitri1. Ni Luh Putu Eva Yanti1. I Kadek Saputra1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: aaigaluhrisnawati@gmail. ABSTRAK Low Back Pain (LBP) merupakan kondisi nyeri atau rasa tidak nyaman yang terlokalisasi pada daerah punggung bawah dan dapat menjalar ke tungkai bawah. Keluhan LBP sering dialami oleh pekerja di bidang pertanian dan perkebunan, hal ini dikarenakan aktivitas yang dilakukan mengharuskan untuk mengeluarkan tenaga dan gerakan dengan posisi yang tidak tepat dalam jangka waktu yang lama. Apabila tidak diatasi. LBP dapat mengganggu aktivitas fungsional penderitanya dan berdampak pada menurunnya produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masa, durasi, dan posisi kerja dengan keluhan LBP pada pekerja buruh tani di Desa Ulian. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional melalui pendekatan cross-sectional. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner The Pain and Distress Scale dan Rapid Entire Body Assessment (REBA). Sampel pada penelitian ini berjumlah 58 orang buruh tani di Desa Ulian dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan SpearmanAos Rank menggunakan program komputer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden sebanyak 31 . ,4%) memiliki masa kerja >10 tahun, sebanyak 46 . ,3%) responden bekerja dengan durasi kerja >8 jam, sebanyak 41 . responden memiliki penilaian posisi kerja kategori risiko sedang dan sebanyak 34 . ,6%) responden mengalami LBP kategori sedang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara masa kerja . = 0,000 < 0,. , durasi kerja . = 0,048 < 0,. , dan posisi kerja . = 0,000 < 0,. dengan keluhan LBP. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara masa, durasi, dan posisi kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Buruh tani diharapkan dapat memperhatikan posisi kerja agar terhindar dari risiko keluhan LBP. Kata kunci: buruh tani, durasi kerja, low back pain, masa kerja, posisi kerja ABSTRACT Low Back Pain (LBP) is a feeling of discomfort in the form of pain located in the lower back, and can radiate towards the legs and feet. LBP complaints are often experienced by workers in agriculture and plantations, this is because the activities carried out require to expend energy and movements with improper positions for a long period of time. If not resolved. LBP can interfere with the functional activities of the sufferer and have an impact on reducing work productivity. This study aims to determine the relationship between period, duration and work position with LBP complaints in farm labor workers in Ulian Village. This research method is quantitative research with a descriptive correlational design through a cross-sectional approach. The measuring instruments used were The Pain and Distress Scale and Rapid Entire Body Assessment (REBA) questionnaires. The sample in this study amounted to 58 farm laborers in Ulian Village with purposive sampling technique. Data were analyzed with Spearman's Rank using a computer program. The results of this study showed that most respondents as many as 31 . ,4%) had a work period of >10 years, as many as 46 . ,3%) respondents worked with a work duration of >8 hours, as many as 41 . respondents had a moderate risk category work position assessment and as many as 34 . ,6%) respondents experienced moderate LBP. The statistical test results showed a relationship between work period . 0,000 <0,. , work duration . 0,048 <0,. and work position . 0,000 <0,. Thus, it can be concluded that there is a significant relationship between work period, work duration, and work posture and the occurrence of LBP complaints among laborers. Farm laborers are therefore encouraged to pay attention to proper working postures in order to reduce the risk of LBP. Keywords: farm laborer, low back pain, work duration, work period, work position Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Low Back Pain (LBP) adalah gangguan muskuloskeletal pada punggung bawah yang ditandai dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang dapat berlangsung secara akut, subakut, atau kronis. Nyeri yang dirasakan terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbalis kelima dan sarkalis (L5-S), dan rasa nyeri tersebut dapat menjalar ke arah tungkai dan kaki (Amalia, 2. LBP merupakan gangguan muskuloskeletal umum yang dikeluhkan pada pekerja di seluruh dunia akibat bekerja dengan posisi tubuh yang tidak ergonomi sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja (Wulan. Hilal, & Entianopa, 2. World Health Organization (WHO) melaporkan sebesar 7,2% prevalensi global LBP merupakan penyebab utama disabilitas di seluruh dunia (Shebib et al. , 2. LBP dapat terjadi pada berbagai rentang usia, yaitu dengan prevalensi tertinggi pada usia 50Ae55 tahun dan akan terus melonjak seiring bertambahnya usia hingga 80 tahun. Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 619 juta orang mengalami LBP di seluruh dunia. Pada tahun 2050, angka ini diprediksi meningkat menjadi 843 juta kasus, yang diakibatkan oleh faktor perluasan populasi dan penuaan (WHO, 2. Prevalensi LBP di Indonesia telah mencapai 34,4 juta orang (Tito Nurfajri. Subakir, 2. Penelitian oleh Zuniwati . menemukan sebanyak 125 responden . %) dari 145 supir bus di PO Harapan Jaya Jawa Timur mengalami keluhan LBP. Beberapa faktor seperti jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (IMT), riwayat pendidikan, kebiasaan merokok, riwayat penyakit, posisi kerja, masa kerja, durasi kerja, dan beban kerja dapat menimbulkan keluhan LBP (Koteng et al. Posisi kerja yang tidak ergonomis atau berisiko disertai melakukan gerakan repetitif dalam durasi waktu yang cukup lama dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan LBP (Syafitri et al. , 2. Selain itu, durasi kerja juga memiliki kaitan yang erat terhadap kejadian LBP. Durasi kerja yang dihabiskan pekerja dengan posisi tubuh yang tidak ergonomi ketika mendorong atau membawa Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 muatan secara repetitif dan tanpa jeda (Prastuti. Sintia, dan Ningsih, 2. Apabila seseorang memperpanjang durasi kerja lebih dari kemampuan lama kerja, maka dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan LBP, keletihan, bahkan kecelakaan di tempat kerja (Latifah et al. , 2. Sama halnya dengan posisi dan durasi kerja, masa kerja juga turut andil dalam kejadian LBP. Semakin lama masa kerja, semakin lama juga ia melakukan pekerjaan dengan posisi kerja yang salah. Gerakan repetitif yang bertahun-tahun menyebabkan kekuatan sendi-sendi pada tubuh menjadi menurun dan berisiko mengalami LBP serta mengakibatkan timbulnya kelelahan muskuloskeletal yang akan menurunkan produktivitas kerja (Rasyidah. Dayani, & Maulani, 2. Ancaman LBP merupakan hal yang nyata bagi para pekerja di bidang perkebunan, aktivitas yang dilakukan oleh buruh tani kebun yang mengharuskan untuk mengeluarkan tenaga dan gerakan dengan posisi yang tidak tepat dapat menimbulkan keluhan LBP. Berdasarkan penelitian Sitepu et al . pada petani jeruk, aktivitas petani jeruk ketika bekerja berupa penyemprotan pestisida, membersihkan dan memanen buah jeruk, serta mengangkut hasil panen, yang seringkali dilakukan dengan postur atau cara yang salah, sehingga meningkatkan terjadinya keluhan LBP. Berdasarkan hasil penelitian Aseng dan Sekeon . , posisi kerja petani memiliki 87,4% risiko LBP paling tinggi disertai keluhan nyeri sebesar 93,7%. Hal ini dikarenakan dalam melakukan pekerjaannya tidak lepas dari kegiatan membungkuk, berdiri, mengangkat, dan membawa beban (Zahra. Yasya, & Simbolon, 2. Apabila LBP tidak diatasi dapat menimbulkan keluhan nyeri dan spasme otot punggung seimbangnya kerja otot sehingga aktivitas fungsional sehari-hari terutama saat berjalan menjadi terganggu (Kalangi. Angliadi, dan Gessal, 2. Menurut Kaur . , aktivitas fungsional yang dapat terganggu akibat dari keluhan LBP, yaitu aktivitas sehari-hari seperti duduk, berdiri, tidur. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 berjalan, aktivitas merawat diri, aktivitas mengangkat, aktivitas seksual, bepergian dan kehidupan sosial (Zahra. Yasya, dan Simbolon, 2. Hal ini akan berdampak pada kegiatan perekonomian, seperti kurangnya mobilitas dan waktu dalam bekerja, menurunnya produktivitas dan kualitas kerja, serta tingginya pengeluaran biaya pengobatan (Syafitri et al. , 2. Bali hortikultura, salah satunya adalah buah Buah jeruk banyak ditanam di Bali, yang berperan penting dalam perekonomian, terutama sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan kerja (Nilayani. Arnawa, dan Sukanteri, 2. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali . Kabupaten Bangli merupakan wilayah penghasil komoditas jeruk terbesar pada tahun 2022. Hal ini dikarenakan Kabupaten Bangli, terutama Kecamatan Kintamani yang merupakan sentra penghasil jeruk memiliki lahan perkebunan yang subur dan cukup membudidayakan maupun memasarkan jeruk terbilang cukup banyak dan berpengalaman (Ristiari. Julyasih, dan Suryanti, 2018. Wirastuti. Hartawan, dan Suyadnya, 2. Desa Ulian merupakan salah satu desa penghasil komoditas jeruk di Kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli. Mata pencaharian utama masyarakat Desa Ulian adalah berkebun, khususnya dalam pengelolaan dan pengembangan perkebunan METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif korelasional melalui pendekatan cross-sectional untuk mencari korelasi antara masa, durasi, dan posisi kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani kebun di Desa Ulian. Populasi pada penelitian ini adalah buruh tani kebun di Desa Ulian yang berjumlah 138 orang. Pengambilan menggunakan teknik puposive sampling yang didapatkan sebanyak 58 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi yaitu: menandatangani informed consent dan bersedia menjadi responden, masa kerja >1 bulan, pekerjaan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Berdasarkan melalui observasi dan wawancara kepada kepala desa dan 10 orang buruh tani kebun, diketahui bahwa mayoritas masyarakat Desa Ulian bekerja sebagai petani dan buruh tani di kebun. Buruh tani kebun memiliki intensitas kerja yang lebih tinggi dari petani kebun, yaitu bekerja mulai pukul 08. 00 pagi hingga pukul 17. 00 sore. Dalam melakukan pekerjaannya buruh tani kebun seringkali memiliki posisi kerja yang tidak ergonomis seperti membungkuk ketika menanam, membersihkan kebun, mengangkut pupuk, menyemprot pestisida, dan mengangkat hasil panen. Berdasarkan wawancara 6 dari 10 buruh tani yang sudah bertahun-tahun bekerja di kebun menyatakan seringkali mengalami kecetit atau nyeri punggung bawah ketika bekerja, dan seringkali mengabaikan gangguan tersebut dan membiarkan rasa nyeri tersebut hilang dengan sendirinya. Kondisi tersebut tentunya mengganggu aktivitas fungsional sehari-hari dan berdampak pada kegiatan produktivitas kerja sebagai buruh tani kebun. Adanya informasi tentang kondisi dan latar belakang buruh tani kebun di Desa Ulian tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk mengetahui apakah ada hubungan antara masa, durasi dan posisi kerja dengan tingkat keluhan LBP pada buruh tani kebun di Desa Ulian. utama sebagai buruh tani dan berusia Ou20 tahun, sedangkan kriteria ekslusinya yaitu: menderita kelainan tulang belakang dan menderita penyakit saraf. Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan Keterangan Layak Etik Nomor: 1592/UN14. VII. 14/LT/2024. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi dengan melibatkan 2 orang Data dikumpulkan melalui wawancara meliputi data demografi responden, durasi kerja, masa kerja dan keluhan LBP yang dikaji Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 menggunakan kuesioner The Pain and Distress Scale bahasa Indonesia (Farah et , 2. Sedangkan data yang diambil melalui observasi adalah data posisi kerja yang diukur menggunakan lembar Rapid Entire Body Assesment (REBA) (Lestari et , 2. Uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner keluhan LBP The Pain and HASIL PENELITIAN Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan Juni 2024 di Desa Ulian. Kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli. Distress Scale menghasilkan 19 item pertanyaan yang valid dengan nilai r hitung antara 0,198Ae0,811 . tabel = 0,2. serta menunjukkan reliabilitas internal yang baik dengan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,851. Data menggunakan uji korelasi SpearmanAos Rank. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis berikut: Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian . Karakteristik Responden Mean A SD Usia (Tahu. Remaja akhir . Dewasa awal . 39,33 A 8,67 Dewasa akhir . Lansia awal . Lansia akhir . Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan SMP SMA Total Tabel 1 menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin lakilaki, yaitu sebanyak 38 orang . ,5%), perempuan hanya sebanyak 20 orang . ,5%). Mayoritas berusia pada kategori dewasa akhir dengan rentang usia 36-45 tahun sebanyak 23 orang . ,7%) dan rata- Frekuensi (%) 3. ,2%) 17 . ,3%) 23 . ,7%) 13 . ,4%) 2 . ,4%) 38 . ,5%) 20 . ,5%) 26 . ,8%) 17 . ,3%) 15 . ,9%) rata berusia 39,33 tahun. Mayoritas responden dengan pendidikan terakhir SD, sebanyak 26 orang . ,8%), lalu responden dengan pendidikan terakhir SMP, sebanyak 17 orang . ,3%), dan responden dengan pendidikan terakhir SMA, sebanyak 15 orang . ,9%). Tabel 2. Hasil Analisis Skor Posisi Kerja dan Keluhan LBP pada Buruh Tani di Desa Ulian . Variabel Mean A SD Min - Maks 4,86 1,59 3 - 10 REBA 38,90 A 6,06 28 - 51 The Pain and Distress Scale Tabel 2 menunjukkan rata-rata skor Penilaian Rapid Entire Body Assessment responden adalah 4,86 dengan standar Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 deviasi sebesar 1,59, sedangkan rata-rata skor Penilaian LBP yang diperoleh adalah 38,90 dengan standar deviasi sebesar 6,06. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 3. Hasil Tabulasi Silang Masa Kerja. Durasi Kerja, dan Posisi Kerja dengan Keluhan LBP pada Buruh Tani di Desa Ulian . Low Back Pain Variabel Ringan Sedang Masa Kerja <5 tahun 6-10 tahun >10 tahun Durasi Kerja <8 jam >8 jam Posisi Kerja Risiko rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Jumlah Tabel 3 menunjukkan sebagian besar buruh tani di Desa Ulian memiliki masa kerja >10 tahun, yaitu sebanyak 31 orang . ,4%), bekerja dengan durasi kerja >8 jam sebanyak 46 orang . ,3%), bekerja dengan posisi risiko sedang sebanyak 41 orang . ,7%) dan mengalami keluhan LBP dalam kategori sedang sebanyak 34 orang . ,6%), sedangkan ringan sebanyak 24 . ,4%). Tabel 4. Hubungan Masa Kerja. Durasi Kerja, dan Posisi Kerja dengan Keluhan LBP pada Buruh Tani di Desa Ulian . Low Back Pain Variabel p-value Masa Kerja 0,000* 0,789 Durasi Kerja 0,048* 0,261 Posisi Kerja 0,000* 0,669 Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman's rank, diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig. ) untuk korelasi ini adalah <0,05 maka H0 ditolak, yang berarti ada PEMBAHASAN Hasil menunjukkan sebagian besar buruh tani kebun di Desa Ulian berusia di kelompok dewasa akhir . ,7%) dengan rata-rata berusia 39,33 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian Nurcahyani. Ekawati, dan Jayanti . yang mendapatkan hasil sebagian besar responden penelitiannya berusia diatas 35 tahun yaitu 26 dari 30 orang. Menurut Putri et al . faktor usia merupakan salah satu pencetus terjadinya keluhan muskuloskeletal, hal ini dikarenakan otot memiliki kekuatan tertinggi antara usia 20 dan 29 tahun, dan kekuatan ini akan menurun seiring bertambahnya usia. Menurut penelitian Sangaji et al . , keluhan pertama nyeri muskuloskeletal meningkat pada usia 35 Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 hubungan yang signifikan antara masa, durasi, serta posisi kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Selain itu menurut Indriyani et al . , semakin bertambahnya usia dan meningkatkan risiko terjadinya keluhan Hal ini diakibatkan karena terjadi kelelahan fisik akibat bekerja terutama pada jenis kegiatan yang memerlukan tenaga yang lebih besar. Berdasarkan bahwa sebagian besar buruh tani di Desa Ulian berjenis kelamin laki laki . ,5%). Menurut Chen . dalam Pinontoan. Marunduh, dan Wungouw . , otot yang dimiliki perempuan hanya sebesar 37-68% dari kekuatan otot yang dimiliki laki-laki. Sejalan dengan hasil penelitian ini. Handayani. Hamid, dan Allaina . yang Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 mendapatkan hasil mayoritas petani di Kabupaten Jember berjenis kelamin laki-laki sebanyak 93% dari 110 petani. Menurut peneliti, dominasi jumlah responden lakilaki disebabkan oleh karakteristik pekerjaan yang memang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki di wilayah penelitian. Selain itu, laki-laki memiliki tanggungjawab sebagai kepala keluarga untuk mendapatkan kebutuhan rumah tangga, sehingga kegiatan pertanian yang melibatkan aktivitas berat seperti mengangkut dan mencangkul menjadikan pekerjaan ini membutuhkan tenaga laki-laki. Hasil menunjukkan sebagian besar buruh tani di Desa Ulian berpendidikan terakhir SD yaitu sebanyak 44,8%. Hasil ini sejalan dengan penelitian Faujiyah . yang mendapatkan sebagian besar petani berpendidikan terakhir SD yaitu sebanyak 50% dari 28 orang. Menurut Ramdan dkk . dalam Revadi. Gunawan, dan Rakasiwi . , mengatakan bahwa latar belakang pendidikan memengaruhi cara berpikir rasional seseorang salah satunya dalam penerapan pengetahuan atau aturan dalam bekerja yang dapat mencegah dengan lebih mudah. Menurut peneliti, hasil ini berhubungan dengan faktor lingkungan yaitu jarak tempuh yang cukup jauh dari Desa Ulian ke sekolah seperti SMP atau tingkat yang lebih tinggi, sehingga menjadi tantangan dalam mendapatkan pendidikan lebih lanjut. Salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering dialami petani adalah LBP, yang diukur menggunakan kuisioner The Pain and Distress Scale dengan interpretasi sebagai skor 19-37=ringan, skor 3856=keluhan ringan, dan skor 57-76=keluhan berat (Farah et al. , 2. Berdasarkan hasil diketahui bahwa sebanyak 58,6% buruh tani di Desa Ulian mengalami keluhan LBP sedang, 41,4% buruh tani mengalami LBP ringan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Prastyamto. Vijayati dan Hastuti . yang menemukan sebagian besar petani di Desa Triyaga mengalami keluhan LBP sedang sebanyak 51% dari 57 orang. Menurut Krismawati et al. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 . LBP pada buruh tani dapat terjadi karena kegiatan pertanian membutuhkan banyak energi yang cukup besar dan kegiatan tersebut dapat memengaruhi sikap kerja petani. Selain itu, pekerjaannya cenderung dilakukan tanpa bantuan alat sehingga akan meningkatkan penyakit akibat kerja atau kecelakaan kerja dan keluhan nyeri atau cedera. Menurut Thetkathuek. Meepradit, dan Sangiamsak . LBP dapat terjadi karena beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, gerakan repetitif, durasi kerja yang membutuhkan tenaga besar, postur kerja yang canggung, dan kondisi lingkungan kerja. Berdasarkan analisis peneliti, lingkungan kerja buruh tani di Desa Ulian cenderung curam dan perpindahan dan mengangkut hasil panennya. Hal tersebut menyebabkan petani memerlukan tenaga yang cukup banyak untuk dapat mengangkat beban. Namun mengingat usia petani di Desa Ulian rata-rata memasuki masa dewasa akhir, penurunan kepadatan tulang mulai terjadi sehingga berisiko muncul keluhan LBP akibat kekuatan otot yang mulai menurun. Masa kerja buruh tani adalah lamanya tenaga kerja buruh bekerja di sektor perkebunan dari pertama kali bekerja hingga saat ini (Nurullita. Wahyudi, dan Meikawati, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar buruh tani di Desa Ulian memiliki masa kerja >10 tahun . ,4%). Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Herawati dan Bratajaya . di Desa Megang Sakti i. Sumetera Selatan yang menemukan 68,3% dari 126 petani bekerja lebih dari atau sama dengan 10 tahun. Berhubungan dengan hasil penelitian ini, diketahui bahwa buruh tani dengan masa kerja lebih dari 10 tahun, sebagian besar berusia di rentang dewasa akhir . ,6%) dan lansia akhir yaitu . %). Menurut Rasmi. Zakaria, dan Ariseasari . yang mengungkapkan bahwa semakin tua usia saat bekerja maka kekuatan tulang dan fleksibilitas otot semakin menurun. Menurut peneliti hal ini dapat menggambarkan bahwa buruh tani di Desa Ulian memiliki paparan risiko yang cukup lama dari kegiatan berkebun yang mungkin dapat memengaruhi kesehatan dan kondisi tubuhnya. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Durasi kerja merupakan faktor yang berpotensi memengaruhi keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kerja buruh Karena intensitas kerja yang tinggi berdampak pada jadwal atau kegiatan kerja yang padat bagi buruh tani, sehingga dapat memengaruhi kesehatan mental atau kesejahteraan psikologis mereka (Efendi. Saputra, dan Graha, 2. Hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar buruh tani di Desa Ulian bekerja >8 jam per hari . ,3%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Utami. Karimuna, dan Jufri . yang menemukan bahwa sebanyak 67,7% petani di Desa Ahuhu Kabupaten Konawe bekerja lebih dari 8 jam sehari. Menurut asumsi peneliti, kegiatan buruh tani yang padat dengan aktivitas perkebunan yang beragam, menyebabkan sebagian besar buruh tani bekerja melampaui aturan atau standar jam kerja yang telah ditetapkan yaitu 8 jam perhari, hal ini juga dikarenakan para buruh tani di Desa Ulian merupakan pekerja non formal sehingga berkerja tanpa ada aturan yang mengikat mengenai jam kerja. Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, ketentuan durasi kerja dalam 1 hari adalah 7 jam atau dalam 1 minggu selama 40 jam untuk 6 hari kerja dan 8 jam atau dalam 1 minggu selama 40 jam untuk 5 hari kerja. Umumnya durasi bekerja adalah sekitar 6-8 jam dalam sehari. Apabila durasi kerja lebih dari jam tersebut, maka berisiko menimbulkan kelelahan yang dapat mengganggu produktivitas kerja, penyakit akibat kerja, hingga kecelakaan kerja (Silitonga & Utami, 2. Posisi kerja merupakan aktivitas yang melibatkan berbagai jenis otot, dalam berbagai posisi tubuh yang dibentuk oleh pekerja. Berdasarkan hasil didapatkan bahwa sebagian besar buruh tani di Desa Ulian memiliki posisi kerja berisiko sedang . ,7%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Seroy. Kawatu, dan Kalesaran . pada petani di Desa Pinabetengan Selatan yang mendapatkan hasil sebagian besar memiliki posisi kerja dengan risiko sedang sebanyak 63,3% dari 60 orang. Berdasarkan analisis peneliti, ditemukan bahwa mayoritas buruh tani di Desa Ulian cenderung Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 lebih banyak melakukan posisi badan condong ke depan dengan sudut 20A-60A ketika bekerja . ,8%). Selain itu, sebagian besar buruh tani juga melakukan posisi kerja dengan kepala hyperextension dan flexion saat bekerja . ,6%). Menurut Putri. Yulianti, dan Ismawati . , posisi tubuh pekerja dipengaruhi oleh kenyamanan tubuh mereka saat bekerja, namun tidak ergonomisnya postur saat bekerja dan dilakukan dengan durasi lama dapat meningkatkan risiko keluhan muskuloskeletal sehingga menurunkan produktivitas kerja petani. Hasil menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 dan r sebesar 0,789 yang berarti terdapat hubungan yang kuat antara masa kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Menurut Khan et al . , bekerja dengan posisi tubuh yang tidak nyaman dan dengan frekuensi gerakan berulang . dapat meningkatkan dampak paparan. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Syuhada. Suwondo, dan Setyaningsih . , bahwa masa kerja berhubungan dengan keluhan LBP pada petani teh di Kabupaten Subang. Selain itu, penelitian oleh Nurcahyani. Ekawati, dan Jayanti . juga mendapatkan hasil yang Penelitian tersebut menyebutkan bahwa paparan risiko yang terlalu lama pada petani padi di Desa Semen dapat menyebabkan penyempitan rongga diskus yang permanen, yang dapat menyebabkan degenerasi tulang Berdasarkan analisis tabulasi silang menunjukkan bahwa buruh tani yang bekerja diatas atau sama dengan 10 tahun menunjukkan keluhan LBP dalam kategori sedang sebanyak 29 orang . %), sedangkan buruh tani yang bekerja dibawah 10 tahun, sebagian besar mengalami LBP dalam kategori ringan . %). Hasil ini sejalan dengan penelitian Umami . dalam Triwulandari dan Zaidah . , yang menemukan bahwa keluhan LBP lebih banyak dialami pekerja dengan masa kerja >10 tahun dibandingkan dengan yang bekerja dibawah 5 tahun ataupun 5-10 tahun. Masa kerja memiliki korelasi yang kuat terhadap keluhan otot, karena beban yang berlebihan pada tulang belakang pada waktu yang lama dapat menyebabkan degenerasi tulang belakang sehingga berisiko terhadap keluhan LBP Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 (Agustin. Puji, dan Andriati, 2. Menurut peneliti, buruh tani dengan masa kerja selama lebih dari sepuluh tahun mengalami keluhan LBP karena beban kerja yang terus meneerus terjadi dan dalam jangka waktu yang cukup Kondisi ini secara bertahap menyebabkan keluhan dan perkembangan gejala penyakit LBP. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,048 dan r = 0,261, yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan dengan tingkat korelasi lemah antara durasi kerja dan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan, meningkatnya jam kerja buruh tani di Desa Ulian disebabkan karena adanya persiapan musim panen jeruk pada akhir bulan Juli. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Sutami. Laksmi, dan Darmawan . yang mendapatkan hasil ada korelasi antara durasi bekerja dengan kejadian LBP pada petani di Desa Subak Kecamatan Melaya dengan sebagian besar petani bekerja lebih dari 8 jam per hari . ,9%). Hasil ini didukung oleh Agustin. Puji, dan Andriati . yang menyebutkan bahwa lama seseorang bekerja dengan baik dalam sehari umumnya berkisar 6Ae 10 jam. Durasi kerja yang terlalu panjang berisiko menyebabkan menurunnya produktivitas kerja, menyebabkan kelelahan, meningkatkan risiko kecelakaan kerja, dan penyakit akibat kerja. Menurut Prayogo et al . , semakin lama seorang petani bekerja, tubuhnya akan lelah, yang menyebabkan keluhan muskuloskeletal lebih sering terjadi. Panjangnya jam kerja dapat menyebabkan beban statis bagi tubuh karena tidak memperhatikan postur yang ergonomi. Selain itu, overtime dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan penurunan kecepatan kerja, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas petani. Berdasarkan hasil tabulasi silang, didapatkan bahwa buruh tani yang bekerja lebih dari delapan jam memiliki keluhan LBP dalam kategori sedang sebanyak 51,7%, sedangkan yang bekerja kurang dari delapan jam memiliki proporsi keluhan LBP ringan lebih banyak daripada keluhan sedang hingga berat. Hasil ini berarti buruh tani yang bekerja >8 jam berisiko mengalami keluhan LBP yang dapat Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 meningkatkan risiko kecelakaan kerja akibat Selain itu, kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus ini dapat menimbulkan gangguan pada otot dan peredarahan darah (Aulia. Wahyuni, dan Jayanti, 2. Seseorang yang bekerja terlalu lama dengan posisi statis atau tidak berubah dapat menyebabkan kontraksi otot di sekitar tulang belakang sehingga terjadi penumpukan asam laktat dan iskemia jaringan yang akhirnya menimbulkan nyeri dan spasme otot di tulang belakang (Dinata, 2. Berdasarkan hasil didapatkan nilai pvalue sebesar 0,000 dengan coefficient correlatin 0,669, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat antara posisi kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Hubungan positif berarti semakin tinggi tingkat risiko posisi kerja seseorang maka tingkat keluhan LBP semakin meningkat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ilsabili dan Asyfiradayati . di Desa Majasto, bahwa posisi kerja berhubungan dengan keluhan LBP pada petani padi. Kabupaten Sukoharjo. Dalam penelitiannya menunjukkan mayoritas petani yang memiliki posisi kerja dengan risiko sedang mengalami keluhan LBP sedang sebanyak 42,7%. Berhubungan dengan hasil tersebut, hasil tabulasi silang dalam penelitian ini juga menemukan bahwa mayoritas buruh tani yang memiliki posisi kerja dengan risiko sedang mengalami keluhan LBP sedang sebanyak 48,3%. Selain itu, ditemukan juga buruh tani dengan risiko rendah mengalami keluhan LBP Hasil ini berarti buruknya posisi atau postur kerja seseorang dapat menimbulkan keluhan LBP. Menurut Nurcahyani. Ekawati, dan Jayanti . sikap atau posisi saat bekerja berkaitan dengan posisi tubuh tidak alamiah, yang mana apabila titik tubuh semakin menjauhi pusat gravitasi, maka risiko terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal akan semakin meningkat, salah satunya LBP. Berdasarkan analisis peneliti di lapangan, ditemukan beberapa aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh buruh tani di Desa Ulian seperti memetik jeruk, membersihkan perkebunan, menyemprot pestisida, menggaruk tanah dengan garpu ladang, serta mengangkut sampah dan hasil panen. Hasil observasi lainnya menunjukkan bahwa aktivitas memungut Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 sampah pada buruh tani dilakukan dengan postur tubuh yang tidak ergonomis, ditandai oleh gerakan berulang dalam posisi membungkuk hingga 90 derajat. Selain itu saat mengangkat beban berupa hasil panen dan sampah hasil membersihkan ladang, buruh tani cenderung melakukan dengan posisi tubuh kurang ergonomis atau salah. Menurut Krismawati et al . , cara menggendong atau membawa beban dengan tangan secara manual memiliki risiko yang tinggi, dimana apabila dilakukan dalam durasi yang cukup lama akan memicu timbulnya keluhan muskuloskeletal dan kelelahan akibat kerja. Posisi kerja yang berisiko atau tidak ergonomis dapat memicu terjadinya kontraksi otot isometrik . kibat melawan tahana. , terutama pada otot-otot utama yang digunakan dan terlibat saat melakukan pekerjaan. Menurut penelitian Dewi et al . , postur tubuh petani yang cenderung membungkuk atau fleksi ke depan, jika dilakukan berulang kali dapat menyebabkan hiperfleksi dan dapat merobek ligamen dan otot sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, gerakan repetitif dengan pembebanan pada satu titik tubuh dapat menimbulkan kerusakan mikroskopis pada jaringan yang dapat semakin parah (Dewi et al. , 2. Mekanisme ini akan menimbulkan ketegangan otot yang lama kelamaan akan menyebabkan perubahan postur dan timbul keluhan LBP (Bahrizal dan Meiyanti, 2. Oleh karena itu sebagai upaya pencegahan LBP, buruh tani dianjurkan menerapkan posisi kerja ergonomis dengan menjaga keselarasan postur tubuh, mempertahankan tulang belakang pada posisi netral, serta menghindari membungkuk dalam sudut ekstrem (Saputra, 2. Aktivitas mengangkat beban sebaiknya dilakukan dengan menekuk lutut, menjaga beban dekat dengan tubuh, dan membagi beban secara seimbang, disertai posisi kepala sejajar tulang belakang dan bahu tetap rileks. Penerapan prinsip mengurangi beban biomekanik pada punggung bawah sehingga menurunkan risiko terjadinya keluhan LBP (Zahra et al. , 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja, durasi kerja, dan posisi kerja berhubungan dengan keluhan LBP pada buruh tani, di mana peningkatan masa dan durasi kerja diikuti oleh peningkatan keluhan LBP. Demikian juga jika semakin berisiko posisi kerja buruh tani, maka LBP Berdasarkan hasil ini, diharapkan pihak pelayanan kesehatan setempat dapat menggerakkan upaya promotif dan preventif melalui program Usaha Kesehatan Kerja (UKK) pada buruh tani. Selain itu, dapat digunakan sebagai pengembangan penelitian intervensi untuk mengatasi atau mencegah LBP misalnya melalui pendidikan kesehatan yang dapat diberikan pada buruh tani. DAFTAR PUSTAKA